#Day 10 – Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Saya akan melanjutkan tantangan 10 hari saya di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Professional. Ini adalah hari kesepuluh berlatih Komunikasi Produktif. Semoga catatan dan upload bisa sesuai hari lagi.

10 Juni 2017

Komunikasi Produktif Pada Pasangan

Sesi1 Bunda Sayang

    • Poin yang dipilih : Choose The Right Time
    • Narasi :
  • Hari Sabtu adalah hari santai, karena hari ini ada jadwal pembersihan kasur dengan vakum, jadi tidak ada jadwal keluar pada sore hari. Alhasil, tv ‘dibajak’ oleh suami untuk nonton DVD. Sore hari setelah memandikan anak, suami masih nonton tv, sementara anak nodong untuk menyusu.

Sekitar pukul 17.15

Anak masih menyusu tidak mau lepas.

Saya : “Yah, filmnya berapa lama lagi?”

Suami : Mem-pause DVD dan menunjukkan kalau masih 30 menit lagi.

Saya berpikir kalau 30 menit lagi baru selesai dan anak masih ga mau lepas menyusunya, maka saya ga bakal bisa goreng cireng dan pempek plus buat teh untuk buka puasa. Jadi saya memilih menunggu film selesai.

*Film selesai, suami mau mandi*

Saya : Yah, mahira masih nyusu ga mau lepas, panasin minyak ya buat goreng bukaan.

Suami : *diem aja, gerakan mau ke belakang buat mandi*

Saya mendengar dia keluar dari kamar mandi dan menyalakan kompor. Posisi anak masih menyusu ga mau lepas.

Dia kembali dari area belakang (dapur & kamar mandi), baru anak mau lepas dari posisi menyusu.

Saya bergerak ke arah belakang untuk mengecek, ternyata sudah ada pempek dan teh manis panas. Cirengnya? ga digoreng karena dia ga suka. yah.

    • Hal yang menarik yang saya dapatkan : Kalau memilih waktu yang tepat, konsep clear & clarify juga perlu. Jadi ga kecewa karena cireng ga digorengin. Minta tolong awalnya juga buat manasin minyak, bukan buat menggoreng.
    • Perubahan apa yang saya buat hari ini dalam berkomunikasi : Menahan meminta tolong setelah film selesai agar kesenangan pasangan tidak terganggu saat menonton film.

Komunikasi Produktif Pada Anak

Sesi1 Bunda Sayang

  • Poin yang dipilih : Mengatakan Yang Diinginkan
  • Narasi :

 

Sejujurnya, saya merasa Mahira sudah kuat berdiri, hanya masih ingin berpegangan. Tapi melihat anak seumuran sudah mulai berjalan, tentu membuat iri sekaligus cemas dan sedikit galau karena sering ditanya, anaknya sudah bisa jalan belum.

Hari ini mumpung libur, saya mencoba stimulasi Mahira saat dia akan tidur. Sekalian agar anaknya lelah dan tidur lebih cepat (niatnya).

Saya : Mahira, latihan berdiri yuk.

Anak : Masih cuek berdiri pegangan di rak buku

Saya mendekat dan meraih tangannya agar dalam posisi titah.

Saya : Mahira, tangannya ibu lepas ya. Mahira berdiri sendiri ya

Anak bisa berdiri kurang lebih 5 detik, lalu bergerak ke bawah dalam posisi jongkok. Dan saya tepuk tangan sambil bilang “Woow anak ibu pintar sudah bisa berdiri lepas tangan”

Wah, senangnya, biasanya dia langsung pegangan atau jatuh di 2 detik pertama.

  • Hal yang menarik yang saya dapatkan : Senang rasanya jika anak mau mendengarkan dan mau berusaha.
  • Perubahan apa yang saya buat hari ini dalam berkomunikasi : Selain mengatakan yang diinginkan yaitu ingin melepas tangan agar anak berdiri sendiri, saya mulai memasukkan unsur memberi pujian yang jelas setelah anak bisa berdiri lebih dari 5 detik. Sebelumnya ketika dia hanya berdiri sedetik atau 2 detik lalu jongkok, saya bertanya, “kenapa, kok langsung turun?” karena ini lebih dari pencapaian biasanya saya memberi dia pujian.

#level1

#day10

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

 

Written by

Silahkan meninggalkan komentar :)