ELC Parenting Club Palembang : Menstimulasi Kepandaian dan Kepercayaan Diri Anak Melalui Bermain

ELC Palembang
Bertempat di Community Area Palembang Icon Lantai 3, ELC Palembang mengadakan seminar untuk orang tua yang mengangkat tema Cara Cepat Menstimulasi Kepandaian dan Percaya Diri Anak Pada Usia Dini pada 6 Mei 2017 yang lalu. Hadir sebagai pembicara adalah dr. Rismarini SpA(K) dari Departemen Kesehatan Anak RS. M. Hoesin Palembang yang juga praktek di RS. Bunda Palembang.

ELC Palembang

Acara yang dijadwalkan pukul 13.00 sedikit mengalami keterlambatan dan memang peserta masih sedikit sekitar pukul 13.00. Di community area, selain terdapat panggung dan tempat duduk yang berjejer rapi, juga disediakan area untuk bermain anak dengan produk-produk berkualitas dari ELC. Sembari menunggu acara dimulai, setelah registrasi orang tua dapat menemani anaknya bermain dahulu di area bermain. Namun, banyaknya anak yang ingin bermain dan kondisi anak-anak yang memang biasanya jika sudah memegang satu mainan tidak mau dilepas dan berasa menjadi miliknya harus dimaklumi. Belum lagi, area tempat bermain ini sedikit agak panas dan membuat anak menjadi gerah dan lebih berkeringat.
Setelah acara dibuka oleh MC, dr. Rismarini SpA(K) menyampaikan paparannya tentang menstimulasi kepandaian dan kepercayaan diri anak melalui bermain. Ya, kata BERMAIN (harus huruf kapital, bold, dan garis bawah) perlu ditekankan karena memang anak kecil ya waktunya bermain bukan belajar. Kalaupun ingin mengajarkan sesuatu, misal tentang abjad, sebisa mungkin dilakukan dengan santai dan sambil bermain. Ya, anak belajar dengan bermain. Bermain sangat berarti untuk anak, karena anak sedang TUMBUH dan BERKEMBANG, anak tidak sama dengan orang dewasa yang pertumbuhannya sudah berhenti, tapi perkembangannya masih berlanjut (bisa dicek masing-masing perut, paha, lengan, dan bokong serta timbangan yang jarumnya bergeser ke kanan atau angkanya bergerak naik terus). Bermain bagi anak dapat memberikan stimulasi bagi perkembangan otak anak, apalagi jika bermain secara aktif, dengan seluruh tubuh dan melibatkan panca indra. Tentu saja, selain bermain, agar tumbuh dan kembang anak berjalan dengan baik, perlu asupan gizi yang baik pula dari makanannya sehingga terhindar dari penyakit. Yap, semoga selama ini saya sudah member gizi yang baik buat Mahira ya, semoga anaknya sehat-sehat terus.
ELC Palembang
Fakta lain dari pentingnya bermain bagi anak selain menstimulasi perkembangan dengan merangsang anak agar kembang dengan optimal, ternyata bermain juga dapat meningkatkan percaya diri anak. Bermain dengan orang tua dengan rasa kasih sayang secara bertahap dan berkelanjutan, wajar, santai, tanpa paksaan dan tanpa hukuman, serta mencakup semua panca indra akan meningkatkan percaya diri anak dengan adanya perhatian dari orang tua yang mengajak bermain. Bermain dapat dilakukan secara bertahap dimulai dari kemampuan perkembangan yang telah dimiliki anak, lalu meningkat secara perlahan sesuai dengan milestone yang telah dilalui. Pada prinsipnya, gaya hidup anak adalah bermain maka ciptakanlah suasana yang menyenangkan. Jika anak berhasil atas tahapan pencapaian tertentu harus diberi pujian, misal anaknya sudah bisa tengkurap ya dipuji “Wiiih anak ibu hebat sudah bisa tengkurap sendiri”. Alat bantu stimulasi boleh dipakai bila diperlukan selama tidak berbahaya, dan direkomendasikan yang sederhana dan mudah didapat. Variasi stimulasi juga dibutuhkan agar tidak membosankan. Nah ini catatan penting buat ibu yang kadang rajin kadang males kayak saya alias suka ga konsisten kalo ngasih stimulasi atau jarang ngasih variasi.

Pada dasarnya, sudah banyak literatur yang menyebutkan tentang perkembangan anak pada usia tertentu dan cara menstimulasinya. dr Rismarini SpA (K) menyampaikan tentang perkembangan dan stimulasi untuk anak usia 0-3 bulan, 3-6 bulan, 6-12 bulan, 1-2 tahun, dan 2-3 tahun. Dengan adanya panduan tersebut, diharapkan anak dapat distimulasi dan sanggup mencapai hal yang menjadi milestone anak usia tersebut, misal bayi usia 3 bulan bisa mengangkat kepala tegak saat tengkurap, tertawa, menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, membalas senyuman, dan mengoceh secara spontan. Jika pada usia 3 bulan, bayi belum bisa melakukan hal yang menjadi milestone anak seusianya, boleh saja dikonsultasikan ke bidan / perawat / dokter. Kebetulan, saat usia awal sebelum 6 bulan, saya hampir setiap bulan ke dokter untuk imunisasi Mahira, jadi tumbuh kembangnya cukup terpantau, apalagi dokter spesialis anak (DSA) di RS Hermina Palembang (tempat biasa konsultasi) selalu menyapa dengan sudah bisa apa saja? Sudah bisa ini atau itu belum? Bisa kok distimulasi ini dan itu. Jadi berdasarkan panduan dan arahan dari DSA Mahira, tumbuh kembang anak masih terpantau. Akhir-akhir ini aja agak baperan karena anak seusianya ada yang sudah berdiri sendiri bahkan ada yang sudah lancar jalan sendiri. Tapi, ya selalu diingatkan juga kalau tumbuh kembang anak ya berbeda-beda, coba distimulasi saja terus, kalau sudah merasa harus konsultasi ya konsullah ke DSA.
ELC Palembang
Terdapat sesi tanya jawab dengan peserta seminar dan beragam pertanyaan pun muncul mulai dari urusan waktu bangun tidur anak yang dijawab dengan pelatihan disiplin, anak yang hiperaktif atau anak yang indigo yang dijawab dengan perlu dilihat lebih lagi apakah benar hiperaktif atau indigo atau ada hal lainnya, dan yang paling menarik sih pertanyaan usia anak boleh sekolah. Kapan anak boleh sekolah? Umumnya anak usia 3 tahun sudah ikut pre-school atau PAUD, anak usia 4 tahun mulai masuk TK. Namun, ada juga anak <3 tahun sudah mulai dimasukkan ke sekolah. Sebenarnya ini tidak apa-apa selama anak bukan untuk belajar tapi untuk bermain, dengan masuk sekolah, anak bisa berlatih sosialisasi, apalagi memang kondisi zaman sekarang yang kadang tetangga apatis dengan tetangga di sekitarnya dan anak hanya diasuh dengan pengasuh atau orang tuanya tanpa bertemu dengan anak lain.
Ini kejadian sih sama Mahira, dia kurang bersosialisasi padahal ya sebelah kiri rumah ada anak seumuran dia beda 1 bulan dan 1 tahunan di kanan rumah juga ada anak kecil-kecil usia tk sampai yang masih 1 tahunan. Tapi ya, orang tuanya juga kadang suka ngedon di rumah, pengasuh juga buka pintu cuma sebatas di teras aja, eh anaknya disapa orang dewasa kadang seneng kadang nangis. Makanya, saya sebenernya seneng gabung di komunitas-komunitas baru terus pinginnya bisa playdate gitu. Minggu lalu kumpul sama temen sesama Matrikulasi IIP area Palembang, eh ada yang bawa anak 1 tahun (lebih tua dikit dari Mahira) dan ternyata Mahira senyum-senyum seneng kan saya juga seneng ngeliatnya. Oh, ternyata ini anak juga seneng toh ketemu temen seumurannya. Jadi catatan di usia menjelang 1 tahunnya Mahira adalah stimulasi biar dia berdiri sendiri dan jalan, stimulasi main-main dan pegang-pegang yang lembek-lembek supaya ga jijik-an, plus kalo bisa sering-sering dibawa main sama anak seusianya. Nah, kalo udah mau main sama anak seusianya, bakal ada PR lain yaitu memberi tahu untuk berbagi atau bergantian mainan dan mengembalikan mainan yang bukan miliknya (kalau bermain di tempat teman atau tempat umum).
ELC Palembang
Pihak ELC sendiri sempat menyampaikan tentang produk ELC. ELC masuk ke Indonesia mulai tahun 2008 setelah hadir di Inggris (negara asalnya) sejak tahun 1974. Nah, produk ELC ini memang beragam dan sangat cocok untuk stimulasi tumbuh kembang anak. Apalagi, produk ELC sudah terjamin keamanannya baik secara internasional maupun level Indonesia (dengan tersertifikasi SNI / Standar Nasional Indonesia). Salah satu contoh produk ELC yang ditampilkan adalah mainan kayu / balok yang memiliki 6 sisi dengan stimulasi berbeda dan ini emang beneran bagus sih terus bahannya juga berkualitas. Untuk produk lain juga banyak macamnya dan sangat beragam, untuk menstimulasi musik ada piano, drum, mic, gitar. Lengkap pokoknya.

ELC Palembang
Dari seminar ini, selain bertambah ilmu tentang cara menstimulasi anak melalui bermain sesuai dengan tahapan anak seusianya, juga insting ibu diperlukan. Contoh, kalo ibunya ngerasa anaknya udah bisa diberdiriin buat dijejak-jejak ke tanah karena ngerasa tulang anak kuat ya monggo dilatih, kalo ibunya ngerasa anaknya udah ngerti buat baca flashcard yang huruf doang ya monggo juga dilatih. Intinya, bertahap saja dan jangan dipaksakan. Kecerdasan anak beda-beda dan peran orang tua sangat penting buat menstimulasi anak dengan cara bermain bersama.

Ps. Terdapat foto saya ambil dari Facebook Pages ELC Indonesia dan instagram .

Written by

Silahkan meninggalkan komentar :)