Pahami Sedari Dini akan Pentingnya Zat Besi Untuk Tubuh

Nilai merah kembali muncul di laporan hasil medical check up (MCU) milikku tahun ini. Di bagian hermatologi darah lengkap, lagi-lagi nilai Hb-ku berkisar di angka 11. Dokter mengatakan wajar untuk perempuan jika nilai Hb masih berkisar di angka 11. Walaupun normalnya berada di kisaran 12-16. Biasa perempuan Hb-nya rendah karena mengalami anemia atau kurang darah. Makan saja makanan yang mengandung zat besi, ujarnya lagi. Jadi penasaran, memang apa sih pentingnya zat besi untuk tubuh?

Hemoglobin (Hb) Rendah dan Penyakit Anemia

Hemoglobin (Hb) merupakan protein yang mengandung zat besi/Fe (metaloprotein) di dalam sel darah merah. Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen. Jumlah hemoglobin bisa berkurang ketika sel darah merah mengalami gangguan atau produksinya menurun. Hb yang rendah juga bisa disebabkan oleh gangguan kesehatan atau penyakit tertentu seperti anemia, hipotiroidme, kanker darah, atau hal lain yang menyebabkan tubuh kehilangan banyak darah.

Pentingnya Zat Besi untuk Tubuh
Sel darah merah dalam tubuh – sumber : pixabay.com

Kondisi yang umum terjadi pada wanita, seperti yang dikatakan dokter MCU, adalah anemia atau kurang darah. Ada beberapa jenis anemia, salah satunya adalah anemia defisiensi zat besi atau anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi.

Jadi, cadangan besi dalam tubuh kosong. Akhirnya pembentukan hemoglobin dalam darah berkurang. Padahal, zat besi merupakan mineral yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan hemoglobin. Itulah sebabnya, dokter juga menyarankan untuk makan makanan yang mengandung zat besi.

Nah, baru nih kerasa pentingnya zat besi untuk tubuh….


Gejala umum yang kerap dialami oleh penderita anemia antara lain sering sakit kepala, mudah lelah, kurang nafsu makan, mudah lelah, conjungtiva pucat, ujung jari terlihat pucat saat ditekan, dan PICA (kebiasaan menelan sesuatu yang tidak lazim seperti tanah, es batu, dsb).

Untuk mengecek apakah kita benar anemia defisiensi atau kekurangan zat besi, kita dapat melakukan pengecekan di dokter lalu minta pemeriksaan darah.

Ketika Merasa Hemoglobin Rendah Menjadi Masalah

Jujur saja, karena dokter mengatakan wajar jika perempuan Hb kurang dari nilai normal, membuatku abai hal ini. Apalagi, aku juga sudah mengikuti saran dokter untuk makan makanan yang mengandung zat besi seperti bayam dan daging. 

Pentingnya Zat Besi untuk Tubuh
Ilustrasi : Kantong Darah Hasil Donor Darah – sumber : pixabay.com

Selama ini aku merasa sehat-sehat saja. Namun, ternyata nilai Hb yang rendah menjadi penghambat, ketika aku berniat untuk melakukan donor darah. Beberapa kali aku mencoba untuk mendonorkan darah, selalu ditolak akibat nilai Hb yang kurang dari normal.

Sedih sih, karena itu artinya, walaupun aku sudah mencoba makanan yang mengandung zat besi, ternyata masih kurang juga.

Beruntung, aku mendapat pencerahan terkait dengan urusan hemoglobin dan zat besi dalam acara Maltofer Woman Community “Peran Penting Zat Besi dalam 1000 Hari Kehidupan Pertama”.

Acara Bersama Maltofer Woman Community

Bertempat di Hotel Santika, Jalan Radial Palembang, aku menghadiri acara Maltofer Woman Community pada 19 Oktober 2019 lalu. Acara ini cukup meriah, tidak hanya Komunitas Blogger Palembang saja yang hadir. Adapula Komunitas Playdate Palembang yang memenuhi tempat acara.

Acara dibuka oleh sambutan dari Ibu Dyah Pari Koening (Head of Brand Activation PT Combhiphar Indonesia) dan Mba Lya dari Komunitas Playdate Palembang.

Selanjutnya, hadir sebagai narasumber adalah Dr.dr.Yudianita Kesuma Sp.A(k) M.Kes menyampaikan materi “Pentingnya Zat Besi di 1000 Hari Kehidupan Pertama”

Pentingnya Zat Besi dalam 1000 Hari Kehidupan Pertama

Saat menjadi orang tua, tentu kita ingin anak kita dapat tumbuh dengan sehat. Tumbuh kembang pada anak sejatinya harus diperhatikan sejak 1000 hari pertama kehidupan.

Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan

1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dihitung sejak anak berada dalam kandungan sampai dengan berusia 2 tahun. Periode 1000 HPK dikenal juga dengan istilah periode emas. Ini karena pertumbuhan otak terjadi sangat pesat dalam 1000 hari ini. Tentunya, otak sebagai pusat sistem saraf akan berperan penting pada seluruh proses pertumbuhan anak dengan sempurna.

Asupan Nutrisi untuk Anak, penting untuk diperhatikan sejak dalam kandungan – ilustrasi : pixabay.com

Pada masa kehamilan, janin mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan janin dipengaruhi oleh asupan nutrisi dari ibu yang mengandung. Jadi, sangat penting untuk ibu hamil untuk mencukupi asupan nutrisi demi pertumbuhan otak anak. Gizi mikro dan protein yang dikonsumsi oleh ibu hamil memiliki pengaruh untuk membangun tinggi badan potensial anak sementara kalori memiliki untuk membangun berat badan potensial.

sumber : Dr.dr.Yudianita Kesuma Sp.A(k) M.Kes

Setelah itu, saat bayi lahir dan tumbuh menjadi seorang anak, ibu dapat memberikan asupan nutrisi zat gizi (mikro maupun makro secara seimbang). Dimulai dari memberikan ASI ekslusif sampai 6 bulan dan dapat dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan disertai MP-ASI (Makanan Pendamping ASI). Tentunya, selain nutrisi, orang tua juga dapat memberikan stimulasi anak agar tumbuh kembang menjadi lebih optimal.

Nutrisi untuk seorang anak bisa dibilang sangat penting untuk diperhatikan pada 1000 HPK. Jika terjadi kekurangan gizi pada periode emas ini, tidak dapat diperbaiki di masa kehidupan selanjutnya. Nutrisi yang dipenuhi sedari dini pada 1000 hari pertama kehidupan, tak hanya memiliki efek jangka pendek tapi juga jangka panjang.

Jika pemberian nutrisi baik, tentu akan berpengaruh pada perkembangan otak yang nantinya mendukung kemampuan kognitif dan edukasional. Nutrisi juga memiliki efek pada pertumbuhan dan massa otot, komposisi tubuh, dan pengaturan metabolisme. Tentunya secara jangka panjang ini memiliki efek pada imunitas dan kemampuan tubuh untuk bekerja ketika dewasa nanti.

Mengenal Zat Besi, Salah Satu Nutrisi Penting Bagi Tubuh

Zat besi / Fe merupakan salah satu nutrisi penting bagi tubuh karena erat kaitannya dengan sel darah merah, khususnya ketersediaan jumlah darah yang dibutuhkan. Zat besi memiliki peranan penting karena memiliki fungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan lain di seluruh tubuh. Zat besi juga berfungsi untuk mengangkut electron dalam proses pembentukan energi di dalam sel.

Sumber : Dr.dr.Yudianita Kesuma Sp.A(k) M.Kes

Mengingat peran penting zat besi bagi tubuh, maka setiap orang perlu mencukupi jumlah zat besi dalam tubuhnya. Kadar kebutuhan zat besi pada tubuh akan berbeda untuk setiap dan kondisi. Ini dapat dilihat pada tabel Angka Kebutuhan Gizi (AKG).

Untuk remaja perempuan, kebutuhan zat besi akan tinggi karena mulai mengalami menstruasi. Begitu pula untuk perempuan di masa kehamilan dan menyusui, kebutuhan zat besi juga semakin meningkat karena berpengaruh juga pada janin yang dikandung dan bayi yang disusui.

Meningkatkan Kesadaran Untuk Menghidari Defisiensi Zat Besi

Kondisi yang terjadi saat ini, tak banyak orang yang cukup peduli akan pentingnya zat besi. Seperti yang kuceritakan di awal, ketika Hb-ku kurang dari normal saja masih dianggap wajar karena umum terjadi. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 30% populasi dunia mengalami kekurangan zat besi. Selain itu, menurut data Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) 2018, proporsi penderita anemia pada ibu hamil di Indonesia mencapai 48,9 %. Nilai ini meningkat dibanding Riskesdas 2013 dengan proporsi penderita anemia pada ibu hamil sebanyak 37,1%.

Pentingnya Zat Besi untuk Perkembangan Otak
Sumber : Dr.dr.Yudianita Kesuma Sp.A(k) M.Kes

Anemia tak bisa dilepaskan dari defisiensi atau kekurangan zat besi, kita tentu ingin menghindarinya. Jika defisiensi zat besi dialami oleh bayi atau anak, akan berpengaruh pada kinerja otak/kognitif yang buruk, gangguan perilaku sosio-emosional, serta fungsi motorik yang buruk. Sementara itu, jika ibu hamil atau menyusui yang mengalami defisiensi zat besi, tentu akan menghambat proses tumbuh kembang anak.

Jadi, tak hanya penting untuk segera sadar jika sudah ada tanda-tanda defisiensi zat besi. Kita juga perlu melakukan pengecekan dan konsultasi. Jika benar mengalami defisiensi zat besi, bisa dapat segera ditindaklanjuti.

Makanan yang Mengandung Zat Besi

Untuk menghindari defisiensi zat besi, kita dapat mencukupi kebutuhan zat besi melalui asupan makanan yang tinggi zat besi dan produk suplementasi besi.

Untuk makanan sendiri, terdapat dua bentuk zat besi yang dapat diserap tubuh dari makanan, yaitu:

  • Heme. Ini dapat ditemukan dalam bahan makanan hewani seperti daging merah, daging unggas, dan ikan. Zat besi heme 2-3x lebih mudah diserap oleh tubuh dibanding besi non-heme.
  • Non-Heme. Dapat ditemukan dalam bahan makanan nabati seperti kentang, bayam, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Vitamin C dapat memudahkan zat besi non-heme untuk diserap dalam tubuh.

Nah, yang perlu diketahui pula, ada zat-zat yang terkandung dalam bahan makanan tertentu yang menghambat absorpsi atau penyerapan zat besi heme. Zat-zat tersebut antara lain:

  • Phytates yang terdapat dalam dedak atau beras merah
  • Kalsium yang terkandung dalam produk susu
  • Polifenol yang terdapat dalam sayuran tertentu
  • Tanin dalam teh.
Pentingnya Zat Besi melalui asupan nutrisi makanan

Aku jadi sadar, bahwa asupan nutrisi dari makanan perlu diperhatikan baik-baik. Jika memasak sendiri untuk keluarga, perlu memperhatikan komposisi kandungan zat dari makanan yang disajikan.

Selain itu, kebiasaan buruk seperti makan sambil minum teh atau jika anak tidak mau makan diganti susu dulu ternyata tak baik. Buktinya, walaupun sudah makan makanan yang mengandung zat besi, seperti bayam, aku juga sering mengonsumsi produk susu dan teh yang mungkin jumlahnya berlebih. Wajar saja rasanya jika nilai Hb-ku masih sering berada di bawah batas normal. 

Maltofer, Suplemen Zat Besi untuk Hindari Defisiensi Zat Besi

Salah satu cara untuk menghindari defisiensi zat besi adalah memperhatikan asupan nutrisi makanan setiap harinya. Namun, jika benar-benar menghitung dengan cermat seberapa besar kandungan zat besi dalam makanan mungkin akan sulit. Menjaga kecukupan zat besi pun bisa diberikan melalui suplemen zat besi, seperti Maltofer. Hadir sebagai pembicara menjelaskan produk ini adalah Ibu Deloni Anggraini, Brand Manager Produk Maltofer PT. Combiphar.

Pentingnya Zat Besi karena bisa menyebabkan anemia jika kurang
Mba Deloni Anggraini sharing tentang Anemia

Maltofer Berbeda dengan Komposisi Body Friendly Iron

Maltofer® merupakan suplemen zat besi orang yang dapat dikonsumsi untuk kebutuhan zat besi. Zat besi yang terkandung dalam Maltofer adalah Iron Polymaltosa Complex (IPC), yaitu senyawa yang larut air dan terdiri dari inti besi (III)- hidroksida dengan polymaltosa shell yang menyerupai ferritin (protein dalam tubuh yang berfungsi mengikat zat besi).

Penyerapan zat besi menjadi efektif karena IPC diserap secara aktif dan terkontrol sesuai dengan kebutuhan setiap orang. Penyerapan zat besi yang efektif membuat efek samping akibat kelebihan zat besi seperti konstipasi dan mual dapat diminimalisir. Ini membuat Maltofer berbeda karena memiliki komposisi body friendly iron.

Dalam sesi seminar ini, sempat dilakukan “tea test”, yaitu tes untuk menguji larut tidaknya Maltofer dalam teh. Ternyata, Maltofer dapat larut dalam teh. Secara singkat, percobaan ini dilakukan untuk membuktikan bahwa dapat dikonsumsi bersama makanan atau obat-obatan.

Varian Maltofer

Saat ini, Maltofer tersedia dalam 3 varian, yaitu Maltofer drops 30 ml, sirup 150 ml, dan tablet kunyah. Selain itu, untuk ibu hamil, yang membutuhkan zat besi lebih banyak lagi, dapat mengonsumsi Maltofer Fol. Selain mengandung zat besi, Maltofer Fol juga mengandung Asam Folat yang juga dibutuhkan ibu hamil.

Biasanya, suplemen zat besi berbau besi dan terasa tak nyaman untuk dikonsumsi. Namun, Maltofer yang tablet kunyah nyaman untuk dikonsumsi karena ada rasa coklat Swiss yang nikmat. Jadi, memang Maltofer merupakan tablet kunyah pertama di Indonesia dengan komposisi Zat Besi Fe3+ (Ferri) dengan rasa coklat.

Maltofer sudah 50 tahun beredar di dunia dan 10 tahun di Indonesia. Waktu hamil dulu, aku juga sempat diberikan Maltofer. Cerita beberapa teman, setelah melahirkan, dokter juga ada yang memberikan Maltofer dan mereka merasa berpengaruh juga pada kuantitas ASI.

Maltofer dapat diberikan sebagai suplementasi besi untuk terapi defisiensi zat besi. Bisa juga untuk mencukupi kebutuhan zat besi harian sebagai tindakan preventif agar kita tidak mengalami defisiensi. Tentunya, konsumsi harus sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan.

Dosis Maltofer – Sumber : Maltofer Indonesia

Untuk informasi lain seputar anemia kekurangan zat besi dan Maltofer, teman-teman dapat pula mengakses

Pentingnya Zat Besi untuk Tubuh dengan Konsumsi Suplemen Maltofer
Maltofer Tablet Kunyah dengan Rasa Coklat

#maltoferwomencommunity #maltofer #combiphar


Sekarang, jadi tahu lebih banyak akan peran zat besi dan pentingnya zat besi untuk tubuh. Penuhi kebutuhan zat besi dari makanan yang bergizi dan suplemen zat besi seperti Maltofer. Semoga selalu sehat dan kita tidak mengalami defisiensi zat besi.

You may also like

24 Comments

  1. Sama nih mba, selama ini kupikir aku ya baik-baik saja. Ternyata lho Hb-ku cuma 10 hehehe… padahal ya ga kerasa lemes, kliyengan ataupun gimana-gimana. Untungnya ada Maltofer nih, enak rasa coklat, jadi bisa dikonsumsi dengan mudah untuk menaikkan Hb.

  2. Waktu hamil anak bungsu kemarin sempet bermasalah sama hb rendah. Aku boost pake makanan yg mengandung zat besi sampe eneg bgt huhu..
    Trus akhirnya minum maltofer buat ngebantuin.

  3. aku waktu kecil sering banget kena anemia. waktu remaja ditolak buat donor darah krna tekanan darah n hb rendah. kalo skr alhamdulillah sehat. yg ada malah kelebihan lemak hihihi

  4. Saat hamil dulu aku diresepkan vitamin yang mengandung zat besi oleh dokter.
    Sekarang sukanya makan bayam, lebih enak konsumsi Maltofer tablet kunyah aja ya, praktis. Apalagi rasa cokelat swiss, pasti enak 😀

  5. Hb-ku juga sering rendah mbak. makanya ga bisa rutin donor darah :(. jd tiap mens aku usahakan minum suplemen penambah darah.

    mungkin salah satunya krn aku tu belum bisa menghilangkan habit minum kopi huhuhuhu

  6. Kok kita sama sih, aku juga kalau habis check up pasti hasilnya bikin deg-degan dan yang pasti ada nilai merah yang harus diperbaiki dari gaya hidup yang aku jalani. Zat besi ini memang penting sekali, tidak hanya untuk orang dewasa tapi anak-anak pun sangat penting sekali ya.

    1. Dulu pas hamil anak Pertama aku juga ngalamin kak kesemutan terus kaki Suka agak keram.kata dokter sih karna kekurangan zat besi hrs bnyak minum susu n mkan sayuran
      skarang sudah Ada solusinya lumayan bngt

  7. Sebagai orang yang hB-nya pernah cuma 8 aku menekankansebaiknya semua orang aware akan kekurangan zat besi ini, terutama kalau mau promil. Krn risiko anemia sungguh besar khususnya kalau hamil sangat bahaya. Bisa pendarahan, anak bisa BBLR dll. Sedihlah pokoknya… hehe malah curcol

  8. teh dan susu mengandung zat yang bisa menghambat penyerapan zat besi? Terimakasih mbak, saya baru tahu info seperti ini. Padahal kan dalam susu juga ada zat besinya ya, tapi susu mengandung kalsium juga.

  9. jadi kalau zat besi kurang maka pembentukan hemoglobin jg gak maksimal ya. akibatnya jadi anemia. dan kalau abis makan sayur gak boleh minum teh kan yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *