Berbagi Kebaikan Untuk Negeri dengan Imunisasi

Suatu pagi saya dikejutkan oleh pertanyaan seorang di grup whatsapp.

Buibu, kenapa sih kita harus imunisasi anak?

Pertanyaan ini cukup mengejutkan mengingat di grup whatsapp kami (yang punya anak-anak lahir di bulan Juni 2016) adalah ibu-ibu yang mendukung imunisasi.  Tak jarang kami berbagi informasi imunisasi apa yang harus diberikan ketika anak usia 6 bulan, 9 bulan, 1 tahun, dll.

Aku udah imunisasi MR untuk anak. Tapi temenku nanya, untuk apa kita imunisasi sementara banyak anak lain yang engga diimunisasi.

Ah, begitu rupanya, batin saya. Saya pun jadi penasaran sendiri. Karena kalau saya ditanya seperti itu mungkin belum bisa menjawab secara benar. Pertanyaan teman tersebut menyadarkan saya bahwa pengetahuan saya tentang imunisasi masih kurang. Saya memilih imunisasi untuk anak karena percaya hal itu baik untuk tubuhnya, mengurangi risiko tertularnya penyakit tertentu.


Memahami lagi apa itu imunisasi….

Imunisasi adalah sebuah cara untuk melakukan pencegahan penyakit menular dengan memberikan vaksin untuk memberikan kekebalan kepada tubuh sehingga tubuh lebih tahan terhadap penyakit yang berbahaya atau sedang mewabah. Vaksin sendiri adalah jenis bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dinonaktifkan dan berguna untuk merangsang sistem imun serta membentuk antibodi di dalam tubuh.

imunisasi – sumber : pixabay.com

Setelah antibodi terbentuk pasca imunisasi, ia bisa melindungi tubuh dari serangan bakteri dan virus di masa yang akan datang. Ibaratnya, kita membangun tentara perlindungan dalam tubuh melalui imunisasi. Proses imunisasi atau pemberian vaksin bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti dimasukkan / diteteskan ke dalam mulut atau disuntikkan ke dalam tubuh.

Imunisasi Rutin Lengkap

Konsep imunisasi yang diterapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah imunisasi rutin lengkap, yang terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar saja tidak cukup, sehingga diperlukan imunisasi lanjutan untuk mempertahankan tingkat kekebalan yang optimal.

Imunisasi baik dilakukan sejak anak baru lahir namun pemberian imunisasi disesuaikan dengan usia anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) biasanya akan merekomendasikan jadwal imunisasi untuk anak usia 0-18 tahun. Pada jadwal tersebut, kita bisa melihat per jenis vaksin baiknya diberikan pada usia berapa.

Untuk imunisasi dasar lengkap di bawah 1 tahun terdiri dari

  • Hepatitis B (HB), untuk mencegah Hepatitis B dan kerusakan hati. Diberikan pada saat bayi baru lahir (dengan diawali pemberian vitamin K), lalu dilanjutkan pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
  • Bacillus Calmette-Guérin (BCG), untuk mencegah penyakit Tuberculosis (TBC). Diberikan 1 kali dan dianjurkan sebelum usia 3 bulan, optimal usia 2 bulan.
  • DPT, untuk mencegah penyakit difteri, pertussis / batuk rejan, dan tetanus. Diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan bersamaan dengan HB, Polio, dan HIB.
  • Polio, untuk mencegah penyakit polio. Biasanya diberikan saat anak akan pulang dari klinik/rumah sakit setelah dilahirkan, lalu dilanjutkan pada usia 2, 3, dan 4 bulan (bersamaan dengan HB, DPT, dan HIB).
  • Hib, untuk mencegah penyakit radang selaput otak (meningitis), pneumonia, dan radang saluran pendengaran / telinga. Diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan bersamaan dengan Vaksin HB, Polio, dan DPT.
  • Campak & MR, untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Diberikan saat anak berusia 9 bulan.

Selain imunisasi dasar wajib di atas, terdapat pula imunisasi yang sifatnya anjuran seperti influenza, pneumokokus, human papillomavirus (HPV), varicella (cacar air), dan hepatitis A.

Siapa yang harus diimunisasi?

Imunisasi baiknya dilakukan setelah bayi baru lahir. Bayi baru lahir umumnya memiliki antibodi dari ibu yang diterima saat masih di dalam kandungan, namun antibodi ini hanya bertahan beberapa minggu atau bulan.

Sementara itu, saat dewasa pun kita sebaiknya melakukan imunisasi mengingat manfaat imunisasi adalah untuk melindungi diri dari berbagai penyakit dan bisa juga melindungi lingkungan.

Harus diakui, kesadaran orang dewasa untuk imunisasi masih rendah. Orang dewasa yang akan umroh tentu ingat bahwa harus vaksin meningitis terlebih dahulu sebelum berangkat.

Sebagai orang dewasa, kita harus pro-aktif untuk menyadari bahwa imunisasi perlu. Tak ada salahnya jika bertanya kepada dokter ataupun tenaga kesehatan lainnya. Tentunya, saya berharap bahwa informasi imunisasi orang dewasa juga semakin banyak dan dimudahkan, tak harus di rumah sakit tapi juga bisa di Puskesmas.

Imunisasi itu….gampang!

Lah, iya kok, imunisasi itu gampang banget dilakukan, apalagi untuk anak. Kita tinggal datang ke Posyandu, Dokter, Bidan Praktek, Puskesmas atau rumah sakit untuk melakukan imunisasi. Kini malah ada klinik-klinik kesehatan yang fokus melayani imunisasi atau vaksinasi. Namun, saya sendiri biasanya mendatangi puskesmas atau rumah sakit.

Kalau di Puskesmas, biasanya ada jadwal dan ruangan khusus untuk imunisasi. Namun, biasanya imunisasi di Puskesmas hanya ada vaksin dasar saja. Enaknya imunisasi di Puskesmas adalah tidak ada biaya tambahan (seperti jasa dokter) dan lebih terjamin karena vaksinnya berasal dari pemerintah.

Sementara itu, kalau di rumah sakit dan klinik vaksinasi, vaksin yang tersedia bisa lebih lengkap. Namun, tentunya ada biaya tambahan seperti jasa dokter.

Imunisasi bisa juga dilakukan di sekolah-sekolah. Biasanya dilakukan saat ada kampanye imunisasi tertentu seperti Imunisasi MR pada saat ini.

Imunisasi, untuk kita dan untuk lingkungan

Imunisasi, jelas akan bermanfaat bagi tubuh yang mendapatkan vaksin sehingga memiliki sistem imunitas yang lebih baik. Tak banyak yang mengetahui bahwa imunisasi bermanfaat juga untuk lingkungan sekitar. Perlindungan imunisasi bisa menciptakan herd immunity di sebuah populasi sehingga bisa mencegah terjadinya wabah penyakit bahkan mampu mengurangi kematian.

Herd immunity adalah suatu bentuk kekebalan yang tercipta karena sebagian besar populasi telah diimunisasi sehingga bisa memberikan perlindungan bagi setiap individu lain yang belum diimunisasi atau tidak memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit. Bisa dianalogikan gini, setelah diimunisasi, kita pakai paying besar sekali, lalu hujan turun (analoginya penyakit), nah orang lain bisa menumpang pada payung kita. Tapi, tentu saja semua ada batasannya, kalau hujannya begitu deras, yang menumpang banyak, payungnya hanya satu, ya bisa aja kena hujan semua termasuk yang punya payung.

Sekretaris Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim B Yanuarso Sp. A(K), menyatakan bahwa kekebalan komunitas terjadi jika cakupan imunisasi > 80%. Sementara itu, bila cakupan imunisasi < 60%, maka peluang terjadinya kejadian luar biasa (KLB) munculnya PD3I (Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) menjadi besar.

Layaknya kita ingin membuat lingkungan bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan, ya ada baiknya inisiatif baik kita ditularkan kepada yang lainnya. Begitu pula imunisasi, kita ingin menjadi payung bagi lingkungan, tentu baiknya tetangga, saudara atau teman dekat kita juga ikut serta menjadi payung bagi lingkungannya sehingga payung semakin banyak dan wabah penyakit pun bisa dicegah karena lingkungan telah terlindungi.


Nah, ternyata imunisasi itu gak cuma bermanfaat untuk kita pribadi loh, tapi juga untuk lingkungan. Bayangin deh, kalau semakin banyak anak maupun orang dewasa yang diimunisasi, Indonesia bisa lebih sehat berkat perlindungan imunisasi.

Kalo saya sih, siap bikin Indonesia sehat dengan perlindungan imunisasi. Kalau kamu?

2 Comments

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)