Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis : Mendorong Perempuan Berdaya dengan Menciptakan Karya

“Women, like men, should try to do the impossible.

Amelia Earheart (American aviation pioneer and author)

Belakangan sering sekali melintas di berbagai media tentang “Perempuan Berdaya”. Istilah ini juga makin banyak digaungkan oleh para ikon perempuan.

Sebenarnya, isu pemberdayaan perempuan bukanlah hal yang baru. Terbukti, pemerintah pun sejak tahun 1973 sudah membentuk badan khusus yang mengurusi peranan wanita terhadap pembangunan nasional, yaitu, Kementerian Muda Urusan Peranan Wanita. Setelah berbagai dinamika di pemerintahan, saat ini kementerian tersebut bernama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Sudah pasti, ada alasan mengapa menjadi perempuan berdaya dan mendorong pemberdayaan perempuan adalah hal yang terus didorong sedari dulu. Kini isu tersebut semakin penting.

Menjadi Perempuan Berdaya bersama Komunitasi Ibu-Ibu doyan Nulis

Memahami Makna Berdaya

Sebagai perempuan (atau ibu-ibu), belakangan sering dihadapi oleh berbagai paparan tentang citra perempuan (atau ibu) yang sempurna. Pertanyaan apakah aku sudah menjadi perempuan (atau ibu) yang benar pun pernah muncul sesekali. Terkadang, rasa minder atau bersalah akan turut mengikuti setelah pertanyaan itu muncul.

Di sisi lain, ada banyak pilihan hidup yang harus diambil seorang perempuan atau ibu. Ada berbagai pilihan peran yang rasanya harus dipilih dan difokuskan. Terkadang seolah-olah, memilih salah satu pilihan membuat kita menjadi seseorang yang tidak berdaya lagi.

Perasaan bersalah ataupun tak berdaya, baiknya harus segera ditepis. Jika kita bisa lebih memahami makna tentang berdaya dan mengenali diri sendiri, kita bisa lebih yakin akan jalan yang telah kita ambil. Bisa jadi malah kita semakin kuat untuk menghasilkan sesuatu.

Lalu, apa makna berdaya sebenarnya?

berdaya/ber·da·ya/ v 1 berkekuatan; berkemampuan; bertenaga; 2 mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi sesuatu dan sebagainya

kamus besar bahasa indonesia

Sedikit mengambil makna dari pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di atas, aku meyakini bahwa seseorang yang berdaya adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah ataupun segala pilihan yang muncul di dalam hidupnya.

Dari keyakinan tersebut, aku pun coba lebih percaya diri akan segala pilihan yang telah kupilih di dalam hidup ini. Jadi, ketika muncul perasaan minder alias tidak percaya sekaligus tidak berdaya, dapat segera ditepis. Itu karena kita telah mengenal diri kita sendiri dan yakin bahwa kita telah berusaha menjadi seorang perempuan yang berdaya.

Saling Memberdayakan bersama Komunitas Penulis Ibu-Ibu Doya Nulis

Perempuan : Menjadi Berdaya dan Saling Memberdayakan

Ada berbagai tuntutan dan ekspektasi yang diharapkan kepada seorang perempuan, terlebih ketika sudah menjadi ibu. Terkadang kita dipaksa untuk memilih, lalu dianggap salah pilih. Bisa juga ketika sudah yakin memilih, malah dianggap salah karena tidak bisa memenuhi ekspektasi. Padahal, tentu untuk memilih jalan tersebut, kita telah melakukan berbagai pertimbangan dan meyakini pilihan kita.

Adanya Karya Sebagai Wujud Hidup yang Berdaya

Kembali ke dalam pemaknaan terkait berdaya, berani memilih adalah salah satu upaya menjadi seseorang yang berdaya. Pilihan itu muncul setelah kita memahami diri sendiri dan tujuan kita. Namun, aku merasa menjadi berdaya itu harus diwujudkan melalui sebuah karya sesuai dengan jalan yang kita pilih.

karya/kar·ya/ n 1 pekerjaan; 2 hasil perbuatan; buatan; ciptaan (terutama hasil karangan)

KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA

Diperlukan rangkaian proses produktif untuk menciptakan sebuah karya. Karya pun tak selalu sifatnya tangible/tampak. Ada pula karya (sebagai hasil sebuah proses untuk mendatangkan manfaat) yang sifatnya intangible / tak tampak.

Sebuah karya nyata seperti tulisan bisa menjadi wujud seorang perempuan berdaya. Karena tentu menciptakan karya tulisan tersebut setelah melalui proses produktifitas dan memilih jalan menulis sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah. Namun, jika seseorang memilih menciptakan suasana nyaman di rumah sebagai sebuah karya pun, itu sah-sah saja. Lagi-lagi, karya bukan hanya yang tangible, tapi bisa juga intangible. Tergantung, tujuan yang telah ditetapkan oleh seorang perempuan berdaya tersebut.

Saling Memberdayakan dan Menularkan Energi Positif

Walaupun kita yakin akan diri sendiri yang telah berupaya menjadi seorang perempuan berdaya, sentimen negatif masih akan kerap muncul. Pada dasarnya, dalam kehidupan bermasyarakat, bertahan dengan satu keyakinan seorang diri tidak akan mampu untuk mengubah kebiasaan maupun cara pandang.

Sama halnya dengan menciptakan herd immunity (kekebalan masyarakat) melalui vaksin. Agar kita lebih kuat dan yakin bahwa kita telah berjalan menjadi seseorang yang berdaya, kita juga perlu menularkan semangat agar perempuan lain juga menjadi berdaya. Bisa dibilang kita perlu memberdayakan perempuan lainnya.

Kekuatan ibu-ibu ketika bersatu rasanya sudah diakui oleh masyarakat. Terbukti dengan adanya istilah “The Power of Emak-Emak”. Istilah ini kerap diasosiasikan dengan hal-hal negatif seperti kelakuan ibu-ibu yang ‘ngeyel’ ketika ditegur saat belok kiri padahal menyalakan lampu sen ke kanan. Sekarang, saatnya kita mengubah asosiasi “The Power of Emak-Emak” yang biasanya negatif tersebut, menjadi lebih positif.

Berkarya dan Saling Memberdayakan Melalui Komunitas

Melakukan interaksi sosial dan membangun jejaring adalah salah satu cara untuk menularkan semangat menjadi perempuan berdaya. Langkah tersebut juga menjadi upaya untuk saling memberdayakan.

Ya, bertemu dengan perempuan lain yang memiliki cita-cita untuk berdaya di bidang yang sama dan bergabung dalam sebuah komunitas adalah hal yang penting. Dengan bergabung dan bertemu dengan perempuan berdaya lain, kita bisa saling menguatkan dan memberdayakan. Bukan hanya itu, karya sebagai wujud dari upaya kita menjadi berdaya pun bisa dihasilkan.

Untuk para ibu yang memilih berdaya dan ingin berkarya melalui tulisan, bergabung dengan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) akan sangat membantu untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan dalam menciptakan karya-karya berupa tulisan.

Mengenal Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis

Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), yang terbentuk sejak bulan Mei 2010, adalah sebuah berkumpulnya para penulis perempuan di Indonesia. Awalnya komunitas penulis yang didirikan oleh Mba Indari Mastuti ini, memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan agensi naskah terkait penulis buku yang akan diajukan ke penerbit untuk bekerja sama. Seiring berjalannya waktu, karya yang dibuat oleh komunitas IIDN tidak terbatas seputar buku saja. Berbagai media penulisan seperti blog juga diperhatikan oleh komunitas ini.

Ciptakan Karya Bersama Komunitas IIDN

Pada saat ini, telah lebih dari 22 ribu member yang bergabung dalam Komunitas IIDN. Beragam manfaat bergabung bersama komunitas IIDN membuat banyak perempuan mampu menciptakan karya di dunia penulisan. Berbagai manfaat yang dirasakan berada di komunitas perempuan ini, antara lain :

1. Bertemu perempuan dan ibu-ibu lain yang memiliki tujuan yang sama

Perempuan yang berdaya akan memberdayakan

Puty Puar (Empowered ME)

Agaknya, hal itu benar adanya. Kawan-kawan di Komunitas IIDN bisa dikatakan sebagai perempuan-perempuan yang berdaya. Banyak perempuan yang sudah memiliki tujuan ingin menjadi penulis bergabung bersama IIDN.

Berada dalam lingkungan yang dengan energi positif untuk mencapai tujuan bersama tentu memberikan semangat tambahan untuk diri kita. Dengan bergabung di komunitas IIDN, kita menemukan kekuatan bahwa memilih karya berupa tulisan adalah hal yang juga bisa dilakukan oleh siapapun, termasuk kita, seorang perempuan yang juga berperan sebagai ibu.

2. Mendapatkan berbagai kesempatan untuk belajar

Komunitas IIDN memiliki beberapa program rutin yang secara konsisten dilaksanakan melalui media Facebook Group maupun Instagram. Pemberian informasi singkat dan pelajaran seputar penulisan dilakukan melalui program rutin seperti SeninSemangat, #SelasaBlog. #RabuBuku, #KamisKuis, #JumatFIKSI dan #SabtuPUEBI.

Tak hanya itu, IIDN melalui IIDN Writing Academy, juga menyelenggarakan webinar dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi para anggotanya di bidang penulisan. Pada tahun ini, telah dilakukan webinar dan pelatihan seperti : Kiat Menulis Buku Anak Best Seller, Nulis Buku Solo, Kelas Cerpen, Writing with Kids, Kelas Editor, dan Cerdas Bangun Perbukuan Pasca Pandemi.

Adanya berbagai pilihan kelas dan kesempatan belajar, membuat kita lebih mengenal diri sendiri dan bisa fokus ke pilihan topik penulisan yang ingin kita kembangkan di masa mendatang.

3. Mendapatkan peluang baru untuk berkarya dan berbagi kebaikan

Menginjak usia 12 tahun, IIDN telah dipercaya berbagai pihak untuk bekerja sama. Melalui kerja sama inilah, IIDN mampu berbagi peluang-peluang baru untuk para anggotanya. Adanya liputan event, lomba blog, kampanye digital, dan penulisan buku menjadi media untuk para anggota IIDN semakin berkembang dan aktif berkarya.

Ada banyak alasan orang memilih menulis sebagai salah satu media untuk berkarya. Bagiku, menulis menjadi salah satu cara healing dan berbagi informasi yang berisi kebenaran. Namun, ada kalanya semangat menulis sedang turun. Tersedianya berbagai peluang seperti event lomba blog dari IIDN menjadi cambuk untuk berkarya kembali.


Berbagai kegiatan terus aktif dilakukan oleh komunitas IIDN untuk meningkatkan kompetensi dari anggotanya. Alhasil, semakin banyak pula karya-karya yang tercipta dari member IIDN.

Selamat 12 tahun Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis. Terus berbagi kebaikan. Mari ciptakan karya bersama, sebagai perempuan yang berdaya.

Selamat 12TahunIIDN

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *