Melestarikan Hutan Indonesia demi Masa Kini dan Nanti

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang

(Ibu Pertiwi – Ismail Marzuki)

Lagu Ibu Pertiwi karya Ismail Marzuki tak hanya kerap dikumandangkan ketika perayaan hari kemerdekaan Indonesia saja. Lagu kini sering pula mengalun untuk menjadi backsound berita bencana alam yang terjadi di Indonesia.

Pada Maret 2019 lalu, kita mendengar ada banjir bandang di Sentani, Provinsi Papua. Diperkirakan, wilayah Sentani masih berpotensi longsor dan banjir bandang di masa depan. Menurut Ketua Tim Tanggap Darurat Badan Geologi, Agus Budianto, kejadian banjir bandang terjadi akibat adanya sumbatan atau bendungan alami yang dikontrol oleh faktor bentang alam dan kondisi geologi yang dipicu curah hujan tinggi dalam waktu singkat.

Infografis Banjir Bandang Sentani – sumber : BNPB

Rekomendasi juga diberikan oleh Tim Tanggap Darurat sebagai upaya pengurangan dampak ancaman bahaya tanah longsor maupun banjir bandang, antara lain dengan menjaga alur sungai tetap lancar melalui menjaga kelestarian hutan di wilayah pengunungan Cycloops. Selain itu diperlukan adanya naturalisasi jalur sungai.  (sumber : web BNPB)

Menjaga kelestarian hutan sangatlah penting bagi Indonesia. Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor kerap terjadi. Lalu hutan yang gundul menjadi yang disalahkan. Padahal, manusia pun memiliki andil terhadap terjadinya bencana alam.

Beruntung, saya mendapat kesempatan untuk hadir dalam acara “Forest Talk With Blogger Palembang” pada Sabtu, 23 Maret 2019 lalu di Kuto Besak Theatre Palembang. Tak hanya mengungkapkan pentingnya hutan untuk alam Indonesia, tetapi juga melihat potensi lain hutan sebagai pendukung peningkatan perekonomian secara berkelanjutan.

Forest Talk with Blogger dan Yayasan Doktor Sjahrir (YDS)

Forest Talk with Blogger merupakan kegiatan yang digagas oleh Yayasan Doktor Sjahrir bekerja sama dengan Climate Reality Project Indonesia. Forest Talk with Blogger 2019 diadakan pertama kali di bulan Februari bersama Blogger Jakarta. Selanjutnya, Palembang menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Forest Talk with Blogger 2019 yang kedua. Setelah itu, Blogger Pontianak akan mendapatkan kesempatan berbincang santai mengenai hutan di bulan April 2019. Bertindak sebagai moderator dalam acara ini adalah Pak Amril Taufik Gobel.

Pak Amril Taufik menjadi moderator Forest Talk with Blogger

Yayasan Doktor Sjahrir adalah sebuah organisasi nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan misi sosial almarhum Dr. Sjahrir. Lembaga ini bergerak di lintas sektoral, termasuk di antaranya adalah bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

Sementara itu, The Climate Reality Project Indonesia merupakan bagian dari The Climate Project (TCP), organisasi nirlaba yang memiliki misi untuk meningkatkan kesadaran publik tentang krisis iklim dan upaya untuk mengatasinya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para blogger dan media dapat berperan aktif dalam mengkampanyekan pentingnya pengelolaan hutan lestari di Indonesia.

Krisis Iklim dan Komitmen Untuk Berubah

Manager The Climate Reality Project Indonesia, Ibu Dr. Amanda Katili Niode membuka sesi Forest Talk with Blogger Palembang dengan topik mengenai krisis iklim yang terjadi di seluruh dunia.

Ibu Dr. Amanda, membuka acara sekaligus menjelaskan tentang krisis iklim global

Pada tahun 2014 lalu, terjadi fenomena cuaca ekstrem, wilayah di Amerika mendingin hingga mencapai suhu -40 derajat celcius sementara wilayah Australia bisa mencapai 50 derajat celcius. Fenomena musim panas dan dingin ekstrem di Australia dan Amerika merupakan bukti perubahan iklim. Sampai pada tahun 2019 ini, cuaca ekstrem juga masih sering terjadi di kedua belahan bumi ini.

Cuaca ekstrem tidak hanya terjadi di Australia dan Amerika saja. Secara global, pada tahun 2018, sudah 60 juta orang terdampak dari cuaca ekstrem ini. Di Indonesia, cuaca ekstrem juga melanda dan tercatat sudah terjadi 2.481 bencana. 97 % bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, yaitu bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter meteorologi seperti kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, tanah longsor. Akibat dari bencana ini, ada 10 juta orang yang menderita dan mengungsi.

Perubahan iklim secara global ditandai dengan peningkatan tinggi muka air laut, peningkatan suhu global, samudera yang memanas dan terjadi pengasaman, es yang meleleh, serta kejadian ekstrem yang terjadi seperti di Australia dan Amerika.

Krisis Iklim Akibat Ulah Manusia – Slide Dr. Amanda

Terjadinya bencana tentu tak terjadi begitu saja. Ada peran manusia yang membuat terjadinya bencana akibat krisis iklim yang terjadi. Kegiatan manusia yang berlebihan membuat timbulnya gas rumah kaca. Gas rumah kaca merupakan gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan proses pemanasan permukaan suatu benda langit seperti yang terjadi di planet bumi. Emisi gas rumah kaca di Indonesia didominasi dari adanya penggunaan lahan / kehutanan (kebakaran hutan) sebesar 61,6%. Sisanya, berasal dari pemanfaatan energi (tambang batu bara), pertanian, industry, limbah, dan transportasi.

Tentunya diperlukan solusi untuk perubahan iklim yang terjadi di Indonesia maupun dunia. Kita bisa melakukan upaya mitigasi untuk mengurangi risiko bencana juga memulai adaptasi untuk mampu bertahan dalam kondisi perubahan iklim yang terjadi.

Upaya mitigasi maupun adaptasi bisa dilakukan melalui diri sendiri seperti dengan mengurangi sampah plastik (misal mengganti sedotan plastik dengan reusable straw dari besi) atau melakukan pemanfaatan ulang sampah plastik (membuat eco-brick, daur ulang sampah menjadi barang baru, dsb), meningkatkan jumlah konsumsi sayur dan buah serta mengurangi konsumsi daging, serta mengurangi konsumsi bahan bakar kendaraan fosil atau mengganti energi untuk kendaraan dari bahan bakar fosil ke listrik.

Sebagai seorang yang bekerja di perusahaan industri kimia, saya menyadari bahwa walaupun mungkin kecil, industri ini turut menyumbang gas emisi rumah kaca. Oleh karena itu, saya cukup bersyukur menyadari bahwa perusahaan tempat saya bekerja telah mendapatkan ISO 50001:2011 Sistem Manajemen Energi. Kesadaran tak hanya dimulai dari diri sendiri saja, namun lingkungan yang mendukung bisa membuat kita bergerak bersama untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim.

Mengelola Hutan, Menyelamatkan Alam

Menjaga kelestarian hutan adalah salah satu upaya yang direkomendasikan untuk mencegah terjadinya banjir bandang. Dengan banyaknya bencana banjir dan tanah longsor di Indonesia, kita bisa semakin paham bahwa hutan di Indonesia kini tak lestari lagi. Apalagi dengan fakta bahwa emisi gas rumah kaca didominasi oleh penggunaan lahan hutan atau kebakaran hutan. Oleh karena itu, perlu kita lakukan pelestarian hutan kembali.
Ibu Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia mengenalkan kami kembali kepada hutan, kondisi hutan Indonesia saat ini, serta hal-hal yang dapat dilakukan untuk membuat hutan lestari kembali.

Ibu Dr. Atiek memaparkan tentang hutan, kondisinya saat ini hingga langkah pelestarian hutan

Hutan merupakan suatu wilayah dengan luasan lebih dari 6,25 ha dengan pohon dewasa lebih tinggi dari 5 meter dan tutupan kanopi lebih besar dari 30%. Membahas hutan perlu disertai dengan pendekatan lanskap atau bentang alam, yang menyediakan framework lebih luas dengan mengintegrasikan hutan, lingkungan alam, sistem mata pencaharian, dan interaksi sosial menuju pembangunan yang berkelanjutan. Sistem yang saling terkait ini tentu akan terganggu jika terdapat komponen yang rusak. Misalnya hutan terbakar, entitas yang ada di dalamnya (seperti binatang) juga bisa terusik.

Jika dulu Indonesia dikenal sebagai zamrud khatulistiwa karena memiliki hutan yang kaya dan rimbun seolah mendominasi area pulau-pulau di Indonesia, kini sepertinya tidak lagi. Hutan Indonesia telah banyak mengalami perubahan, antara lain:

  • Deforestasi Hutan : Perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktifitas manusia, seperti penebangan untuk diambil kayunya.
  • Degradasi Hutan : Perusakan atau penurunan kualitas hutan (tutupan, biomasa dan/atau aspek lainnya)
  • Konversi Hutan : Perubahan hutan untuk dimanfaatkan dengan berbagai tujuan dan kepentingan, seperti alih fungsi / status hutan yang diawali dengan pembalakan, pembuatan ladang untuk masyarakat yang diawali dengan penebangan, dsb.

Perubahan-perubahan tersebut merupakan isu besar yang terjadi di bidang kehutanan Indonesia. Dampak dari ketiganya tentu jumlah area hutan yang berkurang. Hutan yang memiliki kemampuan untuk menyerap karbon pun menjadi hilang. Jumlah karbon yang mampu diserap menjadi berkurang seiring lahan hutan yang berkurang. Tak hanya itu saja, perubahan kondisi pada hutan Indonesia juga membawa dampak berupa bencana seperti banjir, tanah longsor, dan kabut asap akibat kebakaran hutan.

Tentunya, hutan di Indonesia perlu diselamatkan melalui pengelolaan yang baik. Pemerintah bersama dengan berbagai pihak lain seperti swasta dan Civil Society Organisations, kini mulai berkolaborasi untuk mengembalikan fungsi hutan melalui pengelolaan lanskap berkelanjutan. Salah satu cara yang dilakukan adalah melakukan rehabilitasi lahan atau restorasi hutan dari awalnya berupa lahan hasil pembalakan atau ladang / pertanian lahan kering lalu dilakukan penanaman kembali untuk dijadikan lahan pertanian atau perkebunan.

Pembangunan Koridor Ekologi di Kalimantan Barat untuk Menyelamatkan Hutan – Slide Dr. Atiek W.

Mengelola hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, pihak swasta atau Civil Society Organisations saja. Sebagai masyarakat, kita pun bisa berkontribusi untuk mendukung pelestarian hutan melalui cara-cara sebagai berikut:

  • Tidak melakukan pembalakan hutan dan tidak mengubah fungsi hutan menjadi ladang
  • Mendukung hasil hutan non kayu seperti rotan, madu, resin, enfleurasi atau ekstraksi dengan lemak dingin (untuk essential oil), sagu, nipah, biji-bijian, dll
  • Memanfaatkan jasa ekosistem hutan seperti pemanfaatan sumber mata air menjadi air mineral, memanfaatkan hutan sebagai tujuan ecowisata, dsb
  • Mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan yang bisa mengolah hasil hutan menjadi kerajinan
  • Mendukung produksi kayu yang berkelanjutan

Melalui kontribusi masyarakat serta kolaborasi dari pemerintah dengan berbagai pihak untuk melestarikan hutan, tentunya akan bisa menyelamatkan alam dari bencana serta mendapatkan banyak manfaat lain dari hutan yang terkelola dengan baik menjadi hutan lestari.

Potensi Membangun Perekonomian Kreatif di Indonesia dari Pohon Indonesia

Hutan memiliki banyak fungsi dan potensi. Hasil hutan, seperti yang dijelaskan sebelumnya, bukan hanya berupa kayu saja. Namun banyak juga hasil hutan non kayu baik nabati, maupun hewani. Oleh karena itu, kita bisa melihat hutan memiliki banyak kesanggupan untuk mendukung perekonomian Indonesia yang didukung dengan kearifan tradisional dan kemajuan teknologi. Ibu Dr. Murni Titi Resdiana, perwakilan dari Kantor Utusan Khusus Presiden bidang Pengendalian Perubahan Iklim, menjelaskan kepada kami mengenai potensi ekonomi kreatif dari pohon dan hutan Indonesia.

Ibu Dr. Murni Titi Resdiana menjelaskan potensi pohon di Indonesia untuk mendukung ekonomi kreatif berkelanjutan

Sebanyak 193 negara di dunia, telah menyepakati rencana aksi global untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. Rencana aksi global ini dikenal dengan istilah Suistainable Development Goals (SDGs). SDGs merupakan pembaharuan rencana aksi global, setelah Millenium Development Goals (MDGs) berakhir pada tahun 2015.

Pembangunan Berkelanjutan menjadi tujuan negara di dunia saat ini – slide Dr Murni Titi

SDGs / TPB (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) terdiri dari 17 tujuan dan 169 target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030. Hampir seluruh tujuan dalam SDGs memiliki unsur berkelanjutan mulai dari ekonomi berkelanjutan, pertanian bekelanjutan, hingga pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Selain itu, SDGs juga memiliki tujuan untuk bergerak dalam memerangi perubahan iklim beserta dampaknya. Komitmen Indonesia untuk melaksanakan tujuan SDGs tertuang dalam Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017 mengenai Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs).

Berbagai elemen dalam pemerintah pun memiliki andil dalam mewujudkan tujuan dari SDGs seperti Kementerian Lingkungan Hidup yang berusaha melakukan pengurangan emisi di sektor kehutanan, Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang memiliki program prioritas pembangunan desa, dan lain-lain.

Selain peran pemerintah untuk mewujudkan program SDGs ini, masyarakat juga dapat memberikan dukungan kepada program SDGs melalui pelaksanaan konversi lingkungan serta meningkatkan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Salah satu cara untuk meningkatkan ekonomi lokal, dapat dilakukan dengan menanam aneka pohon yang bisa mendukung peningkatan ekonomi kreatif. Hasil pohon tidak hanya kayu saja. Berbagai hasil pohon non kayu bisa memiliki manfaat antara lain sebagai berikut:

  • Sumber Serat dari Pohon : Serat Eucaliptus (Tekstil), Serat Eucaliptus (Tekstil), Serat Bambu (Tekstil), Serat Pelepah Pisang (Tekstil),
  • Sumber Pewarna Alam dari Pohon : Daun Jati (warna coklat), Kulit secang (warna merah coklat), indigofera (warna biru), akar mengkudu (warna merah)
  • Bahan-bahan Kuliner dari Pohon : Daun Jati (minuman atau bungkus makanan), Kulit Secang (minuman kesehatan), indigofera (pakan ternak), Kelapa (gula dan buah), Nipah (sumber gula)
  • Sumber Furniture dari Pohon : Rotan (furniture), Kelapa (furniture olahan kayu)
  • Sumber Barang Dekorasi : Rotan (kerajinan tangan), Lontar (kerajinan tangan), Daun Nipah,
  • Sumber Minyak Atsiri : Merica, Cengkeh, Kayu Putih, Cendana, dll.
  • Sumber Energi Terbarukan : Nipah (bioethanol), Kaliandra Merah,

Dalam mencapai peningkatan ekonomi lokal sebagai tujuan SDGs, selain dengan memanfaatkan berbagai manfaat pohon, dapat pula disertai dengan dukungan untuk kelestarian kesenian dan budaya Indonesia seperti kerajinan tenun, batik, teknik anyam, serta teknik celup ikat atau di Palembang dikenal dengan nama Jumputan. Selain itu, dukungan teknologi juga dapat dilakukan untuk pemanfaatan pohon sebagai minyak atsiri dan energy terbarukan.

Umek yang semakin cantik memakai kain jumputan hasil pewarnaan alami

Memiliki potensi saja tentu akan kurang jika tidak dilakukan dengan berbagai aksi. Saya teringat momen menemani seorang teman yang mencari tekstil dari serat nanas namun sama sekali sulit ditemukan di pusat kerajinan tekstil Palembang. Padahal, kota lain di Sumatra Selatan yaitu Prabumulih, adalah penghasil nanas.

Baca juga : Green Festival 2019 : Masih Menjanjikannya Agriculture Indonesia

Oleh karena itu, perlu dukungan berbagai pihak untuk melakukan peningkatan ketrampilan serta mengenalkan banyak potensi ecoproduct  dan produk unggulan kawasan pedesaaan (prukades) di setiap daerah. Adanya pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga dapat membantu masyarakat desa untuk semakin berdaya bahkan bergerak menjadi socio entrepreneur ecoproduct. Secara perlahan akses market untuk ecoproduk maupun prukades perlu ditingkatkan dan pelaku ekonomi kreatif pun berpeluang untuk dilirik oleh investor lokal maupun global.

Indonesia memiliki potensi untuk mencapai ekonomi kreatif berkelanjutan. Salah satu potensinya dimiliki dari keragaman jenis pohon di Indonesia.

Tas Ecoprint, jadi pingin belajar bikin sendiri

Desa Makmur Peduli Api (DMPA), Bentuk Tanggung Jawab PT APP Sinarmas pada Lingkungan

Asia Pulp & Paper (APP) adalah lembaga yang menaungi sejumlah pabrik pulp dan kertas di Indonesia. Sebagai perusahaan yang memproduksi pulp, kertas, beserta produk turunannya. APP Sinarmas sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan pohon untuk bahan bakunya. Oleh karena itu, APP Sinarmas memiliki komitmen pada praktik bisnis berkelanjutan tak hanya aspek ekonomi tapi juga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial. Salah satu komitmen dari APP Sinarmas diwujudkan dalam program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang disampaikan oleh Bapak Janudianto, Head of Social Impact & Community Development.

Bapak Janudianto menyampaikan tentang Desa Makmur Peduli Api

DMPA merupakan program yang diinisiasi APP Sinarmas sejak tahun 2015 dengan niatan untuk mengajak warga sekitar menjadi garda terdepan dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di sekitar konsesni perusahaan.

Dalam Integrated Fire Management Strategy yang diterapkan oleh APP Sinarmas, Desa Makmur Peduli Api berada dalam fase pertama yaitu fase pencegahan. Melalui DMPA, APP Sinarmas memiliki harapan untuk desa dan masyarakat dapat berperan penting dalam pengelolaan hutan lestari dengan diiringi pencapaian kemakmuran secara bersama dan berkelanjutan.

Konsep 6 Pilar Desa Makmur Peduli Api – APP Sinarmas

Dengan 6 pilar program yaitu Pemetaan Sumber Daya secara Partisipatif, Transfer Teknologi, Perlindungan & Pengamanan Kawasan Hutan, Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Kemitraan Pemasaran Produk, serta Pencegahan & Penyelesaian Konflik, DMPA telah memberikan banyak manfaat melalui kolaborasi dari masyarakat, perusahaan, pemerintah, LSM, serta akademisi.

Berbagai pemberdayaan telah banyak dilakukan dalam program DMPA mulai dari perkebunan, perikanan, peternakan, dsb. Hasil nyata dari program DMPA dapat terlihat di lebih dari 300 desa di lima provinsi di Indonesia.

Aksi Nyata Peduli Hutan dan Lingkungan Indonesia sekaligus Mengenal Potensi Pohon Indonesia

Setelah mendengarkan pemaparan dari  narasumber, para blogger dan media diajak untuk beraksi nyata dalam menjaga lingkungan dan mengenal potensi pohon melalui kegiatan demo masak dan workshop ecoprint.
Demo masak dilakukan bersama chef dari Kuto Besak Theatre Restaurant. Menu yang dimasak adalah Mushroom in Paradise dan Chicken Wings Korean Sauce. Mengubah pola makan untuk mengurangi daging merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan manusia, menghemat biaya kesehatan, dan kerusakan iklim. Jamur dapat menjadi alternatif pengganti daging yang juga kaya akan protein. Jika pernah menonton film Milly Mamet, ada adegan Mamet mengenalkan hidangan mirip daging namun dibuat dari jamur Portobello.

Demo masak Mushroom Paradise & Chicken Wings. Rasanya pengen segera diicip 😀
Tak banyak dan harus bagi-bagi icip sama temen blogger lainnya

Demo masak berlangsung cukup cepat. Kami pun boleh icip-icip hasil masakan chef beramai-ramai.
Setelah demo masak, kami mengikuti workshop Ecoprint yang dipandu oleh Kak Anggi dari Galeri Wong Kito. Teknik pewarnaan eco-print ternyata butuh proses yang panjang. Bahan-bahan yang mampu menghasilkan warna alami seperti daun jati perlu dicari terlebih dahulu. Setelah itu, daun jati perlu direndam untuk dapat mengeluarkan warna. Saya berkesempatan untuk mencoba mencetak motif daun jati pada kain yang telah disediakan. Butuh kesabaran, ketenangan, dan kehati-hatian agar tercipta kain yang indah.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Galeri Wong Kito memang memajang ecoproduct yang dihasilkan oleh unit usaha mereka di dalam area Kuto Besak Theatre Restaurant. Selain itu, ada pula Mellin Gallery yang membuat kerajinan dari kayu-kayu sisa. Hadir pula, UKM binaan dari PT APP Sinarmas sebagai bentuk perwujudan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA).

Produk pilihan dari Desa Makmur Peduli Api (DMPA)

 

Kerajinan Kayu dari Mellin Gallery Palembang
Aneka Produk dari pohon untuk pewarnaan alami oleh Galeri Wong Kito

 


Dari event Forest Talk with Blogger, pengetahuan saya mengenai lingkungan di Indonesia semakin bertambah. Sebagai manusia, kita harus lebih peduli lagi dan lebih berhati-hati dalam bertindak karena ternyata banyak kebiasaan kita yang berdampak kepada lingkungan yang secara perlahan merubah iklim di bumi ini.
Sebagai seorang karyawan di salah satu industri pupuk dan kimia, saya melihat peluang bahwa industri pupuk juga dapat berkolaborasi untuk mendukung kelestarian hutan dan alam mengingat manfaat pupuk adalah untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman dan memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kesuburan. Penting bagi sebuah industri untuk lebih peduli pada lingkungan dan energy secara berkelanjutan, tidak hanya fokus pada faktor ekonomi semata.
Selain itu, secara personal, bagi yang memiliki jiwa untuk bereksplorasi dan bereksperimen, kita dapat pula menjajal untuk mengembangkan produk-produk hasil pohon non kayu sesuai dengan minat kita. Jujur saja, saya jadi penasaran sekali dengan serat nanas dan serat daun pisang untuk tekstil serta teknik pewarnaan alami karena pernah mencoba dengan kulit manggis dan gagal. Hehehe.
Berkontribusi memelihara hutan dan alam adalah tanggung jawab kita sebagai manusia. Kita mendapatkan kehidupan dari alam, maka kita pun harus memberi kebaikan untuk alam. Tak hanya untuk masa kini, tapi nanti di masa depan untuk generasi selanjutnya.

Lestari alamku lestari desaku
Dimana Tuhanku menitipkan aku
(Lestari Alamku – Gombloh)

You may also like

10 Comments

  1. Hutan memang penting banget kita jaga karena hutan paru-paru bumi kita. Kebayang kalau jumlah hutan makin hari makin menipis, tentu akan mempengaruhi kualitas udara yang kita hirup. Itu hal yang sangat sederhana, belum lagi hal-hal kompleks lainnya seperti yang dipaparkan dalam tulisan di atas 🙂

  2. kadang sedih pas ujan, lalu terjadi genangan air yang tinggi, padahal dulu daerah itu tidak pernah tergenang air tinggi.. aku merasakan dampak secara langsung (curhat pengendara motor)

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)