Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 2]

Selama libur 3 hari yang bertepatan dengan libur Natal yang lalu, saya sekeluarga main ke Pulau Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Sekilas tentang Pulau Bangka dan cerita liburan hari pertama bisa di baca di  Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 1]  dan ini adalah lanjutan cerita di hari kedua dan ketiga….

Day 2 (24 Desember 2017)

Hujan membasahi kota Pangkal Pinang pagi itu. Rencana ingin berenang pagi harus kandas. Rencana ingin ke Alun-Alun Merdeka untuk olah raga sepertinya juga pupus. Alhasil, malah malas-malasan di Menumbing Heritage Hotel sampai jam 9 pagi.

Karena ingin ke pantai lagi, akhirnya kita menuju Sungailiat, tepatnya menuju Pantai Tongaci karena ada penangkaran penyu di sini. Sampai di Pantai Tongaci masih sedikit gerimis dan biaya masuknya Rp 5.000,-. Penangkaran penyu Tukik Babel memiliki kolam yang digunakan untuk penangkaran penyu, ada pula yang bentuknya keramba di dekat pantai. Kita bisa melihat langsung penyu-penyu yang berenang. Pada saat tertentu akan ada pelepasan penyu ke laut. Di sini terdapat 2 jenis penyu yaitu penyu hijau dan penyu sisik. Untuk informasi lengkap tentang Tukik Babel bisa mengunjungi Facebook Tukik Babel.

Dekat dengan penangkaran penyu Tukik Babel, terdapat sebuah kompleks wisata De Locomotief. De Locomotief memiliki fasilitas berupa restaurant seafood, combi tiam (warung kopi dan minuman dengan tampilan vw combi), perpustakaan lengkap dengan area untuk anak bermain, art shop, art gallery, area pijat refleksi, museum, patung terracota dan binatang buatan, dan pantai tentunya. Untuk museum, anak-anak dilarang masuk. Jadi saya ga masuk karena ya ga enak aja cuma salah satu yang masuk anak ditinggal *ceritanya baik*. Sementara itu di art shop tidak boleh mengabadikan gambar sama sekali. Di area perpustakaan, ada tempat duduk dan bisa bersantai sejenak sementara anak main balok-balokan. Koleksi bukunya cukup lengkap dan beragam. De Locomotief penuh dengan hiasan payung jadul yang menggantung. Cukup instagramable lah bagi yang pandai mengambil foto atau paling tidak banyak spot untuk berfoto. Menutup kelaparan, kami memesan roti panggang khas Bangka dan kopi di Combi Tiam sebagai bekal menuju tujuan lainnya. Oh iya, di sekitar De’Locomotief ini tersedia beberapa pilihan watersport mulai dari Jetski, Banana Boat, sampai Snorkeling dan Diving.

Daerah Belinyu menjadi tujuan kami berikutnya. Sebuah daerah yang masih masuk Kabupaten Bangka dan berada di bagain utara pulau. Konon, banyak pantai di daerah ini, tapi yang paling utara adalah Pantai Penyusuk. Kami pun menuju ke sana. Butuh sekitar 1.5 jam lebih dari Sungailiat menuju Pantai Penyusuk. Harga tiket masuknya Rp 3.000,-. Ombak di Pantai Penyusuk terlalu besar. Konturnya masih sama, dipenuhi oleh banyak batu besar. Di sekitar pantai terdapat warung-warung yang menjual otak-otak atau mie instan. Hanya saja agak sedikit kurang terawat rasanya. Sempat menyimpulkan, kalau harga tiket masuk Rp 3.000,- jangan punya ekspektasi tinggi terhadap lingkungan pantai. Kalau harga tiket Rp 5.000,- bisa dapat pantai yang ada resto atau paling tidak lebih terjaga.

Sebenarnya kami sudah kelaparan, tapi cari makan di sekitar Belinyu berakhir zonk karena entah kurang banyak referensi dan sinyal juga agag igig ga jelas. Akhirnya secepat mungkin kembali ke Pangkal Pinang karena Bojo juga merasa lebih baik makan di Pangkal Pinang yang lebih banyak pilihan. Akhirnya lewat Sungailiat pun sekedar lewat padahal ada restoran seafood yang menggoda karena ramai. Sempat mampir di daerah Merawang karena katanya ada Danau Kaolin dan berakhir zonk juga karena nyasar. Akhirnya kami sampai di depan BES Cinema, sebuah bioskop di Bangka yang di depannya ada area foodcourt. Penasaran dengan Tahu Kok, kami memesan Tahu Kok Yen Yen untuk mengganjal perut. Tahu kok seperti layaknya bakso namun penuh dengan bakso ikan dengan kaldu gurih. Kuahnya sedap dan sudah halal. Kenapa namanya Tahu Kok, mungkin karena selain bakso ikan kukus dan goreng, ada juga tahu dengan isian bakso ikan yang juga dikukus dan digoreng yang berada dalam semangkok masakan ini. Beruntungnya mampir di foodcourt, karena saking kelaparannya, kita bisa nambah lagi menu lain seperti nasi bakar.

 

 

 

Lelah menyetir membuat Bojo ingin leyeh-leyeh di hotel saja. Eh, tapi anak minta berenang. Akhirnya berenang juga di hotel. Malamnya kami mencoba restaurant seafood lain yaitu Fresh Seafood Aju. Restoran ini terkenal dengan menu Kepiting Asap dan Terong Telor Asin. Rasanya…..Mantcaaappp bana. Apalagi kalau minumnya Es Kiamboy. Asem-asem seger lah. Cuma, setelah itu pas bayar rasanya hmmmm…. berdua sekitar Rp 225.000,-. Cukup lumayan sih, mengingat menunya ad a kepitingnya.

Keinginan mampir di Alun-Alun Merdeka batal karena penuh dan cukup susah dapat parkir. Akhirnya berburu oleh-oleh saja. Oleh-oleh wajib dari Bangka adalah Getas (seperti krupuk bulat yang teksturnya agak keras dan ikannya terasa), Kripik Telur Cumi, Rusip (fermentasi ikan), sirup jeruk kalamansi / jeruk kunci, , dan terasi tentunya. Sembari mengelilingi kota lagi, kami melihat jejeran pedagang buah durian di sepanjang jalan seberang kantor PT Timah. Tergoda untuk mencoba Durian Bangka, kami pun mampir. Sebuah pengalaman berbeda kami dapatkan saat jajan durian di Pangkal Pinang, penjualnya baik dan detail bertanya apa yang dimau.

Pedagang Durian (PD) : Silahkan kak, mau yang mana ?
 Bojo (B) : Kalo yang ini gimana kak? *menunjuk durian yang diletakkan di bawah bertuliskan 100ribu / 3 durian*
 PD : Itu, biasa aja kak, manis pahit. Kakak mau yang manis sedeng atau manis pahit? Kalau manis sedeng, kami kasih durian yang dagingnya kuning atau durian tembaga. Kalau yang manis pahit yang di bawah itulah, dagingnya putih.
 B : Yang manis biasa aja, jangan yang ada pahitnya.
 PD : Oke, kak, yang ini aja *dia ambil yang dipajang di atas* 40.000 satunya. 
 B : Yo, ambil dua ya kak

Saya merasakan penyampaian informasi tentang per-durian-an ini penting. Biasanya kalau makan di Pasar Kuto Palembang cuma bilang, “yang manis ya kak, kalo gak puas, kami tukar”. Buat pelajaran aja, besok-besok requestnya “Yang manis, dagingnya kuning”. Selagi saya makan, ada ibu-ibu lain mau beli dan request detail “Mau duren manis, yang banyak dagingnya” dan pedagangnya menawarkan durian tembaga. Beberapa teman yang memiliki kerabat dari Bangka pernah menyampaikan kalau Durian Bangka lebih enak daripada Durian Palembang. Walau sama-sama lokalan (bukan Durian Bangkok), menurut saya itu benar adanya.

Hari kedua liburan di Bangka kesimpulannya adalah : Masih puas main di pantai dan makan enak.

Day 3 (25 Desember 2017)

Pesawat kami sekitar pukul 13.55 yang berarti harus cek in sekitar pukul 12.00. Cocok dengan waktu cek out. Kami memutuskan keliling kota Pangkal Pinang saja. Kami kembali mengelilingi kota dan mampir ke Museum Timah. Sebagai daerah penghasil timah di Indonesia dan lokasi di mana PT Timah berada, maka wajar rasanya kalau di kota ini berdiri Museum Timah. Di museum ini kita bisa belajar tentang sejarah tentang timah di Indonesia yang dimulai sejak penambangan zaman Belanda serta perkembangan teknologi saat ini. Biaya masuknya gratis juga.

Dari Museum Timah, saya berburu oleh-oleh lain sekalian mengganjal cacing di perut yang berteriak lagi. Otak-otak khas Bangka. Ada dua tempat yang terkenal yaitu Otak-Otak Ase dan Amui, namun yang kebetulan kami temui adalah Otak-Otak Amui. Harga satuan otak-otak bakar adalah Rp 2.500,-. Dengan dua sambal yang diberikan sambal yang agak asam (taoco) dan sambal yang agak berbau terasi. Otak-otak Bangka menurut saya beda dengan otak-otak Palembang, beda pula dengan Batam yang biasanya kecil-kecil, beda pula dengan otak-otak Bintan yang daun pembungkusnya beda. Otak-otak Bangka lebih harum. Menurut nenek (pengasuh Mahira yang jago masak), karna banyak santannya jadinya wangi. Penasaran deh, kapan-kapan nyoba bikin lah. Kalau khilaf.

Setelah itu, kami istirahat sebentar di hotel, lalu mengurus check out dan bergegas ke Bandara Depati Amir. Walaupun terbilang kecil, boarding gate hanya ada 2, tapi ruang tunggunya cukup memadai. Di area luar ada Dum-Dum Thai Tea, restaurant Kopi Tung Tau (selain kopi dan roti panggang ada menu lain juga), CFC Indonesia, dan Otak-Otak Asui. Bahkan ada Zoomoov, itu mainan semacam hewan-hewanan buat anak keliling bandara. Di ruang tunggu atas, ternyata makanan juga ada mulai dari restoran padang, Maxx Coffee, Bakso Lapangan Tembak, dan semacam mini market kecil. Ada playground untuk anak yang bersebelahan dengan Zoomoov.id tapi zoomoov untuk mewarnai gitu. Ada televisi yang menampilkan informasi tentang cuaca. Ada juga ruang untuk menyusui yang nyaman. Daaaaaaaaaaaan akhirnya Nam Air yang kami tunggu untuk membawa kami kembali ke Palembang mulai memanggil. Perjalanan ke Palembang lancar, sampai rumah juga lancar, lanjut cuci-cuci dan meneparkan diri karena besok langsung kerja.

Hasil dari 3 hari 2 malam di Bangka adalah : Ternyata kurang waktunya untuk eksplor sana sini. Pulau Bangka terdiri dari 5 kabupaten/kota, namun kami hanya terfokus di bagian Pangkal Pinang dan Kabupaten Bangka (Sungailiat). Kalau ada kesempatan naik mobil lalu menyebrang dengan Ferry, di Bangka Barat (Muntok) ada rumah yang pernah menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno, di Kabupaten Bangka Tengah juga banyak pantai dan kami belum sempat ke Danau Kaolin Koba yang ternyata ada di daerah ini, Pantai di Belinyu juga banyak yang belum kami lihat, wisata lain seperti kuil belum juga. Urusan kuliner, kami baru mencoba Mie Koba dan Roti Panggang khas Bangka aja, padahal pengen nyoba Lempah (seperti pindang tapi khas Bangka), belum nyoba lalapan pakai rusip, belum nyoba Martabak Bangka yang dijual di Bangka. Intinya sih, pengen ngulang lagi ke Bangka 🙂 Semoga ada kesempatan dan rejeki lagi.

Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 1]

Pulau Bangka merupakan bagian dari Provinsi Bangka Belitung, merupakan destinasi wisata yang umum didatangi oleh orang Palembang. Itu menurut saya sendiri ya. Beberapa hal yang mendasari asumsi saya adalah dulu Bangka Belitung merupakan bagian dari provinsi Sumatera Selatan, jadi ada kekerabatan gitu lah. Ketika awal saya pindah ke Palembang tahun 2011, Pulau Bangka jadi obyek wisata pantai yang paling mudah dijangkau karena ada kapal langsung dari Pelabuhan Boom Baru dan pesawat langsung ke Pangkal Pinang. Sekarang, ketika banyak destinasi penerbangan lain dari dan ke Palembang, intensitas pesawat ke Pulau Bangka juga meningkat.

Beberapa kali saya mendapatkan ajakan ke Pulau Bangka. Pertama di tahun 2012 bersama teman-teman se-perantau-an di Palembang. Satu rekrutmen bareng dari Bandung dan beberapa diantaranya mengontrak bersama. Salah satu teman kontrakan ini berasal dari Sungai Liat. Tapi ada juga ajakan teman kuliah untuk ke Singapore. Kangen teman kuliah dan pengen ngecap paspor lagi, akhirnya saya ke Singapore. Di tahun 2014, ajakan datang lagi dari teman-teman se-unit kerja. Eh, kok barengan sama rekrutmen yang lagi diikutin. Yaudah batal deh dan gagal lolos pula. Ah, elah.

Di bulan April 2017, saya dapat ajakan main ke Pulau Belitung. Secara nama memang Pulau Belitung rasanya lebih terkenal dari Pulau Bangka, terutama karena julukan Negeri Laskar Pelangi. Terus, entah kenapa saya ngerasa, ih, kok Bangka yang lebih deket belum pernah didatengin, malah Belitung udah pernah. Eh, pas pula sama muncul iklan hotel Menumbing Heritage. Penasaran nyoba nginep di sana dan akhirnya booking dapat tanggal 23-25 Desember 2017. Oke, hotel udah baru booking tiket pesawat.

 

Dari Palembang ke Pulau Bangka sebenarnya bisa ditempuh dari 3 cara, naik pesawat langsung dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II ke kota Pangkal Pinang, (40 menit), naik kapal cepat dari Pelabuhan Boom Baru ke Muntok (+/-3 jam), atau naik ferry dari Pelabuhan Tanjung Api-Api ke Muntok. Secara harga, memang pesawat lebih mahal sih dari kapal cepat, tapi kadang bisa sama juga kalau pesan jauh-jauh hari. Kalau bawa mobil sendiri dan naik ferry, ada biaya untuk mobil sendiri dan itu juga lumayan, seharga satu tiket pesawat. Secara waktu, dari Palembang ke Tanjung Api-Api butuh waktu 2 jam lebih, dari Muntok ke Pangkal Pinang butuh waktu sekitar 3 jam. Alasan libur yang sebentar, anak masih kecil (khawatir cranky di perjalanan laut), bikin kami memilih naik pesawat aja. Penerbangan langsung dari Palembang ke Pangkal Pinang dioperasikan oleh beberapa maskapai mulai Wings Air, Sriwijaya Air, Nam Air, dan Garuda Indonesia dengan kisaran harga mulai 250.000 (kalau jauh-jauh hari) sampai 700.000-an (kalau mepet-mepet) sekali jalan.

Sejak berkeluarga, apalagi punya anak sendiri, tipe liburan saya sekarang santai aja. Gak ngoyo harus ke sana ke sini. Apalagi sekarang sudah banyak aplikasi pendukung liburan seperti Trip Advisor dan apa-apa bisa dicari di Google. Jadi, saya ga bikin itenary apapun. Hehehe. Berikut cerita perjalanan 3 hari 2 malam di Pulau Bangka. Akan dibagi jadi 2 bagian karena panjang 🙂

Day – 1 (23 Desember 2017)

Gerimis sisa hujan deras mulai menyapa kota Palembang pada pagi hari itu. Sejak semalam, saya mencoba memesan taxi Blue Bird dengan menu advance booking karena flight jam 07.55 artinya saya dari rumah harus pergi jam 06.15 paling lama. Dulu, awal Blue Bird masuk Palembang, nyari taxi ke bandara untuk flight pagi susah banget, kalau nelpon mendadak sering ga dapat, kalau nelpon malam sebelumnya malah nawarin jemput pagi banget biasanya. Dengan fitur advance booking, kita bisa pastikan bookingan kita telah tercatat dan benar saja, sekitar jam 06.00 driver Blue Bird sudah menghubungi saya.

Boleh dibaca : Mau Keliling Palembang, Pake Blue Bird Aja


Proses check in termasuk cepat. Sayangnya ternyata pesawat didelay sampai batas waktu yang belum diketahui. Beruntungnya karena delay saya jadi bisa mencoba Nursing Room yang ada di Bandara SMB II ini, foto-foto sama maskot Asian Games 2018, foto di Rumah Limas, dan jajan Chatime. Untuk area playground anak di ruang tunggu bandara masih sedikit kotor, tapi sudah lebih rapi dibanding bulan September lalu. Akhirnya panggilan boarding datang dan penerbangan pun mulus selama 40 menit. Rasanya baru naik, duduk, dikasih snack dan minum, eh udah dikasih tau siap mendarat aja.

Sampai di Bandara Depati Amir Pangkal Pinang, kira-kira sekitar pukul 10.00. Kebetulan saya menyewa mobil dari Bangka Tour (0812 8298 8898 / 0852 6999 9927) dan lokasi pengantaran mobil di bandara. Harga sewa mobil per hari tanpa supir adalah Rp 350.000,-. Sambil menunggu transaksi selesai, saya sempat foto-foto dulu di sekitar Bandara Depati Amir.

 

Dari bandara, tujuan pertama kami adalah mengisi tenaga di Mie Koba Iskandar. Mie Koba merupakan mie khas Bangka yang terdiri dari mie kuning dan tauge yang disiram dengan kuah ikan. Saat datang di pagi hari, warung mie ini tidak terlalu ramai. Mie kuningnya terasa kenyal dan kuah ikannya sedap sekali. Topping bawang goreng juga semakin menggugah aroma. Oh ya, walaupun kuahnya ikan, saya sama sekali tak merasakan bau amis, malah ada rasa manis-manis gurih gitu deh. Sebagai teman makan mie ini, di meja disediakan telur rebus sementara itu untuk menghilangkan seret setelah makan mie kita bisa minum air mineral kemasan gelas yang tersedia di meja atau teh botol yang bisa diambil dari cooler box. Sebuah keunikan terjadi saat membayar.

Bojo (B) : Mba, mau bayar, mie nya dua..
 Mba-Mba Mie Koba (M) : Empat puluh ribu..
 B : Tambah telor dua
 M : Empat puluh ribu
 B : Teh botolnya juga dua
 M : Empat puluh ribu

Bojo pun bingung harga telor dan teh botol aslinya berapa di sini. Jadi anggap saja begini, makan di Mie Koba Iskandar ini seporsi Rp 20.000,-. Daripada nyesel makan kurang kenyang, mending tambah telor. Abis makan biasa seret dan haus kan ya, jadi mending sekalian pesan minum aja.

 

 

Selepas makan Mie Koba, kami meluncur ke Bangka Botanical Garden (BBG), yang merupakan kawasan agrowisata di kota Pangkal Pinang. Kawasan BBG terdiri dari beberapa bagian antara lain hutan pinus, perkebunan, peternakan sapi, saung untuk makan di area BBG cafe, restaurant, dan warung susu sapi segar. Sebenarnya di area peternakan sapi, pengunjung bisa melihat proses pemerahan sapi langsung. Namun, menurut informasi pemerahan dilakukan pukul 08.00 pagi atau 14.00 siang. Kalau tidak bisa melihat proses pemerahan susu sapi, kita bisa memberi makan sapi-sapi secara langsung. Sebuah pengalaman yang juga akan disenangi oleh anak-anak. Di area perkebunan, kita bisa memanen langsung hasil kebun dan membelinya nanti. Kawasan BBG ini kerap dijadikan area untuk pre-wedding juga. Sehingga saya pun tak lupa berfoto-foto. Terakhir, jangan lupa menikmati susu segar yang warungnya berada persis di depan pintu masuk/keluar BBG. Bisa buat bekal perjalanan. Biaya masuk BBG masih gratis, namun saat memberi makan sapi bisa memberikan uang ke kotak untuk mendukung biaya perawatan. Makan atau jajan susu segar juga bisa membantu mendukung area wisata ini.

 

Tempat wisata yang bisa dikunjungi dekat dengan BBG adalah Pantai Pasir Padi. Hanya sekitar 5 menit dari BBG, kita akan masuk ke area Kawasan Pantai Pasir Padi. Biaya masuk sekitar Rp 4.000,-. Pantai Pasir Padi termasuk pantai dengan garis pantai yang panjang. Areanya sudah dilengkapi WC Umum, warung di sekitar, Restaurant Seafood, bahkan ada juga resort yang sedang dibangun. Sayangnya, di akhir bulan Desember, laut sedang pasang dan ombak pun cukup kencang sehingga tak tampak banyak orang yang bermain di pantai ini.

Tak terlalu lama di Pantai Pasir Padi, kami mencoba mencari hal menarik yang ada di dekat area ini. Ternyata ada Jembatan Emas. Jembatan Emas ini sangat jelas terlihat saat kita akan mendarat di Pulau Bangka. Merupakan sebuah ikon wisata baru di Pulau Bangka yang merupakan jembatan dengan sistem buka tutup. Saat datang kesana, jembatan ini sedang terbuka. Banyak juga yang datang untuk foto-foto dengan latar belakang jembatan ini.

Tiba saatnya cacing di perut meronta minta asupan makanan. Namanya juga trip labil, kami kembali ke area kota Pangkal Pinang dan berakhir makan di Restauran Mr. Adox setelah sholat dhuhur terlebih dahulu. Restoran Seafood Mr. Adox ini berada di simpang jalan. Sangat mudah ditemui dari arah bandara menuju pusat kota. Restoran ini cukup besar dan termasuk populer di Pangkal Pinang. Di salah satu sisi terpampang foto-foto orang penting yang pernah datang ke sini. Halaman resto terbilang cukup untuk menampung banyak mobil. Pelayanan juga sigap. Kalau dirasa-rasa sih, secara harga dan namanya juga restaurant ya, jadi memang sedikit mahal dan porsinya pun tak terlalu besar. Tapi secara rasa emang bikin puas sih. Udang plus petenya, mantapppppp! Ya, setelah itu sih sempat kaget saat tagihan sekitar Rp 200.000, untuk berdua.

 

Kenyang makan, kayaknya perlu aktivitas lain nih. Check in di hotel belum bisa. Akhirnya kami menuju Sungailiat, Kabupaten Bangka. Di Sungailiat, pilihan pantai pun semakin banyak. Salah satu yang paling terkenal adalah Pantai Parai Tenggiri. Sudah mengikuti petunjuk jalan, tapi kami ragu kenapa diarahkan ke resort. Ternyata memang Pantai Parai Tengiri ini bagian dari resort Pantai Parai Beach & Resort dan dikelola secara khusus. Untuk masuk area resort sih boleh saja, ada restaurant juga. Tetapi, kalau mau masuk area pantai harus membayar lagi Rp 25.000,-. Sebelumnya kami sempat menyasar sebentar ke Pantai Matras dan bermain di sana sebentar saja. Ombak cukup besar, tetapi tak menghalangi foto-foto. Di area Pantai Matras sedang ada pembangunan juga. Warung dan tempat bilas dapat ditemui di sekitaran pantai ini. Masuk ke kawasan Pantai Matras dikenakan biaya Rp 3.000,-.

Dari Pantai Parai, kami berniat kembali ke Pangkal Pinang lagi. Eh, kok ada motor masuk sebuah jalan kecil. Bojo curiga, dan bilang, biasanya kalau orang jalan naik motor nemu pantai bagus tuh. Yasudah, kami ikuti dan menemukan fakta, sebenarnya pantai di Pulau Bangka memiliki kontur mirip dengan pantai di Pulau Belitung yang didominasi batuan besar dan tinggi. Tapi sepertinya memang secara pengelolaan lebih baik di Pulau Belitung.

 

Menuju Pangkalpinang, kami melalui jalur yang berbeda saat menuju Pantai Parai. Memilih Jalan Laut di Google Maps, membawa kami menemukan Pantai Batu Bedaun. Pantai ini sepertinya sedang dalam pengembangan untuk dibangun resort. Kami menemukan sebuah restaurant yang cukup besar dengan area permainan di sekitarnya. Karena baru saja makan seafood, kami pesan yang normal saja : Nasi Goreng Seafood dan Mie Goreng Seafood. Enaknya makan di restauran pantai dengan area permainan yang cukup, waktu menunggu jadi tak berasa karena anak bisa bermain ayunan atau bermain pasir. Secara rasa sih, enak sayang terlalu banyak minyak di makanannya.

Selesai makan, Mahira mulai ngantuk dan waktu juga sudah menjelang sore. Akhirnya kali ini beneran kembali ke Pangkal Pinang tanpa mampir-mampir lagi. Saat menuju Hotel Menumbing Heritage, kami melewati Alun-Alun Merdeka yang sudah ramai sore itu. Mau mampir tapi badan lengket. Akhirnya diputuskan cek in di hotel dulu dan besok pagi saja sekalian olah raga.

 

Baca juga : [Review] Menumbing Heritage Hotel, Penginapan dengan Bangunan Bersejarah di Pangkal Pinang

 

 

Malamnya kami mencoba Warung Ikan Bakar Bogi-Bogi. Sebuah warung kecil yang sempat saya baca sekilas saat menuju hotel sore hari. Walaupun warungnya kecil, tapi ternyata di malam hari cukup ramai. Pengunjung bisa memilih ikan yang dimau, beragam ikan laut seperti kakap merah . Setelah itu bisa dipilihkan juga mau dimasak apa. Kami request dibakar saja. Sebagai pendamping, ditawarkan pula kangkung dengan pilihan mau ditumis balacan (terasi) atau bawang putih. Ikan bakar pun datang bersama dua jenis sambal, salah satunya adalah sambal dabu-dabu. Rasanya, pas asem-asem pedes gitu. Harganya juga ramah di kantong. Makan berdua dengan dua ikan plus minum sekitar Rp 100.000,-. Kenyang, murah, enak. Tapi berhubung ramai ya kudu sabar dikit.

Kelar makan, kami semua kenyang dan berakhir keliling kota aja malam-malam lanjut ke hotel terus tidur pulas………

Jangan lupa baca lanjutannya 😀 di Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 2]

 

DonasiKu dan OBA, Ragam Alfamart Membangun Masyarakat

“Halo, Daffa dari mana?” tanya saya pada anak tetangga.
“Jajan di Alfamart, tante” jawab Daffa dengan polos sambil menunjukkan plastik kecil dengan logo Alfamart berwarna merah.

Mendengar kata Alfamart, Mahira, anak saya saya pun langsung menirukan “Amat, Amat, Jajan, EsKim”. Wah, minta jatah dia ini. Saya pun mengajaknya jalan ke Alfamart di area depan komplek sekalian jalan sore. Kebetulan stok Promina Puff, jajanan favorit Mahira, sedang habis dan menurut katalog promo yang saya lihat di aplikasi Shopfully juga sedang ada promo.

Sesampainya di Alfamart saya melihat sebuah poster yang dipasang berisi informasi laporan DonasiKu Alfamart. Alfamart telah menyalurkan donasi dari pelanggan melalui beberapa program seperti bantuan perlengkapan sekolah, bantuan kaca mata, dan lain-lain. Bantuan ini diserahkan di beberapa daerah di Indonesia. Jadi penasaran, di Palembang ada ga ya?

Mari kita berkenalan lagi dengan program Donasi dari Alfamart.

Donasi Alfamart (DonasiKu) merupakan salah satu bentuk program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart). DonasiKu mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program sosial dan pendidikan yang diperuntukkan untuk membantu masyarakat. Pelanggan Alfamart dapat melakukan donasi secara sukarela melalui kasir yang umumnya ditawarkan oleh kasir saat melakukan pembayaraan. Informasi rencana program penyaluran DonasiKu biasanya tertera di dekat komputer yang dilakukan kasir untuk transaksi, sehingga pelanggan berhak memilih untuk melakukan donasi atau tidak. Tak ada paksaan. Sementara itu, laporan DonasiKu Alfamart akan ditampilkan melalui poster yang ditempelkan di salah satu dinding Alfamart. Jika ingin melihat program maupun laporan secara jelas, dapat juga diakses melalui website resmi Alfamart.

Untuk area Palembang sendiri, Alfamart cabang Palembang telah menyalurkan donasi dari pelanggan melalui beberapa program untuk masyarakat seperti perlengkapan sekolah dan sepatu sekolah layak untuk para pelajar, perbaikan jembatan untuk para warga agar aman dilintasi, sembako untuk masyarakat, serta alat bantu untuk penyandang disabilitas.

Salah satu daerah yang menerima donasi berupa perbaikan jembatan adalah kawasan Mariana. Sebagai Lurah Mariana, Bapak Al Musa mengatakan bahwa dengan adanya jembatan yang layak, aktivitas warga semakin dimudahkan.

Melalui program DonasiKu, Alfamart tidak hanya melakukan filantropi kepada masyarakat yang membutuhkan melalui donasi atau pembangunan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan awareness masyarakat lainnya untuk meningkatkan rasa empati dan simpati dan keinginan untuk berbagi kepada orang lain. Tentunya CSR yang dilakukan oleh Alfamart juga melakukan bentuk tanggung jawab perusahaan kepada pelanggan dan masyarakat Alfamart serta lingkungan. Pembangunan untuk masyarakat dan lingkungan tentu diharapkan akan memudahkan masyarakat dalam menjalankan aktivitas dan secara jangka panjang dapat meningkatkan perekonomian rakyat.

Memiliki visi “berorientasi kepada pemberdayaan pengusaha kecil”, Alfamart juga memiliki program CSR lainnya berupa Outlet Binaan Alfamart (OBA). Program ini merupakan bentuk tanggung jawab Alfamart dari kegiatan operasional yang dilakukan Alfamart terhadap lingkungannya. Selama ini, banyak yang memandang kehadiran minimarket ritel modern seperti Alfamart akan mematikan pengusaha ritel tradisional atau warung-warung kecil yang sebelumnya tumbuh. Alfamart memiliki keinginan untuk maju bersama pengusaha warung tradisional melalui program OBA ini.

Pengusaha warung tradisional dapat bergabung menjadi member program Outlet Binaan Alfamart (OBA). Para member OBA akan memperoleh fasilitas seperti konsultasi / pelatihan terkait bisnis, operasional warung, penggunaan sistem dan aplikasi ritel sederhana, mendapatkan pasokan barang dengan harga yang dapat dijual kembali dengan keuntungan wajar, serta pengembangan usaha ke arah bisnis.

Para pemilik warung yang telah bergabung menjadi Member OBA, memiliki kesempatan untuk mempercantik tampilan warungnya. Salah satu member OBA yang telah merasakan peningkatan tampilan dari warung tradisionalnya adalah Ibu Rokhiati. Warung tradisional miliknya yang berada di sebelah Alfamart Inspektur Marzuki Palembang, telah di dress up sehingga tak kalah menarik dengan Alfamart yang berada di sebelahnya. Tak hanya tampilan luarnya saja yang dipercantik, para petugas Alfamart pun ikut menyusun ulang barang dagangan yang dijual sehingga lebih “eye-catching”.

Melalui Program OBA ini, Alfamart berkeinginan agar para pedagang dapat mengelola warung dengan baik dengan memenuhi kebutuhan barang dagangan melalui produk dan jasa yang berkualitas dengan harga terbaik. Secara jangka panjang, Alfamart ingin membuka peluang bagi wirausahawan baru di bidang retail untuk masyarakat luas.

Sudah sewajarnya sebuah perusahaan melakukan tanggung jawab sosial kepada masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Karena tentu saja ada dampak yang ditimbulkan dari aktivitas operasional yang dilakukan. Alfamart telah mencoba merangkul masyarakat khususnya yang menjadi pelanggan, dengan menanamkan nilai kebaikan berupa keinginan berbagi. Kepada lingkungan, Alfamart telah lebih peduli kepada UMKM dan memperintah tata ruang kota. CSR adalah salah satu cara perusahaan membangun masyarakat secara berkelanjutan dan program CSR Alfamart telah menjadi bagian dari hal tersebut.


ps. sumber gambar kegiatan donasi didapatkan dari Alfamart. 
Untuk info lainnya tentang promo dan kegiatan Alfamart dapat dilihat melalui website, facebook, twitter, instagram, dan youtube Alfamart.

[Review] Menumbing Heritage Hotel, Penginapan dengan Bangunan Bersejarah di Pangkal Pinang

Di tahun 2017, beberapa kali saya melihat sponsored post di Instagram tentang adanya promosi sebuah hotel di Pangkal Pinang. Saya pun beberapa kali melirik akun instagram Menumbing Heritage Hotel ini.

Melihat desain hotel yang klasik sangat menarik perhatian saya. Mumpung libur long weekend banyak di bulan Desember 2017, saya coba membooking kamar dan dapatlah kita di tanggal 23 – 25 Desember 2017. Baru setelah itu saya merencanakan libur ke Bangka. Hehehe.

Menumbing Heritage Hotel adalah sebuah hotel yang bisa dibilang baru di Pangkal Pinang. Berlokasi di Jalan Gereja, Pangkal Pinang, hotel ini berada di pusat kota secara persisnya ada di dekat sebuah pasar. Jika dihitung jaraknya dari Bandara Depati Amir, berkisar 9km dan dapat ditempuh sekitar 20 menit. Ketika pertama kali datang ke hotel ini, saya merasakan masuk ke dalam sebuah benteng. Menumbing Heritage Hotel seperti sebuah bangunan yang berbeda dibandingkan bangunan lain di sekitar dan terlihat tertutup bagian dalamnya.

Desain bangunan tua yang diperbaharui sangat terasa ketika memasuki halaman Menumbing Heritage Hotel. Jendela dan pintu besar juga menambah kesan bangunan tua. Sentuhan modern terasaa melalui warna putih terang mendominasi bangunan sementara lantainya berkeramik warna hitam putih.  Jika membaca sejarah yang tertulis di salah satu bagian dinding bangunan hotel ini, Menumbing Heritage dulunya adalah markas militer sebelum dijadikan hotel pada tahun 1980 oleh Bapak Ishak Boentaran. Pada tahun 2012 dimulai rekonstruksi hotel sampai menjadi hotel yang lebih modern namun tetap bersejarah bahkan menjadi ikon dari kota Pangkal Pinang pada saat ini.

 

Sebuah penunjuk tanggal dengan desain kuno terpampang di meja resepsionis. Di sebelah ruangan resepsionis terdapat ruangan business center dengan meja besar layaknya meja untuk rapat dan rak penuh buku-buku. Pelayanan yang diberikan oleh resepsionis sangat ramah dan cepat. Sebelumnya, saya sempat menelepon hotel ini beberapa hari sebelumnya karena berdasarkan petunjuk di Traveloka, akan lebih baik menelepon hotel dahulu sehari sebelum cek in. Setelah meminjamkan KTP dan mengisi data tamu, saya pun menuju ke kamar. Oh ya, di hotel ini saya tidak diminta untuk melakukan deposit dana terlebih dahulu. Seperti hotel lainnya, waktu check in dimulai pada pukul 14.00 dan check-out paling lama pada pukul 12.00.

Saat berjalan menuju kamar, saya melihat interior hotel yang dipenuhi oleh foto-foto tua dengan bingkai yang besar. Di dekat lift terdapat jejeran kebaya encim dibingkai rapi sebagai cerminan adanya pengaruh budaya Tionghoa di Bangka. Yang menarik dari hotel ini adalah lift yang memiliki pintu kaca layaknya pintu sebuah ruangan. Kita harus membuka pintu lift dengan menariknya, bukan pintu geser otomatis yang biasa ditemui di lift pada hotel atau bangunan lain. Tenang, ada sensor pastinya agar tetap aman. Sebuah tulisan menjelaskan kalau memang lift didesain khusus untuk bangunan ini. Sempat saya bersama pengunjung lain yang mengungkapkan bahwa lift ini bukan untuk orang, tapi untuk barang. Saya pun hanya tersenyum saat mendengarnya. Semua hotel memang punya keunikan sendiri, termasuk Menumbing Heritage yang memiliki lift unik.

Saya mendapatkan kamar 214, tipe Superior (sebenarnya yang paling standar di hotel ini) dengan kisaran harga 400.000. Sempat membandingkan antara booking langsung di web hotel dengan menggunakan kode diskon versus booking di Traveloka ternyata harganya mirip-mirip. Tipe superior ini memiliki luasan kira-kira 20 m2 dengan sebuah single bed besar (tipe queen) serta sebuah meja kerja lengkap dengan kursinya. Di salah satu sisi juga terdapat rak tinggi yang berisi deposit box, cooler (mini bar gratis berupa teh kotak merek teh botol sosro), air mineral, serta cangkir dan heater lengkap dengan kopi sachet dan teh yang dapat diseduh sendiri. Pada tempat tidurnya sendiri disediakan 2 pasang bantal, sehingga cukup untuk perang bantal, eh. Wi-fi terdapat di setiap lantai dan koneksi cukup cepat. Televisi yang menempel di dinding dan menghadap tempat tidur menawarkan aneka channel lokal dan internasional untuk memanjakan tamu yang ingin bersantai di kasur sambil nonton tv layaknya di rumah.

Nuansa putih terang kembali terasa saat memasuki kamar mandi. Terdapat area terpisah (ada pembatas khusus) untuk mandi dengan shower , wastafel, dan closet duduk. Perlengkapan mandi mulai dari sikat gigi, bath foam, shampoo, sabun batangan, shower cap, dan shaving kit pun tersedia di dekat cermin di atas wastafel. Oh iya, cermin hanya bisa ditemui di kamar mandi saja ya. Saat mencoba air panasnya, cukup cepat ‘loading‘nya untuk menjadi hangat atau sesuai suhu yang diinginkan. Sedikit minus yang ditemui adalah air di wastafel agak lama turun, sedikit mudah tergenang. Selebihnya nyaman-nyaman saja. Handuk diberikan 2 pasang dengan kondisi yang bersih.

Di sisi lain bangunan hotel, terdapat bangunan yang difungsikan sebagai Menumbing Resto & Bar. Nuansa di restoran ini dipenuhi oleh warna monokrom mulai dari lantai sampai dengan meja dan kursi. Kolam renang terdapat di sebelah restoran dengan pilihan kedalaman mulai dari 1 meter, 1.5 meter, hingga 2.2 meter. Ada pula kolam anak dan yang bagusnya terdapat pembatas yang jelas antara kolam anak dengan kolam untuk dewasa (atau yang memiliki kedalaman lebih dari 1 meter). Mahira berenang 2 kali, di sore hari dan di pagi hari. Bahkan ia tak fokus sarapan karena melihat kolam renang terus sambil mengkode ingin berenang.

Sarapan di Menumbing Heritage Hotel cukup variatif. Terdapat area khusus makanan ‘berat’ seperti nasi goreng, nasi uduk, dan aneka lauk. Di area yang sama terdapat pula station Mie Bangka, Roti Panggang khas Bangka & Waffle dengan aneka rasa, serta Egg Station. Petugas dapur ini siap melayani pemesanan menu tersebut. Di area lainnya, terdapat meja yang menghidangkan salad, sereal, roti tawar dan berbagai selai, pastry, buah, serta beberapa minuman seperti jus nanas, air mineral, dan susu kedelai. Untuk cita rasanya sendiri, saya sangat senang dengan Mie Bangka. Sebenarnya mirip dengan mie ayam di Palembang sih, tapi rasanya lebih sedap kuahnya karena bawangnya lebih terasa. Apalagi kalau ada tambahan pangsit dan cakwe.

Karena saat liburan kemarin bertepatan dengan libur perayaan hari natal, Menumbing Heritage Hotel pun didekorasi dengan hiasan khas natal seperti adanya pohon natal yang berdiri di ruang lobby (atau ruang tamu) lantai 1. Di dinding ruangan tersebut terdapat sebuah perapian kecil yang membuat saya penasaran apakan display digital atau bukan. Dinding lainnya terdapat peta Pulau Bangka. Selain lift terdapat pula tangga kayu yang menghubungkan antar lantai. Di lantai 2 juga terdapat area duduk-duduk dengan sofa besar panjang yang tentu saja cocok untuk berfoto.

Walaupun bangunan Menumbing Heritage Hotel berasal dari bangunan tua, kesan modern lebih mendominasi di hotel ini. Kerapian dan kebersihan hotel pun terjaga. Pelayanan yang saya rasakan juga baik, pantas saja hotel ini meraih penghargaan dari Traveloka dan Trip Advisor. Menumbing Heritage Hotel cocok untuk liburan keluarga. Bagi penikmat suasana tenang, hotel ini layak dipilih. Bagi yang suka melancong ke pasar, di sekitar hotel juga ada pasar tradisional yang bisa didatangi dengan berjalan kaki. Menumbing Heritage Hotel cocok untuk liburan keluarga maupun bersama teman-teman atau rombongan. Sebuah paket lengkap, area untuk berfoto yang bagus, makanan yang nikmat, dan tentu pelayanan yang ramah. Excellent.

Bagi yang ingin melihat detail dari Menumbing Heritage Hotel, bisa mengecek website maupun instagram resmi dari Menumbing Heritage Hotel.

Menjejak Dieng Negeri di Atas Awan, Tempatnya Para Dewa

Sebagai keluarga perantauan, mudik menjadi saat-saat yang menyenangkan karena kita bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Biasanya, kita akan bernostalgia dengan kampung halaman atau mungkin hanya bersantai di rumah saking kangennya sama keluarga. Rasanya ketika mudik malah ke luar rumah untuk bermain rasanya agak gimana gitu, gak enak sama keluarga. Hal itu pun biasanya saya lakukan. Kalau mudik ke Purbalingga, paling main cuma ke Purwokerto yang kurang lebih ditempuh dalam waktu 30 menit.

Biasanya mudik dilakukan di waktu tertentu seperti lebaran atau liburan sekolah. Namun, waktu-waktu tersebut biasanya jadi momen ‘rebutan’ cuti dengan rekan kerja lainnya. Berhubung anak belum sekolah, saya dan suami biasanya mengambil jatah cuti bukan saat liburan sekolah. Sayangnya, hal ini jadi gak sinkron sama kondisi di rumah. Ibu masih mengantar adik ke sekolah, keponakan juga masih sekolah. Akibatnya, di rumah jadi sepi dan malah pengen main-main ke luar rumah.

Sebenarnya di daerah Purbalingga sendiri banyak wisata alam seperti curug, kebun strawberry, atau tempat lainnya. Bisa cek di instagram Wisata Purbalingga ini. Tapi, saya pengen mencoba ke tempat lain. Setelah labil mau ke pantai di Cilacap atau daerah gunung di area Banjarnegara dan Wonosobo, akhirnya kami memutuskan ke Dieng saja karena Bojo pengen makan Mie Ongklok di Wonosobo.

***

Dieng, Negeri di Atas Awan

Dataran Tinggi Dieng, sering dikenal dengan nama Dieng saja, adalah salah satu kawasan yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Kawasan Dieng ini masih merupakan kawasan vulkanik (gunung berapi) aktif. Di pertengahan bulan September lalu, Kawah Sileri, salah satu kawah di Dieng sempat dinyatakan sedang aktif dan memiliki status waspada.

Jarak Purbalingga ke Dieng sekitar 90 km, kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobil yang kami tempuh melalui jalur arah Banjarnegara. Untuk wisatawan lain, menuju Dieng jika dari Jakarta dapat menggunakan kereta melalui Purwokerto lalu dilanjut bis ke arah Wonosobo. Bisa juga bis langsung menuju Wonosobo dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Suguhan alam asri khas pegunungan dengan sawah yang membentang akan tampak saat mendekati Dieng. Jalanan memang berkelak kelok naik, namun tak terlalu membuat pusing atau tak nyaman di kendaraan.

Dataran Tinggi Dieng memiliki ketinggian 2.093 mdpl dan berasal dari bahasa sansekerta yaitu ‘Di’ yang memiliki arti tempat tinggi dan ‘Hyang’ yang memiliki arti kayangan. DiHyang alias Dieng dapat diartikan sebagai tempat tinggi untuk dewa dan dewi tinggal. Begitu memasuki kawasan Dieng, rasanya hawa dingin semakin terasa. Sempat saya mematikan Air Conditioner (AC) di mobil dan membuka jendela untuk menikmati udara segar khas pegunungan.

Kawasan Wisata Dieng memiliki beberapa tempat yang dapat dituju untuk melihat keindahan alam seperti kawah untuk melihat aktivitas vulkanik (Candradimuka, Sibanteng, Siglagah, Sikendang, Sikidang, Sileri, Sinila, dan Timbang), Telaga atau danau (Telaga Warna, Telaga Cebong, Telaga Merdada, Telaga Pengilon, Telaga Dringo, dan Telaga Nila), Gunung di sekitar yang dapat dinaiki sampai puncak ( Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Prau, Gunung Pakuwaja, Gunung Sikunir), serta kawasan candi untuk wisata sejarah (Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Dwarawati, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca). Awalnya ibu saya sempat menyarankan, kalau ingin melihat matahari terbit, lebih baik menginap di kawasan Dieng lalu sekitar jam 3 pagi ke arah Gunung Sikunir. Hanya saja mengingat anak yang masih 1,3 tahun rasanya hal itu terlalu memaksakan. Akhirnya, hanya beberapa area saja yang kami datangi di Dieng ini.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang termasuk daerah yang paling mudah dikunjungi dan dicapai karena medannya tidak terlalu berat. Saat saya datang, rombongan wisatawan asing juga datang dengan menggunakan bis. Sebelum memasuki area Kawah Sikidang ini, kita memasuki pasar yang berisi oleh-oleh khas Dieng seperti krupuk kentang, carica, purwaceng, serta sayuran khas Dieng seperti cabai dan kentang.

Bagi yang memiliki minat terhadap fenomena alam dan sains tentu akan sangat senang berkunjung ke kawah inikarena dapat melihat aktivitas vulkanik secara langsung. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menyusuri kawah dengan jalan kaki atau motor trail. Ada juga beberapa spot untuk foto-foto namun rasanya justru tidak menambah keindahan kawasan ini.

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna berada di satu kawasan yang searah dengan Kawah Sikidang. Komplek candi ini terdiri dari beberapa candi yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Dwarawati, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca yang merupakan candi-candi Hindu.

Secara arsitektur, candi di kawasan ini cenderung sederhana dan ukurannya tak terlalu besar. Di kawasan ini terdapat hamparan halaman yang luas yang bisa kita gunakan untuk bersantai karena dari area pintu masuk kawasan candi sampai area candinya sendiri kita perlu jalan sekitar 5 menit. Tiket masuk kawasan Candi Arjuna dan Kawah Sikidang hanya Rp 15.000,- saja. Cukup murah ya.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat di Dieng

Dieng merupakan daerah kawasan dataran tinggi. Tentunya, suhu dingin akan sangat terasa di daerah ini. Oleh karena itu, akan lebih baik jika membawa jaket untuk mengurangi rasa dingin, apalagi kalau bawa anak kecil, kita akan cenderung lebih memberi proteksi lebih untuk mereka.

Karena kawasan kawah Dieng masih cukup aktif dan mengandung belerang, ada baiknya kita memakai masker. Tenang, di area kawah ada penjual masker kok. Kita bisa membeli dengan harga yang cukup terjangkau.

Dieng memiliki kentang dan sayuran khas. Kentang Dieng berukuran kecil-kecil. Harga per bungkus cukup murah, sekitar 10.000 rupiah. Rasanya tak perlu menawar lagi, apalagi kalau melihat penjualnya adalah nenek-nenek 🙂 Kentang khas Dieng ini berbeda dengan kentang rendang walaupun ukurannya mirip. Saya biasanya mengolah dengan cara mengukus, lalu ditumis dengan butter, bawang, seledri, serta sedikit garam dan lada. Oleh-oleh lain yang bisa dibeli adalah manisan carica (buah khas Dieng), aneka kripik dan krupuk, edelweis, dan banyak lagi.

Di sekitar Dieng terdapat penginapan. Banyak homestay di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Dieng.

Menuju Wonosobo untuk Makan Mie Ongklok

Mie Ongklok menjadi salah satu kuliner wajib ketika berkunjung ke Dieng. Mie Ongklok yang menjadi favorit banyak orang, termasuk saya adalah Mie Ongklok Longkrang di Wonosobo. Sebenarnya Mie Ongklok juga bisa ditemui di sekitar kota Banjarnegara, hanya saja cita rasa kuahnya berbeda. Mie Ongklok Longkrang yang konon sudah ada sejak tahun 1975 ini sudah masuk dalam rekomendasi Trip Advisor juga.

Mie ongklok adalah mie dengan kuah kental yang lezat. Mie kuningnya cukup lembut dan kuahnya pun sangat lezat dan hangat. Cocok untuk udara Wonosobo yang dingin. Kuah kental berwarna coklat tersebut berasal dari tepung tapioka dan diolah dengan campuran sayur kol. Rasanya cenderung manis gurih. Sajian lain yang ditawarkan untuk menemani makan mie ongklok adalah Sate Daging Sapi. Irisan daging sapinya tak terlalu besar dengan kuah pendamping kuah kacang yang sangat halus. Selain itu ada juga tempe kemul alias tempe selimut. Ya, kemul artinya selimut dalam Bahasa Jawa. Tempe kemul memiliki irisan tempe yang tipis, namun tepung yang banyak dan kering dengan taburan potongan daun kucai.

 

Mie Ongklok Longkrang ini dapat dibawa pulang dan jika ingin menikmati di rumah, cara menghangatkannya cukup unik. Yang dihangatkan adalah mienya bukan kuahnya. Mie kuningnya biasa dibungkus dalam plastik, lalu plastiknya kita bolongi dengan garpu dan dimasukkan ke dalam air panas atau air hangat. Setelah itu mie dapat dicampurkan dengan kuah dan kuahnya juga akan menjadi hangat juga lalu siap dinikmati. Tempe kemul juga wajib dibawa pulang untuk teman ngemil sepanjang perjalanan Wonosobo – Purbalingga.

***

Setelah pulang ke Purbalingga, terdapat penyesalan sedikit karena saya tidak membawa pulang kentang Dieng cukup banyak. Semoga jika mudik lagi, saya berkesempatan mampir ke Dieng lagi. Ingin memborong kentang 🙂 Dieng memiliki banyak pesona bahkan ada event tahunan Dieng Culture Festival. Rasanya ingin kembali ke Dieng dan berkeliling ke area wisata yang lebih banyak lagi.