Menjejak Dieng Negeri di Atas Awan, Tempatnya Para Dewa

Sebagai keluarga perantauan, mudik menjadi saat-saat yang menyenangkan karena kita bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Biasanya, kita akan bernostalgia dengan kampung halaman atau mungkin hanya bersantai di rumah saking kangennya sama keluarga. Rasanya ketika mudik malah ke luar rumah untuk bermain rasanya agak gimana gitu, gak enak sama keluarga. Hal itu pun biasanya saya lakukan. Kalau mudik ke Purbalingga, paling main cuma ke Purwokerto yang kurang lebih ditempuh dalam waktu 30 menit.

Biasanya mudik dilakukan di waktu tertentu seperti lebaran atau liburan sekolah. Namun, waktu-waktu tersebut biasanya jadi momen ‘rebutan’ cuti dengan rekan kerja lainnya. Berhubung anak belum sekolah, saya dan suami biasanya mengambil jatah cuti bukan saat liburan sekolah. Sayangnya, hal ini jadi gak sinkron sama kondisi di rumah. Ibu masih mengantar adik ke sekolah, keponakan juga masih sekolah. Akibatnya, di rumah jadi sepi dan malah pengen main-main ke luar rumah.

Sebenarnya di daerah Purbalingga sendiri banyak wisata alam seperti curug, kebun strawberry, atau tempat lainnya. Bisa cek di instagram Wisata Purbalingga ini. Tapi, saya pengen mencoba ke tempat lain. Setelah labil mau ke pantai di Cilacap atau daerah gunung di area Banjarnegara dan Wonosobo, akhirnya kami memutuskan ke Dieng saja karena Bojo pengen makan Mie Ongklok di Wonosobo.

***

Dieng, Negeri di Atas Awan

Dataran Tinggi Dieng, sering dikenal dengan nama Dieng saja, adalah salah satu kawasan yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Kawasan Dieng ini masih merupakan kawasan vulkanik (gunung berapi) aktif. Di pertengahan bulan September lalu, Kawah Sileri, salah satu kawah di Dieng sempat dinyatakan sedang aktif dan memiliki status waspada.

Jarak Purbalingga ke Dieng sekitar 90 km, kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobil yang kami tempuh melalui jalur arah Banjarnegara. Untuk wisatawan lain, menuju Dieng jika dari Jakarta dapat menggunakan kereta melalui Purwokerto lalu dilanjut bis ke arah Wonosobo. Bisa juga bis langsung menuju Wonosobo dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Suguhan alam asri khas pegunungan dengan sawah yang membentang akan tampak saat mendekati Dieng. Jalanan memang berkelak kelok naik, namun tak terlalu membuat pusing atau tak nyaman di kendaraan.

Dataran Tinggi Dieng memiliki ketinggian 2.093 mdpl dan berasal dari bahasa sansekerta yaitu ‘Di’ yang memiliki arti tempat tinggi dan ‘Hyang’ yang memiliki arti kayangan. DiHyang alias Dieng dapat diartikan sebagai tempat tinggi untuk dewa dan dewi tinggal. Begitu memasuki kawasan Dieng, rasanya hawa dingin semakin terasa. Sempat saya mematikan Air Conditioner (AC) di mobil dan membuka jendela untuk menikmati udara segar khas pegunungan.

Kawasan Wisata Dieng memiliki beberapa tempat yang dapat dituju untuk melihat keindahan alam seperti kawah untuk melihat aktivitas vulkanik (Candradimuka, Sibanteng, Siglagah, Sikendang, Sikidang, Sileri, Sinila, dan Timbang), Telaga atau danau (Telaga Warna, Telaga Cebong, Telaga Merdada, Telaga Pengilon, Telaga Dringo, dan Telaga Nila), Gunung di sekitar yang dapat dinaiki sampai puncak ( Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Prau, Gunung Pakuwaja, Gunung Sikunir), serta kawasan candi untuk wisata sejarah (Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Dwarawati, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca). Awalnya ibu saya sempat menyarankan, kalau ingin melihat matahari terbit, lebih baik menginap di kawasan Dieng lalu sekitar jam 3 pagi ke arah Gunung Sikunir. Hanya saja mengingat anak yang masih 1,3 tahun rasanya hal itu terlalu memaksakan. Akhirnya, hanya beberapa area saja yang kami datangi di Dieng ini.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang termasuk daerah yang paling mudah dikunjungi dan dicapai karena medannya tidak terlalu berat. Saat saya datang, rombongan wisatawan asing juga datang dengan menggunakan bis. Sebelum memasuki area Kawah Sikidang ini, kita memasuki pasar yang berisi oleh-oleh khas Dieng seperti krupuk kentang, carica, purwaceng, serta sayuran khas Dieng seperti cabai dan kentang.

Bagi yang memiliki minat terhadap fenomena alam dan sains tentu akan sangat senang berkunjung ke kawah inikarena dapat melihat aktivitas vulkanik secara langsung. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menyusuri kawah dengan jalan kaki atau motor trail. Ada juga beberapa spot untuk foto-foto namun rasanya justru tidak menambah keindahan kawasan ini.

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna berada di satu kawasan yang searah dengan Kawah Sikidang. Komplek candi ini terdiri dari beberapa candi yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Dwarawati, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca yang merupakan candi-candi Hindu.

Secara arsitektur, candi di kawasan ini cenderung sederhana dan ukurannya tak terlalu besar. Di kawasan ini terdapat hamparan halaman yang luas yang bisa kita gunakan untuk bersantai karena dari area pintu masuk kawasan candi sampai area candinya sendiri kita perlu jalan sekitar 5 menit. Tiket masuk kawasan Candi Arjuna dan Kawah Sikidang hanya Rp 15.000,- saja. Cukup murah ya.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat di Dieng

Dieng merupakan daerah kawasan dataran tinggi. Tentunya, suhu dingin akan sangat terasa di daerah ini. Oleh karena itu, akan lebih baik jika membawa jaket untuk mengurangi rasa dingin, apalagi kalau bawa anak kecil, kita akan cenderung lebih memberi proteksi lebih untuk mereka.

Karena kawasan kawah Dieng masih cukup aktif dan mengandung belerang, ada baiknya kita memakai masker. Tenang, di area kawah ada penjual masker kok. Kita bisa membeli dengan harga yang cukup terjangkau.

Dieng memiliki kentang dan sayuran khas. Kentang Dieng berukuran kecil-kecil. Harga per bungkus cukup murah, sekitar 10.000 rupiah. Rasanya tak perlu menawar lagi, apalagi kalau melihat penjualnya adalah nenek-nenek 🙂 Kentang khas Dieng ini berbeda dengan kentang rendang walaupun ukurannya mirip. Saya biasanya mengolah dengan cara mengukus, lalu ditumis dengan butter, bawang, seledri, serta sedikit garam dan lada. Oleh-oleh lain yang bisa dibeli adalah manisan carica (buah khas Dieng), aneka kripik dan krupuk, edelweis, dan banyak lagi.

Di sekitar Dieng terdapat penginapan. Banyak homestay di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Dieng.

Menuju Wonosobo untuk Makan Mie Ongklok

Mie Ongklok menjadi salah satu kuliner wajib ketika berkunjung ke Dieng. Mie Ongklok yang menjadi favorit banyak orang, termasuk saya adalah Mie Ongklok Longkrang di Wonosobo. Sebenarnya Mie Ongklok juga bisa ditemui di sekitar kota Banjarnegara, hanya saja cita rasa kuahnya berbeda. Mie Ongklok Longkrang yang konon sudah ada sejak tahun 1975 ini sudah masuk dalam rekomendasi Trip Advisor juga.

Mie ongklok adalah mie dengan kuah kental yang lezat. Mie kuningnya cukup lembut dan kuahnya pun sangat lezat dan hangat. Cocok untuk udara Wonosobo yang dingin. Kuah kental berwarna coklat tersebut berasal dari tepung tapioka dan diolah dengan campuran sayur kol. Rasanya cenderung manis gurih. Sajian lain yang ditawarkan untuk menemani makan mie ongklok adalah Sate Daging Sapi. Irisan daging sapinya tak terlalu besar dengan kuah pendamping kuah kacang yang sangat halus. Selain itu ada juga tempe kemul alias tempe selimut. Ya, kemul artinya selimut dalam Bahasa Jawa. Tempe kemul memiliki irisan tempe yang tipis, namun tepung yang banyak dan kering dengan taburan potongan daun kucai.

 

Mie Ongklok Longkrang ini dapat dibawa pulang dan jika ingin menikmati di rumah, cara menghangatkannya cukup unik. Yang dihangatkan adalah mienya bukan kuahnya. Mie kuningnya biasa dibungkus dalam plastik, lalu plastiknya kita bolongi dengan garpu dan dimasukkan ke dalam air panas atau air hangat. Setelah itu mie dapat dicampurkan dengan kuah dan kuahnya juga akan menjadi hangat juga lalu siap dinikmati. Tempe kemul juga wajib dibawa pulang untuk teman ngemil sepanjang perjalanan Wonosobo – Purbalingga.

***

Setelah pulang ke Purbalingga, terdapat penyesalan sedikit karena saya tidak membawa pulang kentang Dieng cukup banyak. Semoga jika mudik lagi, saya berkesempatan mampir ke Dieng lagi. Ingin memborong kentang 🙂 Dieng memiliki banyak pesona bahkan ada event tahunan Dieng Culture Festival. Rasanya ingin kembali ke Dieng dan berkeliling ke area wisata yang lebih banyak lagi.

Serunya Wisata Alam dan Budaya di Kabupaten Magelang

Dalam perjalanan menggunakan Batik Air pada bulan Desember ini, saya melihat satu halaman penuh ajakan berwisata di Magelang yang terdapat di dalam In-Flight Magazine Batik Air.

Ingatan saya kembali ke 10 tahun yang lalu, saat saya bersekolah di  Magelang. Secara geografi,  Magelang dikelilingi oleh rangkaian pengunungan mulai dari Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Guning Sumbing, dan Pegunungan Menoreh. Karena pengaruh geografinya, saat sekolah di Magelang dulu, saya merasa suhu di sana sejuk sekali, bahkan sering sekali saya ketiduran di kelas.

Kabupaten Magelang tak hanya memiliki potensi wisata alam saja. Wisata budaya pun dapat dilakukan mengingat Candi Borobudur, yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, juga berada di kawasan ini. Kabupaten Magelang pun dapat menjadi alternatif pilihan liburan keluarga atau teman-teman karena semakin banyak aktivitas wisata yang ditawarkan. Dengan alam yang indah, serta beberapa cagar budaya, berikut ini aktivitas yang dapat dilakukan di Kabupaten Magelang :

Mengarungi Kali Elo dan Kali Progo dengan Berbagai Variasi Jeram

Kabupaten Magelang memiliki wisata alam Kali Elo dan Kali Progo yang berada di dekat Candi Borobudur Magelang. Keduanya memiliki variasi jeram dengan berbagai grade sehingga membuat aktivitas arung jeram ideal untuk dilakukan di sini. Selain itu, karakter aliran dan banjir yang relatif stabil dan aman juga membuat kegiatan arung jeram di Kali Elo mauun Kali Progo bisa dilakukan di semua musim, baik kemarau maupun hujan.

Arung jeram atau rafting adalah kegiatan mengarungi alur sungai yang berjeram / riam dengan menggunakan perahu karet. Di sekitar Kali Elo maupun Kali Progo, sekarang telah banyak provider wisata arung jeram. Harga dan fasilitas layanan yang ditawarkan relatif sama meliputi asuransi, sewa perlengkapan dan peralatan, pengarungan di Sungai elo bersama 1 River Guide tiap boat, transport lokal dari Base Camp ke Start Point, konsumsi, dan sertifikat.

Menikmati pengarungan seru sepanjang kurang lebih 10 km di kedua kali tersebut akan lebih baik jika bersama-sama rombongan keluarga atau teman-teman.

Tubing Santai di Kali Mangu

Kalau berada dalam rombongan yang tak terlalu banyak orang atau mungkin sendiri, kegiatan tubing dapat menjadi pilihan. Tubing adalah kegiatan untuk menikmati aliran air sungai berarus ringan dengan menggunakan media karet ban dalam truk. Beberapa orang, tubing bisa dikatakan mini rafting atau rafting dengan skala kecil.

Kegiatan Tubing dapat dilakukan di Kali Mangu, Desa Senden, Kecamatan Mungkid. Kali Mangu merupakan salah satu dungai yang alirannya berhulu di Gunung Merbabu dengan karakter yang tenang dan aman untuk dilewati. Terdapat beberapa spot jeram dalam pengarungan tubing sepanjang 2-3 km yang dapat memacu adrenalin dan menantang.

Kegiatan Tubing di Kali Mangu dikelola secara mandiri oleh pemuda sekitar. Kita dapat melakukan reservasi terlebih dahulu. Fasilitas yang ditawarkan antara lain baju pelampung / body protector dan helm khusus, ban untuk tubing yang telah dimodifikasi dengan aman, transport lokal dari basecamp ke start point, konsumsi, dan sertifikat. Guide lokal pun tentunya sudah profesional. Selain itu aktivitas tubing juga bisa dilakukan di Kali Gono atau Sungai Blongkeng.

Menikmati Gunung Merapi dengan Fun Off-Road

Ingin menikmati wisata alam dan adrenalin sekaligus namun di darat? Fun-Off Road di area Taman Nasional Gunung Merapi dapat menjadi pilihan. Daerah ini memiliki trek menantang dan pemandangan alam yang memesona.

Terdapat penyedia jasa wisata Fun Offroad di sekitar Muntilan ini. Kita dapat menyewa jeep dan memilih paket. Biasanya perjalanan dimulai dari Munitilan menuju kawasan Srumbung, Taman Nasional Gunung Merapi. Perjalanan selama 15 kilometer ditempuh dengan waktu sekitar 3-4 jam.

Selama perjalan dengan mobil Jeep, kita akan disuguhkan pemandangan perkebunan yang hijau, jalan terjal bekas penambangan pasir, tebing-tebing yang menunjang tinggi bekas eksploitasi alam Merapi, serta sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

Setelah menikmati perjalanan, para wisatawan akan dipersilahkan beristirahat di kawasan Jurang Jero, Srumbung. Wisatawan akan diajak melakukan konservasi alam dengan menanam pohon di Randu Ijo sebagai penutup dari petualangan di sekitar Taman Nasional Gunung Merapi.

Berburu Golden Sunrise di Gunung Andong

Terletak di Girirejo, Kecamatan Nglabak, Kabupaten Magelang, Gunung Andong memiliki ketinggian 1.726 mdpl. Gunung ini terkenal ramah dan memiliki jalur yang tidak berat. Terlebih lagi, pemandangan yang disajikan juga indah. Kita tahu, belakangan gunung juga menjadi salah satu tujuan untuk melakukan petualangan atau mengisi masa liburan. Gunung Andong dapat menjadi pilihan yang tepat karena tidak terlalu tinggi sehingga cocok juga untuk pendaki pemula.

Untuk sampai ke puncak Gunung Andong, pendakian dapat ditempuh melalui Dusun Sawit, Dusun Pendem, atau Dusun Gogik. Namun, yang menjadi favorit adalah Dusun Sawit. Para pendaki dapat bermalam di area Camping Ground yang mampu menampung belasan tenda sambil menunggu datangnya pagi. Di malam hari, dari area ini jelas terlihat kerlap kerlip lampu kota Magelang. Keesokan paginya, sembari menikmati dinginnya gunung, para pendaki juga dapat menunggu sang fajar terbit dan menyemburkan semburat warna keemasan.

Saat mendaki, jangan lupa bahwa keselamatan harus diutamakan ya. Persiapan makanan dan minuman juga penting.

 

Merasakan Jadi Camat, Berkeliling dengan VW di Borobudur

Tak hanya andong/delman dan kereta mini yang menjadi kendaraan untuk menikmati keindahan kawasan Candi Borobudur. Kini sensasi kembali ke masa lampau pun ditawarkan untuk mengitari komplek Candi Borobudur dan berkeliling ke desa-desa wisata sekitarnya dengan menggunakan mobil VW.

VW yang merupakan transportasi kendaraan dinas camat era tahun 70-an menjadi salah satu transportasi baru yang disediakan untuk memanjakan para wisatawan. Rencananya, jumlah VW akan ditambah lagi. Paket tour dengan mobil VW ditawarkan pada pukul 09.00 – 14.00 wib yang dimulai di area parkir Candi Borobudur. Setelah itu, wisatawan dapat berkeliling desa – desa di sekitar Candi Borobudur dan melihat pemandangan indah khas pegunungan, udara segar dari pedesaan, bangunan megah Candi Borobudur yang mempesona sambil merasakan sensasi naik mobil klasik.

Ikut Budaya Bersepeda Keliling Desa

Tak hanya mobil VW tua saja yang ditawarkan untuk berkeliling desa, sepeda tua / onthel pun dapat digunakan untuk tour keliling desa. Bahkan, pengelola tour sepeda onthel menyediakan topi ala kompeni agar sensasi jaman dulu semakin terasa. Dengan dipandu oleh seorang tour guide, para wisatawan akan diajak berkeliling desa-desa wisata di sekitar Candi Pawon dan Candi Borobudur. Jika wisatawan ingin mampir untuk menikmati jajanan pasar, teh hangat manis, atau melihat industri rumahan seperti gerabah, batik, dan kerajinan pensil pun dipersilahkan. Tentunya akan lebih baik membeli aneka produk sebagai oleh-oleh.

Setelah berkeliling desa, wisatawan akan diajak mampir ke Candi Borobudur dan Balai Konservasi Purbakala. Setelah itu, makan siang dan foot spa juga ditawarkan oleh pengelola tour untuk memanjakan wisatawan.

Menjadi Rangga dan Cinta di Gereja Ayam dan Punthuk Setumbu

Sudah menonton film Ada Apa dengan Cinta (AAdC) 2 ? Kalau sudah, tentu ingat ada adegan Rangga mengajak Cinta ke sebuah gereja. Gereja itu adalah Gereja Ayam yang memiliki bentuk fisik yang unik. Gereja Ayam berlokasi di Bukit Rhema, Dusun Gombong, Desa Kembang Limus, Kecamatan Borobudur. Walaupun terlihat terbengkalai, namun kini Gereja Ayam menjadi tempat yang sering digunakan untuk pre-wedding. Sebuah fakta unik dari tempat ini, walaupun sering disebut Gereja Ayam karena bentuknya, namun banyak yang mengatakan bahwa bentuk bangunan ini lebih menyerupai burung merapi dengan mahkota di kepalanya.

Rangga dan Cinta juga sempat bernostalgia di Punthuk Setumbu yang berlokasi di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Tempat ini berupa bukit yang biasa didatangi untuk menikmati sunrise Borobudur. Waktu yang tepat untuk ke tempat ini adalah sekitar waktu subuh karena bisa menikmati pemandangan dengan lautan kabut putih yang menyeliuti Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tak perlu menunggu lama, sembari bersantai kita akan disuguhkan terbitnya matahari dengan semburat keemasan.

Foto Selfie di Hutan Pinus

Wisata alam di Magelang tak hanya gunung dan sungai saja. Magelang juga memiliki hutan pinus di daerah Kaponan, Kecamatan Pakis. Di Top Selfie Pinusan Kragilan Magelang ini, kita dapat berfoto selfie dengan latar belakang hutan pinus yang memiliki pemandangan epic.

Mengenal Sejarah Melalui Candi

View this post on Instagram

@Regranned from @jepret.magelang – . . We are made by history.' . . Jepreter: @wisyawsanggra_ Lokasi: Candi Mendut (Mungkid, Magelang) . . Candi Mendut adalah sebuah candi bercorak Buddha. Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut. Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Tinggi bangunan Candi Mendut berkisar 26,4 meter. (Sumber: wikipedia.org) . . @jantiendut @putripramudya9 @hastin.15 @_kiky.yunia @malitanurul . . @wisata_magelang @borobudurnews . . #candimendut #candibuddha #warisanbudayaindonesia #wisatamagelang #selfiewisata #borobudurnews #wargamagelang #kabupatenmagelangpenuhkenangan – #regrann

A post shared by Wisata Magelang (@wisata_magelang) on

Magelang terkenal dengan Candi Borobudurnya. Padahal tak hanya Candi Borobudur yang berdiri di kota ini. Beberapa candi lain seperti Candi Pawon / Brajanalan, Candi Mendut, Candi Ngawen, Candi Canggal, Candi Selogriyo, Candi Gunung Sari, Candi Lumbung, Candi Pendem, dan Candi Asu Sengi yang juga menjadi cagar budaya di kawasan Kabupaten Magelang. Masing-masing candi memiliki karakteristik tersendiri sehingga bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya Hindu dan Buddha di masa lalu akan sangat baik jika berkeliling ke seluruh candi di daerah ini.

Menjadi Putri Raja di Pemandian Air Hangat Candi Umbul

Berada di desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Candi Umbul adalah salah satu situs purbakala yang memiliki keunikan berupa pemandian air hangat dengan nuasa candi. Air di pemandian ini berasal dari sumber mata air asli yang memiliki unsur panas dan mengandung belerang.

Biasanya para wisatawan akan ketagihan untuk datang dan berendam kembali di Candi Umbul. Air di Candi Umbul dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit karena banyak penelitian yang menyatakan air hangat yang mengandung belerang dapat menyembuhkan penyakit kulit.

Menikmati Sensasi Air Terjun

Kabupaten Magelang memiliki beberapa air terjun seperti Air Terjun Kedung Kayang yang berasal dari Gunung Merbabu, Air Terjun Sekar Langit, Grenjengan Kembar, dan Curug Silawe.

View this post on Instagram

@Regranned from @latejourney – Air Terjun Grenjengan Kembar sangat berpotensi untuk menjadi destinasi favorit wisata di Magelang. Air Terjunnya yang memiliki ciri khas bercabang dua dan memiliki 2 Air terjun sekaligus. Udaranya yang sangat sejuk menambah daya tariknya. Namun sekarang pengelolaannya sepertinya terbengkalai, padahal sudah bagus fasilitas dan aksesnya, kurang terawat saja. Semoga nantinya pengelolaannya lebih baik lagi. . Loc: Air Terjun Grenjengan Kembar, Pakis, Magelang . @wisata_magelang @borobudurnews #WisataMagelang #BorobudurNews #Selfiewisata #KabupatenMagelangPenuhKenangan Yuk ikutan juga @jeontaecha @fikinaff @d.e.v.i.a @luthfiyah_hanim @irulhidayat5_ – #regrann

A post shared by Wisata Magelang (@wisata_magelang) on

Masing-masing memiliki keunikan sendiri. Kesamaan dari ketiganya adalah air yang jernih dan lingkungan yang asri. Sensasi yang dirasakan saat berkunjung tentu kesegaran dan kesejukan saat percikan air mengenai tubuh kita.

 

***

Nah, sudah jelas kan mengapa Kabupaten Magelang dapat dijadikan salah satu tujuan wisata baru. Dengan berbagai aktivitas yang dapat dilakukan, Kabupaten Magelang menjanjikan sensasi mulai dari wisata budaya, alam, bahkan wisata kekinian seperti mengulang adegan film AAdC 2. Jadi, kapan akan berkunjung ke Magelang ?

Untuk informasi lebih lanjut tentang pariwisata Kabupaten Magelang, dapat diakses melalui website , twitter , facebook , dan instagram