Urusan Toilet Training Anak : Proses Panjang Belajar

Toilet Training Anak

Jadi orang tua itu gak gampang. Katanya begitu. Nyatanya, memang begitu! Kali ini aku mau cerita urusan toilet training anak alias proses untuk mengajarkan anak bisa dan berani untuk buang air sendiri di toilet.

Toilet Training Anak, Kapan Baiknya Dimulai?

Berdasarkan artikel dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tidak ada usia yang pasti untuk memulai toilet training. Namun, pada usia 18 bulan sampai 2,5 tahun, biasanya anak mulai lebih siap secara fisik maupun psikologis.

Menginjak usia-usia tersebut, beberapa teman juga mulai mengajarkan toilet training pada anak.

Toilet Training Anak

Jujur saja, aku sendiri masih santai aja pas anak 2 tahun. Ketika ada anak lain yang usianya lebih kecil dan mulai lancar toilet training, langsung merasa ‘telat’ banget. Ya biasalah ya, ibu-ibu panikan.

Akhirnya, di usia 2 tahun 3 bulan, aku mulai toilet training anak. Kalau orang lain bisa seminggu bahkan 3 hari, aku baru benar-benar merasa ‘lulus’ toilet training ketika anak tepat berusia 3 tahun. Lama banget ya!

Yang Penting Saat Toilet Training Anak

Niat & Semangat

Mulai toilet training itu gak mudah. Perlu niat dan semangat. Kudu ikhlas ketika masih gagal.

Ya gimana, anak tau-tau buang air kecil (BAK) di celana yang akhirnya merembes ke lantai. Pastinya, harus siap untuk bolak balik ngepel dan mungkin sedikit nambah cucian. Ini sih pasti dihadapi apalagi kalau sebelumnya pakai pospak.

Kekompakan Lingkungan

Selain itu, kekompakan sama orang-orang lain di rumah juga diperlukan. Ini yang awalnya susah banget aku dapatin. Giliran aku niat, eh suami masih gak mau. Huh, dalam hati ngerasa ini orang gak mau repot.

Kompromi dan kekompakan juga penting dibangun dengan pengasuhnya. Karena, pasti untuk beberapa saat pengasuh yang jadi nambah kerjaannya. Termasuk juga kalau ada tips dan trik saat toilet training, juga harus kompak dan saling setuju untuk dikerjakan.

Konsisten

Selain kekompakan dan satu visi, hal penting lainnya adalah konsisten. Ini yang awalnya juga masih susah. Giliran di rumah sudah berani lepas pospak, di luar kadang masih ragu. 

Akibatnya, ya karena anak merasa lebih nyaman ‘ngebocorin’ pospak, toilet training pun gak tak kunjung lulus.

Persiapan-Persiapan Memulai Toilet Training Anak

Beberapa persiapan terkait toilet training pun coba aku beli. Antara lain :

Sprei Waterproof

Benda ini sebenarnya udah kubeli sejak anak lahir. Sprei waterproof atau anti air ini bisa digunakan untuk melapisi kasur. Jadi, begitu ada cairan (pipis), ya gak langsung tembus ke kasur. Biasanya sih, setelah melapis Kasur dengan sprei waterproof, dilapis juga dengan sprei biasa. Jadi, kalau basah, yang diganti ya sprei biasa aja.

Sprei ini penting banget, untuk jaga-jaga ketika anak masih mengompol. Setelah gak ngompol pun masih kepake kok

Toilet Seat untuk Anak

Karena ukuran kloset duduk biasanya untuk orang dewasa, maka perlu ada tambahan untuk anak-anak. Belilah dudukan toilet untuk anak.

Ada beberapa pilihan. Mau yang berupa tambahan dudukan saja berarti kita harus selalu membantu ia naik ketika mau buang air. Ada juga yang dilengkapi anak tangga, agar anak bisa naik turun sendiri.

Potty Trainer untuk Toilet Training Anak
Potty Trainer untuk Toilet Training Anak

Kalau aku, selain beli yang biasa untuk di rumah, juga beli yang bisa dilipat. Jadi yang ini untuk dibawa-bawa ketika pergi.

Celana Training

Celana training untuk buang air sedikit berbeda dengan celana dalam biasa. Celana training ini agak lebih tebal bahannya. Lalu lapisan tengahnya juga lebih tebal dan bisa menahan pipis. Anak pun sebenarnya bisa merasa lembab dan tak nyaman ketika pipis di celana.

Karena anakku sebelumnya memakai pospak, jadi aku persiapkan pakai celana training untuk masa peralihan.

Pispot & Botol Pispot Portable

Mungkin ini agak berlebihan. Sebenarnya aku juga membeli pispot portable. Jadi, karena katanya salah satu trik agar anak lulus toilet training adalah mencontohkan.

Maka aku awalnya membeli pispot tambahan untuk anak. Jadi aku bisa mencontohkan ketika buang air di kamar mandi. Setelah anak terbiasa baru berganti ke toilet seat.

Selain itu ada juga botol pispot portable. Ini beneran jaga-jaga aja kalau anak sudah sangat ‘kebelet’ pipis di mobil dan jauh dari toilet. Bentuknya untuk anak perempuan dan laki-laki berbeda.

Perjalanan Panjang Lulus Toilet Training Anak

Sebelum meyakinkan anak urusan toilet training, aku coba membeli buku “Belajar Adab ke Toilet” yang berisi cerita tentang toilet training dana dan adab ketika berada di toilet. Paling tidak ada usaha sedikit untuk memudahkan penyampaian urusan belajar buang air. 

Tahap 1 : Bebas Ompol di Malam Hari

Menurutku, dari urusan toilet training ini paling mudah adalah urusan buang air kecil di malam hari ketika tidur. Kita tinggal ajak dia aja ke toilet setiap sebelum tidur. Kalau misalnya dia kebangun tengah malam, angkut langsung aja ke toilet. Biasanya bakal pipis juga.

Pertama nyoba gak pakai pospak langsung sukses dengan catatan tengah malam anaknya diangkut aja ke toilet pas bangun. Selanjutnya pas anak bangun tengah malam agak rewel tapi gak mau ngomong itu artinya dia pingin pipis juga. Ya tinggal bawa aja ke kamar mandi. Setelah itu tidur pulas lagi.

Tips : Selesaikan Urusan Minum Sebelum Pipis Terakhir

Proses urusan bebas ompol di malam hari ini paling gampang rasanya. Selesaikan segala urusan minum sebelum pipis terakhir sebelum tidur. Kalau bisa ya.

Sekarang sih, Alhamdulillah malah jarang banget bangun malem mau pipis. Jadi bener-bener pipis pas bangun pagi aja.

Tahap 2 : Sudah Mau Bilang Urusan Buang Air Kecil

Pasca lancar urusan pipis malam hari, aku jadi lebih pede menghadapi urusan pipisnya anak di siang hari. Tapi ternyata, lagi-lagi tak semudah itu ferguso.

Kalau pas aku di rumah, urusan pipis bisa diatur dengan cara mengajak anak ke kamar mandi beberapa jam sekali. Istilahnya ditatur. Tapi ya ini kalau misal kelewat ya anak tau-tau ngompol juga. Dengan santainya pipis di depan tv.

Beberapa kali ngomong ke dia kalau pipis bilang, dia akan mengiyakan. Kenyataannya, ya kadang dia bilang tapi kebobolan di kamar mandi.

Tips : Lepas Celana Training

Karena seringnya kebobolan saat pakai celana training, akhirnya celana training yang agak tebal pun rela tak dipakai lagi. Aku curiga kayaknya dia malah merasa nyaman (bukannya risih) ketika pipis di celana training yang tidak tercecer ke lantai.

Setelah celana training diganti celana dalam yang tak terlalu tebal, otomatis ketika pipis akan bocor dan tercecer. Ini harus siapin ekstra sabar di hati. Tapi hasilnya, anak malah ke kamar mandi sambil bilang mau pipis.

Akhirnya, beres juga urusan buang air kecil di toilet karena anaknya sudah tahu kondisi saat mau pipis. Kalaupun ia sedang diam, biasanya dia akan gelisah dan menunjukkan gestur tidak nyaman dengan memegangi ‘area pipisnya’. Jadi, tinggal ajak saja anak ke kamar mandi.

Tahap 3 : Lulus Sempurna Ketika Sudah Mau Buang Air Besar Sendiri

Urusan pipis lancar tak menjamin urusan buang air besar lancar. Mungkin aku juga salah karena tidak membiasakan anak buang air besar pada jam tertentu agar jam biologisnya terbentuk. Selain itu, faktor kontur feses anak yang seringnya tidak terlalu padat sepertinya juga berpengaruh.

Ada seorang teman menyarankan kalau saat toilet training anak, cobalah dengan cara ‘membiarkan anak tidak pakai celana saat di rumah’. Tapi berhubung anak sudah tahu rasa malu, dia selalu menolak cara ini.

Tips : Gunakan Istilah Unik

Sebenarnya, tanda-tanda anak mau buang air besar (BAB) itu lebih gampang terlihat. Anak biasanya ingin menjauh dari kita. Lalu ia akan lebih diam. Bisa juga anaknya memilih berjongkok.

Kalau sudah terlihat seperti ini, sebenarnya tinggal dibawa ke kamar mandi. Masalahnya, begitu dibawa ke kamar mandi, eh perasaan ingin BAB malah hilang dan bilangnya sudah (padahal belum).

Begitu keluar kamar mandi dan asyik main lagi, tiba-tiba dia BAB lalu tercium aroma ajaib. Hadeh!

Pada akhirnya, aku pakai cara ‘sabar-sabar aja deh nungguin dia di kamar mandi’. Anak mau BAB ya sama kayak kita orang dewasa. Punya ciri khas yaitu buang gas dengan bau super tak sedap.

Ya akhirnya, dibawa lagi aja ke kamar mandi. Aku bilang, kalau BAB itu bakal bunyi ‘cemplang cemplung’. Jangan bilang sudah kalau belum ada suara seperti itu. Hehe. Berhasil? Iya, ternyata lama-lama berhasil. Jadi dia pun juga tahu istilah ‘BAB cemplang-cemplung’.


Toilet Training Anak

Akhirnya….sukses juga urusan toilet trainingmu nak. Walaupun sudah bisa ngomong kalau ingin buang air, tetap tak ada salahnya untuk selalu menyediakan baju ganti/celana ganti kemanapun anak pergi. Alhamdulillah sih belum pernah, tapi….siapa tahu bocor di jalan,kan?

You may also like

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)