Mengelilingi Pulau Penyengat, Pulau Bersejarah yang Kental dengan Budaya Melayu

Hai, masih ada yang ingat ga pelajaran Bahasa Indonesia dulu bagian membahas puisi atau pantun? Pernah mendengar tentang Gurindam 12?

Gurindam 12 adalah salah satu jenis puisi lama karya Raja Ali Haji, seorang ulama sekaligus pujangga yang konon menjadi pencatat pertama dasar tata bahasa Melayu. Gurindam 12 ditulis dan diselesaikan di Pulau Penyengat. Isi dari Gurindam 12 adalah nasihat dan petunjuk hidup agar diridai oleh Allah Swt.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi tempat ditulisnya Gurindam 12 ini bersama Markitrip, yaitu Pulau Penyengat yang berada di Kepulauan Riau. Untuk sampai di Pulau Penyengat, akan lebih mudah jika kita datang ke ibukota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjung Pinang yang berada di Pulau Bintan.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Tak jauh dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang, terdapat area penyebrangan ke Pulau Penyengat dengan perahu pompong, sejenis perahu kecil dari kayu yang mampu memuat 10-15 orang. Tarif untuk naik pompon per orang sekitar Rp 7.000,- saja. Sekitar 15-20 menit kita akan sampai di Pulau Penyengat. Begitu turun dari pompon, beberapa bentor alias becak motor sudah terlihat siap untuk mengantarkan kita berkeliling dengan tarif Rp 30.000 – 40.000,-.

Masjid Raya Sultan Riau

Sebuah bangunan megah berwarna kuning dan corak hijau terlihat, Masjid Raya Sultan Riau menyambut kita. Menurut cerita, masjid yang dibangun pada tahun 1803 ini menggunakan material putih telur sebagai perekatnya. Terdapat 13 kubah dan 4 menara masjid yang jika dijumlahkan adalah 17, sama dengan jumlah rakaat salat setiap harinya.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Di dalam masjid ini, terdapat mushaf Al-Quran tulisan tangan dengan ukuran besar yang konon sudah berusia ratusan tahun. Selain itu, banyak pula kitab-kitab suci yang juga cukup tua jika dilihat dari warna kertasnya.

Tentunya, untuk memasuki area masjid ini disarankan untuk memakai pakaian yang sopan dan tertutup.

Istana Kantor

Istana Kantor adalah istana Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau VIII (1844-1857). Istana Kantor disebut juga Marhum Kantor. Bangunan yang dibangun pada tahun 1844 selain digunakan sebagai kediaman Raja Ali, juga digunakan sebagai kantor.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Layaknya Masjid Raya Sultan Riau, warna dari istana yang berdiri di lahan seluas 1 hektar ini juga berwarna kuning dengan corak hijau. Walau kini tak digunakan lagi dan menjadi cagar budaya, Istana Kantor ini menunjukkan sisa kemegahan di masa lalu.

Komplek Pemakaman Tokoh Bersejarah

Ada dua komplek makam yang saya kunjungi di Pulau Penyengat yaitu Komplek Makam Raja Jafar dan Raja Ali serta Komplek Makam Raja Hamidah (Engku Puteri) Permaisuri Sultan Mahmud Shah III Riau_Lingga (1760-1812), Raja Ahmad (Penasihat Kerajaan), Raja Ali Haji (Pujangga Kerajaan), dan Raja Abdullah Yom Riau_Lingga IX dan Raja Aisyah (Permaisuri). Dari komplek makam Raja Hamidah, saya belajar bahwa penyebutan bagi permaisuri di sini adalah ‘Raja’. Jadi tak selamanya raja itu adalah lelaki.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Dalam Komplek Makam Raja Hamidah dan Raja Ali Haji, terdapat sebuah bangunan unik yang menyerupai masjid. Di dalam bangunan ini, kita dapat melihat deretan tulisan gurindam yang berjumlah 12 buah yang disusun oleh Raja Ali Haji. Komplek Makam juga dikelilingi pagar tembok berwarna kuning dengan corak hijau.

Di area lain dari Pulau Penyengat juga terdapat Komplek Makam Raja Jafar (Yang Dipertuan Muda Riau VI) dan Raja Ali (Yang Dipertuan Muda VIII). Raja Jafar adalah Raja yang memindahkan pusat kerajaan Kepulauan Riau ke Pulau Penyengat. Raja Jafar terkenal sebagai raja yang juga pengusaha sukses di bidang pertambangan timah. Sementara itu, Raja Ali merupakan putra kandung Raja Jafar yang taat beribadah.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Balai Adat Melayu

Di sisi lain pulau, terdapat sebuah rumah adat khas Melayu yang berada di komplek Balai Adat Melayu. Layaknya rumah adat khas Melayu, rumah berwarna kecoklatan ini berbentuk panggung yang terbuat dari kayu. Sampai saat ini, Balai Adat difungsikan untuk perjamuan bagi tamu atau orang penting.

Di bagian bawah rumah panggung, terdapat sebuah sumur air tawar. Berada di tengah laut, Pulau Penyengat memiliki sumur air tawar yang membuatnya menjadi pulau persinggahan untuk para pelaut mengambil air tawar.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Jika penasaran dengan tata ruang dan benda perlengkapan adat khas Melayu, masuklah ke dalam rumah panggung. Ada pula model pelaminan khas Melayu.

***

Pulau Penyengat yang memiliki banyak bangunan bersejarah ini menjadi salah satu destinasi unggulan dari Kepulauan Riau, khususnya bagi pengunjung Pulau Bintan dan Tanjung Pinang. Cukup menyediakan waktu sekitar 1 jam untuk berkeliling, kita dapat belajar sejarah di sini. Pengendara bentornya pun cakap bercerita tentang sejarah ini.

Semoga artikel ini bisa menjadi referensi liburan ya 🙂

 

 

2 Comments

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)