Sebuah Harapan dari Pulau Kemaro Palembang

Jika datang ke Palembang dengan sebuah pesawat terbang, saat akan mendarat kita bisa melihat panjangnya Sungai Musi yang membelah kota tersebut menjadi dua daerah, ulu (hulu) dan ilir (hilir). Sebenarnya, jika melihat lebih lagi, akan terlihat sebuat daratan kecil seperti pulau yang terpisah. Itulah Pulau Kemaro, sebuah delta di sungai Musi yang diapit oleh dua industri yaitu pabrik pupuk PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang dan Refinery Unit PT Pertamina.

Sebagai kota tertua di Indonesia, Palembang memang memiliki banyak area yang bersejarah dan bisa dibilang lebih menonjolkan wisata budaya sebagai andalannya. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika berada di Palembang adalah Pulau Kemaro.

Pulau Kemaro menjadi kerap kali menjadi lokasi yang digunakan untuk perayaan Cap Go Meh (hari kelimabelas Tahun Baru Imlek). Banyak warga yang datang ke Pulau Kemaro untuk melaksanakan ibadah. Saya pernah mendengar cerita, bahwa saat Cap Go Meh, bukan hanya warga keturunan Tionghoa saja yang datang untuk beribadah di Pulau Kemaro, tetapi juga dari kota lain di Indonesia bahkan ada yang dari luar negeri.

Nama “Kemaro” sendiri berasal dari kata “Kemarau”. Jadi, pulau ini memang tak pernah tenggelam walaupun Sungai Musi sedang pasang.

Ingin ke Pulau Kemaro, Bagaimana Caranya?

Sungai Musi yang membelah kota Palembang membuat ada banyak perkampungan di tepian sungai ini. Biasanya, di setiap wilayah tertentu terdapat dermaga untuk perahu kecil / ketek yang siap mengantar penumpang.

Salah satunya adalah Dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) yang berada di dekat Jembatan Ampera. Mengingat Jembatan Ampera menjadi salah satu spot wajib untuk latar foto saat berada di Palembang, tak jarang orang ingin menyusuri Palembang menggunakan ketek. Untuk mencapai Pulau Kemaro bisa dari Dermaga BKB.

Namun, banyak pula dermaga lainnya, saya memilih dermaga yang tak terlalu jauh dari rumah yaitu di sekitar Intirub (dekat Pabrik Pusri). Dermaga ini bisa dibilang yang paling dekat dengan Pulau Kemaro. Faktor tak adanya pelampung di perahu ketek sementara saya membawa anak membuat saya memilih dermaga ini dibanding yang lainnya. Saya sempat bingung karena sekarang daerah Intirub ini dipenuhi dengan peti kemas. Untungnya ada petunjuk untuk menuju penyebrangan ke Pulau Kemaro. Cerita dari petugas, akan dibangun dermaga yang lebih baik di daerah ini.

Sebenarnya, jika kita ingin datang ke Pulau Kemaro namun tidak menggunakan perahu ketek, bisa datang saat perayaan Cap Go Meh dan menyebrang dari daerah Intirub. Biasanya disediakan perahu tongkang yang dijejer menjadi jembatan penyebrangan.

Rasanya, belum ada tarif resmi berapa harga untuk ke Pulau Kemaro dari dermaga manapun. Akan terjadi tawar menawar dengan pemilik perahu ketek. Pengalaman saya baru-baru ini, pemilik perahu mengajukan Rp150.000,- dari dermaga Intirub ke Pulau Kemaro padahal bisa dikira-kira itu tak lebih dari 200 meter jaraknya. Kami pun menawar dan berakhir di Rp80.000,- untuk pulang pergi. Sempat tak ikhlas di awal, tapi pada akhirnya ya kami maklum. Mungkin penumpang di dermaga ini tak sebanyak dermaga lainnya.

Legenda Cinta dari Pulau Kemaro

Ketika memasuki komplek Pulau Kemaro, kita akan disambut dengan tulisan ‘Selamat Datang, Makmur Sejahtera’ sebuah doa yang indah bagi siapapun. Setelah berjalan sebentar, akan terlihat sebuah prasasti yang menceritakan tentang pulau ini.

Di zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Palembang. Rajanya memiliki seorang putri cantik, Siti Fatimah. Tak hanya cantik, putri ini mencerminkan seorang putri raja yang pandai bersopan santun, berperangai baik, serta memiliki tutur bahasanya yang lembut.

Suatu hari Siti Fatimah bertemu dan jatuh hati pada Tan Bun Ann, putra raja dari negeri China yang berusaha untuk berniaga di Palembang. Ketika ingin mempersunting Siti Fatimah, sang Raja memberikan persyaratan sebagai mahar yaitu sembilan guci berisi emas.

Sembilan guci dikirimkan dari negeri asal Tan Bun Ann beserta surat restu dari orang tuanya. Namun, Tan Bun Ann sangat kaget ketika mengetahui isi dari guci tersebut adalah sayur sawi busuk. Rupanya, orang tua Tan Bun Ann melapisi emas dalam guci dengan sayur sawi agar aman dari bajak laut. Sayangnya Tan Bun Ann tak mengetahuinya.

Tan Bun Ann kecewa, lalu ia membuang guci-guci tersebut ke Sungai Musi. Tak sengaja, guci terakhir pecah sebelum dibuang dan Tan Bun Ann melihat isi emas yang berhamburan. Tan Bun Ann dan pengawalnya pun berusaha mengambil kembali guci yang dibuang dengan menceburkan diri ke Sungai Musi. Namun, Tan Bun Ann tak jua kembali. Siti Fatimah yang melihatnya juga ikut menceburkan diri ke Sungai Musi. Ia pun tak kembali. Konon, setelah kejadian tersebut, muncul gundukan tanah yaitu Pulau Kemaro ini.

Ada apa di Pulau Kemaro?

Pulau Kemaro memiliki sebuah kuil di dekat dermaga. Kuil ini akan ramai saat Cap Go Meh karena digunakan sebagai tempat ibadah. Saat saya berkunjung di hari Minggu kemarin, terdapat beberapa orang yang juga beribadah di kuil ini. Namun, saat saya pulang, sudah tak tampak orang yang beribadah dan kuil juga tertutup.

Di sisi jalan kecil yang dibangun di pulau ini, terdapat beberapa warung tenda yang menjajakan makanan. Di sekitar pulau memang ada rumah-rumah penduduk. Ketika ada perayaan, yang berjualan pun tak terbatas makanan, tetapi juga baju atau pernak pernik lainnya. Ya, memang layaknya tempat wisata lain, tak jarang orang yang sedang kasmaran mengunjungi Pulau Kemaro. Apalagi pulau ini memiliki legenda cinta, mungkin banyak yang berharap cintanya abadi seperti Tan Bun Ann dan Siti Fatimah.

Selain sebuah kuil, di tengah pulau ini terdapat satu pagoda yang tinggi menjulang. Pagoda berlantai 9 ini juga dalam kondisi tertutup. Pagoda memang sengaja ditutup, namun jika ada perayaan seperti Cap Go Meh atau Festival tertentu seperti Musi Thematic Festival Kemaro Island saat Asian Games lalu, pagar pagoda ini dibuka. Wajar rasanya jika tempat suci seperti kuil dan pagoda ini dibuka terbatas, tentunya pihak pengelola tetap ingin menjaga kesucian tempat ibadah sekaligus ziarah makam (berdasarkan legenda cinta) ini.

Menghargai Perbedaan di Pulau Kemaro

Tak hanya sekali ini saya berkunjung ke Pulau Kemaro. Saya juga pernah berkunjung saat perayaan Cap Go Meh untuk melihat seperti apa Pulau Kemaro saat Cap Go Meh. Rupanya, pengunjung tak terbatas pada yang ingin beribadah saja, namun banyak masyarakat lokal Palembang yang juga ikut dalam perayaan ini. Sebuah pemandangan yang bagi saya menyenangkan, karena artinya perbedaan bukan menjadi masalah untuk menimbulkan konflik. Semua orang bersuka cita.

Mendatangi Pulau Kemaro dan melihat orang beribadah memberikan saya kesempatan bercerita kepada anak bahwa orang lain memiliki cara beribadah yang berbeda. Nama tempat dan bentuk bangunannya pun berbeda. Ketika kita melihat orang beribadah, tak seharusnya kita menganggu karena mereka sedang mengucap doa dan harapan. Sama seperti kita yang juga ingin fokus saat beribadah. Namun tak apa jika kita melihat dari jauh.

Usia anak saya memang baru lepas dari 2 tahun. Tapi saya ingin dia bisa berteman dengan siapapun dan menghargai perbedaan. Di Indonesia memang banyak perbedaan dan belakangan saya merasa unsur perbedaan lebih banyak ditonjolkan dibanding persatuan dan kesatuan seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Harapan saya, kelak dia bisa memahami ada perbedaan dan tetap bisa menghargai orang yang berbeda dengannya.

Disambut dengan ucapan Selamat Datang, Makmur Sejahtera. Selamat Jalan Terima Kasih Semoga Panjang Umur menjadi kalimat penutup saat meninggalkan pulau ini.

 

Jika berkunjung ke Palembang, jangan lupa main ke Pulau Kemaro ya. Apalagi kalau berkunjung saat perayaan Cap Go Meh, akan lebih seru. Namun, tetap hargai jika ada yang sedang beribadah ya

Berobat ke Penang: Kenapa dan Bagaimana?

Menemani anak bermain setelah pulang kerja menjadi rutinitas wajib bagi saya. Belakangan ini, anak mulai pandai bermain sepeda. Sore hari pun saya isi dengan kegiatan bermain sepeda mengitari komplek tempat saya tinggal. Kegiatan ini ternyata memberi saya kesempatan untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan tetangga juga.

Kemarin saya bertemu dengan Poppy, seorang tetangga di dekat rumah yang lama tak kelihatan selama seminggu ini. Terkadang kami mengobrol bersama sembari mengawasi anak-anak yang asyik bermain. Poppy bercerita baru saja kembali dari Penang untuk menemani ibunya berobat.

Saya tak bertanya detail tentang apa penyakit ibunya. Poppy bercerita bahwa kondisi ibunya sekarang semakin membaik dan ibunya sangat puas setelah melakukan pengobatan di Penang.

Kenapa jauh-jauh berobat ke Penang?

Bukan rahasia umum lagi kalau Penang menjadi salah satu tujuan berobat orang-orang Indonesia. Lokasinya yang masih berada di Malaysia, bisa dianggap tidak terlalu jauh dari Indonesia.

Medical tourism di Penang bisa dibilang memang menjadi daya jual daerah tersebut. Berbagai fasilitas disediakan dengan tenaga professional tentunya. Hal ini yang membuat banyak masyarakat yang semakin percaya terhadap kualitas pelayan rumah sakit di Penang yang sangat memuaskan.

Dari cerita Poppy, saya dapat memahami kenapa banyak orang yang memilih untuk berobat ke Penang. Proses untuk mendiagsona penyakit bisa berlangsung lebih cepat dan tepat. Tenaga profesionalnya juga ramah dan kendala bahasa pun tidak ditemui karena dokter-dokternya juga mampu menjelaskan dengan Bahasa Indonesia yang mirip dengan Bahasa Melayu. Apalagi, biaya yang ditawarkan juga relatif murah.

Penang yang terdaftar sebagai Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO pada tahun 2008 juga dapat menjadi tempat untuk berlibur. Penang memiliki daya tarik wisata alam mulai seperti adanya pantai berpasir Tanjung Bungah dan puncak Bukit Penang. Kita juga bisa melakukan wisata budaya dan sejarah ke kuil-kuil dan bangunan bersejarah yang ada seperti Kek Lok Si Temple, Cheong Fatt Tze Mansion, Made in Penang Interactive Museum, Penang War Museum, atau Wat Chaiya Mangkalaram.

Merencanakan Berobat di Penang

Awalnya saya berpikir bahwa berobat di luar negeri itu sulit. Namun, Poppy bercerita bahwa proses untuk berobat di Penang itu mudah.

Ya, mendukung banyaknya orang yang ingin berobat ke Penang, kini telah banyak penyedia layanan medis untuk berobat di Penang. Namun, tentunya kita harus tetap selektif mencari yang resmi dan terpercaya. Poppy merekomendasikan situs Wisata Medis karena merupakan layanan kordinator medis (perwakilan) resmi, terbaik, dan terpercaya untuk siapapun yang ingin berobat ke Penang.

Web Wisata Medis Penang

Dari situs ini, kita dapat melihat dokter spesialis serta rumah sakit yang berada di Penang. Di bagian forum, terdapat beberapa testimoni orang-orang yang sudah pernah berobat ke Penang yang dibedakan sesuai dengan kategori forum yang telah dipilih. Ada banyak dokter yang berada di Penang mulai dari dokter umum hingga dokter spesialis seperti bedah, anak, kandungan & kebidanan (O&G), dll.  Kita dapat melihat daftar dokter di menu DOKTER atau merujuk dari menu SPESIALISASI dan memilih spesialisasi mana yang dituju.

Forum My Medical – Wisata Medis Penang

 

Anda bisa masuk / login di sini untuk lihat forumnya. Lalu membuat akun terlebih dahulu. Setelah itu, pilih topik yang ingin anda ketahui lebih lanjut informasinya. Beberapa topik yang sering ditanyakan antara lain akomodasi & transportasi di Penang, Pra & Pasca konsultasi, Spesialisasi, Rumah Sakit, Dokter, Perwakilan Medis, dll.

 

Sementara itu, untuk melihat daftar rumah sakit dan perkiraan biaya yang akan kita keluarkan, kita bisa mengakses menu RUMAH SAKIT. Pada menu ini terdapat informasi rumah sakit yang berada di Penang, fasilitas & layanan yang diberikan setiap rumah sakit, biaya & paket yang ditawarkan, serta lokasi rumah sakit tersebut berada. Misalkan kita tertarik dengan rumah sakit tertentu, kita juga dapat melihat rating rumah sakit tersebut berdasarkan pengalaman orang lain yang pernah datang sebelumnya.

Mount Miriam Hospital

Sebelum merencanakan berobat ke Penang, kita juga bisa dapat mengontak terlebih dahulu dengan memilih menu Buat Temu Janji. Setelah itu, kita mengisi form sesuai kebutuhan dan biasanya pada bagian pesan / catatan akan lebih baik kalau kita menjelaskan maksud kedatangan kita ke Penang serta hal-hal yang ingin kita tanyakan.

Jika merencanakan berobat, kita juga bisa menyampaikan hasil-hasil pemeriksaan yang dilakukan di Indonesia sebagai lampiran. Adanya situs seperti Wisata Medis memang memudahkan Poppy dan keluarganya sebelum berangkat ke Penang. Poppy bercerita bahwa ia juga menanyakan rincian perkiraan biaya dan mendapatkan balasan yang disampaikan oleh tim tersebut atas pertanyaan yang diajukan.

Dari hasil konsultasi online¸ Poppy bercerita ia menjadi lebih mudah dalam menyiapkan keberangkatan ke Penang karena telah mendapatkan rekomendasi dokter dan rumah sakit serta mengetahui jumlah biaya yang akan dikeluarkan.

Cara ke Penang dari Indonesia

Sebagai kota yang menjadi daya tarik wisata medis orang Indonesia, telah ada beberapa maskapai yang menyediakan penerbangan langsung ke Penang dari Indonesia, seperti Citilink (dari Jakarta), Air Asia (dari Jakarta, Medan, Surabaya), Sriwijaya Air (dari Medan), serta Malindo Air (dari Banda Aceh). Selain itu, kita juga dapat menuju Penang dengan melakukan penerbangan terlebih dahulu ke Kuala Lumpur setelah itu melanjutkan penerbangan ke Bandara Penang atau dengan melakukan perjalanan darat yang dilanjut dengan kapal ferry.

Wisata Medis Penang

Jika anda membutuhkan informasi lebih lanjut terkait Wisata Medis Penang, anda dapat menghubungi langsung:

Menjadi Suporter : Menyemarakkan Asian Games 2018

Event Asian Games ke-18 baru saja digelar di Jakarta dan Palembang. Selama 15 hari, event olahraga terbesar se-Asia tersebut menyedot perhatian tak hanya warga Jakarta dan Palembang saja, namun juga warga Indonesia bahkan Asia.

Sebagai warga Palembang, tentu saya tak ingin melewatkan menjadi bagian dari momen bersejarah bangsa ini. Ya, kapan lagi Indonesia bisa menjadi tuan rumah event akbar seperti ini. Perlu 50 tahun lebih untuk Indonesia menjadi penyelenggara Asian Games setelah sebelumnya pernah juga menjadi tuan rumah pada tahun 1962. Kemampuan jelas sudah dicoret sebagai atlet, belum lagi untuk menjadi volunteer perlu waktu yang banyak dan ijin dari kantor rasanya tak mungkin. Saya mencoba menjadi bagian dari Asian Games dengan predikat sebagai penonton sekaligus suporter.

Dari 15 hari penyelenggaraan, saya hanya bisa datang langsung sebanyak 4 kali ke Jakabaring Sport City (JSC). Mengingat sedang banyaknya tugas, kesempatan untuk nonton bareng bersama rombongan kantor pun harus terlewat. Mau tidak mau, saya hanya bisa berpartisipasi di hari libur atau Sabtu dan Minggu saja.

Saya menonton Asian Games bersama dengan suami dan anak. Beberapa teman sempat terheran-heran melihat saya ‘nekat’ membawa anak 2 tahun untuk bergabung dalam keramaian Asian Games 2018. Buat saya, kenapa tidak? Momen seperti ini tak terjadi setiap tahun. Bukan tidak mungkin, pengalaman seperti ini akan melekat pada ingatan sang anak sampai besar nanti. Terlebih banyak hal yang bisa dipelajari sepanjang event ini berlangsung.

Menjalin pertemanan baru

Kota Palembang mendadak menjadi primadona selama Asian Games 2018. Berbondong-bondong tamu datang ke kota Palembang, tak hanya atlet dan official tim, tetapi juga penonton dari luar kota bahkan luar negeri. Kesempatan ini banyak dimanfaatkan oleh guru sekolah untuk memberikan tugas wawancara bagi muridnya. Kerap kali saya melihat anak-anak remaja mendekati atlet asing lalu merekam video wawancara mereka.

Sebagai orang tua, saya dan suami pun akhirnya mencontoh hal ini. Beberapa kali kami menyapa atlet-atlet dan meminta berfoto. Belum lagi saat menonton, kami bertemu dengan penonton Indonesia yang berasal dari luar kota Palembang. Asian Games seperti ini menjadi momen untuk kita menjalin pertemanan dengan orang baru. Walaupun begitu, tetap saja untuk hal tertentu memang perlu diajarkan mawas diri pada orang yang tak dikenal.

Ada momen di saat saya menonton pertandingan sepak takraw namun tim Indonesia tidak bertanding karena sudah kalah pada pertandingan sebelumnya dan mendapatkan perunggu. Saat menonton, kami pun duduk bergabung menjadi suporter Thailand yang timnya masuk ke final.

Tak disangka, menjadi suporter untuk Tim Thailand memberi kesempatan melihat kebaikan dari warga negaranya. Suporter Thailand membagikan hiasan kepala yang sewarna dengan bendera negaranya, bahkan memberikan minuman bagi suporter yang sama-sama mendukung Thailand.

Lawan di Lapangan, Kawan di Luar Lapangan

Pertandingan yang kami tonton secara langsung adalah sepak takraw dan sepak bola. Namun, bisa dibilang pertandingan sepak takraw lebih memberikan kesan. Jarak antara lapangan dan bangku penonton yang cukup dekat menjadi faktor lebih banyak hal yang menarik yang bisa terlihat.

Salah satu momen yang menarik bagi saya adalah ketika pertandingan Final Quadrant Sepak Takraw Putri antara Thailand dan Vietnam. Di saat teman-teman timnya bertanding, saya melihat beberapa pemain cadangan Vietnam mendatangi pemain cadangan Thailand lalu mengajak mengobrol dan menonton bersisian dari kursi yang sama. Belum lagi setelah selesai bertanding dan berkumpul untuk pengalungan medali, para peraih medali yaitu  tim putri Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Laos juga saling berkumpul dan mengobrol.

Ya, para atlet bisa saja menjadi lawan di lapangan, selama pertandingan. Namun di luar itu, pertandingan juga menjadi momen para atlet bertemu kawan baru.

Pentingnya sebuah kerja sama dalam tim

Dalam permainan beregu, seperti sepak takraw, kerja sama dalam tim adalah sebuah keharusan demi tercapainya cita-cita. Hal yang paling menarik dari sebuah tim sepak takraw adalah kebiasaan para pemain saat pergantian poin, setiap tim biasanya akan membentuk formasi lingkaran dan setiap anggota akan saling bergandengan tangan lalu menggoyangkannya dan berteriak penuh semangat. Ada cara yang berbeda antara tim dari olahraga satu dengan lainnya, untuk pertandingan ganda atau beregu lainnya, biasanya hanya melakukan gerakan tos (high-five) atau berpelukan antar anggota. Semuanya sama, memberikan energi antar anggota tim untuk tetap semangat dan berjuang meraih cita-cita atau kemenangan.

Kerja sama dalam tim juga diperlukan dalam sebuah keluarga. Ada momen ketika anak mulai bosan dan rewel saat menonton pertandingan. Maka, orang tua harus bekerja sama. Saya melihat adanya ibu yang rela pahanya menjadi bantal untuk sang anak dan sang ayah bantu mengipasi agar anak tetap nyaman. Sementara itu, di keluarga saya sendiri, ketika anak mulai mengantuk, giliran suami menggendong anak dan saya yang mengipasinya. Anak pun tidur, ayah dan ibu bisa menonton pertandingan. Sebuah kerja sama sederhana.

 

Tetap berjuang apapun yang terjadi

Dalam melakukan apapun tentu saja ada risiko yang muncul. Tak terkecuali saat berolahraga. Tak jarang bola takraw (yang bisa terbuat dari rotan), mengenai wajah seorang pemain. Pemain juga bisa mengalami cedera karena posisi menendang dan mendarat yang tidak tepat. Hampir di setiap pertandingan yang saya tonton, cedera seperti ini terjadi. Tim medis segera memasuki area pertandingan untuk memeriksa kondisi atlet. Jika memang cedera dirasa serius, atlet akan dibawa ke luar lapangan oleh tim medis dan pertandingan dilanjutkan dengan adanya pergantian pemain.

Beberapa atlet yang merasa kesakitan biasanya akan menepi terlebih dahulu. Tak jarang saya melihat atlet yang setelah dilakukan pengecekan tetap kembali ke arena pertandingan. Sorak ramai penonton turut mendukung atlet tersebut. Ya, semangat juang tinggi para atlet harus diacungi jempol. Walaupun sakit, mereka tetap berjuang demi negaranya.

Bersatu dan berpadu memberi dukungan

Tak hanya atlet saja yang akan saling bertarung, sebagai suporter, kami pun akan bertarung untuk menyemangati para atlet yang akan bertanding. Sama seperti atlet yang hanya bertarung di arena pertandingan, namun di luar bisa menjalin persahabatan. Kami para suporter pun mampu melakukan hal yang sama. Senyuman ramah khas Asia tercipta saat kami berfoto bersama, mengabadikan keakraban antar suporter.

Ketika tim Indonesia bertanding di Final Quadrant Sepak Takraw Putra melawan Jepang, sorakan suporter Indonesia tentu tak pernah padam. Keinginan untuk menjadi pemenang tak hanya dari atlet tapi juga dari suporter. Setelah suporter Indonesia berteriak, suporter Jepang pun bergantian memberikan dukungan bagi atletnya. Ya, menjadi tuan rumah yang mendominasi kursi penonton tak lantas membuat penonton Indonesia arogan. Kami saling memahami, keinginan sesama suporter untuk memberikan energi bagi atletnya. Tak perlu saling beradu atau mencemooh dengan teriakan ‘huuuuu’.

Ketika ada seorang pemain yang baru diperiksa tim medis dan kembali ke pertandingan, para suporter kembali bersatu dan berpadu memberikan dukungan. Penghormatan bagi atlet yang siap kembali berjuang. Begitu pula saat penyerahan medali. Tepuk tangan bergemuruh siapapun yang dikalungi medali. Dukungan penuh dari suporter atas usaha para atlet.

Menikmati fasilitias dengan bertanggung jawab

Ada banyak sarana dan prasarana yang dibangun demi kelancaran Asian Games 2018 di Palembang. Hal yang paling mencolok tentu venue-venue yang berada di Jakabaring Sport City (JSC) dan sistem transportasi Light Rail Transit (LRT) yang baru beroperasi di Palembang.

Saya sempat menggunakan LRT saat menuju Jakabaring karena adanya penutupan akses lalu lintas di area JSC untuk digunakan dalam pertandingan Triathlon. Kesempatan seperti ini menjadi pelajaran bagi anak mengenai transportasi umum. Hal yang bisa dipelajari tak hanya urusan mengantri, mendahulukan orang yang keluar, berempati pada orang lain, tetapi juga mematuhi aturan yang berlaku. Selama di LRT, anak tidak boleh berdiri di kursi, juga tidak boleh makan dan minum. Tentu hal ini harus dipatuhi sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga fasilitas publik.

Demikian juga saat berada di venue pertandingan atau area lainnya dari Komplek Jakabaring. Tentu tak enak jika melihat sampah berceceran. Seorang teman yang menonton, Ara mengajak mengumpulkan beberapa botol air mineral yang berserakan. Melihat kegiatan yang awalnya dilakukan oleh Ara dan saya, ternyata membuat suporter lain mengikuti untuk menjaga botol minumannya dan membuangnya di tempat sampah setelah selesai pertandingan.

Memberi dukungan, apapun bentuknya

Sebuah event sebesar ini tentu tak lepas dari dukungan banyak pihak. Sponsor, panitia, volunteer, suporter maupun pihak lain secara berkesinambungan menjadi bagian dari suksesnya Asian Games 2018.

Ya, bentuk dukungan dari setiap orang bisa berbeda-beda. Ketika ke Jakabaring menggunakan LRT, saya melihat seorang petugas keamanan yang membantu ibu hamil untuk mendapatkan tempat duduk. Begitu pula saat LRT akan berhenti di Stasiun Jakabaring, petugas dengan sigap membantu mengatur agar penumpang yang ingin keluar mendapat prioritas. Belum lagi petugas kebersihan di Stasiun LRT yang tak henti membuat stasiun selalu bersih. Ada banyak petugas di dalam LRT maupun di stasiun yang memberi dukungan agar perjalanan LRT menjadi nyaman, penumpang pun senang dan aman tiba di Jakabaring.

Tak terhitung lagi berapa banyak anak muda yang terlibat sebagai volunteer Asian Games 2018. Walau lelah, tak jarang para volunteer tetap menjawab pertanyaan para pengunjung Jakabaring yang terkadang tersesat lalu bertemu dengan mereka. Beragam hal yang dilakukan para volunteer juga mendukung nyamannya para atlet dan official untuk bertanding.

Sementara itu, para suporter bisa memberikan dukungan melalui tepuk tangan dan teriakan kepada para atlet. Ada pula suporter yang terlihat berdoa sepanjang pertandingan. Emas ke-31 yang diberikan oleh Tim Takraw Indonesia menjadi kado manis bagi suporter. Dukungan para suporter semakin bertambah ketika Indonesia Raya berkumandang, kami bernyanyi bersama dan larut dalam rasa haru.

Apapun itu, banyak dukungan dan energi positif yang mengalir sepanjang perhelatan Asian Games ini, terbukti bisa dibilang event ini berjalan dengan lancar.

Bergabung dengan kegembiraan bersama

Asian Games tidak hanya urusan pertandingan semata. Ada zona festival yang menghadirkan beragam atraksi kesenian dan budaya dari berbagai daerah bahkan negara lain. Tak hanya itu, stand-stand makanan lokal maupun dengan cita rasa internasional pun hadir di zona festival.

Pengunjung menikmati makanan dan minuman dengan riang. Tak jarang antar pengunjung juga saling berbagi makanan yang dibawa untuk dinikmati bersama.

Alunan musik hampir tidak berhenti di zona festival. Yang saya lihat dari zona festival adalah luapan kegembiraan para penonton. Anak kecil yang berkejaran, orang-orang yang saling mengabadikan momen, ada pula yang ikut berdendang dan bergoyang.

 


Asian Games menjadi pembuktian kemampuan Indonesia untuk menyelenggarakan event olahraga besar. Berita di dua hari terakhir adalah adanya keinginan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Teriring doa dan keyakinan agar hal itu bisa terwujud.

Banyak yang berkata, Asian Games bisa menjadi momen Indonesia menjadi lebih baik lagi. Ya, saya pun mengamini hal tersebut. Saling berbagi, berempati, bertenggang rasa, serta menghargai orang lain maupun lingkungan menjadi lebih tampak dan diasah dalam penyelenggaraan Asian Games ini. Belum lagi adanya rasa percaya diri semakin tinggi yang dimiliki oleh Indonesia.

Kita Indonesia adalah bangsa yang baik dan akan berusaha menjadi lebih baik lagi.

 

 

 

Mengajak Anak Naik Trans Musi & Becak di Palembang

“Kalau bisa memberikan kenyamanan kepada anak kenapa engga?”

Dalam mendidik anak, tak jarang ditemui perbedaan antara keinginan ayah dan ibunya. Seperti halnya saat saya ingin mengenalkan anak pada transportasi umum tapi praktek gitu, ga di rumah main puzzle atau tunjuk gambar doang. Hal ini sempat ditolak mentah-mentah sama suami. Alasannya antara lain, harus keluar komplek untuk naik angkutan umum atau bus, bus kota di Palembang kurang baik kondisinya dan serem (sering musik jedag jedug ga jelas dan kernetnya suka mukul sisi bus sebagai tanda ada penumpang yang mau turun), panas dan macet (khawatir anak rewel), udah pernah ngenalin transportasi umum (padahal cuma naik MRT sama bus di Singapura) dan ada juga transportasi online yang lebih nyaman (kenapa harus milih yang ribet).

Setelah sekian lama beradu pendapat, akhirnya saya dapat izin juga hari Minggu kemarin. Itu pun pakai syarat, jangan naik Light Rail Transit (LRT) dulu karena mungkin masih penuh (baru diresmikan dan orang Palembang masih antusias). Jadi dipilihlah Bus Rapid Transit (BRT) Trans Musi Palembang untuk dicoba bersama anak. Syarat lainnya adalah dianter ke halte yang pertama, jadi jelas bakal dapat bis. Okelah kalau begitu, lagian si doi lagi kerja keras bagai quda.

Trans Musi adalah sistem transportasi berjenis BRT yang mulai beroperasi pada Januari 2010. Trans Musi dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya.

Halte Trans Musi yang saya datangi ini boleh dibilang kondisinya masih mending, tempat duduk dan atap masih ada walau sekilas saja bisa dibilang tidak terawat. Ya, masih ada halte yang kondisinya lebih mengenaskan dari ini. Papan yang menunjukkan map Trans Musi bahkan penuh coretan sehingga tidak jelas lagi apa yang ditunjukkan.

Beberapa kali saya melihat bus Trans Musi di jalanan Palembang tampak baru atau mungkin direbranding mengingat akan adanya event Asian Games XVIII di Palembang pada Agustus ini. Katanya memang akan ada 100 Trans Musi baru mengaspal di Palembang dan bus kota yang sudah tampak tua dan tak apik lagi secara perlahan akan dihapuskan. Sayangnya, kemarin kami dapat Trans Musi lama, kondisi busa bantalan di kursinya sudah hilang. Walaupun begitu, bagian dalamnya cukup bersih dan tersedia tempat sampah. Ya memang, ada beberapa tisu yang masih terlihat di bawah tempat duduk.

Sebelum pergi, saya coba menggunakan aplikasi Moovit untuk melihat rute dan jadwal Trans Musi. Koridor terdekat untuk area rumah saya adalah Koridor 7 (Pusri – PS Mall). Saya naik dari halte pertama yaitu Bank Mandiri KC Pusri. Kira-kira saya menunggu 15 menit sebelum bus berangkat. Tepat pada pukul 14.30, bus melaju menuju PS Mall. Sesuai dengan jadwal yang saya lihat di aplikasi Moovit. Jadi, aplikasi Moovit ini menginfokan transportasi lokal di sekitar kita. Dari yang terlihat untuk Palembang ada rute BRT Trans Musi, LRT, dan Angkutan Kota.

AC di dalam Trans Musi bekerja dengan baik. Anginnya cukup terasa keluar dari lubang-lubang entah apa di sisi atas. Anak jadi lebih merasa nyaman karena tidak gerah kepanasan. Walau pada awalnya mukanya tampak grogi, tapi dia cukup tenang dan anteng duduk sendiri di kursi bahkan minta makan dan minum. Urusan makan dan minum, saya bingung sih, tidak ada aturan atau petunjuk yang melarang. Petugas pun tidak menegur. Kesimpulan pribadi : sepertinya boleh makan dan minum.

Harga karcis Trans Musi adalah Rp 5.000,- dan masih menggunakan karcis kertas berwarna hijau dengan 2 sobekan kecil yang bertuliskan transit. Jadi, jika kita melakukan transit untuk pindah rute tidak dikenakan biaya tambahan tapi sepertinya hanya bisa 2 kali saja. Tidak ada aturan yang jelas untuk tarif karcis anak kecil. Saya sempat ditanya oleh petugas, apakah anak tidak mau dipangku saja supaya saya bayar 1 karcis, tapi karena anak mau duduk sendiri ya saya merasa baiknya bayar 2.

Seingat saya, pernah Trans Musi ini memakai uang elektronik sebagai metode pembayarannya, namun entah kenapa kembali ke karcis lagi. Mengingat Bank Indonesia juga semakin menggalakan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) serta mendorong terbentuknya less cash society, mungkin tak lama lagi Trans Musi akan menggunakan uang elektronik sebagai metode pembayarannya. Apalagi, katanya moda transportasi ini akan terintegrasi dengan LRT yang juga sudah menggunakan uang elektronik atau e-Money.

Sepanjang perjalanan, saya bisa mengenalkan beberapa hal baru seperti adanya halte untuk naik turun penumpang serta karcis sebagai tanda kita naik transportasi umum harus membayar. Untuk tingkah laku anak di Trans Musi sebenarnya tak jauh beda saat naik kendaraan lain, dia terus berujar tentang mobil yang mirip punya tetangga, orang berlari di trotoar, kakak yang naik motor, dll. Syukurnya tidak ada rasa takut dan dia tetap mau duduk sendiri sampai kami sampai di halte tujuan.

Setelah naik Trans Musi, kami sempat mencoba naik bentor alias becak motor. Ini sebenarnya kali kedua Mahira mencoba bentor setelah sebelumnya mencoba di Yogyakarta. Ketika pertama mencoba dulu ia seperti tegang dan minta dipangku. Kali ini dia bersedia duduk berdampingan dengan saya walau mukanya tetap terlihat tak nyaman saat difoto. Untuk tarif becak di Palembang, masih berdasarkan negosiasi. Kemarin jarak 500 meter kena Rp 15.000,-.

Belajar naik kendaraan umum seperti bus yang coba saya lakukan awalnya ingin mengenalkan jenis alat transportasi yang pernah saya ajari melalui gambar dan puzzle di rumah. Namun ternyata hal lain yang dapat diambil dari pelajaran naik kendaraan umum adalah latihan bersabar menunggu bus berjalan sesuai waktunya, serta latihan mengenal kata baru dan profesi.

Besok-besok, pengen nyoba naik LRT deh jadinya 😀

 

 

NO MORE DRAMA Menghadapi Tantrum Anak

Beberapa orang menyebut fase anak 2 tahun adalah fase terrible two. Walau begitu, saya sempat diingatkan oleh teman, kalau bisa menyebutnya amazing karena gak selamanya terrible atau anak-anak terus menimbulkan masalah.

Mungkin istilah terrible two muncul karena umumnya anak usia 2 tahun mulai suka mendadak marah atau tantrum. Temper tantrum adalah letupan kemarahan atau kekesalan anak saat ia merasa kesulitan untuk menyampaikan keinginannya atau tidak dituruti. Tanda-tanda tantrum biasanya adalah anak terlihat frustasi, menangis, berteriak, melempar barang, menghentakkan kaki dan tangan, atau menjatuhkan diri di lantai. Normalnya, tantrum terjadi mulai anak menginjak usia 1 tahun – 4 tahun.

Beberapa teman yang punya anak seusia Mahira pernah cerita bahwa anaknya pernah tantrum di tempat umum seperti mall. Mengalami hal itu rasanya tentu tidak enak karena bisa jadi kita mendadak menjadi pusat perhatian semua orang. Saya pernah juga mengalami di museum. Ternyata anaknya mengantuk dan ingin digendong, bukan di stroller. Ya, jangankan kita, Drew Barrymore aja pernah ngalamin anak tantrum di Disneyland.

Walau katanya tantrum pada balita adalah bagian penting dari perkembangan kesehatan emosionalnya, namun sebagai orang tua tentu akan lebih baik kalau kita mampu menghadapi tantrum anak. Di bulan Februari lalu, saya sempat mengikuti seminar “Kunci Sukses Anak Bersedia Ikut Arahan Orangtua” dengan pembicara Devi Sani, M.Psi (Co.Founder Klinik Psikologi Berbasis Permainan – Rainbow Castle Jakarta). Walaupun tak membahas secara spesifik mengenai tantrum, seminar ini mengingatkan tentang positive parenting yang lebih baik diterapkan oleh orang tua.

Positive parenting adalah pola pengasuhan anak yang menekankan pada sikap positif, jadi orang tua bisa menerapkan pola pengasuhan dan kedisiplinan secara positif dan menyenangkan. Diharapkan, anak akan memiliki perilaku positif, mampu mengontrol emosi, serta punya rasa percaya diri yang baik. Positive parenting juga bisa diterapkan oleh orang tua saat menghadapi anak yang tantrum. Beberapa hal berikut coba saya lakukan ketika anak tantrum.

  1. Tetap tenang
    Mencoba tetap tenang memang sulit dilakukan, apalagi bagi orang yang mungkin emosi dominannya adalah marah seperti saya. Biasanya saya memilih diam dulu, menghela nafas panjang sambil istigfar agar tidak terpancing bersikap emosional. Setelah itu, saya biasa coba memeluk anak agar ia tenang dan saya pun bisa lebih tenang menghadapinya.
  2. Tunjukkan perhatian dan kasih sayang
    Ketika anak mulai tantrum, coba hentikan dulu aktivitas yang dilakukan dan fokus kepada anak. Bisa jadi, saat itu kita sedang asyik mengerjakan sesuatu dan anak merasa diabaikan. Fokus kepada anak juga menunjukkan adanya perhatian yang kita berikan
  3. Mencoba mengetahui penyebab tantrum
    Sebagai orang tua, kita harus mencoba mengetahui penyebab tantrum. Setelah itu, ajak anak berkomunikasi. Jika ia menangis dan marah, coba katakan kalau kita tidak mengerti apa yang diinginkan bila ia menangis atau marah jadi dia bisa lebih tenang saat mengungkapkan apa yang dimau.
  4. Mengalihkan perhatian
    Pernah ada yang bilang, kalau anak menangis, ajak ia ke luar rumah lalu melihat ke atas, tunjukkan luasnya langit, awan putih, sinar matahari, dll. Hal yang sama bisa dilakukan saat anak tantrum dengan coba mengalihkan perhatian mereka pada hal lain yang mungkin disukai. 

Pola pengasuhan positive parenting tentu tak hanya diterapkan saat anak tantrum saja. Memang, terkadang terasa susah. Hal lain dari positive parenting yang dapat dilakukan adalah membangun kedekatan emosi dengan anak melalui bermain, bercerita, mengobrol, dll. Selanjutnya, kita pun bisa memberikan contoh hal baik yang bisa dilakukan. Banyak yang berpesan bahwa anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Memberikan contoh akan lebih baik dibandingkan hanya mengucapkan. Tak lupa, ajarkan anak 3 kata ajaib yaitu maaf, tolong, dan terima kasih.

***

Menginjak usia 2 tahun, Mahira semakin aktif saja. Tak hanya urusan berjalan dan berlari yang kian kencang, tangannya pun mulai kuat untuk membuka lemari, kulkas, sampai keran air. Air memang bisa menjadi magnet yang menyenangkan untuk anak. Tapi, terlalu lama bermain air pastinya membuat khawatir orang tua karena bisa saja anak kedinginan lalu demam dan terkena flu. Walaupun pasti setelah anak bermain air, saya berupaya membuatnya tidak kedinginan.

Saya kadang membatasi waktu anak bermain air. Suatu waktu, karena mungkin Mahira saat itu sedang asyik-asyiknya bermain dan saya coba menghentikannya, ia mulai menangis dengan kencang. Walau katanya menangis bisa melepaskan stress karena air mata mengandung kortisol), tetap saja tangisan anak membuat hati tak tenang dan khawatir tetangga terganggu. Saya pun coba menenangkannya dan mengajaknya bermain permainan lain di dalam rumah. Selanjutnya, jika ingin melakukan aktivitas yang berhubungan dengan air, kami mencoba membuat perjanjian dengan Mahira, misal menyiram tanaman hanya 5 menit saja dan kalau sudah waktunya berhenti ya harus selesai dan berhenti.

Kekhawatiran akan anak terkena flu setelah bermain air kerap muncul pada diri saya. Mungkin saya golongan ibu-ibu yang percaya dengan khasiat minyak-minyakan. Saya kerap mengoleskan essential oil untuk anak ketika ia mulai bersin-bersin. Essential oil yang saya gunakan adalah MERE – RED NOSE.

MERE – RED NOSE memiliki manfaat antara lain membantu meringankan flu dan pilek maupun gejalanya, mengatasi masalah yang berhubungan dengan pernafasan, mulai dari hidung tersumbat, alergi debu atau udara dingin/panas, flu, batuk, meringankan sesak nafas, serta meringankan sinus. Saya biasa mengoleskan di bagian dada, tulang belakang, tengkuk, dan bagian belakang telinga. Mere – RED NOSE berasal dari campuran Grapeseed Oil, Soya Bean Oil, Vit E, Eucalyptus Essential Oil, Peppermint Essential Oil, dan Pine Essential Oil. Setelah saya mengoleskan MERE – RED NOSE, bersin-bersin pada anak berkurang dan ia pun tidak sampai demam atau flu.

 

Produk MERE dibuat dari 90% minyak essential lokal hasil penyulingan petani-petani Indonesia dan 10% minyak essensial impor. Produk yang berasal dari Bandung ini memang diformulasikan untuk mudah diaplikasikan langsung pada tubuh, aman untuk bayi, anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan anggota keluarga lainnya. Sebagai ibu, saya secara tak langsung memiliki peran untuk menjaga kesehatan setiap anggota keluarga, tentunya agar aktifitas keluarga tidak terganggu.

 

Selain, RED NOSE, saya sempat mencoba produk MERE lainnya yaitu NO MORE DRAMA. Produk ini berasal dari beberapa essential oil seperti grapeseed oil, soya bean oil, cedarwood oil, dan chamomile essential oil yang dapat memberikan efek relaksasi pada tubuh dan jiwa. Produk ini bisa mengatasi permasalahan psikologis, menenangkan dan memberikan sensasi nyaman, mengatasi insomnia pada anak, dan mengatasi tantrum pada anak sehingga anak tidak rewel ataupun merengek lagi. Biasanya, saya memberikan NO MORE DRAMA sebelum anak tidur pada tulang belakang, tengkuk, telapak kaki, dan belakang telinga. Walaupun, tidak langsung setelah saya mengoleskan NO MORE DRAMA anak segera ingin tidur, tapi tidur anak biasanya menjadi lebih pulas dan tidak terbangun tengah malam.

Yang paling saya senangi dari produk MERE adalah wangi essensial oil ini rasanya menenangkan, tak hanya untuk anak, untuk saya yang mengoleskannya pun rasanya menjadi lebih tenang. Selain itu, untuk RED NOSE, walaupun mengandung peppermint, ketika dihirup tidak terlalu tajam sehingga tidak menjadi menganggu. Produk essential oil MERE dikemas dalam botol-botol ukuran 30ml sehingga mudah untuk dibawa kemana-mana.

Selain MERE RED NOSE dan NO MORE DRAMA yang pernah saya pakai, MERE juga mengeluarkan varian lainnya yaitu TENDER TUMMY (untuk meredakan kembung, masuk angin, sebelit, diare dan masalah pencernaan lainnya), GET WELL BABY (Membantu meredakan dan menyamankan demam), ME TIME MAGIC (membantu untuk relaksasi, meringankan nyeri otot dan sendi), dan HEALTH BOOSTER (Membantu meningkatkan daya tahan tubuh).

 

Produk MERE yang didominasi dari bahan lokal dijual dengan harga yang cukup terjangkau, sekitar Rp 56.000 – Rp 75.000,- dan terkadang ada toko online yang memberikan diskon. MERE bisa menjadi pilihan ibu-ibu untuk melindungi seluruh keluarga. Oh iya, 2 produk MERE yang saya coba ditujukan untuk anak usia 6 bulan ke atas.

 

Untuk informasi tentang produk MERE, bisa didapatkan melalui Facebook Mere.idn dan Instagram Mere.idn. Sementara jika ingin membeli produknya MERE memiliki toko official di Shopee Mere.idn.