Pengalaman dan Strategi Melakukan Perjalanan Mudik di Masa Pandemi

Pengalaman dan Strategi Melakukan Perjalanan Mudik di Masa Pandemi

Hai, kawan fainun.com! Aku mengakui di masa pandemi Covid-19 ini, ada perasaan lelah karena segala pembatasan yang harus dilaksanakan. Termasuk urusan pembatasan gerak dan berkumpul. Bahkan, pemerintah juga mengeluarkan larangan mudik atau pulang ke kampung halaman pada hari raya. Saya sempat melakukan perjalanan mudik di masa pandemi Covid-19, tepatnya di bulan Januari dan Februari 2021 lalu. Berikut pengalaman dan strategi melakukan perjalanan mudik di masa pandemi.

Membuat Keputusan Perjalanan Mudik ke Padang di Masa Pandemi

Di bulan Februari, jatah cuti tahunan dari kantor (baik saya dan suami) akan habis. Biasanya, jatah cuti akan kami habiskan untuk melakukan perjalanan, entah itu mudik atau liburan santai ke tempat baru. 

Sepanjang tahun 2020, suami hampir tidak mengambil cuti sama sekali. Pada saat mau cuti, mungkin dibilang, “Buat apa? Wong ga boleh kemana-mana juga”. Himbauan tidak mudik saat Lebaran 2020 pun kami patuhi. Jatah cuti pun benar-benar utuh belum terpakai.

Ketika jatah cuti akan habis, suami mengungkapkan keinginannya untuk mudik ke Padang. Awalnya saya ragu, sebenarnya himbauan tidak bepergian ke luar kota dari kantor masih ada. Walaupun, ya sama seperti himbauan pemerintah. Banyak juga yang tidak mengindahkan himbauan tersebut. Baik diam-diam, maupun terang-terangan.

Akhirnya, ya dengan berbagai pertimbangan, saya pun mengiyakan proposal suami untuk mudik ke Padang. Karena kami juga ingin pergi dan sampai ke Padang serta kembali lagi ke Palembang dengan keadaan sehat, kami memutuskan untuk membuat strategi mudik di masa pandemi. 

Mudik ke Sumatera Barat di Masa Pandemi
Melihat sejenak kota Sawahlunto, Sumatera Barat

Strategi Melakukan Perjalanan Mudik di Masa Pandemi

Menyusun strategi mudik di masa pandemi menurutku adalah hal yang harus dilakukan sebelum melakukan perjalanan. Bukan maksud mengakali tentunya. Tujuan mudik adalah bertemu keluarga dan relaksasi dari pekerjaan. Tapi, kita harus ingat bahwa kesehatan diri sendiri dan keluarga juga penting di masa pandemi ini. Berikut beberapa strategi mudik di masa pandemi ala keluarga saya. 

Mudik dengan kendaraan pribadi

Untuk kami, mudik dengan kendaraan pribadi ke Padang, sudah menjadi pilihan selama 4 tahun terakhir. Apalagi di masa pandemi ini. Menggunakan kendaraan umum, rasanya lebih riskan. Risiko bertemu orang lain, berada dalam satu ruangan yang sama untuk beberapa jam bersama orang lain, rasanya cukup mendebarkan.

Alhasil, kami melanjutkan pilihan kami untuk mudik dengan kendaraan pribadi saja.

Strategi Mudik ke Sumatera Barat di Masa Pandemi
Memasuki daerah Sumatera Barat

Melakukan mudik di hari biasa

Keluarga kami melakukan mudik di bulan akhir bulan Januari 2021. Ini bukanlah musim liburan sekolah ataupun hari raya keagamaan. Ketika musim liburan atau hari raya (lebaran), tentu saja jalanan akan ramai oleh pemudik. Dengan melakukan mudik di hari biasa, kami memperkirakan bahwa perjalanan akan lebih sepi. Bahkan, kami memilih mudik di hari kerja (Selasa), bukan akhir pekan. 

Melakukan mudik di hari biasa seperti melihat kondisi sehari-hari di lingkungan saja. Karena kami melakukan perjalanan darat, jadi merasa jalanan cenderung tidak padat. Ketika beristirahat di SPBU maupun saat ke hotel pun, cenderung lebih sepi. Ya, paling tidak ini upaya kami untuk meminimalisir bertemu banyak orang. 

Lakukan pengecekan kesehatan sebelum dan setelah mudik

Sebelum melakukan perjalanan mudik ke luar kota, saya berkonsultasi dulu dengan dokter perusahaan. Kami berniat melakukan rapid antigen sekeluarga sebelum mudik. Ternyata kata dokter, karena anak usianya masih di bawah 5 tahun, tidak apa kalau tidak melakukan rapid antigen. 

Kami melakukan rapid antigen 2 hari sebelum keberangkatan. Adanya keterangan negatif di surat hasil tentu membuat kami lebih tenang saat perjalanan. Selain itu, jika ada pemeriksaan, kami sudah memiliki surat pegangan yang menjelaskan kondisi kesehatan. 

Setelah mudik pun, saya dan suami kembali melakukan rapid antigen. Ini sebagai bentuk pertanggungjawaban kami terhadap kesehatan diri sendiri, sebelum kembali ke kantor. 

Memang sih, jadinya ada biaya tambahan yang harus kita keluarkan untuk melakukan rapid antigen ini. Tapi menurutku, ini adalah salah satu usaha dan tanggung jawab kita terhadap lingkungan, baik keluarga maupun kantor.

Lengkapi perjalanan dengan perlengkapan kesehatan dan kebersihan

Selama perjalanan, protokol kesehatan tetap harus dijalankan. Kami berusaha melengkapi perlengkapan seperti masker dan hand sanitizer untuk perjalanan. Tak lupa, bawa selalu vitamin, obat-obatan, termometer, dan alat bekam (ini karena kebiasaan keluarga). 

Selama di kendaraan / mobil, kadang kami lepas masker. Tapi, ketika kami harus beristirahat, mampir ke SPBU (khususnya toiletnya), kami langsung menggunakan masker. Cuci tangan atau menggunakan hand sanitizer juga hal yang wajib dilakukan.

Di perjalanan, cukupi juga kebutuhan air mineral dan makanan. Buah juga bisa jadi cemilan di perjalanan. Kami sendiri memilih membawa jeruk. Mudah untuk dimakan dan banyak vitamin C di dalamnya. 

Menjaga kebersihan mobil juga perlu dilakukan. Jika istirahat cukup lama, kami berusaha menyempatkan untuk membereskan dan membersihkan mobil.

Menyiapkan Barang-barang wajib ada saat perjalanan saat pandemi
Beberapa barang yang menjadi wajib ada saat perjalanan di masa pandemi

Jika harus berhenti, evaluasi dahulu tempat berhenti

Perjalanan darat Palembang-Padang biasanya kami tempuh dalam waktu lebih 20 jam. Memang kami cukup santai saat berkendara. Biasanya sih kami berhenti untuk menginap di kota Muara Bungo (Jambi) selama semalam. Perjalanan Palembang-Muara Bungo, kurang lebih selama 12-14 jam. Lalu, melanjutkan perjalanan dari Muara Bungo ke Padang selama 8 jam. 

Saat perjalanan darat, apalagi yang membutuhkan waktu panjang (> 12 jam), memang mau gak mau kami harus berhenti-berhenti. Paling tidak untuk ke toilet, solat, dan makan. 

Untuk ke toilet dan solat, kami berusaha mencari tempat yang bersih dan sepi. Begitu pula saat makan. Urusan makan selama perjalanan adalah hal yang penting. Untuk makan siang dan malam, kami mencari tempat makan. Karena kalau bekal, terlalu lama jika sampai malam. Carilah tempat makan yang terlihat bersih dan memiliki tempat duduk di area terbuka. 

evaluasi tempat berhenti menjadi salah satu strategi saat melakukan perjalanan  mudik di masa pandemi
Kami sempat berhenti di masjid untuk sholat magrib. Tak tampak ramai karena kapasitasnya juga luas.

Pantau kesehatan selama mudik 

Selama mudik, kesehatan sekeluarga harus tetap dipantau. Karena perjalanan yang panjang, tentu akan melelahkan. Saat lelah, bisa jadi kondisi tubuh menjadi lemah dan mudah terserang virus. 

Walau selama perjalanan juga sudah membekali dan minum vitamin serta makan makanan yang sehat. Pengecekan kondisi tubuh juga harus dilakukan. Alhamdulillah, selama mudik sih, suhu tubuh sekeluarga normal-normal saja. Ya, selalu memantau kesehatan selama mudik juga jadi salah satu strategi saat melakukan perjalanan mudik di masa pandemi. 

Kurangi bepergian selama di tempat tujuan

Niatan mudik adalah bertemu dengan keluarga inti saja (orang tua dan adik-adik dari suami). Suami dan saya sepakat bahwa kami tidak akan sowan atau keliling ke keluarga lainnya. Mungkin akan berkunjung ke salah satu keluarga dekat saja. 

Memang sih, rasanya kurang sopan ya. Mosok, pulang ke kampung ga sowan gitu. Tapi, inilah salah satu cara kami meminimalisir interaksi dengan orang lebih banyak lagi. 

Saat pulang ke kampung, tentu ada rasa ingin jalan-jalan atau berwisata. Kami pun akhirnya memilih banyak di rumah. Kalaupun jalan-jalan, ya benar hanya berkeliling saja melihat kondisi kota dari dalam kendaraan. 

Hanya sekali kami main ke pantai. Itu pun jauh dari keramaian. Kebetulan, ibu mertua punya rekomendasi warung makan di tepi pantai. Alhamdulillah, saat ke sana hanya keluarga kami saja yang jadi pendatang di warung makan dan pantai tersebut. Paling tidak, kami merasa aman saat makan dan bermain di pantai.

Salah satu pantai di daerah Bungus, dekat rumah makan yang menjual gulai kepala ikan karang
Salah satu pantai di daerah Bungus, dekat rumah makan yang menjual gulai kepala ikan karang

Strategi perjalanan saat pandemi : Siapkan waktu untuk isolasi mandiri setelah mudik

Ketika merencanakan mudik, estimasikan waktu untuk melakukan isolasi mandiri setelah mudik. Jika biasanya untuk mudik, kami mengambil waktu cuti seminggu, maka di masa pandemi ini kami mengambil waktu cuti 2 minggu. Seminggu untuk perjalanan mudik dan seminggu lagi untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. 

Nah, karena mengambil waktu cuti lebih lama, komunikasikan juga hal ini ke atasan dan rekan kerja. Jika perlu, jelaskan rencana kita mudik dengan detail. Bahwa kita butuh tambahan waktu 1 minggu untuk isolasi mandiri. Ini bentuk tanggung jawab kita juga kan ke kantor, bahwa kita siap kembali ke tempat kerja dengan keadaan sehat.

Jalani isolasi mandiri setelah berpergian menjadi salah satu strategi setelah perjalanan di masa pandemi
Melakukan isolasi mandiri setelah berpergian, baiknya juga dilakukan.

Demikianlah pengalaman dan strategi melakukan perjalanan mudik di masa pandemi ala keluarga saya. Walaupun kita memiliki keinginan untuk bertemu keluarga dan pulang kampung, tentu kita harus berusaha datang dan kembali dalam keadaan sehat. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan keselamatan ya.

 

Related Posts

8 thoughts on “Pengalaman dan Strategi Melakukan Perjalanan Mudik di Masa Pandemi

  1. Alhamdulillah ya tetep bisa mudik. Desember kemarin saya juga mudik naik mobil pribadi. Memang lebih enak naik mobil pribadi di masa sekarang. Gak khawatir bersentuhan dengan orang. Kitanya juga lebih aman dan happy pastinya 🙂

  2. Setelah baca tulisan ini jadi gak takut lagi untuk mudik di masa pandemi, yang penting tahu strateginya ya. Terutama dalam pemilihan waktu mudik, supaya gak umpel-umpelan di jalan dengan pengendara mobil lainnya.

  3. Bentar, aku baru buka postingan ini lewat laptop, biasanya HP. Salfok sama template blog dan font blognya Mbak. Cantik dan rapih, naksir ey 😀

    Hohoho, aku setuju bagian mudik memang bukan pas hari H untuk menyiasati, agar lebih tenang karena lebih sepi dan dengan menggunakan kendaraan pribadi juga bisa leluasa gerak, sembari membawa perlengkapan kebersihan dan kesehatannya. Kemudian selain itu, tentu saja perjalanan bisa lebih cepat karena di jalan nggak padat.

    Senangnya bisa ke pantai, pas sepi pulak ya, berasa private XD

  4. paling aman sih mudik di hari biasa ya
    tapi ada rindu yang tak terbendung dan harus tuntas
    mumpung ada kesempatan bertemu
    asalkan tetap menjalankan protokol kesehatan sebaik-baiknya

  5. Asli deg-degan yaa…
    Tapi semoga mudik ini membawa berkah bagi semua.
    Dengan prokes kesehatan yang ketat dan jalani semua prosedur yang ada, in syaa Allah.

  6. Hai, Mbak Ainun. Salam kenal

    Btw, senang ya jadinya bisa mudik..startegi ya juga patut ditiru. Memang pandemi begini, mudik pun harus diatur sedemikian rupa untuk menjaga diri ya. Karena mau ngak mau, buat jaga diri sendiri dan keluarga lagi. Sekalipun kita merasa sehat saat di jalan, tetap mempersiapkan beberapa hal untuk menjaga kesehatan ya.

  7. Harus jadi pemudik yang bertanggung jawab yaa kita mbak. Ga bisa cuma sekedar pengen mudik tapi ga mau patuh sama aturan. Rasanya kalau masyarakat semua patuh, semuanya ga bakal terasa terlalu sulit kok. Kita masih bisa mudik asal prokes terjaga. Aku suka banget ini cara penulisannya, rapih dan enak dibaca

  8. alhamdulillah ya, mbak bisa mudik dengan aman. kalau suami sudah 2 tahun nggak mudik. padahal tahun kemarin itu kami sudah beli tiket buat ke jawa eh tahunya corona masuk akhirnya batal deh semua rencana. nggak tahu nih kapan bisa mudik lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *