BORN TO TRAVEL, Yuk Jalan-Jalan Lagi…..

Akhirnya!!!!!

Sejujurnya, banyak banget buku yang masih numpuk di rumah belum kubaca. Rajin belinya doang, bacanya entaran. Termasuk buku Born To Travel ini.

Aku beli buku ini karena salah seorang penulisnya Om Nduut alias Kak Yayan a.k.a Kak Haryadi Yansyah teman facebook dan beberapa akun grup Whatsapp komunitas di Palembang. Alasan beli? Tentu karena ingin mendukung teman sendiri yang udah buat tulisan bahkan dalam bentuk buku. Sekaligus aku pengen belajar (ya semoga sih bisa diterapin) cara menulis yang asyik dan ngga ngebosenin.

Beli di sekitar akhir April 2017, sempat dibawa kemana-mana di bulan Mei atau Juni 2017, akhirnya baru ditamatin di Februari 2018. Lama ya? Soalnya kedistraksi buku lain dan entah kenapa sempet ngerasa….sirik sama foto-foto orang jalan-jalan mulu terus mikir…..huhuhu….setelah berkeluarga gini, bisa ga ya menjelajah lagi keliling-keliling yang rada jauhan gitu, selain roadtrip ke kota sekitar atau pulang kampung. Takutnya baca buku ini jadi baper, pengen jalan-jalan tapi tak bisa. Karena baper dan khawatir yang ga jelas dibuat-buat sendiri itu deh akhirnya ngehambat nyelesein buku ini.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Kenapa akhirnya berani buka lagi buku ini? Karena ga mau rugi. Sayang udah dibeli ga dibaca. Terus ngerasa, semua mungkin kok kalau jalan-jalan. Mau cuma ke kota sebelah juga pasti ada hikmahnya. Ada hal yang bisa diceritain. Ah, saya jadi menyesal sendiri, kenapa jaman dulu pergi-pergi doang males banget update blog. Sudahlah ya, gak usah bahas penyesalan. Satu hal yang pasti, AKU GAK MENYESAL BACA BUKU INI!

Born to Travel adalah karya bersama dari beberapa penulis yang hobi traveling. Perjalanannya tak hanya ke negara yang umum aja. Oke, mungkin emang yang muncul di postingan orang yang kuliat seringnya emang yang negara yang umum aja, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Inggris, Jepang, Korea, atau Hongkong. Padahal negara di dunia ini lebih dari 190-an lebih. Born to Travel membawaku untuk mengenal negara lainnya seperti Lithuania, Iran, Afrika Selatan, Maroko, Chile, Ceko, bahkan Uni Emirat Arab. Untuk negara lain yang memang kadang juga sering didatangi seperi Amerika Serikat, India, dan Australia diulas menarik dari sisi lainnya. Tak lupa, cerita dari negeri sendiri pun muncul melalui pengalaman seru di Raja Ampat.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Cerita pertama dimulai dari Amerika Serikat. Negara Adidaya yang katanya menjunjung tinggi kebebasan tersebut memang cukup terkenal ‘selektif’ untuk menerima orang asing. Aku pernah mendengar cerita seorang kawan kantor saat bosnya batal dinas ke Amerika Serikat karena namanya berbau Islam dan visanya kena tolak. Cerita tentang perjalanan ke Amerika mas Arif Rahman sempat ngebuat aku ikut deg-degan karena penasaran bakal sukses ga ya masuk Amerika dengan nama cukup Islam.

Petualangan di Raja Ampat menjadi cerita kedua. Aku teringat memori masa lalu ketika main ke Raja Ampat, sok-sokan camping, dan beberapa teman patah semangat karena batal ke Wayag. Saat itu Wayag ditutup karena sedang ada konflik memang. Aku jadi ingat, anak-anak Raja Ampat yang asyik bermain di satu pulau, bergantungan di salah satu batang pohon melompat dari tepi pantai lalu nyebur ke perairan. Dilewatin hiu di Raja Ampat yang untungnya ga sadar. Kalau sadar pasti ketakutan. Ah, ingin kesana lagi jadinya karena membaca cerita mas Hendra Fu ini.

Selanjutnya, aku dibuat penasaran dengan sejarah dan alam di Cape Town (Afrika Selatan), ingin belajar juga di Lithuania, ingin menjejakkan kaki dan tinggal di jazirah Arab karena membaca tentang Ras Al Khaimah (Uni Emirat Arab), melihat keindahan masjid-masjid dan memaknai 3 lapis sayap Farvahar (apa itu? silahkan baca di buku Born to Travel) di Iran, pengen main pasir ke Fraser Island, deg-degan karena takut tersesat di Maroko, dan mengikuti cerita tentang Pulau Paskah yang jauh dari mana-mana dan banyak jejak pra sejarah penuh misteri.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Omnduut sendiri bercerita tentang pengalamannya ke India. Ia berduet dengan Mas Taufan Gio menulis tentang Kerala dan Varanasi. Yang aku tahu beliau sempat ikut Kerala Blog Express, blog trip tahunan yang diadakan oleh Kerala Tourism. cerita tentang Kerala memberikan informasi lain tentang India. Yang aku tahu, India memiliki Taj Mahal yang menjadi bukti cinta romantis dan sempat didatangi Raisa dan Hamish. Terkadang ada film-film yang menampilkan daerah kumuh di India seperti pada Slumdog Millionaire atau Lion. Tapi dari cerita tentang Kerala, aku belajar ada daerah di India yang bukan seperti menggambarkan India yang kumuh. Bahkan walau dipengaruhi partai komunis, Kerala terbayang sebagai daerah manis.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Selain dibawa melalui cerita perjalanan menarik dari setiap daerah (atau negara), terdapat catatan Top Things to Do yang dirangkum sebagai guide jika sewaktu-waktu kita bisa mengunjungi daerah tersebut. Ada pula quick fact tentang fakta-fakta yang menarik dan unik. Di akhir buku, terdapat foto-foto menarik dari daerah yang diceritakan yang membuat aku ingin mengunjunginya.

Umumnya, traveling akan memberikan kita berbagai pengalaman menarik, mulai sebelum keberangkatan ke tempat tujuan, di tempat tujuan itu sendiri, sampai mungkin saat kepulangan kita. Traveling akan membawa kita berinteraksi dengan orang-orang baru, budaya baru, hal-hal baru. Apa yang jarang kita temui bisa saja terjadi. Riset adalah hal yang penting yang perlu dilakukan sebelum traveling. Even kita sukanya tanpa rencana, misal cuma mau ke India, urusan nanti di sana mau gimana dan ke mana urusan belakang pas udah nyampe, tetep aja harus riset kondisi di sana gimana, budayanya gimana, tingkat kriminalitasnya gimana, apalagi buat yang pengen jalan tapi kondisi dana agak pas-pasan, riset jadi hal yang utama. Daripada duit abis terus ga bisa ngapa-ngapain karena salah langkah kan?

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Abis baca buku ini rasanya jadi menggebu-gebu pengen ngecap paspor lagi yang artinya : KUDU NABUNG BOK! Hehe, sebenarnya pengennya mah dapet visa tinggal, bekerja, atau kuliah di mana gitu hahaha. Doakan ya, amin!

Eh tapi, sebenarnya, traveling, mau dalam negeri atau luar negeri tetap saja akan bertemu tantangan baru. Thanks to Born To Travel yang bikin aku jadi semangat buat menjelajah lagi. Entah hanya dalam kota atau luar kota bahkan mungkin luar negeri pada suatu saat nanti (eh pengennya tahun ini 😀 ).

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)