Sharing Session : Stage Photography with Musik Tanpa Suara @ Bingen Fest 2017

Weekend artinya kita harus cari aktivitas seru. Ya jangan karena udah kerja Senin sampai Jum’at terus Sabtu-Minggu males-malesan gitu. Ya gapapa sih, tapi kalau ada aktivitas yang bermanfaat kan, lebih oke gitu.

Konser membutuhkan fotografer untuk mengabadikan momen . Seorang fotografer panggung harus bisa menangkap momen dan energi dari suatu konser ke dalam bentuk foto. Di #bingenfest, @_rwibisono dari @musiktanpasuara akan berbagi pengalaman dan tips menjadi seorang fotografer panggung. Bingen Fest X Musik Tanpa Suara Sharing Session Photography bareng Musik Tanpa Suara Minggu, 5 November 2017 Pukul – 4 Sore Syarat & Ketentuan : – Repost informasi ini di akun pribadi kamu dan beri hastag #BingenFest2017 #BingenFestXmusiktanpasuara – follow dan mention @bingencafe @musiktanpasuara & @authenticitypalembang – Batas akhir repost tanggal 2 November 2017 – Peserta terpilih akan mendapatkan merchandise esklusif dari Bingen Fest – Peserta Terbatas #Authenticity_ID #BingenFest2017 #BingenCafe #MusikTanpaSuara #SharingSession #Photography

A post shared by Bingen Cafe Palembang (@bingencafe) on

Minggu kali ini, aku dapat kesempatan ikutan Sharing Session tentang Stage Photography dari Musik Tanpa Suara (IG & Blog). Ternyata banyak artikel oke di blognya juga. Awalnya iseng daftar aja karena lihat ada postingan IG Makan Apa Plg tentang acara ini.  Ternyata kepilih ikutan.

Kenapa pingin ikutan?

Nambah ilmu kan ga ada salahnya. Ya, walau udah jarang banget sih datang nonton konser musik, tapi mungkin bisa dapat ilmu baru buat nambah cantik konten kalau nulis reportase acara gitu.

Sharing Session ini salah satu bagian dari acara AuthentiCity Bingen Fest 2017. Bingen Fest sendiri adalah acara rutin yang diadakan oleh Bingen Cafe. Ini tahun kedua dan temanya adalah Clothing. Setiap tahunnya akan ada artist-astist keren yang diundang. Tahun ini, Payung Teduh & Dialog Dini Hari yang tampil.

Yang mengisi sesi Sharing Session tentang Stage Photography adalah Rangga Wibisono, a man behind Musik Tanpa Suara. Di awal, mas Rangga ini menjabarkan tentang stage photography versinya dan menunjukkan hasil karyanya sebagai stage photographer. Jadi, ya stage photography ini ga cuma urusan menangkap momen saat di panggung aja, tapi di luar panggung juga bisa dari backstage, aktivitas artis lainnya sebelum manggung, atau artisnya sendiri. Beberapa slide foto hasil MusikTanpaSuara dijabarkan secara jelas itu momen apa, artist yang manggung siapa, event apa, apa yang terjadi saat itu, termasuk ide apa yang bisa bikin salah satu foto warnanya jadi kece. Kalau mau dijabarin satu-satu mah, panjang atulah.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Setelah share beberapa pengalaman memoto untuk event-event music, Mas Rangga juga mengingatkan apa yang harus dimiliki oleh Stage Photographer, yaitu : ETIKA. Yup, etika untuk memoto event musik itu ada. Ada aturan tertentu di mana flash itu sangat menganggu si artist yang sedang tampil (sama kayak saat memfoto pemain yang tanding indoor kayak badminton juga diminta mematikan flash biasanya). Flash boleh dipakai biasanya jika official photographer atau sudah ada persetujuan. Ada juga aturan yang membatasi pengambilan foto misal, hanya di 3 lagu pertama atau 3 lagu terakhir. Tapi, biasanya sih official photographer gitu bisa ambil bagian dari before & after artisnya tampil. Oh iya, yang harus dipunya lagi sih tentu rasa cinta ke musik ya, jadi bisa nampilin emosi yang ada di area panggung khususnya.

Kamera apa yang bagus?

Hampir setiap sesi sharing fotografi hal ini selalu ditanyain. Intinya sih, kita harus percaya sama kamera yang kita punya. Tips beli kamera ala Rangga Wibisono : Belilah Kamera Termahal Sesuai Budget yang Kita Punya. Jangan irit-irit, kalau punya budget 7 juta, ya beli yang 7 juta, jangan beli 4 juta sisanya buat jajan. Kalau emang niatnya untuk business, kalau bisa beli kamera yang orang sekitar punya. Kenapa? Biar gampang minjem-minjem gear tambahan, macam lensa gitu.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
Masuk ke urusan teknis nih, Manual Mode? Aperture Priority? Shutter Priority? Full Auto?

Apa itu? Artinya mode operasi kamera apa sih yang biasa dipake saat melakukan stage photography ?

  • Manual Mode adalah mengatur kamera secara manual sepenuhnya, jadi kita sendiri yang menentukan besar aperture dan shutter speed, kamera hanya melakukan pengukuran cahaya lalu memberi rekomendasi lewat skala metering.
  • Aperture Priority artinya kita menentukan besar setelan aperture secara manual, sementara kamera menentukan besar shutter speed sesuai jumlah cahaya yang masuk lensa. Kita bisa mengatur bukaan lensa sehingga kita sendiri yang mengatur kontrol atas depth of field (ruang tajam)
  • Shutter Priority adalah kebalikan dari Aperture Priority, jadi yang kita atur secara manual adalah nilai shutter speednya, dan kamera akan secara otomatis menyesuaikan nilai baperture erdasarkan jumlah cahaya yang masuk melalui lensa.
  • Full Auto, kayaknya sih udah ngerti ya, artinya kita ga ngapa-ngapain, tinggal bidik langsung jepret, soalnya kamera yang menganalisis objek yang akan difoto lalu menentukan semua setelan kamera secara otomatis.

Kalau ini sih, balik lagi ke teknis dan situasinya. Tapi biasanya sih make manual aja. Kalau urusan shutter speed, berhubung kalau di panggung biasanya banyak aktivitas ya, maka supaya hasil foto tidak blur (baik karena obyek atau fotografernya yang goyang) lebih baik menggunakan shutter speed yang cepat, minimal 1/100 yang artinya momen ditangkap pada 1/100 detik.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Tadi juga sempat disinggung tentang teknis lainnya yaitu Metering atau mengukur kecerahan subjek dan memutuskan seberapa banyak pencahayaan yang terbaik untuk foto tersebut. Metering ini juga ada modenya, dan untuk stage photography, yang biasa digunakan adalah Spot Metering / Pengukuran Setempat, karena efektik jika hanya ingin menyoroti subyek tertentu dengan mengukur cahaya di sekitar titik fokus dan mengabaikan cahaya di daerah lainnya. Jadi foto kita akan mengekspos dengan baik obyek yang utama yang ingin ditampilkan. Tips lain tadi yang diberikan adalah penggunaan AE (Auto Exposure) Lock dan mematikan AF (Auto Focus) Lock.

Pakainya Lensa apa?

Lensa Zoom, Wide, Fix, atau Tele? Ya bagusnya sih semua punya ya. Aku sendiri masih bingung sih urusan lensa ini, jadi kayaknya balik lagi kayak konsep kalau ditanya pakai kamera apa, kali ini jawabnya Trust Your Lenses. Cuma disaranin baiknya pakai lensa yang punya bukaan besar f/2.8 atau f/1.8 atau f/1.4.

Tentunya, buat jadi stage photographer ada bagusnya kalau kita punya pass card entah sebagai official photographer si artist lah, media, atau dari pihak EO. Kenapa gitu? Karena ya, kalau kita berlaku sebagai penonton biasanya bakal susah karena ya saling desek-desekan untuk nikmatin event musik itu.

Biar ngehasilin uang atau jadi komersil gimana?

Mas Rangga sendiri ngakunya sih Stage Photography emang bisa ngehasilin uang tapi ga kaya, hehehe. Beliau di awal bilang kalau dia basicnya desain interior sama arsitek dan suka fotografi. Tapi dia ngasih beberapa tips dan menurutku ga cuma bisa diterapin hanya tentang stage fotografi tapi ke semua bidang kreatif lainnya kalau emang mau komersilin sesuatu, yaitu :

  • Suka dulu sama bidang itu. Kalau kita udah suka biasanya bawaannya bakal seneng sih ngerjain apapun itu. Ya ngelakuin yang kita suka for free kan ga masalah.
  • Bikin portofolio. Udah ngelakuin hal yang kita suka, punya karya, lalu pilihlah karya terbaik jadi portofolio kita dan selanjutnya kita pasarin deh. Teknologi sekarang banyak yang ngedukung, salah satunya sosial media. Pajang aja hasil karya kita di Instagram.
  • Tambah Relasi. Dikasih contoh nih sama Mas Rangga, kalau interest sama bidang stage photography ya banyakin kenalan orang Event Organizer (EO) atau band, terus kalau senengnya food photography ya banyakin kenalan pengusaha kuliner.

Setelah itu, biasanya sih tawaran akan datang sendiri.

Oh iya, tadi sempet ada yang nanya sih masalah edit-mengedit foto. Katanya ya standar aja, kalau buat diposting pakai aplikasi macam Snapseed sama VSCO. Kecepatan ngupload ternyata bisa bawa berkah juga, karena pernah lebih cepat upload dibanding official photographer si artisnya, jadi dipanggil sama artisnya, yang pasti sih karena hasilnya oke juga.

Overall, puas banget sih ikutan sharing session ini, walau awalnya acaranya molor hampir 1 jam (soalnya gantian soundnya sama acara lainnya atau karena serangkaian acara jadi ada urutannya), tapi dapat banget sih ilmunya dan ga cuma masalah stage photography aja, tapi juga bisa diterapin di konten kreatif lainnya. Sebenernya sih dapat semacam merchandise berupa kaos gitu yang katanya jadi tiket masuk kita buat ke Bingen Fest dan bisa nonton Payung Teduh. Tapi…….inget anak jadi bali deh, acara 18+ hahaha.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
Tambahan Sumber :
Setting kamera dari http://belfot.com/mode-pada-kamera-digital-dslr/ 
Metering dari https://snapshot.canon-asia.com/indonesia/article/id/camera-basics-7-metering
AE Lock dari http://www.kelasfotografi.com/2016/05/memahami-fungsi-auto-exposure-lock-ae.html

 

Written by

7 comments / Add your comment below

Silahkan meninggalkan komentar :)