Sebuah ajakan dari mba Nike Andaru muncul di grup Blogger Palembang Kumpul dan Goodreads Palembang. Ajakan untuk melakukan Kopi Darat alias Kopdar Tukar Buku. Menarik? Ya, kapan lagi kira bisa kumpul bareng sama-sama pecinta buku. Aku pun datang di acara Kopdar Tukar Buku Palembang yang diadakan pada tanggal 8 Februari 2020 lalu di Dr. Steak. 

Kopdar Tukar Buku Palembang

Sepertinya, sudah beberapa kali mba Nike mengajak teman-teman Goodreads Palembang untuk kopdar. Tapi, aku belum sempat hadir karena pernah ajakan itu pagi di Kambang Iwak. Nah, kebetulan acara Kopdar Tukar Buku ini siang dan anakku juga bisa dibawa, aku pun bisa ikutan acara ini walau telat sih. 

Saat aku datang, beberapa orang yang kukenal sudah hadir dan asyik diskusi. Ada bicik Tika, mba Ira, mba Suzan. Menyusul ada Jony dan Umi Lya. Aku juga akhirnya berkenalan dengan Kak Rizma, Jati, dan Nada. 

Diskusi Seru di Kopdar Tukar Buku Palembang
Diskusi Seru di Kopdar Tukar Buku Palembang 1 – foto : Bikcik Tika

Acara dimulai dengan perkenalan lalu share apapun tentang dunia perbukuan. Aku sih cerita tentang buku terakhir yang kubaca, terus problemku yang ngerasa kalau susah banget baca buku non fiksi. Kayaknya sih ini problem banyak orang ya. 

Ada pembicaraan yang seru juga terkait urusan buku dan profesi kedokteran. Ada pula saran-saran untuk yang mencoba membaca buku non fiksi. Memang gak bisa sekali langsung selesai buku non fiksi. Dibaca dengan santai aja, pagi-pagi boleh tuh pas otak masih fresh. 

Namanya juga acara Kopdar Tukar Buku, setiap peserta wajib membawa buku untuk ditukarkan. Jadi setiap buku yang dibawa akan dipajang di atas meja. Setiap peserta bergiliran untuk mengambil buku yang diinginkan. Kalau ada yang mau juga? Ya kita putuskan secara musyawarah siapa yang mau membawa, pakai cara suit aja lah. 

Selain tukar buku, peserta juga boleh membawa buku untuk didonasikan. Jadi buku yang didonasikan juga boleh diambil oleh peserta kalau berminat. 

Nah, aku bawa buku Catatan Juang yang diambil oleh mba Suzan. Lalu, aku memilih buku Simbiosa Alina yang dibawa oleh Bikcik Tika. 

Foto bersama peserta Kopdar Tukar Buku Palembang 1
Foto bersama peserta Kopdar Tukar Buku Palembang 1

Kopdar Tukar Buku direncanakan akan rutin diadakan tiap bulan. Sayangnya, di bulan Maret ini aku tidak bisa datang karena masih dalam perjalanan pulang dari Lampung tanggal 7 Maret kemarin. Semoga di bulan April aku bisa bergabung. 

Review Simbiosa Alina

Simbiosa Alina adalah buku kumpulan cerita pendek / cerpen. Buku ini ditulis oleh Mas Sungging Raga dan Mas Pringadi Abdi. Ada 20 cerpen di buku ini yang dibagi rata, alias masing-masing penulis menulis 10 cerpen. 

Review Buku Simbiosa Alina hasil Kopdar Tukar Buku Palembang
Belum sempat foto sama bukunya, sumber : Gramedia Digital

Tema umum di masing-masing cerpen masih seputar percintaan dan romantisme. Namun, penyampaiannya mungkin sedikit tak umum dan memiliki plot twist di akhir. Beberapa cerpen menampilkan tragedi.

Tingkat bahasa yang digunakan menurutku begitu sastra. Bukan bahasa santai yang dipakai di novel-novel metropop atau fiksi populer yang biasa kubaca. Jujur saja, aku jarang membaca kumpulan cerpen apalagi bahasanya agak ‘tinggi’ untukku jadi aku membaca buku ini harus pelan-pelan banget dan jadinya nyeleseinnya lama banget. 

Selain itu, banyak juga pemaknaan yang perlu dilakukan. Kadang kerasa absurd sih, tapi mungkin itulah sastra yang belum begitu aku pahami. Di beberapa cerita, lokasi-lokasi yang ditulis oleh Mas Sungging Raga mengambil setting di Inggris. Sementara Mas Pringadi ada yang mengambil setting di Lombok. Setahuku mas Pri juga berasal dari Sumatera Selatan jadi ada hal-hal terkait yang diangkat di dalam ceritanya, salah satunya urusan tempoyak.

Dari membaca buku ini aku merasakan bahwa aku masih banyak pr dalam membaca buku. Aku juga harus baca buku lebih banyak lagi. Biar pembendaharaan kata makin banyak dan imajinasi juga makin tinggi.