Sebuah Harapan dari Pulau Kemaro Palembang

Jika datang ke Palembang dengan sebuah pesawat terbang, saat akan mendarat kita bisa melihat panjangnya Sungai Musi yang membelah kota tersebut menjadi dua daerah, ulu (hulu) dan ilir (hilir). Sebenarnya, jika melihat lebih lagi, akan terlihat sebuat daratan kecil seperti pulau yang terpisah. Itulah Pulau Kemaro, sebuah delta di sungai Musi yang diapit oleh dua industri yaitu pabrik pupuk PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang dan Refinery Unit PT Pertamina.

Sebagai kota tertua di Indonesia, Palembang memang memiliki banyak area yang bersejarah dan bisa dibilang lebih menonjolkan wisata budaya sebagai andalannya. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika berada di Palembang adalah Pulau Kemaro.

Pulau Kemaro menjadi kerap kali menjadi lokasi yang digunakan untuk perayaan Cap Go Meh (hari kelimabelas Tahun Baru Imlek). Banyak warga yang datang ke Pulau Kemaro untuk melaksanakan ibadah. Saya pernah mendengar cerita, bahwa saat Cap Go Meh, bukan hanya warga keturunan Tionghoa saja yang datang untuk beribadah di Pulau Kemaro, tetapi juga dari kota lain di Indonesia bahkan ada yang dari luar negeri.

Nama “Kemaro” sendiri berasal dari kata “Kemarau”. Jadi, pulau ini memang tak pernah tenggelam walaupun Sungai Musi sedang pasang.

Ingin ke Pulau Kemaro, Bagaimana Caranya?

Sungai Musi yang membelah kota Palembang membuat ada banyak perkampungan di tepian sungai ini. Biasanya, di setiap wilayah tertentu terdapat dermaga untuk perahu kecil / ketek yang siap mengantar penumpang.

Salah satunya adalah Dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) yang berada di dekat Jembatan Ampera. Mengingat Jembatan Ampera menjadi salah satu spot wajib untuk latar foto saat berada di Palembang, tak jarang orang ingin menyusuri Palembang menggunakan ketek. Untuk mencapai Pulau Kemaro bisa dari Dermaga BKB.

Namun, banyak pula dermaga lainnya, saya memilih dermaga yang tak terlalu jauh dari rumah yaitu di sekitar Intirub (dekat Pabrik Pusri). Dermaga ini bisa dibilang yang paling dekat dengan Pulau Kemaro. Faktor tak adanya pelampung di perahu ketek sementara saya membawa anak membuat saya memilih dermaga ini dibanding yang lainnya. Saya sempat bingung karena sekarang daerah Intirub ini dipenuhi dengan peti kemas. Untungnya ada petunjuk untuk menuju penyebrangan ke Pulau Kemaro. Cerita dari petugas, akan dibangun dermaga yang lebih baik di daerah ini.

Sebenarnya, jika kita ingin datang ke Pulau Kemaro namun tidak menggunakan perahu ketek, bisa datang saat perayaan Cap Go Meh dan menyebrang dari daerah Intirub. Biasanya disediakan perahu tongkang yang dijejer menjadi jembatan penyebrangan.

Rasanya, belum ada tarif resmi berapa harga untuk ke Pulau Kemaro dari dermaga manapun. Akan terjadi tawar menawar dengan pemilik perahu ketek. Pengalaman saya baru-baru ini, pemilik perahu mengajukan Rp150.000,- dari dermaga Intirub ke Pulau Kemaro padahal bisa dikira-kira itu tak lebih dari 200 meter jaraknya. Kami pun menawar dan berakhir di Rp80.000,- untuk pulang pergi. Sempat tak ikhlas di awal, tapi pada akhirnya ya kami maklum. Mungkin penumpang di dermaga ini tak sebanyak dermaga lainnya.

Legenda Cinta dari Pulau Kemaro

Ketika memasuki komplek Pulau Kemaro, kita akan disambut dengan tulisan ‘Selamat Datang, Makmur Sejahtera’ sebuah doa yang indah bagi siapapun. Setelah berjalan sebentar, akan terlihat sebuah prasasti yang menceritakan tentang pulau ini.

Di zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Palembang. Rajanya memiliki seorang putri cantik, Siti Fatimah. Tak hanya cantik, putri ini mencerminkan seorang putri raja yang pandai bersopan santun, berperangai baik, serta memiliki tutur bahasanya yang lembut.

Suatu hari Siti Fatimah bertemu dan jatuh hati pada Tan Bun Ann, putra raja dari negeri China yang berusaha untuk berniaga di Palembang. Ketika ingin mempersunting Siti Fatimah, sang Raja memberikan persyaratan sebagai mahar yaitu sembilan guci berisi emas.

Sembilan guci dikirimkan dari negeri asal Tan Bun Ann beserta surat restu dari orang tuanya. Namun, Tan Bun Ann sangat kaget ketika mengetahui isi dari guci tersebut adalah sayur sawi busuk. Rupanya, orang tua Tan Bun Ann melapisi emas dalam guci dengan sayur sawi agar aman dari bajak laut. Sayangnya Tan Bun Ann tak mengetahuinya.

Tan Bun Ann kecewa, lalu ia membuang guci-guci tersebut ke Sungai Musi. Tak sengaja, guci terakhir pecah sebelum dibuang dan Tan Bun Ann melihat isi emas yang berhamburan. Tan Bun Ann dan pengawalnya pun berusaha mengambil kembali guci yang dibuang dengan menceburkan diri ke Sungai Musi. Namun, Tan Bun Ann tak jua kembali. Siti Fatimah yang melihatnya juga ikut menceburkan diri ke Sungai Musi. Ia pun tak kembali. Konon, setelah kejadian tersebut, muncul gundukan tanah yaitu Pulau Kemaro ini.

Ada apa di Pulau Kemaro?

Pulau Kemaro memiliki sebuah kuil di dekat dermaga. Kuil ini akan ramai saat Cap Go Meh karena digunakan sebagai tempat ibadah. Saat saya berkunjung di hari Minggu kemarin, terdapat beberapa orang yang juga beribadah di kuil ini. Namun, saat saya pulang, sudah tak tampak orang yang beribadah dan kuil juga tertutup.

Di sisi jalan kecil yang dibangun di pulau ini, terdapat beberapa warung tenda yang menjajakan makanan. Di sekitar pulau memang ada rumah-rumah penduduk. Ketika ada perayaan, yang berjualan pun tak terbatas makanan, tetapi juga baju atau pernak pernik lainnya. Ya, memang layaknya tempat wisata lain, tak jarang orang yang sedang kasmaran mengunjungi Pulau Kemaro. Apalagi pulau ini memiliki legenda cinta, mungkin banyak yang berharap cintanya abadi seperti Tan Bun Ann dan Siti Fatimah.

Selain sebuah kuil, di tengah pulau ini terdapat satu pagoda yang tinggi menjulang. Pagoda berlantai 9 ini juga dalam kondisi tertutup. Pagoda memang sengaja ditutup, namun jika ada perayaan seperti Cap Go Meh atau Festival tertentu seperti Musi Thematic Festival Kemaro Island saat Asian Games lalu, pagar pagoda ini dibuka. Wajar rasanya jika tempat suci seperti kuil dan pagoda ini dibuka terbatas, tentunya pihak pengelola tetap ingin menjaga kesucian tempat ibadah sekaligus ziarah makam (berdasarkan legenda cinta) ini.

Menghargai Perbedaan di Pulau Kemaro

Tak hanya sekali ini saya berkunjung ke Pulau Kemaro. Saya juga pernah berkunjung saat perayaan Cap Go Meh untuk melihat seperti apa Pulau Kemaro saat Cap Go Meh. Rupanya, pengunjung tak terbatas pada yang ingin beribadah saja, namun banyak masyarakat lokal Palembang yang juga ikut dalam perayaan ini. Sebuah pemandangan yang bagi saya menyenangkan, karena artinya perbedaan bukan menjadi masalah untuk menimbulkan konflik. Semua orang bersuka cita.

Mendatangi Pulau Kemaro dan melihat orang beribadah memberikan saya kesempatan bercerita kepada anak bahwa orang lain memiliki cara beribadah yang berbeda. Nama tempat dan bentuk bangunannya pun berbeda. Ketika kita melihat orang beribadah, tak seharusnya kita menganggu karena mereka sedang mengucap doa dan harapan. Sama seperti kita yang juga ingin fokus saat beribadah. Namun tak apa jika kita melihat dari jauh.

Usia anak saya memang baru lepas dari 2 tahun. Tapi saya ingin dia bisa berteman dengan siapapun dan menghargai perbedaan. Di Indonesia memang banyak perbedaan dan belakangan saya merasa unsur perbedaan lebih banyak ditonjolkan dibanding persatuan dan kesatuan seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Harapan saya, kelak dia bisa memahami ada perbedaan dan tetap bisa menghargai orang yang berbeda dengannya.

Disambut dengan ucapan Selamat Datang, Makmur Sejahtera. Selamat Jalan Terima Kasih Semoga Panjang Umur menjadi kalimat penutup saat meninggalkan pulau ini.

 

Jika berkunjung ke Palembang, jangan lupa main ke Pulau Kemaro ya. Apalagi kalau berkunjung saat perayaan Cap Go Meh, akan lebih seru. Namun, tetap hargai jika ada yang sedang beribadah ya

Palembang Food Guide : Pempek Palembang

“Orang Palembang itu hebat, kapal selam aja bisa dimakan”

 

Pernah dengar ga ungkapan seperti itu? Ya, pempek adalah salah satu makan asal Palembang yang terkenal banget di seantero negeri *ceilah*. Pempek juga oleh-oleh wajib bawa dari Palembang.

Pada umumnya, orang mengetahui pempek dengan nama pempek kapal selam. Pempek kapal selam adalah varian pempek yang paling umum ditemui di tempat makan yang menjual pempek. Di Palembang sendiri, pempek kapal selam dikenal juga dengan nama pempek telok besak (telur besar). Iya, isi di dalam pempek tersebut biasanya kan sebutir telur utuh dan ukurannya jadi besar.

Tak ada daerah lain yang mencintai makanan khas daerahnya layaknya orang Palembang. Saya pun pernah mendengar ungkapan seperti itu. Memang benar, orang Palembang begitu mencintai dan menikmati pempek. Di awal saya pindah ke Palembang sekitar 8 tahun lalu, saya cukup kaget karena orang di kantor rasanya tak bosan menikmati pempek setiap hari. SETIAP HARI!

Tapi, bukan pempek kapal selam yang dinikmati setiap hari. Umumnya pempek di sini dijual dengan ukuran kecil-kecil, kira-kira setengah kepalan tangan. Kalau di restoran yang menjual pempek, beberapa pempek disajikan dalam satu piring. Namun, kalau untuk sajian ramai-ramai di kantor atau acara kumpul lainnya, biasanya sewadah besar pempek disajikan aneka varian disajikan.

 

Dulu, saya hanya sanggup makan 2-3 pempek ukuran kecil. Saat hamil, saya sanggup menghabiskan 10 sekali duduk menghadap pempek.

Pempek memiliki banyak jenis. Jenis pempek bisa dibedakan berdasarkan bahan pembuatnya, ada Pempek Gabus (berasal dari Ikan Gabus), Pempek Udang (berasal dari udang), Pempek Tenggiri (dengan campuran ikan tenggiri), Pempek Dos (hanya dari tepung tanpa campuran ikan), Pempek Belida (berasal dari ikan belida), dan lain-lain. Untuk di rumahan, kadang ada juga yang membuat pempek dari campuran nasi, jadi pempek nasi deh. Kasta pempek dengan harga termurah biasanya dipegang oleh pempek dos yang seribuan (yaiyalah, kan ga ada ikannya) dan kasta termahal dipegang pempek belida yang sepuluh ribuan (karena ikannya susah dicari dan memang paling enak).

Selain dibedakan dari bahan pembuatnya, pempek kecil-kecil umumnya dibuat dengan bentuk-bentuk yang khusus. Namanya pun berbeda satu dengan yang lainnya. Apa saja?

    • Pempek Adaan : Pempek dengan bentuk bulat seperti bakso dengan isian potongan bawang
    • Pempek Lenjer : Pempek dengan bentuk seperti tabung, untuk oleh-oleh ada penjual pempek yang menjual lenjer ukuran besar sehingga orang yang membeli bebas memotong sesuai ukuran yang diinginkan
    • Pempek Pistel : Pempek berbentuk seperti pastel, diisi dengan potongan papaya muda dan terkadang ada campuran ebi
    • Pempek Tahu : Pempek dengan campuran tahu putih.
    • Pempek Kulit : Pempek yang umumnya berwarna gelap karena berasal dari kulit ikan ada pula yang membuatnya dari daging merah ikan dan digoreng dengan sangat garing sampai disebut pempek crispy.
    • Pempek telur/telok kecil : Mirip dengan pempek kapal selam, pempek ini memiliki isian telur namun ukurannya kecil-kecil.
    • Pempek keriting : Pempek yang punya bentuk seperti kabel ruwet alias keriting hehe.
    • Pempek belah : Bentuknya seperti pempek lenjer (tabung kecil), namun ada belahan di tengah dan biasanya diberi isian campuran ebi.
  • Pempek Lenggang : Potongan pempek (kalau saya biasanya pakai yang lenjer) lalu dicampur dengan telur. Bisa dipanggang, bisa juga digoreng.
  • Pempek panggang : Pempek dengan isian campuran udang yang dipanggang.

Makan pempek tak enak jika terpisah dengan cuko/cuka. Banyak yang bilang, pempek gak enak gapapa asal cukanya enak. Kalau saya sih, kalau pempeknya ga enak ya tetep aja ga enak 😀 .

Cuko yang berwarna gelap ini berasal dari gula batok (umumnya gula yang digunakan berasal dari daerah Linggau). Gula merah yang berbentuk seperti setengah bola adalah faktor penentu nikmatnya cuko. Kalau gula merah ini diganti dengan gula jawa, hmmm rasanya akan berbeda dan tak sedap.

Cara makan pempek cukup unik juga. Sebelum di Palembang, biasanya saya menemukan penjual pempek kapal selam yang menuangkan cukanya langsung di mangkoknya, sehingga si kapal selam tampak terendam setengah badan. Sementara itu, biasanya disediakan piring-piring kecil. Jadi, kita bisa menuang sendiri cuko sesuai selera. Pempek akan dicocol-cocol di cuko dan terakhir jangan heran jika melihat orang Palembang menghirup cuko di piring kecil tersebut.

Untuk menyesuaikan dengan gaya orang Palembang dalam menikmati pempek, saya sendiri belum ‘fasih’. Beberapa pempek seperti pempek telur kecil, pempek keriting, pempek lenjer adalah jenis pempek yang direbus terlebih dahulu. Saya lebih suka gorengan kadang menggoreng lagi pempek rebusan tersebut.

Pempek kecil kerap dijadikan oleh-oleh. Pempek yang dijual dan sering dijadikan oleh-oleh adalah pempek adaan, kulit, telur, dan lenjer. Dulu, pempek biasanya ditaburi tepung agar lebih awet, nantinya kita bisa mencuci tepung tersebut sebelum direbus atau digoreng. Kini ada juga teknologi vakum jadi kita tak perlu repot menghilangkan tepungnya.

Nah, demikian cerita tentang pempek. Ada yang jadi pengen pempek ga?

 

 

 

 

Chicking! Sensasi Berbeda Fast Food Ayam dari Dubai

Akhir pekan emang jadi waktunya untuk keluarga kami mencicipi makanan di luar rumah. Rasanya, banyak sekali tempat makan yang bermunculan di Palembang mulai dari yang warung tenda pinggir jalan sampai restoran di mall.

Beberapa minggu lalu, kami mencoba restoran fast food baru di Palembang. Chicking namanya. Beberapa blogger di Jabodetabek pernah menuliskan reviewnya yang membuat saya tertarik untuk mencobanya.

Alasan utamanya yang membuat saya berhasil menarik suami mampir adalah nasinya bukan nasi putih biasa, melainkan nasi biryani atau nasi khas Arab yang berasal dari beras basmati. Sejak pertama makan nasi briyani pakai kari ayam di Singapura di bulan Mei lalu, pak suami emang jadi doyan saya nasi briyani. Sampai-sampai saya juga beli beras basmati dan bikin nasi briyani di rumah.

Chicking Ayam Top Dubai

Chicking adalah restoran fast food yang berasal dari Uni Emirat Arab (UEA). Dubai sendiri adalah salah satu kota di UEA. Kalau gak percaya Chicking asalnya dari UEA bisa cek web mereka : http://chickinguae.com/ .

Chicking pertama kali didirikan pada tahun 2000 dan mulai berkembang di negara lain seperti Dubai, Oman, India, Afghanistan, Maldives, Ivory Coast, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia. Kehalalan produk adalah keutamaan yang ditawarkan oleh Chicking.

Saya sempat penasaran kenapa ada yang menyebut Chicking Ayam Top Dubai, ternyata pemegang lisensi Chicking di Indonesia adalah PT Ayam Top Dubai. Nama yang unik sekaligus mewakili Chicking sendiri sebagai restoran ayam yang memang terkenal dan berasal dari Dubai.

Nuansa Timur Tengah di Chicking

 

Ketika memasuki Chicking Palembang, nuansa khas Timur Tengah terasa dari interior ruangan restoran. Ada beragam tanaman palma tiruan yang ditempatkan di bagian dalam restoran. Belum lagi lagu-lagu dengan bahasa Arab yang mengalun. Rasanya ingin bergoyang dengan unta di padang pasir seketika.

Tepat di depan pintu masuk, terdapat meja untuk memesan makanan. Ada banyak tempat-tempat duduk yang siap menemani para tamu menikmati hidangan lezat dari Chicking.

Sistem pemesanan mirip restoran fast food pada umumnya, kita bisa memesan lalu membayar namun kadang harus menunggu sebentar sebelum pesanan keluar. Jika penasaran, ada layar yang menunjukkan urutan pesanan yang sedang dalam proses.

Cita Rasa Berbeda dari Fast Food Lainnya

 

Pada umumnya, fast food ayam menawarkan kesamaan yaitu ayam goreng dengan tepung krispi dan nasi putih. Chicking juga menawarkan ayam goreng dengan tepung krispi. Namun, saya tentu ingin mencicipi menu lainnya. Berikut menu yang saya coba di Chicking.

 

Chicking Combo 1

Ada beberapa paket combo yang ditawarkan di Chicking. Saya sendiri memilih paket Chicking Combo 1 yang terdiri dari Nasi Chicking, ayam, dan minum. Untuk ayam, pelanggan bisa memilih sesuai kesukaan apakah ayam goring tepung krispi atau ayam panggang. Saya sih, pengen yang beda dan ‘agak lebih sehat’, yaitu ayam panggang. Sementara itu, untuk minum dalam paket combo pilihan yang disediakan adalah kopi arab atau ‘teh botol dengan kemasan kotak’.

Grilled Chicken atau ayam panggang Chicking rasa bumbunya karena dipanggang menjadi tak terlalu basah. Bumbunya meresap ke ayamnya sampai berwarna kecoklatan. Ada sensasi pedas, namun bagi pecinta pedas tentu akan kurang kalau tidak mencocolkan potongan ayam ke saus sambal tambahan. Ukuran ayamnya tidak terlalu besar. Saya sempat juga memesan grilled wings dan ternyata ukurannya kecil-kecil sekali. Hehehe.

Nasi dalam chicking combo adalah nasi yang berasal dari beras basmati. Sekilas mirip nasi kuning dengan bentuk nasi yang lebih panjang dari biasanya. Rasa nasinya gurih dan cukup terasa rempah-rempahnya. Bagi saya, nasi ini bisa enak dimakan tanpa tambahan lauk. Tapi, pasti kurang pas kalau nyemilin nasi. Ketika nasi berempah bergabung dengan ayam panggang berbumbu rempah juga ternyata bisa menjadi kombinasi yang pas.

Sementara itu, kopi arab menjadi pilihan. Butiran kapulaga menambah wangi aroma dari kopi ini. Sayangnya, setelah ditambahkan gula pasir 3 sachet, rasa pahit masih terlalu pekat.  Bagi orang yang bukan penikmat kopi hitam, akan lebih baik memilih teh sejak awal.

Royal Wrap

Menu royal wrap adalah menu kebab dengan isian ayam crispy dan sayuran. Menu ini sebenarnya bisa juga dicombo dengan minuman (cola) dan kentang Potongan ayam crispynya cukup banyak. Menu ini sebenarnya mirip dengan beberapa menu di resto fast food lain, hanya saja, roti kebab royal wrap di Chicking lebih tipis dan lebih lembut.

Spaghetti Royal

Spaghetti Royal dari Chicking sekilas mirip spaghetti bolognaise, ya spaghetti dengan saus daging giling dan tambahan keju sebagai topping. Namun, adanya potongan cabai hijau membuat spaghetti ini berbeda. Suprisingly, rasanya enak banget kalau buat saya. Potongan dagingnya banyak dan berasa banget.

Tandoori Fries

Sebenarnya ini adalah kentang goreng dengan tambahan bumbu tabor rasa tandoori. Sayangnya, bumbu tandoorinya kurang banyak sehingga agak kurang berasa aja dan jadi tak ada bedanya dengan kentang goreng pada umumnya.

Dubai Breeze

Jika kamu pecinta mocktail, maka Dubai Breeze bisa jadi pilihan. Terdapat 2 varian rasa yaitu Green Apple dan Passion Fruit. Saya mencoba keduanya. Campuran sirup dengan rasa buah, dipadu dengan soda, mint, dan lemon jelas memberikan kesegaran di siang hari.


Overall, Chicking bisa menjadi pilihan untuk pecinta fast food yang ingin menikmati rasa yang berbeda. Ya, dari menunya saja sudah berbeda dari yang lain. Belum lagi suasana rasa-rasa Timur Tengah yang ada di dalam restorannya.Kalau urusan harga sih, masih mirip-mirip lah.

Saya berdoa supaya Chicking ini bertahan lama di Palembang mengingat pesaing fast food ayam lumayan banyak dan pernah kejadian ada fast food Malaysia yang akhirnya tutup gerai di Palembang. Oh iya, sampai tulisan ini saya buat, Chicking belum ada di Go-Food.

Chicking Palembang


Mencoba LRT Palembang Bareng Anak, Ini Tipsnya!

Adanya Light Rail Transit (LRT) Palembang yang mulai beroperasi pada 1 Agustus 2018 lalu tentu mengundang perhatian masyarakat. Ya, banyak warga Palembang bahkan dari kota lain di luar Sumatera Selatan yang juga ingin mencoba LRT pertama di Indonesia ini. Demikian juga dengan saya.

Ingin mencoba LRT sebenarnya kelanjutan dari sesi pengenalan transportasi umum ‘di dunia nyata’ kepada anak. Setelah sesi sebelumnya saya mengenalkan bus Transmusi, kali ini saya mengenalkan dengan LRT.

Baca juga : Menjajal Naik LRT Pertama di Indonesia, Apa Rasanya?

Membawa anak (usia batita) naik LRT di saat antusiasme warga sedang tinggi-tingginya tentu cukup menantang karena bisa dipastikan tantangan utamanya adalah keramaian. Sebagai orang tua, kekhawatiran anak rewel dan tantrum di tempat umum pasti ada. Anak tantrum di tempat umum yang sepi aja bisa jadi perhatian, apalagi di tempat umum yang ramai, bisa menjadi artis mendadak kita. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya membuat anak tetap bisa nyaman selama perjalanan.

Ini dia tips mencoba LRT dari saya.

Makan sebelum perjalanan

Perut kenyang, anak tenang. Selama saya hidup plus selama menyandang status sebagai orang tua, konsep tersebut harus saya akui benar adanya. Jangankan anak, saya saja kalau lapar tingkah lakunya bisa menyebalkan.Selama perjalanan dengan LRT, kita dilarang untuk makan dan minum. Kondisi penumpang saat ini memang masih banyak yang acuh pada larangan tersebut. Namun, ada baiknya kita mengajarkan hal positif pada anak untuk mematuhi peraturan, benar kan?

Perjalanan dari stasiun Bandara ke stasiun DJKA (ujung ke ujung) bisa memakan waktu hampir 1 jam. Kalau kondisi kita sedang kelaparan bisa jadi perjalanan jadi tidak menyenangkan lagi. Oleh karena itu, ada baiknya makan dahulu sebelum mencoba perjalanan dengan LRT.

Kita bisa saja mengisi perut selama menunggu kereta datang di stasiun atau peron karena ada tempat-tempat duduk dan disediakan juga tempat sampah. Di stasiun bandara juga terdapat minimarket di area skybridge. Sementara itu, di stasiun lainnya juga tak jauh dari tempat makan, bahkan untuk Stasiun Bumi Sriwijaya dan Stasiun DJKA dekat dengan mall.

 

Gunakan e-money

Pembayaran karcis LRT bisa menggunakan tunai dengan membeli karcis di loket, namun jumlahnya masih dibatasi. Kalau kita kehabisan karcis untuk jadwal yang paling dekat, kita harus menunggu loket buka untuk kereta berikutnya. Menunggu itu menyebalkan kan?

Kalau tidak mau terlalu menunggu, kita bisa gunakan e-money seperti BSB-cash, e-money Mandiri, Tapcash BNI, Flazz BCA, atau BRIZZI BRI. Jika kita sudah memiliki salah satunya, kita bisa menginisiasinya terlebih dahulu di loket. Kemarin sih, waktu saya mencoba menginisiasi tidak perlu ikut antrian yang ingin membeli karcis kertas. Selain itu, ada pula bank yang membuka penjualan e-money di stasiun LRT dan telah aktif, tidak perlu diinisiasi lagi.

Dengan menggunakan e-money, kita bisa bergerak lebih cepat untuk masuk ke peron lalu lebih santai. Selain itu, untuk scan e-money di mesin masih lebih cepat dibanding dengan karcis kertas. Baik karcis kertas maupun e-money menjadi alat untuk keluar masuk peron (dengan melakukan tapping di mesin scan). Satu lagi kelebihan pakai e-money buat saya, karcis kertas lebih gampang keselip sementara e-money bentuknya lebih keras dan jadinya lebih mudah dijaga.

 

Pilih gerbong yang sepi

Duduk tentu akan lebih nyaman dibanding berdiri, apalagi kalau bawa anak tanpa gendongan. Berdiri? Ya bisa gempor lah ai bawa gembolan depan (anak) plus belakang (tas gembolan beneran).Begitu penumpang dipersilahkan naik ke kereta, biasanya gerbang paling depan menjadi tujuan utama sementara yang di belakang cenderung dicuekin. Kasihan sama yang dicuekin, marilah kita beri perhatian lebih.

Gerbong paling belakang yang biasanya diacuhkan orang-orang ternyata bisa memberikan keuntungan yaitu tempat yang lebih sepi. Paling tidak, anak bisa mendapat tempat duduk. Anak pun bisa duduk dengan nyaman.

Jika ingin mencoba LRT, kita bisa memilih jadwal yang agak pagi (sebelum jam 9) dan stasiun paling ujung (Bandara atau DJKA). Biasanya, masyarakat belum banyak yang mencoba LRT pada waktu tersebut. Stasiun paling ujung juga memungkinkan kita kebagian tempat duduk dibanding naik dari stasiun tengah-tengah perjalanan.

 

Ajak anak melihat sekitar sambil belajar

Tentu tak salah jika membanjiri anak dengan informasi yang baik. Toh tujuan awal mencoba LRT juga karena ingin mengenalkan anak pada transportasi umum.Untuk anak usia Mahira yang mulai banyak mengucap kata baru dan kadang bertanya apa itu? Saya mencoba mengenalkan dengan hal-hal kecil yang ada di sekitar.

Sejak di stasiun LRT, kita bisa mengenalkan profesi mulai dari penjaga loket, sekuriti, karyawan PT KAI, atau petugas lainnya yang ada di lingkungan tersebut. Kita juga bisa mengenalkan dengan kereta LRTnya sendiri, perjalanannya berapa lama, apa yang akan dilewati, belajar bahwa harus mengantre, melakukan tapping kartu di mesin, dan lain-lain.

Banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan sembari memberikan informasi bagi anak. Belajarnya jadi tak terasa, bahkan bisa lebih menyenangkan.

 

Lakukan hal yang disukai oleh anak

Membiarkan anak melakukan hal yang disukai tentu bisa membuatnya lebih nyaman. Jika anak suka berfoto, tak apa mengabadikan momen menaiki LRT pertama di Indonesia ini. Atau bagi anak yang suka menunjuk dan mencari sesuatu, kita bisa membuat permainan mencari masjid atau Alf*mart yang dilewati.

Anak juga bisa berjalan-jalan atau melatih kekuatan otot dengan bergantungan. Tapi, lakukan ini kalau kereta dalam kondisi tidak penuh ya.

Dalam menaiki transportasi umum, tentu ada peraturan yang harus dipatuhi seperti mengantre saat membeli tiket, mendahulukan yang keluar terlebih dahulu, tidak makan dan minum selama di kereta, tidak mengangkat kaki di tempat duduk, tidak duduk di lantai, dan lain-lain. Kadang, orang tua ingin membuat anak nyaman dengan cara apapun. Tentunya, tetap patuhi peraturan yang berlaku karena itu juga sebagai contoh perilaku positif kepada anak.

Selamat mencoba LRT Palembang 🙂

Menjajal Naik LRT Pertama di Indonesia, Apa Rasanya?

Sejak pindah ke Palembang pada tahun 2011 lalu, rasanya pembangunan kota ini cukup banyak. Tak hanya adanya mall atau tempat makan baru, hotel-hotel juga semakin menjamur. Ya, Palembang kerap kali menjadi lokasi event-event internasional, khususnya di bidang olah raga. Sea Games 2011, Islamic Solidarity Games 2013, dan ASEAN University Games 2014 adalah event olah raga internasional yang pernah dilaksanakan di Palembang, yang memiliki pusat olah raga Jakabaring Sport City (JSC). Pada tahun 2018 ini, Palembang menjadi tuan rumah event besar lainnya yaitu Asian Games 2018.

Walaupun untuk event ini Palembang join dengan Jakarta sebagai tuan rumah, tapi antusias pemerintah daerah untuk menjadi tuan rumah yang baik sangat terasa. Perbaikan dan penambahan venue serta wisma atlet dilakukan di Jakabaring. Sarana transportasi lain pun dibangun oleh pemerintah yaitu Light Rail Transit (LRT).

LRT Palembang (ada juga yang menyebut LRT Sumsel), merupakan LRT Pertama di Indonesia. Ya, sejarah baru tentunya untuk transportasi Indonesia. Walau pada saat pembangunan sebagai warga saya juga pernah berkeluh kesah karena timbulnya efek macet serta jalan-jalan yang tertutup seng jadi tampak tak indah, setelah melihat hasilnya, saya pun tak sabar untuk mencobanya. Oh iya, LRT ini selain menjadi yang pertama di Indonesia juga menjadi LRT pertama di dunia yang melintasi sungai.

Diresmikan pada 15 Juli 2018 oleh Presiden Joko Widodo, LRT ini secara resmi mulai beroperasi terbatas pada 1 Agustus 2018. Nantinya, pada perhelatan Asian Games mulai 18 Agustus – 2 September 2018, LRT akan lebih difokuskan pada transportasi atlit, baik untuk kedatangan dari bandara sampai ke penginapan di Wisma Atlit JSC maupun untuk transportasi ke venue seperti Stadion Bumi Sriwijaya.

Sejak mulai beroperasi terbatas, banyak masyarakat yang berkeinginan mencoba. Karena saya juga belum mencoba, saya juga termasuk yang penasaran dan antusias untuk mencoba. Dan…..akhirnya, saya pun sukses menjajal LRT pertama di Indonesia beberapa waktu lalu.

Dari 13 stasiun yang ada, hanya 6 stasiun yang sudah beroperasi dan menjadi tempat pemberhentian LRT, yaitu Stasiun Bandara, Stasiun Bumi Sriwijaya, Stasiun Cinde, Stasiun Ampera, Stasiun Jakabaring, dan Stasiun DJKA / Opi Mall. Karena antusiasme warga yang besar dan saya membawa anak, saya memilih naik dari stasiun paling ujung yang dekat rumah, yaitu Stasiun Bandara. Alasannya, supaya dapat tempat duduk. Untuk jadwal LRT, bisa dilihat di instagram @lrt_palembang

Jika kita ingin naik LRT dari Stasiun Bandara SMB II, kita dapat naik dari dekat area pintu keberangkatan. Ada eskalator yang mengantarkan kita ke Skybridge menuju Stasiun Bandara. Hiasan songket warna-warni hadir di sisi eskalator. Ada pula gerai makanan dan minuman. Eh, tapi di LRT gak boleh makan ya, kita bisa makan di area stasiun. Papan penunjuk juga lengkap. Ornamen gerombolan ikan belida yang terbang menambah semarak isi skybridge.

 

Sesampai di stasiun, saya segera menuju loket untuk membeli karcis. Saya sempat kaget, karena dibilang karcis manual untuk kereta yang akan datang sudah tidak dapat dibeli. Oh, mungkin karena beroperasi terbatas, jadi jumlah pengguna dibatasi, begitu pikir saya. Sebenarnya, untuk naik LRT kita juga dapat menggunakan e-money (electronic money) seperti BSB-cash, e-money Mandiri, Tapcash BNI, Flazz BCA, atau BRIZZI BRI. Jika sudah memiliki e-cash, kita harus menginisiasi terlebih dahulu di loket supaya bisa terbaca di mesin scan LRT. Namun, jika kita membeli e-cash di stasiun (ada petugas yang menjual juga biasanya), tidak perlu diinisiasi lagi. Hanya perlu isi saldo karena biasanya kosong.

Saya memilih menggunakan karcis manual di awal karena teman hanya punya 1 e-money dan khawatir saldo tidak cukup. Karena sudah dibilang tutup kita ingin menunggu kereta berikutnya. Tapi, ada rombongan yang menawarkan karcisnya pada kami karena anggota rombongan lainnya ternyata belum datang.

Kami pun masuk ke Peron 1 setelah men-scan karcis manual di mesin. Oh iya, untuk karcis manual, agak tricky sih. Karcis tidak boleh ditempel ke mesin scan (ada jarak ke mesin). Untung ada petugas yang membantu karena beberapa kali gagal. Karcis juga tidak boleh hilang karena digunakan untuk keluar di stasiun tujuan nanti. Harga tiket dari Bandara adalah Rp 10.000,-. Oh iya, untuk tarif untuk anak masih tidak terlalu jelas. Mirip dengan pengalaman saya saat naik Trans Musi. Petugas loket hanya bilang, kalau anak digendong saat masuk peron ya tidak usah bayar. Wah, kalau nanti bawa stroller gimana ya?

Baca juga : Mengajak Anak Naik Trans Musi & Becak di Palembang

Penumpang diminta menunggu kedatangan kereta di Peron 1. Eh, kereta ternyata datang di Peron 2. Mungkin ini siasat juga, agar penumpang yang turun mendapat haknya turun duluan dan penumpang yang naik juga dilatih bersabar. Setelah penumpang semua turun, baru penumpang yang akan naik dikondisikan untuk berpindah ke Peron 2. Semua langsung berebut masuk LRT. Rombongan kami? Santai saja menuju gerbong paling belakang yang tidak banyak dilirik penumpang lain.

Pintu LRT pun menutup. LRT siap melaju menuju stasiun lainnya. Jujur saja, saya sempat melakukan kesalahan karena membiarkan anak mencoba berdiri di tempat duduk. Hal ini sebenarnya dilarang dan anak ‘seperti diajari’ tidak menghargai transportasi umum. Sempat khawatir sandal anak kotor, kita bisa membantu petugas mengelap tempat duduk dengan tisu atau tisu basah. Atau kalau memang anak (kadang suka susah dikondisikan) meminta berdiri, lepas dulu alas kakinya. Tapi kalau bisa, jangan biarkan anak berdiri di kursi ya.

Saat ini, baru ada 6 stasiun LRT yang telah beroperasi yaitu Stasiun Bandara, Stasiun Bumi Sriwijaya, Stasiun Cinde, Stasiun Ampera, Stasiun Jakabaring, dan Stasiun DJKA. LRT pun akan berhenti di enam stasiun tersebut. LRT saat ini masih belum terlalu cepat memang. Dari beberapa infografis yang seliweran di Instagram, dikatakan waktu tempuh dari stasiun awal ke akhir adalah 49 menit. Ketika saya mencobanya, masih sekitar 60 menit.

Sebuah pemandangan berbeda akan terasa ketika kereta melintasi Sungai Musi. Menyebrangi daerah ulu dan ilir Palembang kini tak hanya bisa via Jembatan Ampera saja, tetapi juga dengan LRT. Kami pun turun di Stasiun DJKA sebagai stasiun terakhir. Untuk Stasiun DJKA ini, terdapat skybridge menuju OPI Mall yang bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 10 menit. Lumayan ya, gendong anak bikin gejebres baju basah kuyup.

Ketika kami kembali lagi ke Stasiun DJKA setelah mengisi perut dahulu di OPI Mall, stasiun sudah mulai padat. Memang, antusiasme warga Palembang masih tinggi terhadap LRT ini. Semua ingin mencoba dan merasakan LRT pertama di Indonesia. Banyak rombongan yang datang. Loket tiket sudah ditutup mengingat penuhnya penumpang. Saya melihat ada penjual BNI TapCash dan akhirnya membelinya karena edisi Asian Games serta dibilang tak perlu ke loket lagi untuk inisiasi sudah bisa langsung masuk ke peron. Daripada menunggu loket buka dan kereta selanjutnya datang 1 jam kemudian, saya dan teman pun akhirnya memilih membeli TapCash dan bisa masuk kereta jam 11.40.

Di Stasiun DJKA, terdapat sebuah lift. Sayangnya lift tersebut belum bisa digunakan. Ketika saya ingin naik lift saja (karena bawa anak), dilarang pertugas karena khawatir liftnya macet.

Kondisi di siang hari kereta lebih padat. Sayangnya, memang kesadaran masih kurang. Masih ada yang makan minum di LRT. Seringnya anak-anak yang memang diberikan oleh orang tuanya. Ya, kadang susah memang, anak bisa saja naik dalam kondisi lapar. Ada pula remaja tanggung yang memilih duduk di lantai. Walau sudah ada larangan bentuk sticker masih banyak pelanggaran.

Setelah 1 jam perjalanan, kami pun tiba kembali di Stasiun Bandara. Tumpukan penumpang terjadi. Rombongan yang keluar dari kereta harus beradu dengan penumpang yang sudah tak sabar ingin naik LRT dari Stasiun Bandara. Belum lagi antrian di loket yang juga panjang.

Cukup wajar jika LRT pertama di Indonesia ini menjadi rebutan para masyarakat untuk mencoba. Jujur, saya sendiri bangga karena akhirnya Indonesia punya LRT. Semoga perkembangan transportasi di Indonesia semakin maju lagi.