Balada Ibu Produktif di Luar Rumah, Anak dengan Siapa ?

Banyak orang yang bilang, ketika seorang wanita sudah mulai berkeluarga (apalagi punya anak), maka orientasi hidup bisa saja berubah. Tentu saja hal ini terjadi, berkeluarga apalagi punya anak pasti menambah hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan. Termasuk keputusan menjadi seorang ibu yang produktif di rumah maupun di luar rumah.

Well, rasanya lebih adil menggunakan kata-kata produktif daripada kerja karena moms-war di luar sana sungguh kejam netizen. Semua ibu rasanya sama-sama bekerja entah bagaimana tapi tetap saja ada pertentangan satu sama lain. Saya mah ambil jalan damai aja ya…semua ibu produktif mau di dalam rumah maupun di luar rumah karena itu pilihan kan ya 😀 (*nyengir lebar*)

Saya sendiri sampai sekarang masih bertahan melakukan kegiatan produktif di luar rumah dan kebetulan punya kantor yang setiap Senin sampai Jumat harus dikunjungi dari jam 7.30 sampai 16.30. Karena saya ngantor, sudah pasti dan tidak bukan anak bakal ‘pisah’ untuk sementara waktu. Ketika saya kembali ke kantor setelah cuti melahirkan, pertanyaan yang banyak ditanyakan ke saya adalah,

“Anak sama siapa, Nun?”

Beberapa support system ini bisa jadi kerap menjadi jawaban yang ditemui ketika pertanyaan “Anak sama siapa?” ditanyakan kepada seorang ibu yang mencoba produktif di luar rumah.

  • Keluarga / Orang Tua

Beberapa teman bahkan sepupu ada yang mengambil opsi untuk menitipkan anak pada keluarga. Umumnya, ibulah/nenek yang menjadi tempat menitipkan anak saat bekerja. Kebanyakan teman yang menitipkan kepada ibunya masih tinggal dalam satu rumah atau memiliki rumah yang berdekatan dengan keluarganya.

sylviebliss / Pixabay

Opsi menitipkan anak kepada keluarga sama sekali tak pernah terbersit di benak saya. Selain alasan karena kami merantau dan jauh dari orang tua. Kedua ibu kami (baik dari saya maupun suami) masih punya tanggungan. Adik saya masih sekolah dan perlu ditemani. Sementara ibu mertua masih mengajar dan pensiunnya sekitar 3 tahun lagi.

Pola asuh yang diterapkan orang tua dengan yang kita terapkan pasti berbeda. Tentu aka nada kompromi dengan orang tua terkait hal ini. Menurut saya, jika ingin menitipkan anak kepada orang tua perlu mempertimbangkan bagaimana fisik orang tua, kesibukan orang tua, seberapa ‘jauh’ perbedaan pola asuh orang tua dengan pola asuh yang kita terapkan, dan seberapa ‘ikhlas’ penerimaan kita maupun orang tua akan perbedaan pola asuh. Intinya, sih, jangan sampai malah jadinya berantem karena urusan si anak.

 

  • Baby Sitter

Baby Sitter atau pengasuh khusus anak adalah orang yang telah dilatih secara intensif untuk mengasuh anak kecil. Tugas utama baby sitter adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan anak asuhnya, mulai dari merawat, mengasuh, menjaga, hingga membereskan tempat tidur atau mainan anak.

Umumnya, baby sitter memiliki yayasan khusus yang menaunginya. Baby sitter biasanya memiliki seragam khusus (seperti suster atau perawat rumah sakit). Jika mengambil baby sitter dari sebuah yayasan khusus, umumnya sudah ada pelatihan ketrampilan mengasuh dan merawat anak. Biaya jasa yang dibayarkan terkadang lebih mahal. Namun, bisa juga mengambil baby sitter dari yayasan yang hanya menjadi penyalur. Tentunya perlu dilihat bagaimana baby sitter itu memperlakukan anak.

Beberapa kali pernah seliweran di grup maupun timeline sosial media kasus-kasus baby sitter yang memperlakukan anak dengan kurang baik. Tentu sebagai pengguna jasa, orang tua harus tetap mengawasinya. Pemasangan CCTV sangat disarankan. Hal yang terpenting, tentunya saat seleksi dan wawancara sebelum mereka bekerja di rumah juga harus detail. Kerja sama dan hubungan yang baik dengan yayasan juga perlu dijaga.

Mengingat baby sitter memiliki job desc utama untuk mengasuh anak, tak jarang mereka akan fokus di hal itu saja. Tugas utama ini harus dipahami oleh pengguna jasa. Selain itu, jika ada pola asuh yang ingin diterapkan orang tua, baby sitter juga harus diberi pengarahan agar tetap sejalan dengan aturan yang diterapkan. Baby sitter umumnya akan menginap di rumah, sehingga perlu disiapkan ruangan khusus untuk baby sitter ini. Perhatikan selalu baby sitter dan perlakukan ia dengan baik pula.

 

  • Asisten Rumah Tangga (ART)

Jika baby sitter memiliki job desc lebih spesifik untuk mengurus anak, ART memiliki job desc utama untuk membantu urusan rumah tangga seperti membersihkan rumah, memasak, menyetrika, dll. Walaupun begitu, tak jarang ada ART yang bersedia mendapat tambahan pekerjaan mengasuh anak. Adapula yang mencari ART namun job descnya secara spesifik untuk mengasuh karena secara biaya jauh lebih murah dibanding baby sitter. Biasanya, ART yang seperti ini memiliki kemampuan mengasuh anak berdasarkan pengalaman. Terkadang, ART yang sengaja diminta untuk mengasuh anak juga ikut membantu pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah.

Sebuah pesan yang diberikan kepada saya saat mencari ART adalah kita harus mengetahui asal orang tersebut, bahkan jika perlu tahu rumahnya di mana. Beberapa teman yang sama-sama perantauan dari Jawa, ‘membawa’ ART dari Jawa untuk mengasuh anaknya. Pastinya, ART tersebut akan menginap di rumah dan dekat dengan anak. Sebisa mungkin jika ART menginap di rumah, orang tua tetap memperhatikan anak ketika sudah berada di rumah. ART yang menginap di rumah biasanya gajinya lebih mahal dan ada biaya transportasi ‘mudik’.

 

Jika mencari ART ‘lokal’, kita bisa bernegosiasi apakah ia harus menginap atau pulang-hari (menemani anak dari pagi-sore). ART pulang hari cocok bagi orang tua yang bekerja dengan waktu kerja konsisten, jarang lembur, dan bisa pulang sebelum magrib. Jika memilih ART model seperti ini, sebisa mungkin buat peraturan yang jelas terkait jam datang dan jam pulang. Adakalanya ART model pulang hari meminta izin. Hal ini yang menjadi poin minus karena artinya orang tua harus siap sedia untuk ‘repot’ tidak masuk kerja atau bawa anak ke kantor.

Tak ada salahnya jika kita memasang CCTV untuk mengawasi kegiatan ART bersama anak. ART yang secara khusus memegang anak dan ada di rumah biasanya bisa lebih memberikan ketenangan batin bagi beberapa orang tua. Pastinya, perlakukan ART dengan baik sebagai bentuk terima kasih atas bantuannya menjaga anak kita.

 

  • Day Care

Saat ini, penitipan anak (day care) semakin banyak bermunculan di kota-kota besar. Ada pula perusahaan atau instansi yang sengaja membuat day care khusus. Dengan adanya day care, tentu orang tua yang bekerja semakin dibuat nyaman. Beberapa alasan teman memilih day care antara lain adanya program khusus yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Selain itu, day care bisa menjadi lokasi anak untuk belajar bersosialisasi.

hpgruesen / Pixabay

Untuk memilih day care, akan lebih baik jika day care dekat dengan tempat bekerja atau rumah. Selain itu, perlu dilihat jumlah pengasuh dan jumlah anak yang diasuh, bagaimana perbandingannya. Jangan sampai saat anak kita masuk ke day care tidak bisa diperhatikan. Program dan fasilitas yang diberikan juga harus dipelajari. Selain itu, perlu juga diketahui tentang penanggung jawab day care, kebersihan tempat, serta bagaimana day care tersebut menangani jika hal emergency terjadi pada anak.


Jika sedang menjalani aktivitas menjadi ibu produktif di luar rumah, pada umumnya waktu dengan anak memang menjadi berkurang. Tentunya kita ingin anak tetap mendapatkan perhatian. Bantuan apapun yang kita pilih untuk anak tentunya perlu dicari yang paling sesuai dengan kemampuan dan situasi yang dijalani. Dengan adanya keluarga, baby sitter, ART, atau daycare yang membantu, diharapkan produktivitas orang tua di tempat kerja juga tetap terjaga. Saat kembali ke rumah, manfaatkan waktu dengan baik bersama anak.

2 Comments

  1. Parents and daycare, dua-duanya dulu pilihan saya saat bekerja Mbak Fadilla hehehe. Untungnya bekerja cuman dua jam, lalu jemput anak pulang ke rumah 🙂 Paling ga tega ninggalin anak ke tempat kerja ya, tetap semangat ^^

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)