Pelajaran Saat Mencoba Mengirimkan Kartu Pos

Saat jalan-jalan ke Singapore beberapa waktu lalu, saya sempat mengajak Mahira untuk mengunjungi Singapore Philatelic Museum yang berada di Coleman Street. Dekat dengan Central Fire Station. Awalnya saya pengen masuk dan melihat-lihat museum, tapi ternyata gratis cuma untuk resident Singapore (langsung pengen pura-pura ganti paspor atau nunjukkin KTP >.<).

Sebenarnya tiket masuknya gak mahal sih, $8 saja untuk dewasa dan $6 untuk anak-anak (usia 3-12 tahun). Tapi saat itu, Mahira juga mulai rewel minta makan ayam (hadeeeeuhhh pikir saya). Ya udah, saya memutuskan mampir sebentar untuk mengirim kartu pos. Sebenarnya ini juga jadi pembelajaran Mahira mengenal proses pengiriman kartu pos.

Singapore Philatelic Museum memiliki area untuk menjual barang-barang yang terkait dengan kartu pos dan perangko. Ada deretan kartu pos dengan foto-foto Singapore untuk dibeli, ada perangko mulai dari yang lama hingga yang baru, ada kaos, mainan, juga magnet untuk oleh-oleh dengan bentuk perangko.

Sekitar tahun 2015 lalu, saya mulai tertarik dengan kartu pos. Ketertarikan saya terhadap kartu pos bermula saat ke toko buku Books & Beyond dan menemukan kartu pos unit bergambar 10 peta kota di Indonesia. Saya pun menawarkan kepada beberapa teman yang saat itu studi di luar negeri untuk dikirimkan kartu pos. Kebanyakan mereka ternyata menerima kartu pos dari saya.

 

Saya juga sempat mengirimkan ke beberapa teman di Indonesia. Dari sekitar 8 kartu pos, yang diterima hanya 3. Waduh, lainnya ke mana ya? Padahal alamat sudah sesuai dengan yang diberikan. Ada kode posnya juga.

Saya coba mencari-cari alamat lain untuk dikirimi kartu pos. Ternyata ada komunitas pecinta kartu pos dunia bahkan ada web khusus untuk bertukar kartu pos yaitu  Postcrossing . Saya pun mencoba bergabung. Kita bisa saling mengirimkan kartu pos kepada anggota lain melalui menu Postcards – Send Postcard. Biasanya kita dapat meminta maksimal 5 alamat untuk mengirimkan kartu pos.

Sayangnya, tak ada kartu pos balasan untuk saya. Beberapa teman sudah mengirimkan kartu pos ke saya. Yang saya terima kembali hanya satu, dari Jepang dengan bentuk shinkansen. Unik ya? Jadi pengin ke Jepang.

 

Saya baru menyadari, mengirimkan kartu pos itu susah-susah gampang ya. Secara proses, cara berkirim kartu pos itu mudah. Yang jelas, kita harus memiliki kartu pos untuk dikirimkan dan alamat pengiriman. Kartu pos dapat dengan mudah dibeli di toko buku atau di online juga ada, salah satunya adalah Posnesia .

Selanjutnya, untuk perangko, kita bisa membeli di kantor pos terdekat. Umumnya kalau ke kantor pos, petugasnya akan bilang minimal perangko Rp 10.000,- untuk satu kartu pos. Sebenarnya, aturan tarif layanan pengiriman kartu pos telah disusun dalam Peraturan Menteri KOMINFO Nomor 29 tahun 2013.

Tapi ya saya kadang nurut juga sih sama apa kata petugas pos. Padahal ga dicek juga, kita bisa langsung masukin ke kotak pos. Saya rasa, tarif luar negeri ini juga berlaku sama. Ketika mengirimkan kartu pos dari Singapore kemarin, saya menggunakan perangko 70 cents (kurang lebih Rp 7.000,- ).

Terkait pengiriman kartu posnya sendiri, bisa dilakukan dengan mendatangi kantor pos yang terdekat dari lokasi kita. Saya pernah mengirimkan kartu pos dalam negeri dari kantor pos cabang dekat rumah dan masih sampai juga. Saya juga pernah mengirimkan kartu pos ke luar negeri dari kantor pos pusat di Palembang karena pertama kalinya dan diterima juga.

Lalu yang susah apa ?

Yang susah adalah kartu pos tidak bisa dilacak layaknya paket yang memiliki nomor resi. Dengan tak adanya nomor resi, kita diminta untuk sabar walaupun harap-harap cemas apakah kartu pos kita akan diterima atau tidak.

Selain sabar, yang juga harus dimiliki adalah rasa ikhlas. Hehehe. Contohnya, ya saya pernah mengirimkan ke beberapa teman baik dalam maupun luar negeri, ternyata ada yang tidak menerima. Begitupun sebaliknya, ada yang pernah mengirimkan ke saya, juga gak sampai ke rumah.

Ini salah di mana ?

Saya menanyakan kepada teman blogger sekaligus postcrosser lain, OmNduut. Ia memberi solusi untuk mencari tau masalahnya. Kita bisa memastikan dengan cara mengirimkan kartu pos ke dua alamat yang berbeda dalam waktu bersamaan. Kalau ke alamat kita tak sampai, tapi ke alamat lain sampai, bisa jadi ini bermasalah di petugas.

Tapi, masalah lainnya bisa juga dari kantor pos daerah setempat (tempat pengiriman). Pengalaman beberapa teman, ada kantor pos dari daerah tertentu yang mereka coba gunakan untuk pengiriman kartu pos tapi tidak ada yang sampai sama sekali.

Apakah mengirimkan kartu pos perlu modal ?
Ya jelas dong, untuk membeli kartu pos atau membuat kartu pos sendiri pasti ada modalnya. Belum lagi membeli perangkonya. Tentu ada biaya yang harus dikeluarkan.

Lalu apa untungnya mengirimkan kartu pos ?

Menambah teman dan menjalin silaturahmi. Seperti saat saya menawarkan mengirimkan kartu pos Indonesia, saya kembali menjalin silaturahmi dengan teman lama.

Menambah informasi. Kalau saya mengirimkan kartu pos tentang Indonesia ke luar negeri, biasanya saya jelaskan sedikit tentang Indonesia. Harapannya, aka nada orang-orang yang tertarik dengan Indonesia. Bisa jadi, orang lain akan menjelaskan tentang hal-hal yang ada di negaranya juga sebagai balasan untuk kita. Ketika saya mendapat kartu pos shinkansen, saya juga berharap bisa melihatnya secara langsung. Saya juga berkeinginan untuk traveling ke tempat lain.

Menjadi postcrosser bisa jadi hobi yang menyenangkan. Tak hanya koleksi kartu pos yang kita dapat, perangko dari berbagai daerah atau negara pun bisa kita koleksi.

Sekarang, saya lagi harap-harap cemas. Semoga kartu pos yang saya kirim dari Singapore beberapa waktu lalu sampai rumah.

 

 

 

 

Silahkan meninggalkan komen :) Aku bakal bw balik....