Mail, A Love Letter…… (for my self)

Senin siang ini, sebuah buku yang baru Jumat lalu aku pesan, menyambutku di rumah saat pulang untuk istirahat dari kantor. Sebuah buku berwarna abu-abu (atau silver ya – maafkan saya yang urusan warna-warna agak kacau) dengan tulisan ‘Mail’ tercetak menonjol beserta sedikit ilustrasi layangan dengan kupu-kupu yang menempel pada talinya.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Baca juga : Simple Happiness, Because Happiness Is Homemade

Awalnya aku tersesat ke sebuah website yang menjual buku ini setelah membaca buku Hapiness is Homemade karya Putri Puar (by Puty). Yah jadi inget saya belum selesai nulis tentang buku itu. Jadi, waktu liat postingan tentang buku HiM di blognya kak Puty ini, ada pingback, sebuah review dari Kak Dinda Jou. Terus liat-liat, ternyata Kak Dinda ini juga bikin buku yang berjudul Mail. Jujur, waktu baca deskripsinya di webnya aku sempat skip-skip dan cuma fokus ke paragraf terakhir tentang deskripsi buku itu “Buku ini ditujukan untuk siapa saja. Terutama kepada yang percaya bahwa cinta musti dipelihara dengan segala cara. Bahwa ia harus diperjuangkan. Bahwa ia butuh pengorbanan dan pengertian.”

Entah kenapa, belakangan ini aku suka buku-buku yang kupesan bisa dibilang rada ajaib. Dulu aku paling mentok baca buku-buku yang emang penulisnya sudah punya nama, penerbitnya sudah punya nama, atau gendre dan tipe yang udah jelas aku suka (kayak Metropop atau Amore), atau pesan buku ke toko buku online yang emang jadi langganan. Sejak pesan buku Stories of Rainy Day – Naela Ali via email langsung ke Asobi (yang juga penulisnya), aku jadi cukup berani pesan-pesan buku di tempat yang di luar kebiasaanku. Termasuk, buku Mail ini.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Setelah mengisi form pemesanan, aku langsung dapat email tentang pembayaran. Setelah itu, diingatkan lagi via whatsapp oleh Kak Dindanya langsung, bahwa ada penawaran request tulisan apa kalau mau. Hmm, jujur saat itu aku lagi nge-blank, ga tau mau minta ditulisin apa, jadi ga kubalas, cuma balas bukti tranfer aja. Ternyata ada sebuah amplop kecil dalam buku ini beserta surat dengan pesan akhirnya bertuliskan ‘Have faith in love, always!’.

Hidup adalah kepingan-kepingan yang terserak. Menyusunnya, butuh waktu. Butuh kesabaran.

Itu adalah beberapa kalimat yang terdapat di buku ini. Penasaran, apa maksudnya yang akan diceritakan di dalam buku ini.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Begitu, bukunya datang, karna memang aku skip-skip baca deskripsi, sempat kaget pas buka, loh, kok malah kayak photobook gini, isinya kebanyakan foto, terus ada tulisan-tulisannya dikit. Karna kebiasaan baca buku yang tulisannya penuh gitu dan biasanya novel dan pada akhirnya aku mencoba mengimajinasikan sendiri apa yang tertulis di novel itu, untuk photobook seperti ini aku perlu beberapa kali mencoba membacanya.

Pertama, aku mulai mengikuti apa tulisan-tulisan di bawah deretan foto-foto terlebih dahulu. Apa sih maksud tulisan-tulisan itu? Ah, kalau disatukan tulisan tersebut akan menjadi sebuah surat untuk seseorang, pasangan hidup Kak Dinda sendiri. Surat tentang seseorang yang bahagia dan semakin bahagia ketika bertemu pasangannya. Namun hidup tak selalu bahagia, ada kalanya hidup jadi membingungkan, ada masalah yang menghadang. Kadang, kita memilih untuk menyingkir agar sakit hati tersebut terlupakan, ternyata kesendirian yang kita pilih ternyata membawa kerinduan kepada orang yang kita sayangi tersebut. Apalagi, jika kita telah berjanji untuk bersama selamanya, seperti sebuah akad yang terucap di hari pernikahan karena adanya cinta. Ada yang bilang, masalah itu bukan akhir dari segalanya, tapi bisa jadi awal dari segala hal yang baru dan yang baik. Deretan tulisan ini, seolah menceritakan tentang bahwa Kak Dinda yang siap untuk memulai kehidupan yang baru bersama pasangannya yang selalu ia rindukan saat sendiri, setelah ia mencoba menyendiri, lari dari sebuah hal yang terasa sakit.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Setelah selesai membaca tulisan sampai habis, aku kembali membaca ulang buku ini sambil melihat foto-fotonya. Foto-foto dalam bingkai berbentuk persegi, layaknya sebuah default foto di instagram pada masanya dulu. Ada yang berwarna, ada juga yang hanya menonjolkan hitam dan putih. Dalam hati, aku merasa iri dan ingin belajar, bagaimana caranya bisa menghasilkan foto seperti ini. Lalu, sambil melihat foto, kubaca kembali tulisan yang tertera di halaman demi halaman, layaknya caption dalam sebuah foto. Menarik, caption dan foto bisa ‘kena’ banget, semacam ada ikatannya gitu. Sebuah rasa penasaran muncul, dalam pembuatan buku ini, mana yang lebih dulu dilakukan, menulis suratnya lalu menyortir foto yang sesuai atau sebaliknya? Soalnya kan foto-fotonya ada yang sudah pernah dipublikasikan di instagram.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Ada sebuah perasaan yang cukup bingung bagaimana aku ungkapkan saat dan setelah membaca buku ini. Intinya gini, beberapa waktu ini aku ngerasa kehidupan terutama hari Senin-Jumat lagi gak stabil banget. Ada kalanya aku ngerasa super galau sampai rasanya pengen mewek terus-terusan karena suatu hal. Buku ini muncul tepat saat waktu aku ngerasa galau banget rasanya, persis apa yang tertulis di halaman 30-31, Ada saat di mana aku hanya bisa melihat hidup berjalan, tanpa bisa menerka kemana arahnya. Aku seolah mendapat kekuatan untuk semangat kembali setelah melihat tulisan di halaman 57, ‘sebab hanya dalam gelaplah cahaya jadi lebih bermakna‘ atau pada halaman 62-63 ‘Kehidupan ibarat jalan yang sangat panjang, menempuhnya, pastilah melelahkan‘.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Hah, ya emang sih, pada intinya permasalahanku untuk urusan Senin-Jumat ini masih belum selesai dan belum tahu juga gimana cara menyelesaikannya. Tapi paling enggak, untuk hari ini, aku lebih bisa menerima tentang hidup ini, ada semangat untuk lebih berani. Semoga besok pun punya semangat yang sama. Ah, semoga awan hitam yang belakangan ini selalu mampir di hari-hariku, gundah gulana yang selalu menyergap di hatiku, bisa segera aku usir, entah dengan berdamai atau melawannya dengan cara lain. Amin.

2 Comments

  1. Unik juga konsep bukunya, lewat foto2 yang bercerita. Sekilas memang terkesan, kok cuma kebanyakan foto ya. Tapi kalau foto bertema gini akan menyenangkan juga membaca pesan2 di bawah fotonya.

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)