Mengurus Pendaftaran Haji Ternyata Mudah

Awalnya Bapak ingin umroh sekeluarga selepas pensiun, tapi akhirnya menunda dulu karena memperhitungkan kondisi adik yang kurang baik. Saya pun telat sadar karena ingin umroh hanya bersama pasangan pun baru benar-benar timbul setelah menikah (dulu jiwanya masih liburan suka-suka) dan ternyata langsung hamil, mau umroh sekarang ya ada anak kecil khawatir kurang maksimal.

Sebenarnya sudah sejak melihat ada teman yang kuliah di luar negeri menunaikan haji terbersit rasa iri (eh iri pada hal yang baik boleh kan?), melihat orang lain menunaikan umroh terbersit rasa ingin ke rumah Allah juga, puncaknya melihat teman yang bermukim di Jepang (dengan usia yang masih muda / seumuran) menunaikan haji di tahun lalu, rasa ingin pergi ke rumah Allah semakin besar.

Akhirnya menyampaikan niatan ke bojo dan orang tua, serta kebetulan diberkahi rezeki, maka segeralah kami mengurus pendaftaran haji. Justru Ibu sangat mendukung mengingat sekarang antrian haji cukup lama dan mengharapkan anak-anaknya berhaji di usia muda dengan harapan masih kuat dan sehat. Segeralah kami memantapkan hati untuk mengurus haji.

Jadi, mengurus haji itu dilakukan 2 (dua) tahap, pertama mengurus di Bank (diutamakan bank syariah) dan yang kedua mengurus di Kantor Kementrian Agama Kota. Pengurusannya tergolong mudah dan cepat. Saya mendaftar via Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Patal Pusri.

  • Hari Pertama Pengurusan


Hari ini sengaja dikhususkan untuk membuka rekening haji dan bertanya tentang syarat-syarat pendaftaran haji. Kami datang ke Bank Syariah Mandiri menuju Customer Service (CS) untuk membuka rekening di BSM, rekening khusus haji yaitu BSM Tabungan Mabrur.
Kenapa saya pilih BSM karena Setoran awal minimal Rp 100.000,- dan dekat dengan kantor, syaratnya mudah cukup KTP dan mengisi data diri pada formulir (seperti pada umumnya), serta sudah online dengan SISKOHAT (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu) Kementrian Agama.

Nah waktu membuka rekening, sekalian minta persyaratan yang harus dilengkapi untuk pendaftaran haji dan diberikanlah lembaran ini.



Syarat Pendaftaran Haji Reguler di Bank 

1. Membuka Rekening Mabrur dengan syarat KTP/SIM dan NPWP

2. Melakukan penyetoran ke Rekening Mabrur dengan minimal Rp 25.100.000,-

3. Mengiri Surat Pernyataan Calon Haji (SPCH)

4. Mengisi Surat Kuasa

5. Pasfoto (80% tampak muka) ukuran 3×4 (5 Lembar)

6. Materai 6.000 sebanyak (2 Lembar)

Pasfoto 80% tampak muka itu gimana?

Jadi ada persyaratan pasfoto khusus haji (yang katanya buat umroh juga sama) yaitu :

– Pasfoto berwarna

– Latar belakang putih

– Komposisi wajah mendominasi 80%
terdapat juga ketentuan lain yaitu :

– Posisi muka harus menghadap depan, jangan menyamping

– untuk laki-laki, tidak boleh memakai kopiah atau topi

– untuk perempuan, wajib memakai jilbab atau kerudung

– Tidak memakai seragam dinas (buat yang ini, kalau komposisi muka 80% kadang ga keliatan sih)

Contohnya begini :

Buat yang belum punya pasfoto, bisa ke studio foto lalu membuat pasfoto lagi dengan latar belakang putih dan saat mencetak minta request komposisi wajah 80%. Kebetulan saya udah ada pasfoto, jadi minta edit backgroundnya jadi putih dan cetak dengan komposisi wajah 80%.


Syarat Pendaftaran Haji Reguler di Kantor Kementrian Agama Kota Palembang

1. Asli Bukti Setoran Awal yang ada nomor Validasi dari Bank

2. Asli Surat Pernyataan Calon Haji (SPCH)

3. Asli Surat Kuasa Bermaterai

4. Asli dan Fotocopy KTP Palembang (1 Lembar)

5. Asli dan Fotocopy Kartu Keluarga (1 Lembar)

6. Asli dan Fotocopy Surat Nikah / Ijazah / Akte Kelahiran (1 Lembar)

7. Asli dan Fotocopy Buku Tabungan haji di Bank Syariah (1 Lembar)

8. Pasfoto (80% tampak muka) ukuran 3×4 (7 Lembar)

9. Asli dan Fotocopy Paspor (bila ada) (1 Lembar)

10. Surat keterangan domisili dari lurah (untuk usia anak min. 12 tahun)

Kedua persyaratan ini harus dibawa semuanya saat kembali ke BSM.

  • Hari Kedua Pengurusan

Jeda beberapa hari kami gunakan untuk mengurus transferan dana dari bank tempat dana talangan haji kami sendiri ke rekening BSM Mabrur yang akan digunakan untuk pendaftaran haji. Akhirnya, kami kembali lagi ke Bank Syariah Mandiri dengan membawa Syarat Pendaftaran Haji Reguler di Bank saja dan itu SALAH!

Jadi seharusnya baik Syarat Pendaftaran Haji Reguler di Bank maupun Syarat Pendaftaran Haji Reguler di Kantor Kementrian Agama Kota Palembang seluruhnya dibawa dahulu ke bank, tujuannya adalah untuk dicek oleh petugas bank, sehingga saat mendaftar di Kantor Kementrian Agama sudah lengkap berkasnya jadi satu bundel dan tidak ada yang tertinggal lagi. Menurut penuturan CS BSM, kadang ada komplain dari Kantor Kementrian Agama karena ada berkas yang kurang, jadi CS BSM juga mengecek syarat yang akan dibawa ke Kantor Kementrian Agama. Karena kurang syarat yang dibawa, jadi kembali lagi deh siangnya untuk menyetor syarat-syarat.

Oh ya, sama seperti ibadah umroh di mana nama yang didaftarkan harus terdiri dari 3 (tiga) kata mungkin semacam first name, middle name, dan last name nya harus terisi semua, berhubung nama saya cuma terdiri dari 2 kata, maka ditambahkanlah nama depan Bapak saya ke nama saya, jadi nama yang didaftarkan adalah Faridilla Ainun Farid. Jadi nih ya, berdasarkan pengalaman ini, saya sama bojo sepakat, kalau nama anak memang buatlah 3 kata jangan 2 kata kayak saya trus nanti ditambahin.

Pengurusannya gampang, lha wong semua CS BSM yang ngurusin, paling kita cuma setor form yang sudah kita isi dan bayar uang materai kalau memang ga bawa materai. Tau-tau sudah keluar deh itu Tanda Bukti Setoran Awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji.

  • Hari Ketiga Pengurusan

Hari untuk mengurus ke Kantor Kementrian Agama Kota Palembang. Kantor Kementrian Agama Kota Palembang berada di Jalan Ahmad Yani, Tangga Sekat, Seberang Ulu Palembang. Untuk lokasi persisnya ada di sini. Kantornya berwarna hijau, tapi agak tertutup pohon rindang gitu, nyaru sama cat warna kantornya, jadi kalau dari Simpang Telaga Swidak harus ambil lajur kiri dan agak pelan-pelan.

Bagian pengurusan haji ada di bangunan sebelah kanan gedung, petunjuk cukup lengkap untuk mengarahkan ke unit kerja tersebut. Saran saja, menguruslah di pagi hari kalau bisa sebelum jam 9 pagi. Kenapa? Karena di jam 8 pagi Jembatan Ampera tidak terlalu macet (dari arah ilir ke ulu) dan memang kantornya juga buka jam 8 kan, jadi ya masih seger petugasnya dan belum terlalu ramai.

Ketemu petugas pertama, diajak ngobrol sambil dikasih form untuk diisi, petugasnya juga mengecek kelengkapan berkas. Ketika tau sudah berkeluarga malah ditanya, “ga sekalian ngedaftarin anaknya?”. Bapaknya bilang, biar barengan gitu sama anak. Pengen sih, tapi dana masih baru cukup buat orang dua aja, belum lagi kepikiran kalo mau nambah anak, ntar kan daftarin anak yang berikutnya juga ya, kira-kira bakal barengan ga perginya kalau daftarinnya beda beda gitu. Semoga ada rezeki buat daftarin anak haji juga deh.

Selesai isi berkas, kami diminta pindah ke ruang lainnya (masih di gedung yang sama) untuk diisikan berkas secara online oleh petugas melalui sistem SISKOHAT serta melakukan foto dan rekaman sidik jari. Lalu keluarkah Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH) yang menunjukkan nomor PORSI pendaftaran haji untuk per orang. Berkas-berkas ini perlu kita tanda tangani, tapi belum bisa langsung kita bawa pulang karena harus ditandatangani oleh orang dari Kantor Kementrian Agama Palembang sebagai perwakilan Penyelenggara Haji dan Umrah. Selanjutnya lembaran ini juga akan diserahkan kepada BPS BPIH, Kantor Kementrian Agama Kabupaten / Kota, Kantor Wilayah Kementrian Agama Propinsi, dan Direktorat Jendral Penyelnggara Haji dan Umrah. Itu semua diurus oleh petugas dari Kantor Kementrian Agama Kota Palembang.

disensor ya banyak data diri soalnya

Setelah selesai kami diinformasikan, bisa melihat kuota haji di aplikasi Haji Pintar atau Siskohat yang sudah ada di Google Play Store atau via website Kementrian Agama dengan memasukkan nomor porsi di hari berikutnya.

Jadi, kita harus kembali lagi ke Kantor Kementrian Agama ini untuk mengambil berkas yang sudah ditandatangani. Kami kembali lagi setelah 1 bulan kemudian karena mencari waktu kosong untuk ijin keluar kantor lagi. Ga enak aja ijin-ijin terus kan dan memang di jangka waktu 1 bulan surat pasti sudah selesai ditandatangani dan ga akan balik lagi dalam jangka waktu dekat.

Beberapa hari kemudian, kami mencoba mengecek via aplikasi Haji Pintar, dan mendapatkan tahun perkiraan berangkat adalah 2034 yang artinya 18 tahun lagi dari tahun kami mendaftar. Lama ya? iya, tapi katanya akan ada perluasan area di Makkah sehingga bisa menampung lebih banyak lagi umat muslim yang ingin beribadah haji. Oh ya, tahun perkiraan berangkat haji bisa berubah-ubah sesuai dengan regulasi. Ketika saya mengecek kembali akhir-akhir ini, tahun perkiraan berangkat berubah menjadi 2029, artinya berkurang 5 tahun dari ketika awal mendaftar dulu karena ada penambahan kuota. Kalau dihitung-hitung, 12 tahun lagi saya dan bojo direncanakan berangkat haji. InsyaAllah, amin ya rabbal alamin.



Catatan penting :
Untuk KTP, sangat disarankan untuk e-KTP ya. Kenapa e-KTP, karena artinya kita sudah punya Single ID di negara ini. ceilah. Gini, kan banyak ya kita punya KTP di beberapa daerah (termasuk saya di jaman dulu kala). Lalu terbitlah e-KTP sebagai single ID jadi kita ga bakal bisa tuh punya KTP banyak lagi. Kalau udah punya atau pernah merekam e-KTP di kota lain, dan memang mau tercatat untuk jadi penduduk kota domisili sekarang (berubah gitu) ya harus diurus dan hanya boleh punya 1 e-KTP di domisili yang dimau.
Kebetulan saya e-KTP Palembang sudah keluar (ya nembak sih karena malas bolak balik ke Catatan Sipil, jadi minta diuruskan orang Kecamatan dan e-KTP Purbalingga jadinya sudah tidak berlaku).

Kalau punya e-KTP di kota lain, ada baiknya ya mengurus pendaftaran haji di kota tersebut karena walaupun sistemnya online tapi ya ternyata kuota itu per daerah kan, jadi lebih baik mendaftar di tempat e-KTP kita masih berlaku yang artinya kita akan masuk ke kuota haji daerah tersebut.

Saya kebayang sih, di Indonesia ini kan penyebaran penduduk belum merata dan Indonesia banyak penduduk yang beragama Islam. Keberadaan penduduk muslim di tiap daerah pun berbeda-beda, ada yang mendominasi ada yang tidak. Kuota tentu dibuat secara proporsional oleh Kementrian Agama dengan memperhitungkan jumlah penduduk dan jumlah penduduk muslim di provinsi masing-masing.

Kesimpulan

Mendaftar haji itu mudah ya ternyata, cukup ke 2 tempat saja yaitu Bank Syariah dan Kantor Kementrian Agama. Sebelumnya ada teman Bojo cerita dia bolak balik ke Bank Syariah dan Kantor Kementrian Agama, tidak tahu juga bolak baliknya kenapa. Tapi berdasarkan hal tersebut, kami memilih bank syariah yang berbeda dari dia, yaitu Bank Syariah Mandiri dan nyatanya hanya 2 kali saja ke bank yaitu untuk membuka rekening dan mendaftar haji via bank (untuk setoran dari bank ke Kementrian Agama) serta 2 kali ke Kantor Kementrian Agama yaitu untuk mendaftar dan mengambil berkas.
Semoga di pengurusan berikutnya (ketika saat akan berangkat nantinya) dimudahkan juga. Semoga niatan ini dilancarkan sampai saatnya tiba dan kami sekeluarga selalu diberikan kesehatan serta rezeki juga agar bisa ke rumah Allah dengan haji maupun umroh. Semoga bagi yang memiliki keinginan sama untuk berhaji juga dilancarkan. Amiiiin.

Baru bisa share tulisan saat mendaftar saja, karena belum punya pengalaman ke sana. Semoga bisa kesana segera ya, pinginnya sih tinggal di sana atau di deket sana hehehe.

Sumber tulisan : 

– Pengalaman Pribadi

– Info tentang pasfoto 80% dari : http://www.hajiplus.id/pas-photo-persyaratan-haji-plus-reguler/

– Info tentang pembagian kuota haji dari : http://www.ihram.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/17/02/22/olrzc4313-soal-pembagian-kuota-haji-provinsi-ini-penjelasan-kemenagi

Written by

Silahkan meninggalkan komentar :)