Review Buku : Screen Time

Nge-follow akun instagram sesama ibu-ibu apalagi ibu-ibu yang pecinta buku itu harus siap menerima godaan adanya buku-buku menarik yang sepertinya harus dibeli buat belajar anak dan orang tua. Awal mulanya saya baru ngefollow akun @iburakarayi dan melihat ada buku Kisah Air Hujan dan buku Screentime. Langsung deh kalap pesen dua-duanya. Karena stok buku Kisah Air Hujan habis, saya harus sabar menunggu. Sementara buku Screentime sudah ada dan pada hari ini sudah datang di meja kantor saya. Langsung deh saya baca.

Screentime book

Info Buku Screentime



Penulis : Tascha Liudmila

Ilustrator : Inez Tiara

Editor : Chika Arnan

Penerbit : PT Artha Kreasi Aksara

Tahun Terbit : 2015

Harga : Rp 185.00

Hardcover dengan isi kertas sedikit lebih tebal dari HVS (ps. maafkan saya yang ga tau ini kertas apa)

 

 

 

“I found you Dad!”, Hazel laughed

 

 

 

 

“Oh no…. ,” acted Mr. White disappointedly.

 

 

 

 

“Come on Dad, now it’s your turn to count,” Hazel giggled.

 

 

 

 

“Hold on a minute Hazel, I’m in the middle of something here,” Mr. White’s fingers continued to dance on top of his smart phone. He was highly active on social media that he could not stop.

 



Isi buku Screentime

Screentime book

Buku ini bercerita tentang keluarga White yang terdiri dari Mr. White, Mrs. White, Hazel (5 y.o), dan Ruby (2 y.o). Hazel bercita-cita menjadi artist dan penari balet sementara Ruby si kecil yang gemar makan dan bernyanyi. Mr. dan Mrs. White adalah orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya. Mr. White adalah arsitek sementara Mrs. White adalah penulis di sebuah majalah.

Di waktu libur, keluarga kecil ini akan berkunjung ke rumah kakek-nenek-nya Hazel dan Ruby untuk menikmati makan siang dan bermain serta berolahraga bersama seperti renang dan bersepeda.

Screentime book

Namun, ada hal lain yang keluarga ini sukai yaitu ‘Screentime’ alias waktu melihat gadget. Mulai dari berkumpul sambil memandang smartphone atau tablet masing-masing, menonton TV sembari makan, menonton film sepanjang perjalanan di mobil, menggunakan smartphone saat berkendara, bermain video games di malam hari, bahkan tidur sambil ditonton TV dan memegang smartphone di tangan.

Ketika anak-anak tidak dalam mode ‘Screentime’ justru orang tua tidak dapat melepaskan diri dari gadget mereka. Bahkan bersama dengan anak pun masih menyempatkan diri curi-curi pakai waktu untuk ‘Screentime’.

Screentime book

Sampai akhirnya, ada momentum yang menyadarkan keluarga ini. Hazel mengalami masalah di sekolah yaitu sulit untuk memiliki teman. Perilaku ini disebabkan terlalu banyak ‘Screentime’. Akhirnya dibuatlah aturan ‘Screentime’ di keluaga ini. Aturannya tidak hanya untuk anak saja, tetapi orang tua juga membatasi diri untuk melakukan ‘Screentime’.

Akhirnya, keluarga ini lebih hidup dengan aktivitas seperti petak umpet dan bernyanyi sepanjang perjalanan. Hazel pun dapat memiliki teman baru di sekolah. Keluarga ini sadar bahwa keluarga lebih penting daripada layar gadget yang mereka miliki.


Perasaan Setelah Baca Buku Ini

#SelfGampar #SelfReminder #SelfToyor alias Ngena Banget Ini Buku Ke Saya! Jujur deh, saya lumayan keranjingan sosial media walau tau itu ga penting-penting tapi penting. Maksudnya, sepakai dan pengennya saya buka sosial media atau whatsapp atau apapun itu harus bisa terkontrol apalagi ketika di rumah jamnya sama keluarga (terutama anak) maka harus fokus. Hehe, di beberapa kelas kuliah whatsapp sih ada yang sudah mencoba menjauhkan diri di jam 18.00 – 21.00 dari gadget dan fokus bersama anak. Terus terang ini masih berat, apalagi minta ke Brojo buat nerapin ini. Fiuh. Sebulan ini sih lagi nyoba nerapin dalam 30 menit sekali boleh ngecek hp selama maksimal 5 menit deh. Tapi ya itu juga masih susah.

Kalau ke anak, saya sih jarang ngasih dia tablet atau ngajak nonton tv kartun anak macam Disney Junior. Jarang ya, kalo seminggu sekali jarang kan ya? Dan ga lama juga sih. Tapi, ngajak anak nonton acara Korea (apalagi masak-masakan) atau serial macam Bones gitu sering. Mungkin sama pengasuh juga kadang nyetel TV karena bosan juga. Walaupun begitu, saya merasa si anak ga terlalu fokus nonton TV sih, malah fokus buat ngobrak ngabrik mainannya. Tapi yang jadi masalah, orang tuanya ini yang fokus ke TVnya ga bisa lepas. Fiuh. Maafkan kami nak. Kami ngerasa kadang si anak menegur kami dengan ngambil hp saat kami ‘nyambi’ main sama dia sambil ‘screentime’ atau manggil kami. Efek lainnya dia ngeliat kami ‘screentime’ sih gadget kami hampir udah pernah kena iler dia semua.

Tapi berkat buku ini, saya kembali diingatkan bahwa kalau sama anak kurang-kuranginlah ‘nyambi screentime’ itu. Keluarga itu yang utama. Kalau buat foto-foto dokumentasi atau videocall sama keluarga yang jauh masih bisa ditolerir, toh waktunya ga lama juga. Tapi jangan sampai karena gadget dan kecanduan social media jadi lupa keluarga.

Oh ya ilustrasi di buku ini bagus deh dan jalan ceritanya emang kerasa ngalir banget. Walaupun berujung pada ‘tamparan’ buat diri sendiri, saya ga nyesel punya buku ini. Tapi untuk sementara mengingat fisik lembaran buku yang kurang tebal, kayaknya ga bakal ngasih buku ini dulu ke si bayi karena tangannya mulai bisa ngeremas dan nyobek buku. Oh ya, buku ini berbahasa Inggris tapi mudah dimengerti karena teksnya juga ga banyak banget dan lebih dominan gambar / ilustrasinya.

Untuk pemesanan, bisa langsung kontak nomer yang tertera di instagram @ScreenTimeBook.

Selamat membaca 🙂

Tambahan catatan sebelum membeli
Note to parents : Do not purchase this book unless you are ready to put your kids before your gadgets and spend some quality time with them.
Ini ditulis di belakang bukuny loh ya

Written by

Silahkan meninggalkan komentar :)