NO MORE DRAMA Menghadapi Tantrum Anak

Beberapa orang menyebut fase anak 2 tahun adalah fase terrible two. Walau begitu, saya sempat diingatkan oleh teman, kalau bisa menyebutnya amazing karena gak selamanya terrible atau anak-anak terus menimbulkan masalah.

Mungkin istilah terrible two muncul karena umumnya anak usia 2 tahun mulai suka mendadak marah atau tantrum. Temper tantrum adalah letupan kemarahan atau kekesalan anak saat ia merasa kesulitan untuk menyampaikan keinginannya atau tidak dituruti. Tanda-tanda tantrum biasanya adalah anak terlihat frustasi, menangis, berteriak, melempar barang, menghentakkan kaki dan tangan, atau menjatuhkan diri di lantai. Normalnya, tantrum terjadi mulai anak menginjak usia 1 tahun – 4 tahun.

Beberapa teman yang punya anak seusia Mahira pernah cerita bahwa anaknya pernah tantrum di tempat umum seperti mall. Mengalami hal itu rasanya tentu tidak enak karena bisa jadi kita mendadak menjadi pusat perhatian semua orang. Saya pernah juga mengalami di museum. Ternyata anaknya mengantuk dan ingin digendong, bukan di stroller. Ya, jangankan kita, Drew Barrymore aja pernah ngalamin anak tantrum di Disneyland.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Walau katanya tantrum pada balita adalah bagian penting dari perkembangan kesehatan emosionalnya, namun sebagai orang tua tentu akan lebih baik kalau kita mampu menghadapi tantrum anak. Di bulan Februari lalu, saya sempat mengikuti seminar “Kunci Sukses Anak Bersedia Ikut Arahan Orangtua” dengan pembicara Devi Sani, M.Psi (Co.Founder Klinik Psikologi Berbasis Permainan – Rainbow Castle Jakarta). Walaupun tak membahas secara spesifik mengenai tantrum, seminar ini mengingatkan tentang positive parenting yang lebih baik diterapkan oleh orang tua.

Positive parenting adalah pola pengasuhan anak yang menekankan pada sikap positif, jadi orang tua bisa menerapkan pola pengasuhan dan kedisiplinan secara positif dan menyenangkan. Diharapkan, anak akan memiliki perilaku positif, mampu mengontrol emosi, serta punya rasa percaya diri yang baik. Positive parenting juga bisa diterapkan oleh orang tua saat menghadapi anak yang tantrum. Beberapa hal berikut coba saya lakukan ketika anak tantrum.

  1. Tetap tenang
    Mencoba tetap tenang memang sulit dilakukan, apalagi bagi orang yang mungkin emosi dominannya adalah marah seperti saya. Biasanya saya memilih diam dulu, menghela nafas panjang sambil istigfar agar tidak terpancing bersikap emosional. Setelah itu, saya biasa coba memeluk anak agar ia tenang dan saya pun bisa lebih tenang menghadapinya.
  2. Tunjukkan perhatian dan kasih sayang
    Ketika anak mulai tantrum, coba hentikan dulu aktivitas yang dilakukan dan fokus kepada anak. Bisa jadi, saat itu kita sedang asyik mengerjakan sesuatu dan anak merasa diabaikan. Fokus kepada anak juga menunjukkan adanya perhatian yang kita berikan
  3. Mencoba mengetahui penyebab tantrum
    Sebagai orang tua, kita harus mencoba mengetahui penyebab tantrum. Setelah itu, ajak anak berkomunikasi. Jika ia menangis dan marah, coba katakan kalau kita tidak mengerti apa yang diinginkan bila ia menangis atau marah jadi dia bisa lebih tenang saat mengungkapkan apa yang dimau.
  4. Mengalihkan perhatian
    Pernah ada yang bilang, kalau anak menangis, ajak ia ke luar rumah lalu melihat ke atas, tunjukkan luasnya langit, awan putih, sinar matahari, dll. Hal yang sama bisa dilakukan saat anak tantrum dengan coba mengalihkan perhatian mereka pada hal lain yang mungkin disukai. 

Pola pengasuhan positive parenting tentu tak hanya diterapkan saat anak tantrum saja. Memang, terkadang terasa susah. Hal lain dari positive parenting yang dapat dilakukan adalah membangun kedekatan emosi dengan anak melalui bermain, bercerita, mengobrol, dll. Selanjutnya, kita pun bisa memberikan contoh hal baik yang bisa dilakukan. Banyak yang berpesan bahwa anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Memberikan contoh akan lebih baik dibandingkan hanya mengucapkan. Tak lupa, ajarkan anak 3 kata ajaib yaitu maaf, tolong, dan terima kasih.

***

Menginjak usia 2 tahun, Mahira semakin aktif saja. Tak hanya urusan berjalan dan berlari yang kian kencang, tangannya pun mulai kuat untuk membuka lemari, kulkas, sampai keran air. Air memang bisa menjadi magnet yang menyenangkan untuk anak. Tapi, terlalu lama bermain air pastinya membuat khawatir orang tua karena bisa saja anak kedinginan lalu demam dan terkena flu. Walaupun pasti setelah anak bermain air, saya berupaya membuatnya tidak kedinginan.

Saya kadang membatasi waktu anak bermain air. Suatu waktu, karena mungkin Mahira saat itu sedang asyik-asyiknya bermain dan saya coba menghentikannya, ia mulai menangis dengan kencang. Walau katanya menangis bisa melepaskan stress karena air mata mengandung kortisol), tetap saja tangisan anak membuat hati tak tenang dan khawatir tetangga terganggu. Saya pun coba menenangkannya dan mengajaknya bermain permainan lain di dalam rumah. Selanjutnya, jika ingin melakukan aktivitas yang berhubungan dengan air, kami mencoba membuat perjanjian dengan Mahira, misal menyiram tanaman hanya 5 menit saja dan kalau sudah waktunya berhenti ya harus selesai dan berhenti.

Kekhawatiran akan anak terkena flu setelah bermain air kerap muncul pada diri saya. Mungkin saya golongan ibu-ibu yang percaya dengan khasiat minyak-minyakan. Saya kerap mengoleskan essential oil untuk anak ketika ia mulai bersin-bersin. Essential oil yang saya gunakan adalah MERE – RED NOSE.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

MERE – RED NOSE memiliki manfaat antara lain membantu meringankan flu dan pilek maupun gejalanya, mengatasi masalah yang berhubungan dengan pernafasan, mulai dari hidung tersumbat, alergi debu atau udara dingin/panas, flu, batuk, meringankan sesak nafas, serta meringankan sinus. Saya biasa mengoleskan di bagian dada, tulang belakang, tengkuk, dan bagian belakang telinga. Mere – RED NOSE berasal dari campuran Grapeseed Oil, Soya Bean Oil, Vit E, Eucalyptus Essential Oil, Peppermint Essential Oil, dan Pine Essential Oil. Setelah saya mengoleskan MERE – RED NOSE, bersin-bersin pada anak berkurang dan ia pun tidak sampai demam atau flu.

 

Produk MERE dibuat dari 90% minyak essential lokal hasil penyulingan petani-petani Indonesia dan 10% minyak essensial impor. Produk yang berasal dari Bandung ini memang diformulasikan untuk mudah diaplikasikan langsung pada tubuh, aman untuk bayi, anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan anggota keluarga lainnya. Sebagai ibu, saya secara tak langsung memiliki peran untuk menjaga kesehatan setiap anggota keluarga, tentunya agar aktifitas keluarga tidak terganggu.

 

Selain, RED NOSE, saya sempat mencoba produk MERE lainnya yaitu NO MORE DRAMA. Produk ini berasal dari beberapa essential oil seperti grapeseed oil, soya bean oil, cedarwood oil, dan chamomile essential oil yang dapat memberikan efek relaksasi pada tubuh dan jiwa. Produk ini bisa mengatasi permasalahan psikologis, menenangkan dan memberikan sensasi nyaman, mengatasi insomnia pada anak, dan mengatasi tantrum pada anak sehingga anak tidak rewel ataupun merengek lagi. Biasanya, saya memberikan NO MORE DRAMA sebelum anak tidur pada tulang belakang, tengkuk, telapak kaki, dan belakang telinga. Walaupun, tidak langsung setelah saya mengoleskan NO MORE DRAMA anak segera ingin tidur, tapi tidur anak biasanya menjadi lebih pulas dan tidak terbangun tengah malam.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Yang paling saya senangi dari produk MERE adalah wangi essensial oil ini rasanya menenangkan, tak hanya untuk anak, untuk saya yang mengoleskannya pun rasanya menjadi lebih tenang. Selain itu, untuk RED NOSE, walaupun mengandung peppermint, ketika dihirup tidak terlalu tajam sehingga tidak menjadi menganggu. Produk essential oil MERE dikemas dalam botol-botol ukuran 30ml sehingga mudah untuk dibawa kemana-mana.

Selain MERE RED NOSE dan NO MORE DRAMA yang pernah saya pakai, MERE juga mengeluarkan varian lainnya yaitu TENDER TUMMY (untuk meredakan kembung, masuk angin, sebelit, diare dan masalah pencernaan lainnya), GET WELL BABY (Membantu meredakan dan menyamankan demam), ME TIME MAGIC (membantu untuk relaksasi, meringankan nyeri otot dan sendi), dan HEALTH BOOSTER (Membantu meningkatkan daya tahan tubuh).

 

Produk MERE yang didominasi dari bahan lokal dijual dengan harga yang cukup terjangkau, sekitar Rp 56.000 – Rp 75.000,- dan terkadang ada toko online yang memberikan diskon. MERE bisa menjadi pilihan ibu-ibu untuk melindungi seluruh keluarga. Oh iya, 2 produk MERE yang saya coba ditujukan untuk anak usia 6 bulan ke atas.

 

Untuk informasi tentang produk MERE, bisa didapatkan melalui Facebook Mere.idn dan Instagram Mere.idn. Sementara jika ingin membeli produknya MERE memiliki toko official di Shopee Mere.idn.

3 Comments

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)