Mengajak Anak Naik Trans Musi & Becak di Palembang

“Kalau bisa memberikan kenyamanan kepada anak kenapa engga?”

Dalam mendidik anak, tak jarang ditemui perbedaan antara keinginan ayah dan ibunya. Seperti halnya saat saya ingin mengenalkan anak pada transportasi umum tapi praktek gitu, ga di rumah main puzzle atau tunjuk gambar doang. Hal ini sempat ditolak mentah-mentah sama suami. Alasannya antara lain, harus keluar komplek untuk naik angkutan umum atau bus, bus kota di Palembang kurang baik kondisinya dan serem (sering musik jedag jedug ga jelas dan kernetnya suka mukul sisi bus sebagai tanda ada penumpang yang mau turun), panas dan macet (khawatir anak rewel), udah pernah ngenalin transportasi umum (padahal cuma naik MRT sama bus di Singapura) dan ada juga transportasi online yang lebih nyaman (kenapa harus milih yang ribet).

Setelah sekian lama beradu pendapat, akhirnya saya dapat izin juga hari Minggu kemarin. Itu pun pakai syarat, jangan naik Light Rail Transit (LRT) dulu karena mungkin masih penuh (baru diresmikan dan orang Palembang masih antusias). Jadi dipilihlah Bus Rapid Transit (BRT) Trans Musi Palembang untuk dicoba bersama anak. Syarat lainnya adalah dianter ke halte yang pertama, jadi jelas bakal dapat bis. Okelah kalau begitu, lagian si doi lagi kerja keras bagai quda.

Trans Musi adalah sistem transportasi berjenis BRT yang mulai beroperasi pada Januari 2010. Trans Musi dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Halte Trans Musi yang saya datangi ini boleh dibilang kondisinya masih mending, tempat duduk dan atap masih ada walau sekilas saja bisa dibilang tidak terawat. Ya, masih ada halte yang kondisinya lebih mengenaskan dari ini. Papan yang menunjukkan map Trans Musi bahkan penuh coretan sehingga tidak jelas lagi apa yang ditunjukkan.

Beberapa kali saya melihat bus Trans Musi di jalanan Palembang tampak baru atau mungkin direbranding mengingat akan adanya event Asian Games XVIII di Palembang pada Agustus ini. Katanya memang akan ada 100 Trans Musi baru mengaspal di Palembang dan bus kota yang sudah tampak tua dan tak apik lagi secara perlahan akan dihapuskan. Sayangnya, kemarin kami dapat Trans Musi lama, kondisi busa bantalan di kursinya sudah hilang. Walaupun begitu, bagian dalamnya cukup bersih dan tersedia tempat sampah. Ya memang, ada beberapa tisu yang masih terlihat di bawah tempat duduk.

Sebelum pergi, saya coba menggunakan aplikasi Moovit untuk melihat rute dan jadwal Trans Musi. Koridor terdekat untuk area rumah saya adalah Koridor 7 (Pusri – PS Mall). Saya naik dari halte pertama yaitu Bank Mandiri KC Pusri. Kira-kira saya menunggu 15 menit sebelum bus berangkat. Tepat pada pukul 14.30, bus melaju menuju PS Mall. Sesuai dengan jadwal yang saya lihat di aplikasi Moovit. Jadi, aplikasi Moovit ini menginfokan transportasi lokal di sekitar kita. Dari yang terlihat untuk Palembang ada rute BRT Trans Musi, LRT, dan Angkutan Kota.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

AC di dalam Trans Musi bekerja dengan baik. Anginnya cukup terasa keluar dari lubang-lubang entah apa di sisi atas. Anak jadi lebih merasa nyaman karena tidak gerah kepanasan. Walau pada awalnya mukanya tampak grogi, tapi dia cukup tenang dan anteng duduk sendiri di kursi bahkan minta makan dan minum. Urusan makan dan minum, saya bingung sih, tidak ada aturan atau petunjuk yang melarang. Petugas pun tidak menegur. Kesimpulan pribadi : sepertinya boleh makan dan minum.

Harga karcis Trans Musi adalah Rp 5.000,- dan masih menggunakan karcis kertas berwarna hijau dengan 2 sobekan kecil yang bertuliskan transit. Jadi, jika kita melakukan transit untuk pindah rute tidak dikenakan biaya tambahan tapi sepertinya hanya bisa 2 kali saja. Tidak ada aturan yang jelas untuk tarif karcis anak kecil. Saya sempat ditanya oleh petugas, apakah anak tidak mau dipangku saja supaya saya bayar 1 karcis, tapi karena anak mau duduk sendiri ya saya merasa baiknya bayar 2.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Seingat saya, pernah Trans Musi ini memakai uang elektronik sebagai metode pembayarannya, namun entah kenapa kembali ke karcis lagi. Mengingat Bank Indonesia juga semakin menggalakan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) serta mendorong terbentuknya less cash society, mungkin tak lama lagi Trans Musi akan menggunakan uang elektronik sebagai metode pembayarannya. Apalagi, katanya moda transportasi ini akan terintegrasi dengan LRT yang juga sudah menggunakan uang elektronik atau e-Money.

Sepanjang perjalanan, saya bisa mengenalkan beberapa hal baru seperti adanya halte untuk naik turun penumpang serta karcis sebagai tanda kita naik transportasi umum harus membayar. Untuk tingkah laku anak di Trans Musi sebenarnya tak jauh beda saat naik kendaraan lain, dia terus berujar tentang mobil yang mirip punya tetangga, orang berlari di trotoar, kakak yang naik motor, dll. Syukurnya tidak ada rasa takut dan dia tetap mau duduk sendiri sampai kami sampai di halte tujuan.

Setelah naik Trans Musi, kami sempat mencoba naik bentor alias becak motor. Ini sebenarnya kali kedua Mahira mencoba bentor setelah sebelumnya mencoba di Yogyakarta. Ketika pertama mencoba dulu ia seperti tegang dan minta dipangku. Kali ini dia bersedia duduk berdampingan dengan saya walau mukanya tetap terlihat tak nyaman saat difoto. Untuk tarif becak di Palembang, masih berdasarkan negosiasi. Kemarin jarak 500 meter kena Rp 15.000,-.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Belajar naik kendaraan umum seperti bus yang coba saya lakukan awalnya ingin mengenalkan jenis alat transportasi yang pernah saya ajari melalui gambar dan puzzle di rumah. Namun ternyata hal lain yang dapat diambil dari pelajaran naik kendaraan umum adalah latihan bersabar menunggu bus berjalan sesuai waktunya, serta latihan mengenal kata baru dan profesi.

Besok-besok, pengen nyoba naik LRT deh jadinya 😀

 

 

13 Comments

  1. Waaah keren idenya naik transportasi umum di kota. Luigi masih naik bemo aja, belum pernah naik Bus Suroboyo yang beneran berhenti di halte. Seruuu mbak Inyun. Anak2 bs banyak belajar juga ya 🙂

  2. Hahaha emang iya ya mba, kalau mengajarkan anak memang enak nya praktek tapi kalau naik kendaraan umum kesian juga karena biasanya kendaraan umum di daerah musik nya jedag jedug ^^’

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)