Pengalaman penerbangan naik pesawat di masa pandemi

Pengalaman ‘Terpaksa’ Naik Pesawat di Masa Pandemi

Hai kawan fainun.com! Sejak masa pandemi dimulai dari tahun 2020 lalu, mungkin banyak dari kita yang mengalami penurunan intensitas traveling. Sama, saya juga kok. Urusan dinas-dinas di kantor selama tahun 2020 hampir nihil. Begitu pun liburan ke luar kota. Hanya pulang kampung sekali saja. Namun, minggu kemarin, saya harus banget pergi ke Jakarta. Ada urusan mendesak yang tidak dapat diwakilkan. Ya, jadi dapat deh pengalaman naik pesawat di masa pandemi. Begini cerita saya.

Hal-hal yang harus disiapkan sebelum melakukan naik pesawat di masa pandemi

Minggu sore, saya mendapat info kalau harus ke Jakarta di hari Selasa. Ada undangan acara jam 10 pagi yang menuntut saya hadir secara fisik. 

Langsung deh bingung. Gak mungkin bawa mobil sendiri melintasi tol Sumatera. Suami juga lagi gak bisa cuti, karena harus masuk terus 20 hari ini. Mau gak mau, pilihan harus naik kendaraan umum. Paling cepat tentu saja pesawat. 

Peraturan untuk bepergian, dengan pesawat khususnya, tentu berubah di masa pandemi seperti ini. Ada langkah tambahan yang harus dilakukan, agar perjalanan lancar dan aman. Salah satunya dengan melakukan tes Covid-19.

Melakukan Tes Covid-19, wajib sebelum naik pesawat di masa pandemi

Regulasi setiap daerah untuk tes Covid-19 berbeda-beda. Untuk ke Jakarta, kita harus membawa hasil negatif tes COVID-19. Beberapa tes covid-19 antara lain:

  • RT-PCR, yang sampelnya berlaku / diambil paling lama 3×24 jam sebelum keberangkatan.
  • Rapid Test Antigen, yang sampelnya berlaku / diambil paling lama 2×24 jam sebelum keberangkatan.
  • Tes GeNose C19 (untuk beberapa bandara), yang sampelnya berlaku / diambil paling lama 1×24 jam sebelum keberangkatan.

Tes Covid-19 ini tidak wajib dilakukan oleh penumpang di bawah 5 tahun. 

Hasil pemeriksaan Swab Rapid Test Antigen, berlaku 2x24 jam untuk syarat perjalanan naik pesawat di masa pandemi
Hasil pemeriksaan Swab Rapid Test Antigen, berlaku 2×24 jam

Jadwal penerbangan saya adalah Selasa jam 6 pagi. Saya pun mengambil jadwal rapid test antigen pada hari Senin pagi. Alhamdulillah hasilnya negatif. Paling tidak, untuk hari itu dan keesokan hari saat berangkat, saya lebih tenang. 

Walau hasil tes menunjukkan negatif, kita tidak boleh lengah. Tetap harus makan makanan bergizi dan minum vitamin, untuk booster imun tubuh kita. Apalagi, ada jeda dari pelaksanaan rapid test ke penerbangan. Virus bisa datang kapan pun ia mau.

Naik pesawat di masa pandemi, ada yang beda… 

Surat hasil tes Covid-19 harus dibawa sebagai syarat penerbangan. Di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, terdapat pos untuk pengecekan surat hasil tes Covid-19. 

Melakukan pengecekan surat hasil Tes Covid-19

Penerbangan pagi dari bandara Palembang tak hanya 1. Cukup banyak penumpang yang sudah datang pada pukul 4.30. Agar antrean tertib, disediakan nomor urut yang diambil calon penumpang. 

Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) akan memanggil per 5 nomor antrean. Selanjutnya, surat akan dicap petugas. Hampir sama seperti cap imigrasi. Ada tanggalnya dan cap lokasi. 

Check in dan menunggu, masih sama saja

Setelah itu, proses berjalan seperti biasa. Saatnya check in dan menunggu boarding. Suasana bandara tampak lengang.

Sebelum pandemi, saya kerap mengambil jadwal pesawat pagi. Rasanya sungguh berbeda. Secara jumlah penerbangan berkurang. Mungkin, penumpang yang bepergian pun tak banyak lagi seperti dulu. 

Area duduk di ruang tunggu bandara diberikan jarak untuk physical distancing. Begitu pula mushola. Entah karena pandemi atau bukan, saya melihat beberapa tenant di ruang tunggu bandara Palembang tidak beroperasi lagi. Sedih sih, pandemi banyak mengubah dunia.

Physical dan Seat Distancing, antara ada dan tiada….

Tiba saatnya panggilan boarding berkumandang. Saya pikir akan berbeda, ternyata masih sama saja. Orang tak sabar untuk memasuki pesawat. Antrean masih sama panjangnya. Physical distancing seolah terlupakan sejenak. Seperti biasa, saya santai saja menunggu antrean mulai sedikit. 

Antrean saat boarding, berusaha tetap menjaga jarak
Antrean saat boarding, berusaha tetap menjaga jarak

Memasuki pesawat, saya melihat ada barisan kursi yang terisi penuh. Loh, tidak ada seat distancing rupanya maskapai ini. Memang, sempat saya lihat di aplikasi OTA (online travel agent), ada maskapai yang diberi tanda seat distancing. Saya jadi harap-harap cemas deh. 

Saya mengambil kursi di pinggir jendela seperti biasa saat check in sehari sebelumnya. Ternyata kursi sebelah saya kosong. Ada bapak-bapak lain yang duduk di dekat gang. Syukurlah. Saya cukup lega karena ada jarak dengan penumpang lain. 

Di pesawat, ada jarak dengan penumpang lain, walau sepertinya tak ada kebijakan seat distancing
Di pesawat, ada jarak dengan penumpang lain, walau sepertinya tak ada kebijakan seat distancing

Diberi makan, tapi tak boleh dimakan di pesawat

Ada peraturan lain yang juga berubah dalam penerbangan sekarang. Untuk perjalanan kurang dari 2 jam, tidak diperkenankan makan dan minum di dalam kabin. Untuk rute Palembang-Jakarta yang ditempuh sekitar 50 menit, pramugari hanya membagikan snack (roti dan air mineral cup mini). 

Mengisi dan melaporakan perjalananan di aplikasi e-HAC

Setelah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, kita harus mengisi data di e-Hac (electronic-Health Alert Card). Ini merupakan aplikasi Kartu Kewaspadaan Kesehatan, yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Tujuan dari pengisian e-Hac adalah meminimalisir risiko penularan COVID-19, oleh para pelaku perjalanan. Aplikasi e-HAC dapat diunduh di PlayStore Android maupun App Store iOS

Pelaku perjalanan seperti saya, dapat mengisi data diri pada aplikasi e-HAC. Data yang diisi antara lain nama, usia, no.KTP, jenis kelamin, tujuan kedatangan (provinsi, kota, kecamatan, alamat), waktu tiba, kendaraan untuk bepergian, serta kondisi tubuh saat berpergian. Nantinya akan keluar barcode e-HAC. Barcode akan di-scan oleh petugas KKP di tempat tujuan. 

Antrean untuk scan barcode e-HAC
Antrean untuk scan barcode e-HAC
Prosedur Pengisian data & Penggunaan Aplikasi e-HAC untuk berpergian
Prosedur Pengisian data & Penggunaan Aplikasi e-HAC untuk berpergian

Prosedur Pengisian data & Penggunaan Aplikasi e-HAC untuk berpergian

Saatnya kembali pulang…

Syukurnya, saya bisa pulang pada hari itu juga. Jadi tak perlu colok-colok hidung untuk tes rapid antigen lagi. Hasil rapid tes antigen yang kemarin masih berlaku.

Saya pulang dari Bandara Halim Perdana Kusuma. Proses yang dilalui pun sama saja seperti dari Palembang. 

Ada perbedaan di Bandara Halim. Di sini, tidak perlu mengambil nomor antrean untuk melaporkan surat rapid test. Ya, jadi, kita harus tahu diri untuk menjaga jarak dan antre dengan tertib, saat melaporkan dan meminta cap untuk surat keterangan negatif pada rapid tes. 

Bandara Halim, ramai sekali di sore hari

Bandara yang ramai, rasanya menjadi was-was…

Penerbangan sore mungkin lebih banyak. Pun tujuan dari Bandara Halim ramai dan beberapa mengalami delay. Situasi Bandara Halim tampak sangat ramai. Tempat duduk tampak tak teratur. Cukup banyak yang abai dengan aturan duduk berjarak. Beberapa ada yang memilih lesehan. 

Sekitar pukul 6 sore, tenant makanan di ruang tunggu Bandara Halim mulai banyak yang tutup. Sepertinya ada aturan seperti itu. Saya melihat ada petugas yang mendatangi tenant-tenant di ruang tunggu. Penerbangan saya sekitar jam 7 malam, termasuk yang terakhir walau ada keterlambatan. 

Seat distancing yang (mungkin) tak sengaja

Mengingat maskapai yang saya gunakan sama, saya kembali was-was untuk pengaturan tempat duduk. Kali ini saya tidak bisa memilih jendela karena sudah penuh saat check in. Saya dapat di pinggir (aisle). Syukurnya, lagi-lagi saya mendapatkan kursi yang di tengah kosong. Ya, paling tidak cukup lega, ada seat distancing yang saya rasakan. 

Teman yang pulang bersama saya mendapat kursi di tengah, mungkin karena check in sudah di akhir-akhir. Saya menyimpulkan bahwa untuk check in maskapai ini sebisa mungkin lebih cepat untuk memilih seat di pinggir jendela atau gang. Ya, walau tak ada jaminan juga sih, seat tengah bakal kosong. Untuk keluarga atau rombongan, sepertinya tidak ada seat distancing. Jika check-in di akhir, ya kemungkinan kita dapat tempat duduk di tengah-tengah, yang artinya tak ada jarak dengan penumpang lain. 

Kembali mengisi e-HAC

Sampai di Palembang, lagi-lagi kita harus mengisi e-HAC. Di pintu keluar terminal kedatangan, petugas KKP sudah siap dengan alat scan barcode untuk e-HAC. Setelah selesai, segera saya mencari taksi untuk kembali ke rumah.


Alhamdulillah, sejak berpergian dengan pesawat, hingga hari keenam sesudahnya saat saya menulis ini, kondisi saya masih cukup baik. Tidak mengalami demam, meriang, atau sejenisnya. 

Pengalaman terpaksa berpergian naik pesawat di masa pandemi ini rasanya tak ingin diulang. Bawaannya was-was terus. Baru lega ya setelah kembali ke rumah dan kondisi tubuh terasa sehat. 

Ya, tapi kalau gak disuruh dinas ini, gak bakal dapat pengalaman naik pesawat di musim pangebluk ya. Hehehe. Tetap jaga kesehatan ya teman-teman semua. Semoga pandemi segera berakhir, semoga kita bisa melewatinya dalam kondisi selalu sehat sekeluarga.

Suasana Palembang - Jakarta di penerbangan pagi itu
Suasana Palembang – Jakarta di penerbangan pagi itu

Related Posts

18 thoughts on “Pengalaman ‘Terpaksa’ Naik Pesawat di Masa Pandemi

  1. Saya juga baru sekali naik pesawat pas pandemi. Memang beda ya. Lebih ribet karena ada tes. Tapi enaknya bandara waktu saya berangkat, itu cukup sepi. Jadi nyaman aja 😀 Dan enaknya duduk memang lebih lega dengan adanya physical distancing hehe.

    1. hehehe, saya ga kebagian sepi pas pulang, jadi malah was was…

      tapi kerasa beda memang, banyak was-wasnya daripada senengnya

  2. Bepergian pas masa pandemi gini emang selalu bikin dag-dig-dug ya.

    Kalau pesawat mah ada tesnya ya, paling tidak, kita jadi tahu sebelah kanan kiri kita sudah negatif semua. Lha coba bayangkan kalau naik bus umum, huhu. Mungkin baru masuk terminal bus, bawaannya parno melulu.

    Tapi apapun itu, semoga jika memang terpaksa bepergian, kita bisa sehat saat berangkat dan pulang kembali ke rumah tanpa membawa virus dalam diri kita.

  3. ada senengnya bisa pergi pergi lagi yah mba tapi susahnya ini pandemi bikin khawatir pergi kemana-mana, walaupun prokes dibandara masih yah harap maklum yang penting kita menjaga diri sendiri deh yah selama berpergian ini

    terima kasih untuk sharingnya mba

    1. iya, sampai kembali ke rumah masih ada deg-degannya…takut beberapa hari kemudian baru terasa efek setelah pergi…alhamdulillah sih aman

  4. Oh aku baru tahu kalo penumpang anak-anak usia di bawah 5 tahun nggak perlu dilakukan tes Covid-19.

    Iya ya dikasih cemilan tapi nggak boleh dimakan di tempat. Namanya jadi bekal di jalan setelah turun dari pesawat ya

  5. jadi ingat sebelum pandemi sudah beli tiket buat ke Jawa dan terpaksa direfund karena pandemi. Untungnya uangnya bisa balik semua. kalau sekarang naik pesawat jadinya lebih ribet ya karena pandemi ini. entah kapan pandemi ini akan berakhir. huhu

  6. Berat juga ya jasa transportasi apapun mbak. Seat distance kalau harga tiketnya normal juga merugi ya.

    Kalau dinaikin harganya bisa makin gak laku. Tapi mau gimana lagi ya.

    Pandemi gini harus ekstra pengamanannya.

    Aku sendiri belum berani naik transportasi umum sama sekali sejak pandemi. Kereta aja belum berani.

    Kalau gak kepepet butuh pasti milih gak naik pesawat dulu ha mbak?

    1. iya mba, saya lihat tiket pesawat kemarin kayak lebih murah, tapi ya serba susah sih…riskan memang transportasi umum…kalau gak kepepet saya bakal milih naik kendaraan pribadi aja

  7. Aku mau maksakan diri naik pesawat juga pulang ke Makassar tapi aku masih kepikiran sama anak usia 21 bulan yang akan aku bawa. Udah kangen maksimal balik ke Makassar tapiii hiks…

  8. Paling enak kalo mau bepergian sebenarnya tes GeNose, soalnya murah, mudah dan cepet hehehe.
    Tapi sayang banget kayaknya akhir-akhir ini sudah mulai dihilangkan di regulasi beberapa armada transportasi 🙁

  9. Terimakasih mba sudah membagikan pengalaman terbang dimasa pandemi ini. Ini jadi pertimbangan bagiku, karena rasa menggebu untuk jalan-jalan tapi liat langkahnya begini keknya nanti aja deh. Kecuali ada hal penting yang bikin kudu pergi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *