Palembang’s Food Guide : Martabak Telur

Well, kayaknya harusnya sih bikin tulisan ini awal-awal tinggal di Palembang ya. Tapi saat itu kayaknya mood nulisku gak jalan karena dipenuhi kegalauan jiwa raga heu. Semoga tulisan-tulisan ini masih relate dengan kondisi sekarang.

Jadi, aku nih punya status merantau ke Palembang. Keluargaku aslinya berada di satu kota kawasan karisidenan Banyumas, Jawa Tengah. Aku kuliah di Bandung dan menikmati asyiknya hidup di kota yang ramai dan kreatif tersebut. Jadi aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Palembang dan awalnya nge-blank sama sekali tentang kota ini.

 

Kenapa pindah ke Palembang?

 

Gejolak kawula muda yang ingin menjelajah tempat baru dan kemudian aku terjebak hahaha. Jujur di awal aku merasa terjebak, makanya sering ngerasa galau. Makin kesini, makin dewasa kali ya (bilang aja tua), mencoba menikmati saja yang diberi. *Soalnya mencoba kabur gagal terus, huh*

Tulisan ini bakal jadi tulisan pembuka dari seri cerita tentang kehidupan di Palembang. Gimana sempat kagetnya aku sama beberapa hal di Palembang yang rasanya beda banget. Hahaha. Pengennya sih seri ini dibuat khusus jadi kayak Palembang Life Guide. Tapi kok kesannya namanya gitu banget ya?

Intinya sih, aku mau cerita tentang Gagap Palembang yang sempat aku alami. Jadi siapa tau ada yang mau datang ke Palembang, bisa kenalan sedikit sama Palembang dari tulisan ini hehehe. Tulisan pembuka adalah soal…

Martabak Telur di Palembang.

 

Pertama kali aku di Palembang, aku diinepin di wisma tempat aku kerja bareng teman-teman lain sesama rekrutan Bandung. Ada yang punya saudara di Palembang terus bawain Martabak Telur.

Wah, begitu denger martabak telur yang kebayang martabak yang isinya campuran telur dikocok bareng daun bawang dan daging cincang. Temennya adalah acar (potongan timun dan sayuran).

Martabak Telur dalam bayangan – sumber : IG sukmawati_rs (resepkoki.id)

Ternyata martabak telur di Palembang bukan yang seperti itu saudara-saudara.

Martabak telur di Palembang adalah martabak yang isinya telor utuh. Kayak telor yang diceplok di atas kulit martabak jadi beneran kuningnya keliatan gitu di salah satu sisi potongannya. Kulitnya cenderung agak basah (kurang crispy). Cocolannya pun beda, yaitu kuah kari. Bagi yang doyan rempah, kuah kari dengan potongan kentang di dalamnya ini juara banget. Ada pula semacam saus manis yang agak pedas dengan potongan cabe rawit.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Martabak telur di Palembang yang paling terkenal adalah Martabak HAR. Makanya ada yang juga yang menyebut martabak telur Palembang ini martabak HAR. Martabak HAR berasal dari nama orang yaitu Haji Abdul Razak dan kini telah  banyak pula cabangnya. Tapi, beda cabang beda rasa pula menurutku. Cabang yang konon rasanya paling otentik ada di Jalan Jenderal Sudirman agak di sebrang Masjid Agung, jalan pas pengkolan. Di sana jual juga nasi minyak.

Kalau tempatnya sendiri, di Martabak Har yang ini kesannya ‘warung’ banget alias sangat sederhada dan ada kesan jaman dulu. Kita juga bisa request mau telur ayam atau telur bebek.

Selain bisa dibeli di Martabak HAR, martabak telur Palembang juga bisa ditemui di pasar-pasar tradisional atau penjual jajanan khas Palembang. Ada pula tempat makan yang menawarkan menu khas Arab atau India seperti Teh Aba atau HARBESS yang juga menjual martabak telur yang beneran isi telur. Yang jelas, martabak telur Palembang dengan kuah kari merupakan salah satu kuliner wajib coba kalau mampir ke kota Palembang.

Terus gimana kalau kangennya sama martabak telur yang ada dagingnya?

Setelah hampir 6 bulan di Palembang (waktu itu), aku baru tau kalau ada penjual gerobakan pinggir jalan yang jualan Martabak Malabar. Untuk yang pernah makan martabak telur di Pulau Jawa, martabak ini hampir mirip. Sama-sama isi kocokan telur dengan potongan daging, daun bawang, dan bawang bombay dan kulitnya garing kriuk-kriuk. Bedanya, biasanya martabak malabar ini ada rasa bumbu karinya atau rempah-rempahnya cukup kuat. Selain itu, menurutku juga lebih tipis dibanding martabak telur pada umumnya.

Martabak malabar biasanya dijual di pinggiran jalan dan baru ada sekitar sore menuju malam hari. Walaupun udah ketemu martabak telur yang gak cuma isi telur, rasanya masih aja kangen martabak telur ‘beneran’ versi aku.

Setelah pencarian panjang, ketemulah sama Martabak Alim Palembang yang selain jual martabak manis juga martabak telur ‘beneran’ (seperti gambar martabak telur yang pertama) dan campuran bumbunya bukan kari (gak rempah banget) serta tebalnya pun lumayan. Cocolannya pun walau serupa tampilannya, ternyata bukan cuko seperti cocolan pempek. Lebih mirip campuran pendamping kari di Martabak HAR. Manis pedas jelas terasa.

Semakin lama, akhirnya yang jual martabak telur ‘beneran’ di Palembang makin banyak. Pilihanku sih Martabak Sari Eco atau Martabak Techno yang dekat rumah saja.

Nah, sekian cerita tentang dunia martabak telur di Palembang. Jadi jangan kaget kalau datang ke Palembang dan diajak makan martabak telur ternyata dapatnya beneran isi telur utuh tanpa campuran apapun dan kuahnya kari, karena memang begitulah martabak telur khas Palembang.

14 Comments

  1. Pernah nyicip martabak Har waktu ke Palembang.. enakk… Ehhh mbak fainun orang Banyumas yaaa.. pada bae Karo Inyong.. 😂😂😂

  2. hai mba dila heheh pas blogwalking yang menarik perhatian awalku bio mu hehehe. Suka sekali mba, dan pas baca tentang palembang baca martabk HAR jadi pengen hehehe. Semoga mood nulisnya ada terus ya mba, aku juga sering banget fakum tp seperti yang mba bilang di bio, kadang kadang butuh curhat dan berbagi cerita (sharing itu menyenangkan)

    salam kenal – SM
    http://www.sabrinamaida.com

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)