D’Sultan Stable : Tempat Berlatih Memanah dan Berkuda di Palembang

“Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah” (HR Bukhari Muslim).

Sejak beberapa tahun terakhir, memanah memang semakin banyak penggemarnya. Aku rasa semua itu bukan hanya karena anjuran yang tertuang dalam hadis Rasulullah saja, ada pula yang tertarik memanah karena sosok Katniss Everdeen dari film The Hunger Games.

Keinginan untuk mencari tempat untuk kegiatan anak yang mungkin bisa membuat anak mengenal alam dan belajar membawaku ke D’Sultan Stable. Ada kudanya bisa dinaiki, bisa berlatih panahan juga. Sesimpel itu saja alasanku.

Sabtu pagi, seperti biasa rombongan sirkus alias aku, bojo, dan Mahira menuju D’Sultan Stable di Jalan Pagar Dewa. Mudah saja tempat ini dicari karena di Google Maps sudah ada. Walaupun begitu, sempat ragu karena jalan masuk masih tanah dan seperti hanya lahan kosong saja. Sangat tidak dianjurkan ke tempat ini setelah hujan karena jalan tanah rawan licin dan membuat roda mobil terperosok.

Mendekati area D’Sultan Stable, kami disodorkan pemandangan kuda yang sedang merumput alias makan di lahan lapang. D’Sultan Stable ini sepertinya memang menjadi lokasi untuk komunitas yang menggeluti panahan dan berkuda di Palembang. Terdapat bangunan kecil yang sebenarnya lokasi kandang para kuda. Ada 4 kuda yang dimiliki D’Sultan Stable : Audi, Al-Adiyat, Sabili, dan Pinto.

Saat kami datang, memang waktunya kuda-kuda tersebut ‘dipanasi’ alias keluar kandang sekaligus untuk makan. Terdapat area tempat duduk di dekat kandang kuda. D’Sultan Stable juga menjual minuman dingin. Di dalam area bangunan, dekat kandang kuda, ada lokasi untuk latihan panahan. Sayangnya, saat kami datang pelatihnya belum ada. kami pun tak bisa mencoba panahan.

Awalnya aku ingin mengajak anak naik kuda. Ketika Mahira ditanya, ia bilang mau. Tapi menonton kuda makan dulu dari jauh. Setelah 15 menit ditanya lagi dia baru berdiri dan lari ke arah kuda.

Petugas pun menyiapkan kuda yang mau diajak keliling area. Untuk weekend, biaya keliling area (gak luas amat sih) sekitar Rp 50.000.- untuk 2 putaran. Kuda harus dipasangi pelana dan disisir terlebih dahulu. Kita pun diperkenankan naik ke kuda dengan tangga. Sayangnya, baru semeter, Mahira udah minta turun. Yaudah, aku deh yang naik. Oh iya, kuda yang aku tunggangi tadi namanya Audi dan bukan kuda lokal, jadi agak besar menurut petugasnya. Ada kuda pacu lain yang lebih besar.

Petugas D’Sultan akan memegangi dan menemani selama kita berkeliling dengan kuda. Oh iya, waktu aku tanya sebelumnya boleh ga naik ibu dan anak, dijawab ga boleh. Harus satu-satu. Ya iyalah, kasian juga kudanya kalau keberatan.

Di salah satu sudut bangunan, dipasang foto yang menampilkan audensi D’Sultan Stable untuk menjadi obyek wisata baru di Palembang. Hmmm, kalau aku sendiri sih merasanya ada potensi menjadi wisata edukatif. Tapi mungkin paketnya tak hanya berkuda dan memanah. Lahan yang tampak luas mungkin bisa dimanfaatkan sebagai kebun buah sekalian. area masih kurang luas, jalan masuk pun ada baiknya lebih diperbaiki.

Kalaupun ada rombongan yang mau datang ke tempat ini, apalagi keluarga dan bawa anak, aku sarankan tidak lebih dari 15 orang sih karena tempatnya kecil. Untuk parkir juga tak terlalu luas.

D’Sultan Stable menjual minuman dingin. Tak sempat bertanya juga apakah jual makanan, karena kebetulan datang kondisi kenyang. Tapi ada baiknya bawa bekal makanan sendiri.

Kalau ditanya recommended gak untuk didatangi? Selama ekspektasi tak terlalu tinggi, tak terlalu lama juga rencana main, masih lumayan lah untuk anak melihat kuda. Kalau memang mau serius berlatih sih, memang sepertinya tempat ini yang paling bisa aku rekomendasikan. Oh iya, kayaknya kalau mau pre-wedding pakai kuda bisa juga deh di tempat ini. Lumayan cocok untuk foto pre-wedding.

D’Sultan Stable

Jl. Karya Baru, Karya Baru, Alang Alang Lebar, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30961

Instagram : https://www.instagram.com/dsultan_stable/

Maps :

Mencicip Kuliner Soto Mie Khas Bogor di Kedai Kong Piet Palembang

Apa yang kamu ingat tentang kota Bogor? Talas Bogor yang identik sebagai ejekan bagi betis besar? Walikota yang lumayan ganteng? Riweuhnya lalu lintas masa lalu karena angkot yang merajalela? Asrinya Bogor yang memiliki Kebun Raya? Atau…makanannya yang enak-enak?

Tak terlalu banyak kesempatanku untuk menyambangi kota Bogor. Lupa berapa kali, namun rasanya sih masih dalam hitungan jari. Walaupun begitu, main ke Bogor tak mungkin sekedar main saja. Pasti ada kesempatan untuk mencicip kuliner khas Bogor. Salah satu yang terkenal adalah Soto Mie khas Bogor.

Soto Mie, dari namanya saja ketahuan bahwa ini adalah hidangan berkuah dengan kaldu layaknya soto pada umumnya. Namun, jika beberapa soto menggunakan soun untuk isian dalam soto, soto mie menggunakan mie kuning, walau ada juga yang mencampur dengan soun. Selain itu, isi di dalam semangkuk soto mie ada irisan kentang rebus, tomat, telur ayam rebus, urat kaki sapi, daging sapi, dan risoles.

Sebagai perantauan di Palembang, aku terkadang merindukan kuliner Indonesia lain. Harus diakui, akses untuk mencicipi aneka kuliner di Indonesia termasuk susah jika di Palembang. Selain Nasi Padang yang memang rasanya default hampir di tiap kota ada, kuliner daerah lain agak susah didapat di kota ini. Apalagi, dengan lebih maraknya restoran yang menawarkan hidangan ala western.

Beruntungnya, masih ada orang yang berani membuka usaha kuliner Indonesia. Daaaaaaaaaaaan, baru-baru ini aku bisa mencicipi kembali Soto Mie khas Bogor di Palembang, tepatnya di Kedai Kong Piet yang baru buka di bulan Oktober 2018 ini.

Di malam Minggu, saat gerimis syahdu sisa hujan sore masih mengguyur Palembang, aku dan rombongan sirkus pun bergerilya mendatangi Kedai Kong Piet. Malam minggu dan gerimis, kombinasi tepat untuk mencari kehangatan.

Tujuanku sudah jelas, memesan Soto Mie khas Bogor. Selain Soto Mie, ada pula Soto Campur khas Bogor yang kuahnya agak bersantan, Soto Daging, dan Soto Ayam. Untuk makanan berat lain, ada Kwetiaw, Mie, Bihun Goreng, Nasi Goreng, Kwetiaw Kuah, dan Indomie. Kedai Kong Piet juga menawarkan aneka snacks mulai dari roti goreng, roti bakar, pisang goreng, dll. Untuk minumnya sendiri, ada kopi dan teh serta juice buah.

Kami memesan Soto Mie khas Bogor, Bihun Goreng Seafood, Nasi Putih, Telor Dadar, Teh Tarik, dan Teh Susu. Tidak terlalu banyak, wong cuma bertiga.

Tak perlu menunggu lama, minuman teh tarik dan teh susu datang duluan. Teh susu sangat berasa susu dan rasa manisnya. Sementara itu, teh tarik seperti pada umumnya, terdapat busa-busa di atasnya dengan rasa manis-manis pahit.

Setelah itu, satu per satu pesanan makanan keluar dimulai dari Soto Mie khas Bogor. Untuk rasa, rasanya dingin-dingin udara luar menjadi lebih hangat berkat Soto Mie. Banyak potongan daging dan kikil yang ada di dalam semangkuk Soto Mie ini. Tambahan nasi putih diperlukan agar terasa lebih mengenyangkan. Harga seporsi Soto Mie adalah 25 ribu rupiah.

Bihun Goreng Seafood keluar lengkap dengan potongan cumi dan udang serta sayuran di atasnya.  Sayangnya, pendamping yang disediakan hanya pangsit goreng, padahal makan bihun, kwetiaw, mie, atau nasi goreng, enaknya ditemani krupuk udang atau krupuk lainnya. Semoga saja nanti ditambah aneka krupuk.  Untuk tambahan telor dadar, agak sedikit asin rasanya. Harga seportsi Bihun Goreng Seafood adalah 23 ribu rupiah.

Ketika mencicipi makanan, tentu dong, aku posting di Instagram atau IG Story. Langsung deh ada temen kantor yang nanya dan kurekomendasikan. Eh, begitu dia nyoba, aku dibawain Risoles Amerika. Risoles dengan isian daging tipis / smoked beef, keju, dan telur. Gak sempat kufoto, tapi enak juga dan langsung habis 2 karena ternyata anak gak terlalu suka snack model ini. Hehehe, untung di aku.

Anyway, aku setuju sama tagline Kedai Kong Piet, Spesialis Kopi dan Soto Khas Bogor. Untuk Soto Khas Bogornya, berhubung belum ada saingan lain di Palembang, memang Kedai Kong Piet pantas untuk jadi pilihan. Oh iya, tempat makan ini buka mulai dari jam 8 pagi, jadi kalau siang-siang panas pengen yang berkuah segar seperti Soto Mie, bisa jadi pilihan sebagai menu makan siang. Kalau mau lihat instagramnya bisa di cek di @KedaiKongPiet

Kedai Kong Piet

Jalan Dr. M. Isa No.933 (jejeran ruko variasi mobil)

Aktivitas yang Dilakukan Saat Transit di Cirebon

“Yah habis”

Kekecewaan sempat menghampiriku saat kulihat kereta rute Jakarta menuju Purwokerto sudah ludes terjual. Adanya rapat di Jakarta memang menjadi kesempatan untukku menyempatkan waktu pulang kampung menuju Purwokerto dari Palembang selain di waktu Lebaran.

Jadwal yang belum jelas membuatku ragu untuk memesan tiket kereta jauh-jauh hari. Baru setelah rapat selesai aku mencoba berburu tiket dan ternyata sudah full booked untuk hari Jumat. Wajar, para pengabdi PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad) pasti banyak yang telah memesannya sejak lama.

Keinginan untuk pulang masih menggebu. Tak ada yang mengalahkan cita rasa masakan ibu yang membuat rindu. Aku pun mencari cara lain untuk pulang. Naik bus bukan pilihan bagiku karena pernah salah naik dan kena tipu calo. Kereta adalah transportasi favoritku.

Teringat bahwa jalur kereta Jakarta – Purwokerto biasanya berhenti di Cirebon, aku akhirnya memutuskan untuk mencari tiket kereta ke Cirebon terlebih dahulu. Dapat, sorakku dalam hati. Aku juga mencari tiket Cirebon ke Purwokerto dan untungnya masih ada di keesokan harinya. Baiklah, aku akan bertualang di Cirebon dulu semalam.

Kereta Argo Jati membawaku pergi dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Cirebon. Perjalanan lebih kurang selama 3 jam kumanfaatkan untuk mencari rental mobil Cirebon. Agar waktu transit tak terbuang percuma, memang aku memilih untuk rental mobil saja. Sesampai di Stasiun Cirebon, aku segera bertemu dengan driver yang akan mengantarku keliling Cirebon.

“Mau ke mana aja mba?” tanyanya sesaat setelah aku memasuki mobil.

Aku pun menjelaskan apa yang ingin aku lakukan di kota Cirebon. Berikut aktivitas yang dapat dilakukan saat transit di Cirebon.

  • Makan Empal Gentong dan Tahu Gejrot

Empal Gentong adalah makanan khas dari Cirebon. Empal gentong memiliki kuah kuning seperti gulai dengan campuran daging ayam, daging sapi, atau jeroan yang bisa kita pilih sesuai kesukaan. Cabai bubuk dan perasan jeruk nipis bisa menjadi pelengkap dan menambah rasa agar lebih pedas dan asam, selain rasa gurih yang ditawarkan pertama. Jika sangat lapar, makanlah empal gentong dan sepiring nasi.

Selain empal gentong, makanan khas Cirebon lainnya yang wajib dinikmati adalah tahu gejrot. Potongan tahu kuning yang digoreng dan kuah manis pedasnya akan membuatmu nagih untuk menambah. Aroma bawang yang diulek begitu terasa bercampur dengan potongan cabai yang bisa memberi rasa pedas menggigit.

Satu piring kecil Tahu Gejrot tak akan cukup memuaskan rasa lapar yang menggebu. Namun, kombinasi sepiring nasi putih, empal gentong, dan tahu gejrot, rasanya bisa membalas rasa lapar selama 3 jam perjalanan di kereta.

Warung Empal Gentong rekomendasi di Cirebon adalah Empal Gentong Haji Apud, Empal Gentong Mang Darma, dan Empal Gentong Krucuk.

  • Solat di Masjid At Taqwa & Melihat Alun-Alun Kejaksan

Alun-Alun Kejaksan & Masjid Raya At Taqwa (oleh 123hazet – TripAdvisor.com)

Tepat selesai makan empal gentong, azan Isya berkumandang. Aku meminta mampir ke masjid yang tak jauh dari alun-alun Kejaksan Cirebon. Masjid At Taqwa namanya. Terletak di pusat kota, masjid ini banyak dikunjungi saat memasuki waktu solat.

Masjid At Taqwa memiliki halaman yang luas dan bersebelahan dengan Islamic Center Cirebon. Arsitekturnya terlihat modern dengan desain yang menurutku cukup unik. Kemegahan dan kebersihan dari masjid ini juga sangat terasa. Tempat yang indah untuk dikunjungi dan memanjatkan doa.

Setelah solat, kita bisa melihat-lihat Alun-Alun Kejaksan yang tak jauh dari masjid ini. Alun-alun kerap ramai di malam hari. Pusat kota Cirebon ini memang kerap dikunjungi muda mudi maupun keluarga untuk berkumpul dan bersantai.

 

 

 

 

  • Berburu Oleh-Oleh & Batik Khas Cirebon

Ada hal yang sangat ingin aku beli di Cirebon. Jeniper alias Jeruk Nipis Peras, sirup dari jeruk nipis yang menyegarkan untuk diminum. Sirup ini menjadi favoritku sejak lama, dengan dalih ingin kurus dan jeruk nipis punya khasiat untuk kesehatan.

Jika Jeniper adalah idolaku, Tjampolay adalah idola ibuku. Sirup dengan varian rasa pisang susu, stroberi, kopyor, moka, mangga, melon, cocopandan, dan leci, memang sudah terkenal sebagai oleh-oleh khas Cirebon. Favoritku adalah rasa pisang susu.

Selain sirup, aku juga membawa beberapa bahan untuk memasak seperti bumbu empal gentong dan terasi udang. Selain itu rengginang juga bisa dibawa sebagai oleh-oleh karena rengginang Cirebon punya cita rasa yang khas.

Tak hanya urusan mulut dan perut, Cirebon juga punya oleh-oleh berupa batik dengan motif khasnya. Batik Cirebon kerap disebut batik motif mega mendung. Ciri khasnya adalah garis-garis awan yang memiliki bentuk lonjong, lancip, dan segitiga. Batik dari Cirebon tentu layak untuk dikoleksi dan dijadikan oleh-oleh.

 

  • Makan Nasi Jamblang

Puas berbelanja, aku kembali kelaparan. Kali ini aku diajak untuk menikmati sajian khas lainnya dari Cirebon yaitu Nasi Jamblang. Melihat nasi jamblang, aku sedikit teringat dengan nasi kucing khas angkringan. Porsi nasi jamblang memang tak terlalu besar, seukuran kepalan tangan dengan bungkus daun jati yang membuatnya memiliki cita rasa tersendiri. Sajian lauk bisa kita pilih sesuka hati untuk menemani makan nasi jamblang mulai dari tempe goreng, telur dadar, sambal, cumi, sambal tahu, perkedel, semur, dll.

Warung Nasi Jamblang yang menjadi favorit adalah Nasi Jamblang Bu Nur dan Nasi Jamblang Mang Dul.


Cirebon ternyata memiliki banyak daya Tarik wisata. Driver banyak bercerita tentang tempat-tempat menarik penuh sejarah, seperti Gua Sunyaragi, keraton-keraton di Cirebon, dan makam Sunan Guning Jati. Ternyata, semalam di Cirebon masih kurang bagiku untuk mengeksplorasi kota ini. Apalagi, saat berburu batik rasanya masih kurang karena ternyata ada Kampung Batik yang mungkin bisa membuat kalap mata.

Berkeliling semakin mudah karena ada sewa mobil Cirebon. Mau ke tempat yang seru, makan sajian khas, serta berburu oleh-oleh untuk kerabat bisa dilakukan juga di Cirebon. Berkeliling sehariang akan semakin mudah karena ada sewa mobil Cirebon. Jika ingin mengontak bisa langsung menghubungi no. hp : 08156407913 / 081298476511 bisa juga melalui whatsapp di nomor 082120982211.

Ada yang mau keliling Cirebon ga? Ajak-ajak aku juga dong 😀 Kangen nih sama Cirebon.

Numpang Mandi di Terminal 3 Soekarno Hatta Airport

Ini judul terlalu jujur kayaknya ya. Hehehe.

Ketika masa-masa masih melajang dan berada di unit kerja lama, saya cukup sering melakukan perjalanan dinas ke Jakarta dari Palembang. Namun, tepat sebelum menikah saya dipindah ke unit yang tak terlalu sering melakukan perjalanan dinas. Mungkin harus disyukuri, karena namanya juga ibu-ibu ya, kadang urusan melakukan perjalanan dinas agak berat hati, banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Apalagi kalau pengasuh bukanlah tipe yang menginap.

Baca juga : Memilih Pengasuh Pulang Pergi, Apa Enaknya?

Kondisi serupa sebenarnya juga dialami oleh atasan saya yang kebetulan ibu-ibu. Namun, kalau sudah tugas dari kantor, kan tak mungkin untuk ditolak. Tetap harus dijalani, apalagi kalau nama kita telah tercantum dalam surat tugas.

Sebagai ibu-ibu, ketika dinas atau berpergian ke luar kota, sebisa mungkin waktu yang dihabiskan tidak banyak. Untungnya, sering kali dinas tak terlalu menuntut pergi jauh. Mentok di Jakarta saja. Jika acara hanya berlangsung dari pukul 09.00 pagi hingga 15.00 sore, saya akan memilih penerbangan paling pagi dari Palembang dan kembali lagi dengan penerbangan paling malam.

Hal ini kerap terjadi. Meninggalkan rumah sekitar pukul 04.30 pagi dan kembali lagi ke rumah kira-kira pukul 22.00 rasanya memang cukup melelahkan, selain itu badan juga rasanya lengket dan gerah karena keringat dan belum mandi.

Hal tersebut sebenarnya dapat disiasati. Ya, apalagi solusinya selain mandi di bandara. Saya bukan pengabdi tisu basah. Selama bisa mandi, ya usahakan mandi.

Mandi di bandara, emang bisa?

Ya, kalau pede sih pakai toilet yang ada dengan semprotan seadanya, cari posisi yang memungkinkan untuk mandi. Tapi, kalau berpergian dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia dan berada di Terminal 3, maka kita bisa memanfaatkan shower room yang ada di sana.

Pada saat ini kita bisa melakukan check in mandiri dengan mesin check in yang tersebar di area terminal keberangkatan. Bagi yang tidak membawa banyak bagasi, tentu hal ini memudahkan. Setelah itu, kita bisa langsung turun ke ruang tunggu.

Nah, shower room di Terminal 3 berada di dekat Gate 11. Setelah turun dengan menggunakan escalator, kita bisa langsung jalan lurus saja. Ada petunjuk jelas lokasi shower room. Tepatnya sih di seberang counter Watch Zone.

Shower room untuk pria dan wanita pun dipisah. Terdapat area untuk meletakkan koper di luar shower room. Tapi kalau mau dibawa ke ruangan mandi ya gapapa juga. Ada sekitar 3 ruangan mandi untuk wanita yang tentunya masing-masing dilengkapi kunci.

Di dalam setiap shower room, terpisah antara ruangan untuk mandi dengan ruangan yang terdiri dari kloset dan wastafel. Ruangan untuk mandi dilengkapi shower (yang ada air panasnya juga), gantungan untuk handuk, serta ada tempat duduk yang bisa dilipat.

Area luar terdiri dari kloset, wastafel, dan dilengkapi dengan tempat sampah, hand dryer, hand sanitizer, hair dryer, dan tisu. Sayangnya, tak ada sabun atau shampoo yang tersedia gratis. Jadi, kalau mau menumpang mandi di sini, kita harus menyediakan peralatan sendiri ya.

Setelah selesai mandi, tampak petugas yang masuk untuk membersihkan kembali ruangan agar tampak seperti sedia kala. Tak terlalu banyak penumpang yang memanfaatkan tempat ini, mungkin memang yang lain sudah mandi sebelum melakukan perjalanan hehehe.

Area shower room seperti ini tentu bermanfaat bagi tipe yang mudah berkeringat dan gerah, atau ingin selalu segar sebelum melanjutkan perjalanan. Jika kita melakukan perjalanan jauh dan transit di Bandara Soekarno Hatta Terminal 3, tak ada salahnya menggunakan fasilitas ini.

Sebuah harapan tentu fasilitas seperti ini bisa ada di setiap bandara atau terminal lain di Bandara Soekarno Hatta. Saya beberapa kali pernah menginap di bandara dan selalu kesulitan urusan mandi dengan nikmat karena tiadanya shower room di bandara. Tentunya, kalau ada fasilitas seperti ini akan memanjakan para traveller.

Ah, senangnya sudah mandi, saya pun bisa  bertemu keluarga dengan wangi semerbak, bukan asem-asem lelah setelah bekerja gitu. Hehehe.

Transportasi Pilihan dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Sumatera Selatan, khususnya Palembang bisa dibilang daerah yang kini semakin banyak dikunjungi oleh wisatawan. Apalagi, sejak ada Asian Games 2018 dan adanya LRT pertama di Indonesia, daya tarik dari Sumatera Selatan, khususnya kota Palembang semakin meningkat. Tak hanya urusan melihat Jembatan Ampera atau makan pempek asli saja.

Sebenarnya, Palembang tak hanya dikunjungi oleh wisatawan yang benar-benar datang untuk berlibur. Tak sedikit orang datang ke Palembang karena menghadiri acara pernikahan atau tugas kantor alias business trip. Beberapa perusahaan besar memiliki cabang di Palembang atau daerah lain di Sumatera Selatan.

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang merupakan salah satu pintu masuk menuju provinsi Sumatera Selatan. Tak hanya penerbangan domestik saja, bandara ini juga melayani penerbangan internasional.

Beberapa teman yang pernah mengunjungi Palembang tak jarang bertanya kepada saya, “kalau dari bandara Palembang mau ke ‘tempat tujuan’ naik apa enaknya?”. Kalau tak ada halangan dan mereka mau saya jemput sih bakal saya jemput dan antar ke tempat tujuan. Tapi ada juga teman yang datang secara rombongan dan memilih naik transportasi yang ada saja, daripada merepotkan katanya.

Nah, untuk memudahkan teman-teman lain yang mungkin akan berkunjung ke Palembang dengan pesawat dan landing di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, berikut transportasi yang bisa dipilih dari bandara menuju tempat tujuan.

Bus

Untuk melanjutkan perjalanan ke kota Palembang, kita juga bisa menggunakan Bus Rapid Transit (BRT) TRANS MUSI. Namun, kalau model BRT seperti ini kita harus turun di halte-halte yang dilaluinya. Untuk rute Trans Musi dari Bandara SMB II adalah rute pada koridor 5 yaitu Bandara – Alang-Alang Lebar.

Kalau misalnya kita tidak ingin menuju Alang-Alang Lebar, tentunya kita bisa turun di halte tertentu untuk transit dan berganti rute Trans Musi menuju tempat tujuan. Untuk melihat rute Trans Musi dan jadwal keberangkatan, kita bisa menggunakan aplikasi Moovit yang tersedia di AppStore maupun PlayStore.

Pastikan kita tahu halte TransMusi yang paling dekat dengan tempat tujuan, lalu kita bisa memilih rute / koridor yang harus dilewati atau halte transit yang harus didatangi. Ongkos yang harus dikeluarkan untuk perjalanan dengan TransMusi adalah Rp 5.000,-.

Mobil Elf

Prabumulih adalah salah satu kotamadya lain di Sumatera Selatan yang juga kerap dikunjungi (karena ada beberapa perusahaan migas di dekatnya). Untuk memudahkan orang-orang yang berpergian ke Prabumulih, terdapat DAMRI yang melayani rute Bandara SMB II menuju kota Prabumulih dengan armada Elf. Tiket yang dijual seharga Rp 75.000,-. Jadwal keberangkatan DAMRI dari Bandara SMB II ke Prabumuli adalah pukul 07.00 WIB, 09.00 WIB, 11.00 WIB, 14.00 WIB.

Jika membutuhkan informasi terkait DAMRI Bandara SMB-Prabumulih bisa mengontak nomor 0812 7574 4405 atau (0711) 385002. Calon penumpang juga bisa datang langsung ke Area Kedatangan domestik Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II

 

 

Taksi

Taksi di Bandara SMB II secara garis besar terbagi menjadi 2, tak resmi dan resmi. Untuk taksi-taksi tak resmi alias taksi gelap, sebenarnya bisa dicirikan dengan bapak-bapak yang telah menunggu calon pelanggan yang datang di area terminal kedatangan. Tarifnya pun harus nego.

Saya pernah menggunakan jasa taksi non resmi ini. Dari bandara menuju rumah saya yang jaraknya sekitar 15 km, dipatok harga 100 ribu. Agak masuk akal mengingat waktu berangkat saya pakai taksi ‘burung biru’ juga kena sekitar 90 ribu.

Sebelum keluar dari Terminal Kedatangan, kita juga bisa mendatangi stand jasa layanan taksi resmi yang telah beroperasi di Bandara SMB II. Ada 3 jasa layanan taksi bandara resmi yaitu BlueBird, STARCAB, dan Primkopau & Balido.

Ketiganya memiliki kesamaan yaitu dikenai jasa buka pintu yang harus dibayar tunai di stand sebesar Rp 7.000,-. Selanjutnya, dikenai tarif argo per kilo. Armada taksi Blue bird yang telah beroperasi di Palembang adalah sedan Vios dan Avanza baru. Begitu pula Starcab, taksi berlogo kuning ini juga menggunakan armada mobil Avanza. Jika ingin mencoba mobil yang berbeda, bisa memilih taksi Primkopau yang kini menggunakan mobil Wuling sebagai armadanya.

Baca juga : Mau Keliling Palembang, Pake Blue Bird Aja

Beberapa teman pernah mengatakan ada taksi bandara yang nakal alias argonya kuda, suka loncat-loncat jadi berasa mahal banget. Cuma selama ini saya belum pernah dapat pengalaman buruk memakain berbagai armada taksi di bandara.

Kalau taksi online atau ojek online di Bandara SMB II sendiri, berdasarkan cerita dari driver taksi online yang mengantar saya ke bandara, belum masuk dan agak susah bersaing dengan armada taksi gelap yang telah ada. Namun, driver Grab pernah cerita bahwa selama Asian Games 2018 lalu mereka diperkenankan beroperasi di Bandara mengingat Grab adalah salah satu sponsor utama event itu. Tapi, sekarang saya belum tahu kondisi pastinya. 😀

 

LRT / Light Rail Transit

Inilah moda transportasi yang paling baru dan dibanggakan di Palembang. Hehehe. Iya, Palembang sudah punya LRT dan salah satu stasiun LRT ada di Bandara SMB II. Ada 13 stasiun LRT yang telah beroperasi pada tahun 2018 ini. Begitu keluar dari pintu kedatangan, kita bisa jalan kea rah Skybridge yang menghubungkan bandara dengan stasiun LRT. Tarif sekali naik LRT dari dan ke stasiun bandara hanya Rp 10.000, -. Kita bisa turun di stasiun yang paling dekat dengan tempat tujuan.

Bagi pecinta transportasi online, sebenarnya BRT Trans Musi atau LRT bisa menjadi alternatif solusi ‘ke luar’ dari Bandara dan mencari transportasi online. Hal ini lah yang biasa dilakukan beberapa teman. Walaupun LRT ini tidak lewat daerah rumah saya, tapi beberapa teman bilang adanya LRT membantu mereka untuk menghemat ongkos. Mereka akan turun di stasiun yang paling pas untuk melanjutkan perjalanan ke rumah dengan ojek online.

Baca juga : Menjajal Naik LRT Pertama di Indonesia, Apa Rasanya?


Nah, demikian transportasi yang bisa dicoba atau dipilih kalau berkunjung di Palembang via Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Mau keliling kota Palembang sama saya? Boleh juga kok 😀