Seharian Bolak Balik Palembang – Jakarta [Behind The Scene : Main Ke Kantor SetNeg]

Minggu lalu, saya dihubungi seseorang via WhatsApp, sebuah undangan ke Kantor Sekretariat Negara.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya ga pernah menyangka, keinginan ngeblog lagi yang dimulai saat merasa sepi waktu pumping ASI di kantor bakal membawa saya ke beberapa kesempatan menarik tahun ini. Biasanya, dari ngeblog saya dapat undangan untuk ikut seminar atau pengenalan produk atau campaign tertentu. Kali ini saya dapat undangan untuk berkunjung ke Kantor Sekretariat Negara.

Semua berawal saat saya cuti untuk ikutan acara Kemkominfo. Waktu itu ada tawaran workshop blogging, lihat jatah cuti masih ada 1 saya ambil cuti deh. Ternyata dalam workshop itu ada flashblogging, lomba menulis blog saat itu juga. Saya kebetulan dapat Juara Harapan I. Alhamdulillah.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
Boleh dibaca : Flash Blogging Bersama Kemkominfo : Mari Mendukung Kemajuan Indonesia

Saya ga pernah tahu bahwa ada kelanjutan dari acara tersebut. Bu Lasmi dari Tim Komunikasi Presiden menghubungi untuk meminta saya dan teman-teman yang juara 1, 2, dan 3 untuk hadir di Jakarta menjadi narasumber FGD tentang Presiden Jokowi di Mata Bloggers Indonesia.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Kami diminta membuat presentasi dengan tema tersebut. Duh, jujur saja sempat dibuat pusing dengan materi ini. Soalnya rasanya ya netral-netral aja dan kalau saya melihat dari 2 sisi, sisi positifnya lebih banyak. Tapi terlalu menulis positif takut dikira menjilat. Akhirnya saya minta masukan dari beberapa teman dan Bojo untuk meyakinkan saja bahwa pemikiran saya ada benarnya. Ah, sudahlah saya pikir, toh ini momen diskusi, jadi sah-sah saja pendapat saya.

 

Materi presentasi kelar. Sekarang urusan ijin kantor. Jatah cuti yang habis sempat membuat bingung, kira-kira kalo ijin boleh ga ya? pikir saya. Undangan pun dikirim via WA hari rabu pagi. Ijin atasan acc dan ternyata ada cuti tugas negara kalau ada tugas dari instansi pemerintah. Untung banget punya atasan dan kantor yang cukup suportif.

Beberapa teman kantor pun akhirnya tahu bahwa saya diundang dan jadi banyak memberi petuah sebelum saya pergi. Saya maklum sih, di kantor saya emang termasuk yang agak ble’e, cuek, seringnya gangguin orang, tiap jam 9 sama 2 siang selalu nanya ada makanan apa, dan mungkin bikin orang mikir kok ya ada makhluk kayak saya ini hidup di dunia. Petuah mulai dari jilbab, sepatu, tas, baju, sampai disuruh dandan dan senyum. Wajar juga sih dikasih petuah, bawa nama Palembang, jangan bikin malu. Tapi, itu makin bikin saya deg-degan aja.

Waktu keberangkatan saya dan teman lainnya berbeda. 3 undangan lain dari Palembang (Koh Deddy, Putri mewakili Mba Alma, dan Molly) berangkat di hari Kamis pagi. Saya sendiri berhubung ijin cuti hanya Jum’at dan juga faktor ga mau ninggalin anak lama-lama, milihnya berangkat Jum’at dengan flight paling pagi. Toh acara juga jam 1, masih keburu lah.

**Selanjutnya ini bakal cerita panjang**

Pergi sehari rasanya udah kayak mau perang aja. Persiapan mulai laptop, kamera, baju ganti, saya masukkan dalam 1 tas. Walau balik hari, saya kebiasaan prepare lebih sih. Tak lupa pempek dan krupuk juga telah disiapkan sesuai pesanan Koh Deddy. Seperti biasa, saya susah tidur malam sebelum berangkat. Begitu bisa tidur, jam 1 pagi hujan deras dan sempat mati lampu, saya ga bisa tidur sampai pagi. Duh, langsung banyakin doa semoga hujannya cepat berhenti. Agak takut juga menyetir ke bandara pagi-pagi buta sendirian.

Syukurnya hujan mulai reda, tapi saya jadi ga ngantuk karena hujan. Saya sudah lama tidak berpergian sendiri. Sejak di pindah unit dari 2 tahun lalu, saya memang jadi jarang dinas dan berpergian hanya saat liburan dengan keluarga. Padahal sebelumnya juga sering flight paling pagi, balik di hari yang sama dengan flight paling malam. Ke bandara dari rumah pakai motor sendirian sebelum waktu subuh. Karena sudah lama, ya jadi deg-degan juga, seperti baru pertama kali dinas ke Jakarta.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Perjalanan ke Bandara cukup lancar. Sampai di Bandar pukul 4.50 ternyata counter check-in Batik Air belum buka dan antrian sudah memanjang. Ah, subuhan dulu, pikir saya. Kirain bakal berkurang antrian, malah makin mengular. Kata orang lain “wah ada yang ga bener nih, konter juga cuma satu yang buka”. Lagi cek in, panggilan boarding udah mulai, buru-buru deh. Entah gimana caranya, walau antrian masih panjang waktu saya kelar cek in, pesawat bisa nyampai ontime di Jakarta. Btw, Batik Air ini menyediakan in-flight entertainment, jadi kita bisa nonton film di pesawat. Minusnya adalah, headsetnya dijual terpisah seharga 25.000.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Jakarta! Akhirnya sampai juga. Turun di terminal 1C saya bergegas keluar menunggu bis Damri tujuan Gambir. Sudah jadi kebiasaan kalau pergi sendiri, bis Damri jadi favorit. Enak aja gitu berasa tinggi dan melihat mobil lain dari atas. Norak hehehe. Ternyata tarif Damri masih 40.000 dan sekarang di setiap baris ada colokan. Keren lah.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Gambir juga jadi salah satu lokasi favorit di Jakarta. Alasannya? Mudik lebih enak naik kereta, jadi, pasti mampir Gambir sebelum balik ke Palembang atau waktu menuju Purwokerto. Di Gambir pula saya mengisi perut yang sejak pagi kosong dengan…..HokBen. Mungkin norak lagi ya, makan HokBen aja sebegitu senangnya. Iya, kadang saya kangen ga cuma makanan tradisional khas daerah macam Asinan atau Rujak, tapi juga kangen sama makanan merek tertentu yang belum ada di Palembang. Yang paling bikin kangen HokBen kalau saya adalah salad dan sausnya, yang ternyata sausnya kalau nambah sekarang kudu bayar.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya mampir dulu ke hotel tempat rombongan menginap, yaitu hote Amaris Juanda. Gak bisa tidur dari jam 1 pagi bikin mata sepet banget. Usaha tidur sih, tapi merem-merem juga gak sampai pulas. Jam 11 kita udah siap-siap cabut karena Koh Deddy ngajakin makan Es Ragusa.

Baca Juga : Mencicip Es Ragusa, Es Krim Khas Italia di Jakarta

Menjelang jam 1 kami pun bergegas ke Komplek Kementrian Sekretariat Negara. Sampai di Gedung Utama kami disambut oleh Tim Komunikasi Presiden (TKP) yang diwakili oleh Bu Lasmi. Setelah sholat duhur, Bu Lasmi bercerita tentang ruangan yang sedang kami datangi adalah ruangan yang dulu digunakan oleh Bapak Presiden Soeharto, presiden kedua Republik Indonesia. Tak ingin kehilangan kesempatan, kami pun bergantian berfoto di meja kerja Pak Harto.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Akhirnya tiba waktunya diskusi. Pertama kami diminta mengenalkan diri. Ya ampun, saya deg-degan parah banget. Kebiasaan jarang presentasi di kantor, cuma jadi asisten sorot alias asrot (itupun dulu, sekarang jarang) bikin saya gagap seketika. Udah itu, saya merasa tertekan juga sih, branding yang dibawa teman saya lainnya cukup oke dan humanis sekali, sementara saya hanya ibu bekerja yang biasa-biasa saja, ngeblog serius juga baru setahunan, membuat saya minder. Yang saya siapin hanya penyampaian presentasi saja dan itu juga saya deg-degan parah sampai di tengah-tengah merasa seret banget ijin minum dulu. Haduuuuuuh. Malu-maluin tapi ya sudahlah. Kalau ga ada momen ini mungkin saya ga belajar tentang pentingnya kompetensi komunikasi dan aktif secara sosial.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Setelah selesai presentasi, kami dipersilahkan keliling Gedung Utama Kementerian Sekretariat Negara. Kami pun menyempatkan berfoto. Pada kesempatan ini saya belajar sedikit tentang fotografi dari Koh Deddy. Yang saya ingat adalah memang untuk mengambil foto bagus kita perlu fokus bahkan kadang menahan nafas 2 detik. Yep, dia bisa ngambil foto bagus kita-kita. Giliran kita yang ambil jelek kan ga enak hati. Deg-degan setiap habis ambil foto. Takut ga puas modelnya.

Kami pun kembali ke hotel dan melanjutkan aktivitas yang direncanakan masing-masing. Molly akan beristirahat, Koh Ded ada acara bareng Kaskus, Putri mau ke Jakarta Kota bareng temen kuliahnya, dan saya pulang. Dari hotel saya ke Gambir lagi untuk naik Damri.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Langit Jakarta sore itu cerah. Begitu sampai dan menuju pool Damri, dibilang ayo cepat bentar lagi berangkat. Beruntung menurut saya. Jam segitu ke arah bandara pasti macet dan benar saja. Ketika berangkat pagi tadi cukup ditempuh 1 jam, saat malam hari hampir 2 jam di jalan. Deg-degan karena takut ga bisa cek in. Iya, saya lupa terus mau web cek in. Karena kebiasaan bawa anak dan selalu ga bisa web cek in jadi males web cek in sekarang.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya baru tahu lagi, bahwa sekarang di terminal 1 sudah ada area self check in. Untuk yang ga bawa banyak bawaan dan ga ada bagasi ini oke sih. Cuma sekali mampir di terminal 1C, saya cuma tahu tempat makan Food Cetera yang ada diantara terminal 1B dan 1C. Dingin-dingin bawaan laper, saya isi perut sama ramen dan sushi. Buat yang ga bawa bagasi, kalau udah cek in, kita bisa naik langsung lewat eskalator di dekat area self cek in langsung ke lantai 2, area boarding lounge. Ternyata banyak perubahan di terminal 1. Sekarang udah ada playground untuk anak segala.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Jadwal pesawat jam 22.00, ternyata kena delay pula. Alamak, makin malam sampai Palembang. Anak udah cuek ga jelas lagi waktu videocall. Setelah ditunggu, akhirnya boarding juga dan akhirnya setelah seharian ga bisa tidur saya bisa tidur pulas di pesawat. Alhamdulillah. Perjalanan ke rumah juga lancar walau saya bikin kebodohan, lampu mobil ga dinyalain bener, cuma lampu kecil doang. Untung masih selamat.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Perjalanan sehari ke Jakarta penuh rasa deg-degan. Tapi sebenarnya penuh perenungan dan pelajaran juga. Salah satu yang jadi beban pikiran saya ketika perkenalan. Saya merasa bukan apa-apa. Dari kecil berada di lingkungan yang bekerja kantoran, masuk kuliah jurusan yang termasuk ‘ujung-ujungnya ngantor’, dan sekarang bekerja kantoran. Saya melihat diri saya sendiri kurang berjiwa sosial, cenderung diam. Beda dengan teman yang lain. Koh Deddy punya brand sebagai travel blogger, Putri berpengalaman sebagai guru di daerah terpencil, dan Molly mengangkat tema disabilitas yang ia rasakan. Saya kok biasa banget ya rasanya, cuma ibu yang nyambi kerja dan doyan ngeblog.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Pengalaman ini jadi pacuan buat saya, sengaja saya catat dan dokumentasikan biar saya tetap ingat, bahwa saya punya pe-er untuk belajar lagi urusan sosial. Gabung di komunitas ga boleh cuma pasif, sebisa mungkin aktif dan berkontribusi. Semoga di tahun depan saya lebih baik lagi dan semakin bisa berbagi, semakin bisa mengasah jiwa sosial dan berkomunikasi di depan umum.

3 thoughts on “Seharian Bolak Balik Palembang – Jakarta [Behind The Scene : Main Ke Kantor SetNeg]

  1. tahan 2 detik foto biar dak tremor tangan haha..

    btw, kamu ibu muda yang emang berprestasi.. santai, you are what you are.. dan sibuk yaaa pergi pagi pulang malam pp palembang – jakarta kayak palembang – jakabaring 😛

Silahkan meninggalkan komen :) Aku bakal bw balik....