Bermain Balance Bike: Aktivitas Seru Untuk Melatih Motorik Anak

“Ibu….ayo main sepeda”

Sekitar 1,5 bulan terakhir, sambutan itu sudah menjadi reflek sehari-hari dari Mahira ketika mendengar pintu pagar saya buka selepas saya pulang kerja. Mahira memang belakangan suka sekali bermain balance bike. Beruntung, bekerja di kantor yang jaraknya tak sampai 2 km dengan jam pulang kerja pukul 16.30, membuat saya jadi memiliki waktu khusus untuk bermain bersama anak di sore hari.

Tentunya setiap orang tua memiliki cara masing-masing memanfaatkan waktu bermain bersama anak. Pada suatu seminar parenting “Kunci Sukses Anak Bersedia Ikut Arahan” yang pernah saya ikuti, psikolog Devi Sani Rezki M.Psi, memberikan salah satu trik dan tips untuk orang tua yaitu secara konsisten memiliki waktu bermain dengan anak. Tak perlu terlalu lama hingga berjam-jam, namun harus berkualitas.

Menyambut kepulangan ibunya dengan siap bersepeda

Sore hari menjadi waktu yang saya pilih untuk waktu berkualitas berdua dengan Mahira. Sore hari juga menjadi waktu yang menurut saya cocok untuk membawa Mahira keluar dari rumah karena sudah tak terlalu terik. Sore hari menjadi waktu spesial untuk Mahira mengenal lingkungan luar rumahnya.

Ketika dia mulai bisa berjalan lancar di usia 14 bulan, saya mengajaknya untuk berjalan di sore hari. Seiring dengan perkembangan usia menuju 3 tahun, saya pun mengajak Mahira melakukan aktivitas lain yaitu bermain balance bike.

Balance Bike, Sepeda Apa sih Itu?

Balance bike dikenal juga dengan istilah kick bike atau push bike. Secara bentuk, sepeda ini bisa dibilang cukup unik karena tidak memiliki pedal untuk dikayuh. Anak berusaha untuk menjalankan sepeda dengan kaki.

Tidak adanya pedal di sepeda ini memang kerap membuat orang memandangnya aneh, menertawai, lalu bertanya-tanya. Pertanyaan yang kerap saya dapat ketika menemani Mahira bermain balance bike antara lain “Kok sepedanya gak ada pedalnya sih?” atau “Gak kasian kah anaknya naik sepeda kayak gitu? Nanti kakinya capek loh”.

Siap mendorong sepedanya

Belakangan balance bike memang dipilih orang tua untuk mengajarkan mengendarai sepeda roda dua sekaligus melatih keseimbangan pada anak dengan benar. Beberapa testimoni banyak yang mengatakan bahwa anak cenderung akan lebih mudah untuk naik sepeda roda dua setelah belajar menggunakan balance bike, dibandingkan belajar dengan menggunakan sepeda roda tiga atau sepeda dengan roda tambahan. Testimoni inilah yang membuat saya lebih memilih langsung membeli balance bike, bukan sepeda roda tiga terlebih dahulu.

Balance bike bisa mulai dimainkan anak sejak usia 2 tahun atau ketika anak sudah bisa berjalan dengan lebih stabil / ajeg. Mahira sendiri mulai saya kenalkan balance bike sejak usia 18 bulan. Awalnya dia mulai memegang-megang saja dan berdiri di sampingnya. Lama kelamaan, saat usianya sudah 2 tahun, ia mulai mencoba menaiki, minta dipegangi saat berjalan, mendorong sambil berdiri, dan sekarang mulai mendorong sepeda sambil duduk.

Menilik Manfaat Lebih dari Bermain Balance Bike

Seperti namanya, manfaat utama bermain balance bike adalah untuk membentuk keseimbangan anak. Selain itu, tentu banyak manfaat lainnya dari bermain balance bike yang membuat sayapun asyik bermain sepeda di sore hari bersama Mahira.

Manfaat bermain balance bike antara lain:

  • Meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri anak

Anak memang senang bereksplorasi dan mencoba aneka hal baru. Mengenalkan balance bike bisa menjadi cara untuk anak bereksplorasi. Setelah melihat, anak bisa tertarik untuk naik, mencoba, dan berusaha mengendarainya.  Selanjutnya, setelah ia semakin berani mengeksplorasi lingkungan dan semakin senang dengan kegiatan bersepeda, rasa percaya diri pada anak perlahan bisa ikut terbentuk.

  • Membuat anak terbiasa untuk berolahraga

Olahraga penting untuk dikenalkan kepada anak sejak dini. Tak hanya membantu perkembangan fisik/motorik saja, tetapi olahraga juga membantu perkembangan mental anak. Melalui balance bike, anak menjadi tahu bahwa aktivitas olahraga juga menyenangkan. Dengan membuat jadwal rutin bermain balance bike, anak bisa menyadari bahwa ia memiliki kebutuhan untuk beraktivitas di luar rumah. Sembari anak berolahraga dengan balance bike, orang tua juga bisa memanfaatkannya sebagai olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh.

 

Momen berolahraga bersama anak
  • Menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk anak

Bermain adalah kebutuhan anak, bermain juga merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bermain balance bike bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk anak. Apalagi jika bermain di area yang berbeda. Anak pun bisa menemukan tantangan sekaligus kesenangan baru. Lintasan yang berbeda seperti yang becek, berpasir, penuh tanjakan atau turunan untuk meluncur, bisa saja memberikan sensasi gembira pada anak. Belum lagi jika bermain balance bike bersama teman-teman, anak juga bisa menjadi lebih bahagia karena menemukan orang yang memiliki kesamaan.

  • Melatih anak untuk fokus dan merangsang kemampuan pendengaran anak

Membawa anak bermain balance bike di luar rumah seperti di lingkungan komplek, bisa membuat anak lebih fokus dan waspada. Anak akan terlatih untuk mendengar suara motor atau mobil. Anak pun bisa memilah suara yang perlu didengar atau tidak selama bermain.
Mengendarai balance bike di jalanan komplek bisa menjadi salah satu pelajaran untuk mengajarkan tertib dalam lalu lintas dan menjaga keamanan diri di jalanan seperti tetap fokus berada di lajur paling kiri. Selain itu, kita juga bisa mengenalkan anak untuk menghapal dan memilih jalur yang ingin dilalui.

 

  • Melatih motorik anak, baik motorik halus maupun motorik kasar

Keseimbangan, bisa menjadi salah satu kemampuan tubuh yang terkait dengan gerak motorik. Perkembangan motorik sangat penting karena terkait dengan pengendalian gerak tubuh yang terkordinasi antara syaraf, otot, otak dan spinal cord. Bermain balance bike tak semata melatih keseimbangan saja tetapi juga menjadi salah satu cara melatih motorik halus dan motorik kasar pada anak.

Balance Bike membuatnya berlatih memegang stang dan menggerakkan kaki seperti mengayuh

Motorik kasar berhubungan dengan gerakan otot besar anak bisa dilatih dengan kemampuan anak mengayuh kaki saat bersepeda, duduk, serta melompat sebelum naik sepeda. Sementara itu, motorik halus berhubungan dengan gerakan otot kecil yang dilatih melalui jemari tangan yang menggenggam stang sepeda.

  • Memudahkan untuk bertransisi saat menggunakan sepeda berpedal

Melalui latihan keseimbangan yang lebih baik, menggunakan balance bike diyakini akan memudahkan anak ketika bertransisi ‘naik kelas’ ke sepeda berpedal yang lebih besar. Anak pun tak perlu roda tambahan di belakang karena sudah lebih seimbang. Anak tinggal membiasakan diri untuk mengayuh dengan pedal saja.

Bermain balance bike tak hanya sekedar bermanfaat untuk melatih fisik anak saja, namun perkembangan anak secara keseluruhan juga dapat ditingkatkan melalui aktivitas ini.

Memantau Perkembangan Anak Usia 2-3 Tahun

Usia 1 hingga 3 tahun adalah fase golden age. Anak harus banyak melakukan aktivitas untuk mengembangkan kemampuan motorik kasar maupun halus. Pertumbuhan fisik anak sangatlah pesat.

Sebagai orang tua, tentunya kita ingin anak tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan usianya. Apapun yang dirasa terbaik bagi anak akan diberikan. Agar anak tumbuh dan berkembang, tak cukup dengan makanan yang bergizi saja, namun aktivitas stimulasi yang merangsang perkembangan juga perlu dilakukan.

Milestones atau tahapan perkembangan anak umumnya dikelompokkan berdasarkan kelompok usia tertentu. Berikut perkembangan anak usia 2-3 tahun berdasarkan Konsep Pengembangan PAUD Non Formal tahun 2007:

Dengan mengetahui tahapan perkembangan anak, orang tua dapat menyusun aktivitas stimulasi untuk anak dapat dilakukan dengan didasari panduan perkembangan anak sesuai usianya. Setelah itu, dalam periode tertentu orang tua juga dapat melakukan screening untuk melihat apakah anak sudah berkembang dengan normal.  Jika dirasa ada hal yang janggal atau kurang, orang tua dapat segera berkonsultasi dengan ahlinya.

Bermain Balance Bike, Aktivitas Seru Untuk Melatih Motorik Anak

Melatih motorik anak sebenarnya bisa dilakukan melalui berbagai hal sederhana seperti mengajak anak memasak, membereskan rumah, atau kegiatan sehari-hari yang sederhana lainnya. Selain itu, aktivitas lain di luar rumah juga bisa dilakukan oleh orang tua untuk menstimulasi perkembangan anak.

Oleh karena itu, selain melakukan aktivitas rutin di dalam rumah, saya pun memilih bermain balance bike sebagai aktivitas rutin lain dalam melatih motorik anak. Melihat manfaatnya yang beragam, bermain balance bike bisa menjadi kegiatan untuk menstimulasi pertumbuhan fisik dan perkembangan anak sesuai dengan usianya baik kognitif, fisik (motorik halus dan motorik kasar), bahasa, agama, serta sosial dan emosional.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Setelah rutin bermain balance bike, saya merasakan beberapa berkembangan pada Mahira. Mahira mulai bisa memilih aktivitas yang disenangi, mengajak bermain, memilih rute yang ingin dilalui, melalui tanjakan dan meluncur, menunjuk benda atau binatang yang terlihat saat bermain balance bike, meniru untuk mengangkat kaki saat mengayuh, serta menceritakan pengalaman bermain sepeda kepada neneknya yang ia telepon setelah sampai di rumah.

Sementara itu, latihan mengayuh kaki dan mendorong sepeda cukup berpengaruh kepada keseimbangan tubuhnya. Kakinya pun terlihat lebih kuat, ia mulai berani berlari, melompat-lompat, juga menggunakan kekuatan tangan untuk mengangkat sepeda. Ketika saya mengajaknya bermain sepeda sampai ke area panjat tebing, ia pun berani mencoba memegang dan meniru kakak atlet yang sedang berlatih.

Motorik halus yang dilatih dari cara memegang stang membuatnya lebih nyaman untuk memegang selang air saat mencuci sepeda setelah bermain, membuka pintu rumah, melempar bola, meronce, serta memegang crayon, piring, gelas, ataupun sendok. Terkadang, saat berkeliling komplek, kami menemukan tanaman-tanaman yang bisa diambil untuk bermain masak-masakan ketika kembali ke rumah. Ia pun bersepeda sembari memegang tanaman tersebut.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Anak seusia Mahira memang kini mulai bisa bercerita dan menirukan kegiatan. Ia suka menirukan bermain masak-masakan dengan mainan buahnya atau bahan lain. Mahira juga bereksplorasi dengan sepedanya di rumah dengan membaliknya lalu bermain dengan rodanya seolah-olah ia sedang menyetir mobil atau memperbaiki sepeda. Aktivitas bermain seperti ini adalah bagian dari melatih motorik anak. Sederhana, namun tetap menyenangkan karena sesuai dengan keinginan anak.

Secara berkelanjutan, stimulasi harus terus diberikan melalui aktivitas yang dilakukan anak sehari-hari. Selain itu, dengan meluangkan waktu spesial untuk anak bermain sesuai dengan keinginannya, membuat saya dan anak semakin dekat dan kompak.

Monde Boromon Cookies, Teman Asyik Bermain Balance Bike

 

Bermain balance bike tak hanya menjadi waktu spesial saya bersama anak, tetapi juga menjadi upaya untuk menstimulasi perkembangan anak. Selepas bermain balance bike, anak biasanya merasa sedikit lelah. Saya pun menyiapkan cemilan untuk Mahira, yaitu Monde Boromon Cookies.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Monde Boromon Cookies, menjadi camilan yang saya pilih karena mengandung DHA dan gluten-free. Sudah adanya sertifikasi Halal dari MUI tentu membuat saya lebih yakin untuk memilih Boromon Cookies. Camilan ini yang terbuat dari sari pati kentang, gula, telur, minyak ikan, dan madu. Kandungan madu memiliki manfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak.

Dalam 1 kotak Monde Boromon Cookies, terdapat 6 sachet kecil sehingga kehigienisannya pun terjaga dan bisa dibawa sesuai dengan kebutuhan. Bentuk Monde Boromon Cookies yang seperti bola-bola ukuran kecil bisa menjadi stimulasi untuk melatih motorik halus anak melalui kemampuan tangan dan jari-jemarinya saat ia mencoba menambil, memegang, menjepit, atau menggenggam camilan ini. Anak mulai usia 1 tahun, sudah dapat mengonsumsi camilan sehat ini.

Monde Boromon Cookies memiliki tekstur yang mudah meleleh saat terkena air liur juga menjadi stimulasi motorik di area lidah dan mulut anak saat mencoba mengunyah dan memakannya. Monde Boromon Cookies bisa membantu anak untuk melatih indera pengecap untuk mengeksplorasi rasa, bentuk, tekstur serta kemampuan untuk makan.

Tak hanya Mahira yang menyenangi cita rasa dan tekstur dari Monde Boromon Cookies, saya pun gemar menyantapnya. Biasanya saya menyetok camilan ini. Selain bisa didapatkan di supermarket seperti Carrefour, Monde Boromon Cookies juga dapat dibeli secara online.

Info lain seputar Monde Boromon Cookies bisa dilihat melalui:

Instagram : https://www.instagram.com/mondeboromon/

Facebook Pages : https://www.facebook.com/BoromonMonde

Official Store : http://www.mondemart.com/product/79

 


Melatih motorik anak perlu dilakukan sejak dini namun tetap sesuai dengan perkembangan usianya. Tak hanya melalui aktivitas bermain, aktivitas makan pun bisa menjadi latihan motorik anak. Menyadari hal tersebut, saya pun coba mengombinasikan keduanya. Bermain balance bike dan memberikan Monde Boromon Cookies adalah bentuk stimulasi yang saya coba lakukan untuk perkembangan motorik Mahira.

Kalau teman-teman ibu lainnya, aktivitas apa yang dilakukan untuk menstimulasi anak? Boleh loh share idenya di kolom komen…

You may also like

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)