Kelas Belajar Efektif 1 : Menumbuhkan Anak Gemar Belajar

Keluarga Kita – sumber : keluargakita

Kalau belajar jangan nanggung, jangan berhenti. Sejak bulan November tahun lalu, saya mencoba ikutan sesi Berbagi Cerita Rangkul. Sesi Berbagi Cerita Rangkul ini adalah sesi berbagi pengalaman, tips dan trik dalam menjalani peran sebagai orangtua sehari-hari. Di dalam sesi Berbagi Cerita ini, ada juga sesi materi yang disampaikan melalui video dari Ibu Najeela Shihab (founder Keluarga Kita). Materi yang disampaikan mirip-mirip dengan yang ada di buku Keluarga Kita : Mencintai Dengan Lebih Baik. Buat saya sendiri, alasan mengikuti sesi Berbagi Cerita ini untuk menambah ilmu atau ide-ide untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Bisa jadi kita belajar hal lain dari pengalaman yang disampaikan orang lain.

Baca juga : Mengikuti Kelas Disiplin Positif & Review Buku Keluarga Kita : Mencintai Dengan Lebih Baik

Sebenarnya, kalau mau belajar lebih dalam tentang kurikulum Keluarga Kita, ada kelas khususnya yang diselenggarakan di beberapa kota. Tahun ini udah dibuka juga. Kelas ini sekaligus sebagai langkah bagi siapapun yang berniat untuk menjadi Relawan Keluarga Kita (Rangkul). Kelasnya seharian penuh yang dipimpin Ibu Najeela Shihab. Pengen sih, tapi susah banget ngajuin cuti sehari-sehari gitu. Pertimbangan ga boleh bawa anak, juga bikin bingung. Semoga ada rejeki dan waktu untuk bisa ikut di lain waktu.

 

View this post on Instagram

PALEMBANG • Halo, Palembang! • #BicaraRangkul akan hadir kembali pada hari Minggu 21 Januari 2018, kali ini subtema yang akan dibahas dari kurikulum #BelajarEfektif yaitu "Menumbuhkan Anak Gemar Belajar" • Dalam proses menjadi orangtua, salah satu hal yang membuat luar biasa bingung adalah ketika anak memasuki usia belajar. Seringkali, kita kehabisan akal ketika menstimulasi anak semenjak dini. Bahkan, rasanya susah sekali membuat anak mau belajar, padahal kita sudah berusaha membujuknya. • Pada sesi ini, kita akan membahas semua masalah tersebut. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, hubungi narahubung pada poster untuk info lebih lanjut dan segera mendaftar sebelum kuotanya habis. . . . #Rangkul #KeluargaKita #TidakAdaOrangtuaYangSempurna #MencintaiDenganLebihBaik #PengasuhanAdalahUrusanBersama #SemuaMuridSemuaGuru #RangkulPalembang

A post shared by Mencintai dengan Lebih Baik (@keluargakitaid) on

 

Oke, balik lagi, curhat mulu. Kenapa saya suka ikut sesi Berbagi Cerita Rangkul ini ? Pertama karena ada penekanan bahwa kita tak harus menjadi keluarga sempurna atau orang tua yang sempurna. Tapi berusaha menjadi orang tua yang lebih baik. Tak ada tuntutan bahwa kita harus ini atau itu namun ada panduan – panduan tertentu (secara garis besar ada 3 topik utama yaitu Hubungan Reflektif, Disiplin Positif, dan Belajar Efektif). Selain itu, dengan mendengarkan orang lain, rasanya pikiran juga jadi lebih terbuka. Sekaligus belajar juga, agar lebih banyak mendengar, gak serta merta men-judge jika ada perbedaan. Sayangnya, kebanyakan yang ikut sesi Rangkul ini ibu-ibu atau didominasi kaum wanita. Pernah mau ikutin suami, dia minder sendiri karena ga ada laki-laki lain. Akhirnya ga mau ikutan lagi.

Untuk sesi yang baru saja saya ikuti adalah Sesi Belajar Efektif. Topik Belajar Efektif (BE) dibagi menjadi 2 yaitu Menumbuhkan Anak Gemar Belajar dan Kemampuan Anak Memecahkan Masalah. Sesi kali ini membahas topik tentang Menumbuhkan Anak Gemar Belajar. Setelah dimulai dengan perkenalan Rangkul Palembang (Mba Ayu, Mba Tya, dan Mba Senja) dilanjutkan dengan perkenalan peserta.

source : pixabay

Mba Ayu memulai dengan sebuah pertanyaan “Apa sih arti cerdas itu?”. Tentu cerdas bukan urusan rangking 1 terus di sekolah. Kalau saya sendiri mendefinisikan kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan masalah. Berbagai ahli mendefinikan jenis-jenis kecerdasan. Ada yang bilang kecerdasan itu dibagi jadi Intellegence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), lalu berkembang dengan tambahan Creativity Quotient (CQ) dan Adversiti Quorient (AQ). Bagaimana kecerdasan versi keluarga kita ?

 

Belajar Efektif, Gimana sih?

Kita dikenalkan terlebih dahulu mengenai definisi Belajar Efektif. Sering kali, kita salah kaprah bahwa menghapal itu belajar. Seperti yang saya rasakan sendiri. Akibatnya, apakah saya bisa menyelesaikan suatu masalah tertentu yang berbeda dari yang saya hafal? Seringnya saya merasa kagok, putus asa, dan merasa tidak bisa menyelesaikannya. Ternyata proses belajar saya selama ini kurang sekali. Proses belajar bukan hanya proses memasukkan pengetahuan ke dalam pikiran kita, tetapi juga membagun sendiri dan memahami pemikiran di berbagai situasi. Contohnya ringan untuk kehidupan ibu-ibu sehari-hari, belajar memasak bukan berarti kita mampu menghafal dan menirukan resep yang kita hafal, tapi disertai juga dengan proses penilaian kualitas dari masakan bahkan mengkreasikan masakan jika terdapat bahan yang kurang.

Belajar efektif harus menyenangkan, tapi tidak bersenang-senang. Perlu tantangan, bukan beban. – Najeela Shihab-

 

Learning – source : pixabay

Maksudnya gimana nih?

Saya mencoba menerapkan definisi ini ke kehidupan di keluarga. Apa sih yang menyenangkan buat setiap anggota keluarga. Misalnya, untuk saya sendiri, aktivitas apa sih yang menyenangkan? Membaca. Lalu apa tantangannya ? Konsisten untuk membaca (membuat tantangan mampu menyelesaikan buku fiksi 15 dalam setahun dan 5 non fiksi dalam setahun), mereview buku bacaan (melalui goodreads atau blog), serta mendapatkan pengetahuan untuk bisa menulis artikel yang baik bahkan buku sendiri. Sebuah tantangan yang sampai saat ini belum bisa saya lakukan.

Untuk anak misalnya, aktivitas yang menyenangkan untuk anak adalah bermain. Jadi, belajar bisa disesuaikan dengan bermain. Contohnya anak lagi suka bermain bola. Kira-kira apa ya pengetahuan yang bisa dimasukkan ke otak anak? Sepertinya matematika, mengenal bentuk bulat atau bola, lalu sambil mencari bentuk serupa atau berlatih berhitung sebelum melempar bola berhitung 1,2,3 lalu saat melempar juga dihitung satu untuk ibu, satu untuk anak, dan seterusnya. Definisi tantangan pun akan berbeda antar pribadi. Untuk usia anak 19 bulan, saya merasa tantangan untuk mengenal angka sekaligus mengenal kata-kata jadi tantangannya adalah pelafalan 1-10 secara urut dan jelas.

Kecerdasan Masa Depan, Apaan tuh?

 

Kecerdasan masa depan artinya kecerdasan yang bisa membantu (khususnya untuk anak) agar sukses di kehidupannya. Untuk saat ini saya merasakan proses belajar sering disertai adanya ancaman akan banyaknya informasi yang beredar (hoax dan non hoax), lalu tantangannya adalah proses mengolah informasi itu menjadi pengetahuan yang berharga. Untuk anak sendiri, kecerdasan masa depannya tak hanya kecerdasan untuk lulus ujian saja, tetapi kecerdasan yang relevan dengan kehidupan. Berikut ini beberapa aspek penting yang berkaitan dengan kecerdasan masa depan, yaitu :

  • Anak yang mampu bersikap kritis
    Kemampuan untuk berpikir sebelum berbicara, menulis, menayangkan pesan/gambar/ video yang bisa dimulai dengan kemampuan bertanya, memeriksa apa yang dibaca, didengar, dan dilihat. Kita tak bisa sekedar melarang tanpa alasan jelas. Anak akan bertanya dan disitulah sikap kritis dimulai karena ia mulai mempertanyakan kondisi yang dialami.
  • Anak yang mempraktikan keamanan
    Kemampuan untuk bertanggung jawab dengan menghormati privasi, reputasi, dan etika, perlu dimiliki oleh anak. Termasuk pembiasaan bermain dan belajar tanpa merusak dan menganggu. Bisa juga dengan melakukan aktivitas yang menaati peraturan seperti menyebrang jalan di zebra cross misalnya.
  • Anak yang mampu berkolaborasi
    Kerja sama adalah hal yang penting karena kerja sama dan saling menjaga bisa menjadi cara untuk mencapai tujuan. Saling menjaga bisa ditunjukkan melalui perilaku tidak tinggal diam saat melihat teman di-bully. Kerja sama bisa dimulai dari melakukan aktivitas bersama di rumah.
  • Anak yang mampu menunjukkan kreativitas
    Anak perlu diberi kesempatan untuk belajar serta berbagi minat dan keahlian. Ketekunan dan konsistensi juga perlu dilatih. Menunjukkan kreativitas perlu dibersamai dengan belajar mengapresiasi kreasi orang lain dan tidak mengakui sesuatu yang bukan karyanya.
New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

 

Stimulasi Anak Usia Dini, Apa Aja ?

Stimulasi (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah rangsangan atau dorongan. Secara awam, saya mencoba mengartikan stimulasi adalah hal-hal yang kita lakukan untuk merangsang anak sejak usia dini agar tumbuh dan berkembang dengan baik yang biasanya ditandai dengan telah mampu mengerjakan hal-hal yang sesuai dengan tahap perkembangan sesuai usianya. Ada yang mengatakan tumbuh kembang anak dimulai sejak dalam janin, 1.000 hari pertama. Di lima tahun pertama sangat menentukan kualitas kehidupan anak dan perkembangannya. Stimulasi pada anak butuh kedekatan emosional, ketersediaan waktu, keragaman interaksi antara anak dengan pengasuh utama, serta lingkungan yang mendukung. Stimulasi anak usia dini meliputi hal-hal berikut :

  • Perkembangan Motorik Halus & Kasar
  • Pengelolaan Emosi dan Rentang Konsentrasi
  • Peningkatan Kemampuan Bahasa pada Anak
  • Pemberian Nutrisi yang Mendukung Kesehatan Anak
New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

 

Setelah selesai penyampaian materi, seperti biasa, kita diajak bermain untuk mendalami materi. Kalau di sesi Disiplin Positif yang lalu ajakan bermain adalah memilih gambar sebelum membuat kesepakatan bersama, kali ini bermain menebak isi kotak tertutup melalui apa yang dirasakan oleh tangan. Wah, kebetulan nih, permainan seperti ini belum pernah saya lakukan sama Mahira, jadi ide baru juga. Setelah itu, para peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan apa yang dilakukan setelah kelas ini selesai. Saya? masih ada pe-er untuk pengelolaan motorik serta emosi dan konsentrasi anak, jadi akan fokus ke hal itu untuk jangka pendek.

 

Beruntung rasanya di saat saya menjadi ibu dan memulai keluarga ada kelas-kelas seperti ini yang membuat saya terus belajar. Hadir di sesi Berbagi Cerita Rangkul tak hanya jadi ajang belajar, tapi juga selalu menjadi ajang refleksi untuk saya. Contohnya saja saat materi kecerdasan di masa depan, apakah saya selama ini sudah kritis? Jadi, saya sekalian share apa yang saya pelajari dengan menambahkan catatan untuk perbaikan diri saya sebagai hasil belajar dan refleksi saya. Selain dari sesi berbagi, saya juga mendapatkan materi dari apa yang saya baca di buku Mencintai dengan Lebih Baik.

Setelah 2 kali diselenggarakan di sekretariat Asi For Baby (AFB) Sumsel, kali ini kelas pindah ke Resto Tempo Dulu Jalan Basuki Rahmat. Jujur, bagi saya enakan di sekre AFB Sumsel karena lesehan dan AC-nya lebih dingin. Hahaha. Saya yang biasa bawa anak juga ngerasa kalau ga lesehan cukup ribet ya, anak pengen naik meja, lihat perosotan dia pengen main, sayanya jadi ga fokus-fokus banget. Tapi kalau ga di resto ini saya juga ga pernah nyicip sih hehehe.

New photo by Faridilla Ainun (fainun) / Google Photos

Di akhir acara sempat ada penjelasan tentang sesi aktivitas keluarga kita yang rencananya tanggal 4 Februari, saya kurang nangkep acaranya apa karena anak minta main di luar dan udah rewel ngantuk-ngantuk. Yang jelas sih, saya niat ikutan lagi. Weekend biasanya Family Day. Lumayan kalau ada acara di luar ngurangin intensitas ke mall. Semoga jadi acaranya, jadi saya juga punya bahan untuk sharing lagi. Hehehe 🙂

2 Comments

  1. Aku mesti iri sama ibu2 yang punya kesempatan ikut acara parenting, di sini jaraaangg banget adaa, terpaksa harus puas dengan stalkingin akun parenting di ig dan membaca blog2 parenting, hihihi. Tfs mba sharingnya, kudu bookmark ini

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)