Menilik Destinasi Wisata Baru di Palembang Melalui Pasar Baba Boen Tjiet

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Sebagai kota tertua di Indonesia, Palembang tentu memiliki banyak sejarah. Kekayaan sejarah ini yang menjadikan Palembang cocok untuk dijadikan salah satu destinasi bagi pecinta sejarah. Selain itu, Palembang juga unggul dalam kekayaan budaya. Maka dari itu, wisata yang selalu ditonjolkan kota Palembang tak lain adalah wisata heritage, seperti Pulau Kemaro, Kampung Kapitan, dan Kampung Al-Munawar. Jika saya ingat-ingat, ketiganya memiliki lokasi yang serupa, di tepian Sungai Musi yang membelah kota Palembang. Bukan tidak mungkin, masih ada wisata heritage lain yang ada di tepian Sungai Musi. Asumsi itu dibenarkan dengan diselenggarakannya acara Pasar Baba Boentjit di kawasan 3-4 Ulu Palembang.

Acara Pasar Baba Boentjit diinisiasi oleh Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Sumsel dengan tujuan mempopulerkan Rumah Baba Boentjit beserta budaya yang ada di sekitarnya. Mengangkat tema “Di Tepian Musi Kita Bersama”, acara ini menjadi ajang untuk masyarakat Palembang untuk bersama-sama mengenal dan merasakan warisan budaya yang ada di tepian Sungai Musi.

Hai, Guys! Pasar Baba Boentjit tidak menerapkan Harga Tiket Masuk alias GRATIS. So, kalo ada yang memberikan tiket masuk dan meminta bayaran, tolak aja. . . Diingat ya, shuttle ketek dan masuk ke area Pasar Baba Boentjit: GRATIS! . . Yang perlu kalian bayar adalah tarif parkir kendaraan, makanan, minuman dan souvenir yang memang dijual di sana. . . Tujuan kami, Generasi Pesona Indonesia Sumatera Selatan (GenPI Sumsel) mengadakan Pasar Baba Boentjit ini, selain untuk membuat destinasi wisata baru, adalah untuk memberdayakan masyarakat sekitar destinasi, membuat masyarakat mencintai pariwisata dan menjadikannya sebagai salah satu sumber mata pencaharian. . . Bayangkan, Guys, sebagai generasi millenial kita telah berperan menggerakkan roda perekonomian. Hidup terasa lebih bermakna. . . Mimin jadi terharu. Yoks, kita haru-haruan dan seru-seruan di Pasar Baba Boentjit. . . #pasarbababoentjit #genpisumsel

A post shared by Pasar Baba Boentjit (@pasarbababoentjit) on


Pasar Baba Boentjit, Di Tepian Musi Kita Bersama

Gelaran acara ini berlokasi di Rumah milik Baba Ong Boen Tjit tepatnya di Lorong Saudagar Yucing No. 55 RT 050 RW 002 Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1. Rumah Baba Boentjit memiliki halaman yang luas dan tepat berada di tepi Sungai Musi. Oleh karena itu, walaupun untuk menuju ke lokasi dapat melalui jalur darat, namun lebih disarankan melalui jalur sungai dengan menggunakan perahu kecil / perahu ketek. Saya sendiri memilih memarkirkan kendaraan di sekitar Benteng Kuto Besak (BKB) lalu menggunakan perahu ketek dari Dermaga BKB yang berada tak jauh dari ikon baru kota Palembang, Tugu Belido. Biaya untuk naik perahu ketek berkisar antara 5.000 – 10.000 rupiah, tergantung dari jenis perahu dan jumlah penumpang. Kalau yang ingin menumpang tak banyak dan butuh cepat, bukan tidak mungkin harga lebih mahal.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Menyusuri Sungai Musi dengan perahu ketek dapat menjadi satu aktivitas menarik. Kita dapat melihat kokohnya Jembatan Ampera yang diresmikan sejak tahun 1965 yang juga menjadi ikon kota Palembang. Semakin mendekat ke arah 3 Ulu, kita dapat menyaksikan pembangunan lain di kota Palembang yaitu proyek Jembatan Musi VI yang tentu telah dinantikan untuk segera selesai. Hanya butuh waktu 5 – 10 menit dari Dermaga BKB untuk sampai ke Rumah Baba Boentjit.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Halaman luas yang berada tepat di depan Rumah Baba Boentjit dijadikan sebagai area pasar. Layaknya pasar, terdapat aneka pilihan kuliner yang dijual untuk memanjakan mulut dan perut para pengunjung. Tak perlu khawatir, area makan pun disediakan lengkap dengan banyak tempat duduk dan meja-meja. Kuliner apa yang ditawarkan? Tentu saja kuliner khas Palembang mulai dari pempek, rujak mie, tekwan, laksan, burgo, dadar jiwo, model, kue maksuba, pempek tunu, sarikaya, gandus, otak-otak, es kacang, pindang, dan kemplang. Pempek dan Kemplang Tunu menjadi salah satu sajian yang diunggulkan di lokasi ini karena masyarakat di area Rumah Baba Boentjit ini memang melakukan aktivitas membuat panganan tersebut sehari-hari.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Melihat Tradisi Pengrajin Daun Nipah

Kenyang menikmati sajian justru membuat saya ingin bergerak lebih dan menemukan beberapa pengrajin nipah di pojokan Pasar Baba Boentjit ini. Memiliki nama ilmiah Nypa fruticans Wurmb, nipah adalah tumbuhan yang bisa tumbuh di dekat aliran sungai yang berair agak tawar atau rawa-rawa. Tak heran, tumbuhan nipah banyak tumbuh di area pesisir Sungai Musi. Tumbuhan nipah dapat dimanfaatkan baik buah, daun, tangkai daun, dan pelepah nipah.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Untuk masyarakat Kelurahan 3-4 Ulu, daun nipahlah yang diolah untuk menghasilkan kerajinan dan rokok pucuk. Kerajianan yang dapat dibuat dari daun nipah antara lain tikar, tas, topi, keranjang anyam, bahkan atap atau rumah. Umumnya, para pengrajin akan menganyam daun nipah yang memiliki bentuk mirip janur kelapa tersebut untuk menghasilkan kerajinan. Pantas saja di area gerbang pasar tadi banyak daun nipah yang bertumpuk dan keranjang anyaman warna warni. Kerajinan dari daun nipah cukup tergantung dengan cuaca karena butuh waktu untuk mengeringkan daun nipah untuk selanjutnya diproses menjadi anyaman.

Sejak puluhan tahun silam, sudah lama masyarakat Kelurahan 3-4 Ulu memiliki pekerjaan sebagai pengrajin nipah. Hal ini menjadi sebuah tradisi yang berlangsung turun temurun dan semoga tetap terjaga.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Bertamu ke Rumah Baba Ong Boen Tjiet

Baba adalah sebutan untuk laki-laki dewasa Tionghoa – Peranakan. Juga memiliki makna ayah dalam bahasa Mandarin. Baba Ong Boen Tjiet adalah seorang pengusaha keturunan peranakan yang terkenal di Palembang tempo dulu. Tak heran jika rumah Baba Ong Boen Tjiet memiliki halaman yang sangat luas.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Rumah milik Baba Ong Boen Tjit ini diperkirakan telah berusia lebih dari 300 tahun dan kini ditempati oleh keturunan kedelapan dari Baba Ong Boen Tjiet. Memiliki atap berbentuk limas dan berbahan utama kayu, rumah Baba Ong mirip dengan rumah khas Palembang. Perbedaan yang mencolok tentu berada di ornamen yang ada. Ukiran-ukiran dengan tulisan Tiongkok terpasang di beberapa pintu dam sisi rumah. Tak hanya itu, interior di dalam rumah pun sarat akan kekhasan budaya Tiongkok seperti adanya lampion, guci-guci dan area untuk memanjatkan doa.

Para pengunjung dapat beristirahat dan berkumpul bersama di ruangan bagian depan rumah ini yang cukup luas. Jika ingin berfoto pun, pengunjung dapat berfoto baik di dalam maupun di luar rumah untuk mendapatkan hasil foto yang instagrammable. Di bagian belakang rumah terdapat beberapa kamar yang digunakan oleh keturunan Baba Ong Boen Tjiet.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Di sebelah Rumah Baba Ong Boen Tjiet, juga terdapat bangunan rumah yang lebih kecil yang pada acara ini digunakan sebagai galeri hasil karya fotografi. Foto-foto didominasi oleh foto yang memiliki nilai terkait dengan keturunan Tionghoa seperti aktivitas berdoa, pagoda, perayaan Imlek, dan lainnya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Untuk berkunjung ke Rumah Baba Boen Tjiet menurut saya waktu yang tepat adalah sore hari karena tidak terlalu panas. Setelah puas berkeliling di Rumah Baba Boen Tjiet, kita dapat kembali lagi ke Dermaga BKB dan menikmati matahari yang mulai terbenam saat menaiki perahu ketek di Sungai Musi.


Tiga hari lagi menuju Pasar Baba Boentjit, Guys! . . Pasar Baba Boentjit ditujukan untuk semua kalangan usia dan minat. Mulai dari generasi old hingga generasi now. Mulai dari yang suka selfie, suka masak, suka makan, sampai yang suka nulis, semua minat dapat terpenuhi di sini. Pasar Baba Boentjit menawarkan paket lengkap untuk kalian semua, Guys. . . Acara yang akan dipandu oleh @fikrihkl dan @sisiliasaharatris dan dimeriahkan oleh @dindakirana.s , bintang Film Sahabat Langit dan Sinetron Kepompong ini akan diselenggarakan pada Hari Minggu, 26 November 2016, pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai di 3 – 4 Ulu Palembang. . . Follow dan kepoin terus @pasarbababoentjit dan pastikan kamu ada di Pasar Baba Boentjit ya, Guys. . . Cant wait! . . #pasarbababoentjit #genpisumsel @genpi_id @donkardono @mansyurebo @ir_ariefyahya @kemenpar @pesonaid_travel @genpisumsel

A post shared by Pasar Baba Boentjit (@pasarbababoentjit) on

Acara Pasar Baba Boen Tjiet kali ini berlangsung hanya 1 hari, tepatnya pada hari Minggu, 26 November 2017. Mengintip apa yang dituliskan di akun instagram Pasar Baba Boentjit, beragam aktivitas lain juga dilaksanakan seperti games, demo masak, drama, serta ada pula pertunjukan musik akustik dan tari kreasi.

Sebagai destinasi wisata baru di Palembang, bukan tidak mungkin jika Pasar Baba Boen Tjiet akan rutin diadakan setiap tahunnya. Sebagai pengunjung, saya ingin memberi beberapa masukan seperti adanya informasi lebih terkait hal-hal yang ditonjolkan misalnya ada booklet atau informasi yang bisa dibaca pengunjung di tempat misalnya tentang siapa Baba Ong Boen Tjiet atau tentang tanaman nipah dan tradisi kerajinan nipah. Selain itu, mengingat cuaca Palembang yang cukup terik, dalam pandangan saya, mungkin ada baiknya jika spot pengrajin nipah diberi payung besar agar pengrajin lebih nyaman untuk bekerja (tidak terlalu terkena terik matahari).

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Rumah Baba Ong Boen Tjiet dan Kerajinan Nipah di Kawasan 3-4 Ulu tidak hanya dapat dijadikan wisata karena memiliki nilai sebagai heritage Palembang. Tetapi juga membawa pesan untuk menghargai dan mempelajari keanekaragaman budaya yang ada di Palembang. Selain itu, pelajaran juga bisa berasal dari arsitektur dan interior rumah Baba Ong Boen Tjiet dan cara membuat daun nipah menjadi lebih bernilai menjadi sebuah kerajinan. Terima kasih kepada tim GenPI Sumsel yang telah menghadirkan Pasar Baba Boen Tjiet, semoga semakin banyak destinasi wisata di Palembang dan sekitarnya.

 

Lomba Blog Reportase Pasar Baba Boen Tjiet – source : Twitter @AboutPalembang
nb : Tulisan ini didaftarkan untuk Lomba Blog (Reportase) Pasar Baba Boentjit.

Written by

4 comments / Add your comment below

  1. Palembang….akhir-akhir ini sering mencuri perhatian, apalagi semenjak SEA Games pernah berlangsung di kota ini dan tahun depan ada ASIAN Games. Salah satu hal yang menarik perhatian saya dari Palembang ini adalah keberadaan pemukiman2 dari berbagai etnik yang sudah ada sejak zaman dahulu kala dan itu sangat unik, semoga suatu saat aku bisa berkunjung ke kota pempek ini dan menginjakan kaki di pulau sumatera…

Silahkan meninggalkan komen :) Aku bakal bw balik....