Kapan Nambah Anak ? Kapan ?

“Kapan Mahira dikasih adik?”

Sebuah pertanyaan yang mungkin simpel. Sering diajukan entah untuk berbasa basi atau mungkin sudah menjadi kebiasaan karena sering kali pertanyaan “kapan” dengan berbagai tambahan kegiatan lain diajukan, mulai dari kapan lulus? – kapan nikah ? – kapan punya anak? – kapan nambah anak? -kapan anaknya sekolah ? kapan nikahin anak ? dan kapan kapan lainnya. Pertanyaan yang tak berujung. Untungnya sih pertanyaan kapan kamu meninggal jarang diajukan ya.

Sudah terlalu banyak yang curhat kalau pertanyaan kapan-kapan ini terlalu menganggu. Saya pernah ada di posisi menjadi seorang penanya juga sebenarnya, walau kalau pembelaan diri dan perasaan saya sih, gak terlalu sering. Tapi rasanya pada akhirnya saya mulai mencoba mengerem diri sendiri, ya kalau masih khilaf, mungkin artinya saya lagi pengen bercanda atau saya lagi di momen ga bisa ngatur emosi karena kesel. Mohon ditegur jika saya salah.

Kadang memang ada alasan bertanya ketika bertanya, itu wajar. Misalnya, kapan nikah?. Ini bisa ditanya kalau teman memang terlihat punya rencana nikah, dia rencana nikahnya jauh dari tempat kita tinggal, kita ‘merasa’ bakal diundang, dan yang jelas kita punya rencana juga untuk datang. Tapi kalau bertanya kapan nikah? hanya untuk basa-basi bahkan mengejek rasanya, hmmm, please mind your own business deh.

geralt / Pixabay

Pertanyaan kapan ngasih adik serupa dengan kapan nambah anak lagi? Kalau lagi kondisi normal, kadang saya bisa jawab dengan “amin, semoga nanti dikasih tapi ga sekarang.” Tapi kalau kondisi lagi semrawut kayak kabel headset bundet di dalam tas, kadang saya bales, ya kamu aja ngasih adik buat anak-anakmu. Terus dijawab, udah cukup. Lah, terus? Kenapa nanya-nanya? Kesel sendiri kan ya.

Ada batasan-batasan yang harus kita hormatin juga, ini juga catatan buat saya sendiri, contoh di grup yang isinya ibu-ibu, kadang ada yang share kalau dia punya rencana nambah anak ketika anak umurnya 3 tahun. Ya udah, jangan ditanyain terus kapan ngasih adik, jangan didoain hamil saat anaknya baru umur 1 tahun, ntar kalau kejadian ternyata dia merasa ga sanggup, stress, gimana? Emang situ mau bantu ngurus anaknya? Gak kan.

sathyatripodi / Pixabay

Urusan ‘nambah anak’ ini kan sebenarnya bisa dibilang urusan domestik alias urusan rumah tangga masing-masing. Dalam proses menentukan akan menambah anak, setiap keluarga punya pertimbangan sendiri-sendiri. Menurut saya malah lebih mending bertanya tentang pertimbangan seseorang dalam mengatur jarak anak dibanding nanya kapan? Buat saya pribadi, saya malah senang bisa memahami pandangan orang lain, sekaligus (lagi-lagi) belajar untuk lebih banyak mendengar dan tidak menjudge. Bisa jadi hal-hal yang dipikirkan orang lain lewat dari pertimbangan kita.

Untuk saya dan bojo, sebenarnya belum menetapkan kapan ingin menambah anak, mungkin karena ini juga, saya kesel kalau ditanya kapan nambah anak. Satu patokan yang sudah pasti adalah, nunggu Mahira lulus ASI 2 tahun dulu. Tapi beberapa hal berikut ini bisa jadi pertimbangan untuk waktu menambah anak.

  • Kesiapan & Kondisi Orang Tua
    Dalam mengasuh anak, akan banyak kejadian yang gak semulus kulit anak ketika masih bayi. Contohnya nih, waktu abis lahiran, ternyata ibu ngalamin baby blues bahkan  stress. Atau ibu masih trauma takut anaknya pas makan akan susah alias Gerakan Tutup Mulut Melulu (GTM+M). Setiap orang punya level stress beda-beda sih. Kalau saya sendiri ngerasanya saya harus bisa menerima atau paling engga tau cara untuk ngadepin berbagai hal yang mungkin timbul saat mengasuh anak.Kesiapan sebenarnya gak hanya urusan psikologis. Fisik (selain terkait usia juga) juga perlu siap. Ada referensi mengatakan akan lebih baik memberi jarak 2 tahun jika persalinan pertama adalah C-sectio (biasa dikenal juga dengan cesar). Tapi ya kalau emang siap dan kata dokter oke sebelum 2 tahun, ya gapapa.

    StockSnap / Pixabay

    Untuk wanita sendiri, yang mengandung dan melahirkan anak, terdapat usia yang memiliki risiko lebih tinggi saat hamil. Referensi yang sering saya temui adalah batas usia yang lebih rendah risikonya adalah di bawah usia 35 tahun. Selain usia lebih tua kehamilan lebih berisiko, pertimbangan usia wanita sebagai ibu yang mengasuh juga memiliki keterkaitan dengan kekuatan fisik saat mulai mengasuh anak. Jujur saja, bagi saya, mengurus anak itu butuh fisik, hati, dan pikiran yang kuat. Semakin tua, biasanya fisik tidak makin sip, makanya, saya sih inginnya ‘tutup pabrik’ di usia 30 tahun, atau kalau kepepet 35 tahun.

    Usia pria sebagai bapak juga menjadi pertimbangan. Untuk pria, pertimbangan usia erat kaitannya dengan fisik serta kemampuan untuk memberikan ‘jaminan’ dana. Misalnya gini, kalau pria adalah seorang pekerja dengan usia pensiun 56 tanpa ada tambahan dana lain-lain, mungkin akan lebih baik kalau saat ia pensiun anak-anaknya udah lulus sekolah (termasuk kuliah).

  • Kemampuan Orang Tua Mengatur Finansial
    Punya anak menurut saya, artinya punya tanggung jawab ke anak tersebut. Memberi jaminan kesehatan, dana sekolah, dan aneka dana-dana lainnya. Sudah mampu mengatur keuangan dengan lebih banyak berinvestasi atau paling tidak punya tabungan untuk dana-dana tersebut ga? Atau masih boros juga?

    FirmBee / Pixabay

    Memang sih, tiap anak punya rejeki sendiri-sendiri, bahkan ada yang bilang banyak anak banyak rejeki. Bisa aja, anak dari kecil dapat beasiswa sampai kuliah. Tapi, misalnya anak kuliah di luar negeri, butuh jaminan ini itu, atau kita mau dateng ke wisuda dia, kan baiknya juga orang tua mampu mengatur finansialnya juga, jangan bergantung sama anak.

  • Kesiapan & Kondisi Anak
    Memiliki anak dengan jarak usia yang dekat tentu ada plus minusnya. Saat anak lebih besar nanti, mungkin akan lebih dekat. Tapi pada saat anak masih kecil, perlu effort untuk memberi pengertian kepada anak tentang berbagi, tentang perhatian orang tua tak lagi untuk dia.

    https://pixabay.com/id/anak-anak-taman-musim-gugur-1879907/
    Ngarep sepasang kece badai gini boleh kan ya – source : pixabay.com

    Saya sendiri merasa, menjelang usia 2 tahun, Mahira mulai mengenal konsep adik bayi (atau anak yang usianya lebih muda), bisa tersenyum melihat anak yang lebih muda, ikut terlibat saat saya menggoda anak yang lebih kecil, dan tak berusaha menghentikan saya adalah sebuah pertanda yang cukup oke bahwa dia tau konsep tentang berbagi.

    Hal ini penting menurut saya, jangan sampai ketika anak butuh digendong, anak satunya malah ga rela, nangis, eh kitanya ikutan stress. Ya, paling tidak meminimalisir kejadian menurut saya.

    Oh ya, ada mitos sebenarnya, kalau anak mulai nungging-nungging artinya dia pengen punya adek. Entah mitos dari mana mulanya. Tapi rasanya, bakal aneh kalau mengukur kesiapan anak dari urusan nungging doang. Bisa jadi dia nyontoh kita sujud tapi malah nungging kan.

  • Kesiapan & Kondisi Lingkungan
    Sebagai ibu yang nyambi kerja nih, saya cukup tergantung sama kehadiran pengasuh. Pengasuh dari awal bilang, tunggu anaknya gede dulu. Ya bener juga, selain ada hubungannya sama kondisi anak, kalau misal pengasuh udah tua, dikasih tanggung jawab ngurus 2 krucil, ya itu namanya tega banget ngasih beban ke orang lain. Lain cerita kalau mau mempekerjakan masing-masing 1 pengasuh untuk 1 anak ya. Tapi tentu akan punya efek ke urusan finansial.

Sebenarnya sih, semua faktor satu sama lain berkaitan. Tapi sebenarnya intinya satu dan menurut saya tergantung banget sama kesiapan si orang tua. Misalnya nih, ada rencana membuat jarak antar anak 3 tahun, karena ngerasa usia 3 tahun itu anak yang lebih tua udah lebih mengerti, bisa dimasukin ke day care atau sekolah. Tapi, tentu ada efeknya ke finansial, udah siap belum dana untuk day care atau kalau ga masuk day care, udah siap belum nambah pengasuh, karena akan riweuh kalau cuma 1. Jangka panjangnya urusan finansial, udah siap belum kalau nanti pas anak tua masuk SMA, anak yang lebih kecil masuk SMP. Secara finansial bisa dobel kan. Memang, rejeki dari Tuhan. Tapi kalau kita (orang tua) ga bisa mengelola dengan baik rejeki yang didapat, ya bubar juga kan.

Family – source : pixabay

Buat saya sendiri, jujur, ketika dikasih rejeki anak pertama saya sempet kaget sama perubahan yang saya alami. Sempat ngerasa ga siap. Gak sampai baby blues kayaknya. Tapi ada pusaran stress yang ketahan dan berefek ke perilaku saya lainnya (bukan ke anak). Untungnya saya sempat ketemu seorang psikolog dan dapat pesan kalau saya harus deal with it. Harus bisa nerima semua perubahan yang ada. Dari pelajaran itu, saya ngerasa, urusan punya anak, bikin adik, memang harus ikhlas dan siap dulu, fisik, psikologi, bahkan finansial. Gak harus sempurna bener, tapi paling tidak, punya pemikiran jangka panjang tentang tanggung jawab kita kepada anak nantinya. Karena anak bukan hanya rejeki, tapi juga titipan yang harus kita jaga.

Semua pasangan (atau keluarga) punya pertimbangan sendiri-sendiri, jadi alangkah baiknya kita tidak memburu dengan pertanyaan “Kapan nambah anak?” lalu bertanya kenapa atas jawaban yang tak sesuai dengan kita harapkan lalu menjudge ini dan itu. Jangan sampai pertanyaan balik ke kita dan kita kesal sendiri deh.  Tapi, kalau ngedoain saya dikasih rejeki anak tetep boleh kok, di waktu yang tepat 😀

You may also like

21 Comments

  1. Waaahhh nemu artikel ini. Bagus banget mbak. Kadang ak juga sering sebel kalo ditanyain, kapan punya anak ? Kapan punya mobil? Kapan kerja jadi bos 😕pernah aku tanyain balik si penanya, eehh malah tersinggung. Kan serba salah juga. Anyway, mampir di blogku mbak. Salam

    1. Kesel ya ditanya terus kapan-kapan, giliran nanya balik eh orangnya ngamuk 😀
      Makanya jangan nanya-nanya, gitu deh perasaan si batin.

      Makasih sudah mampir ke mari mba 😀

  2. Saya bertanya ke orang lain kapan nikah, kalau udah dengar kabar dia lamaran. Bertanya orang lain kapan nambah anak, memang nggak sopan, semacam ikut campur urusan kamar orang lain. Ngapain ngurusin kamar orang lain, lah kamar saya aja malas bersihin, hahah… Lebih baik doakan aja si anak pertama biar makin sehat, makin pintar. Begitupun dengan Mahira, moga selalu sehat dan tambah pintar ya 🙂

  3. Pinginnya gak nyinyir yaa..
    Tapi kalau gak sengaja akunya yang nanya begitu, buru-buru istighfar…dan minta maaf sama yang bersangkutan.

    Karena anakku sudah dua dan berjarak dekat, jadi sadar diri…kalau ditanyain pertanyaan begitu rasanya empet banget.

  4. Pertanyaan ‘kapan’ ini memang kadang bikin kita bete. Kalo aku lagi ‘good mood’ ya dijawab : doain ya. Moga Allah segera mengabulkan doa kalian untukku. Kalo lagi bad mood : senyumin aja dan alihkan pembicaraan ^^

  5. Pertanyaan2 menganggu itu kadang bikin bete pas ada diposisi yg ditanya,nambah anak kalo aku takut hamil dan melahirkan karena nggak nyaman bgt tapi ingin punya baby

  6. Satu2nya pertanyaan “kapan” yang bikin saya baper cuma “kapan lulus?” dulu hahahaha
    Kalau yg lainnya saya cuek I don’t care.
    Ini jg dua anak ditanyain kapan nambah lagi, tapi saya selow aja saya anggap guyonan gk penting 😀

  7. Saya udah kosong hampir 3 tahun. Dan pertanyaan kapan si Kakak punya adik selalu saja terdengar di telinga. Huhu. Padahal sudah berikhtiar dan berdoa. Semoga saja tahun ini positif. Amiin. Jadi curhat kaan. Haha.

Haiiiii, terima kasih ya telah berkunjung....Aku senang sekali kalau teman-teman mau meninggalkan jejak berupa komentar :)