Rentang Kisah & Gita Savitri Devi

 

Gita Savitri Devi atau dikenal juga dengan nama Gitasav. Saya pertama tahu sosok Gitasav ini melalui instagram. Sempat muncul di explore instagram dan ternyata ia adalah pemandu acara Halal Living di Net. Yah, sayangnya Net.TV belum ada di list channel Transvision, jadinya saya jarang nonton dan ga tau.

Gitasav adalah blogger sekaligus youtuber Indonesia yang sedang tinggal di Jerman untuk kuliah. Banyak banget fansnya, iya, follower instagramnya aja 508k. Yang jelas, Gitasav ini sering banget berbagi konten positif mau di blog, instagram, dan kanal Youtubenya. Saya jadi ikutan nge-fans, sampai pada akhirnya dia ngeluarin single “Seandainya” dan ada di Apple Music juga saya download dan emang lagunya enak sih. Oh iya, kadang sering banget Gitasav ini ditanya tentang pendapatnya tentang isu tertentu di Indonesia yang ditanya sama followernya, dan menurutku pandangan dia oke banget. Wawasannya jelas lebih luas dari emak-emak yang bikin tulisan ini. Hehehe.

 

Dia sempat mampir ke Palembang, tapi duh, rasanya kok malu ya emak-emak ini saingan sama anak-anak muda yang lebih dahsyat ngefansnya untuk ketemu sama Gitasav ini. Sampai akhirnya ia bikin buku dengan judul Rentang Kisah yang di lauching sekitar bulan September 2017. Saya sendiri baru punya bukunya dan sempat baca di Januari 2018 ini.

Apa tujuan hidupmu ?
Kalau itu ditanyakan kepadaku saat remaja, aku pasti nggak bisa menjawabnya. Jangankan tujuan hidup, cara belajar yang benar saja aku nggak tahu. Setiap hari aku ke sekolah lebih suka bertemu teman-teman dan bermain kartu. Aku nggak tahu apa yang menjadi passion-ku. Aku sekadar menjalani apa yang ibu pilihkan untukku – termasuk melanjutkan kuliah di Jerman.
Tentu bukan keputusan mudah untuk hidup mandiri di negara baru. Selama 7 tahun tinggal di Jerman, banyak kendala aku alami; bahasa Jerman yang belum fasih membuat proses perkuliahan menjadi berat, hingga uang yang pas-pasan membuatku harus mengatur waktu antara kuliah dan kerja sambilan.
Semua proses yang sulit itu telah mengubahku; jadi mengenal diri sendiri, mengenal agamaku, dan memahami untuk apa aku ada di dunia. Buatku, kini hidup tak lagi sama, bukan hanya tentang aku, aku, dan aku. Tapi juga, tentang orang tua, orang lain, dan yang paling penting mensyukuri semua hal yang sudah Tuhan berikan.
The purpose to live a happy life is to always be grateful and don’t forget the magic word : ikhlas, ikhlas, ikhlas.

Blurb dari buku Rentang Kisah ini cukup mewakili apa yang ada dalam isi buku. Cerita tentang Gita Savitri Devi sejak sebelum pindah ke Jerman untuk kuliah (beserta alasan-alasan mengapa harus ke Jerman), hal-hal yang dia alami di Jerman baik di dunia perkuliahan juga lingkungannya sampai mendapat hidayah-hidayah dan semakin belajar tentang Islam, serta pemikirannya tentang hidup.

Sedikit rasa iri muncul kepada sosok Gitasav ini. Iri akan pengalamannya dan kemampuannya menghadapi berbagai hal yang terjadi dalam hidupnya. Kalau urusan iri kuliah di luar negeri? Ya iya juga, tapi sudahlah, skip dulu urusan yang itu.

Senang membaca perjalanan hidup seorang Gitasav ini. Beberapa menjadi reminder buat saya, seperti ‘untuk apa bergelut di suatu bidang yang kita kurang enjoy mengerjakannya?’, ‘hati yang dipenuhi dengan rasa iri itu ternyata sangat berat’, atau ‘kita cuma bisa mengandalkan diri sendiri untuk bisa meraih apa yang kita inginkan’.

Mungkin, kalau beberapa gambar / foto yang terdapat di buku ini lebih berwarna (bukan hitam putih biasa), bakal lebih menggoda untuk mengkhayal bisa menjejakkan kaki ke Jerman. Semoga bisa menuntut ilmu, bertualang dan tinggal di sana. Eh, doa boleh kan? Di aminin juga boleh.

Sebagai seorang anak, saya diingatkan tentang keluarga. Bagaimana dulu kita dididik, ibu rela berkorban mengantar jemput les ini itu (ya tapinya saya yang ndableg), dan bagaimana kita sekarang berusaha sebisa mungkin mengurangi beban orang tua bahkan membalas kebaikan mereka. Sebagai seorang ibu, saya diingatkan untuk lebih berkorban untuk anak. Memberikan kesempatan anak untuk ikut ekstrakulikuler apapun memang penting. Dorongan orang tua kepada anak juga penting, yang paling mudah, seperti mengantarkannya dan menemani anak menikmati apa yang ia suka.

Saya ngerasain, tantangan-tantangan yang diberikan untuk Gitasav ini membuat dia belajar banyak banget. Jadi inget kelas Belajar Efektif yang kemarin saya ikuti.

Baca juga : Kelas Belajar Efektif 1 : Menumbuhkan Anak Gemar Belajar

Ujian yang diberikan Allah SWT kepada umatnya memang berbeda. Ujian yang diberikan seharusnya bisa menguatkan iman kita. Sebuah catatan diberikan oleh Gitasav untuk selalu bersyukur dan ikhlas dalam menghadapi hidup. Jangan pernah mau kalah sama keadaan. Gunakanlah hidup yang kita miliki untuk menghadapi dan menikmati tantangan sekaligus berkah yang dikasih sama Allah.

Thanks Gitasav, semoga selalu menginspirasi.
Dan semoga saya menghadapi dan menikmati keseruan dari Allah dan sanggup ngedidik anak untuk melakukan hal yang sama 🙂

Silahkan meninggalkan komen :) Aku bakal bw balik....

  1. Senang kalau bisa mengenal atau tau perempuan lebih muda dan prestasi serta karyanya pun banyak. Jadi memicu kita untuk makin berkarya juga. Tinggal di negeri orang, apalagi Eropa, ya memang banyak juga ya tantangannya.