Sharing Room #1 : Basic Photography with Fuji Guys Indonesia Region Palembang

Pernah ga sih punya barang tapi kita masih gak kenal betul sama barang yang kita punya?

Aku sering. Plis lah, temani aku dalam kegundah gulanaan dan kenistaan ini.

Jelek kok ngajak-ngajak. Hehehe

Menurut buku Generasi Langgas-nya Yoris Sebastian, aku yang selalu ngakunya masuk dalam generasi milenial (bahkan kadang masih dikira muka generasi Z) adalah generasi yang suka belajar dan punya karakter suka berkomunitas. Tipikalku juga tipikal orang yang gak bisa belajar sendiri dan selalu ngerasa belajar ramean itu lebih enak. Oleh karena itu, sering banget aku nyoba ikut-ikut kelas online, workshop offline, atau sekedar kumpul-kumpul komunitas tertentu.

Beberapa waktu yang lalu, aku ikutan kumpul komunitas Fuji Guys Indonesia Region Palembang (FGI Palembang) sekaligus sharing room pertama yang diadakan setelah komunitas region Palembang tersebut dideklarasi tanggal 18 Februari 2018.

Apa itu Fuji Guys Indonesia Region Palembang?

FGI Palembang adalah komunitas fotografi, sesama pengguna kamera Fuji (didominasi oleh yang seri X / mirrorless). Dengan ikut komunitas, selain nambah ilmu tentang kamera dan fotografi, juga pasti nambah teman dan kalau pengen hunting bisa gak sendirian lagi.

Kenapa sih ikutan acara ini?

Temanya menarik, yaitu ‘How to Get Closer with your “Buddy”‘. Kayak yang aku bilang di awal, aku ngerasa masih ga kenal betul sama kamera yang sering aku pakai. Ngakunya sih beli biar bisa foto keren, ujung-ujungnya mode yang dipake seringnya automatic terus.

Siapa aja yang datang?

Yang datang kebanyakan dari member FGI Palembang dengan kaos hitam FGI yang kece beut deh (jadi pengen pesen juga). Ada juga member FGI yang ngajak temennya supaya keracun jadi Fuji Guys, ada juga cungpret macem aku yang ujug-ujung ga kenal saha eta teh tapi ikutan aja.

Ngomongin apa aja?

Setelah ngobrol-ngobrol singkat perkenalan tentang FGI Palembang, kelas dimulai dengan materi Fotografi Dasar. Kali ini, mba Poppy Harun yang menyampaikan materi.

Pelajaran fotografi dasar dimulai dengan Analogi Kamera dan Mata, dilanjut dengan bahasan tentang kamera analog, kamera digital (khususnya SLR), dan kamera mirrorless.

 

Lanjut ke materi tentang berbagai macam lensa kamera yang dibutuhkan untuk fotografi. Pernah tau ga cara baca lensa? Aku sih belum dan akhirnya tau berkat kelas ini.

Lensa kamera juga dibagi menjadi :

  • Lensa normal, biasanya fokusnya 50mm
  • Lensa wide angle, fokus pada lensa umumnya < 50mm
  • Lensa Tele, fokus pada lensa umumnya > 50mm
  • Lensa Zoom, memiliki beberapa buah lensa untuk mengubah titik fokusnya. Ukurannya bervariasi (28-80mm, 25-70 mm, 80-200 mm, atau 70-300mm).

Materi tentang lensa juga erat dengan focal length (panjang titik api). Biasanya, lensa tele punya focal length yang panjang. Nah, focal length yang panjang artinya sudut pandangnya untuk menangkap objek semakin kecil. Ini pelajaran penting rasanya kalau mau beli lensa. Jadi, tujuannya mau foto apa? Doyan landscape, mending beli lensa yang focal lengthnya pendek biar objek ditangkap lebih luas.

Lanjut ya…

Bahasan lain adalah tentang Eksposure alias banyaknya cahaya yang jatuh dalam proses pengambilan foto. Intinya gimana hasil foto itu pas, gak under exposure (alias gelap) atau over exposure (alias keterangan). Ternyata, exposure itu erat sama segitiga biru (bukan, bukan merek tepung bikin kue). Segitiga exposure adalah ISO, Aperture, dan Shutter Speed.

Apaan tuh?

  • Shutter Speed adalah alat untuk mengatur kecepatan cahaya yang masuk. Ukurannya 1 per sekian detik, seperti 1/2, 1/4, dst sampai ada juga 1/500. Semakin cepat shutter speed, cahaya yang masuk akan semakin kecil, gambar akan semakin gelap.
  • ISO adalah standar untuk kategori film yang digunakan dan mengindikasikan besar kepekaan film terhadap cahaya. Susah ya mahaminnya. Intinya kalau semakin kecil angka ISO, semakin kurang peka terhadap cahaya. Kalau mau motret tempat gelap, disarankan pakai ISO yang tinggi.
  • Aperture adalah bukaan diafragma pada lensa. Fungsi dari diafragma adalah mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk melalui lensa. Ukuran diafragma dilambangkan dengan f/angka seperti f/2, f/5,6, dst. Angka yang makin besar (misal f/16 – f/22) ternyata menunjukkan bukaan lensa (aperture) makin kecil, bisa jadi depth of field (bokeh) makin lebar atau foto semakin gelap.

Sebenarnya ada bahasan juga tentang white balance. Yang aku ingat ini konsep agar hasil foto dapat tampil seakurat mungkin. Nah, di kamera Fuji seri X, sudah ada semacam setting otomatis kalau mau menampilkan warna tertentu, dengan memilih mode Adv lalu pilih aja warna yang mau
ditampilkan.

Materi terakhir adalah tentang tujuan memfoto untuk menangkap moment atau dokumentasi, menangkap ekspresi, berkomunikasi secara visual, atau pekerjaan.

Belajar doang nih?

Ya engga dong, ada makan juga, ada ngopi juga, ada kuis juga pake Kahoot yang ternyata seru banget, dan tentu aja foto-foto bareng.

Abis sharing room ini ngapain lagi?

Sepertinya sih bakal ada sharing room lanjutan. Pengennya sih bahas tentang framing dan komposisi kamera.

Kalau aku sendiri, abis ikutan ini berasa pengen belajar terus. Mulai berani nyoba pakai mode manual (yang dulu automatic terus). Aku jadi tau ternyata dulu nyoba pake mode manual terus foto hasilnya gelap terus (di ruangan gelap) karena ISO-nya rendah.

Buat para kaum pembeli barang tapi tak pernah baca manual book macam aku, ikutan sharing room macem ini berasa banget belajarnya. Apalagi lirik kanan kiri udah pada jago gitu, jadinya kan pengen ikutan jago. Sekarang mah belum, kudu latihan terus.

Adios, amigos, buntos.

 

nb : beberapa foto diambil dari grup FGI Palembang 🙂

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)