Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 2]

Selama libur 3 hari yang bertepatan dengan libur Natal yang lalu, saya sekeluarga main ke Pulau Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Sekilas tentang Pulau Bangka dan cerita liburan hari pertama bisa di baca di  Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 1]  dan ini adalah lanjutan cerita di hari kedua dan ketiga….

Day 2 (24 Desember 2017)

Hujan membasahi kota Pangkal Pinang pagi itu. Rencana ingin berenang pagi harus kandas. Rencana ingin ke Alun-Alun Merdeka untuk olah raga sepertinya juga pupus. Alhasil, malah malas-malasan di Menumbing Heritage Hotel sampai jam 9 pagi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Karena ingin ke pantai lagi, akhirnya kita menuju Sungailiat, tepatnya menuju Pantai Tongaci karena ada penangkaran penyu di sini. Sampai di Pantai Tongaci masih sedikit gerimis dan biaya masuknya Rp 5.000,-. Penangkaran penyu Tukik Babel memiliki kolam yang digunakan untuk penangkaran penyu, ada pula yang bentuknya keramba di dekat pantai. Kita bisa melihat langsung penyu-penyu yang berenang. Pada saat tertentu akan ada pelepasan penyu ke laut. Di sini terdapat 2 jenis penyu yaitu penyu hijau dan penyu sisik. Untuk informasi lengkap tentang Tukik Babel bisa mengunjungi Facebook Tukik Babel.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dekat dengan penangkaran penyu Tukik Babel, terdapat sebuah kompleks wisata De Locomotief. De Locomotief memiliki fasilitas berupa restaurant seafood, combi tiam (warung kopi dan minuman dengan tampilan vw combi), perpustakaan lengkap dengan area untuk anak bermain, art shop, art gallery, area pijat refleksi, museum, patung terracota dan binatang buatan, dan pantai tentunya. Untuk museum, anak-anak dilarang masuk. Jadi saya ga masuk karena ya ga enak aja cuma salah satu yang masuk anak ditinggal *ceritanya baik*. Sementara itu di art shop tidak boleh mengabadikan gambar sama sekali. Di area perpustakaan, ada tempat duduk dan bisa bersantai sejenak sementara anak main balok-balokan. Koleksi bukunya cukup lengkap dan beragam. De Locomotief penuh dengan hiasan payung jadul yang menggantung. Cukup instagramable lah bagi yang pandai mengambil foto atau paling tidak banyak spot untuk berfoto. Menutup kelaparan, kami memesan roti panggang khas Bangka dan kopi di Combi Tiam sebagai bekal menuju tujuan lainnya. Oh iya, di sekitar De’Locomotief ini tersedia beberapa pilihan watersport mulai dari Jetski, Banana Boat, sampai Snorkeling dan Diving.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Daerah Belinyu menjadi tujuan kami berikutnya. Sebuah daerah yang masih masuk Kabupaten Bangka dan berada di bagain utara pulau. Konon, banyak pantai di daerah ini, tapi yang paling utara adalah Pantai Penyusuk. Kami pun menuju ke sana. Butuh sekitar 1.5 jam lebih dari Sungailiat menuju Pantai Penyusuk. Harga tiket masuknya Rp 3.000,-. Ombak di Pantai Penyusuk terlalu besar. Konturnya masih sama, dipenuhi oleh banyak batu besar. Di sekitar pantai terdapat warung-warung yang menjual otak-otak atau mie instan. Hanya saja agak sedikit kurang terawat rasanya. Sempat menyimpulkan, kalau harga tiket masuk Rp 3.000,- jangan punya ekspektasi tinggi terhadap lingkungan pantai. Kalau harga tiket Rp 5.000,- bisa dapat pantai yang ada resto atau paling tidak lebih terjaga.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sebenarnya kami sudah kelaparan, tapi cari makan di sekitar Belinyu berakhir zonk karena entah kurang banyak referensi dan sinyal juga agag igig ga jelas. Akhirnya secepat mungkin kembali ke Pangkal Pinang karena Bojo juga merasa lebih baik makan di Pangkal Pinang yang lebih banyak pilihan. Akhirnya lewat Sungailiat pun sekedar lewat padahal ada restoran seafood yang menggoda karena ramai. Sempat mampir di daerah Merawang karena katanya ada Danau Kaolin dan berakhir zonk juga karena nyasar. Akhirnya kami sampai di depan BES Cinema, sebuah bioskop di Bangka yang di depannya ada area foodcourt. Penasaran dengan Tahu Kok, kami memesan Tahu Kok Yen Yen untuk mengganjal perut. Tahu kok seperti layaknya bakso namun penuh dengan bakso ikan dengan kaldu gurih. Kuahnya sedap dan sudah halal. Kenapa namanya Tahu Kok, mungkin karena selain bakso ikan kukus dan goreng, ada juga tahu dengan isian bakso ikan yang juga dikukus dan digoreng yang berada dalam semangkok masakan ini. Beruntungnya mampir di foodcourt, karena saking kelaparannya, kita bisa nambah lagi menu lain seperti nasi bakar.

 

 

 

Lelah menyetir membuat Bojo ingin leyeh-leyeh di hotel saja. Eh, tapi anak minta berenang. Akhirnya berenang juga di hotel. Malamnya kami mencoba restaurant seafood lain yaitu Fresh Seafood Aju. Restoran ini terkenal dengan menu Kepiting Asap dan Terong Telor Asin. Rasanya…..Mantcaaappp bana. Apalagi kalau minumnya Es Kiamboy. Asem-asem seger lah. Cuma, setelah itu pas bayar rasanya hmmmm…. berdua sekitar Rp 225.000,-. Cukup lumayan sih, mengingat menunya ad a kepitingnya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Keinginan mampir di Alun-Alun Merdeka batal karena penuh dan cukup susah dapat parkir. Akhirnya berburu oleh-oleh saja. Oleh-oleh wajib dari Bangka adalah Getas (seperti krupuk bulat yang teksturnya agak keras dan ikannya terasa), Kripik Telur Cumi, Rusip (fermentasi ikan), sirup jeruk kalamansi / jeruk kunci, , dan terasi tentunya. Sembari mengelilingi kota lagi, kami melihat jejeran pedagang buah durian di sepanjang jalan seberang kantor PT Timah. Tergoda untuk mencoba Durian Bangka, kami pun mampir. Sebuah pengalaman berbeda kami dapatkan saat jajan durian di Pangkal Pinang, penjualnya baik dan detail bertanya apa yang dimau.

Pedagang Durian (PD) : Silahkan kak, mau yang mana ?
 Bojo (B) : Kalo yang ini gimana kak? *menunjuk durian yang diletakkan di bawah bertuliskan 100ribu / 3 durian*
 PD : Itu, biasa aja kak, manis pahit. Kakak mau yang manis sedeng atau manis pahit? Kalau manis sedeng, kami kasih durian yang dagingnya kuning atau durian tembaga. Kalau yang manis pahit yang di bawah itulah, dagingnya putih.
 B : Yang manis biasa aja, jangan yang ada pahitnya.
 PD : Oke, kak, yang ini aja *dia ambil yang dipajang di atas* 40.000 satunya. 
 B : Yo, ambil dua ya kak
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya merasakan penyampaian informasi tentang per-durian-an ini penting. Biasanya kalau makan di Pasar Kuto Palembang cuma bilang, “yang manis ya kak, kalo gak puas, kami tukar”. Buat pelajaran aja, besok-besok requestnya “Yang manis, dagingnya kuning”. Selagi saya makan, ada ibu-ibu lain mau beli dan request detail “Mau duren manis, yang banyak dagingnya” dan pedagangnya menawarkan durian tembaga. Beberapa teman yang memiliki kerabat dari Bangka pernah menyampaikan kalau Durian Bangka lebih enak daripada Durian Palembang. Walau sama-sama lokalan (bukan Durian Bangkok), menurut saya itu benar adanya.

Hari kedua liburan di Bangka kesimpulannya adalah : Masih puas main di pantai dan makan enak.

Day 3 (25 Desember 2017)

Pesawat kami sekitar pukul 13.55 yang berarti harus cek in sekitar pukul 12.00. Cocok dengan waktu cek out. Kami memutuskan keliling kota Pangkal Pinang saja. Kami kembali mengelilingi kota dan mampir ke Museum Timah. Sebagai daerah penghasil timah di Indonesia dan lokasi di mana PT Timah berada, maka wajar rasanya kalau di kota ini berdiri Museum Timah. Di museum ini kita bisa belajar tentang sejarah tentang timah di Indonesia yang dimulai sejak penambangan zaman Belanda serta perkembangan teknologi saat ini. Biaya masuknya gratis juga.

Dari Museum Timah, saya berburu oleh-oleh lain sekalian mengganjal cacing di perut yang berteriak lagi. Otak-otak khas Bangka. Ada dua tempat yang terkenal yaitu Otak-Otak Ase dan Amui, namun yang kebetulan kami temui adalah Otak-Otak Amui. Harga satuan otak-otak bakar adalah Rp 2.500,-. Dengan dua sambal yang diberikan sambal yang agak asam (taoco) dan sambal yang agak berbau terasi. Otak-otak Bangka menurut saya beda dengan otak-otak Palembang, beda pula dengan Batam yang biasanya kecil-kecil, beda pula dengan otak-otak Bintan yang daun pembungkusnya beda. Otak-otak Bangka lebih harum. Menurut nenek (pengasuh Mahira yang jago masak), karna banyak santannya jadinya wangi. Penasaran deh, kapan-kapan nyoba bikin lah. Kalau khilaf.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Setelah itu, kami istirahat sebentar di hotel, lalu mengurus check out dan bergegas ke Bandara Depati Amir. Walaupun terbilang kecil, boarding gate hanya ada 2, tapi ruang tunggunya cukup memadai. Di area luar ada Dum-Dum Thai Tea, restaurant Kopi Tung Tau (selain kopi dan roti panggang ada menu lain juga), CFC Indonesia, dan Otak-Otak Asui. Bahkan ada Zoomoov, itu mainan semacam hewan-hewanan buat anak keliling bandara. Di ruang tunggu atas, ternyata makanan juga ada mulai dari restoran padang, Maxx Coffee, Bakso Lapangan Tembak, dan semacam mini market kecil. Ada playground untuk anak yang bersebelahan dengan Zoomoov.id tapi zoomoov untuk mewarnai gitu. Ada televisi yang menampilkan informasi tentang cuaca. Ada juga ruang untuk menyusui yang nyaman. Daaaaaaaaaaaan akhirnya Nam Air yang kami tunggu untuk membawa kami kembali ke Palembang mulai memanggil. Perjalanan ke Palembang lancar, sampai rumah juga lancar, lanjut cuci-cuci dan meneparkan diri karena besok langsung kerja.

Hasil dari 3 hari 2 malam di Bangka adalah : Ternyata kurang waktunya untuk eksplor sana sini. Pulau Bangka terdiri dari 5 kabupaten/kota, namun kami hanya terfokus di bagian Pangkal Pinang dan Kabupaten Bangka (Sungailiat). Kalau ada kesempatan naik mobil lalu menyebrang dengan Ferry, di Bangka Barat (Muntok) ada rumah yang pernah menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno, di Kabupaten Bangka Tengah juga banyak pantai dan kami belum sempat ke Danau Kaolin Koba yang ternyata ada di daerah ini, Pantai di Belinyu juga banyak yang belum kami lihat, wisata lain seperti kuil belum juga. Urusan kuliner, kami baru mencoba Mie Koba dan Roti Panggang khas Bangka aja, padahal pengen nyoba Lempah (seperti pindang tapi khas Bangka), belum nyoba lalapan pakai rusip, belum nyoba Martabak Bangka yang dijual di Bangka. Intinya sih, pengen ngulang lagi ke Bangka 🙂 Semoga ada kesempatan dan rejeki lagi.

Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 1]

Pulau Bangka merupakan bagian dari Provinsi Bangka Belitung, merupakan destinasi wisata yang umum didatangi oleh orang Palembang. Itu menurut saya sendiri ya. Beberapa hal yang mendasari asumsi saya adalah dulu Bangka Belitung merupakan bagian dari provinsi Sumatera Selatan, jadi ada kekerabatan gitu lah. Ketika awal saya pindah ke Palembang tahun 2011, Pulau Bangka jadi obyek wisata pantai yang paling mudah dijangkau karena ada kapal langsung dari Pelabuhan Boom Baru dan pesawat langsung ke Pangkal Pinang. Sekarang, ketika banyak destinasi penerbangan lain dari dan ke Palembang, intensitas pesawat ke Pulau Bangka juga meningkat.

Beberapa kali saya mendapatkan ajakan ke Pulau Bangka. Pertama di tahun 2012 bersama teman-teman se-perantau-an di Palembang. Satu rekrutmen bareng dari Bandung dan beberapa diantaranya mengontrak bersama. Salah satu teman kontrakan ini berasal dari Sungai Liat. Tapi ada juga ajakan teman kuliah untuk ke Singapore. Kangen teman kuliah dan pengen ngecap paspor lagi, akhirnya saya ke Singapore. Di tahun 2014, ajakan datang lagi dari teman-teman se-unit kerja. Eh, kok barengan sama rekrutmen yang lagi diikutin. Yaudah batal deh dan gagal lolos pula. Ah, elah.

Di bulan April 2017, saya dapat ajakan main ke Pulau Belitung. Secara nama memang Pulau Belitung rasanya lebih terkenal dari Pulau Bangka, terutama karena julukan Negeri Laskar Pelangi. Terus, entah kenapa saya ngerasa, ih, kok Bangka yang lebih deket belum pernah didatengin, malah Belitung udah pernah. Eh, pas pula sama muncul iklan hotel Menumbing Heritage. Penasaran nyoba nginep di sana dan akhirnya booking dapat tanggal 23-25 Desember 2017. Oke, hotel udah baru booking tiket pesawat.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dari Palembang ke Pulau Bangka sebenarnya bisa ditempuh dari 3 cara, naik pesawat langsung dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II ke kota Pangkal Pinang, (40 menit), naik kapal cepat dari Pelabuhan Boom Baru ke Muntok (+/-3 jam), atau naik ferry dari Pelabuhan Tanjung Api-Api ke Muntok. Secara harga, memang pesawat lebih mahal sih dari kapal cepat, tapi kadang bisa sama juga kalau pesan jauh-jauh hari. Kalau bawa mobil sendiri dan naik ferry, ada biaya untuk mobil sendiri dan itu juga lumayan, seharga satu tiket pesawat. Secara waktu, dari Palembang ke Tanjung Api-Api butuh waktu 2 jam lebih, dari Muntok ke Pangkal Pinang butuh waktu sekitar 3 jam. Alasan libur yang sebentar, anak masih kecil (khawatir cranky di perjalanan laut), bikin kami memilih naik pesawat aja. Penerbangan langsung dari Palembang ke Pangkal Pinang dioperasikan oleh beberapa maskapai mulai Wings Air, Sriwijaya Air, Nam Air, dan Garuda Indonesia dengan kisaran harga mulai 250.000 (kalau jauh-jauh hari) sampai 700.000-an (kalau mepet-mepet) sekali jalan.

Sejak berkeluarga, apalagi punya anak sendiri, tipe liburan saya sekarang santai aja. Gak ngoyo harus ke sana ke sini. Apalagi sekarang sudah banyak aplikasi pendukung liburan seperti Trip Advisor dan apa-apa bisa dicari di Google. Jadi, saya ga bikin itenary apapun. Hehehe. Berikut cerita perjalanan 3 hari 2 malam di Pulau Bangka. Akan dibagi jadi 2 bagian karena panjang 🙂

Day – 1 (23 Desember 2017)

Gerimis sisa hujan deras mulai menyapa kota Palembang pada pagi hari itu. Sejak semalam, saya mencoba memesan taxi Blue Bird dengan menu advance booking karena flight jam 07.55 artinya saya dari rumah harus pergi jam 06.15 paling lama. Dulu, awal Blue Bird masuk Palembang, nyari taxi ke bandara untuk flight pagi susah banget, kalau nelpon mendadak sering ga dapat, kalau nelpon malam sebelumnya malah nawarin jemput pagi banget biasanya. Dengan fitur advance booking, kita bisa pastikan bookingan kita telah tercatat dan benar saja, sekitar jam 06.00 driver Blue Bird sudah menghubungi saya.

Boleh dibaca : Mau Keliling Palembang, Pake Blue Bird Aja


New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Proses check in termasuk cepat. Sayangnya ternyata pesawat didelay sampai batas waktu yang belum diketahui. Beruntungnya karena delay saya jadi bisa mencoba Nursing Room yang ada di Bandara SMB II ini, foto-foto sama maskot Asian Games 2018, foto di Rumah Limas, dan jajan Chatime. Untuk area playground anak di ruang tunggu bandara masih sedikit kotor, tapi sudah lebih rapi dibanding bulan September lalu. Akhirnya panggilan boarding datang dan penerbangan pun mulus selama 40 menit. Rasanya baru naik, duduk, dikasih snack dan minum, eh udah dikasih tau siap mendarat aja.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sampai di Bandara Depati Amir Pangkal Pinang, kira-kira sekitar pukul 10.00. Kebetulan saya menyewa mobil dari Bangka Tour (0812 8298 8898 / 0852 6999 9927) dan lokasi pengantaran mobil di bandara. Harga sewa mobil per hari tanpa supir adalah Rp 350.000,-. Sambil menunggu transaksi selesai, saya sempat foto-foto dulu di sekitar Bandara Depati Amir.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Dari bandara, tujuan pertama kami adalah mengisi tenaga di Mie Koba Iskandar. Mie Koba merupakan mie khas Bangka yang terdiri dari mie kuning dan tauge yang disiram dengan kuah ikan. Saat datang di pagi hari, warung mie ini tidak terlalu ramai. Mie kuningnya terasa kenyal dan kuah ikannya sedap sekali. Topping bawang goreng juga semakin menggugah aroma. Oh ya, walaupun kuahnya ikan, saya sama sekali tak merasakan bau amis, malah ada rasa manis-manis gurih gitu deh. Sebagai teman makan mie ini, di meja disediakan telur rebus sementara itu untuk menghilangkan seret setelah makan mie kita bisa minum air mineral kemasan gelas yang tersedia di meja atau teh botol yang bisa diambil dari cooler box. Sebuah keunikan terjadi saat membayar.

Bojo (B) : Mba, mau bayar, mie nya dua..
 Mba-Mba Mie Koba (M) : Empat puluh ribu..
 B : Tambah telor dua
 M : Empat puluh ribu
 B : Teh botolnya juga dua
 M : Empat puluh ribu

Bojo pun bingung harga telor dan teh botol aslinya berapa di sini. Jadi anggap saja begini, makan di Mie Koba Iskandar ini seporsi Rp 20.000,-. Daripada nyesel makan kurang kenyang, mending tambah telor. Abis makan biasa seret dan haus kan ya, jadi mending sekalian pesan minum aja.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Selepas makan Mie Koba, kami meluncur ke Bangka Botanical Garden (BBG), yang merupakan kawasan agrowisata di kota Pangkal Pinang. Kawasan BBG terdiri dari beberapa bagian antara lain hutan pinus, perkebunan, peternakan sapi, saung untuk makan di area BBG cafe, restaurant, dan warung susu sapi segar. Sebenarnya di area peternakan sapi, pengunjung bisa melihat proses pemerahan sapi langsung. Namun, menurut informasi pemerahan dilakukan pukul 08.00 pagi atau 14.00 siang. Kalau tidak bisa melihat proses pemerahan susu sapi, kita bisa memberi makan sapi-sapi secara langsung. Sebuah pengalaman yang juga akan disenangi oleh anak-anak. Di area perkebunan, kita bisa memanen langsung hasil kebun dan membelinya nanti. Kawasan BBG ini kerap dijadikan area untuk pre-wedding juga. Sehingga saya pun tak lupa berfoto-foto. Terakhir, jangan lupa menikmati susu segar yang warungnya berada persis di depan pintu masuk/keluar BBG. Bisa buat bekal perjalanan. Biaya masuk BBG masih gratis, namun saat memberi makan sapi bisa memberikan uang ke kotak untuk mendukung biaya perawatan. Makan atau jajan susu segar juga bisa membantu mendukung area wisata ini.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Tempat wisata yang bisa dikunjungi dekat dengan BBG adalah Pantai Pasir Padi. Hanya sekitar 5 menit dari BBG, kita akan masuk ke area Kawasan Pantai Pasir Padi. Biaya masuk sekitar Rp 4.000,-. Pantai Pasir Padi termasuk pantai dengan garis pantai yang panjang. Areanya sudah dilengkapi WC Umum, warung di sekitar, Restaurant Seafood, bahkan ada juga resort yang sedang dibangun. Sayangnya, di akhir bulan Desember, laut sedang pasang dan ombak pun cukup kencang sehingga tak tampak banyak orang yang bermain di pantai ini.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Tak terlalu lama di Pantai Pasir Padi, kami mencoba mencari hal menarik yang ada di dekat area ini. Ternyata ada Jembatan Emas. Jembatan Emas ini sangat jelas terlihat saat kita akan mendarat di Pulau Bangka. Merupakan sebuah ikon wisata baru di Pulau Bangka yang merupakan jembatan dengan sistem buka tutup. Saat datang kesana, jembatan ini sedang terbuka. Banyak juga yang datang untuk foto-foto dengan latar belakang jembatan ini.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Tiba saatnya cacing di perut meronta minta asupan makanan. Namanya juga trip labil, kami kembali ke area kota Pangkal Pinang dan berakhir makan di Restauran Mr. Adox setelah sholat dhuhur terlebih dahulu. Restoran Seafood Mr. Adox ini berada di simpang jalan. Sangat mudah ditemui dari arah bandara menuju pusat kota. Restoran ini cukup besar dan termasuk populer di Pangkal Pinang. Di salah satu sisi terpampang foto-foto orang penting yang pernah datang ke sini. Halaman resto terbilang cukup untuk menampung banyak mobil. Pelayanan juga sigap. Kalau dirasa-rasa sih, secara harga dan namanya juga restaurant ya, jadi memang sedikit mahal dan porsinya pun tak terlalu besar. Tapi secara rasa emang bikin puas sih. Udang plus petenya, mantapppppp! Ya, setelah itu sih sempat kaget saat tagihan sekitar Rp 200.000, untuk berdua.

 

Kenyang makan, kayaknya perlu aktivitas lain nih. Check in di hotel belum bisa. Akhirnya kami menuju Sungailiat, Kabupaten Bangka. Di Sungailiat, pilihan pantai pun semakin banyak. Salah satu yang paling terkenal adalah Pantai Parai Tenggiri. Sudah mengikuti petunjuk jalan, tapi kami ragu kenapa diarahkan ke resort. Ternyata memang Pantai Parai Tengiri ini bagian dari resort Pantai Parai Beach & Resort dan dikelola secara khusus. Untuk masuk area resort sih boleh saja, ada restaurant juga. Tetapi, kalau mau masuk area pantai harus membayar lagi Rp 25.000,-. Sebelumnya kami sempat menyasar sebentar ke Pantai Matras dan bermain di sana sebentar saja. Ombak cukup besar, tetapi tak menghalangi foto-foto. Di area Pantai Matras sedang ada pembangunan juga. Warung dan tempat bilas dapat ditemui di sekitaran pantai ini. Masuk ke kawasan Pantai Matras dikenakan biaya Rp 3.000,-.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dari Pantai Parai, kami berniat kembali ke Pangkal Pinang lagi. Eh, kok ada motor masuk sebuah jalan kecil. Bojo curiga, dan bilang, biasanya kalau orang jalan naik motor nemu pantai bagus tuh. Yasudah, kami ikuti dan menemukan fakta, sebenarnya pantai di Pulau Bangka memiliki kontur mirip dengan pantai di Pulau Belitung yang didominasi batuan besar dan tinggi. Tapi sepertinya memang secara pengelolaan lebih baik di Pulau Belitung.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Menuju Pangkalpinang, kami melalui jalur yang berbeda saat menuju Pantai Parai. Memilih Jalan Laut di Google Maps, membawa kami menemukan Pantai Batu Bedaun. Pantai ini sepertinya sedang dalam pengembangan untuk dibangun resort. Kami menemukan sebuah restaurant yang cukup besar dengan area permainan di sekitarnya. Karena baru saja makan seafood, kami pesan yang normal saja : Nasi Goreng Seafood dan Mie Goreng Seafood. Enaknya makan di restauran pantai dengan area permainan yang cukup, waktu menunggu jadi tak berasa karena anak bisa bermain ayunan atau bermain pasir. Secara rasa sih, enak sayang terlalu banyak minyak di makanannya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Selesai makan, Mahira mulai ngantuk dan waktu juga sudah menjelang sore. Akhirnya kali ini beneran kembali ke Pangkal Pinang tanpa mampir-mampir lagi. Saat menuju Hotel Menumbing Heritage, kami melewati Alun-Alun Merdeka yang sudah ramai sore itu. Mau mampir tapi badan lengket. Akhirnya diputuskan cek in di hotel dulu dan besok pagi saja sekalian olah raga.

 

Baca juga : [Review] Menumbing Heritage Hotel, Penginapan dengan Bangunan Bersejarah di Pangkal Pinang

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Malamnya kami mencoba Warung Ikan Bakar Bogi-Bogi. Sebuah warung kecil yang sempat saya baca sekilas saat menuju hotel sore hari. Walaupun warungnya kecil, tapi ternyata di malam hari cukup ramai. Pengunjung bisa memilih ikan yang dimau, beragam ikan laut seperti kakap merah . Setelah itu bisa dipilihkan juga mau dimasak apa. Kami request dibakar saja. Sebagai pendamping, ditawarkan pula kangkung dengan pilihan mau ditumis balacan (terasi) atau bawang putih. Ikan bakar pun datang bersama dua jenis sambal, salah satunya adalah sambal dabu-dabu. Rasanya, pas asem-asem pedes gitu. Harganya juga ramah di kantong. Makan berdua dengan dua ikan plus minum sekitar Rp 100.000,-. Kenyang, murah, enak. Tapi berhubung ramai ya kudu sabar dikit.

Kelar makan, kami semua kenyang dan berakhir keliling kota aja malam-malam lanjut ke hotel terus tidur pulas………

Jangan lupa baca lanjutannya 😀 di Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 2]

 

[Review] Menumbing Heritage Hotel, Penginapan dengan Bangunan Bersejarah di Pangkal Pinang

Di tahun 2017, beberapa kali saya melihat sponsored post di Instagram tentang adanya promosi sebuah hotel di Pangkal Pinang. Saya pun beberapa kali melirik akun instagram Menumbing Heritage Hotel ini.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Melihat desain hotel yang klasik sangat menarik perhatian saya. Mumpung libur long weekend banyak di bulan Desember 2017, saya coba membooking kamar dan dapatlah kita di tanggal 23 – 25 Desember 2017. Baru setelah itu saya merencanakan libur ke Bangka. Hehehe.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Menumbing Heritage Hotel adalah sebuah hotel yang bisa dibilang baru di Pangkal Pinang. Berlokasi di Jalan Gereja, Pangkal Pinang, hotel ini berada di pusat kota secara persisnya ada di dekat sebuah pasar. Jika dihitung jaraknya dari Bandara Depati Amir, berkisar 9km dan dapat ditempuh sekitar 20 menit. Ketika pertama kali datang ke hotel ini, saya merasakan masuk ke dalam sebuah benteng. Menumbing Heritage Hotel seperti sebuah bangunan yang berbeda dibandingkan bangunan lain di sekitar dan terlihat tertutup bagian dalamnya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Desain bangunan tua yang diperbaharui sangat terasa ketika memasuki halaman Menumbing Heritage Hotel. Jendela dan pintu besar juga menambah kesan bangunan tua. Sentuhan modern terasaa melalui warna putih terang mendominasi bangunan sementara lantainya berkeramik warna hitam putih.  Jika membaca sejarah yang tertulis di salah satu bagian dinding bangunan hotel ini, Menumbing Heritage dulunya adalah markas militer sebelum dijadikan hotel pada tahun 1980 oleh Bapak Ishak Boentaran. Pada tahun 2012 dimulai rekonstruksi hotel sampai menjadi hotel yang lebih modern namun tetap bersejarah bahkan menjadi ikon dari kota Pangkal Pinang pada saat ini.

 

Sebuah penunjuk tanggal dengan desain kuno terpampang di meja resepsionis. Di sebelah ruangan resepsionis terdapat ruangan business center dengan meja besar layaknya meja untuk rapat dan rak penuh buku-buku. Pelayanan yang diberikan oleh resepsionis sangat ramah dan cepat. Sebelumnya, saya sempat menelepon hotel ini beberapa hari sebelumnya karena berdasarkan petunjuk di Traveloka, akan lebih baik menelepon hotel dahulu sehari sebelum cek in. Setelah meminjamkan KTP dan mengisi data tamu, saya pun menuju ke kamar. Oh ya, di hotel ini saya tidak diminta untuk melakukan deposit dana terlebih dahulu. Seperti hotel lainnya, waktu check in dimulai pada pukul 14.00 dan check-out paling lama pada pukul 12.00.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saat berjalan menuju kamar, saya melihat interior hotel yang dipenuhi oleh foto-foto tua dengan bingkai yang besar. Di dekat lift terdapat jejeran kebaya encim dibingkai rapi sebagai cerminan adanya pengaruh budaya Tionghoa di Bangka. Yang menarik dari hotel ini adalah lift yang memiliki pintu kaca layaknya pintu sebuah ruangan. Kita harus membuka pintu lift dengan menariknya, bukan pintu geser otomatis yang biasa ditemui di lift pada hotel atau bangunan lain. Tenang, ada sensor pastinya agar tetap aman. Sebuah tulisan menjelaskan kalau memang lift didesain khusus untuk bangunan ini. Sempat saya bersama pengunjung lain yang mengungkapkan bahwa lift ini bukan untuk orang, tapi untuk barang. Saya pun hanya tersenyum saat mendengarnya. Semua hotel memang punya keunikan sendiri, termasuk Menumbing Heritage yang memiliki lift unik.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya mendapatkan kamar 214, tipe Superior (sebenarnya yang paling standar di hotel ini) dengan kisaran harga 400.000. Sempat membandingkan antara booking langsung di web hotel dengan menggunakan kode diskon versus booking di Traveloka ternyata harganya mirip-mirip. Tipe superior ini memiliki luasan kira-kira 20 m2 dengan sebuah single bed besar (tipe queen) serta sebuah meja kerja lengkap dengan kursinya. Di salah satu sisi juga terdapat rak tinggi yang berisi deposit box, cooler (mini bar gratis berupa teh kotak merek teh botol sosro), air mineral, serta cangkir dan heater lengkap dengan kopi sachet dan teh yang dapat diseduh sendiri. Pada tempat tidurnya sendiri disediakan 2 pasang bantal, sehingga cukup untuk perang bantal, eh. Wi-fi terdapat di setiap lantai dan koneksi cukup cepat. Televisi yang menempel di dinding dan menghadap tempat tidur menawarkan aneka channel lokal dan internasional untuk memanjakan tamu yang ingin bersantai di kasur sambil nonton tv layaknya di rumah.

Nuansa putih terang kembali terasa saat memasuki kamar mandi. Terdapat area terpisah (ada pembatas khusus) untuk mandi dengan shower , wastafel, dan closet duduk. Perlengkapan mandi mulai dari sikat gigi, bath foam, shampoo, sabun batangan, shower cap, dan shaving kit pun tersedia di dekat cermin di atas wastafel. Oh iya, cermin hanya bisa ditemui di kamar mandi saja ya. Saat mencoba air panasnya, cukup cepat ‘loading‘nya untuk menjadi hangat atau sesuai suhu yang diinginkan. Sedikit minus yang ditemui adalah air di wastafel agak lama turun, sedikit mudah tergenang. Selebihnya nyaman-nyaman saja. Handuk diberikan 2 pasang dengan kondisi yang bersih.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Di sisi lain bangunan hotel, terdapat bangunan yang difungsikan sebagai Menumbing Resto & Bar. Nuansa di restoran ini dipenuhi oleh warna monokrom mulai dari lantai sampai dengan meja dan kursi. Kolam renang terdapat di sebelah restoran dengan pilihan kedalaman mulai dari 1 meter, 1.5 meter, hingga 2.2 meter. Ada pula kolam anak dan yang bagusnya terdapat pembatas yang jelas antara kolam anak dengan kolam untuk dewasa (atau yang memiliki kedalaman lebih dari 1 meter). Mahira berenang 2 kali, di sore hari dan di pagi hari. Bahkan ia tak fokus sarapan karena melihat kolam renang terus sambil mengkode ingin berenang.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sarapan di Menumbing Heritage Hotel cukup variatif. Terdapat area khusus makanan ‘berat’ seperti nasi goreng, nasi uduk, dan aneka lauk. Di area yang sama terdapat pula station Mie Bangka, Roti Panggang khas Bangka & Waffle dengan aneka rasa, serta Egg Station. Petugas dapur ini siap melayani pemesanan menu tersebut. Di area lainnya, terdapat meja yang menghidangkan salad, sereal, roti tawar dan berbagai selai, pastry, buah, serta beberapa minuman seperti jus nanas, air mineral, dan susu kedelai. Untuk cita rasanya sendiri, saya sangat senang dengan Mie Bangka. Sebenarnya mirip dengan mie ayam di Palembang sih, tapi rasanya lebih sedap kuahnya karena bawangnya lebih terasa. Apalagi kalau ada tambahan pangsit dan cakwe.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Karena saat liburan kemarin bertepatan dengan libur perayaan hari natal, Menumbing Heritage Hotel pun didekorasi dengan hiasan khas natal seperti adanya pohon natal yang berdiri di ruang lobby (atau ruang tamu) lantai 1. Di dinding ruangan tersebut terdapat sebuah perapian kecil yang membuat saya penasaran apakan display digital atau bukan. Dinding lainnya terdapat peta Pulau Bangka. Selain lift terdapat pula tangga kayu yang menghubungkan antar lantai. Di lantai 2 juga terdapat area duduk-duduk dengan sofa besar panjang yang tentu saja cocok untuk berfoto.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Walaupun bangunan Menumbing Heritage Hotel berasal dari bangunan tua, kesan modern lebih mendominasi di hotel ini. Kerapian dan kebersihan hotel pun terjaga. Pelayanan yang saya rasakan juga baik, pantas saja hotel ini meraih penghargaan dari Traveloka dan Trip Advisor. Menumbing Heritage Hotel cocok untuk liburan keluarga. Bagi penikmat suasana tenang, hotel ini layak dipilih. Bagi yang suka melancong ke pasar, di sekitar hotel juga ada pasar tradisional yang bisa didatangi dengan berjalan kaki. Menumbing Heritage Hotel cocok untuk liburan keluarga maupun bersama teman-teman atau rombongan. Sebuah paket lengkap, area untuk berfoto yang bagus, makanan yang nikmat, dan tentu pelayanan yang ramah. Excellent.

Bagi yang ingin melihat detail dari Menumbing Heritage Hotel, bisa mengecek website maupun instagram resmi dari Menumbing Heritage Hotel.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Berlibur Bawa Bayi ke Belitung (BBBkB) (Part 3)

Wah, sudah hari ketiga aja. Hari terakhir nih. Flight kami jam 14.00 jadi masih ada waktu setengah hari untuk eksplorasi Belitung Timur sebagai wilayah Laskar Pelangi.

IMG_2653 (2)

Ke mana aja di Belitung ?

DANAU KAOLIN

IMG_2408 (1)

Danau Kaolin berada di Jalan Murai, Desa Perawas. Kalau dari hotel kami cukup 15 menit, begitu pula kalau dari pusat kota Tanjung Pandan. Awalnya sore hari kedua kami berniat menyempatkan diri ke sini, tapi Mbah Google bilang area ini tutup jam 18.00, jadi batal deh. Setelah datang, kami sadar, sebenarnya area Danau Kaolin ga ada jam buka dan jam tutupnya, cuma memang lebih bagus dinikmati untuk menanti matahari terbit (sunrise). Kulong Kaolin atau Danau Tanah liat ini terbentuk karena penggalian tanah kaolin sedalam 2 – 10 m. Terdapat area yang dipagar dan tidak dipagar. Agar aman dan karena bawa anak kecil, kita foto di area berpagar saja. Warna biru pada danau berasal dari perpaduan warna tanah liat, air danau, dan warna langit. Danau ini dikelilingi tumpukan kaolin putih yang membentang dan menggunung. Oh ya, ke Danau Kaolin artinya harus siap alas kaki kita akan terkena bercak putih sisa kaolin, tapi tenang saja, kalau dicuci dengan air akan hilang kok. Catatan penting adalah, jangan coba-coba manding, mincing, bahkan berenang di danau ini karena kedalamannya mencapai 8m.

IMG_2260

 

REPLIKA SD MUHAMMADIYAH GANTONG

IMG_2278 (1)

Laskar Pelangi bercerita tentang anak-anak Gantong yang bersekolah di SD Muhammadiyah. Sebagai pendukung syuting film Laskar Pelangi, dibangunlah replika SD Muhammadiyah di Bukit Raya, Desa Lenggang, Kecamatan Gantong. Replika sekolah ini dibangun karena SD Muhammadiyah yang asli tempat Andrea Hirata belajar sudah hancur bangunannya. Jarak menuju lokasi ini hamper 70 km dari hotel Hanggar 21. Jalur tercepat melalui daerah Badau.

IMG_2415 (1)

SD Muhammadiyah ini disusun dari susunan papan yang sudah rapuh, dengan penyangga dua kayu panjang agar tidak roboh, serta atap yang sudah jebol. Sekolah ini terdiri dari 2 ruang kelas.ud Di salah satu ruang kelas telah siap anak-anak untuk mendukung foto-foto agar terasa seperti sedang sekolah beneran dengan adanya meja dan kursi di dalam setiap ruangan. Di depan area sekolah terdapat tiang bendera berdiri kokoh di atas hamparan pasir putih.

IMG_2421 (1)

Di dekat area SD ada juga bangunan yang menjadi pusat kerajinan dari masyarakat Gantong. Di dalamnya terdapat lukisan dan beberapa hasil karya dari masyarakat Gantong.

IMG_2620 (1)

DERMAGA KIRANA

6138D17A-C7A7-46DE-B2DB-8B4B2DE3B0BD

Ketika meninggalkan lokasi Replika SD, kami melihat adanya bangunan unik persis di seberang lokasi Replika SD Muhammadiyah. Tertarik pada bangunan tersebut, akhirnya kami mampir untuk berfoto. Berdasarkan info dari penjaganya, area ini dinamakan Rumah Rotan / Rumah Keong / Dermaga Kirana. Rumah Keong dibangun diatas danau (kolong) bekas penambangan timah. Area rumah rotan yang berbentuk keong cocok untuk berfoto tentu karena bentuknya yang unik. Terdapat permainan jungkat-jungkit (see saw) di beberapa rumah. Di sekelilingnya terdapat dermaga menuju danau. Pemandangan di sekitar rumah berbentuk bulat mirip keong dibuat dari anyaman rotan adalah pegunungan yang indah serta air danau yang jernih. Lantai Rumah Keong terbuat dari papan. Jika datang sekitar pukul 10 -11 pagi, siap-siap menghadapai sinar matahari yang menyilaukan. Di ujung dermaga terdapat perahu yang bias disewa untuk menyusuri danau, dengan didampingi oleh pemilik perahu sebagai pendayungnya.

IMG_2300

MUSEUM KATA ANDREA HIRATA

IMG_2544 (2)

Museum kata adalah museum private / pribadi milik Andrea Hirata yang dibangun dari hasil royalty novel-novelnya. Jangan heran kalau untuk masuk kita harus mendonasi Rp 50.000,- dalam bentuk membeli buku Andrea Hirata. Kalau tidak tertarik, foto di luar museum dengan gerbang dan pintu berwarna warni juga bisa. Berhubung saya salah satu penikmat buku Andrea Hirata, ya saya masuk dong. Jauh loh 70 km dari hotel.

IMG_2557

Gerbang masuk menuju Museum Kata disusun dari bebatuan kecil warna warni. Di dalam area museum terdapat quotes yang menginspirasi dari Andrea Hirata. Di museum ini kita bias membaca cerpen karya Andrea Hirata yang tidak diterbitkan dan hanya ada di sini. Terdapat beberapa ruangan dari museum bergaya rumahan ini. Banyak alat-alat music dipajang dan foto atau poster adegan dalam film Laskar Pelangi. Terdapat beberapa kursi dan meja untuk bersantai menikmati tenangnya suasana museum.

IMG_2332 (3)

Di area belakang museum terdapat dapur kecil dengan beberapa tempat duduk untuk menikmati kopi. Ada pula souvenir khas Museum Kata dan Laskar Pelangi. Di sisi lain museum terdapat jendela berwarna-warni seolah-olah menjadi jendela dunia Andrea Hirata. Ada juga bangunan lain yaitu perpusatakaan luas dengan aneka buku dan majalah. Kalau waktu saya lama pasti saya bakal betah deh disana.

RESTORAN RAJA SEAFOOD BELITUNG

Kalau dari arah Tanjung Pandan menuju hotel maupun sebaliknya, kami selalu melewati restoran ini dan selalu ramai dengan bis-bis besar di parkiran. Kelaparan di siang hari setelah menjelajah area Belitung Timur membuat kami mencoba mampir ke restaurant ini yang cukup dekat juga dari hotel. Ketika kami dating, banyak meja sudah dipesan. Untungnya kami masih dapat meja untuk 7 orang dan ada juga high chair untuk bayi makan. Area parker cukup luas dan di depan restaurant ada toko oleh-oleh.

IMG_2355

Menu yang tersaji tentu saja seafood, pilihan kami ikan bakar kecap, udang goring mayonnaise, cumi lada hitam, sapo tahu, cah kangkung. Nasi yang diberikan dalam mangkok besar (bakulan) tapi kurang banyak sehingga tentu saja kami minta tambah. Secara porsi sebenarnya agak lebih sedikit dibanding tempat makan seafood di hari kedua dan secara harga memang lebih mahal sedikit.

Beruntung kami datang sebelum pukul 12 siang, karena saat kami hampir selesai makan, ada beberapa bis pariwisata yang datang dan langsung menyerbu meja yang telah dipesan. Selain seafood, di restaurant ini juga menawarkan menu Mie Atep Belitung.

IMG_2366 (2)

Selesai makan siang, kami kembali ke hotel untuk ambil barang, mengembalikan mobil rental, dan minta dianterin ke bandara. Ternyata, kalo siang hari, hotel (tepatnya sih Kopi Kongdjie depan hotel) ramai dan penuh. Kami kembali ke Palembang dengan ATR72-600 milik Garuda Indonesia pada pukul 14.15. Ruang tunggu Bandara H.A.S. Hanandjoeddin tidak cukup besar. Walaupun begitu, saya cukup senang karena bandara ini menyediakan ruang menyusui, ya walau tidak senyaman ruang menyusui di bandara Soekarno-Hatta (belum pernah mencoba di Bandara SMB II). Sampai jumpa lagi Belitung, semoga bisa ke Belitung lagi.

Catatan Trip Belitung

IMG_2386 (3)

Saya mencatat ada beberapa hal penting dalam perjalanan ini, yaitu :

  • Untuk berjalan-jalan di Belitung, kita bisa menyewa motor, mobil, atau bis. Jika rombongan 7 orang, bisa menyewa mobil. Sewa mobil Mobilio tanpa supir per hari adalah Rp 300.000,-. Karena penginapan kami bukan di area Tanjung Pandan, maka ada tambahan biaya Antar-Jemput mobil Rp 50.000,-. Kontak rental mobil Belitung bisa ke rentalmobilbelitung.net atau 081949255430
  • Di Belitung, pom bensin banyak yang tutup. Tapi, banyak juga pedagang bensin eceran di sepanjang jalan. Yang dijual mulai dari 1 Liter sampai jerigen 20 liter.
  • Sunblock, kaca mata hitam, adalah perlengkapan wajib bawa. Kalau punya alat snorkeling juga boleh dibawa. Untuk anak kecil, ada baiknya bawa pelampung sendiri karena sewa pelampung biasanya ukuran dewasa. Pelampung untuk anak kecil yang saya bawa sih jenis pelampung tiup (tiup sendiri aja ga usah bawa pompa, ga gede-gede amat tapi ya emang bikin capek dikit). Pelampung ini lumayan buat nahan (nutupin body anak) biar ga kena angin banget.
  • Menurut saya, bayi sudah aman diajak main ke laut usia 9 – 10 bulan ketika sudah mulai berdiri atau merangkak. Usia segitu juga makannya biasanya sudah mulai nasi kasar (bukan bubur saring atau bubur halus) jadi ga terlalu repot bawa alat masak (kalau memang anaknya ga mau dikasih yang instan). Atau bisa juga cari hotel yang menyediakan bubur, nanti buburnya bisa dibawa untuk bekal makan siang. Jadi, penting punya peralatan yang tahan anget dan termos air panas. Kalau mau ringkas, tentu bawa saja makanan instan.
  • Kalau long weekend dan mau hoping island, ada baiknya sewa kapal pada hari sebelumnya (jangan go-show). Harga sewa kapal itu untuk seharian dan bebas mau ke pulau mana saja. Cek cuaca juga penting, jangan memaksakan kalau hujan badai. Kontak untuk sewa kapal bisa sekalian dengan sewa mobil (karena umumnya mereka juga menyediakan tour) atau langsung dengan Pak Chandra di Tanjung Kelayang (0878 9640 1438 dan 0821 8611 9023)
  • Sebenarnya, 3 hari 2 malam di Belitung kurang menurut saya, apalagi karena pesawat dari Palembang tiba di siang menuju sore, yang artinya sudah setengah hari sendiri diambil.
  • Kalau pesawat datangnya pagi, ada baiknya ke daerah Belitung Timur (area Laskar Pelangi) dahulu karena lebih dekat dari Bandara. Selain Museum Kata, Replika SD Muhammadiyah, Dermaga Kirana, di Belitung Timur juga ada Vihara Dewi Kwan Im, Tugu Warung 1001 Kopi, Lokasi Syuting Laskar Pelangi, Desanya Ahok dan Pantai Mudong. Arah ke Tanjung Pandan dari Belitung Timur, kalau via Badau akan melewati tempat wisata alam Batu Mentas, yang merupakan hutan lindung berisi air terjun dan tempat pelestarian hewan langka, Tarsius Bancamus. Kalau sudah sampai jalan Jend. Sudirman, ga ada salahnya untuk mampir ke Danau Kaolin.
  • Kalau udah tour Belitung Timur di awal, ga ada salahnya untuk ambil hotel di daerah Tanjung Pandan. Banyak hotel yang nawarin view ke pantai langsung.
  • Lebih baik luangkan waktu sehari penuh untuk wisata pantai dan pulau di Kabupaten Belitung.
  • Biaya perjalanan yang saya catat : Rp 2.600.000,- untuk tiket Pesawat Palembang – Belitung PP (ga dapat promo dan ini harga 2 dewasa & 1 infant), Rp 700.000,- untuk 2 malam di kamar superior Hanggar 21, dan biaya operasional Rp 540.000,- per orang (dikali 7 untuk makan, tiket masuk obyek wisata, parkir, dll).
  • Di Belitung sudah ada 4G kok. Jangan takut ga ada sinyal deh.

Berlibur Bawa Bayi ke Belitung (BBBkB) (Part 2)

IMG_2229 (2)

 

Setelah jalan-jalan di kota Tanjung Pandan di hari pertama, tujuan utama kami di hari kedua adalah Pantai dan Pulau (Island hopping). Setelah sarapan di hotel, kami berangkat menuju Kecamatan Sijuk. Kami ambil jalur menyusuri Pantai Tanjung Pendam menuju dan melihat banyak hotel dan pantai di kiri jalan. Sempat juga kami melihat rombongan pesepeda.

Ke mana aja di Belitung ?

PANTAI TANJUNG KELAYANG

IMG_2495

Pantai Tanjung Kelayang adalah pantai yang menjadi lokasi penyebrangan untuk hoping islands. Biaya masuk ke pantai adalah Rp 10.000,- untuk 1 mobil. Di sini ditawarkan sewa kapal kecil (untuk 10 orang) dengan harga Rp 500.000,- dan kapal besar (untuk 20 orang) dengan harga Rp 800.000,-. Harga sewa kapal tidak termasuk pelampung ya. Sewa pelampung sendiri Rp 20.000,- per pelampung. Kami ga dapat kapal pada pagi itu, dan baru dapat siang harinya. Salah juga sih, long weekend, banyak pengunjung, sudah ditawarin tapi ga mau, maunya go-show aja. Tapi ga nyesel juga, karena memang pagi itu sempat hujan lalu berhenti, lalu hujan lagi. Was-was juga kalo bawa anak kecil.

IMG_2492 (3)

Tanjung Kelayang berasal dari sejarah banyaknya burung Kelayang di sekitar pantai. Di dekat pantai ada area parker untuk mobil dan bis pariwisata. Kita bisa berfoto dengan plang tulisan Welcome To Belitong. Untuk yang ga bawa snorkel, disediakan juga sewa snorkel di pondokan sekitar Pantai Tanjung Kelayang. Oh ya, setelah hoping islands, kurang lengkap kalau ga makan Mie Rebus pakai Telor hehehe.

PULAU GUSONG

IMG_2043 (2)

Pulau Gusong adalah tujuan pertama saat island hopping. Hanya dibutuhkan waktu 15 menit ke pulau ini. Gusong merupakan singkatan Gundukan Pasir Kosong. Pulau ini hanya tampak ketika air laut surut sehingga bentuk pulau akan selalu berubah-ubah. Di pulau ini banyak sekali bintang laut. Kita boleh berfoto dengan bintang laut, dengan catatan, jangan terlalu lama membiarkan bintang laut jauh dari air laut. Kasihan kan dia kehausan. Saya ga ikutan turun di pulau ini karena Maheera pulas tidur di kapal.

PULAU LENGKUAS

IMG_1674 (1)

Belum lengkap island hopping kalo ga ke Pulau Lengkuas. Pulau Lengkuas identik dengan mercusuar yang menjulang tinggi. Tinggi mercusuar di Pulau Lengkuas adalah 62 meter. Ada 17 lantai dan kita bisa naik sampai puncak melalui tangga mercusuar yang bulat dan berliku-liku. Biar ga capek-capek banget, jangan lupa bekal air minum dan istirahat di setiap lantai. Oh ya, sebelum masuk, kita harus bersih dari pasir karena naik ke mercusuar ini tanpa alas kaki ya. Di setiap lantai ada jendela juga kalau mau melihat pemandangan. Di lantai 1 dan 2 terdapat lukisan tentang Pulau Lengkuas serta foto-foto pulau lain yang memiliki mercusuar sejenis. Sampai di puncak jangan lupa untuk berfoto dan mengabadikan pemandangan di bawah yaitu pasir putih yang bersih, kapal  di bibir pantai, orang-orang yang terlihat seperti semut, batuan yang artistic, serta laut lepas dengan warna biru.

IMG_2014 (3)

Karena kapal tidak boleh parkir terlalu dekat dengan bibir pantai, kapal kami agak berada sedikit jauh dari bibir pantai. Jadi saya ikutan turun . Saya sempat naik ke mercusuar, sementara Maheera dan Brojo asik main di bangunan sekeliling mercusuar.

IMG_1930 (2)

Sedikit bergerak dari Pulau Lengkuas, tibalah kita di spot snorkeling. Kalau membandingkan dengan Raja Ampat dan Pulau Weh, tentu variasi karang dan ikannya kurang. Tapi buat saya yang kangen laut, nyicip sedikit jadilah dan kena karang, dan anaknya nangis di kapal, jadilah cepat-cepat naik gentian sama si Brojo buat megang anaknya.

PULAU BURUNG dan PULAU TAK BERPENGHUNI

IMG_1848

Kata mas-mas kapal, masih ada 3 pulau yang bakal didatangi, tapi karena waktu sudah jam 3 sore dan cuaca juga agak bikin was-was akhirnya kami mampir di satu pulau yang banyak batu-batu menjulang tinggi khas pantai dan pulau di Belitung. Di sini kita bisa foto-foto dan saya bisa ngebiarin bayi merangkak di atas pasir pantai (tetap diawasi kok).

IMG_1764 (1)

Sebentar saja di pulau tak berpenghuni, kami bergerak mendekati Pulau Burung. Kali ini, kami tidak boleh berhenti dan turun, jadi hanya mendekati saja. Landmark Pulau Burung adalah batu yang menyerupai paruh burung. Kata mas-mas kapal kalau malam pulau ini akan menyala karena telah dipasang system panel tenaga surya / matahari. Di sini banyak terdapat sarang camar laut dan elang.

PANTAI TANJUNG TINGGI

IMG_2210 (2)

Pantai Tanjung Tinggi menjadi salah satu wisata wajib di Belitung, karena lokasi pantai ini digunakan untuk shooting salah satu adegan dalam film “Laskar Pelangi”. Sayangnya, papan penanda bahwa Pantai Tanjung Tinggi menjadi lokasi shooting film Laskar Pelangi sudah dicopot, ga bisa deh foto bukti kesana. Hehe. Seperti lokasi pantai di area barat Pulau Belitung, Pantai Tanjung Tinggi didominasi batu-batu raksasa di sepanjang pantai.Amazingnya, di antara batu-batu raksasa itu ada jalan tikus untuk menuju lepas pantai. Dipikir-pikir, Pantai ini cocok juga jadi tempat menanti sunset. Tapi kami datang ke pantai ini pagi menjelang siang, sambil menunggu dapat kapal untuk hoping islands. Di sekitar pantai ada restoran seafood, pedagang rujak, dan penjaja batu satam. Anak-anak bisa main pasir di pinggir pantai atau main kecipak kecipuk di pantainya.

IMG_2211 (2)

PANTAI BATU GARUDA

D3092C7A-A551-4965-ADA7-85DE06398AD7

Kami ke Pantai Batu Garuda dalam rangka menunggu jam 1 siang, waktu saat kami dijanjikan akan island hopping. Di Pantai Batu Garuda terdapat Rumah Makan Batu Garuda. Makanannya tentu saja seafood. Kami pesan Ikan Bulat Bakar Kecap, Udang Goreng Tepung, Cumi Saus Tiram, Kangkung Cah Terasi, dan Genjer (lupa diapain). Minumnya tentu Es Kelapa Muda. Untuk tujuh orang, dana yang dihabiskan sekitar Rp 400.000,-. Rumah makan ini menyediakan toilet dan musholla (jadi bisa sholat dulu di sini), sewa kapal , oleh-oleh kaos, oleh-oleh lada hitam/putih, dan pondokan-pondokan untuk makan. Oh ya, restoran ini masuk Top 5 restaurant di Belitung versi Trip Advisor. Secara rasa, jangan ditanya deh. MANTAP, saya nambah 2-3 kali hehehe.

IMG_1651 (2)

KOPI KONGDJIE

IMG_1829

Bingung makan malam di mana, karena semua restaurant top versi Trip Advisor sudah dicoba? Mampir dulu ke Kopi Kongdjie di area depan hotel. Info dari pemiliknya, sebenarnya resep asli Mie Belitung ada di area sini, tapi memang yang jadi terkenal yang di Tanjung Pandan. Di luar area Kopi Kongdjie, tersusun Teko Raksasa yang digunakan untuk membuat /menyeduh kopi. Walau orang Belitung hobi ngopi, tapi menurut karyawan yang membuat kopi, sebenarnya di Belitung sendiri ga ada kopi khas, jadi biji kopinya impor. Kopi hitam di Belitung disebut ‘Kopi O’ dibuat dengan menuangkan kopi dalam teko raksasa ke dalam cangkir dengan menggunakan penyaring ampas bubuk kopi dari kain. Jadi,  Kopi O nya sudah tanpa ampas. Menu yang disajikan di Kopi Kongdjie ada Mie Belitung, Bakso, Mie Ayam, Soto, Pempek, Rujak Mie, Nasi Ayam Tim, Tekwan, Indomie Goreng/Rebus, Roti Bakar, Pisang Goreng, dll. Di sini juga tersedia oleh-oleh Kaos Belitung, Lada Hitam/Putih Belitung, dan Ketam Isi.

IMG_1818 (1)

Suasana di Kopi Kongdjie kalau malam cukup asik dengan lampu kuning, bisa foto-foto dengan hiasan dinding berupa poster-poster yang beraneka ragam tulisan dan gambarnya. Kalau siang, jangan heran tempat ini ramai dan penuh, karena biasanya, orang sebelum ke bandara akan dibawa mampir ke tempat ini. Saran buat pemilik sih, lebih diperbesar saja area musholanya.

Catatan hari ini :

Saya sudah menyiapkan bubur instan merek Promina dan makanan instan Heinz Jar. Anaknya ga doyan bubur Promina dan mau Heinz Jar rasa Potato, Beef, Carrot. Anaknya dikasih nasi ikan bakar dan udang goring plus nyemilin kangkung dan doyan. Cemilan biscuit tetap wajib bawa karena anaknya doyan pake banget. Anaknya di kapal tidur awalnya, bahkan pulas banget. Setelahnya dia doyan dan mau aja tuh main air dan main pasir di pantai. Penting untuk pakai sunblock biar ga hitam dan bawa baju ganti.

Yuk, lihat perjalanan kami di hari ketiga di postingan berikut.

Berlibur Bawa Bayi ke Belitung (BBBkB) (Part 1)

Di bulan April tahun ini, ada 2 minggu libur 3 hari berturut-turut (catatan : hitung juga Sabtu Minggu sebagai hari libur). Berhubung udah lama banget ‘puasa nge-trip’ dan kebetulan BroJo bisa (lagi ga ada panggilan atau harus jagain pabrik) plus ada ajakan buat liburan bareng ke Belitung. Maka cus, berangkatlah kami bertiga (saya, brojo, dan uni maheera) bareng 5 temen saya lainnya ke Belitung.

Kenapa ke Belitung ?

IMG_1565

Akhirnya uni Maheera si bayi 10 bulan ini liburan lagi dengan naik pesawat setelah di umur 5 bulan sukses tidur saat diajak mudik ke Jawa. Sekarang saatnya nge-tes anak ini ke tempat lain. Pilihan ke daerah pantai juga atas dasar pertimbangan untuk merangsang sensori dengan main di alam. Kenapa ga ke gunung? Karena belum dapat info penginapan yang oke untuk Maheera. Pengalaman bukan nginep di hotel tapi rumah kayu yang coklat dan dia cukup rewel juga jadi pertimbangan. Sementara ngeliat penginapan di daerah Sumatra Selatan (seperti daerah yang ada perkebunan teh, Danau Ranau, dan gunung Dempo) masih belum cocok.

Belitung menjadi pilihan ajakan teman karena mereka sudah pernah ke Bangka. Belitung menjadi pilihan keluarga kami karena selain wisata pantai dan laut, saya juga pingin ke Museum Kata milik Andrea Hirata. Pemikiran kami juga, karena Belitung sudah terekspose sebagai daerah tujuan wisata, akan lebih nyaman untuk dikunjungi. Selain karena ada ajakan, saya milih Belitung juga karena lebih ga capek (naik pesawat) dan LAUT! Yes, i need vitamin sea.

Sekilas tentang Belitung

IMG_0549 (1)

Pulau Belitung sebenarnya bernama Pulau Belitong. Pulau ini adalah salah satu bagian dari Provinsi Bangka Belitung yang memiliki dua pulau besar yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Pulau Belitung mulai popular sejak adanya film “Laskar Pelangi”. Film adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Andrea Hirata, penulis asli Belitung. Film Laskar Pelangi dibuat oleh Miles Production dan mengambil lokasi shooting di pulau yang dulunya terkenal dengan pertambangan timah ini. Berkat film tersebut, Pulau Belitung makin ramai didatangi para wisatawan (baik dalam maupun luar negeri) yang terpikat untuk melihat langsung keindahan alam di pulau ini. Secara wilayah pemerintahan, Belitung dibagi menjadi menjadi 2 (dua) wilayah yaitu Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur.

Cara ke Belitung

Kalau dari Palembang, bisa pakai cara via jalur laut dengan kapal cepat atau udara dengan pesawat. Keduanya mirip dalam hal : TRANSIT di Pangkal Pinang (Pulau Bangka) dan berbeda dalam hal : LAMA PERJALANAN (ya iyalah ). Karena bawa bayi dan biar kita juga ga terlalu capek, maka dipilihlah naik Pesawat.

Untuk ke Belitung, sekarang cukup mudah kalau dari Palembang, karena PT Garuda Indonesia sudah membuka rute Palembang-Tanjung Pandan (Kota di Pulau Belitung) dengan pesawat ATR72-600. Terima kasih Garuda Indonesia, yes, BUMN Hadir Untuk Negeri (emang situ kerja di BUMN nun?). Rute Palembang-Tanjung Pandan  dijadwalkan berangkat pada pukul 11.35 dan ditempuh dengan waktu 30+15+40 menit alias 85 menit kurang lebih. 30 menitnya adalah Palembang – Pangkal Pinang (Pulau Bangka), berhenti 15 menit untuk menurunkan dan menaikkan penumpang serta urusan lainnya (pokoknya urusan maskapailah biar penumpang senang kenyang selamat), dan 40 menit di akhir adalah Pangkal Pinang – Tanjung Pandan. Flight di Jum’at lalu delay 15 menit karena pesawat ATR72-600 dari Jambi telat.

IMG_1544

Untungnya di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, area main anak sudah diperluas (walau jadinya agak jauh dari tempat jajan andalan yaitu Chatime,A&W, dan Starbucks) tapi lumayan bikin si bayi senang. Padahal di situ tulisannya untuk usia 1-5 tahun, tapi main masuk aja kita berdua buat main kuda-kudaan sama berdiri-berdirian dan latihan jalan alias titah.

IMG_1607

Kami sampai di Tanjung Pandan jam 14.00 lebih dan harus nunggu jemputan gratis dari hotel. Sebenarnya sudah kepakai waktu setengah hari lebih ya, semoga besok pesawatnya makin banyak dan makin pagi jadwalnya (eh, boleh kan ngarep gini).

Ke mana saja di Belitung ?

HOTEL HANGGAR 21

Ini adalah tempat menginap kami. Kami memilih hotel Hanggar 21 dengan pertimbangan, lokasi hotel berada di tengah-tengah tujuan wisata, hotel baru, dekat bandara. Pada saat penjemputan kami terlambat dijemput karena banyak tamu yang datang dan drivernya ada yang ga masuk, jadi kena antrian untuk nunggu deh. Gapapa gratis J (Namanya juga ibu-ibu).  Secara garis besar, wisata utama di Belitung ada di 2 lokasi yaitu wisata pantai dan pulau di Kabupaten Belitung (Kota Tanjung Pandan dan sekitarnya) dan wisata desa Laskar Pelangi di Kabupaten Belitung Timur. Untuk ke kota Tanjung Pandan sendiri butuh waktu 30 menit dari hotel sementara ke daerah belitung timur jaraknya 60-70 km (kira-kira 1 jam lah).  Nah, Hanggar 21 ini ada di antara tengah-tengah jadi kalo nyetir ke barat ya ga jauh-jauh banget, kalo nyetir ke timur ya capeknya ga banget-banget. Petunjuk kiblat di hotel jelas dan petugas hotel menawarkan sajadah juga kalau memang ga bawa.

30000002000107006_dh

Hotel Hanggar 21 adalah hotel yang cukup baru dan menjadi hotel patner Traveloka (ada di resepsionis tapi lupa foto). Area hotel asri dengan banyaknya tanaman hijau dan kolam ikan. Terdapat banyak sepeda yang bisa dipakai berkeliling area hotel. Tempat parkir juga cukup luas. Plusnya lagi, ada penjemputan dan pengantaran gratis dari dan ke Bandara H.A.S Hanandjoeddin.  Di depan hotel ada tempat ngopi dengan nama Kopi Kong Djie yang menyediakan Mie Belitung, Pempek, Soto, Bakso, dll. Ada juga oleh-oleh berupa kaos, ketam isi,dan lada Beliton.

Karena 7 orang, kami pesan 3 kamar, 2 tipe Deluxe (350.000-an / malam) dan 1 Suite Deluxe (500.000-an / malam). Di kamar suite lebih luas, ada sofa, ada kulkas, lemari, dan water heater lengkap dengan teh dan kopi. Di tipe deluxe biasa ga dapat. Standar hotel dikasih handuk (dan bersih bagus), dental kit, sabun, shampoo. Awalnya request 1 bed besar tapi ternyata dikasih twinbed. Untung bisa digeser-geser bed-nya jadi masih bisa tidur nyenyak. Sarapannya ga terlalu banyak variasi mengingat kamar di sini juga ga terlalu banyak ya. Hari pertama sarapan pilihannya Nasi Goreng, Mie Goreng, Telor Ceplok, dan Bubur Kacang Hijau sementara hari kedua adalah Nasi Uduk, Bihun Goreng, Telur Rebus Sambal, dan bubur Kacang Hijau. Standar berupa roti tawar, kopi, teh, air mineral, orange juice disediakan juga. Pelayanan ramah dan saya boleh minta air panas untuk bikin bubur instan buat bayi dan bekel air panas di termos.

Untuk deposit di awal saat cek in adalah 150.000 (saya lupa ini karena 3 kamar atau gimana, cuma cukup 1 kamar yang deposit). Sementara itu waktu cek-out cukup ontime ya, jam 12.00, kalau misal mau  late cek-out nambah 150.000 juga. Ketika pulang, mobil di hotel lagi dipakai dan cukup lama menunggu sampai akhirnya kami diantar oleh pemilik hotel (atau pemilik coffee shopnya ya) ke Bandara. Sejauh ini saya cukup puas dengan pelayanan di hotel ini dan kalau ke Belitung sangat merekomendasikan penginapan ini. Kami pesan via Traveloka untuk hotel ini dan sejauh ini sih puas. Saya ga sempat foto-foto di hotel, foto saya ambil dari web Traveloka.

RESTORAN TIMPO DULUK TANJUNG PANDAN

Restoran ini ada di jalan Veteran (simpang Jalan Lettu Mad Daud) , Kampung Parit, Tanjung Pandan dan buka mulai pukul 11.00 s.d 22.00 setiap harinya. Area parkir ga begitu luas dan ada di perempatan jalan gitu. Kami sempat kelewatan sedikit dan akhirnya parkir di pinggir jalan samping restoran. Kalau lihat dari bentuknya restoran  ini menggunakan sebuah rumah Melayu model lama. Sesuai namanya, interior dan di restoran ini emang jaman dulu alias tempo dulu banget. Adafoto Belitung jaman dulu, televisi tabung, telepon yang masih diputer, dan aneka pajangan peralatan jaman dulu baik alat rumah tangga, pertenakan, maupun perikanan. Sayangnya sih banyak coretan di benda-benda jaman dulu itu, entah sengaja sebagai kenang-kenangan dari tamu atau gimana, tapi kalau saya sih kurang sreg lihatnya karena saying, bendanya jadi kurang elok. Tak heran, restoran ini menjadi salah satu Cagar Budaya Pemerintah Kabupaten Belitung. Di restoran ini, selain makan, tentu bisa : FOTO-FOTO kece dengan gaya jadul, hehehe.

IMG_2459

Menu yang ditawarkan di restoran ini secara khusus adalah menu khas melayu Belitung seperti Gangan atau Sup Ikan Khas Belitung yang berkuah kuning dengan rasa asam gurih. Kebetulan saat lihat menu, kami melihat ada paket untuk 2 dan 4 orang. Akhirnya kami pilih paket tersebut. Paket makan 2-4 orang tersebut adalah Paket Makan Bedulang yang memiliki pengertian makan dalam suatu nampan besar (Dulang) yang berisi beberapa lauk dan ditutup tudung saji merah (Mentudong). Dulang besar untuk empat orang ini berisi Gangan sebagai menu utama (ada di tengah) dikelilingi oleh Sambal Serai, Sate Ikan, Lalapan, Semur Ayam, dan Tumis Kacang Panjang. Makannya tentu pakai Nasi di Baskom (Baskom Nasi ya bukan Baskom Air).  Tradisi makan bedulang sesungguhnya lebih enak kalau duduk bersila dan menggunakan alat makan sederhana “cap 5 jari” alias tangan kosong. Ternyata, ada aturan dalam makan bedulang, yaitu orang yang paling muda bertugas mengambil piring (piringnya kaleng ya, namanya juga tempo dulu) dan memberikannya ke tamu yang lebih tua. Dengan makan bedulang, kita bisa merasakan adanya kebersamaan, penghargaan kepada yang lebih tua, syukur dan nikmat.

Rasanya gimana? Gangannya segar apalagi ikan yang dipakai ikan laut (beda dengan pindang Palembang yang biasa pakai ikan sungai) tapi secara rasa mirip sih karena ada nanasnya. Kalau suka pindang, biasanya akan suka gangan juga. Sate Ikan (sebenarnya ikan dikukus dalam daun pisang, saya juga masih bingung kenapa disebut sate) lebih masuk di lidah saya dibanding Sate Ikan Palembang, mungkin karena lebih gurih ya. Semur ayamnya dan tumis kacang panjangnya enak tapi rasanya sambalnya kurang pedas. Untuk makan bedulang 4 orang, harganya adalah 247.000 (belum termasuk minum ya, kalau mau hemat, air putih kemasan saja hehe).  Rumah makan ini ini adalah  restaurant #1 di Belitung versi Trip Advisor

PANTAI TANJUNG PENDAM

Selesai makan di Resto Timpo Duluk, waktu  sudah menunjukkan hampir jam 5. Akhirnya kami bertanya ke orang resto, pantai untuk menikmati sunset yang dekat di mana dan dikasih tau tentang Pantai Tanjung Pendam. Biaya masuk ke pantai ini adalah Rp 2.000,-. Kami sudah mengaku ada 7 orang tapi penjaganya menghitung hanya Rp 10.000,-. Ya udah deh, makasih bapak penjaga.

IMG_2183

Lokasi pantai ini di pusat kota Tanjung Pandan dan cukup luas areanya. Memang lokasi yang cocok untuk menikmati matahari terbenam karena pantainya menghadap ke barat, sehingga sunset seharusnya terlihat sangat jelas (catatan : kalau awan dan langit mendukung). Sayangnya, ketika kami datang langit dan awannya kurang mendukung karena agak mendung. Dari Pantai Tanjung Pendam, kita bisa melihat ada Pulau Kalimoa. Pulau Kalimoa ini merupakan pulau yang biasa didatangi orang Tionghoa untuk bersembahyang. Adanya pulau ini akan menambah cantik foto sunset. Selain pulau, di laut dekat pantai ini juga masih ada Kapal Laut ukuran besar yang kondisinya sudah tidak utuh dan rusak tapi tidak dipindahkan. Cukup bagus untuk obyek foto.

IMG_2182

Area pantai yang luas didukung oleh pemerintah kabupaten dengan menyediakan beragam fasilitas di pantai ini seperti : Jalan aspal yang bisa digunakan untuk jogging, sepedaan, atau  bermain inline skate, pondokan di sekitar pantai, arena bermain anak dengan patung dinosaurus yang besar, dan galeri seni.

IMG_1587

GALERI KUMKM BELITUNG

Khawatir karena waktu ga banyak tapi banyak mau ke sana ke mari, akhirnya kami memutuskan membeli oleh-oleh di awal. Galeri UMKM Belitung menjadi pusat oleh-oleh khas Belitung. Galeri KUMKM ini berada di Jalan Sriwijaya Tanjung Pandan. Merek yang dijual disini  bervariasi. Oleh-oleh khas Belitung yang terkenal :

  • Batu Satam (Billitonite) atau batu khas Belitung. Batu satam termasuk langka, warnanya hitam dan penuh ukiran tak beraturan. Jangan heran kalau harganya mahal ya.
  • Terasi Belitung atau Balacan. Namanya juga ibu-ibu, terasi enak ya penting untuk modal bikin sambal enak. Jadi saya beli dong. Terasi Belitung dibuat dari udang kecil yang segar.
  • Abon Ikan atau Sambal Lingkong, sebenarnya cemilan ini juga ada di toko oleh-oleh Palembang. Terbuat dari Ikan tengiri, cabai, bumbu, dan parutan kelapa yang dihaluskan.
  • Camilan Belitung, ada kerupuk dan getas ikan, kerupuk sukun, kerupuk udang, dan kerupuk cumi. Yang saya suka sih, keripik telur cumi.
  • Kerajinan kerang, Kerajinan Rotan, Magnet kulkas, Baju bertuliskan Belitung dan Laskar Pelangi, Gantungan Kunci, dll.

MIE ATEP BELITUNG

Waktu menuju Galeri KUMKM, kami sempat melihat Mie Atep tapi ramai sekali. Berhubung lapar dan itu salah satu tempat wajib menurut beragam situs, akhirnya kami mampir juga. Sampai di sana kami harus menunggu 2 meja untuk kosong.

IMG_1612

Mie Atep Belitung ada di Jalan Sriwijaya, Tanjung Pandan. Atep adalah nama penjual mi yang merupakan keturunan Tionghoa. Harga per porsinya Rp 15.000,-. Mie khas Belitung ini adalah Mie dengan kuah kental berwarna coklat dan agak manis (pakai gula aren / gula merah), dengan potongan kentang rebus, tahu goring, udang, dan tentu saja mie kuning sebagai bahan utama, ditambah emping melinjo sebagai pelengkap. Minuman yang disarankan untuk menemani adalah Es Jeruk Kunci (jeruk yang kecil-kecil biasa dibuat sambal), rasanya manis-manis ga terlalu asam.  Rasa mie Belitung ini cukup mirip Mie Ongklok khas Wonosobo dengan kuah yang tidak terlalu kental. Sayangnya, lagi-lagi, sambalnya rasanya kurang pedas. Rumah makan ini ini masuk #2 restaurant di Belitung versi Trip Advisor

Di dekat Mie Atep ini ada tempat namanya Gamat. Kirain tempat makan teripang atau timun laut, ternyata tempat jual baju / distro khas Belitung.

TUGU SATAM

Sebenarnya sih kami ga beneran mampir, tapi cuma lewat beberapa kali dan ada orang yang foto-foto di sana. Jadi Tugu Satam bisa jadi salah satu obyek wisata juga. Tugu Satam jadi ikon Pulau Belitung dan ada di tengah kota, simpang lima Jalan Veteran, Sudirman, Sriwijaya, Endek, dan Gegedek. Di sekitar tugu ada air mancur yang mengelilinginya. Di seberang Tugu Satam, ada Tugu Ikan, logo Kabupaten Belitung.

Catatan hari ini :

Berhubung flightnya siang, saya sempat bawa bekal makan siang dan sore untuk bayi bahkan cemilan nugget ayam. Eh, anaknya ogah-ogahan makan. Untungnya cemilan biscuit masih masuk, dikasih macaroni schotel (snack dari Garuda) dia mau, dikasih nasi gangan, mie belitung juga dia doyan. Yowes, ibunya mah selo aja.

Oh ya, anaknya sejak sebelum take off, landing, take off lagi, landing lagi tidur pules banget. Ibunya mah bahagia, secara jarang-jarang ini anak tidur lebih dari 30 menit.

Nah, perjalanan hari pertama kami cukup sampai di Mie Atep Belitung dan untuk hari kedua dan ketiga ada di post berikutnya.