DIY Monkey Bar Untuk Arena Bermain Anak di Rumah

 

“Wah, Mahira putih ya ternyata, jarang main di luar ya?”

Begitulah beberapa komentar teman saat bertemu anak saya Mahira. Memang benar sih, anak saya jarang main ke luar rumah. Kalaupun keluar dari rumah, mentok di teras atau garasi sehari-harinya. Kalau hari libur baru deh dibawa pergi ke mall, rumah sakit (untuk imunisasi), atau sekadar menemani ayah ibunya untuk makan di luar.

Faktor cuaca yang kalau panas teriknya bukan main, bikin saya, suami, dan pengasuh memilih ‘ngadem‘ di rumah aja. Selain itu, ketika saya bekerja, pengasuh pun memilih tidak mengajak anak keluar untuk bermain bersama anak tetangga. Lebih baik main di rumah saja bareng Mahira sudah cukup menyenangkan katanya. Alhasil, saya yang harus memutar otak menyediakan mainan dan tempat main untuk anak di rumah.

Perkembangan anak menjadi dasar untuk membuat permainan yang sesuai dengan anak. Tiga bulan lalu, Mahira sudah mulai merangkak. Saya berpikir, mungkin sebentar lagi ia akan mulai mencoba berdiri sambil berpegangan lalu akan merambat. Saya mencoba menyediakan arena main untuk melatih ia agar mau berlatih berdiri sendiri dengan membuat monkey bar sendiri.

Monkey Bar? Apa itu?

Monkey Bar atau Batang Monyet adalah tiang-tiang yang disusun untuk anak agar bergelantungan. Umumnya monkey bar ditemui di taman atau lokasi pra sekolah. Bentuk yang umum biasanya berupa setengah lingkaran yang terbuat dari besi dengan pasir di bagian bawah agar jika anak jatuh tidak merasa sakit. Manfaat dari bermain di monkey bar adalah melatih tubuh kinestetik, keberanian, dan melatih keseimbangan.

DIY Monkey Bar

Saya mendapat inspirasi untuk membuat monkey bar sendiri tentunya dengan bantuan suami. Setelah berburu model monkey bar, kami memutuskan untuk membuat model monkey bar dari hasil berburu inspirasi di Pinterest. Model ini kami pilih karena jika dilihat sekilas selain menjadi monkey bar, bisa dipakai juga untuk menggantung permainan bagi anak bayi, sebagai gawang dan hoop bermain bola basket, belajar merambat dan memanjat, atau menjadi tenda saat anak mulai besar nanti.

Inspirasi dari DomanMom

Awalnya saya berencana memodifikasi desainnya, namun karena ada salah komunikasi dengan suami, jadi desainnya tetap sesuai dengan gambar. Yang berbeda adalah ukuran pipa PVC yang digunakan lebih besar dari contoh. Pertimbangan kami, dengan diameter PVCyang lebih besar akan lebih kokoh dan tidak mudah roboh, selain itu, memang hanya menemukan sambungan antar pvc ukuran besar di toko bangunan dekat rumah.

Alat dan Bahan :

  • PVC ukuran 1,5 inchi
  • Sambungan PVC sesuai dengan desain
  • Cat non toxic
  • Gergaji

Jika memiliki gergaji sendiri, tentu setelah membeli PVC dapat dipotong sendiri. Namun, karena keterbatasan (tidak memiliki gergaji), maka setelah beli PVC di toko bangunan, kita bisa minta kepada tukang di toko bangunan untuk memotongnya sesuai dengan ukuran.

Cara membuat monkey bar cukup gampang, setelah PVC dipotong sesuai ukuran, sambungkan, lalu cat monkey bar yang sudah disambung dan tunggu catnya kering. Cat non toxic dipilih karena selain ramah lingkungan, juga aman untuk kesehatan anak Cat non toxic sudah banyak dijual di pasaran dengan berbagai merek. Tinggal kita sebagai orang tua yang harus jeli dan teliti saat membeli.

Kalau di taman-taman atau pra sekolah di bawah monkey bar diletakkan pasir, untuk di rumah bisa diletakkan playmat, matras, atau karpet puzzle. Saya pilih karpet puzzle Evamat untuk alas, karena sekalian belajar warna, abjad, dan nama-nama hewan. Total biaya untuk membuat monkey bar ini lengkap dengan alasnya kurang dari Rp 350.000,-

Monkey bar ini cukup membantu Mahira saat mulai belajar berdiri dan merambat. Dia juga mulai berani berdiri sambil melangkah sambil memegang tiang satu ke tiang lainnya. Untuk berdiri sendiri tanpa berpegangan memang masih belum bisa, tapi Mahira mulai berani berdiri sambil bersandar di salah satu tiang.

Selain menjadi arena untuk berlatih berdiri dan merambat, monkey bar ini menjadi arena bermain yang aman Mahira. Koleksi permainan yang dimiliki disimpan di area sekitar monkey bar, jadi ketika anak akan main dia akan main di area ini. Walau tidak menutup kemungkinan dia juga mencoba membuat rusuh tempat lain seperti rak buku, tapi seringnya Mahira memilih bermain di area ini. Kadang Mahira suka main sendiri, tapi seringnya selalu ditemani baik oleh pengasuh atau orang tuanya. Kalau bermain sendiri, dia bisa sambil mengoceh seperti lagi cerita sesuatu. Saya sendiri sering mengganggu saat dia bermain, khususnya kalau dia bermain buah-buahan, saya sering meminta dan pura-pura memakan sambil menjelaskan tentang buah yang sedang dimainkan. Selain mengajari tentang buah, juga mengajarkan tentang berbagi dan saling memberi.

Kekhawatiran saya akan banyaknya virus dan penyakit yang muncul dari tempat umum membuat saya memutuskan untuk lebih banyak mengajak anak bermain dan beraktivitas di dalam rumah sampai usia anak 10 bulan, karena merasa lebih aman. Selain bermain bersama di monkey bar, kadang kami berenang di kolam renang yang memang sengaja dibeli untuk anak berlatih mengenal kegiatan renang dan bermain air. Namun, seiring dengan bertambahnya usia dan lengkapnya imunisasi, saya melihat Mahira cukup kuat untuk dibawa bermain di tempat umum seperti area taman atau pantai. Walaupun begitu, saya tak mau lengah, obat-obatan tetap harus disediakan di dalam rumah. Paracetamol adalah salah satu obat wajib ada di rumah atau ketika traveling. Saya menyediakan Tempra Syrup, yang mengandung paracetamol dan berguna untuk meredakan demam, rasa sakit dan nyeri ringan, sakit kepala dan sakit gigi.

Bermain bersama anak tentu aktivitas yang menyenangkan bagi orang tua, baik di dalam rumah maupun luar rumah. Membuat mainan sendiri juga dapat menjadi hal yang menyenangkan bagi orang tua karena mengasah kreativitas dan menimbulkan kepuasan saat anak tertarik bermain di permainan yang kita buat. Tentunya, kesehatan dan keamanan anak harus tetap dinomor satukan. Yuk bermain dengan anak secara aman dan menyengangkan.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Sumber :

  • http://www.ayahbunda.co.id/balita-bermain-permainan/kenali-mainan-di-halaman-sekolah
  • https://domanmom.com/jungle-gym-tutorial/

Written by

2 comments / Add your comment below

Silahkan meninggalkan komentar :)