Akhirnya Bisa Menikmati Membaca e-Book

Akhirnya Bisa Menikmati Membaca e-Book

Aku gak menyangka kalau pada akhirnya aku bisa merasakan lagi “witing tresno jalaran soko kulino”. Namun kali ini ini aku bukan jatuh cinta pada orang lain karena terbiasa ya. Aku akhirnya merasakan kenyamanan baru untuk menikmati membaca e-Book karena terbiasa.

Perjalanan Menikmati Membaca e-Book

Awalnya, aku termasuk yang sedikit ‘antipati’ urusan membaca e-Book. Bukan antipati banget sih, pernah mencoba membaca beberapa file novel dengan format epub (iya sepertinya bajakan, maafkan aku ya teman) dan aku merasa tak nyaman. Pusing, mungkin karena bajakan? Jadi banyak dosa, ga suci haha.

Waktu itu file epub tersebut aku masukkan ke dalam smartphone. Lalu aku coba baca-baca. Entah kenapa, melihat deretan huruf di layar dengan background putih terasa melelahkan. Akhirnya, ya aku kembali pada kebiasaan membaca awal.  Tetap berusaha membaca buku fisik.

Menikmati Membaca e-Book

Walaupun pernah merasa gak enak ketika membaca buku di layar smartphone, aku gak berhenti mencoba untuk membaca di layar smartphone. Untuk cerita ini, fokusnya di membaca buku atau sejenisnya ya. Kalau membaca berita atau blog, ya tahan pasti. Tapi aku belum bisa beralih sepenuhnya ke buku. Aku mencoba membaca majalah terlebih dahulu. Waktu itu masih ada aplikasi Wayang Digital dan Scoop (yang sekarang ganti nama jadi Gramedia Digital). Ada beberapa majalah yang bisa di-download secara gratis. Tapi, urusan buku, masih malas rasanya baca e-Book. Kayak beraaaaaaaaaaaaat aja.

Selalu ada moment yang membuat kita menyadari bahwa kita juga mampu melakukan hal yang awalnya dianggap sulit. Aku yang awalnya merasa berat membaca e-Book, akhirnya memberanikan diri membeli lanjutan dari buku seri Crazy Rich Asian.

Dua buku pertama aku miliki secara fisik. Awalnya baru baca buku pertama lalu berhenti sampai filmnya keluar. Setelah filmnya keluar, aku baca ulang lagi bukunya dan berlanjut sampai buku kedua. Nah, nanggung kan udah baca buku kedua tapi berhenti lagi. Ke toko buku belum bisa tapi udah penasaran. Akhirnya, beli e-book di Google Playbooks jadi solusi.

Udah beli buku mahal-mahal, mosok ga dibaca? Akupun berjibaku menyelesaikan buku “Rich People Problems”. Kadang ketika pergi ke kantor aku membaca sebentar di mobil. Sebelum tidur pun, aku bisa membaca tanpa kesulitan walau berada dalam kegelapan di kamar. Sampai akhirnya aku berhasil menuntaskan buku itu, aku sadar bahwa membaca e-book ternyata nikmat.

Baca e-book, di mana enaknya?

Belakangan, aku tahu semakin banyak aplikasi untuk membaca e-book. Ada iPusnas, Wattpad, Google Play Books, Gramedia Digital, dll. Pilihanku sementara ini jatuh kepada Google Play Books dan Gramedia Digital.

Menikmati Membaca e-Book

Di Gramedia Digital, kita cukup membayar Rp 89.000,- per bulan untuk membaca buku, majalah, dan koran sepuasnya. Memang, bisa aja buku yang kita cari ga ada atau harus dibeli secara khusus. Tapi, biasanya, aku memang tidak mencari buku tertentu di Gramedia Digital ini.

Menikmati Membaca e-Book

Ketika mencari buku yang benar-benar ingin dibaca di smartphone, maka alternatifnya adalah Google Play Books. Biasanya buku yang disediakan berbahasa Inggris. Tapi jangan ragu untuk membaca. Kalau ada kata-kata yang tak dikuasai, kita bisa segera mencari artinya saat membaca. Kayak apa ya, ada translate-annya gitu lah.

Menikmati Membaca e-Book

Sampai saat ini, aku juga masih membaca e-book di smartphone. Belum pakai perangkat khusus atau tablet dengan ukuran besar.

Apa Enaknya Baca e-book?

Baca e-book enak karena pasti lebih ringkas. Kita gak perlu bawa-bawa buku yang berat banget. Bisa juga dibaca di mana aja dan kapan aja. Bahkan beberapa waktu lalu, saat aku harus ‘menunggu’ antrian presentasi dalam rapat, aku berhasil menuntaskan 1 buku. Sungguh, lebih berfaedah dibanding memperhatikan rapat yang isinya banyak debatnya.

Aku juga bukan orang yang memantau buku-buku baru. Sejak ada Gramed Digital, aku menemukan banyak buku yang bebas dibaca. Kadang, ternyata ada buku baru dari penulis yang karyanya aku suka. Aku tau karena berlangganan Gramedia Digital dan akhirnya bisa membaca segera.

Untuk bacaan di Google Play Books, kita bisa mendapatkan arti dari kata-kata yang tak dipahami dengan mudah. Ukuran tulisan juga dapat disesuaikan dengan kenyamanan kita membaca.

Membaca buku sebelum tidur dalam kondisi gelap pun kini bisa kulakukan. Awalnya, ketika belum membaca e-book, kebiasaan membaca sebelum tidur lama kutinggalkan. Apalagi sejak anak punya preferensi untuk tidur di kegelapan. Setelah nidurin anak, pasti bawaan ketiduran juga. Trus kapan bacanya coba? Sekarang, paling tidak ada beberapa halaman yang terbaca setelah anak tertidur.

Apakah Aku Bakal Baca e-book terus?

Jujur saja, menurutku, gak semua buku enak dibaca dalam format e-book. Aku sempat mendownload buku berjudul Couple Recipe di Gramedia Digital dan rasanya lebih enak dimiliki secara fisik untuk dibaca dan dicorat coret bersama pasangan secara langsung.

Belum lagi, sebagai penikmat fiksi, aku juga belum bisa menuntaskan buku-buku non fiksi atau yang memiliki tema sedikit berat dalam bentuk e-book. Untuk buku fiksi, masih bisa kunikmati dan kuselesaikan.

Menikmati Membaca e-Book

Tak semua buku juga sudah ada dalam bentuk e-book. Jadi, bisa saja aku tetap berburu buku-buku fisik. Terlebih, pesona wangi buku baru yang dibuka dari plastik pun masih melekat dan kusenangi. Kadang-kadang, aku juga mengumpulkan buku dengan tanda tangan penulis yang didapatkan melalui Pre-Order. Sehingga, Artinya, bisa saja ketika aku rindu, aku akan kalap membeli buku fisik lagi.

Saat ini, tumpukan buku fisik pun masih banyak. Rasanya jadi pengen kuhabiskan dulu biar rumah sedikit lega. Artinya, ya, aktivitas baca e-Book tetap akan disambi dengan baca buku fisik untuk saat ini.

Kesimpulan

Membaca e-book itu memang awalnya tak nyaman kok. Tak usah memaksakan untuk beralih. Namun, jika kepepet seperti aku, bisa saja jadi menikmatinya. Paling tidak, sekarang, setiap bulan aku bisa membaca dua atau tiga buku setelah memulai membaca e-book. Daripada gak baca sama sekali kan?

Oh iya, kalau pengaruh baca e-book dengan minus atau silindris mata, aku belum nyoba nge-cek. Semoga ga nambah ya. Hahaha

You may also like

31 Comments

  1. Akhirnya ya.
    Aku sejak beberapa tahun lalu pake Kindle, udah setahunan ini tambah di smartphone.
    Setelah langganan premium GD hampir setahun ini, aku merasa kayak punya perpus pribadi, mau baca apa tinggal cari bukunya. hehehe

  2. Aku mana aja asyik2 aja mba, yang penting klo bacaannya enak, tau2 kelar. Enak nya model e book praktis itu..jadi nggak perlu nenteng buku..paling asyik mbaca e book klonpad nunggu mba, jd nggak bosen

  3. Pertama kali kenal e-book itu baca novel karya Ilana Tan, di Google Play buku. Ada 4 cerita yang aku baca, karena penasaran. Trus aku pernah beli e-book non fiksi, kok malah malas bacanya. Kayaknya emang enak baca jenis fiksi kalo ebook

  4. Wah thanks nih mbak infonya, aku selama ini malah nggak pernah nyobain Google Play Book padahal ada aplikasinya. Mau nyobain juga ah baca ebook apalagi ada translate nya hihi ketauan nih English ku berantakan 🙂

  5. waaah baru nih ada gramedia digital dan bisa mengakses ebook di sana
    kemana saja dakuuu hiks..
    yg enak dbaca melalui ebook itu tulisan yang banyak gambar2nya kayak majalah2 gitu sih menurut aku…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *