Ajaibnya Kehidupan Teller di Jungkir Balik Dunia Bankir

Aha, tepat setelah menyelesaikan buku Born to Travel, buku Jungkir Balik Dunia Bankir (JBDB) karya Kak Haryadi Yansyah sampai ke tangan aku. Kadang ngerasa kalau ada buku dengan penulis yang sama harus nyelesein yang dibeli duluan. Nah, kebetulan aku udah PO buku JBDB ini tapi emang gak minta dikirim ke rumah. Alasan pertama, karena buku Born to Travel belum tamat, alasan kedua karena biasanya ada kumpul-kumpul komunitas jadi ada kemungkinan bertemu. Terbukti, walau gak ketemu Kak Yayannya langsung, bukunya tetep nyampe waktu aku ngumpul sama temen-temen Kompasianer Palembang (Kompal) hari Sabtu lalu.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sempat dibuat kaget sama secarik kertas putih yang isinya tulisan bahwa mungkin aja buku ini ‘not my cup of tea’ alias bukan jenis bacaan yang biasa aku nikmati. Wah, baguslah sudah diingatkan. Aku sempat baca beberapa chapter di wattpad sih, emang bukan tipikal bacaanku yang biasanya metropop atau drama percintaan. But, namanya bentuk support, yuk mari kita mulai membaca.

***
“Bagaimana bisa saya mengambil uangnya, sedangkan uang dari tadi masih di atas meja, Bu?” ujar gue dengan suara tertahan. Gue nggak mau nasabah yang lain menganggap gue tukang ngembat. Sungguh harga diri guw terinjak-injak!
“Ya bisa-bisa kamu deh gimana ngambil uangnya!”
Setop! Habis sudah kesabaran gue.
***
Berpenampilan rapi dengan senyum manis dan pelayanan yang ramah, begitulah teller. Tapi, di balik semua itu, banyak kisah menyebalkan, menyedihkan, menyeramkan, namun juga konyol, lucu, dan menyenangkan yang dialami oleh teller dalam melayani nasabah. Nah, buku ini menyajikan kisah-kisah tersebut dengan renyah dan mengasyikkan.
Membaca buku ini, kamu akan tahu realitas di balik konter teller serta segala suka dukanya. Penasaran? Dijamin! Kisah-kisah di buku ini akan membuatmu tersenyum, ngakak, sekaligus geregetan.
Selamat membaca!

***

Begitulah blurb dari buku ini. Sedikit banyak bikin penasaran tentang kehidupan teller. Buku ini terdiri dari beberapa cerita pendek tentang Kak Yayan yang pernah bekerja sebagai teller bank Independen. Begitu baca semacam lembar peruntukan, saya langsung nebak sih itu Bank Independen aslinya bank apa. Secara ya nasabah di bank itu dengan kode nomer cabang yang mirip sama kode awalan nomer rekening. Apalagi kemudian disebutkan bahwa itu bank pelat merah. Aha, aku tebak, ini bank warna biru sama emas itu.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Perjuangan menjadi pegawai bank dimulai dari sejak Kak Yayan lulus kuliah dan mendaftar walk in interview sampai menjalani serangkaian tes mulai dari wawancara sampai tes kesehatan yang ternyata tes kesehatan buat nyari kerja tuh ya emang gitu.

Gimana sih ? Baca aja bukunya biar tau hehehe.

Aku jadi ingat jaman aku lulus kuliah. Ikutan arus nyari-nyari kerjaan juga. Dateng ke jobfair yang ada Bank Independen dan bank lainnya baik yang pelat merah maupun engga. Bank pelat merah lain malah ada yang lebih parah seleksinya, di awal udah ngeliat fisik kayak tinggi ngga, langsing ga, dandan ga. Ya jelas lah aku tak lulus urusan begitu, kucel, hitam, dandan seadanya, baju lusuh naik motor Dayeuhkolot-Dago juga bodo amat. Kalau Bank Independen sih masih mending emang, masukin berkas, lolos, ikutan wawancara, lolos, terus berhenti karena jadwalnya tabrakan sama tes tempat lainnya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Lanjut sama cerita Kak Yayan di buku ini, pada akhirnya setelah ia diterima di Bank Independen, ia menjadi teller. Teller itu ya yang biasa melayani nasabah untuk penyetoran atau penarikan gitu . Seringnya ada area tersendiri yang isinya kumpulan teller dan antrian mengular orang-orang yang berdiri gitu pada jam tertentu. Teller sering keliatan berdiri, walau kadang duduk juga kayaknya untuk menyelesaikan transaksi. Di meja teller kadang tampak mesin pinpad, sementara di balik meja ada mesin yang buat ngitung uang segepok itu. Kadang ngeliatnya kasian ya teller ini sering berdiri, beda sama Customer Service (CS) yang kayaknya banyakan duduknya di balik meja. Hehehe.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Jadi teller artinya bakal banyak ketemu dengan nasabah. Hal ini lah yang menjadi inti dari cerita-cerita pendek di buku Jungkir Balik Dunia Bankir. Ya iyalah, wong ada tulisan di bawah judul Curhat Gokil Mantan Teller Bank. Namanya ketemu nasabah, yang bentuknya didominasi orang (ya mana ada juga sapi mau nabung di bank), variabelnya bebas tak tentu, artinya macam-macam segala rupa mulai dari ras, latar belakang, sampai tingkah lakunya. Kalau orang yang ngerasa normal kayak aku, mungkin ngerasanya ke teller kan cuma nyetor sama narik uang aja, malah pengennya ga lama-lama deh di banknya, soalnya juga kebetulan di bank cabang kantor sebelah ga ada mas-mas bening ngapain lama-lama. Gak bakal ada cerita kayaknya.

Kebayang ga sih kerjaan teller itu berat setiap harinya bisa ketemu 200-an nasabah. Ya asumsi setiap hari 5% nya ajaib artinya 10 orang ajaib bisa diceritain, dikalikan dengan 5 hari kerja, dikalikan jumlah minggu kerja, dikali jumlah tahun kerja. Wah, bakal banyak cerita ini.

EH KOK KAU JADI NGITUNG-NGITUNG!

Cerita ketemu nasabah dimulai dari cerita 3 sampai 37 (eh tapi ada sih selipan yang bukan tentang nasabah). Ada aja nasabahnya Kak Yayan ini, mulai dari yang KTP ajaib, nasabah prioritas yang bossy, anak ABG tanggung yang labil, bapak-bapak ganjen, nama orang pada umumnya jenis kelamin perempuan tapi ternyata laki-laki atau sebaliknya, keluarga yang suaminya stress ibunya galau anaknya cemas, nasabah yang namanya susah, nasabah doyan khotbah, mas-mas doyan dempulan bedak tebel, ibu-ibu nyenyes alias wewet cerewet, nasabah yang sok-sokan, nasabah bule, dan banyak lagi.

Intinya ya walau banyak keseruan-keseruan ketemu orang yang ajaib dari atas ke bawah sampai bikin jungkir balik melintir kanan kiri, tapi baca buku ini juga aku jadi ngerasain bahwa apa yang dibilang beberapa orang kalau kerja di bank itu berat ada benernya.

Aku kadang sering denger bahwa kerja di bank itu kadang banyak lemburnya, apalagi di akhir bulan gitu, soalnya ya kebetulan kakakku juga kerja di bank dan sering dapat laporan dari mama kalau ia belum pulang, lagi lembur.

Kerja di bank konon kabarnya dikejar-kejar target, aku ga tau sih ini bagian mananya bank tapi pernah ada kejadian ibu-ibu di kantor anaknya kerja di bank dan cerita kalau sering banget anaknya ini semacam transfer duit ibunya sejumlah sekian puluh juta karena buat nutupin target, ntar dibalikin lagi sih.

Kerja di bank, namanya urusan sama duit, ya harus lebih teliti dan was-was. Namanya duit kadang warnanya mirip-mirip (lagian kenapa warnanya mirip banget kan ya 2.000 sama 20.000 sekarang aja sering siwer ketuker), jadi jangan sampai salah kasih ke nasabah. Belum lagi kalau uang setoran banyak, harus siap hitung walaupun ada mesin juga siap hitung manual pake tangan dan spons yang ada di meja itu. Jangan pake ludah lah, jijik kali. Yang jelas, jadi teller dari pengalaman Kak Yayan, kudu siap nombok kalau ga teliti.

Eh jangan sampai ga ada yang mau jadi teller gara-gara baca kesimpulan ajaibku ini ya.

Selama ini aku tau sih ada yang namanya nasabah prioritas, biasa dilayani berbeda, ruangannya juga katanya ada yang beda gitu. Kirain ada teller khusus prioritas, tapi baca cerita buku ini aku jadi tau kayaknya teller umum bisa aja tau-tau dipanggil untuk melayani nasabah prioritas. Iya juga ya, kalau teller khusus prioritas sementara jumlah nasabah prioritas sehari juga ga banyak, enak amat kerjaan dia lebih dikit.

Kerja di bank, apalagi jadi teller itu, bisa tau saldo nasabah, ya jelas lah ya. Gimana gak tau kan kadang ada yang minta cetak buku. Punya temen atau saudara kerja di bank yang bisa ngelakuin transaksi kayak gini nih berguna banget. Apalagi kalau tau-tau ada dana masuk kayak transferan asuransi, deposito, atau kita transfer ke rekening yang ga ada internet banking, notifikasinya dan males buat cetak buku. Hehehe.

Yang jelas sih, kerja di bank itu Standar Operasi Prosedur (SOP)-nya jelas, banyak, dan beribet. Terus juga harus rapi (ini sih bukan aku banget). Training-trainingnya juga banyak dan sering banget. Makanya, kayak orang keuangan di kantorku (yang sering banget berhubungan dengan orang bank dan asuransi) sering banget ngebandingin apa-apa dengan sistem kerja di bank. Karena ya emang bagus kan, urusan personal itu dijaga banget lah. Memanusiakan nasabah dan biasanya sih memanusiakan karyawan juga. Contohnya aja panggilan bapak dan ibu yang wajib banget. Bahkan kurang dikit aja bisa kena tegur SQO (Service Quality Officer) kayak pengalaman kak Yayan.

Selain cerita tentang nasabah yang beragam wujudnya baik tampak maupun tak tampak (eh yang tak tampak bukan nasabah ding, kawan di kantor alias penghuni gedung kantor). Kak Yayan juga ngasih info-info menarik tentang dunia teller dan perbankan, seperti apa itu pinpad, limit cadangan dana di bank per hari, bahwa ternyata aku kadang kalo transfer online ada suka ngasih berita juga kayaknya ga kebaca deh di mutasi kebacanya di rekening koran, tips untuk menyetorkan uang di bank agar mempermudah teller dan mempercepat waktu kita transaksi juga, Bilyet Giro, dan banyak lagi.

Karena settingnya di Palembang, sempat ada juga percakapan atau istilah dalam bahasa Palembang. Ada juga beberapa cerita yang menyelipkan pesan moral penting. Oh ya, salah satu cerita tentang keluarga yang suaminya agak stress pasca pensiun cukup membekas sih jadi kepikiran pengen cerita tentang lost power syndrome. Terus baru tau ternyata Kak Yayan ini pernah di cabang yang deket kantorku.

Buat kak Yayan, bukunya menghibur banget. Ada yang bikin senyam senyum mesam mesem ngguyu sama tingkah laku nasabahnya. Maafkan, mungkin aku yang masih terlalu serius dan kurang komedi ini jadi gak terlalu ketawa sampai ngakak-ngakak, maksudnya ketawanya biasa aja emang jarang sampe ngakak koprol guling-guling kayang jalan kepiting. Ada juga yang bikin aku kebawa keselnya ngeliat tingkah laku nasabah yang suka sok-sokan. Tapi, balik lagi, karena settingnya di Palembang, aku jadi penasaran sama hal-hal yang disamarkan misalnya PT Siap Tangkap atau Toko Nenek Yungyun itu toko yang mana hehehe. Memang benar, buku ini bukan tipe buku yang biasa aku baca, tapi aku tetap bisa menikmati bahkan untuk beberapa hal (pesan moral) kena banget di hati.

5 Replies to “Ajaibnya Kehidupan Teller di Jungkir Balik Dunia Bankir

  1. Kalau teller, lemburnya sering di akhir bulan saat orang mau gajian. Jadi banyak yang datang buat transaksi. Atau juga kalau ketiban sortir uang jelek huhuhu (makanya penting banget memisahkan uang jelek dan uang yang masih oke). Dan, kalau aku dulu, seperti yang diceritakan, ngeback up data.

    Teller juga ada targetnya 😉 sesama teller kita sering rebutan antrean. Soalnya kalau nota sedikit, dianggap kerjanya lambat dan pengaruh ke penilaian dan bonus akhir tahun. Marketing juga kita, makanya kalau ada nasabah kita diwajibkan tag on, kasih info singkat produk bank lainnya. Kalau closing, dapet bonus lagi hehehe.

    Di cabang-cabang tertentu emang ada ruangan khusus prioritas. Jadi begitu datang nasabahnya disambut, dikasih minum, dikasih cemilan. Duduk di sofa, dan ada petugas nyamperin buat menjalankan semua transaksinya. Enak ya jadi orang kaya hahaha.

    Nah PT Siap Tangkap itu dulu kantornya kecil, nyempil di sederetan Hotel Horison. Sekarang kantornya udah gede di sekitaran PTC sana. Kalau gak salah sederetan dengan kantor BPJS hwhwhwhw. Kalo toko nek Yungyun, di samping JM Kol Atmo lol.

    Sekali lagi makasih ya Ainun atas ulasan lengkapnya.

Silahkan meninggalkan komen :) Aku bakal bw balik....