Yogyakarta : Puas Makan Sate Klatak, Bakar Lemak di Hutan Pinus

Untuk beberapa orang, itenerary menjadi hal yang wajib dirancang terlebih dahulu sebelum liburan. Saya pun dulu demikian. Banyaknya arus informasi membuat memudahkan kita untuk menyusun rencana perjalanan. Tapi setelah berkeluarga, saya merasa itenerary tidaklah terlalu penting dan saklek harus dibuat. Ya, kecuali urusan tiket dan penginapan sih memang kalau bisa harus disiapkan dulu. Urusan mau ke mana saat di tempat tujuan, sekarang mengikuti alur aja.

Ini yang terjadi ketika main ke Jogja kemarin. Sebelumnya sudah baca beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi bersama keluarga. Ujung-ujungnya, ketika sampai di Jogja dan mobil rental datang untuk menjemput kami, pemilik mobil minta diantarkan ke suatu tempat. Hal-hal mendadak kayak gini dulu sering bikin saya bete, karena punya rencana a-z terus rasanya bubar atau molor aja gitu, jadi kesel. Sekarang, karena ga ada rencana, ya enak-enak aja, mas-mas rentalnya juga enak diajak ngobrol.

Mas Rental (MR) : Jadi mau ke mana mba sama masnya?
Saya (S) : Gak tau sih mas, ya kira-kira aja abis nganter mas daerah yang bisa dikunjungi mana.
MR : Kalau deket sama tempat saya ada sate klatak tuh, terus lurus terus bisa ke hutan pinus. Ke hutan pinus enaknya sih siang-siang gini, soalnya adem.

Jadilah, kami yang kelaparan setelah sampai di Jogja (padahal udah sarapan di Palembang), melipir ke daerah Imogiri, Bantul. Tempat di mana banyak penjual Sate Klatak. Pilihan kami adalah Sate Klatak Pak Pong. Pesan dari Mas Rental, Sate Klatak Pak Pong ini udah buka cabang, ke tempat yang asli aja, emang lebih kecil sih, tapi lebih enak. Katanya, mungkin karena faktor tempat yang baru lebih luas, yang dilayani lebih banyak, cita rasa masakan yang dimasak buat banyak porsi kan beda sama yang dimasak buat yang dikit-dikit. Bener juga sih, pikir kami.

Sate Klatak Pak Pong

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sate Klatak jadi salah satu kuliner wajib saat di Jogja karena unik. Keunikan sate ini berada di tusukannya, umumnya sate ditusuk dengan tusukan sate dari bambu, namun, sate klatak menggunakan tusukan jeruji besi sepeda. Alasan penggunaannya adalah, besi merupakan penghantar panas yang baik, jadi daging bagian dalam juga akan matang.


Dengan bantuan Google Maps, kami sampai ke tempat Pak Pong. Eh, tapi kata mas rental, agak maju dikit, 100 meteran nemu di kanan jalan bangunan berwarna agak kuning, bertuliskan Sate Pak Pong. Dari luar sudah tampak semacam daging-daging yang digantung dan panggangan.

Menu yang kami pilih hanya seporsi sate, seporsi tongseng, dua porsi nasi, es teh manis panas, dan es jeruk. Lalu datanglah sepiring kecil berisi 2 tusuk sate daging kambing dan ada sedikit kuah di piring tersebut. Karena tusukannya dengan jeruji sepeda yang cukup panjang, daging kambing terlihat sedikit dan kecil. Padahal mah, kalo dirasa-rasa ya gede juga itu. Menyusul kemudian semangkuk tongseng kambing dan dua piring nasi. Yak, langsung tancap gas, cuci tangan, hajar bleh!

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Ini perdana saya dan bojo makan sate klatak. Beda dengan sate kambing yang umumnya berbumbu kecap atau sambal kacang, sate klatak ini bumbunya ga terlalu banyak, hanya garam dan ketumbar sedikit, tapi kok bisa ya rasanya enak? Ya, mungkin karena beda sama rasa sate yang biasanya kaya, sate klatak membawa kenikmatan dalam balutan kesederhanaan.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Butuh rasa yang kaya? Cicipilah kuah tongseng dan kuah yang ada di piring sate. Gurih dan nikmat. Walaupun dagingnya daging kambing, bau prengus (alias bau ga enak) yang biasa muncul dari daging kambing sama sekali ga terasa. Daging-dagingnya juga empuk. Dan finally, kangennya saya sama tongseng kebayar di Sate Klatak Pak Pong.

Di tempatnya Pak Pong ini, kita bisa duduk dengan kursi kayu berat jaman dulu yang panjang-panjang atau lesehan. Musholla, wastafel, dan kamar kecil pun tersedia. Plusnya lagi, ga bikin kantong kempes. Makan segitu dan nambah nasi seporsi lagi plus krupuk banyak, gak nyampe 100 ribu. Itu ngerasanya kenyang banget.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Hutan Pinus Asri Mangunan


Sudah isi perut, saatnya kita main. Kami menuju daerah Mangunan. Coba cari di Google Maps, Hutan Pinus akan banyak banget pilihannya. Akhirnya, kita ngikutin aja petunjuk arah. Hampir semua mengarah ke daerah yang sama. Ternyata memang benar, banyak banget pilihan Hutan Pinus yang bisa dikunjungi. Jalan menuju daerah ini menanjak dan agak berbelok-belok. Untuk yang pakai mobil matic, rasanya ada settingan gigi sendiri biar ga merosot. Untung bojo yang bawa, kalau saya mah, wassalam, mending ga jadi naik deh. Awalnya sih kami berprinsip, ah, nanjak aja dulu deh, sampe yang paling akhir dulu, ntar kalo ga sreg baru liat yang di bawah. Maka, sampailah kami di Hutan Pinus Asri.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Yang menarik dari daerah wisata di Jogja ini adalah adanya tempat parkir yang cukup luas ya. Jadi, ya, kerasa banget sih emang siapnya untuk menjadikan satu kawasan jadi daerah kunjungan wisata. Di dekat tempat parkir banyak semacam warung berjualan kelapa muda, minuman, mie instan, dll. Parkirnya juga murah, karcisnya bener-bener dikasih dan dicatat. Plusnya lagi, harganya murah-murah. Masuk hutan pinus aja cuma Rp 2.500,-. Untuk sewa hammock dan lainnya ya nambah bayar lah.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sebenarnya, hutan-hutan pinus ini banyak spot di ujung-ujungnya untuk menikmati matahari dan foto-foto. Tapi bawa anak ngeri juga ya main-main ke ujung gitu, jadi ah sudahlah, kita bisa juga foto-foto di hutan pinusnya yang rasanya adem. Hutan Pinus Asri ini cukup luas, di tanah-tanahnya ada dipasang batangan pohon yang dibentuk untuk pijakan. Ada juga area yang memang dibentuk seperti bintang, love, yang sengaja dibuat untuk foto-foto. Tak lupa semacam rumah-rumahan yang ada di negeri Bikini Bottomnya Sponge Bob juga ada.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Ngapain sih di hutan pinus? Utamanya sih foto-foto aja ya. Tempat ini bisa jadi instagramable banget. Kalau bawa anak, ya jadi ajang untuk perkenalan anak akan alam, ngenalin anak tekstur buah pinus yang baru aja ditemuin (di Palembang ga ada soalnya). Terus, karena abis makan dan area hutan pinus ini gede banget dan naik turun gitu konturnya, ya, jadi bisa juga buat olah raga alias bakar lemak. Kerasa ngos-ngosan sih keliling hutan ini.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Kita di hutan pinus kurang lebih setengah jam aja. Terus nyoba nengok ke hutan pinus lainnya yang tadi sempat dilewatin, kayaknya sih sama aja, akhirnya batal masuk karena udah cukup ngos-ngosannya dan jadi laper lagi. Akhirnya sih, balik ke kota Jogjakarta.

Kalau mau ke daerah hutan pinus ini, mendingan jangan pas musim hujan atau pas hari hujan. Selain karena jalannya nanjak dan belok-belok, menurut saya sih bakal serem, juga karena kalau pas ke hutannya basah bakalan becek gitu kan, nempel-nempel tanah di alas kaki. Hehe.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Kalau main ke Jogja, jangan lupa nyobain Sate Klatak yang unik, setelah itu bakar lemaknya dengan keliling di hutan pinus biar berasa impas gitu abis makan enak terus olah raga.

Btw, nama asli mas rental adalah Mas Rusli, no hp nya 0896-7141-6161. Monggo kalau mau ke Jogja dan ngerental mobil bisa ngehubungin beliau.

Review Hotel Ibis Styles Yogyakarta

Haloooo….

Minggu lalu saya sekeluarga main-main di Yogyakarta sebelum balik ke kampung di Purbalingga. Sekalian sih, udah lama banget ga ke Yogyakarta dan pengen ketemu sama temen SMA yang sekarang menetap di sana. Akhirnya, selama 3 hari 2 malam, kami ada di Yogyakarta deh 🙂

Urusan bermalam dan tempat menginap tentunya menjadi hal yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan liburan. Kalau dulu jaman masih single konsep tidur bisa di mana aja, setelah berkeluarga ga bisa lagi. Ada pertimbangan lain seperti kenyamanan dan kebersihan, serta karena Mahira lagi senang kalau diajak berenang, ya, ada kolam renang juga menjadi nilai pertimbangan.

Seperti biasa, tugas mencari dan menyortir serta membuat plus minus terhadap sesuatu menjadi tugas saya. Dengan bantuan aplikasi Traveloka, saya sortir deh tuh hotel-hotel di Yogya yang ada kolam renangnya. List plus minus beserta harga, ngecek review dan rating, serta budget yang cocok terus diserahin ke Bojo, dia tinggal mutusin. Oh ya, kenapa saya senang pakai Traveloka, karena ada promo Flight & Hotel waktu itu, lumayan kan diskonnya, dan harga yang tertera di Traveloka itu udah termasuk harga lain-lain, jadi ya sudah total lah.

Pilihan jatuh ke Ibis Styles Yogyakarta, dari tampilannya, saya jadi ingat hotel All Seasons yang dominan warna hijau. Alasan pilih Ibis Styles, grup Ibis (Accor) sudah bisa jadi jaminan pelayanan yang ramah, ada kolam renang, reviewnya positif, ada area parkir karena kami rencana menyewa mobil, dan ada tempat main anak juga.

Kami check in, pada hari Kamis, 21 September 2017. Tanggal merah di (hampir) akhir minggu. Pastinya banyak yang ngambil cuti di hari Jum’atnya, dan terbukti sih, waktu nanya di resepsionis, hotelnya hari itu full.

Saat datang ke hotel ini, paling gampang memang lewat Jalan Malioboro, ada belokan ke kanan dengan Gapura Selamat Datang di Kawasan Wisata Dagen. Di Jalan Dagen ini memang banyak hotel-hotel dan Ibis Styles berada di paling ujung jalan. Parkiran mobil ada di basement, ga terlalu luas memang karena cuma satu lantai saja, tapi di area halaman hotel juga bisa parkir. Oh ya, kalau pas parkiran penuh, kita bisa nitipin kunci mobil ke security hotel, dan ada kartu gitu, jadi ga bakal dipanggilin ke kamar buat ngurusin mobil kita yang ngehalangin lah.

Untitled

Secara pelayanan person-to-person (caelaaaah) tentu aja ya ramah-ramah, apalagi di Yogyakarta yang emang berhati nyam-nyam, eh, nyaman. Sama kayak hotel lainnya, check in bisa mulai jam 14.00, dan pas kita check ini sekitar jam 14.30 emang udah siap itu kamar dan dapat sesuai request yaitu 1 bed besar dan non smoking room. Kami pesan tipe Superior dan dapat Room 420 yang berada persis di depan lift.

Untitled

Untitled

Ketika masuk kamar, yang kami rasakan tidak terlalu sempit ya dengan luasan sekitar 20 m2. Warna kamar putih cerah dengan adanya rak berwarna hijau, kursi berwarna merah. Terdapat meja juga serta radio alarm merek Philips. Kamar Superior sudah dilengkapi oleh adanya brankas, serta heater air panas untuk membuat teh atau kopi. Air mineral sebagai compliment sudah dapat 2 botol ukuran sedang (600 ml). TV LCD dan kulkas mini juga tersedia.

Untitled

Saat masuk, di atas bed sudah ada handuk yang dibentuk menjadi hewan. Anak jadi tertarik buat ngemainin. Untuk hotel yang bukan budget, kelengkapan tidur cukup menunjang ya, ga cuma 2 bantal, tapi ada 2 guling juga, dan 2 bantal tambahan. Malah di rak-rakan ada tambahan bantal lain satu lagi. Kasurnya? Empuk lah, jangan ditanya tapi merek apa, soalnya saya ngga ngintip.

Untitled

Kamar mandi untuk yang superior adalah area dengan shower, amenities lengkap mulai dari sikat & pasta gigi, shower cap, sisir, sabun. Handuk standar dapat 2 yang besar, dan 1 yang kecil, plus keset. Di kamar sendiri untuk petunjuk kiblat ada ya. Kelengkapan lain seperti sendal, laundry bag, buku informasi tentang hotel juga disediakan.

Untitled

Untitled

Salah satu alasan memilih Ibis Styles ini karena ada kolam renangnya, maka mari kita coba kolam renangnya. Kolam renang ada di lantai 7, bersama Sky Bar dan Seasons Spa. Pembatas antara kolam renang untuk anak dan dewasa cukup kokoh ya, jadi rasanya insyaAllah aman. Dari lantai 7 ini, lumayan bisa liat view sekitar. Waktu malam-malam, saya dapat telpon di kamar, ternyata dari Seasons Spa, berupa welcome spa (ga cuma ada welcome drink aja) selama 10 menit. Lumayan kan tuh, dibejek-bejek badannya. Eh saya sih emang doyan urusan pijetan, spa begini. Maklum, agak jompo badannya. hehehe.

Untitled

Untitled

Untuk sarapan pagi, area Colour Restaurant cukup luas dan banyak tempat duduknya. Cuma sempat numpuk di jam-jam tertentu sampai ada yang makan di area lobby. Tapi di keesokan harinya aman-aman aja rasanya. Makanan yang disajikan ada yang cita rasa lokal maupun internasional. Salad Bar baik yang buah maupun sayuran ada juga, walau menurut saya variasinya kurang banyak sih, tapi enak dan segar. Sereal dan Fresh Milk ada juga. Untuk anak bayi, disediakan juga high chair.

Untitled

Di hari terakhir kan saya emang ga rencana ke mana-mana, jadi sambil nunggu waktu check-out, anak main di area bermain yang ada di hotel. Bukanya dari jam 08.00-12.00 dan 13.00-17.00. Cukup lengkap, ada kursi dan meja, serta bantal besar untuk duduk-duduk. Permainannya ada balok, puzzle, dan lainnya. Lumayan lah, anak bisa main.

Lobby hotel ini cukup luas dan banyak area untuk duduk santai juga. Trus model tempat duduknya unik-unik. Ada juga beberapa komputer yang bisa dipakai oleh para tamu.

Untitled

Overall, tema hotel yang modern, ceria, dinamis dapat banget sih dari nuans hotel yang emang didominasi warna merah dan hijau. Pelayanannya cukup memuaskan dan ramah. Fasilitasnya lengkap dan bikin nyaman. Jadi salah satu pilihan kalau akan main ke Jogja lagi.