Menjadi Suporter : Menyemarakkan Asian Games 2018

Event Asian Games ke-18 baru saja digelar di Jakarta dan Palembang. Selama 15 hari, event olahraga terbesar se-Asia tersebut menyedot perhatian tak hanya warga Jakarta dan Palembang saja, namun juga warga Indonesia bahkan Asia.

Sebagai warga Palembang, tentu saya tak ingin melewatkan menjadi bagian dari momen bersejarah bangsa ini. Ya, kapan lagi Indonesia bisa menjadi tuan rumah event akbar seperti ini. Perlu 50 tahun lebih untuk Indonesia menjadi penyelenggara Asian Games setelah sebelumnya pernah juga menjadi tuan rumah pada tahun 1962. Kemampuan jelas sudah dicoret sebagai atlet, belum lagi untuk menjadi volunteer perlu waktu yang banyak dan ijin dari kantor rasanya tak mungkin. Saya mencoba menjadi bagian dari Asian Games dengan predikat sebagai penonton sekaligus suporter.

Dari 15 hari penyelenggaraan, saya hanya bisa datang langsung sebanyak 4 kali ke Jakabaring Sport City (JSC). Mengingat sedang banyaknya tugas, kesempatan untuk nonton bareng bersama rombongan kantor pun harus terlewat. Mau tidak mau, saya hanya bisa berpartisipasi di hari libur atau Sabtu dan Minggu saja.

Saya menonton Asian Games bersama dengan suami dan anak. Beberapa teman sempat terheran-heran melihat saya ‘nekat’ membawa anak 2 tahun untuk bergabung dalam keramaian Asian Games 2018. Buat saya, kenapa tidak? Momen seperti ini tak terjadi setiap tahun. Bukan tidak mungkin, pengalaman seperti ini akan melekat pada ingatan sang anak sampai besar nanti. Terlebih banyak hal yang bisa dipelajari sepanjang event ini berlangsung.

Menjalin pertemanan baru

Kota Palembang mendadak menjadi primadona selama Asian Games 2018. Berbondong-bondong tamu datang ke kota Palembang, tak hanya atlet dan official tim, tetapi juga penonton dari luar kota bahkan luar negeri. Kesempatan ini banyak dimanfaatkan oleh guru sekolah untuk memberikan tugas wawancara bagi muridnya. Kerap kali saya melihat anak-anak remaja mendekati atlet asing lalu merekam video wawancara mereka.

Sebagai orang tua, saya dan suami pun akhirnya mencontoh hal ini. Beberapa kali kami menyapa atlet-atlet dan meminta berfoto. Belum lagi saat menonton, kami bertemu dengan penonton Indonesia yang berasal dari luar kota Palembang. Asian Games seperti ini menjadi momen untuk kita menjalin pertemanan dengan orang baru. Walaupun begitu, tetap saja untuk hal tertentu memang perlu diajarkan mawas diri pada orang yang tak dikenal.

Ada momen di saat saya menonton pertandingan sepak takraw namun tim Indonesia tidak bertanding karena sudah kalah pada pertandingan sebelumnya dan mendapatkan perunggu. Saat menonton, kami pun duduk bergabung menjadi suporter Thailand yang timnya masuk ke final.

Tak disangka, menjadi suporter untuk Tim Thailand memberi kesempatan melihat kebaikan dari warga negaranya. Suporter Thailand membagikan hiasan kepala yang sewarna dengan bendera negaranya, bahkan memberikan minuman bagi suporter yang sama-sama mendukung Thailand.

Lawan di Lapangan, Kawan di Luar Lapangan

Pertandingan yang kami tonton secara langsung adalah sepak takraw dan sepak bola. Namun, bisa dibilang pertandingan sepak takraw lebih memberikan kesan. Jarak antara lapangan dan bangku penonton yang cukup dekat menjadi faktor lebih banyak hal yang menarik yang bisa terlihat.

Salah satu momen yang menarik bagi saya adalah ketika pertandingan Final Quadrant Sepak Takraw Putri antara Thailand dan Vietnam. Di saat teman-teman timnya bertanding, saya melihat beberapa pemain cadangan Vietnam mendatangi pemain cadangan Thailand lalu mengajak mengobrol dan menonton bersisian dari kursi yang sama. Belum lagi setelah selesai bertanding dan berkumpul untuk pengalungan medali, para peraih medali yaitu  tim putri Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Laos juga saling berkumpul dan mengobrol.

Ya, para atlet bisa saja menjadi lawan di lapangan, selama pertandingan. Namun di luar itu, pertandingan juga menjadi momen para atlet bertemu kawan baru.

Pentingnya sebuah kerja sama dalam tim

Dalam permainan beregu, seperti sepak takraw, kerja sama dalam tim adalah sebuah keharusan demi tercapainya cita-cita. Hal yang paling menarik dari sebuah tim sepak takraw adalah kebiasaan para pemain saat pergantian poin, setiap tim biasanya akan membentuk formasi lingkaran dan setiap anggota akan saling bergandengan tangan lalu menggoyangkannya dan berteriak penuh semangat. Ada cara yang berbeda antara tim dari olahraga satu dengan lainnya, untuk pertandingan ganda atau beregu lainnya, biasanya hanya melakukan gerakan tos (high-five) atau berpelukan antar anggota. Semuanya sama, memberikan energi antar anggota tim untuk tetap semangat dan berjuang meraih cita-cita atau kemenangan.

Kerja sama dalam tim juga diperlukan dalam sebuah keluarga. Ada momen ketika anak mulai bosan dan rewel saat menonton pertandingan. Maka, orang tua harus bekerja sama. Saya melihat adanya ibu yang rela pahanya menjadi bantal untuk sang anak dan sang ayah bantu mengipasi agar anak tetap nyaman. Sementara itu, di keluarga saya sendiri, ketika anak mulai mengantuk, giliran suami menggendong anak dan saya yang mengipasinya. Anak pun tidur, ayah dan ibu bisa menonton pertandingan. Sebuah kerja sama sederhana.

 

Tetap berjuang apapun yang terjadi

Dalam melakukan apapun tentu saja ada risiko yang muncul. Tak terkecuali saat berolahraga. Tak jarang bola takraw (yang bisa terbuat dari rotan), mengenai wajah seorang pemain. Pemain juga bisa mengalami cedera karena posisi menendang dan mendarat yang tidak tepat. Hampir di setiap pertandingan yang saya tonton, cedera seperti ini terjadi. Tim medis segera memasuki area pertandingan untuk memeriksa kondisi atlet. Jika memang cedera dirasa serius, atlet akan dibawa ke luar lapangan oleh tim medis dan pertandingan dilanjutkan dengan adanya pergantian pemain.

Beberapa atlet yang merasa kesakitan biasanya akan menepi terlebih dahulu. Tak jarang saya melihat atlet yang setelah dilakukan pengecekan tetap kembali ke arena pertandingan. Sorak ramai penonton turut mendukung atlet tersebut. Ya, semangat juang tinggi para atlet harus diacungi jempol. Walaupun sakit, mereka tetap berjuang demi negaranya.

Bersatu dan berpadu memberi dukungan

Tak hanya atlet saja yang akan saling bertarung, sebagai suporter, kami pun akan bertarung untuk menyemangati para atlet yang akan bertanding. Sama seperti atlet yang hanya bertarung di arena pertandingan, namun di luar bisa menjalin persahabatan. Kami para suporter pun mampu melakukan hal yang sama. Senyuman ramah khas Asia tercipta saat kami berfoto bersama, mengabadikan keakraban antar suporter.

Ketika tim Indonesia bertanding di Final Quadrant Sepak Takraw Putra melawan Jepang, sorakan suporter Indonesia tentu tak pernah padam. Keinginan untuk menjadi pemenang tak hanya dari atlet tapi juga dari suporter. Setelah suporter Indonesia berteriak, suporter Jepang pun bergantian memberikan dukungan bagi atletnya. Ya, menjadi tuan rumah yang mendominasi kursi penonton tak lantas membuat penonton Indonesia arogan. Kami saling memahami, keinginan sesama suporter untuk memberikan energi bagi atletnya. Tak perlu saling beradu atau mencemooh dengan teriakan ‘huuuuu’.

Ketika ada seorang pemain yang baru diperiksa tim medis dan kembali ke pertandingan, para suporter kembali bersatu dan berpadu memberikan dukungan. Penghormatan bagi atlet yang siap kembali berjuang. Begitu pula saat penyerahan medali. Tepuk tangan bergemuruh siapapun yang dikalungi medali. Dukungan penuh dari suporter atas usaha para atlet.

Menikmati fasilitias dengan bertanggung jawab

Ada banyak sarana dan prasarana yang dibangun demi kelancaran Asian Games 2018 di Palembang. Hal yang paling mencolok tentu venue-venue yang berada di Jakabaring Sport City (JSC) dan sistem transportasi Light Rail Transit (LRT) yang baru beroperasi di Palembang.

Saya sempat menggunakan LRT saat menuju Jakabaring karena adanya penutupan akses lalu lintas di area JSC untuk digunakan dalam pertandingan Triathlon. Kesempatan seperti ini menjadi pelajaran bagi anak mengenai transportasi umum. Hal yang bisa dipelajari tak hanya urusan mengantri, mendahulukan orang yang keluar, berempati pada orang lain, tetapi juga mematuhi aturan yang berlaku. Selama di LRT, anak tidak boleh berdiri di kursi, juga tidak boleh makan dan minum. Tentu hal ini harus dipatuhi sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga fasilitas publik.

Demikian juga saat berada di venue pertandingan atau area lainnya dari Komplek Jakabaring. Tentu tak enak jika melihat sampah berceceran. Seorang teman yang menonton, Ara mengajak mengumpulkan beberapa botol air mineral yang berserakan. Melihat kegiatan yang awalnya dilakukan oleh Ara dan saya, ternyata membuat suporter lain mengikuti untuk menjaga botol minumannya dan membuangnya di tempat sampah setelah selesai pertandingan.

Memberi dukungan, apapun bentuknya

Sebuah event sebesar ini tentu tak lepas dari dukungan banyak pihak. Sponsor, panitia, volunteer, suporter maupun pihak lain secara berkesinambungan menjadi bagian dari suksesnya Asian Games 2018.

Ya, bentuk dukungan dari setiap orang bisa berbeda-beda. Ketika ke Jakabaring menggunakan LRT, saya melihat seorang petugas keamanan yang membantu ibu hamil untuk mendapatkan tempat duduk. Begitu pula saat LRT akan berhenti di Stasiun Jakabaring, petugas dengan sigap membantu mengatur agar penumpang yang ingin keluar mendapat prioritas. Belum lagi petugas kebersihan di Stasiun LRT yang tak henti membuat stasiun selalu bersih. Ada banyak petugas di dalam LRT maupun di stasiun yang memberi dukungan agar perjalanan LRT menjadi nyaman, penumpang pun senang dan aman tiba di Jakabaring.

Tak terhitung lagi berapa banyak anak muda yang terlibat sebagai volunteer Asian Games 2018. Walau lelah, tak jarang para volunteer tetap menjawab pertanyaan para pengunjung Jakabaring yang terkadang tersesat lalu bertemu dengan mereka. Beragam hal yang dilakukan para volunteer juga mendukung nyamannya para atlet dan official untuk bertanding.

Sementara itu, para suporter bisa memberikan dukungan melalui tepuk tangan dan teriakan kepada para atlet. Ada pula suporter yang terlihat berdoa sepanjang pertandingan. Emas ke-31 yang diberikan oleh Tim Takraw Indonesia menjadi kado manis bagi suporter. Dukungan para suporter semakin bertambah ketika Indonesia Raya berkumandang, kami bernyanyi bersama dan larut dalam rasa haru.

Apapun itu, banyak dukungan dan energi positif yang mengalir sepanjang perhelatan Asian Games ini, terbukti bisa dibilang event ini berjalan dengan lancar.

Bergabung dengan kegembiraan bersama

Asian Games tidak hanya urusan pertandingan semata. Ada zona festival yang menghadirkan beragam atraksi kesenian dan budaya dari berbagai daerah bahkan negara lain. Tak hanya itu, stand-stand makanan lokal maupun dengan cita rasa internasional pun hadir di zona festival.

Pengunjung menikmati makanan dan minuman dengan riang. Tak jarang antar pengunjung juga saling berbagi makanan yang dibawa untuk dinikmati bersama.

Alunan musik hampir tidak berhenti di zona festival. Yang saya lihat dari zona festival adalah luapan kegembiraan para penonton. Anak kecil yang berkejaran, orang-orang yang saling mengabadikan momen, ada pula yang ikut berdendang dan bergoyang.

 


Asian Games menjadi pembuktian kemampuan Indonesia untuk menyelenggarakan event olahraga besar. Berita di dua hari terakhir adalah adanya keinginan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Teriring doa dan keyakinan agar hal itu bisa terwujud.

Banyak yang berkata, Asian Games bisa menjadi momen Indonesia menjadi lebih baik lagi. Ya, saya pun mengamini hal tersebut. Saling berbagi, berempati, bertenggang rasa, serta menghargai orang lain maupun lingkungan menjadi lebih tampak dan diasah dalam penyelenggaraan Asian Games ini. Belum lagi adanya rasa percaya diri semakin tinggi yang dimiliki oleh Indonesia.

Kita Indonesia adalah bangsa yang baik dan akan berusaha menjadi lebih baik lagi.

 

 

 

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)