Pengalaman Mengurus Akta Kelahiran Dewasa

Sebelumnya, aku harus mengakui bahwa pengetahuan dan pengalamanku untuk urusan-urusan surat-surat di kantor pemerintahan itu cetek banget. Kalau udah urusan sama kecamatan atau lainnya, seringnya nitip ke orang untuk diurusin. Namanya juga kerja kantoran, yang ngakunya sibuk *tsaelah*, kalau emang gak harus datang (kayak bikin paspor gitu), lebih milih gak usah datang.

Ternyata, ada kejadian-kejadian yang pada akhirnya membawaku datang ke kantor pemerintahan. Kali ini aku datang ke Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Palembang yang berada di Jalan Demang Lebar Daun Palembang. Kejadian apa yang membawaku ke kantor ini, akan diceritakan nantinya (plis ini kode supaya kamu tetap baca blog ini). Hehehe.

Gellinger / Pixabay

Awalnya aku pikir, semua orang di Indonesia ini punya akta lahir atau catatan kelahiran. Ternyata tidak. Tentu banyak alasan mengapa seseorang tidak memiliki akta lahir, bisa jadi belum sempat mengurus (ini biasa terjadi pada akta lahir anak) atau memang sulit mengurus (seperti yang mungkin terjadi di jaman-jaman dulu).

Indonesia sendiri, sebenarnya telah memiliki undang-undang tentang administrasi kependudukan (Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006). Undang-undang ini menjelaskan tentang kewajiban negara untuk memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi dan status hukum atas setiap Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialami oleh Penduduk dan/atau Warga Negara Indonesia yang berada di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peristiwa Kependudukan adalah kejadian yang dialami Penduduk yang harus dilaporkan karena membawa akibat terhadap penerbitan atau perubahan Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk dan/atau surat keterangan kependudukan lainnya meliputi pindah datang, perubahan alamat, serta status tinggal terbatas menjadi tinggal tetap. (Pasal 1 Angka 11 UU Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan).

Salah satu peristiwa kependudukan adalah kelahiran. Setelah seorang ibu melahirkan anaknya, umumnya akan ada surat keterangan lahir yang dikeluarkan Rumah Sakit atau Puskesmas tempat terjadinya kelahiran. Selanjutnya surat keterangan lahir itu akan menjadi dasar untuk membuat Akta Kelahiran. Bahkan berdasarkan aturan Pasal 27 di UU 23 Tahun 2006 yang telah diubah pada UU 24 Tahun 2013, berbunyi “Setiap kelahiran wajib dilaporkan oleh Penduduk
kepada Instansi Pelaksana setempat paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak kelahiran.” Akta Kelahiran ini sangat penting dan menjadi prasyarat untuk mengurus dokumen-dokumen lain seperti Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk (KTP), Paspor, sampai Ijazah.

aitoff / Pixabay

Urusan akta lahir anak sendiri, kebetulan jadi tugas suami yang menguruskan. Aku tau beres aja, yang penting anak punya akta secepatnya, terus bisa dipakai untuk hal-hal lain.

Eh, ternyata aku akhirnya dapat pengalaman mengurus akta kelahiran untuk orang dewasa. Kali ini pengasuh si anak (Nenek) yang ternyata belum punya akta lahir. Padahal dia butuh akta itu sebagai syarat pengurusan dokumen lain. Dokumen lain yang bisa menggantikan pun dia tak punya. Ijazah? Beliau putus sekolah. Surat nikah? Hilang saat beliau pindah dari Lampung ke Palembang. Tercecer karena ada orang berantem di bis dan akhirnya beliau ingin cepat-cepat meninggalkan TKP sampai lupa sama surat nikah. Terus selama ini gimana? Pakai surat keterangan RT kalau ada perlu, begitu katanya. Waduh.

Aku pun coba cari-cari info dahulu gimana sih syarat bikin akta lahir untuk orang dewasa. Karena ini mendesak dan sangat perlu. Suami ikut mencari info. Sampai akhirnya ada teman di grup Playdate HEbAT Palembang yang mengabarkan syarat-syaratnya, juga teman di grup Kelas Rangkul Palembang yang bekerja di Kantor Catatan Sipil Palembang. Chat-chat via whatsapp tentang syarat menjadi pegangan untuk mempersiapkannya apa yang harus dibawa ke Kantor Catatan Sipil.

Jumat, 2 Maret 2018 menjadi hari bersejarah karena pertama kalinya aku ke Kantor Catatan Sipil Palembang. Mengurus Akta Kelahiran buat Orang Dewasa pula. Sempat was-was karena menurut Google Maps, Kantor Catatan Sipil Palembang tutup di hari Jumat. Ah mana mungkin kantor pelayanan pemerintah tutup di hari Jumat, pikirku. Ada juga kantor pelayanan pemerintahan yang buka di hari Sabtu supaya pelayanan untuk warga bisa lebih maksimal. Ternyata Google bisa salah juga (benerinnya gimana ya?), Kantor Catatan Sipil Palembang buka kok di hari Jumat. Bahkan pagi itu cukup ramai dan parkiran di dalam area kantor penuh.

 

Segera aku mendatangi konter untuk pengambilan nomor antrian. Untuk nomor antrian sendiri dibedakan berdasarkan apa yang mau diurus, karena mau mengurus akta kelahiran, mintalah nomor antrian untuk Pendaftaran Akta. Lantai 1 gedung tersebut menjadi tempat pelayanan utama. Terdapat loket untuk informasi umum, pendaftaran akta, pendaftaran pindah/datang, pengurusan KTP, dll. Walaupun terlihat cukup padat, masih banyak tempat-tempat duduk yang kosong. Karena lebih banyak yang berdiri untuk mengisi data-data pada formulir yang akan diberikan setelah dari loket.

Suami sempar hararese, nyuruh-nyuruh aku nanya soalnya antrianku B20 tapi B27 sudah dipanggil duluan ke loket pengurusan KTP. Yee, kan beda emang, dia request buat KTP kali trus loketnya kosong. Maksudnya sabar aja gitu, ntar juga dipanggil pikirku. Namanya ijin dari kantor ga enak kali ya, sekaligus khawatir lama ngurusnya. Akhirnya, setelah 5 menit nomor antrianku dipanggil ke loket 2 (Loket Pengurusan Akta-Akta).

Setelah aku perhatikan sih, nomor dan kode yang diberikan di pintu masuk berurutan untuk pengurusan di Loket. Tapi di karcis tiket antrian sudah terdefinisi jelas, loket mana yang menjadi tujuan kita dan berapa orang yang ada di antrian tersebut. Bisa jadi gini urutannya :
B18 Pengurusan Akta, B19 Pengurusan KTP, B20 Pengurusan Pindah, B21 Pengurusan Akta, B22 Pengurusan Akta, B23 Pengurusan KTP. Nah B18 dan B19 kebetulan masuk loket di waktu yang sama tapi B18 belum selesai sementara B19 sudah. Lalu dipanggillah B23 yang punya niat mengurus KTP sama seperti B19. Setelah B18 selesai, nanti B21 dipanggil ke loket pengurusan akta kok. Jangan suudzon bahwa kamu disalip atau kelewat kalau yang nomor yang dipanggil ternyata bukan ke loket yang sama dengan kamu. Kecuali kamu nomor B21 trus tau-tau nomor B22 dipanggil ke loket Pengurusan Akta (loket yang sama). Nah, artinya kamu kelewat tuh. Dari mana kita tau loket nomor berapa mengurus apa? Selain ada keterangan di karcis antrian, di jejeran loket-loket juga jelas loket mana untuk pengurusan apa.

Oke lanjut, aku maju ke loket 2. Oh ya, berhubung itu hari Jumat dan ada peraturan kantor pemerintahan Palembang wajib memakai pakaian adat, maka jangan heran ada pegawai laki-laki yang pakai rumpak (hiasan di kepala biasa terbuat dari songket, bagian dari pakaian adat Palembang). Gak sempat foto-foto sih, bawaan pengen cepet selesai urusan supaya bisa mengurus yang lain juga. Setelah bilang mau mengurus akta, sempat ditanya-tanya, punya siapa yang mau diurus? (Ini bukan kepo ternyata mbaknya). Mba-mba di loket 2 aku diberikan beberapa formulir, juga ada catatan yang tentang data. Formulir yang diberikan adalah :

  • Surat Kuasa (karena yang mengurus akta Nenek adalah aku, jadi ceritanya Nenek memberikan kuasa ke aku).
  • Formulir Akta Kelahiran
  • Surat Pertanggung Jawaban Mutlak Kebenaran Pasangan Suami Istri
  • Surat Pertanggung Jawaban Mutlak Kebenaran Pasangan Kelahiran

Sementara itu yang dokumen yang perlu dibawa sebagai pendukung adalah:

  • Ā 1 Fotokopi KTP (milik orang dewasa tersebut)
  • 1 Fotokopi KK (yang menyatakan orang dewasa tersebut ada dalam KK)
  • 1 Fotokopi KTP saksi I
  • 1 Fotokopi KTP saksi II
  • 1 Materai 6000 (untuk surat kuasa)

Aku pun segera mengisi data di formulir-formulir tersebut. Data yang diisi kebanyakan adalah nama, NIK (Nomor Induk Kependudukan), Alamat, Pekerjaan, dari yang akan dibuatkan akta. Untuk mempermudah pengisian, mba-mba di loket memberi tanda mana yang diisi dengan data yang bersangkutan, mana yang diisi dengan data orang tua yang bersangkutan. Melihat form kelahiran ini isiannya sepertinya berlaku umum (juga berlaku untuk bayi), sepertinya jika untuk bayi baru lahir ada dokumen pendukung lain yang dibutuhkan yaitu :

  • 1 Fotokopi Surat Keterangan Lahir
  • 1 Fotokopi KTP Ibu
  • 1 Fotokopi KTP Ayah

Sebenarnya buat dewasa juga diminta KTP orang tuanya, tapi berhubung ayahnya Nenek sudah meninggal dan ibunya tak ada KTP, jadi sepertinya diterima saja isianku yang hanya ada nama ibu dan ayahnya Nenek. Tak ada data lainnya soalnya. Di Formulir Akta Kelahiran juga ada kolom tanda tangan Lurah / Kepala Desa, wah harus bolak balik pikirku . Pas coba nanya ke mba-mba loket lagi, ternyata boleh di-skip tanda tangan Pak Lurah atau Pak Kades. Alhamdulillah bisa masukin hari itu juga.

Setelah formulir terisi kita bisa kembali ke loket untuk menyerahkan form-form tersebut. Petugas loket akan memeriksa dan memberi tanda bukti untuk pengambilan. Oh ya, catatan nih, karcis antrian tadi baiknya jangan dibuang, soalnya dijadikan satu dengan form-form tersebut. Sebenarnya kalaupun hilang ya kita minta lagi ke petugas karcis hehehe. Proses pembuatan akta ini katanya selama 7 hari kerja. Jadi si mba-mba loket bilang harusnya tanggal 13 Maret selesai.

Jadi nih, kalaupun yang mengurus bukan orang dewasa yang mau membuat akte, tetap saja lebih baik orang tersebut ikut untuk tanda tangan berkas-berkas yang diperlukan. Eh tapi kok jadinya aku kepikiran sama tanda tangan di formulir kan tulisannya pelapor, trus tanda tangannya Nenek, padahal nenek udah memberi surat kuasa. Kira-kira salah ga ya? Duh kalau salah ini sih murni gara-gara aku sebenarnya. Semoga gak salah deh. Kira-kira tetap jadi gak ya? Doain jadi ya….

Eh, di kantor ini ada musholla dan ruang bermain anak juga. Sebenarnya ditulis ada ruang menyusui (sepertinya gabung dengan ruang bermain anak). Ada mainan perosotan dan ayunan. Sayangnya, lantai alasnya agak kotor. Kurang informasi juga (himbauan seperti lepas sepatu saat bermain misalnya). Semoga nanti lebih diperhatikan.Ā  Oh iya, ini maps lengkap Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Palembang.

 

Silahkan meninggalkan komen :) Aku bakal bw balik....

  1. Aku juga selama ini kalau urusan ngurus-ngurus ke kantor pemerintahan suka minta tolong, Mbak. Tapi tahun ini 2 kali aku ngurus sendiri. Yang pertama paspor (biasanya aku via travel), dan yang kedua ngurusin jasa raharja buat papaku.
    Ternyata seru juga mengikuti proses-proses itu.

  2. Halo mba… aku bener2 baru tau ada pengurusan akta kelahiran dewasa, hehe. Dan aku pikir awalnya “duh ini kayaknya bakal ribet” eh tapi ternyata cuman 1x ngurus ya? ga dioper2 gitu? Aku rada trauma ngurus akta kmren, dipingpong orang dinas, krn kami pindah domisili jadi riweuh bener…. Mudahan urusannya diluncurkan ya mba, langsung jadi.

  3. aku aja orang pemerintahan paling males ngurus surat surat gini mbak, hahahahaha. KK aja sampai sekarang belum punya sendiri, masih nebeng orang tua šŸ™