Wisata Sejarah di Kampung Kapitan, Kampung Tionghoa Pertama di Palembang

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, bahkan konon katanya juga masuk dalam jajaran kota tertua di dunia. Maka wajar saja rasanya jika Palembang memiliki banyak lokasi yang mengandung sejarah.

Jika mendengar kata Palembang dan kerajaan, mungkin langsung terbayang dengan Kerajaan Sriwijaya yang berdasarkan prasastinya berada di Palembang dan banyak menguasai daerah di Sumatera. Konon, setelah Kerajaan Sriwijaya runtuh, Palembang sempat dilewati oleh Laksamana Zheng He (Cheng Ho) yang melakukakan pelayaran. Namun jauh sebelum itu, telah ada perantau dari Tionghoa yang menetap lebih dahulu di Palembang dan tunduk kepada Majapahit setelah keruntuhan Kerajaan Sriwijaya.

Kelompok Tionghoa ini bermukim di sebuah kawasan yang lokasinya berada di pinggiran Sungai Musi Palembang. Kini kawasan itu lebih dikenal dengan nama Kampung Kapitan. Disebut dengan Kapitan atau kapten karena seorang dari kelompok Tionghoa (Tjoa Ham Hin) diberi kepercayaan untuk mengatur area ini oleh Belanda khususnya di bidang administrasi.

Kampung Kapitan kini tak hanya didiami oleh etnis Tionghoa. Namun, sisa sejarah yang paling terlihat dari kampong ini adalah kelompok rumah panggung Sang Kapitan yang masih berdiri tegap dan beberapa pagoda yang berada di halamannya.

Terdapat 2 buah rumah panggung yang bersebelahan berdiri menghadap Benteng Kuto Besak di seberang Sungai Musi. Bangunan rumah milik Sang Kapitan memang terlihat masih kokoh, namun kayu-kayunya sudah terlihat sangat tua dengan warna bangunan yang memudar.

Perpaduan budaya jelas terlihat dari bangunan ini. Atap rumah berbentuk limas layaknya gaya rumah di Palembang. Area terbuka di bagian tengah dari bangunan ini mirip dengan rumah masyarakat Tionghoa. Pola bangungan dengan ruang terbuka pernah juga ditemui di Rumah Baba Boentjit, salah satu kaum Tionghoa yang juga terkenal di Palembang. Fungsi dari area terbuka ini adalah untuk jalan masuknya cahaya dan udara ke dalam rumah.

Bangunan rumah ini menggunakan kayu unglen yang memang awet dan tahan hingga ratusan tahun. Sentuhan klasik Eropa sedikit terasa dari pilar-pilar yang tampak kokoh di bagian teras. Sayangnya, cat putih pilar penyangga tersebut semakin memudar bahkan ada yang mengelupas hingga menampilkan bata di bagian dalamnya.

Foto-foto Sang Kapitan terpampang di dinding area dalam rumah yang terbuka. Ada pula beberapa buku yang pernah memuat literasi tentang bangunan ini.

Perabotan kuno khas Tionghoa bisa ditemui di dalam rumah. Terdapat sebuah meja altar untuk melakukan pemujaan kepada leluhur. Beberapa patung dewa juga diletakkan di meja altar. Tak heran, jika hari raya tertentu, rumah ini juga kerap didatangi oleh orang-orang yang ingin melakukan pemujaan. Warna merah yang terdapat di beberapa sisi bangunan seperti pintu dan hiasan lampion.

Di bagian belakang, terdapat beberapa kamar. Kini rumah tersebut ditinggali oleh keturunan Sang Kapitan. Namun, jika dilihat dari kondisinya, sedikit menyedihkan karena banyak kerusakan yang jelas terlihat.

Saat saya datang di tahun 2017 lalu, saya tergelitik untuk bertanya, apakah bangunan bersejarah ini mendapat perhatian dari pemerintah. Sempat dijawab bahwa memang ada beberapa dinas yang datang tapi belum ditindaklanjuti lebih jauh.

Menjelang Asian Games yang diselenggarakan di Palembang, para penggiat pariwisata Sumatera Selatan dan Palembang semakin memperhatikan tempat wisata di Palembang. Tak terkecuali Kampung Kapitan, rasanya saya melihat banyak kunjungan dari komunitas ke Kampung Kapitan ini. Semoga hal tersebut menjadi langkah awal untuk merawat bangunan bersejarah ini dan kelak saat Asian Games sudah siap untuk menjadi destinasi wisata.

Jika berkunjung ke Palembang, boleh melancong sebentar ke Kampung Kapitan untuk belajar sejarah. Kampung Kapitan berlokasi di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang. Jika ingin berkendara dengan mobil, bis, atau motor sampai kampong ini, kita dapat menuju ke daerah Seberang Ulu (melewati Jembatan Ampera jika arah dari bandara), lalu berputar ke arah Pasar Klinik dan Kampung Kapitan ada di sebelah kiri.

Ingin merasakan sensasi lainnya? Naiklah perahu ketek dari seberang Benteng Kuto Besak. Ada seperti perahu getek yang sedang menunggu untuk menyebrangkan orang dari daerah Seberang Ilir ke Seberang Ulu. Hanya perlu sekitar 5-10 menit dengan biaya kisaran Rp 5.000,- s.d Rp 10.000,- per orang untuk sekali jalan.

Nol Kilometer Palembang, Di Mana Ya ?

Sekitar tahun 2013 lalu, salah seorang teman di kampus (Arif Setiawan) bikin Writing Project : #NolKilometer. Intinya sih dia ngajak teman-teman lainnya untuk nulis tentang nol kilometer dari tiap kota.

Waktu itu saya niat banget ikutan project ini. Kebetulan saya domisili di Palembang. Sudah banyak yang bilang kalau titik nol kilometer itu ada di Masjid Agung Palembang. Tapi saya cari-cari penanda nol kilometer yang biasa bentuknya tiang agak seperti trapesium, dengan kode kota dan angka 0.

Contoh penanda Nol Kilometer pada umumnya – sumber : vamosarema.com

Tahun 2013 lalu adalah masa-masa saya doyan banget keliling Palembang pakai sepeda di hari Minggu. Kebetulan saya tinggal di daerah Kalidoni, saya ikutin lah tiang-tiang penanda kilometer mulai dari daerah Pusri. Yang saya temui ada tulisan 0 nya adalah Tiang 0 Pusri. Agak aneh sebenarnya, karena jarak tiang itu dari lingkungan komplek PT Pusri Palembang sekitar 1 kilometer.

Dengan sepeda, saya menyusuri sepanjang jalan mulai dari Jalan Mayor Zen, Jalan RE Martadinata, Jalan Letkol Nuramin, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Veteran, sampai Jalan Jenderal Sudirman Palembang. Tiang-tiang yang menunjukkan kilometer Palembang ada di sisi kiri jalan mulai dari PLM 7 sampai PLM 1. Tapi PLM 0 nya kok ga ada? Sebel deh. Saya sampai nanya beberapa akun twitter Palembang pada saat itu. Semua bilang nol kilometernya ada di Masjid Agung Palembang, tapi begitu saya nanya tiangnya di mana, ga ada yang tau. Ah, batal deh ikutan project ini.

Sampai akhirnya, baru di tahun 2017 saya secara ga sengaja menemukan penanda nol kilometer Palembang. Ceritanya saya ikutan acara Jelajah Palembang bersama Bluebird Palembang. Kita datang ke ikon wisata yang wajib dikunjungi di Palembang, mulai dari Benteng Kuto Besak, Jembatan Ampera, Monpera, dan Masjid Agung Palembang. Dari Monpera ke Masjid Agung, kebetulan tim saya jalan kaki, lha wong tinggal nyebrang. Di perjalanan, ada kotak penanda warna hijau yang ada tulisan angka-angkanya. Penasaran, dan ternyata itu dia, penanda nol kilometer kota Palembang yang beneran ada di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

Nol kilometer atau ada juga yang menyebut Kilometer Nol (Km 0) adalah penentuan untuk mengukur jarak (secara tradisional) lokasi tersebut dengan lokasi lainnya. Untuk Nol Kilometer Palembang tertulis “Awal Jalan Jenderal Sudirman KM : 0 + 000 dan Awal Jalan Riacudu”. Jalan Jenderal Sudirman adalah jalan utama yang berada di sisi ilir (hilir) kota Palembang dan Jalan Riacudu (Jalan Mayjen HM Ryacudu) adalah jalan utama yang berada di sisi ulu (hulu) kota Palembang. Kedua jalan ini dihubungkan oleh Jembatan Ampera (rasanya tak ada nama jalan di jembatan ampera ini).

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Palembang adalah masjid besar yang ada di Kota Palembang dengan yang didominasi dengan warna putih. Arsitektur masjid ini adalah percampuran. Ada unsur arsitektur Eropa yang melalui pintu utama masjid yang besar sementara unsur China melalui atap yang bentuknya seperti atap kelenteng. Menara masjid yang berbentuk kerucut, mewakili arsitektur budaya Indonesia.

 

 

Memiliki halaman yang luas, tak jarang terlihat anak kecil yang bermain bola di sekitar masjid ini. Di area luar terdapat kran untuk area berwudu. Tempatnya cukup terbuka. Jujur, saya sendiri tak terlalu sering mampir untuk masuk ke masjid ini. Sekali waktu saya pernah menghadiri akad nikah teman SMA yang dilaksanakan di masjid ini. Terdapat bangunan yang terpisah-pisah antara bangunan utama (tempat akad nikah) dan bangunan tempat teman saya bersembunyi sebelum acara akad nikah. Ibadah (seperti sholat wajib) yang dilaksanakan di Masjid Agung Palembang bisa juga disaksikan melalui Sriwijaya TV.

Bisa dibilang, di sekitar Nol Kilometer Palembang ini banyak ikon wisata dan kuliner khas Palembang yang berada tak jauh dari daerah ini. Kalau mau berkeliling sambil jalan kaki, ada Jembatan Ampera yang sudah dikenal sebagai ikon kota Palembang, Benteng Kuto Besak yang bersejah, Tugu Iwak Belido, Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) di mana kita bisa naik dan berfoto melihat Palembang dari atas monumen, dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin. Untuk kuliner, selain pempek yang banyak dijual mulai dari mamang-mamang (atau bapak-bapak) di sepeda, ada juga Martabak Har (martabak telor dengan kuah kari), atau aneka pindang di perahu yang berlabuh di atas Sungai Musi di dekat Pasar 16 Ilir. Kalau cuma sehari atau beberapa jam doang sempat mampir di Palembang, keliling di sekitar daerah Nol Kilometer saja bisa mewakili. Kalau mau main agak jauh sedikit pun sebenarnya bisa dikejar untuk menyusuri Jalan Merdeka yang selurusan dengan Masjid Agung, kita akan menemui Kantor Walikota yang bangunannya juga bersejarah serta mampir di daerah Sekanak yang sekarang semakin berwarna atau bisa juga menyusuri Jalan Riacudu di daerah ulu untuk mampir di Komplek Olahraga Jakabaring. Bisa juga menyusuri Sungai Musi, mampir ke Pulau Kemaro, Pasar Baba Boen Tjit, atau Kampung Al Munawar.

Itulah sedikit cerita Nol Kilometer di tempat tinggal saya sekarang. Apa cerita nol kilometer di kotamu ?

Mencoba Menjadi Peri Buku Books On The Go Indonesia

Melihat rak buku yang semakin penuh dan kayaknya kalau beli buku baru lagi bisa dilirikin sama Bojo (dengan tatapan semacam “beli lagi? mau ditaroh di mana?”), saya jadi kepikiran mau mendonasikan buku-buku yang saya punya sih.

Awalnya melihat ada akun instagram yang kalau kita donasi buku ada semacam ‘balasan’ berupa dilukis atau digambar ilustrasi gitu buat kita. Menarik? tentu dong, namanya gratisan. Tapi saya ga berada di kota yang sama dengan akun IG itu, dan diarahkan untuk donasi ke komunitas di kota saya tempati, Palembang. Saya diberi nomer kontaknya dan ternyata dia adalah salah satu perwakilan dari @sobatliterasi28 . Nanya-nanya, ternyata dia buka lapak (semacam perpus gratis) tiap Sabtu malam di Pedestrian Sudirman dan Minggu sore di Kambang Iwak. Okeee, niat saya adalah datang pas dia buka lapak, lalu memberikan di sana. Ternyata mau datang ke sana dan ngasih langsung tuh gagal terus, ada aja alasan, ya kecapekan, ya macet, dll.

Sampai pada akhirnya, ketemu akun instagram @BooksOnTheGoIDN dan menjelajah facebooknya, dapat deskripsi seperti ini

“HALO! Kami adalah PERI BUKU yang suka BERBAGI buku GRATIS.

TAKE – READ – SHARE (AMBIL – BACA – BERBAGI)

TAKE – AMBIL dan bawa pulang buku yang kalian temukan

READ – BACA buku tersebut sampai selesai

SHARE – BERBAGI buku tersebut agar yang lain bisa membaca juga dengan meletakkannya di transportasi publik dan juga di tempat-tempat umum lainnya di Indonesia

Misi gerakan ini adalah untuk menyebarkan MINAT MEMBACA BUKU di Indonesia agar teman-teman mendapatkan INSPIRASI dari BUKU.

Seperti perpustakaan berjalan, kami ingin kalian dapat membaca buku di mana pun dan kapan pun.

Books On The Go! Indonesia adalah bagian dari Books On The Move Global http://www.booksonthemoveglobal.com/

Untuk bergabung: http://bit.ly/daftarBOTG

~ SHARE ONE BOOK, CHANGE ONE LIFE! ~”

Terus saya tertarik, dan order stickernya.

Kenapa saya tertarik ? Tantangan buat saya untuk berani meletakkan buku di tempat umum, kalau ada kesempatan malah bisa naik kendaraan umum untuk meletakkan buku-buku tersebut. Terus ketertarikan lain karena saya merasa orang yang akan mengambil buku bisa jadi karena 2 hal yaitu memang tertarik untuk membaca atau kalau yang tidak tertarik bisa jadi menjadi punya minat untuk membaca. Saya merasa gerakan seperti ini bagus untuk ditularkan, dan di Palembang belum ada.

Setelah sticker datang saya sempat bingung sih, buku mana yang mau saya taruh di tempat umum. Akhirnya saya memutuskan sendiri syarat buku yang saya letakkan di tempat umum : harus sudah dibaca dan ditulis sekilas reviewnya di blog. Buat apa? buat dokumentasi saya sendiri kalau saya pernah punya dan baca buku tersebut.

Akhirnya ada satu buku yang kepilih, yaitu Bajak Laut & Purnama Terakhir karya Adhitya Mulya. Saya sempat mau letakkan di salah satu mall di jalan POM IX, tapi grogi karena ramai. Akhirnya beberapa hari kemudian diletakkan di salah satu mall di jalan R. Sukamto Palembang. Sempat bingung juga sih mau naroh di mana. Ternyata emang bikin grogi sih ngelakuin hal kayak gitu. Bisa aja disangka naroh yang ngga-ngga, diliatin orang, dan lain-lain. Tapi, dari banyaknya yang nge-share di akun IG @BooksOnTheGoIDN bikin saya terinspirasi naroh lagi di tempat lain. Next ya….masih dibaca dan ada yang dibaca ulang, biar ini blog juga ada isinya  hehehe.

Beberapa waktu lalu, ada tawaran buat peri buku BOTG di beberapa kota dari BOTG dan Bentang Pustaka. Di bulan Juli, Bentang Pustaka bekerja sama dengan Books On The Go Indonesia mengadakan event #BerburuKaryaAndrea di kota Bandung, Medan, Palembang, dan Banjarmasin. Ada 3 paket buku karya Andrea Hirata (#AndreaSurprisePackage). Tugas para peri buku (sebutan untuk anggota BOTG Indonesia) adalah men-drop buku di tempat umum, lalu tim akan men-share clue di sosial media. Menarik? ya, sangat menarik untuk saya. Sekalian olah raga. Saya daftar dan ternyata di approve untuk melaksanakan di Palembang. Jadi tanggal 22 Juli 2017 lalu saya ‘mangkal’ di Kambang Iwak Family Park ngedrop paket satu per satu. Dan ternyata seru. Oke, paling ngga untuk saya sendiri saya merasa seru. Saya sempat bikin videonya, silahkan ditonton 🙂

Lalu saya merasa, men-drop buku di tempat umum itu bikin deg-deg-an tapi seru. Ngelakuin bareng Bojo, dia malah penasaran sendiri bukunya ada yang ngelirik terus ngambil ngga. Ngelakuin di depan anak, saya berharap dia jadi memiliki rasa berbagi dan berbagi itu seru. Semoga ini jadi contoh yang baik buat dia. Dan tentunya, saya sendiri jadi terpacu untuk membaca lebih dan menulis lebih (walau cuma cerita baca buku ehei). Rasanya saya juga jadi terkoneksi dengan apa yang saya beri, mungkin kalau ada yang posting dia ngambil buku yang saya drop di tempat umum saya akan merasa lebih bahagia 😀

Semoga, ada yang tertarik juga jadi peri buku 🙂 biar gerakan membaca buku bisa menular.

Snugi and Snarl


It’s a lovely story of unconditional love of Snugi, the gentle cuddly monster and Snarl, a lively wild girl raised by Snugi. It illustrated with gorgeous watercolors by @chiketania
Maybe, there’s another classic story about a creature on a quest to find its family after realize something. Snarl meets a lot of creatures at the forest when she realized she has different body from Snugi and she tries searching her family. But, no one will ever the same as her big Snugi. In the end, they reunited again.
You can order it @pustakalanalibrary


I love this book, sometimes i read it for my baby. it helps me to learn english again (yeah, i think my english capabilities decrease a lot hahaha). Well, the texts are very simple so i must add some explanation from the picture. Hehehe. 

[Buku] Suara Apa Itu? 

Instagram-walking (menjumput istilah dari blog-walking, daripada instagram-stalking kan?) adalah salah satu aktivitas saya kalo nyambi pumping atau si Ndukni sudah anteng (tidur). Selain mantengin akun-akun tentang parenting, asi-menyusui,online shop, saya juga nyari-nyari akun yang menyediakan informasi tentang buku atau perpustakaan anak. Ketemulah dengan @rabbitholeid.
Rabbithole adalah salah satu perpustakaan & pembuat buku anak-anak. Foundernya adalah Devi Raissa


Saya sangat tertarik pada koleksi buku-buku dari Rabbithole, dan waktu buka IG-nya pas ada tawaran paket semua buku Rabbithole. Mumpung baru dapet uang tambahan, maka saya orderlah sepaket lengkap buku Rabbithole. Jika memesan paket lengkap kita akan mendapat potongan harga dan webinar. Untuk webinar saya mencoba beberapa kali mengakses tapi gagal. Mungkin nanti dicoba lagi. Webinarnya bekerja sama dengan Klinik Rainbow Castle (yang saya duga sih foundernya sama juga). Di kemudian hari saya baru tau Rabbithole juga membuka sistem arisan dan ada beberapa buku yang berbahasa inggris.

Dalam paket Rabbithole, terdapat beberapa buku dan petunjuk peruntukan sesuai umur anak juga diinformasikan. Namun, saya agak bandel sih, jadi sesuai preferensi saya. Buku yang pertama saya bacakan adalah 

Suara Apa Itu?

Awalnya dalam paket saya dapat buku softcover dan wayang, di kemudian hari saya mendapat buku hardcover nya. Menurut Rabbithole, pada saat pengiriman kemarin stok yang hardcover lagi kosong. Alhamdulillah jadi punya 2 sih.


Saya memilih buku Suara Apa Itu?, karena bukunya tipis, menurut saya sih enak buat dibacakan sambil tiduran, karena Ndukni belum bisa duduk tegak untuk membaca, sementara kalo sambil tengkurap dia masih suka ‘nyungsep’ kepalanya.


Buku Suara Apa Itu bercerita tentang keluarga di Jakarta yang berolahraga pagi menuju Senayan. Pada saat berolahraga, terdengarlah bunyi-bunyi alat transportasi, mulai dari pesawat, kapal selam, kereta api, sepeda, mobil, motor, dan bis. Selain itu, ada juga gambar becak dan bajaj kalau mau menambahkan cerita. Selain buku, ada juga wayang ayah,ibu, anak perempuan (yang kadang saya identikkan dengan Maheera), dan anak laki-laki (yang kadang sambil berdoa supaya nanti bisa dipakai cerita kalau rezekiny dia adalah adiknya Maheera).


Isi buku ini bagus dan menimbulkan keingin tahuan. Misalnya ada suara Wuzzzz, itu tidak langsung digambarkan dengan pesawat, tapi ada semacam halaman pembatas yang kalau dibalik baru menunjukkan adanya pesawat. 


Yang saya kurang sreg cuma suara kapal selam, habis kalo nyari di youtube nemunya bunyi ngiiiing bukan brubupbup (kayak bunyi suara orang napas di air) dan lagi kalo di jalan raya belum pernah denger ada kapal selam lewat. Hehehe, tapi gapapa itung-itung ngelatih anak imajinasi dan rasa ingin tahu. Saya juga jadinya penasaran sebenernya, mungkin ga ya ada kapal selam di bawah jalan.hahaha.

Kalo ngebacain buku ini, selain pakai wayangnya sih bagusnya ada backsound suara asli dari alat teansportasi ya. Saya ngumpulin di youtube terus saya rekam buat disimpan di iPhone. Hahaha. Selain itu, kebetulan saya sering iseng beli die-cast pesawat, mobil, motor, jadi lumayan lah ada bantuan buat nunjukkin alat-alat transportasi benerannya. Pernah liat di instagram ada yang storytelling buku ini sambil main ukulele. Duh, jadi pengen main dan belajar ukulele deh saya. Hahaha. Belakangan ini saya lihat di katalog Rabbithole, ada versi bahasa inggrisnya. Duh, jadi pengen juga.

Kalau mau minjem atau saya ceritain anaknya boleh loh hubungin saya. Hahaha.