[Review] : Ikan-Ikan Mati, Sebuah Novel dari Roy Saputra

Sebuah kebiasaan bagi seorang yang mengaku suka buku untuk mampir ke toko buku atau kalau jaman serba online seperti ini, membuka toko buku online. Ah, kamu aja kali nyun yang ngaku-ngaku suka buku. Keisengan lagi suntuk sama kerjaan kantor membawa saya membuka situs BukuKita dan ngeliat-liat buku apa yang lagi nge-hip atau dibuka pre-ordernya. Kenapa nyari yang pre-order? Biasanya ada bonus tanda tangan atau bonus lain kayak gantungan kunci, notes, atau apa lah. Yes, saya pecinta bonus, apalagi kalau bonus gaji dari kantor. Muachh banget, diharap, didamba, ditunggu, dan dinanti. Plis buat tahun depan lebih gede lagi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dari beberapa buku yang saya lihat ada PO dan bonusnya, secara random saya milih Ikan-Ikan Mati, sebuah novel dari Roy Saputra. Saya belum pernah baca dan tahu karya Roy Saputra. Maaf deh, ngaku-ngaku suka buku tapi ga tahu siapa dia, kan penulis emang banyak banget dan makin menjamur. Abisnya lagi banyak PO novel wattpad yang jujur aja saya belum dapat feelnya buat baca. Dari komen endorse-an yang dikenal cuma Ernest Prakasa sih di halaman depan dan ya sih keliatannya ini novelnya bagus, ada komedi dikit. Oke, saya beli sekalian sok-sokan beli buku Rhenald Khasali.

Eh, abis beli dibiarin aja gitu, gak dibaca-baca. Kebiasaan.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sampai akhirnya di hari Kamis di minggu ini saya mulai random ngebaca Ikan-Ikan Mati ini. Begitu ngebuka covernya, ada tulisan dari penulis “Selamat datang di Jakarta masa depan!”. Wah, bang, doain saya hidup di Jakarta ya di masa depan? Gimana kalau doain saya hidup di Canberra aja atau di jazirah Arab. Sae ah, nun!

***

Jakarta masa depan adalah gambaran singkat apa yang ada di novel ini karena bab 1 dari buku ini berjudul Jakarta, belasan tahun mendatang. Gambaran Jakarta belasan tahun mendatang mungkin bisa dibantu diimajinasikan dengan kota metropolis seperti Singapore, Seoul, New York, Tokyo, dan lainnya (bukan, ini bukan lomba geografi nyebutin nama kota di dunia) di masa kini. KRL tampaknya tergantikan oleh MRT. Oke, mungkin karena dari awal dibilang MRT saya bayanginnya langsung ke kota lain di belahan dunia. Padahal mah sama aja ya di KRL sekarang juga orang semakin tergantung dengan teknologi dan tak lepas memandang layar berukuran sekitar 7 inci (atau kurang) dalam genggamannya dengan headset yang menyumpal telinga. Kehidupan solitude khas akibat teknologi.

Gilang Kusuma, bankir, entah usianya berapa, mungkin akhir 20-an atau awal 30-an. Pria menengah metropolis ibukota dengan kemeja slim-fit khas pekerja jaman sekarang dan leather postman bag tergantung di pundak serta rambut klimis hasil pomade yang terjaga dari berangkat pagi sampai pulang lembur di malam hari. Gilang, masih sendiri di usia yang mungkin kalau bertemu orang akan ditanya “Kapan Nikah?”, tampak sedikit digelayuti kegalauan akan kesendirian akut. Lingkungannya sama seperti masa sekarang, banyak orang yang mengaku teman dengan kebaikan entah tulus atau dibuat-buat, menawarkan untuk mengenalkan dengan si-Anu dan si-Itu padahal yang menawarkan pun sama sendirinya.

Indonesia di masa depan, mungkin sudah memiliki pabrik ponsel pintar (JS Corp) yang wajib pakai oleh warga negaranya dengan kode JSxxx dan telah terintergrasi dengan aplikasi IKA (Indonesia Kindness Application). IKA ini semacam aplikasi terobosan yang dibuat pemerintah untuk menyatukan kembali keberagaman, menyortir hoax, memperlihatkan kebaikan Indonesia kepada dunia via internet, memberikan promo menarik atas poin-poin kebaikan yang dibagi melalui IKA, dan banyak lagi. Gilang, entah generasi milenial atau generasi Z, sama seperti kebanyakan, posting sosial media demi poin IKA, lalu dari poin itu ditukarkan dengan diskon di merchant tertentu, yang menuntun keputusan untuk makan di suatu tempat karena promo diskon yang ada di aplikasi IKA.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Gilang mendapat tugas dari Bank Republik, tempat ia bekerja untuk bergabung dengan tim Task Force aplikasi IKA untuk merumuskan fitur baru. Di sana ia bertemu dengan Monita, gadis cantik pintar seksi kerja di Microsoft, pecinta Facebook dengan likes ribuan pada fotonya, demi tambahan poin IKA dan diskon merchant tentunya. Di sisi lain, Gilang bertemu dengan Citra, teman makan siang di kantin semasa SMA, penyanyi akustik di Kedai Jamu, berhenti menggunakan Facebook 7 bulan lalu, lebih menyukai musik Float, Kelompok Penerbang Roket, Payung Teduh, dibanding musik EDM kekinian, walau tak menampik tetap menyukai Maroon 5, beberapa belas tahun lalu.

Perjalanan Gilang selama beberapa minggu menjadi bagian tim Task Force IKA membuka mata tentang ketergantungannya akan suatu aplikasi bernama IKA untuk mengambil keputusan mudah sekadar untuk makan di mana atau nongkrong di mana. Pada akhirnya semua yang dibalut untuk “menjaga keharmonisan” dibongkar oleh kecerdasan seorang Gilang di akhir cerita buku ini.

****

Berada di antara pilihan memilih Monita yang kekinian atau Citra yang anti mainstream, membuat saya sempat mengira novel ini adalah novel bankir penuh romansa mirip dengan karya Ika Natassa. Ternyata bukan. Ikan – ikan mati lebih dari itu. Saya malah teringat dengan Negeri Para Bedebah karya Tere Liye yang berisi konspirasi dan aksi heroik tokoh utama. Jalan ceritanya bisa dibilang gak ketebak (atau mungkin saya aja yang lagi kurang asupan micin untuk menunjang kerja otak).

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Alurnya tak melulu menceritakan Gilang di masa kini alias di Jakarta yang akan datang, tapi juga sempat membawa kita untuk mengenal Gilang di beberapa belas tahun lalu saat ia masih berseragam putih abu-abu dan berkenalan dengan Citra yang ditemuinya kembali di masa kini.

Penggambaran seorang Gilang dan gerombolan sirkus teman-temannya di kantor serta Monita terasa pas sebagai kaum menengah milenial muda jaman sekarang yang mungkin bisa dibilang ikan-ikan mati. Cuma ngikutin arus doang. Penikmat kopi brand kenamaan belagak pecandu kafein yang gila kerja, pencari diskon promo di manapun berada, posting foto wajib di manapun berada, penikmat brand kenamaan padahal rebutan di midnight sale, mencoba clubbing dan menikmati musik EDM dari DJ kenamaan.

Sementara itu, belasan tahun lalu, anggap saja itu tahun 2017, musik Float, Kelompok Penerbang Roket, Sore, The Adams, masih menjadi aliran anti mainstream yang kalau kita menyebutkannya orang lain akan mengernyit, “Siapa tuh?”. Citra, penikmat musik tersebut mungkin menjadi kaum yang disebut anti mainstream. Tapi sempat dibuat mengeryit kala membayangkan kalau di tahun 2017, anak sekolah sudah bikin tugas pakai tablet, masuk kelas harus gesek kartu tanda hadir. Hmmm, ternyata emang wajar anak jaman sekarang nongkrong di McD pakai seragam putih biru ngerjain tugas pakai tablet. Kirain gaya-gayaan doang.

Tak semua generasi milenial akan berprofesi untuk menjadi enterpreneur atau pembuat start up. Penggambaran Gilang sebagai bankir terasa amat cocok dengan kaum pemuda pemudi jaman sekarang, seorang pekerja di perusahaan yang harus keren (punya nama dan kebanggaan karena kerja di sana), rela bekerja keras untuk mendapat sebuah posisi penting di perusahaan. Gegap gempita ikut mendukung perubahan yang dilakukan pemerintah untuk kebaikan bangsa. Bahkan, menjadi bagian di dalamnya, misalnya bergabung dengan tim perumus fitur baru IKA merupakan sebuah kebanggaan. Siapa yang tak bangga, ditunjuk sebagai perwakilan perusahaan untuk bergabung dengan tim elite aplikasi bangsa? Sebuah kebanggaan yang pantas dibagikan ke sosial media Facebook yang masih berjaya, entah sebagai portofolio pribadi atau butuh pengakuan sosial semata.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Novel ini mungkin bisa dibilang sebagai bentuk sindiran sosial hasil observasi dan keresahan Roy Saputra sebagai penulis akan fenomena yang ada saat ini. Sindiran sosial yang wajar diberikan kepada kaum yang mengaku-ngaku sebagai kelas menengah, yang ingin bergaya dan butuh diakui dengan gadget canggihnya, padahal ya ga semua fitur pernah dicobain. Saya baca di bio penulisnya, Bang Roy Saputra ini sejak 2016 mulai mengurangi adiksinya akan media sosial. Walau begitu, benar-benar pengamatan jeli sih cerita yang ada di novel ini seperti berbasis fakta dengan sedikit bumbu fiksi atau perubahan sedikit nama seperti Whatsapp menjadi Chatapp, eh mungkin emang Whatsapp aja yang udah bangkrut dan yang lagi in adalah Chatapp. Dan banyak lagi ubahan penamaan yang bisa buat main tebak-tebakan kira-kira ini aslinya apa ya.

Sedikit bumbu komedi ada di novel ini dari becandaan Gilang dengan gerombolan sirkusnya atau dengan Monita dan Citra. Di awal sempat saya kira ini bakal penuh sindiran-sindiran doang ternyata membawa ke aksi seru yang cukup bikin deg-degan. Ceritanya tidak sesederhana yang saya bayangkan (karena di awal Bang Roy bilang ide ceritanya sederhana) tapi benar juga apa yang dibilang Bang Roy, ia mengemas cerita sederhana dengan kemasan yang warna-warni dan kejutan yang tak terduga.

Jujur, karena di luar ekspektasi, saya ngerasa kehibur banget baca novel ini. Beberapa hal yang saya catat sebagai entah itu fakta atau sindiran akan kaum milenial jaman sekarang :

  • Bikin petisi online kalau ada hal yang dirasa tak sesuai
  • Menikmati kopi warabala luar negeri dengan aneka macam rasa walau antri panjang
  • Pengejar diskon di manapun, apalagi tempat makan fancy, club yang oke. Pernah dengar BPJS? Budget Pas-Pasan Jiwa Sosialita. Padahal mungkin makanan di tempat itu, B aja bahkan ga ada yang cocok di lidah.
  • Posting di Sosial Media aktivitas wajib, nge-vlog lah, bikin story lah, reportase diri sendiri. Lalu melihat likes. Likes dibawah 2 digit? KATRO kamuh!
  • Sok-sokan ngejodoh-jodohin orang, ngasih petuah percintaan, padahal diri sendiri tak punya pasangan dan sering ditolak.
  • Memilih tinggal di apartemen ketika merasa sudah mapan. Yep, ga mau nebeng sama orang tua lagi lah.
  • Nonton film kudu di hari pertama tayang, bodo amat deh dapet paling depan.
  • Bergantung sama navigasi online, bahkan ketika berjalan. Headset tersumpal di telinga, mata memandang layar ponsel pintar.
  • Sok-sokan menikmati musik EDM dan tau DJ kenamaan, padahal mah bingung, ini kok musik intro doang.
  • Kadang ngebaca personality seseorang dari apa yang dipost di sosial media
  • Foto harus lewat filter, tambal segalanya biar keliatan sempurna, caption berisi kutipan hidup entah relevan atau tidak.
  • Beli ponsel paling canggih fiturnya, padahal yang dipake ya cuma telepon sama chat, kadang sosial media.

Berasa seperti di atas? Saya sih ngaku iya. Saya ngaku kok kadang atau mungkin sering saya kayak ikan-ikan mati. Persis apa yang digambarkan di buku ini. Bergerombol, berenang tergiring ke satu kolam, tergenang bersama, lalu hanyut terbawa arus nan adiktif (hal.235 Ikan-Ikan Mati).

Eh, novel ini ga cuma punya cerita yang oke, pikiran kita akan sedikit kebuka tentang diri sendiri kalau kamu termasuk yang adiktif sama sosial media atau gadget. Berubah setelah baca ini? Mungkin lebih ke membatasi dan belajar lebih bijak aja.

Mungkin video dari penulisnya bisa ngegambarin tentang novel ini 🙂

ps. Mungkin di beberapa part akan lebih nikmat dibaca dengan alunan merdu Float - Pulang.

Written by

Silahkan meninggalkan komen :) Aku bakal bw balik....