Nol Kilometer Palembang, Di Mana Ya ?

Sekitar tahun 2013 lalu, salah seorang teman di kampus (Arif Setiawan) bikin Writing Project : #NolKilometer. Intinya sih dia ngajak teman-teman lainnya untuk nulis tentang nol kilometer dari tiap kota.

Waktu itu saya niat banget ikutan project ini. Kebetulan saya domisili di Palembang. Sudah banyak yang bilang kalau titik nol kilometer itu ada di Masjid Agung Palembang. Tapi saya cari-cari penanda nol kilometer yang biasa bentuknya tiang agak seperti trapesium, dengan kode kota dan angka 0.

Contoh penanda Nol Kilometer pada umumnya – sumber : vamosarema.com

Tahun 2013 lalu adalah masa-masa saya doyan banget keliling Palembang pakai sepeda di hari Minggu. Kebetulan saya tinggal di daerah Kalidoni, saya ikutin lah tiang-tiang penanda kilometer mulai dari daerah Pusri. Yang saya temui ada tulisan 0 nya adalah Tiang 0 Pusri. Agak aneh sebenarnya, karena jarak tiang itu dari lingkungan komplek PT Pusri Palembang sekitar 1 kilometer.

Dengan sepeda, saya menyusuri sepanjang jalan mulai dari Jalan Mayor Zen, Jalan RE Martadinata, Jalan Letkol Nuramin, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Veteran, sampai Jalan Jenderal Sudirman Palembang. Tiang-tiang yang menunjukkan kilometer Palembang ada di sisi kiri jalan mulai dari PLM 7 sampai PLM 1. Tapi PLM 0 nya kok ga ada? Sebel deh. Saya sampai nanya beberapa akun twitter Palembang pada saat itu. Semua bilang nol kilometernya ada di Masjid Agung Palembang, tapi begitu saya nanya tiangnya di mana, ga ada yang tau. Ah, batal deh ikutan project ini.

Sampai akhirnya, baru di tahun 2017 saya secara ga sengaja menemukan penanda nol kilometer Palembang. Ceritanya saya ikutan acara Jelajah Palembang bersama Bluebird Palembang. Kita datang ke ikon wisata yang wajib dikunjungi di Palembang, mulai dari Benteng Kuto Besak, Jembatan Ampera, Monpera, dan Masjid Agung Palembang. Dari Monpera ke Masjid Agung, kebetulan tim saya jalan kaki, lha wong tinggal nyebrang. Di perjalanan, ada kotak penanda warna hijau yang ada tulisan angka-angkanya. Penasaran, dan ternyata itu dia, penanda nol kilometer kota Palembang yang beneran ada di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

Nol kilometer atau ada juga yang menyebut Kilometer Nol (Km 0) adalah penentuan untuk mengukur jarak (secara tradisional) lokasi tersebut dengan lokasi lainnya. Untuk Nol Kilometer Palembang tertulis “Awal Jalan Jenderal Sudirman KM : 0 + 000 dan Awal Jalan Riacudu”. Jalan Jenderal Sudirman adalah jalan utama yang berada di sisi ilir (hilir) kota Palembang dan Jalan Riacudu (Jalan Mayjen HM Ryacudu) adalah jalan utama yang berada di sisi ulu (hulu) kota Palembang. Kedua jalan ini dihubungkan oleh Jembatan Ampera (rasanya tak ada nama jalan di jembatan ampera ini).

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Palembang adalah masjid besar yang ada di Kota Palembang dengan yang didominasi dengan warna putih. Arsitektur masjid ini adalah percampuran. Ada unsur arsitektur Eropa yang melalui pintu utama masjid yang besar sementara unsur China melalui atap yang bentuknya seperti atap kelenteng. Menara masjid yang berbentuk kerucut, mewakili arsitektur budaya Indonesia.

 

 

Memiliki halaman yang luas, tak jarang terlihat anak kecil yang bermain bola di sekitar masjid ini. Di area luar terdapat kran untuk area berwudu. Tempatnya cukup terbuka. Jujur, saya sendiri tak terlalu sering mampir untuk masuk ke masjid ini. Sekali waktu saya pernah menghadiri akad nikah teman SMA yang dilaksanakan di masjid ini. Terdapat bangunan yang terpisah-pisah antara bangunan utama (tempat akad nikah) dan bangunan tempat teman saya bersembunyi sebelum acara akad nikah. Ibadah (seperti sholat wajib) yang dilaksanakan di Masjid Agung Palembang bisa juga disaksikan melalui Sriwijaya TV.

Bisa dibilang, di sekitar Nol Kilometer Palembang ini banyak ikon wisata dan kuliner khas Palembang yang berada tak jauh dari daerah ini. Kalau mau berkeliling sambil jalan kaki, ada Jembatan Ampera yang sudah dikenal sebagai ikon kota Palembang, Benteng Kuto Besak yang bersejah, Tugu Iwak Belido, Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) di mana kita bisa naik dan berfoto melihat Palembang dari atas monumen, dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin. Untuk kuliner, selain pempek yang banyak dijual mulai dari mamang-mamang (atau bapak-bapak) di sepeda, ada juga Martabak Har (martabak telor dengan kuah kari), atau aneka pindang di perahu yang berlabuh di atas Sungai Musi di dekat Pasar 16 Ilir. Kalau cuma sehari atau beberapa jam doang sempat mampir di Palembang, keliling di sekitar daerah Nol Kilometer saja bisa mewakili. Kalau mau main agak jauh sedikit pun sebenarnya bisa dikejar untuk menyusuri Jalan Merdeka yang selurusan dengan Masjid Agung, kita akan menemui Kantor Walikota yang bangunannya juga bersejarah serta mampir di daerah Sekanak yang sekarang semakin berwarna atau bisa juga menyusuri Jalan Riacudu di daerah ulu untuk mampir di Komplek Olahraga Jakabaring. Bisa juga menyusuri Sungai Musi, mampir ke Pulau Kemaro, Pasar Baba Boen Tjit, atau Kampung Al Munawar.

Itulah sedikit cerita Nol Kilometer di tempat tinggal saya sekarang. Apa cerita nol kilometer di kotamu ?

Menilik Destinasi Wisata Baru di Palembang Melalui Pasar Baba Boen Tjiet

 

Sebagai kota tertua di Indonesia, Palembang tentu memiliki banyak sejarah. Kekayaan sejarah ini yang menjadikan Palembang cocok untuk dijadikan salah satu destinasi bagi pecinta sejarah. Selain itu, Palembang juga unggul dalam kekayaan budaya. Maka dari itu, wisata yang selalu ditonjolkan kota Palembang tak lain adalah wisata heritage, seperti Pulau Kemaro, Kampung Kapitan, dan Kampung Al-Munawar. Jika saya ingat-ingat, ketiganya memiliki lokasi yang serupa, di tepian Sungai Musi yang membelah kota Palembang. Bukan tidak mungkin, masih ada wisata heritage lain yang ada di tepian Sungai Musi. Asumsi itu dibenarkan dengan diselenggarakannya acara Pasar Baba Boentjit di kawasan 3-4 Ulu Palembang.

Acara Pasar Baba Boentjit diinisiasi oleh Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Sumsel dengan tujuan mempopulerkan Rumah Baba Boentjit beserta budaya yang ada di sekitarnya. Mengangkat tema “Di Tepian Musi Kita Bersama”, acara ini menjadi ajang untuk masyarakat Palembang untuk bersama-sama mengenal dan merasakan warisan budaya yang ada di tepian Sungai Musi.

Hai, Guys! Pasar Baba Boentjit tidak menerapkan Harga Tiket Masuk alias GRATIS. So, kalo ada yang memberikan tiket masuk dan meminta bayaran, tolak aja. . . Diingat ya, shuttle ketek dan masuk ke area Pasar Baba Boentjit: GRATIS! . . Yang perlu kalian bayar adalah tarif parkir kendaraan, makanan, minuman dan souvenir yang memang dijual di sana. . . Tujuan kami, Generasi Pesona Indonesia Sumatera Selatan (GenPI Sumsel) mengadakan Pasar Baba Boentjit ini, selain untuk membuat destinasi wisata baru, adalah untuk memberdayakan masyarakat sekitar destinasi, membuat masyarakat mencintai pariwisata dan menjadikannya sebagai salah satu sumber mata pencaharian. . . Bayangkan, Guys, sebagai generasi millenial kita telah berperan menggerakkan roda perekonomian. Hidup terasa lebih bermakna. . . Mimin jadi terharu. Yoks, kita haru-haruan dan seru-seruan di Pasar Baba Boentjit. . . #pasarbababoentjit #genpisumsel

A post shared by Pasar Baba Boen Tjit (@pasarbababoentjit) on


Pasar Baba Boentjit, Di Tepian Musi Kita Bersama

Gelaran acara ini berlokasi di Rumah milik Baba Ong Boen Tjit tepatnya di Lorong Saudagar Yucing No. 55 RT 050 RW 002 Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1. Rumah Baba Boentjit memiliki halaman yang luas dan tepat berada di tepi Sungai Musi. Oleh karena itu, walaupun untuk menuju ke lokasi dapat melalui jalur darat, namun lebih disarankan melalui jalur sungai dengan menggunakan perahu kecil / perahu ketek. Saya sendiri memilih memarkirkan kendaraan di sekitar Benteng Kuto Besak (BKB) lalu menggunakan perahu ketek dari Dermaga BKB yang berada tak jauh dari ikon baru kota Palembang, Tugu Belido. Biaya untuk naik perahu ketek berkisar antara 5.000 – 10.000 rupiah, tergantung dari jenis perahu dan jumlah penumpang. Kalau yang ingin menumpang tak banyak dan butuh cepat, bukan tidak mungkin harga lebih mahal.

Menyusuri Sungai Musi dengan perahu ketek dapat menjadi satu aktivitas menarik. Kita dapat melihat kokohnya Jembatan Ampera yang diresmikan sejak tahun 1965 yang juga menjadi ikon kota Palembang. Semakin mendekat ke arah 3 Ulu, kita dapat menyaksikan pembangunan lain di kota Palembang yaitu proyek Jembatan Musi VI yang tentu telah dinantikan untuk segera selesai. Hanya butuh waktu 5 – 10 menit dari Dermaga BKB untuk sampai ke Rumah Baba Boentjit.

Halaman luas yang berada tepat di depan Rumah Baba Boentjit dijadikan sebagai area pasar. Layaknya pasar, terdapat aneka pilihan kuliner yang dijual untuk memanjakan mulut dan perut para pengunjung. Tak perlu khawatir, area makan pun disediakan lengkap dengan banyak tempat duduk dan meja-meja. Kuliner apa yang ditawarkan? Tentu saja kuliner khas Palembang mulai dari pempek, rujak mie, tekwan, laksan, burgo, dadar jiwo, model, kue maksuba, pempek tunu, sarikaya, gandus, otak-otak, es kacang, pindang, dan kemplang. Pempek dan Kemplang Tunu menjadi salah satu sajian yang diunggulkan di lokasi ini karena masyarakat di area Rumah Baba Boentjit ini memang melakukan aktivitas membuat panganan tersebut sehari-hari.

Melihat Tradisi Pengrajin Daun Nipah

Kenyang menikmati sajian justru membuat saya ingin bergerak lebih dan menemukan beberapa pengrajin nipah di pojokan Pasar Baba Boentjit ini. Memiliki nama ilmiah Nypa fruticans Wurmb, nipah adalah tumbuhan yang bisa tumbuh di dekat aliran sungai yang berair agak tawar atau rawa-rawa. Tak heran, tumbuhan nipah banyak tumbuh di area pesisir Sungai Musi. Tumbuhan nipah dapat dimanfaatkan baik buah, daun, tangkai daun, dan pelepah nipah.

Untuk masyarakat Kelurahan 3-4 Ulu, daun nipahlah yang diolah untuk menghasilkan kerajinan dan rokok pucuk. Kerajianan yang dapat dibuat dari daun nipah antara lain tikar, tas, topi, keranjang anyam, bahkan atap atau rumah. Umumnya, para pengrajin akan menganyam daun nipah yang memiliki bentuk mirip janur kelapa tersebut untuk menghasilkan kerajinan. Pantas saja di area gerbang pasar tadi banyak daun nipah yang bertumpuk dan keranjang anyaman warna warni. Kerajinan dari daun nipah cukup tergantung dengan cuaca karena butuh waktu untuk mengeringkan daun nipah untuk selanjutnya diproses menjadi anyaman.

Sejak puluhan tahun silam, sudah lama masyarakat Kelurahan 3-4 Ulu memiliki pekerjaan sebagai pengrajin nipah. Hal ini menjadi sebuah tradisi yang berlangsung turun temurun dan semoga tetap terjaga.

 

Bertamu ke Rumah Baba Ong Boen Tjiet

Baba adalah sebutan untuk laki-laki dewasa Tionghoa – Peranakan. Juga memiliki makna ayah dalam bahasa Mandarin. Baba Ong Boen Tjiet adalah seorang pengusaha keturunan peranakan yang terkenal di Palembang tempo dulu. Tak heran jika rumah Baba Ong Boen Tjiet memiliki halaman yang sangat luas.

Rumah milik Baba Ong Boen Tjit ini diperkirakan telah berusia lebih dari 300 tahun dan kini ditempati oleh keturunan kedelapan dari Baba Ong Boen Tjiet. Memiliki atap berbentuk limas dan berbahan utama kayu, rumah Baba Ong mirip dengan rumah khas Palembang. Perbedaan yang mencolok tentu berada di ornamen yang ada. Ukiran-ukiran dengan tulisan Tiongkok terpasang di beberapa pintu dam sisi rumah. Tak hanya itu, interior di dalam rumah pun sarat akan kekhasan budaya Tiongkok seperti adanya lampion, guci-guci dan area untuk memanjatkan doa.

Para pengunjung dapat beristirahat dan berkumpul bersama di ruangan bagian depan rumah ini yang cukup luas. Jika ingin berfoto pun, pengunjung dapat berfoto baik di dalam maupun di luar rumah untuk mendapatkan hasil foto yang instagrammable. Di bagian belakang rumah terdapat beberapa kamar yang digunakan oleh keturunan Baba Ong Boen Tjiet.

Di sebelah Rumah Baba Ong Boen Tjiet, juga terdapat bangunan rumah yang lebih kecil yang pada acara ini digunakan sebagai galeri hasil karya fotografi. Foto-foto didominasi oleh foto yang memiliki nilai terkait dengan keturunan Tionghoa seperti aktivitas berdoa, pagoda, perayaan Imlek, dan lainnya.

Untuk berkunjung ke Rumah Baba Boen Tjiet menurut saya waktu yang tepat adalah sore hari karena tidak terlalu panas. Setelah puas berkeliling di Rumah Baba Boen Tjiet, kita dapat kembali lagi ke Dermaga BKB dan menikmati matahari yang mulai terbenam saat menaiki perahu ketek di Sungai Musi.


Tiga hari lagi menuju Pasar Baba Boentjit, Guys! . . Pasar Baba Boentjit ditujukan untuk semua kalangan usia dan minat. Mulai dari generasi old hingga generasi now. Mulai dari yang suka selfie, suka masak, suka makan, sampai yang suka nulis, semua minat dapat terpenuhi di sini. Pasar Baba Boentjit menawarkan paket lengkap untuk kalian semua, Guys. . . Acara yang akan dipandu oleh @fikrihkl dan @sisiliasaharatris dan dimeriahkan oleh @dindakirana.s , bintang Film Sahabat Langit dan Sinetron Kepompong ini akan diselenggarakan pada Hari Minggu, 26 November 2016, pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai di 3 – 4 Ulu Palembang. . . Follow dan kepoin terus @pasarbababoentjit dan pastikan kamu ada di Pasar Baba Boentjit ya, Guys. . . Cant wait! . . #pasarbababoentjit #genpisumsel @genpi_id @donkardono @mansyurebo @ir_ariefyahya @kemenpar @pesonaid_travel @genpisumsel

A post shared by Pasar Baba Boen Tjit (@pasarbababoentjit) on

Acara Pasar Baba Boen Tjiet kali ini berlangsung hanya 1 hari, tepatnya pada hari Minggu, 26 November 2017. Mengintip apa yang dituliskan di akun instagram Pasar Baba Boentjit, beragam aktivitas lain juga dilaksanakan seperti games, demo masak, drama, serta ada pula pertunjukan musik akustik dan tari kreasi.

Sebagai destinasi wisata baru di Palembang, bukan tidak mungkin jika Pasar Baba Boen Tjiet akan rutin diadakan setiap tahunnya. Sebagai pengunjung, saya ingin memberi beberapa masukan seperti adanya informasi lebih terkait hal-hal yang ditonjolkan misalnya ada booklet atau informasi yang bisa dibaca pengunjung di tempat misalnya tentang siapa Baba Ong Boen Tjiet atau tentang tanaman nipah dan tradisi kerajinan nipah. Selain itu, mengingat cuaca Palembang yang cukup terik, dalam pandangan saya, mungkin ada baiknya jika spot pengrajin nipah diberi payung besar agar pengrajin lebih nyaman untuk bekerja (tidak terlalu terkena terik matahari).

Rumah Baba Ong Boen Tjiet dan Kerajinan Nipah di Kawasan 3-4 Ulu tidak hanya dapat dijadikan wisata karena memiliki nilai sebagai heritage Palembang. Tetapi juga membawa pesan untuk menghargai dan mempelajari keanekaragaman budaya yang ada di Palembang. Selain itu, pelajaran juga bisa berasal dari arsitektur dan interior rumah Baba Ong Boen Tjiet dan cara membuat daun nipah menjadi lebih bernilai menjadi sebuah kerajinan. Terima kasih kepada tim GenPI Sumsel yang telah menghadirkan Pasar Baba Boen Tjiet, semoga semakin banyak destinasi wisata di Palembang dan sekitarnya.

 

Lomba Blog Reportase Pasar Baba Boen Tjiet – source : Twitter @AboutPalembang

nb : Tulisan ini didaftarkan untuk Lomba Blog (Reportase) Pasar Baba Boentjit.

Lacasa Pizza Palembang

Gleeeep……

*ceritanya ini backsound mati lampu*

Ya, jadi beberapa waktu yang lalu, selepas Magrib, rumah kami kena giliran pemadaman listrik. Haduh, niatnya mau istirahat sepulang kantor, malah kepanasan.

Makanya beli dan pakai genset bu………..

Berhubung anak tipikal yang gerah-an dan kurang suka gelap-gelapan, maka diputuskanlah, bawa anak jalan-jalan tapi yang deket-deket aja, sambil memantau aplikasi cctv kalau-kalau listrik sudah nyala lagi. Pas jalan, ngelewatin tempat pizza yang belum pernah dicoba, yaitu Lacasa Pizza, dan mampirlah kita.

 

Lacasa Pizza, berada di salah satu ruko di Jalan Mayor Ruslan. Gampangnya, ada di seberang restoran Ever Fresh.

Di interiornya, terdapat mural layaknya Menara Pisa Italia yang dikelilingi nama-nama menu seperti Meat Lover, American Classic, Tuna Melt, dll. Oh ya, ternyata di Lacasa Pizza ini, basic pizza tidak hanya yang asin saja sebagai menu, tapi ternyata pizza manis seperti Banana Pizza juga ada. Ada juga pizza calzone yang berbentuk seperti pastel raksasa dan snack lain seperti pasta.

 

Kami memesan Basic Pizza yaitu Blackpapper Beef dengan Extra Mozarella dan snack French Fries. Sementara minum, Virgin Mojito dan Apple Tea menjadi pilihan kami.

Untuk pizzanya sendiri, yang small cukup untuk berdua. Roti pizzanya lembut dan daging serta mozarella yang diberikan cukup banyak. Kalau French Fries, rasanya sih, ga terlalu beda ya.

Overall, untuk Lacasa Pizza ini bisa jadi tempat nongkrong makan pizza yang asyik. Oh ya, Lacasa Pizza juga sekarang dapat dipesan melalui aplikasi Go-Jek di fitur Go-Food loh. Untuk harganya sendiri, masih cukup terjangkau. Kalau makan berdua dengan menu pizza, french fries dan minuman yang agak fancy masih dibawah 150.000.

Kelar makan, kenyang, cek aplikasi CCTV di rumah ternyata sudah nyala, artinya listrik sudah nyala. Saatnya pulang ke rumah 🙂

 

Kalau mau tau info dari Lacasa Pizza, bisa cek Instagram Lacasa Pizza

Untuk alamat Lacasa Pizza, ada di maps berikut

 

Ngedowerin Bibir di Bebek Syahabi

Weekend adalah waktunya …… JAJAN……..

Kali ini nyobain makan bebek di Bebek Goreng Syahabi. Ngeliat tempat ini sih udah lama, cuma emang jarang menjelajah kuliner daerah Bukit Besar, Palembang. Karena kebetulan hari Minggu kemarin ada acara di sekitar PS Mall dan males makan di mall situ karena ngerasa ga ada yang cocok, jadi nyari yang lain dan si Bojo usul nyoba tempat bebek ini.

 

1

Sekilas ngeliat, kok sepi ya? Wah, deg-deg-an kalo sepi 😀 Jadi di awal ga masang ekspektasi tinggi.
Begitu masuk, ternyata ada keluarga lain yang lagi makan. Tempatnya banyakan lesehan, walau ada yang kursi-kursi juga. Interiornya kebanyakan dari bambu dan menyerupai saung-saung gitu.

Dan, mba-mba datang menawarkan menu seperti ini …..

1

1

Kami pesan es jeruk, nasi putih, Bebek Sambal Syahabi, Ayam Cabe Ijo, dan Tempe Goreng Syahabi. Bedanya tempe goreng syahabi dengan tempe doang adalah, potongannya yang ada 4 dan ada kremesnya.

1

1

Minuman datang duluan dan es jeruknya emang seger sih. Pas banget untuk ngademin kepala dari panasnya suhu Palembang kalau siang-siang. Begitu makanan datang, bebek dan ayamnya udah dikasih sambel tuh, dan ternyata ada sambel ijo dan sambel bawang tambahan yang datang juga. Cocok buat yang doyan pedes, bisa makan sambel puas-puas.

1

Rasa bebeknya sendiri enak, bumbunya ngeresep gitu. Ayamnya juga. Kalau sambelnya sih, sesuai sama yang dibilang katanya sambal dower, jadi emang bisa bikin bibir dower (dikit dan bentar). Tempenya enak, apalagi kremesannya.

1

Untuk suasananya sendiri cukup nyaman ya lesehan, dengan angin dari kipas angin di atas. Wastafel ada deket sama saung-saung, makanya mungkin jadi ga dikasih kobokan. Harganya yang sekitar 20-30 ribuan untuk lauk cukup lumayan ya. Makan berdua gak sampe 100 ribu. Area ini kan deket sama area kampus Unsri, jadi bisa lah buat makan siang nunggu jam kuliah. Tapi bisa juga buat makan bareng keluarga. Minusnya, area parkir kecil sih, kalau ga ramai kayak kemarin masih bisa parkir. Ternyata dari ekspektasi yang ga tinggi, kami cukup puas 😀

Lokasi Bebek Syahabi ada di Jalan Jaksa Agung R Soeprapto (Bukit Besar). Ada plang nama yang cukup besar.

Mencoba Facial di Wardah Beauty House Palembang

Assalamu’alaikum….

Untitled

Sebenarnya udah dari lama banget pengen perawatan muka. Ngerasanya udah berat banget penuh dosa *lah* hehehe, semoga beratnya penuh amal ya, kan senyum mulu 🙂 *langsung dikeplak karena boong*. Aslinya ngerasa udah kayak kotor aja dan alibi pingin perawatan diri aja. Semenjak jadi ibu-ibu yang punya anak, urusan ke salon atau spa emang jarang banget. Ke salon baru 2x itu pun baru 1x hair spa setelah anak umur 1 tahun baru berani. Kalau pijetan sih sering manggil tukang pijet. Hehehe.

Akhirnya, aku minta ijin ke Bojo buat facial di Wardah Beauty House (WBH) Palembang. Kenapa milih tempat ini? Karena emang aku agak ga berani kalau ke dokter, khawatir ketergantungan sama obat-obatannya gitu dan sebenarnya dari Februari 2017, sejak WBH Palembang buka, udah ngincer mau ke sini tapi belum sempat.

Untitled

Beberapa hari lalu, akhirnya aku nyobain Facial di Wardah Beauty House Palembang. WBH Palembang ini sebenarnya buka dari  jam 09.00. Untuk facialnya sendiri, lebih baik nge-booking via telepon dulu untuk nentuin jamnya. Karena bisa aja kalau kita nge-dadak dateng ternyata lagi full. Aku daftar jam 09.30 sih, awalnya pengen jam 09.00 biar ga kesiangan, ternyata dibilang baru buka banget :D.

Wardah Beauty House adalah gerai khusus untuk produk Wardah yang memanjakan pelanggan Wardah agar semakin mudah membeli produk Wardah serta mendapatkan perawatan untuk kulit. Diresmikan pada Sabtu, 25 Februari 2017 lalu.

Untitled

Untitled

WBH Palembang ini menempati ruko berlantai 3. Lantai 1 untuk tempat dipajangnya produk Wardah kosmetik sekaligus transaksi pembayaran, Lantai 2 untuk tempat facial dan area santai buat duduk-duduk, dan lantai 3 aku ga nyoba kesana sih. Hahaha.

Di WBH Palembang ini, sering banget ada eventevent seperti mini facial, beauty class, make up class, zumba, dll. Sayangnya, sering banget eventnya di weekdays, giliran weekend ga cocok jadwalnya juga hahaha.

Untitled

Untitled

Di lantai 1 kita bisa melihat aneka produk Wardah sambil menunggu dipanggil untuk treatment. Kita bisa melihat aneka jenis produk Wardah, mulai dari Skin Care, Body Series, dan Make Up. Ada beberapa majalah tersedia untuk menghilangkan rasa bosan menunggu. Masih bosan juga? Foto-foto aja.

Untitled

Untitled

 

Ruang treatment facial ada di lantai 2. Begitu di lantai 2, sudah terlihat ruangan khusus untuk facial dengan peralatan lengkapnya. Kita boleh ganti kostum ke kostum untuk facial. Ada kamar mandi kecil di dekat tangga. Setelah itu, lanjut facial deh. Aku sendiri memilih perawatan Facial White Secret Series dan Totok Wajah. Lama treatment ini +/- 90 menit dengan harga RP 110.000,-. Untuk treatmentnya sendiri menurutku enak banget apalagi totok wajah, berasa banget di muka dan setelah itu aku ngerasa kulit muka makin segar. Setelah facial, kita diminta untuk mengisi data diri untuk history treatment yang pernah kita lakukan di WBH Palembang ini.

Untitled

Selain treatment facial, Wardah Beauty House juga menyediakan layanan face make up, hijab do, totok wajah, dan hair do, dengan kisaran harga mulai dari Rp 35.000, – sampai dengan Rp 150.000,-. Menurutku, harganya cukup terjangkau ya dan sebanding sama treatment yang diberikan. Puas deh.Untitled

Di Wardah Beauty House ini, banyak juga spot-spot yang instagramable. Bisa sambil foto-foto sembari nunggu jadwal treatment.

Lokasi Wardah Beauty House ada di Jalan Basuki Rahmat No.43. Masih satu area dengan Pagi Sore Basuki Rahmat.

Mau tau info terbaru tentang Wardah Beauty House Palembang ? Follow Instagramnya aja @WBHPalembang.

Untitled

Pengen ngerasain perawatan atau treatment lain dari Wardah? Yuk, dateng aja ke Wardah Beauty House Palembang. InsyaAllah makin cantik cetar mempesona paripurna…..