Beragam Cara Ibu Ungkapkan Cinta Kepada Anak

Sebagai orang tua, rasanya kita ingin untuk selalu memberikan yang terbaik sebagai bentuk ungkapan rasa cinta untuk anak. Begitu pula saya dan Bojo (suami). Salah satu komitmen kami berdua adalah memberikan perlindungan terbaik dengan melakukan imunisasi. Imunisasi juga sebagai ikhtiar untuk dijauhkan dari musibah penyakit yang mungkin saja bisa menyerang anak.

Infografis KLB Difteri di Indonesia – Sumber : Liputan6.com

Beberapa minggu terakhir, ramai di berita tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) tentang Wabah Penyakit Difteri. Saya pun sedikit khawatir. Tepat di usia 18 bulan ini, Mahira dijadwalkan untuk imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) yang keempat. Kami pun pergi ke RS Hermina Palembang untuk melakukan imunisasi.

"Keluhannya apa Bu?" tanya suster di ruang jaga.
"Mau imunisasi DPT 4 sus," jawab saya. 
"Tapi yang ga demam lagi kosong Bu. Adanya yang demam saja"

Saya tahu memang efek imunisasi DPT bisa terjadi demam ringan dan ada merek vaksin yang bisa mengatasi efek demam tersebut. Untuk imunisasi DPT sebelumnya kami selalu memilih yang tidak menyebabkan demam karena memang stoknya tersedia. Bojo terlihat diam dan ragu. Akhirnya, saya coba memutuskan.

"Oh, ya sudah sus, gapapa," kata saya.

Kami pun duduk sambil menunggu giliran untuk masuk ke ruang dokter. Saya mengerti kekhawatiran Bojo yang tak ingin anaknya merasakan sakit atau demam. Sembari menunggu, saya coba meyakinkan Bojo kalau lebih baik imunisasi sekarang daripada ditunda-tunda. Tepat pada saat itu, televisi di ruang tunggu menampilkan acara berita yang membahas tentang KLB Difteri. Saya pun mengatakan bahwa tak apa kalau memang Mahira nantinya demam, di rumah sudah sedia obat penurun panas. Lagipula selama ini Mahira jarang demam setelah imunisasi dan kalaupun demam hanya sebentar saja.

Ilustrasi Pemberian Vaksin – Sumber : Pixabay

Akhirnya tiba giliran kami masuk ke ruang dokter. Dokter pun menyarankan imunisasi saja, karena memang sedang ada wabah Difteri dan lebih baik mencegah dari pada mengobati.

"Sedia obat penurun demam kan di rumah?" tanya Dokter Afifa.
"Ada Tempra Drops, dok. Boleh kan?" tanya saya.
"Boleh kok. Lagi pula anaknya sudah besar, semoga saja ga demam."

Selesai imunisasi kami segera pulang ke rumah. Mahira cukup rewel setelah imunisasi, mungkin efek nyeri pasca disuntik masih terasa. Menjelang tengah malam, suhu tubuh Mahira meninggi sampai 38 derajat celcius. Segera saja saya mengambil Tempra Drops yang memang selalu saya sediakan di rumah. Tempra Drops, menjadi pilihan saya sebagai antisipasi saat anak mengalami demam atau kondisi suhu tubuh di atas 37,8 derajat celcius.

Dengan rasa anggur, Tempra Drops cocok untuk diberikan kepada anak-anak karena memiliki rasa yang manis dan aman di lambung. Kandungan parasetamol sebagai penurun demam (anti piretika) juga efektif untuk menurunkan demam anak dengan dosis yang tepat. Tempra Syrup maupun Tempra Drops tak perlu dikocok terlebih dahulu sebelum diberikan, karena larut 100% dalam tubuh.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sampai saat ini saya memberikan Tempra Drops kepada anak dengan menggunakan pipet yang tersedia dalam kotak kemasan karena memiliki ukuran yang jelas dan lebih mempermudah pemberian kepada anak. Suhu anak tak langsung menjadi normal, namun secara berkala turun sedikit demi sedikit. Tak lupa, pemberian cairan pendukung (air mineral dan susu /ASI) untuk anak tetap dilanjutkan karena biasanya saat demam anak banyak berkeringat dan perlu cairan lebih bagi tubuhnya sehingga dehidrasi juga dapat dihindari. Setelah minum Tempra Drops, Mahira pun tidur pulas dan ketika pagi hari suhu tubuhnya sudah menurun menuju normal walau masih sedikit rewel.  Di siang hari dia mulai aktif bermain dengan ceria.

 


Mencintai Bukan Berarti Terus Menerus Memanjakan

Itu adalah konsep yang coba saya pegang dalam mendidik dan mengekspresikan cinta saya kepada anak. Sebagai orang tua, kita boleh saja protektif dan melindungi anak dari ancaman atau rasa sakit. Tapi, sedikit ‘membiarkan’ anak merasakan jatuh atau sakit, juga bisa menjadi pembelajaran bagi anak serta orang tua. Lagi pula, dalam hidup tak selamanya berjalan mulus kan? Jadi, memanjakan dan menghindarkan anak dari rasa sakit, bukan suatu hal yang harus dilakukan terus menerus.

Beberapa waktu lalu saya mengikuti kelas tentang Disiplin Positif Keluarga Kita dan juga membaca Buku Keluarga Kita. Beberapa bahasan antara lain adalah konsekuensi dan dukungan sebagai bentuk cinta tak bersyarat untuk anak. Saya juga mengenal konsep CINTA dalam Keluarga Kita yang salah satunya adalah Mencintai dengan Tidak Takut Salah. Saya pun setuju dengan konsep ini.

Baca juga : Mengikuti Kelas Disiplin Positif & Review Buku Keluarga Kita : Mencintai Dengan Lebih Baik
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya juga mencoba memberikan pengertian ini kepada Bojo. Tak apa misalnya Mahira saat belajar berjalan ia mengalami jatuh karena itu menjadi momentum untuk ia belajar lebih hati-hati. Tak apa kalau misalnya Mahira merasa sakit atau demam saat imunisasi. Bukan berarti kita tidak sayang atau tidak cinta. Justru dengan sedikit kelonggaran kita bisa menyisipkan pelajaran hidup kepada anak.  Di sisi lain, saya belajar bahwa kehadiran sebagai orang tua penting, untuk mendampingi anak saat ia merasakan sakit, selain menyampaikan pelajaran hidup yang bisa diambil, juga bisa memberi energi positif untuk anak. Kehadiran bisa menjadi bentuk ungkapan cinta kepada anak.

Berbagai Ungkapan Cinta Untuk Anak

Ada yang mengatakan, bahwa ketika anak sakit, orang tua juga merasakan sakit. Namun, orang tua harus lebih kuat dari anaknya. Ketika imunisasi misalnya, kadang kita merasa tak tega melihat anak yang menjerit kesakitan saat disuntik. Tapi, itu harus dilakukan untuk kebaikan anak. Saya pun mengenggam erat tangan Mahira saat ia disuntik sebagai bentuk dukungan saya. Saya ingin memberikan energi positif berupa cinta dan keberanian yang saya salurkan melalui genggaman tangan. Setelah disuntik saya coba memberikan pesan positif bahwa Mahira belajar untuk berani dan disuntik memang sakit tapi tidak apa-apa karena baik untuk tubuh.

Dari buku yang saya baca, saya belajar bahwa dukungan bisa berupa pesan, kehadiran, permainan, atau pengalaman melakukan aktivitas bersama anak. Intinya dukungan adalah sesuatu yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran, cinta tak bersyarat, bahkan mampu menjadi motivasi internal bagi anak. Satu hal yang saya sadari dengan jelas, kehadiran orang tua untuk mendampingi anak di masa pertumbuhan dan perkembangannya sangatlah penting.

Pilihan sebagai ibu bekerja kadang dianggap sebagai pilihan yang salah oleh beberapa orang. Anggapan kalau ibu bekerja tidak sepenuhnya hadir untuk anak, pernah saya terima. Walau begitu, tak serta merta ibu yang bekerja di luar rumah tak sayang anak. Saya pun tetap berusaha hadir dan menemani anak dalam kehidupannya. Apa yang bisa dilakukan ibu untuk mengekspresikan rasa sayangnya ? Saya mencoba melakukan hal-hal seperti ini :

  • Menjaga Kesehatan dengan Nutrisi Yang Baik

    Salah satu bentuk rasa cinta yang dapat saya berikan adalah dengan memberikan nutrisi terbaik mulai dari menyiapkan bahan makanan. Saya akui tak setiap hari saya bisa masak untuk keluarga, namun paling tidak menyediakan bahan makanan yang sehat dan bergizi adalah awal untuk membentuk keluarga yang sehat. Tubuh yang sehat menjadi awal untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan ceria.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

  • Ekspresi Melalui Sentuhan Fisik

    Pelukan, ciuman, atau gendongan bisa menjadi salah cara untuk menunjukkan rasa sayang dan sudah umum digunakan. Begitu pula yang saya lakukan terhadap Mahira. Menyusui secara langsung juga menjadi salah satu cara yang saya lakukan untuk menciptakan kedekatan fisik dengan anak. Kata banyak teman, pada saatnya nanti, anak bisa menolak pelukan dan ciuman saat ia besar. Jadi, saya harus memanfaatkan waktu ini selama ia masih mau menerima dan memberikan pelukan dan ciuman.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
  • Melakukan Aktivitas Bersama

    Saya memilih masih tidur bersama Mahira untuk memberikan rasa aman dan nyaman saat anak tidur dengan sebelumnya membacakan buku terlebih dahulu. Di sore hari, jalan sore keliling komplek jadi aktivitas rutin sejak Mahira mulai bisa berjalan lancar, sekalian saya olah raga. Jika ada kegiatan di akhir pekan, saya pun selalu mengajak Mahira. Pernah juga saya membawa Mahira ke kantor untuk mengenalkan aktivitas saya padanya.

    Melakukan aktivitas bersama anak tak hanya aktivitas yang anak senangi saja seperti bermain, tetapi aktivitas sehari-hari (seperti membersihkan rumah, makan, beribadah, dan lainnya) dengan melibatkan anak juga menurut saya bisa menjadi ekspresi cinta kepada anak sekaligus cara untuk memberikan pelajaran akan nilai kehidupan serta mendekatkan anak kepada orang tuanya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
  • Membuat Permainan Khusus

    Dalam film Coco yang baru saja saya tonton, Ayah Hector menciptakan lagu khusus untuk putrinya (Coco) yang berjudul Remember Me. Mengekspresikan cinta kepada anak juga bisa diberikan melalui hal-hal khusus yang dibuat dengan sengaja untuk anak.

    Baca juga : DIY Monkey Bar Untuk Arena Bermain Anak di Rumah

    Kalau saya dan Bojo, baru bisa membuatkan permainan khusus dan saat membuatnya pun melibatkan Mahira. Setelah sukses membuat Monkey Bar saat ia belajar merambat, kami juga baru saja membuatkan Setrika dari kardus. Saat proses pembuatannya, Mahira pun boleh ikut serta seperti saat merangkai Monkey Bar dan saat membuat pola setrika kardus.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

  • Kebaikan Doa yang Tak Terputus
     Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia - Azhar Nurun Ala, Tuhan Maha Romantis.
    Berdoa – Sumber : Pixabay.com

    Doa juga menjadi ekspresi cinta orang tua kepada anak yang paling mudah. Kita menyampaikan kebahagiaan atas kehadiran anak melalui ucapan syukur. Kita tentu selalu berharap yang terbaik untuk anak. Manusia boleh berencana, namun Tuhan yang menentukan. Apapun yang kita lakukan semua akan kembali lagi kepada Allah SWT. Maka dari itu, ijin dan ridha Allah menjadi utama. Harapan kita kepada anak pun dapat kita sampaikan kepada Allah SWT melalui doa dan ibadah yang kita lakukan. Doa yang selalu saya panjatkan adalah untuk diberikan kesehatan, yang tentunya diikuti beragam doa baik lainnya untuk anak.

 

 

Sebagai orang tua, tentu kita ingin memberikan dan mengharapkan yang terbaik bagi anak. Setiap orang tua memiliki cara sendiri untuk mengungkapkan cintanya kepada anak. Melalui ungkapan cinta, yang saya lakukan, saya mencoba memberikan energi positif untuk anak. Harapannya energi positif dapat membawa dia ke fisik dan jiwa yang sehat pula. Semoga saja, kelak doa dan harapan terbaik untuk anak dapat terwujud dengan cinta yang diberikan oleh orang tua dan anak akan selalu dekat dengan orang tua.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra. #SelaluAdaCintadiHatiBunda  #Tempra

DIY Monkey Bar Untuk Arena Bermain Anak di Rumah

 

“Wah, Mahira putih ya ternyata, jarang main di luar ya?”

Begitulah beberapa komentar teman saat bertemu anak saya Mahira. Memang benar sih, anak saya jarang main ke luar rumah. Kalaupun keluar dari rumah, mentok di teras atau garasi sehari-harinya. Kalau hari libur baru deh dibawa pergi ke mall, rumah sakit (untuk imunisasi), atau sekadar menemani ayah ibunya untuk makan di luar.

Faktor cuaca yang kalau panas teriknya bukan main, bikin saya, suami, dan pengasuh memilih ‘ngadem‘ di rumah aja. Selain itu, ketika saya bekerja, pengasuh pun memilih tidak mengajak anak keluar untuk bermain bersama anak tetangga. Lebih baik main di rumah saja bareng Mahira sudah cukup menyenangkan katanya. Alhasil, saya yang harus memutar otak menyediakan mainan dan tempat main untuk anak di rumah.

Perkembangan anak menjadi dasar untuk membuat permainan yang sesuai dengan anak. Tiga bulan lalu, Mahira sudah mulai merangkak. Saya berpikir, mungkin sebentar lagi ia akan mulai mencoba berdiri sambil berpegangan lalu akan merambat. Saya mencoba menyediakan arena main untuk melatih ia agar mau berlatih berdiri sendiri dengan membuat monkey bar sendiri.

Monkey Bar? Apa itu?

Monkey Bar atau Batang Monyet adalah tiang-tiang yang disusun untuk anak agar bergelantungan. Umumnya monkey bar ditemui di taman atau lokasi pra sekolah. Bentuk yang umum biasanya berupa setengah lingkaran yang terbuat dari besi dengan pasir di bagian bawah agar jika anak jatuh tidak merasa sakit. Manfaat dari bermain di monkey bar adalah melatih tubuh kinestetik, keberanian, dan melatih keseimbangan.

DIY Monkey Bar

Saya mendapat inspirasi untuk membuat monkey bar sendiri tentunya dengan bantuan suami. Setelah berburu model monkey bar, kami memutuskan untuk membuat model monkey bar dari hasil berburu inspirasi di Pinterest. Model ini kami pilih karena jika dilihat sekilas selain menjadi monkey bar, bisa dipakai juga untuk menggantung permainan bagi anak bayi, sebagai gawang dan hoop bermain bola basket, belajar merambat dan memanjat, atau menjadi tenda saat anak mulai besar nanti.

Inspirasi dari DomanMom

Awalnya saya berencana memodifikasi desainnya, namun karena ada salah komunikasi dengan suami, jadi desainnya tetap sesuai dengan gambar. Yang berbeda adalah ukuran pipa PVC yang digunakan lebih besar dari contoh. Pertimbangan kami, dengan diameter PVCyang lebih besar akan lebih kokoh dan tidak mudah roboh, selain itu, memang hanya menemukan sambungan antar pvc ukuran besar di toko bangunan dekat rumah.

Alat dan Bahan :

  • PVC ukuran 1,5 inchi
  • Sambungan PVC sesuai dengan desain
  • Cat non toxic
  • Gergaji

Jika memiliki gergaji sendiri, tentu setelah membeli PVC dapat dipotong sendiri. Namun, karena keterbatasan (tidak memiliki gergaji), maka setelah beli PVC di toko bangunan, kita bisa minta kepada tukang di toko bangunan untuk memotongnya sesuai dengan ukuran.

Cara membuat monkey bar cukup gampang, setelah PVC dipotong sesuai ukuran, sambungkan, lalu cat monkey bar yang sudah disambung dan tunggu catnya kering. Cat non toxic dipilih karena selain ramah lingkungan, juga aman untuk kesehatan anak Cat non toxic sudah banyak dijual di pasaran dengan berbagai merek. Tinggal kita sebagai orang tua yang harus jeli dan teliti saat membeli.

Kalau di taman-taman atau pra sekolah di bawah monkey bar diletakkan pasir, untuk di rumah bisa diletakkan playmat, matras, atau karpet puzzle. Saya pilih karpet puzzle Evamat untuk alas, karena sekalian belajar warna, abjad, dan nama-nama hewan. Total biaya untuk membuat monkey bar ini lengkap dengan alasnya kurang dari Rp 350.000,-

Monkey bar ini cukup membantu Mahira saat mulai belajar berdiri dan merambat. Dia juga mulai berani berdiri sambil melangkah sambil memegang tiang satu ke tiang lainnya. Untuk berdiri sendiri tanpa berpegangan memang masih belum bisa, tapi Mahira mulai berani berdiri sambil bersandar di salah satu tiang.

Selain menjadi arena untuk berlatih berdiri dan merambat, monkey bar ini menjadi arena bermain yang aman Mahira. Koleksi permainan yang dimiliki disimpan di area sekitar monkey bar, jadi ketika anak akan main dia akan main di area ini. Walau tidak menutup kemungkinan dia juga mencoba membuat rusuh tempat lain seperti rak buku, tapi seringnya Mahira memilih bermain di area ini. Kadang Mahira suka main sendiri, tapi seringnya selalu ditemani baik oleh pengasuh atau orang tuanya. Kalau bermain sendiri, dia bisa sambil mengoceh seperti lagi cerita sesuatu. Saya sendiri sering mengganggu saat dia bermain, khususnya kalau dia bermain buah-buahan, saya sering meminta dan pura-pura memakan sambil menjelaskan tentang buah yang sedang dimainkan. Selain mengajari tentang buah, juga mengajarkan tentang berbagi dan saling memberi.

Kekhawatiran saya akan banyaknya virus dan penyakit yang muncul dari tempat umum membuat saya memutuskan untuk lebih banyak mengajak anak bermain dan beraktivitas di dalam rumah sampai usia anak 10 bulan, karena merasa lebih aman. Selain bermain bersama di monkey bar, kadang kami berenang di kolam renang yang memang sengaja dibeli untuk anak berlatih mengenal kegiatan renang dan bermain air. Namun, seiring dengan bertambahnya usia dan lengkapnya imunisasi, saya melihat Mahira cukup kuat untuk dibawa bermain di tempat umum seperti area taman atau pantai. Walaupun begitu, saya tak mau lengah, obat-obatan tetap harus disediakan di dalam rumah. Paracetamol adalah salah satu obat wajib ada di rumah atau ketika traveling. Saya menyediakan Tempra Syrup, yang mengandung paracetamol dan berguna untuk meredakan demam, rasa sakit dan nyeri ringan, sakit kepala dan sakit gigi.

Bermain bersama anak tentu aktivitas yang menyenangkan bagi orang tua, baik di dalam rumah maupun luar rumah. Membuat mainan sendiri juga dapat menjadi hal yang menyenangkan bagi orang tua karena mengasah kreativitas dan menimbulkan kepuasan saat anak tertarik bermain di permainan yang kita buat. Tentunya, kesehatan dan keamanan anak harus tetap dinomor satukan. Yuk bermain dengan anak secara aman dan menyengangkan.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Sumber :

  • http://www.ayahbunda.co.id/balita-bermain-permainan/kenali-mainan-di-halaman-sekolah
  • https://domanmom.com/jungle-gym-tutorial/