Melakukan Perjalanan Darat Bersama Keluarga, Kenapa Engga?

Mudik alias pulang kampung menjadi hal yang rutin dilakukan oleh keluarga di Indonesia, apalagi yang merantau alias bekerja jauh dari kampung asalnya. Umumnya, mudik dilakukan dalam menyambut hari raya tertentu, seperti Lebaran atau Natalan.

Namun, keluarga kami melewatkan momen mudik lebaran tahun ini. Karena adik menikah di bulan Juli, mau tidak mau jadwal baralek kampuang alias pulang kampung kami pun mundur. Namanya juga masih kacung kampretnya perusahaan, jadi hemat jadwal cuti. Apalagi kampungku dan suami beda.

Urusan mudik, setiap keluarga memiliki kebiasaan yang berbeda. Memilih mudik naik pesawat, kereta, kapal, bus, atau kendaraan pribadi seperti mobil dan motor, biasanya menyesuaikan dana yang dimiliki serta kota tujuan.

Selama mudik ke kampungku di Jawa Tengah, keluargaku selalu mix pesawat dan kereta karena memang paling nyaman dengan cara seperti itu. Namun, untuk mudik ke Padang, kami memilih melakukan perjalanan darat.

Alasan utama kami memilih cara ini adalah tak adanya jadwal pesawat langsung yang oke dari Palembang ke Padang. Awalnya sih ada di tahun 2014, Citilink buka rute Palembang-Padang langsung. Eh, tahun 2015 sudah tutup. Sekarang sih ada Wings Air, tapi tak buka setiap hari dan pengalaman banyak orang delaynya parah sampai malam. Kalau mau naik pesawat, rute yang disarankan adalah Palembang-Batam-Padang.

Selain karena terpaksa, beberapa alasan ini yang membuat kami senang melakukan perjalanan darat sekeluarga:

Melatih kekuatan fisik

Suami dan aku percaya, karena kami berdua sedari kecil sering melakukan perjalanan bersama keluarga masing-masing, ketika dewasa kami menjadi lebih kuat dan tidak mudak mabuk perjalanan. Tentu harapan kami, anak juga menjadi tak mudah mabuk dan lebih kuat dengan dilatih melakukan perjalanan jarak jauh. Syukurnya, selama ini anak tetap sehat selama perjalanan, walau kadang urusan makan jadi susah. Pun begitu juga kami sebagai orang tua, menjadi sadar kalau lebih perlu menjaga fisik agar lebih sehat dan bugar.

Mengenal tempat baru

Perjalanan darat membuat kami bisa merencanakan mengeksplorasi tempat-tempat baru. Perjalanan menuju Padang sejauh 770 km tentu melelahkan suami. Apalagi ia bersikukuh menyetir sendiri dan tak mau bergantian. Kami pun memiliki kesempatan menginap di Muara Bungo, Jambi.

Ketika merencanakan kembali ke Palembang kami memilih jalur lain. Perjalanan kami berputar via Pekanbaru, Riau. Jalur ini dipilih karena termakan dengan cerita teman-teman yang bilang jalur mudik ke Padang via Pekanbaru lebih nyaman dibanding via Jambi.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Semakin jauh perjalanan kami jadi melihat hal baru seperti Kelok 9 di perjalanan menuju Riau dari Sumatera Barat, atau bangunan unik di Pekanbaru seperti Perpustakaan Daerahnya dan banyaknya Ruang Terbuka Hijau. Juga bersyukur karena masih mendapat rejeki di ‘kota’, setelah melakukan perjalanan yang banyak hutan sawit di kiri dan kanan jalan.

 

Belajar beradaptasi

Perjalanan luar kota tentu berbeda dengan perjalanan dalam kota. Apalagi, ada daerah-daerah yang mungkin bukan sebuah kota besar yang dilewati. Ada kalanya, kita butuh istirahat, buang air, atau solat. Namun, tak selamanya kamar kecil airnya bersih atau wc-nya duduk seperti di mall. Justru terkadang aku memilih mendapat wc jongkok, yang penting air kerannya mengalir.

Perjalanan seperti ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan anak pada kondisi seperti ini, termasuk saat ia buang air besar dan hotel masih jauh sehingga terpaksa mandi di kamar mandi masjid yang airnya dingin.

Tentu kami berusaha memberinya kenyamanan, tapi tetap berharap ia juga mampu beradaptasi dan bertahan di kondisi yang mungkin kurang mengenakkan.

Menikmati Quality Time

Sebagai orang tua yang bekerja, terkadang waktu seharian bersama anak mungkin hanya bisa didapat di hari libur. Walaupun sore sampai malam hari juga biasanya bersama anak, ada kalanya kami masih merasa kurang. Perjalanan darat menjadi waktu berkualitas untuk orang tua dan anak. Kami bernyanyi bersama, bermain (walau paling menunjuk sesuatu atau tempat), bercerita, mengobrol, apalagi saat perjalanan kemarin sebisa mungkin meminimalisir penggunaan handphone.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos
Lebih hemat

Perjalanan darat, apalagi dengan kendaraan pribadi, bisa dibilang lebih hemat. Wajar saat mudik lebaran banyak yang memaksa menggunakan motor sekeluarga. Kalau dibandingkan dengan naik pesawat, biaya perjalanan darat bertiga (walaupun mampir-mampir dan menginap beberapa kalih) masih lebih hemat. Ya, maafkanlah kalau kami masih jadi keluarga yang memilih kendaraan pribadi dibanding transportasi umum/massal.

Tapi, tentunya ada juga yang bikin boros, yaitu waktu. Kalaupun memang waktu liburan pendek, ya jangan dipaksakan.

Menambah bahan cerita

Melakukan perjalanan saja bisa menjadi sumber cerita. Melakukan perjalanan darat dengan durasi waktu yang biasanya lebih panjang tentu yang diceritakan bisa lebih banyak. Kami pun bisa berbagi cerita dengan teman-teman yang asalnya sama atau ingin melakukan perjalanan ke tujuan serupa tentang kondisi jalan, seperti jalanan di Jambi saat ini banyak yang sedang diperbaiki.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Melakukan perjalanan dengan mendokumentasikannya juga menjadi bahan cerita kami kepada anak tentang hal yang dilihat dan dilakukannya selama perjalanan (misalnya melihat monyet dan memberi makan monyet di jalan). Kami pun senang karena kosa kata anak semakin banyak dan dia mulai bisa menceritakan hal-hal kecil seperti monyetnya dikasih makan buah semangka.

 

Akan selalu ada cerita di balik sebuah perjalanan, maka dari itu keluarga kami senang jalan-jalan. Hehehe.

 

 

3 Comments

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)