Belajar Tentang Kesepakatan di Kelas Keluarga Kita – Disiplin Positif 3

Kira-kira sebulan yang lalu, saya mengikuti lanjutan kelas Keluarga Kita dengan tema Disiplin Positif 3 : Panduan Kesepakatan Orang Tua & Anak. Sebelumnya saya mengikuti kelas dengan tema Disiplin Positif 2 : Menumbuhkan Disiplin Positif Diri Anak. Rasanya nanggung, udah ikutan satu kelas terus berhenti gitu aja.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos
Baca juga : Mengikuti Kelas Disiplin Positif & Review Buku Keluarga Kita : Mencintai Dengan Lebih Baik

Kelas Keluarga Kita, menurut saya sendiri, menjadi suatu wadah di mana kita bisa sharing tentang hambatan apa yang kita temui dalam keluarga, tentunya sesuai dengan tema yang dibahas. Kelas ini juga bisa menjadi pendalaman materi dari hasil membaca buku Keluarga Kita – Mencintai Dengan Lebih Baik karya Ibu Najeela Shihab. Sebenarnya penjelasan di buku maupun di kelas mirip, karena saat di kelas, materi juga disampaikan Ibu Najeela Shihab melalui video, lalu Tim Rangkul (Relawan Keluarga Kita) akan menjadi fasilitator ketika para peserta berbagi tentang pengalaman atau hambatan yang dialami saat penerapan hal yang sedang dibahas.

Setelah pada materi sebelumnya, saya belajar tentang konsekuensi, hadiah, pujian, dan kritik. Kali ini saya belajar tentang Restitusi dan Kesepakatan.

Restitusi

Diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), restitusi memiliki pengertian ganti kerugian, pembayaran kembali.

Terus gimana kalau dalam keluarga? Kalau salah kita harus ganti rugi? Apa yang harus kita bayar?

Sering kali kita menemukan bahkan mungkin mengalami sendiri, ketika melakukan kesalahan, kita disuruh sesegera mungkin untuk meminta maaf. Padahal, bisa saja kita merasa tidak bersalah. Terkadang, terdapat paradigma yang salah, bahwa meminta maaf saja cukup, masalah selesai. Lalu, kesalahan berulang. Padahal, tentu tidak baik kalau seperti itu.

 

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Belajar dari kesalahan, jangan jadi keledai yang terperosok berkali-kali ke lubang yang sama. Rasanya hal itu sudah berkali-kali kita dengar, tapi bagi saya sendiri yaaaa kadang masih sama aja. Itulah pentingnya restitusi dalam disiplin positif bagi diri.

Restitusi adalah proses untuk memperbaiki kesalahan, sehingga bisa menjadi pelajaran. Restitusi perlu dicontohkan dan dilatih dengan konsisten agar bisa menjadi kebiasaan. Proses belajar untuk memperbaiki kesalahan dapat dilakukan melalui tahapan berikut :

  • Melakukan Upaya Rehabilitasi
    Upaya rehabilitasi atau pemulihan kondisi ke keadaan semula, sangat disarankan untuk dilakukan setelah melakukan rehabilitasi. Ya memang, kadang tak selalu rehabilitasi sukses, misalnya gelas yang sudah pecah akan susah kalau disusun kembali. Tapi, paling tidak upaya untuk mengganti/memperbaiki benda/situasi telah dilakukan.Contoh lainnya mungkin yang saat ini sering terjadi di usia Mahira (18 bulan) adalah kebiasaan ia yang suka memukul tiba-tiba, biasanya korban (saya, ayahnya, atau pengasuh) akan terlihat kesakitan. Mungkin karena kebiasaan saat ia jatuh atau kesakitan, kita meniup-niup yang sakit. Sebuah upaya yang dilakukan Mahira adalah meniup tubuh korbannya agar tak merasa sakit.
  • Membuat Resolusi
    Resolusi adalah tuntutan akan suatu hal atau bisa juga perjanjian akan hal yang ingin dilakukan. Setelah menyadari kesalahan dan memperbaiki keadaan, anak bisa diajarkan untuk membuat perjanjian dan rencana untuk mencegah kesalahan terulang kembali.Nah, urusan resolusi ini, untuk anak seumuran Mahira memang masih agak susah sih penerapannya. Misalnya daripada memukul, lebih baik menowel atau menunjuk ibu, ayah atau pengasuh dengan baik.
  • Menyatakan Maaf dengan Sukarela
    Proses meminta maaf akan lebih baik dengan sukarela sesuai dengan pesan Ibu Najeela Shihab, “Disiplin diri anak dimulai dari hubungan yang kuat dan rasa percaya yang dalam. Tanpa modal ini, yang terjadi adalah kontrol, bukan pemberdayaan ; pemaksaan, bukan pengembangan potensi”. Proses meminta maaf dengan sukarela dapat dilakukan setelah ia menyadari kesalahan, melakukan upaya rehabilitasi, dan membuat resolusi.Yang saya sendiri rasakan, terkadang tergesa-gesa meminta maaf itu juga kurang baik. Secara emosi, kita belum siap. Rehabilitasi dan resolusi bisa menjadi momen untuk kita menenangkan diri, termasuk “korban” kesalahan kita menenangkan diri juga. Jadi, sebuah pekerjaan rumah juga untuk saya sebagai orang tua, jika nanti anak berbuat kesalahan, jangan langsung kita turun tangan meminta maaf karena kalau begitu anak juga ga belajar.

***

Kesepakatan Bersama

Kesepakatan bersama memiliki pengertian sebagai hal-hal yang disepakati untuk dipatuhi secara bersama-sama. Mungkin bisa dibilang peratutan dalam keluarga, tapi harus lebih jelas dan bisa jadi merupakan keinginan antar anggota keluarga yang disepakati secara bersama-sama sehingga penerapannya pun lebih konsisten.

 

Kesepakatan Bersama (sumber : Keluargakita.com)

Setiap anggota keluarga perlu memahami dan menyadari tujuan dibuatnya sebuah kesepakatan, sehingga semua dapat menjalaninya. Tak perlu langsung banyak membuat kesepakatan A to Z untuk menyelesaikan semua masalah, tapi paling tidak dapat mencegah masalah yang paling sering muncul berulang kali. Kesepakatan baiknya dibuat tertulis dan dipasang di ruang yang tampak oleh seluruh anggota keluarga dan secara berkala bisa ditinjau pelaksanaannya.

 

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Untuk keluarga saya, kesepakatan bersama yang dibuat, baru satu dan terasa penting banget : Menjaga Kerapian dan Kebersihan.

Bojo termasuk orang yang selalu ingin melihat rumah rapi dan bersih. Sementara saya sendiri kadang suka meletakkan barang seenaknya. Konflik terjadi? Tentu.
Anak usia toddler sudah pasti gemar bermain dan membaca. Sayangnya, masih sering apa yang dia lakukan tak kembali ke tempat semula. Area main berantakan, area tidur apalagi. Apalagi urusan makan, berantakan? Jelas. Risih ? Pasti.
Dari hal tersebut, menjaga kerapihan dan kebersihan menjadi kesepakatan bersama yang utama.

Sebuah pe-er juga buat saya, meletakkan barang tak sembarangan apalagi gadget, buku, dan minuman. Sekaligus melatih disiplin untuk anak juga, meletakkan barang yang sudah dimainkan kembali ke tempat semula.

 


Menumbuhkan disiplin positif dalam keluarga menurut saya pribadi, merupakan sebuah hal yang penting. Cukup susah sepertinya untuk dijalani, apalagi urusan konsistensi. Tapi, kalau ga dimulai sekarang, kapan lagi? Toh untuk membentuk keluarga yang lebih baik juga kan.

6 Comments

  1. Kunjungan pertama kesini, tapi kayaknya bakalan sering karena postnya bermanfaat dan bakal berguna banget buat saya yang lagi deg-degan menunggu kelahiran, butuh banyak belajar parenting semacam ini juga nih… Terimakasih mbak sudah sharing :))

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)