Ragam Aktivitas Wisata Asyik di Pulau Batam

Petrichor, begitu banyak orang menyebutnya, sebuah aroma alami yang muncul ketika hujan, umumnya suasana hati dan lingkungan sekitar langsung berubah sendu dan mellow. Pernah mengalami tidak, ketika hujan turun, kerinduan akan suatu hal datang. Kalau saya sering. Seringnya rindu akan makanan berkuah yang hangat, supaya perasaan dingin saat hujan menjadi berkurang. Seperti saat ini, derasnya hujan semalamam di kota Palembang membuat saya merindukan sebuah makanan dari pulau seberang, Sop Ikan khas Batam. Mungkin karena agak terlalu sering memakan makanan khas Palembang seperti model gendum dan tekwan, membuat saya kangen makanan dari tempat lain.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sebagai pulau yang dikelilingi laut, wajar rasanya kalau Pulau Batam menjadi penghasil ikan dan kuliner di area tersebut kebanyakan adalah olahan yang berasal dari lautan, salah satunya ya Sop Ikan khas Batam. Mengapa khas Batam? Bagi saya sendiri, pertama kalinya saya merasakan sop ikan tenggiri ketika di Batam. Sup ikan khas Batam, biasanya menggunakan ikan tenggiri, dengan tambahan sayur sawi serta tomat hijau. Walaupun kuahnya berasal dari kuah ikan, namun rasa amis sama sekali tak tercium. Terkadang ada tambahan cumi-cumi dan udang yang melengkapi sop ikan ini. Hangat, sehat, segar, dan bergizi tentunya. Beda beda restoran, beda pula penyajiannya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya pun curhat ke Bojo kalau saya kangen pengen ke Batam. Cuma buat makan sop doang? Tentu tidak dong. Selama ini, Batam terkenal sebagai lokasi transit untuk ke Singapura atau Johor Baru dari Indonesia. Padahal, banyak juga aktivitas menarik yang bisa dilakukan di Batam. Beragam jenis wisata lain ditawarkan oleh Pulau Batam. Berikut beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di Pulau Batam

Berburu Barang Murah di Nagoya

StockSnap / Pixabay

Batam sudah terkenal dengan barang-barang luar negeri dengan harga murah. Banyak orang yang berburu gadget, parfum, bahkan tas dengan harga miring di Batam karena Batam merupakan kawasan free trade zone, di mana semua barang tidak dikenakan pajak sama sekali. Di kawasan Nagoya, banyak berdiri toko-toko yang menjual tas branded dan parfum dengan harga murah. Untuk gadget dan elektronik lainnya, bisa dicari di Lucky Plaza yang juga berada di kawasan Nagoya.

Berkeliling Pantai Indah di Kota Batam

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Pulau Batam memiliki beberapa pantai-pantai indah seperti Pantai Nongsa, Pantai Marina, Pantai Melur, Pantai Melayu, dan Pantai Tanjung Bemban. Pantai di Batam umumnya memiliki pepohonan hijau yang eksotis dan hamparan pasir putih yang luas. Beberapa lokasi seperti Pantai Melayu dan Pantai Nongsa, menawarkan permainan banana boat. Pantai menjadi salah satu lokasi tujuan wisata di kota Batam, maka dari itu, banyak pula warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman berdiri. Jadi tak perlu khawatir kelaparan saat menikmati indahnya pantai di Batam.

Snorkeling bahkan Diving di Kawasan Pulau Abang

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Pulau Batam memiliki spot snorkeling dan diving yang indah. Salah satu spot snorkeling dan diving terbaik di sekitar Pulau Batam adalah Gugusan Pulau Abang yang terdiri dari Pulau Abang Besar, Pulau Rano, Pulau Hantu, dan Pulau Dedap. Air yang jernih dan visibilitas yang baik sangat mendukung untuk melakukan aktivitas Snorkeling maupun Diving di lokasi ini. Bagi pecinta olah raga air sekaligus ingin menikmati keindahan alam bawah laut, jangan lewatkan kesempatan untuk melihat beragam jenis karang berwarna-warni, teripang dan kerang yang ada di sekitar Pulau Abang ini.

Puas Makan Beragam Jenis Seafood di Tanjung Piayu

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Selain sop ikan, Batam memiliki makanan laut khas yang juga membuat saya rindu, yaitu Gonggong. Gong-gong adalah sejenis seafood laut yang menjadi makanan khas Batam. Sop Ikan umumnya ditemui di pusat kota Batam, seperti Sop Ikan Tian Huat, Sop Ikan Yongkee, Sop Ikan SOGOS, dan lainnya. Sementara itu, untuk urusan tempat makan seafood yang segar, enak, dan murah, Tanjung Piayu adalah juaranya. Berdiri di atas sebuah rumah panggung kayu, Tanjung Piayu menawarkan sensasi kesederhanaan makan seafood dengan cita rasa restoran seafood kelas atas. Rasa boleh diadu, harga ga bikin kantong kempes.

Belajar Sejarah ke Kampung Vietnam

Kampung Vietnam Batam (sumber : tribunnews.com)

Batam pernah menjadi area pengungsian masyarakat Vietnam saat terjadi konflik internal di Vietnam sekitar tahun 1979. Lokasi Kampung Vietnam ini berada di Pulau Galang. Kita bisa menuju area tersebut dengan melewati Jembatan Barelang. Wisata Kampung Vietnam ini patut untuk didatangi karena kita bisa melihat hasil kerja sama antara Pemerintahan Indonesia dengan PBB untuk membantu masyarakat Vietnam melalui pembangunan fasilitas lengkap di Pulau Galang mulai dari   barak-barak pengungsian, rumah sakit, sekolah, gereja, wihara, kantor polisi, bahkan penjara.

Ke Ocarina, Ancolnya Batam

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Ocarina Park adalah salah satu area wisata keluarga di kota Batam. Taman bermain seluas 40 hektar ini dibuka sejak tahun 2008 di tepi sebuah pantai. Terdapat area besar yang sering menjadi tempat acara seperti konser musik. Ada pula wahana-wahana yang cocok untuk menjadi area bermain anak-anak. Jika ingin bersantai, kita bisa duduk-duduk di tepi pantai sambil melihat ferry dari Batam ke Singapura yang berlalu lalang.

Berfoto di Jembatan Barelang dan Welcome To Batam

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Pulau Batam memiliki dua buah ikon yang menonjol yaitu tulisan Welcome To Batam yang berada di sebuah bukit, layaknya tulisan Hollywood di Los Angeles. Rasanya belum lengkap kalau ke Batam belum berfoto di tulisan ini. Selain itu, ada juga Jembatan Barelang. Jika akan melakukan snorkeling ke Pulau Abang atau mampir ke Kampung Vietnam, pasti kita akan melewati Jembatan yang memiliki arsitektur unik ini. Sehingga ada baiknya kita mengabadikan momen juga di sini.


New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Untuk liburan 3 hari 2 malam, rasanya sudah cukup untuk mengelilingi dan melakukan beragam aktivitas di Batam. Jadi, kalau ada libur di hari Jum’at atau Senin seperti di bulan Februari dan Maret mendatang, Batam bisa dijadikan salah satu tujuan liburan menarik loh. Kalau mau tau lokasi menarik lain di kota Batam, bisa juga cek blog Traveloka.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Untungnya, penerbangan dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang) ke Bandara Hang Nadim (Batam) sudah banyak dan langsung juga. Tanpa Transit. Seperti biasa, untuk pemesanan tiket atau hotel saya selalu mengandalkan aplikasi Traveloka yang banyak promo dan selalu menjadi yang termurah. Apalagi, sekarang Traveloka punya fitur layanan baru, yaitu pesan tiket pesawat dan hotel sekaligus. Saya pernah nyoba nih waktu liburan keluarga ke Yogyakarta beberapa waktu lalu, pesan paket pesawat+hotel secara bersamaan jauh lebih hemat dibanding pesan terpisah. Bahkan penghematannya bisa sampai 20% loh. Gak perlu isi kode promo apapun yang kadang suka lupa dilakuin di akhir pembayaran. Jauh lebih gampang langsung pilih pesan tiket pesawat + hotel di awal transaksi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Jadi mau ikutan liburan ke Batam juga ? Atau sudah punya rencana liburan ke tempat lain? Cari tiket pesawat dan hotelnya di Traveloka ya.

Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 2]

Selama libur 3 hari yang bertepatan dengan libur Natal yang lalu, saya sekeluarga main ke Pulau Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Sekilas tentang Pulau Bangka dan cerita liburan hari pertama bisa di baca di  Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 1]  dan ini adalah lanjutan cerita di hari kedua dan ketiga….

Day 2 (24 Desember 2017)

Hujan membasahi kota Pangkal Pinang pagi itu. Rencana ingin berenang pagi harus kandas. Rencana ingin ke Alun-Alun Merdeka untuk olah raga sepertinya juga pupus. Alhasil, malah malas-malasan di Menumbing Heritage Hotel sampai jam 9 pagi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Karena ingin ke pantai lagi, akhirnya kita menuju Sungailiat, tepatnya menuju Pantai Tongaci karena ada penangkaran penyu di sini. Sampai di Pantai Tongaci masih sedikit gerimis dan biaya masuknya Rp 5.000,-. Penangkaran penyu Tukik Babel memiliki kolam yang digunakan untuk penangkaran penyu, ada pula yang bentuknya keramba di dekat pantai. Kita bisa melihat langsung penyu-penyu yang berenang. Pada saat tertentu akan ada pelepasan penyu ke laut. Di sini terdapat 2 jenis penyu yaitu penyu hijau dan penyu sisik. Untuk informasi lengkap tentang Tukik Babel bisa mengunjungi Facebook Tukik Babel.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dekat dengan penangkaran penyu Tukik Babel, terdapat sebuah kompleks wisata De Locomotief. De Locomotief memiliki fasilitas berupa restaurant seafood, combi tiam (warung kopi dan minuman dengan tampilan vw combi), perpustakaan lengkap dengan area untuk anak bermain, art shop, art gallery, area pijat refleksi, museum, patung terracota dan binatang buatan, dan pantai tentunya. Untuk museum, anak-anak dilarang masuk. Jadi saya ga masuk karena ya ga enak aja cuma salah satu yang masuk anak ditinggal *ceritanya baik*. Sementara itu di art shop tidak boleh mengabadikan gambar sama sekali. Di area perpustakaan, ada tempat duduk dan bisa bersantai sejenak sementara anak main balok-balokan. Koleksi bukunya cukup lengkap dan beragam. De Locomotief penuh dengan hiasan payung jadul yang menggantung. Cukup instagramable lah bagi yang pandai mengambil foto atau paling tidak banyak spot untuk berfoto. Menutup kelaparan, kami memesan roti panggang khas Bangka dan kopi di Combi Tiam sebagai bekal menuju tujuan lainnya. Oh iya, di sekitar De’Locomotief ini tersedia beberapa pilihan watersport mulai dari Jetski, Banana Boat, sampai Snorkeling dan Diving.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Daerah Belinyu menjadi tujuan kami berikutnya. Sebuah daerah yang masih masuk Kabupaten Bangka dan berada di bagain utara pulau. Konon, banyak pantai di daerah ini, tapi yang paling utara adalah Pantai Penyusuk. Kami pun menuju ke sana. Butuh sekitar 1.5 jam lebih dari Sungailiat menuju Pantai Penyusuk. Harga tiket masuknya Rp 3.000,-. Ombak di Pantai Penyusuk terlalu besar. Konturnya masih sama, dipenuhi oleh banyak batu besar. Di sekitar pantai terdapat warung-warung yang menjual otak-otak atau mie instan. Hanya saja agak sedikit kurang terawat rasanya. Sempat menyimpulkan, kalau harga tiket masuk Rp 3.000,- jangan punya ekspektasi tinggi terhadap lingkungan pantai. Kalau harga tiket Rp 5.000,- bisa dapat pantai yang ada resto atau paling tidak lebih terjaga.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sebenarnya kami sudah kelaparan, tapi cari makan di sekitar Belinyu berakhir zonk karena entah kurang banyak referensi dan sinyal juga agag igig ga jelas. Akhirnya secepat mungkin kembali ke Pangkal Pinang karena Bojo juga merasa lebih baik makan di Pangkal Pinang yang lebih banyak pilihan. Akhirnya lewat Sungailiat pun sekedar lewat padahal ada restoran seafood yang menggoda karena ramai. Sempat mampir di daerah Merawang karena katanya ada Danau Kaolin dan berakhir zonk juga karena nyasar. Akhirnya kami sampai di depan BES Cinema, sebuah bioskop di Bangka yang di depannya ada area foodcourt. Penasaran dengan Tahu Kok, kami memesan Tahu Kok Yen Yen untuk mengganjal perut. Tahu kok seperti layaknya bakso namun penuh dengan bakso ikan dengan kaldu gurih. Kuahnya sedap dan sudah halal. Kenapa namanya Tahu Kok, mungkin karena selain bakso ikan kukus dan goreng, ada juga tahu dengan isian bakso ikan yang juga dikukus dan digoreng yang berada dalam semangkok masakan ini. Beruntungnya mampir di foodcourt, karena saking kelaparannya, kita bisa nambah lagi menu lain seperti nasi bakar.

 

 

 

Lelah menyetir membuat Bojo ingin leyeh-leyeh di hotel saja. Eh, tapi anak minta berenang. Akhirnya berenang juga di hotel. Malamnya kami mencoba restaurant seafood lain yaitu Fresh Seafood Aju. Restoran ini terkenal dengan menu Kepiting Asap dan Terong Telor Asin. Rasanya…..Mantcaaappp bana. Apalagi kalau minumnya Es Kiamboy. Asem-asem seger lah. Cuma, setelah itu pas bayar rasanya hmmmm…. berdua sekitar Rp 225.000,-. Cukup lumayan sih, mengingat menunya ad a kepitingnya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Keinginan mampir di Alun-Alun Merdeka batal karena penuh dan cukup susah dapat parkir. Akhirnya berburu oleh-oleh saja. Oleh-oleh wajib dari Bangka adalah Getas (seperti krupuk bulat yang teksturnya agak keras dan ikannya terasa), Kripik Telur Cumi, Rusip (fermentasi ikan), sirup jeruk kalamansi / jeruk kunci, , dan terasi tentunya. Sembari mengelilingi kota lagi, kami melihat jejeran pedagang buah durian di sepanjang jalan seberang kantor PT Timah. Tergoda untuk mencoba Durian Bangka, kami pun mampir. Sebuah pengalaman berbeda kami dapatkan saat jajan durian di Pangkal Pinang, penjualnya baik dan detail bertanya apa yang dimau.

Pedagang Durian (PD) : Silahkan kak, mau yang mana ?
 Bojo (B) : Kalo yang ini gimana kak? *menunjuk durian yang diletakkan di bawah bertuliskan 100ribu / 3 durian*
 PD : Itu, biasa aja kak, manis pahit. Kakak mau yang manis sedeng atau manis pahit? Kalau manis sedeng, kami kasih durian yang dagingnya kuning atau durian tembaga. Kalau yang manis pahit yang di bawah itulah, dagingnya putih.
 B : Yang manis biasa aja, jangan yang ada pahitnya.
 PD : Oke, kak, yang ini aja *dia ambil yang dipajang di atas* 40.000 satunya. 
 B : Yo, ambil dua ya kak
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya merasakan penyampaian informasi tentang per-durian-an ini penting. Biasanya kalau makan di Pasar Kuto Palembang cuma bilang, “yang manis ya kak, kalo gak puas, kami tukar”. Buat pelajaran aja, besok-besok requestnya “Yang manis, dagingnya kuning”. Selagi saya makan, ada ibu-ibu lain mau beli dan request detail “Mau duren manis, yang banyak dagingnya” dan pedagangnya menawarkan durian tembaga. Beberapa teman yang memiliki kerabat dari Bangka pernah menyampaikan kalau Durian Bangka lebih enak daripada Durian Palembang. Walau sama-sama lokalan (bukan Durian Bangkok), menurut saya itu benar adanya.

Hari kedua liburan di Bangka kesimpulannya adalah : Masih puas main di pantai dan makan enak.

Day 3 (25 Desember 2017)

Pesawat kami sekitar pukul 13.55 yang berarti harus cek in sekitar pukul 12.00. Cocok dengan waktu cek out. Kami memutuskan keliling kota Pangkal Pinang saja. Kami kembali mengelilingi kota dan mampir ke Museum Timah. Sebagai daerah penghasil timah di Indonesia dan lokasi di mana PT Timah berada, maka wajar rasanya kalau di kota ini berdiri Museum Timah. Di museum ini kita bisa belajar tentang sejarah tentang timah di Indonesia yang dimulai sejak penambangan zaman Belanda serta perkembangan teknologi saat ini. Biaya masuknya gratis juga.

Dari Museum Timah, saya berburu oleh-oleh lain sekalian mengganjal cacing di perut yang berteriak lagi. Otak-otak khas Bangka. Ada dua tempat yang terkenal yaitu Otak-Otak Ase dan Amui, namun yang kebetulan kami temui adalah Otak-Otak Amui. Harga satuan otak-otak bakar adalah Rp 2.500,-. Dengan dua sambal yang diberikan sambal yang agak asam (taoco) dan sambal yang agak berbau terasi. Otak-otak Bangka menurut saya beda dengan otak-otak Palembang, beda pula dengan Batam yang biasanya kecil-kecil, beda pula dengan otak-otak Bintan yang daun pembungkusnya beda. Otak-otak Bangka lebih harum. Menurut nenek (pengasuh Mahira yang jago masak), karna banyak santannya jadinya wangi. Penasaran deh, kapan-kapan nyoba bikin lah. Kalau khilaf.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Setelah itu, kami istirahat sebentar di hotel, lalu mengurus check out dan bergegas ke Bandara Depati Amir. Walaupun terbilang kecil, boarding gate hanya ada 2, tapi ruang tunggunya cukup memadai. Di area luar ada Dum-Dum Thai Tea, restaurant Kopi Tung Tau (selain kopi dan roti panggang ada menu lain juga), CFC Indonesia, dan Otak-Otak Asui. Bahkan ada Zoomoov, itu mainan semacam hewan-hewanan buat anak keliling bandara. Di ruang tunggu atas, ternyata makanan juga ada mulai dari restoran padang, Maxx Coffee, Bakso Lapangan Tembak, dan semacam mini market kecil. Ada playground untuk anak yang bersebelahan dengan Zoomoov.id tapi zoomoov untuk mewarnai gitu. Ada televisi yang menampilkan informasi tentang cuaca. Ada juga ruang untuk menyusui yang nyaman. Daaaaaaaaaaaan akhirnya Nam Air yang kami tunggu untuk membawa kami kembali ke Palembang mulai memanggil. Perjalanan ke Palembang lancar, sampai rumah juga lancar, lanjut cuci-cuci dan meneparkan diri karena besok langsung kerja.

Hasil dari 3 hari 2 malam di Bangka adalah : Ternyata kurang waktunya untuk eksplor sana sini. Pulau Bangka terdiri dari 5 kabupaten/kota, namun kami hanya terfokus di bagian Pangkal Pinang dan Kabupaten Bangka (Sungailiat). Kalau ada kesempatan naik mobil lalu menyebrang dengan Ferry, di Bangka Barat (Muntok) ada rumah yang pernah menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno, di Kabupaten Bangka Tengah juga banyak pantai dan kami belum sempat ke Danau Kaolin Koba yang ternyata ada di daerah ini, Pantai di Belinyu juga banyak yang belum kami lihat, wisata lain seperti kuil belum juga. Urusan kuliner, kami baru mencoba Mie Koba dan Roti Panggang khas Bangka aja, padahal pengen nyoba Lempah (seperti pindang tapi khas Bangka), belum nyoba lalapan pakai rusip, belum nyoba Martabak Bangka yang dijual di Bangka. Intinya sih, pengen ngulang lagi ke Bangka 🙂 Semoga ada kesempatan dan rejeki lagi.

Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 1]

Pulau Bangka merupakan bagian dari Provinsi Bangka Belitung, merupakan destinasi wisata yang umum didatangi oleh orang Palembang. Itu menurut saya sendiri ya. Beberapa hal yang mendasari asumsi saya adalah dulu Bangka Belitung merupakan bagian dari provinsi Sumatera Selatan, jadi ada kekerabatan gitu lah. Ketika awal saya pindah ke Palembang tahun 2011, Pulau Bangka jadi obyek wisata pantai yang paling mudah dijangkau karena ada kapal langsung dari Pelabuhan Boom Baru dan pesawat langsung ke Pangkal Pinang. Sekarang, ketika banyak destinasi penerbangan lain dari dan ke Palembang, intensitas pesawat ke Pulau Bangka juga meningkat.

Beberapa kali saya mendapatkan ajakan ke Pulau Bangka. Pertama di tahun 2012 bersama teman-teman se-perantau-an di Palembang. Satu rekrutmen bareng dari Bandung dan beberapa diantaranya mengontrak bersama. Salah satu teman kontrakan ini berasal dari Sungai Liat. Tapi ada juga ajakan teman kuliah untuk ke Singapore. Kangen teman kuliah dan pengen ngecap paspor lagi, akhirnya saya ke Singapore. Di tahun 2014, ajakan datang lagi dari teman-teman se-unit kerja. Eh, kok barengan sama rekrutmen yang lagi diikutin. Yaudah batal deh dan gagal lolos pula. Ah, elah.

Di bulan April 2017, saya dapat ajakan main ke Pulau Belitung. Secara nama memang Pulau Belitung rasanya lebih terkenal dari Pulau Bangka, terutama karena julukan Negeri Laskar Pelangi. Terus, entah kenapa saya ngerasa, ih, kok Bangka yang lebih deket belum pernah didatengin, malah Belitung udah pernah. Eh, pas pula sama muncul iklan hotel Menumbing Heritage. Penasaran nyoba nginep di sana dan akhirnya booking dapat tanggal 23-25 Desember 2017. Oke, hotel udah baru booking tiket pesawat.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dari Palembang ke Pulau Bangka sebenarnya bisa ditempuh dari 3 cara, naik pesawat langsung dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II ke kota Pangkal Pinang, (40 menit), naik kapal cepat dari Pelabuhan Boom Baru ke Muntok (+/-3 jam), atau naik ferry dari Pelabuhan Tanjung Api-Api ke Muntok. Secara harga, memang pesawat lebih mahal sih dari kapal cepat, tapi kadang bisa sama juga kalau pesan jauh-jauh hari. Kalau bawa mobil sendiri dan naik ferry, ada biaya untuk mobil sendiri dan itu juga lumayan, seharga satu tiket pesawat. Secara waktu, dari Palembang ke Tanjung Api-Api butuh waktu 2 jam lebih, dari Muntok ke Pangkal Pinang butuh waktu sekitar 3 jam. Alasan libur yang sebentar, anak masih kecil (khawatir cranky di perjalanan laut), bikin kami memilih naik pesawat aja. Penerbangan langsung dari Palembang ke Pangkal Pinang dioperasikan oleh beberapa maskapai mulai Wings Air, Sriwijaya Air, Nam Air, dan Garuda Indonesia dengan kisaran harga mulai 250.000 (kalau jauh-jauh hari) sampai 700.000-an (kalau mepet-mepet) sekali jalan.

Sejak berkeluarga, apalagi punya anak sendiri, tipe liburan saya sekarang santai aja. Gak ngoyo harus ke sana ke sini. Apalagi sekarang sudah banyak aplikasi pendukung liburan seperti Trip Advisor dan apa-apa bisa dicari di Google. Jadi, saya ga bikin itenary apapun. Hehehe. Berikut cerita perjalanan 3 hari 2 malam di Pulau Bangka. Akan dibagi jadi 2 bagian karena panjang 🙂

Day – 1 (23 Desember 2017)

Gerimis sisa hujan deras mulai menyapa kota Palembang pada pagi hari itu. Sejak semalam, saya mencoba memesan taxi Blue Bird dengan menu advance booking karena flight jam 07.55 artinya saya dari rumah harus pergi jam 06.15 paling lama. Dulu, awal Blue Bird masuk Palembang, nyari taxi ke bandara untuk flight pagi susah banget, kalau nelpon mendadak sering ga dapat, kalau nelpon malam sebelumnya malah nawarin jemput pagi banget biasanya. Dengan fitur advance booking, kita bisa pastikan bookingan kita telah tercatat dan benar saja, sekitar jam 06.00 driver Blue Bird sudah menghubungi saya.

Boleh dibaca : Mau Keliling Palembang, Pake Blue Bird Aja


New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Proses check in termasuk cepat. Sayangnya ternyata pesawat didelay sampai batas waktu yang belum diketahui. Beruntungnya karena delay saya jadi bisa mencoba Nursing Room yang ada di Bandara SMB II ini, foto-foto sama maskot Asian Games 2018, foto di Rumah Limas, dan jajan Chatime. Untuk area playground anak di ruang tunggu bandara masih sedikit kotor, tapi sudah lebih rapi dibanding bulan September lalu. Akhirnya panggilan boarding datang dan penerbangan pun mulus selama 40 menit. Rasanya baru naik, duduk, dikasih snack dan minum, eh udah dikasih tau siap mendarat aja.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sampai di Bandara Depati Amir Pangkal Pinang, kira-kira sekitar pukul 10.00. Kebetulan saya menyewa mobil dari Bangka Tour (0812 8298 8898 / 0852 6999 9927) dan lokasi pengantaran mobil di bandara. Harga sewa mobil per hari tanpa supir adalah Rp 350.000,-. Sambil menunggu transaksi selesai, saya sempat foto-foto dulu di sekitar Bandara Depati Amir.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Dari bandara, tujuan pertama kami adalah mengisi tenaga di Mie Koba Iskandar. Mie Koba merupakan mie khas Bangka yang terdiri dari mie kuning dan tauge yang disiram dengan kuah ikan. Saat datang di pagi hari, warung mie ini tidak terlalu ramai. Mie kuningnya terasa kenyal dan kuah ikannya sedap sekali. Topping bawang goreng juga semakin menggugah aroma. Oh ya, walaupun kuahnya ikan, saya sama sekali tak merasakan bau amis, malah ada rasa manis-manis gurih gitu deh. Sebagai teman makan mie ini, di meja disediakan telur rebus sementara itu untuk menghilangkan seret setelah makan mie kita bisa minum air mineral kemasan gelas yang tersedia di meja atau teh botol yang bisa diambil dari cooler box. Sebuah keunikan terjadi saat membayar.

Bojo (B) : Mba, mau bayar, mie nya dua..
 Mba-Mba Mie Koba (M) : Empat puluh ribu..
 B : Tambah telor dua
 M : Empat puluh ribu
 B : Teh botolnya juga dua
 M : Empat puluh ribu

Bojo pun bingung harga telor dan teh botol aslinya berapa di sini. Jadi anggap saja begini, makan di Mie Koba Iskandar ini seporsi Rp 20.000,-. Daripada nyesel makan kurang kenyang, mending tambah telor. Abis makan biasa seret dan haus kan ya, jadi mending sekalian pesan minum aja.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Selepas makan Mie Koba, kami meluncur ke Bangka Botanical Garden (BBG), yang merupakan kawasan agrowisata di kota Pangkal Pinang. Kawasan BBG terdiri dari beberapa bagian antara lain hutan pinus, perkebunan, peternakan sapi, saung untuk makan di area BBG cafe, restaurant, dan warung susu sapi segar. Sebenarnya di area peternakan sapi, pengunjung bisa melihat proses pemerahan sapi langsung. Namun, menurut informasi pemerahan dilakukan pukul 08.00 pagi atau 14.00 siang. Kalau tidak bisa melihat proses pemerahan susu sapi, kita bisa memberi makan sapi-sapi secara langsung. Sebuah pengalaman yang juga akan disenangi oleh anak-anak. Di area perkebunan, kita bisa memanen langsung hasil kebun dan membelinya nanti. Kawasan BBG ini kerap dijadikan area untuk pre-wedding juga. Sehingga saya pun tak lupa berfoto-foto. Terakhir, jangan lupa menikmati susu segar yang warungnya berada persis di depan pintu masuk/keluar BBG. Bisa buat bekal perjalanan. Biaya masuk BBG masih gratis, namun saat memberi makan sapi bisa memberikan uang ke kotak untuk mendukung biaya perawatan. Makan atau jajan susu segar juga bisa membantu mendukung area wisata ini.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Tempat wisata yang bisa dikunjungi dekat dengan BBG adalah Pantai Pasir Padi. Hanya sekitar 5 menit dari BBG, kita akan masuk ke area Kawasan Pantai Pasir Padi. Biaya masuk sekitar Rp 4.000,-. Pantai Pasir Padi termasuk pantai dengan garis pantai yang panjang. Areanya sudah dilengkapi WC Umum, warung di sekitar, Restaurant Seafood, bahkan ada juga resort yang sedang dibangun. Sayangnya, di akhir bulan Desember, laut sedang pasang dan ombak pun cukup kencang sehingga tak tampak banyak orang yang bermain di pantai ini.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Tak terlalu lama di Pantai Pasir Padi, kami mencoba mencari hal menarik yang ada di dekat area ini. Ternyata ada Jembatan Emas. Jembatan Emas ini sangat jelas terlihat saat kita akan mendarat di Pulau Bangka. Merupakan sebuah ikon wisata baru di Pulau Bangka yang merupakan jembatan dengan sistem buka tutup. Saat datang kesana, jembatan ini sedang terbuka. Banyak juga yang datang untuk foto-foto dengan latar belakang jembatan ini.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Tiba saatnya cacing di perut meronta minta asupan makanan. Namanya juga trip labil, kami kembali ke area kota Pangkal Pinang dan berakhir makan di Restauran Mr. Adox setelah sholat dhuhur terlebih dahulu. Restoran Seafood Mr. Adox ini berada di simpang jalan. Sangat mudah ditemui dari arah bandara menuju pusat kota. Restoran ini cukup besar dan termasuk populer di Pangkal Pinang. Di salah satu sisi terpampang foto-foto orang penting yang pernah datang ke sini. Halaman resto terbilang cukup untuk menampung banyak mobil. Pelayanan juga sigap. Kalau dirasa-rasa sih, secara harga dan namanya juga restaurant ya, jadi memang sedikit mahal dan porsinya pun tak terlalu besar. Tapi secara rasa emang bikin puas sih. Udang plus petenya, mantapppppp! Ya, setelah itu sih sempat kaget saat tagihan sekitar Rp 200.000, untuk berdua.

 

Kenyang makan, kayaknya perlu aktivitas lain nih. Check in di hotel belum bisa. Akhirnya kami menuju Sungailiat, Kabupaten Bangka. Di Sungailiat, pilihan pantai pun semakin banyak. Salah satu yang paling terkenal adalah Pantai Parai Tenggiri. Sudah mengikuti petunjuk jalan, tapi kami ragu kenapa diarahkan ke resort. Ternyata memang Pantai Parai Tengiri ini bagian dari resort Pantai Parai Beach & Resort dan dikelola secara khusus. Untuk masuk area resort sih boleh saja, ada restaurant juga. Tetapi, kalau mau masuk area pantai harus membayar lagi Rp 25.000,-. Sebelumnya kami sempat menyasar sebentar ke Pantai Matras dan bermain di sana sebentar saja. Ombak cukup besar, tetapi tak menghalangi foto-foto. Di area Pantai Matras sedang ada pembangunan juga. Warung dan tempat bilas dapat ditemui di sekitaran pantai ini. Masuk ke kawasan Pantai Matras dikenakan biaya Rp 3.000,-.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dari Pantai Parai, kami berniat kembali ke Pangkal Pinang lagi. Eh, kok ada motor masuk sebuah jalan kecil. Bojo curiga, dan bilang, biasanya kalau orang jalan naik motor nemu pantai bagus tuh. Yasudah, kami ikuti dan menemukan fakta, sebenarnya pantai di Pulau Bangka memiliki kontur mirip dengan pantai di Pulau Belitung yang didominasi batuan besar dan tinggi. Tapi sepertinya memang secara pengelolaan lebih baik di Pulau Belitung.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Menuju Pangkalpinang, kami melalui jalur yang berbeda saat menuju Pantai Parai. Memilih Jalan Laut di Google Maps, membawa kami menemukan Pantai Batu Bedaun. Pantai ini sepertinya sedang dalam pengembangan untuk dibangun resort. Kami menemukan sebuah restaurant yang cukup besar dengan area permainan di sekitarnya. Karena baru saja makan seafood, kami pesan yang normal saja : Nasi Goreng Seafood dan Mie Goreng Seafood. Enaknya makan di restauran pantai dengan area permainan yang cukup, waktu menunggu jadi tak berasa karena anak bisa bermain ayunan atau bermain pasir. Secara rasa sih, enak sayang terlalu banyak minyak di makanannya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Selesai makan, Mahira mulai ngantuk dan waktu juga sudah menjelang sore. Akhirnya kali ini beneran kembali ke Pangkal Pinang tanpa mampir-mampir lagi. Saat menuju Hotel Menumbing Heritage, kami melewati Alun-Alun Merdeka yang sudah ramai sore itu. Mau mampir tapi badan lengket. Akhirnya diputuskan cek in di hotel dulu dan besok pagi saja sekalian olah raga.

 

Baca juga : [Review] Menumbing Heritage Hotel, Penginapan dengan Bangunan Bersejarah di Pangkal Pinang

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Malamnya kami mencoba Warung Ikan Bakar Bogi-Bogi. Sebuah warung kecil yang sempat saya baca sekilas saat menuju hotel sore hari. Walaupun warungnya kecil, tapi ternyata di malam hari cukup ramai. Pengunjung bisa memilih ikan yang dimau, beragam ikan laut seperti kakap merah . Setelah itu bisa dipilihkan juga mau dimasak apa. Kami request dibakar saja. Sebagai pendamping, ditawarkan pula kangkung dengan pilihan mau ditumis balacan (terasi) atau bawang putih. Ikan bakar pun datang bersama dua jenis sambal, salah satunya adalah sambal dabu-dabu. Rasanya, pas asem-asem pedes gitu. Harganya juga ramah di kantong. Makan berdua dengan dua ikan plus minum sekitar Rp 100.000,-. Kenyang, murah, enak. Tapi berhubung ramai ya kudu sabar dikit.

Kelar makan, kami semua kenyang dan berakhir keliling kota aja malam-malam lanjut ke hotel terus tidur pulas………

Jangan lupa baca lanjutannya 😀 di Asyik-Asyik Jos…Liburan 3 Hari di Bangka [Part 2]

 

[Review] Menumbing Heritage Hotel, Penginapan dengan Bangunan Bersejarah di Pangkal Pinang

Di tahun 2017, beberapa kali saya melihat sponsored post di Instagram tentang adanya promosi sebuah hotel di Pangkal Pinang. Saya pun beberapa kali melirik akun instagram Menumbing Heritage Hotel ini.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Melihat desain hotel yang klasik sangat menarik perhatian saya. Mumpung libur long weekend banyak di bulan Desember 2017, saya coba membooking kamar dan dapatlah kita di tanggal 23 – 25 Desember 2017. Baru setelah itu saya merencanakan libur ke Bangka. Hehehe.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Menumbing Heritage Hotel adalah sebuah hotel yang bisa dibilang baru di Pangkal Pinang. Berlokasi di Jalan Gereja, Pangkal Pinang, hotel ini berada di pusat kota secara persisnya ada di dekat sebuah pasar. Jika dihitung jaraknya dari Bandara Depati Amir, berkisar 9km dan dapat ditempuh sekitar 20 menit. Ketika pertama kali datang ke hotel ini, saya merasakan masuk ke dalam sebuah benteng. Menumbing Heritage Hotel seperti sebuah bangunan yang berbeda dibandingkan bangunan lain di sekitar dan terlihat tertutup bagian dalamnya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Desain bangunan tua yang diperbaharui sangat terasa ketika memasuki halaman Menumbing Heritage Hotel. Jendela dan pintu besar juga menambah kesan bangunan tua. Sentuhan modern terasaa melalui warna putih terang mendominasi bangunan sementara lantainya berkeramik warna hitam putih.  Jika membaca sejarah yang tertulis di salah satu bagian dinding bangunan hotel ini, Menumbing Heritage dulunya adalah markas militer sebelum dijadikan hotel pada tahun 1980 oleh Bapak Ishak Boentaran. Pada tahun 2012 dimulai rekonstruksi hotel sampai menjadi hotel yang lebih modern namun tetap bersejarah bahkan menjadi ikon dari kota Pangkal Pinang pada saat ini.

 

Sebuah penunjuk tanggal dengan desain kuno terpampang di meja resepsionis. Di sebelah ruangan resepsionis terdapat ruangan business center dengan meja besar layaknya meja untuk rapat dan rak penuh buku-buku. Pelayanan yang diberikan oleh resepsionis sangat ramah dan cepat. Sebelumnya, saya sempat menelepon hotel ini beberapa hari sebelumnya karena berdasarkan petunjuk di Traveloka, akan lebih baik menelepon hotel dahulu sehari sebelum cek in. Setelah meminjamkan KTP dan mengisi data tamu, saya pun menuju ke kamar. Oh ya, di hotel ini saya tidak diminta untuk melakukan deposit dana terlebih dahulu. Seperti hotel lainnya, waktu check in dimulai pada pukul 14.00 dan check-out paling lama pada pukul 12.00.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saat berjalan menuju kamar, saya melihat interior hotel yang dipenuhi oleh foto-foto tua dengan bingkai yang besar. Di dekat lift terdapat jejeran kebaya encim dibingkai rapi sebagai cerminan adanya pengaruh budaya Tionghoa di Bangka. Yang menarik dari hotel ini adalah lift yang memiliki pintu kaca layaknya pintu sebuah ruangan. Kita harus membuka pintu lift dengan menariknya, bukan pintu geser otomatis yang biasa ditemui di lift pada hotel atau bangunan lain. Tenang, ada sensor pastinya agar tetap aman. Sebuah tulisan menjelaskan kalau memang lift didesain khusus untuk bangunan ini. Sempat saya bersama pengunjung lain yang mengungkapkan bahwa lift ini bukan untuk orang, tapi untuk barang. Saya pun hanya tersenyum saat mendengarnya. Semua hotel memang punya keunikan sendiri, termasuk Menumbing Heritage yang memiliki lift unik.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Saya mendapatkan kamar 214, tipe Superior (sebenarnya yang paling standar di hotel ini) dengan kisaran harga 400.000. Sempat membandingkan antara booking langsung di web hotel dengan menggunakan kode diskon versus booking di Traveloka ternyata harganya mirip-mirip. Tipe superior ini memiliki luasan kira-kira 20 m2 dengan sebuah single bed besar (tipe queen) serta sebuah meja kerja lengkap dengan kursinya. Di salah satu sisi juga terdapat rak tinggi yang berisi deposit box, cooler (mini bar gratis berupa teh kotak merek teh botol sosro), air mineral, serta cangkir dan heater lengkap dengan kopi sachet dan teh yang dapat diseduh sendiri. Pada tempat tidurnya sendiri disediakan 2 pasang bantal, sehingga cukup untuk perang bantal, eh. Wi-fi terdapat di setiap lantai dan koneksi cukup cepat. Televisi yang menempel di dinding dan menghadap tempat tidur menawarkan aneka channel lokal dan internasional untuk memanjakan tamu yang ingin bersantai di kasur sambil nonton tv layaknya di rumah.

Nuansa putih terang kembali terasa saat memasuki kamar mandi. Terdapat area terpisah (ada pembatas khusus) untuk mandi dengan shower , wastafel, dan closet duduk. Perlengkapan mandi mulai dari sikat gigi, bath foam, shampoo, sabun batangan, shower cap, dan shaving kit pun tersedia di dekat cermin di atas wastafel. Oh iya, cermin hanya bisa ditemui di kamar mandi saja ya. Saat mencoba air panasnya, cukup cepat ‘loading‘nya untuk menjadi hangat atau sesuai suhu yang diinginkan. Sedikit minus yang ditemui adalah air di wastafel agak lama turun, sedikit mudah tergenang. Selebihnya nyaman-nyaman saja. Handuk diberikan 2 pasang dengan kondisi yang bersih.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Di sisi lain bangunan hotel, terdapat bangunan yang difungsikan sebagai Menumbing Resto & Bar. Nuansa di restoran ini dipenuhi oleh warna monokrom mulai dari lantai sampai dengan meja dan kursi. Kolam renang terdapat di sebelah restoran dengan pilihan kedalaman mulai dari 1 meter, 1.5 meter, hingga 2.2 meter. Ada pula kolam anak dan yang bagusnya terdapat pembatas yang jelas antara kolam anak dengan kolam untuk dewasa (atau yang memiliki kedalaman lebih dari 1 meter). Mahira berenang 2 kali, di sore hari dan di pagi hari. Bahkan ia tak fokus sarapan karena melihat kolam renang terus sambil mengkode ingin berenang.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Sarapan di Menumbing Heritage Hotel cukup variatif. Terdapat area khusus makanan ‘berat’ seperti nasi goreng, nasi uduk, dan aneka lauk. Di area yang sama terdapat pula station Mie Bangka, Roti Panggang khas Bangka & Waffle dengan aneka rasa, serta Egg Station. Petugas dapur ini siap melayani pemesanan menu tersebut. Di area lainnya, terdapat meja yang menghidangkan salad, sereal, roti tawar dan berbagai selai, pastry, buah, serta beberapa minuman seperti jus nanas, air mineral, dan susu kedelai. Untuk cita rasanya sendiri, saya sangat senang dengan Mie Bangka. Sebenarnya mirip dengan mie ayam di Palembang sih, tapi rasanya lebih sedap kuahnya karena bawangnya lebih terasa. Apalagi kalau ada tambahan pangsit dan cakwe.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Karena saat liburan kemarin bertepatan dengan libur perayaan hari natal, Menumbing Heritage Hotel pun didekorasi dengan hiasan khas natal seperti adanya pohon natal yang berdiri di ruang lobby (atau ruang tamu) lantai 1. Di dinding ruangan tersebut terdapat sebuah perapian kecil yang membuat saya penasaran apakan display digital atau bukan. Dinding lainnya terdapat peta Pulau Bangka. Selain lift terdapat pula tangga kayu yang menghubungkan antar lantai. Di lantai 2 juga terdapat area duduk-duduk dengan sofa besar panjang yang tentu saja cocok untuk berfoto.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Walaupun bangunan Menumbing Heritage Hotel berasal dari bangunan tua, kesan modern lebih mendominasi di hotel ini. Kerapian dan kebersihan hotel pun terjaga. Pelayanan yang saya rasakan juga baik, pantas saja hotel ini meraih penghargaan dari Traveloka dan Trip Advisor. Menumbing Heritage Hotel cocok untuk liburan keluarga. Bagi penikmat suasana tenang, hotel ini layak dipilih. Bagi yang suka melancong ke pasar, di sekitar hotel juga ada pasar tradisional yang bisa didatangi dengan berjalan kaki. Menumbing Heritage Hotel cocok untuk liburan keluarga maupun bersama teman-teman atau rombongan. Sebuah paket lengkap, area untuk berfoto yang bagus, makanan yang nikmat, dan tentu pelayanan yang ramah. Excellent.

Bagi yang ingin melihat detail dari Menumbing Heritage Hotel, bisa mengecek website maupun instagram resmi dari Menumbing Heritage Hotel.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Menjejak Dieng Negeri di Atas Awan, Tempatnya Para Dewa

Sebagai keluarga perantauan, mudik menjadi saat-saat yang menyenangkan karena kita bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Biasanya, kita akan bernostalgia dengan kampung halaman atau mungkin hanya bersantai di rumah saking kangennya sama keluarga. Rasanya ketika mudik malah ke luar rumah untuk bermain rasanya agak gimana gitu, gak enak sama keluarga. Hal itu pun biasanya saya lakukan. Kalau mudik ke Purbalingga, paling main cuma ke Purwokerto yang kurang lebih ditempuh dalam waktu 30 menit.

Biasanya mudik dilakukan di waktu tertentu seperti lebaran atau liburan sekolah. Namun, waktu-waktu tersebut biasanya jadi momen ‘rebutan’ cuti dengan rekan kerja lainnya. Berhubung anak belum sekolah, saya dan suami biasanya mengambil jatah cuti bukan saat liburan sekolah. Sayangnya, hal ini jadi gak sinkron sama kondisi di rumah. Ibu masih mengantar adik ke sekolah, keponakan juga masih sekolah. Akibatnya, di rumah jadi sepi dan malah pengen main-main ke luar rumah.

Sebenarnya di daerah Purbalingga sendiri banyak wisata alam seperti curug, kebun strawberry, atau tempat lainnya. Bisa cek di instagram Wisata Purbalingga ini. Tapi, saya pengen mencoba ke tempat lain. Setelah labil mau ke pantai di Cilacap atau daerah gunung di area Banjarnegara dan Wonosobo, akhirnya kami memutuskan ke Dieng saja karena Bojo pengen makan Mie Ongklok di Wonosobo.

***

Dieng, Negeri di Atas Awan

Dataran Tinggi Dieng, sering dikenal dengan nama Dieng saja, adalah salah satu kawasan yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Kawasan Dieng ini masih merupakan kawasan vulkanik (gunung berapi) aktif. Di pertengahan bulan September lalu, Kawah Sileri, salah satu kawah di Dieng sempat dinyatakan sedang aktif dan memiliki status waspada.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Jarak Purbalingga ke Dieng sekitar 90 km, kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobil yang kami tempuh melalui jalur arah Banjarnegara. Untuk wisatawan lain, menuju Dieng jika dari Jakarta dapat menggunakan kereta melalui Purwokerto lalu dilanjut bis ke arah Wonosobo. Bisa juga bis langsung menuju Wonosobo dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Suguhan alam asri khas pegunungan dengan sawah yang membentang akan tampak saat mendekati Dieng. Jalanan memang berkelak kelok naik, namun tak terlalu membuat pusing atau tak nyaman di kendaraan.

Dataran Tinggi Dieng memiliki ketinggian 2.093 mdpl dan berasal dari bahasa sansekerta yaitu ‘Di’ yang memiliki arti tempat tinggi dan ‘Hyang’ yang memiliki arti kayangan. DiHyang alias Dieng dapat diartikan sebagai tempat tinggi untuk dewa dan dewi tinggal. Begitu memasuki kawasan Dieng, rasanya hawa dingin semakin terasa. Sempat saya mematikan Air Conditioner (AC) di mobil dan membuka jendela untuk menikmati udara segar khas pegunungan.

Kawasan Wisata Dieng memiliki beberapa tempat yang dapat dituju untuk melihat keindahan alam seperti kawah untuk melihat aktivitas vulkanik (Candradimuka, Sibanteng, Siglagah, Sikendang, Sikidang, Sileri, Sinila, dan Timbang), Telaga atau danau (Telaga Warna, Telaga Cebong, Telaga Merdada, Telaga Pengilon, Telaga Dringo, dan Telaga Nila), Gunung di sekitar yang dapat dinaiki sampai puncak ( Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Prau, Gunung Pakuwaja, Gunung Sikunir), serta kawasan candi untuk wisata sejarah (Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Dwarawati, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca). Awalnya ibu saya sempat menyarankan, kalau ingin melihat matahari terbit, lebih baik menginap di kawasan Dieng lalu sekitar jam 3 pagi ke arah Gunung Sikunir. Hanya saja mengingat anak yang masih 1,3 tahun rasanya hal itu terlalu memaksakan. Akhirnya, hanya beberapa area saja yang kami datangi di Dieng ini.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang termasuk daerah yang paling mudah dikunjungi dan dicapai karena medannya tidak terlalu berat. Saat saya datang, rombongan wisatawan asing juga datang dengan menggunakan bis. Sebelum memasuki area Kawah Sikidang ini, kita memasuki pasar yang berisi oleh-oleh khas Dieng seperti krupuk kentang, carica, purwaceng, serta sayuran khas Dieng seperti cabai dan kentang.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Bagi yang memiliki minat terhadap fenomena alam dan sains tentu akan sangat senang berkunjung ke kawah inikarena dapat melihat aktivitas vulkanik secara langsung. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menyusuri kawah dengan jalan kaki atau motor trail. Ada juga beberapa spot untuk foto-foto namun rasanya justru tidak menambah keindahan kawasan ini.

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna berada di satu kawasan yang searah dengan Kawah Sikidang. Komplek candi ini terdiri dari beberapa candi yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Dwarawati, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca yang merupakan candi-candi Hindu.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Secara arsitektur, candi di kawasan ini cenderung sederhana dan ukurannya tak terlalu besar. Di kawasan ini terdapat hamparan halaman yang luas yang bisa kita gunakan untuk bersantai karena dari area pintu masuk kawasan candi sampai area candinya sendiri kita perlu jalan sekitar 5 menit. Tiket masuk kawasan Candi Arjuna dan Kawah Sikidang hanya Rp 15.000,- saja. Cukup murah ya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat di Dieng

Dieng merupakan daerah kawasan dataran tinggi. Tentunya, suhu dingin akan sangat terasa di daerah ini. Oleh karena itu, akan lebih baik jika membawa jaket untuk mengurangi rasa dingin, apalagi kalau bawa anak kecil, kita akan cenderung lebih memberi proteksi lebih untuk mereka.

Karena kawasan kawah Dieng masih cukup aktif dan mengandung belerang, ada baiknya kita memakai masker. Tenang, di area kawah ada penjual masker kok. Kita bisa membeli dengan harga yang cukup terjangkau.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Dieng memiliki kentang dan sayuran khas. Kentang Dieng berukuran kecil-kecil. Harga per bungkus cukup murah, sekitar 10.000 rupiah. Rasanya tak perlu menawar lagi, apalagi kalau melihat penjualnya adalah nenek-nenek 🙂 Kentang khas Dieng ini berbeda dengan kentang rendang walaupun ukurannya mirip. Saya biasanya mengolah dengan cara mengukus, lalu ditumis dengan butter, bawang, seledri, serta sedikit garam dan lada. Oleh-oleh lain yang bisa dibeli adalah manisan carica (buah khas Dieng), aneka kripik dan krupuk, edelweis, dan banyak lagi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Di sekitar Dieng terdapat penginapan. Banyak homestay di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Dieng.

Menuju Wonosobo untuk Makan Mie Ongklok
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Mie Ongklok menjadi salah satu kuliner wajib ketika berkunjung ke Dieng. Mie Ongklok yang menjadi favorit banyak orang, termasuk saya adalah Mie Ongklok Longkrang di Wonosobo. Sebenarnya Mie Ongklok juga bisa ditemui di sekitar kota Banjarnegara, hanya saja cita rasa kuahnya berbeda. Mie Ongklok Longkrang yang konon sudah ada sejak tahun 1975 ini sudah masuk dalam rekomendasi Trip Advisor juga.

Mie ongklok adalah mie dengan kuah kental yang lezat. Mie kuningnya cukup lembut dan kuahnya pun sangat lezat dan hangat. Cocok untuk udara Wonosobo yang dingin. Kuah kental berwarna coklat tersebut berasal dari tepung tapioka dan diolah dengan campuran sayur kol. Rasanya cenderung manis gurih. Sajian lain yang ditawarkan untuk menemani makan mie ongklok adalah Sate Daging Sapi. Irisan daging sapinya tak terlalu besar dengan kuah pendamping kuah kacang yang sangat halus. Selain itu ada juga tempe kemul alias tempe selimut. Ya, kemul artinya selimut dalam Bahasa Jawa. Tempe kemul memiliki irisan tempe yang tipis, namun tepung yang banyak dan kering dengan taburan potongan daun kucai.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Mie Ongklok Longkrang ini dapat dibawa pulang dan jika ingin menikmati di rumah, cara menghangatkannya cukup unik. Yang dihangatkan adalah mienya bukan kuahnya. Mie kuningnya biasa dibungkus dalam plastik, lalu plastiknya kita bolongi dengan garpu dan dimasukkan ke dalam air panas atau air hangat. Setelah itu mie dapat dicampurkan dengan kuah dan kuahnya juga akan menjadi hangat juga lalu siap dinikmati. Tempe kemul juga wajib dibawa pulang untuk teman ngemil sepanjang perjalanan Wonosobo – Purbalingga.

***

Setelah pulang ke Purbalingga, terdapat penyesalan sedikit karena saya tidak membawa pulang kentang Dieng cukup banyak. Semoga jika mudik lagi, saya berkesempatan mampir ke Dieng lagi. Ingin memborong kentang 🙂 Dieng memiliki banyak pesona bahkan ada event tahunan Dieng Culture Festival. Rasanya ingin kembali ke Dieng dan berkeliling ke area wisata yang lebih banyak lagi.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Serunya Wisata Alam dan Budaya di Kabupaten Magelang

Dalam perjalanan menggunakan Batik Air pada bulan Desember ini, saya melihat satu halaman penuh ajakan berwisata di Magelang yang terdapat di dalam In-Flight Magazine Batik Air.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Ingatan saya kembali ke 10 tahun yang lalu, saat saya bersekolah di  Magelang. Secara geografi,  Magelang dikelilingi oleh rangkaian pengunungan mulai dari Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Guning Sumbing, dan Pegunungan Menoreh. Karena pengaruh geografinya, saat sekolah di Magelang dulu, saya merasa suhu di sana sejuk sekali, bahkan sering sekali saya ketiduran di kelas.

Kabupaten Magelang tak hanya memiliki potensi wisata alam saja. Wisata budaya pun dapat dilakukan mengingat Candi Borobudur, yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, juga berada di kawasan ini. Kabupaten Magelang pun dapat menjadi alternatif pilihan liburan keluarga atau teman-teman karena semakin banyak aktivitas wisata yang ditawarkan. Dengan alam yang indah, serta beberapa cagar budaya, berikut ini aktivitas yang dapat dilakukan di Kabupaten Magelang :

Mengarungi Kali Elo dan Kali Progo dengan Berbagai Variasi Jeram

Kabupaten Magelang memiliki wisata alam Kali Elo dan Kali Progo yang berada di dekat Candi Borobudur Magelang. Keduanya memiliki variasi jeram dengan berbagai grade sehingga membuat aktivitas arung jeram ideal untuk dilakukan di sini. Selain itu, karakter aliran dan banjir yang relatif stabil dan aman juga membuat kegiatan arung jeram di Kali Elo mauun Kali Progo bisa dilakukan di semua musim, baik kemarau maupun hujan.

Arung jeram atau rafting adalah kegiatan mengarungi alur sungai yang berjeram / riam dengan menggunakan perahu karet. Di sekitar Kali Elo maupun Kali Progo, sekarang telah banyak provider wisata arung jeram. Harga dan fasilitas layanan yang ditawarkan relatif sama meliputi asuransi, sewa perlengkapan dan peralatan, pengarungan di Sungai elo bersama 1 River Guide tiap boat, transport lokal dari Base Camp ke Start Point, konsumsi, dan sertifikat.

Menikmati pengarungan seru sepanjang kurang lebih 10 km di kedua kali tersebut akan lebih baik jika bersama-sama rombongan keluarga atau teman-teman.

Tubing Santai di Kali Mangu

Kalau berada dalam rombongan yang tak terlalu banyak orang atau mungkin sendiri, kegiatan tubing dapat menjadi pilihan. Tubing adalah kegiatan untuk menikmati aliran air sungai berarus ringan dengan menggunakan media karet ban dalam truk. Beberapa orang, tubing bisa dikatakan mini rafting atau rafting dengan skala kecil.

Kegiatan Tubing dapat dilakukan di Kali Mangu, Desa Senden, Kecamatan Mungkid. Kali Mangu merupakan salah satu dungai yang alirannya berhulu di Gunung Merbabu dengan karakter yang tenang dan aman untuk dilewati. Terdapat beberapa spot jeram dalam pengarungan tubing sepanjang 2-3 km yang dapat memacu adrenalin dan menantang.

Kegiatan Tubing di Kali Mangu dikelola secara mandiri oleh pemuda sekitar. Kita dapat melakukan reservasi terlebih dahulu. Fasilitas yang ditawarkan antara lain baju pelampung / body protector dan helm khusus, ban untuk tubing yang telah dimodifikasi dengan aman, transport lokal dari basecamp ke start point, konsumsi, dan sertifikat. Guide lokal pun tentunya sudah profesional. Selain itu aktivitas tubing juga bisa dilakukan di Kali Gono atau Sungai Blongkeng.

Menikmati Gunung Merapi dengan Fun Off-Road

Ingin menikmati wisata alam dan adrenalin sekaligus namun di darat? Fun-Off Road di area Taman Nasional Gunung Merapi dapat menjadi pilihan. Daerah ini memiliki trek menantang dan pemandangan alam yang memesona.

Terdapat penyedia jasa wisata Fun Offroad di sekitar Muntilan ini. Kita dapat menyewa jeep dan memilih paket. Biasanya perjalanan dimulai dari Munitilan menuju kawasan Srumbung, Taman Nasional Gunung Merapi. Perjalanan selama 15 kilometer ditempuh dengan waktu sekitar 3-4 jam.

Selama perjalan dengan mobil Jeep, kita akan disuguhkan pemandangan perkebunan yang hijau, jalan terjal bekas penambangan pasir, tebing-tebing yang menunjang tinggi bekas eksploitasi alam Merapi, serta sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

Setelah menikmati perjalanan, para wisatawan akan dipersilahkan beristirahat di kawasan Jurang Jero, Srumbung. Wisatawan akan diajak melakukan konservasi alam dengan menanam pohon di Randu Ijo sebagai penutup dari petualangan di sekitar Taman Nasional Gunung Merapi.

Berburu Golden Sunrise di Gunung Andong

Terletak di Girirejo, Kecamatan Nglabak, Kabupaten Magelang, Gunung Andong memiliki ketinggian 1.726 mdpl. Gunung ini terkenal ramah dan memiliki jalur yang tidak berat. Terlebih lagi, pemandangan yang disajikan juga indah. Kita tahu, belakangan gunung juga menjadi salah satu tujuan untuk melakukan petualangan atau mengisi masa liburan. Gunung Andong dapat menjadi pilihan yang tepat karena tidak terlalu tinggi sehingga cocok juga untuk pendaki pemula.

Untuk sampai ke puncak Gunung Andong, pendakian dapat ditempuh melalui Dusun Sawit, Dusun Pendem, atau Dusun Gogik. Namun, yang menjadi favorit adalah Dusun Sawit. Para pendaki dapat bermalam di area Camping Ground yang mampu menampung belasan tenda sambil menunggu datangnya pagi. Di malam hari, dari area ini jelas terlihat kerlap kerlip lampu kota Magelang. Keesokan paginya, sembari menikmati dinginnya gunung, para pendaki juga dapat menunggu sang fajar terbit dan menyemburkan semburat warna keemasan.

Saat mendaki, jangan lupa bahwa keselamatan harus diutamakan ya. Persiapan makanan dan minuman juga penting.

 

Merasakan Jadi Camat, Berkeliling dengan VW di Borobudur

Tak hanya andong/delman dan kereta mini yang menjadi kendaraan untuk menikmati keindahan kawasan Candi Borobudur. Kini sensasi kembali ke masa lampau pun ditawarkan untuk mengitari komplek Candi Borobudur dan berkeliling ke desa-desa wisata sekitarnya dengan menggunakan mobil VW.

VW yang merupakan transportasi kendaraan dinas camat era tahun 70-an menjadi salah satu transportasi baru yang disediakan untuk memanjakan para wisatawan. Rencananya, jumlah VW akan ditambah lagi. Paket tour dengan mobil VW ditawarkan pada pukul 09.00 – 14.00 wib yang dimulai di area parkir Candi Borobudur. Setelah itu, wisatawan dapat berkeliling desa – desa di sekitar Candi Borobudur dan melihat pemandangan indah khas pegunungan, udara segar dari pedesaan, bangunan megah Candi Borobudur yang mempesona sambil merasakan sensasi naik mobil klasik.

Ikut Budaya Bersepeda Keliling Desa

Tak hanya mobil VW tua saja yang ditawarkan untuk berkeliling desa, sepeda tua / onthel pun dapat digunakan untuk tour keliling desa. Bahkan, pengelola tour sepeda onthel menyediakan topi ala kompeni agar sensasi jaman dulu semakin terasa. Dengan dipandu oleh seorang tour guide, para wisatawan akan diajak berkeliling desa-desa wisata di sekitar Candi Pawon dan Candi Borobudur. Jika wisatawan ingin mampir untuk menikmati jajanan pasar, teh hangat manis, atau melihat industri rumahan seperti gerabah, batik, dan kerajinan pensil pun dipersilahkan. Tentunya akan lebih baik membeli aneka produk sebagai oleh-oleh.

Setelah berkeliling desa, wisatawan akan diajak mampir ke Candi Borobudur dan Balai Konservasi Purbakala. Setelah itu, makan siang dan foot spa juga ditawarkan oleh pengelola tour untuk memanjakan wisatawan.

Menjadi Rangga dan Cinta di Gereja Ayam dan Punthuk Setumbu

Sudah menonton film Ada Apa dengan Cinta (AAdC) 2 ? Kalau sudah, tentu ingat ada adegan Rangga mengajak Cinta ke sebuah gereja. Gereja itu adalah Gereja Ayam yang memiliki bentuk fisik yang unik. Gereja Ayam berlokasi di Bukit Rhema, Dusun Gombong, Desa Kembang Limus, Kecamatan Borobudur. Walaupun terlihat terbengkalai, namun kini Gereja Ayam menjadi tempat yang sering digunakan untuk pre-wedding. Sebuah fakta unik dari tempat ini, walaupun sering disebut Gereja Ayam karena bentuknya, namun banyak yang mengatakan bahwa bentuk bangunan ini lebih menyerupai burung merapi dengan mahkota di kepalanya.

Rangga dan Cinta juga sempat bernostalgia di Punthuk Setumbu yang berlokasi di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Tempat ini berupa bukit yang biasa didatangi untuk menikmati sunrise Borobudur. Waktu yang tepat untuk ke tempat ini adalah sekitar waktu subuh karena bisa menikmati pemandangan dengan lautan kabut putih yang menyeliuti Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tak perlu menunggu lama, sembari bersantai kita akan disuguhkan terbitnya matahari dengan semburat keemasan.

Foto Selfie di Hutan Pinus

Wisata alam di Magelang tak hanya gunung dan sungai saja. Magelang juga memiliki hutan pinus di daerah Kaponan, Kecamatan Pakis. Di Top Selfie Pinusan Kragilan Magelang ini, kita dapat berfoto selfie dengan latar belakang hutan pinus yang memiliki pemandangan epic.

Mengenal Sejarah Melalui Candi

@Regranned from @jepret.magelang – . . We are made by history.' . . Jepreter: @wisyawsanggra_ Lokasi: Candi Mendut (Mungkid, Magelang) . . Candi Mendut adalah sebuah candi bercorak Buddha. Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut. Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Tinggi bangunan Candi Mendut berkisar 26,4 meter. (Sumber: wikipedia.org) . . @jantiendut @putripramudya9 @hastin.15 @_kiky.yunia @malitanurul . . @wisata_magelang @borobudurnews . . #candimendut #candibuddha #warisanbudayaindonesia #wisatamagelang #selfiewisata #borobudurnews #wargamagelang #kabupatenmagelangpenuhkenangan – #regrann

A post shared by Wisata Magelang (@wisata_magelang) on

Magelang terkenal dengan Candi Borobudurnya. Padahal tak hanya Candi Borobudur yang berdiri di kota ini. Beberapa candi lain seperti Candi Pawon / Brajanalan, Candi Mendut, Candi Ngawen, Candi Canggal, Candi Selogriyo, Candi Gunung Sari, Candi Lumbung, Candi Pendem, dan Candi Asu Sengi yang juga menjadi cagar budaya di kawasan Kabupaten Magelang. Masing-masing candi memiliki karakteristik tersendiri sehingga bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya Hindu dan Buddha di masa lalu akan sangat baik jika berkeliling ke seluruh candi di daerah ini.

Menjadi Putri Raja di Pemandian Air Hangat Candi Umbul

Berada di desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Candi Umbul adalah salah satu situs purbakala yang memiliki keunikan berupa pemandian air hangat dengan nuasa candi. Air di pemandian ini berasal dari sumber mata air asli yang memiliki unsur panas dan mengandung belerang.

Biasanya para wisatawan akan ketagihan untuk datang dan berendam kembali di Candi Umbul. Air di Candi Umbul dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit karena banyak penelitian yang menyatakan air hangat yang mengandung belerang dapat menyembuhkan penyakit kulit.

Menikmati Sensasi Air Terjun

Kabupaten Magelang memiliki beberapa air terjun seperti Air Terjun Kedung Kayang yang berasal dari Gunung Merbabu, Air Terjun Sekar Langit, Grenjengan Kembar, dan Curug Silawe.

Masing-masing memiliki keunikan sendiri. Kesamaan dari ketiganya adalah air yang jernih dan lingkungan yang asri. Sensasi yang dirasakan saat berkunjung tentu kesegaran dan kesejukan saat percikan air mengenai tubuh kita.

 

***

Nah, sudah jelas kan mengapa Kabupaten Magelang dapat dijadikan salah satu tujuan wisata baru. Dengan berbagai aktivitas yang dapat dilakukan, Kabupaten Magelang menjanjikan sensasi mulai dari wisata budaya, alam, bahkan wisata kekinian seperti mengulang adegan film AAdC 2. Jadi, kapan akan berkunjung ke Magelang ?

Untuk informasi lebih lanjut tentang pariwisata Kabupaten Magelang, dapat diakses melalui website , twitter , facebook , dan instagram

Mencicip Es Ragusa, Es Krim Khas Italia di Jakarta

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Konon katanya, kalau ke Jakarta wajib mampir ke Es Krim Ragusa. Entah kata siapa itu, yang jelas waktu ke Jakarta kemarin saya mampir ke tempat ini karena diajakin. Biasanya sih jarang explore selain tempat yang biasa dikunjungi aja.

Sampai di lokasi Es Krim Ragusa, teman yang mengajak bilang, beruntung nih, masih belum begitu ramai. Lokasi Es Krim Ragusa berada di Jalan Veteran I nomor 10, Jakarta Pusat. Menempati ruko pinggir jalan, Ragusa terbilang cukup mencolok karena dari luar sudah tampak eksterior tua.

 

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Ternyata….di dalamnya juga nilai tradisional dan tua juga dipertahankan. Kursi dan mejanya masih rotan. Lukisan jaman lampau juga terpasang. Bahkan di dekat kasir seperti ada mesin tua yang dipajang. Ragusa menjual es krim tradisional dari Italia dan tanpa bahan pengawet. Es Krim Ragusa sendiri telah berdiri sejak 1932. Bahkan tempat ini mendapat penghargaan MURI sebagai toko es krim tertua.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Kami pun memesan es krim. Yang dijual di sini hanya es krim dan minuman saja ya. Ada sih cemilan dipajang di etalase, tapi tidak ada di list menu. Beberapa menu yang dipesan :

  • Regular Ice Cream Mocca : Hanya 1 scoop es krim rasa mocca saja
  • Mixed Flavored Special Mix : Ada beberapa scoop es krim, campuran vanilla, nougat, coklat, dan strawberry
  • Fancy Flavored Cassata Siciliana : Campuran beberapa rasa es krim yang dibentuk kotak
  • Fancy Flavored Spaghetti Ice Cream : Es krim vanilla yang dibentuk seperti spaghetti dengan tambahan topping
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

 

Kita akan diberikan segelas air mineral dingin sebagai penetralisir kalau merasa seret. Harga es krim di tempat ini berkisar antara 15.000 – 35.000. Secara rasa, memang Es Ragusa ini lembut teksturnya dan tidak terlalu menyengat manisnya.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos
New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Kalau masih lapar, di ruko sebelah dijual asinan, rujak, batagor, siomay, dan sate. Berhubung saya kangen makan sate ayam kuah kacang pakai lontong, saya pesan sate. Harga makanan di ruko sebelah berada di kisaran 30.000 rupiah. Es Krim Ragusa juga bisa dibawa pulang sih, saya lihat ada yang bawa pulang dengan dibungkus sterofoam.

Urusan pelayanan, hmmm…Di Ragusa ini pelayannya kebanyakan sudah berusia lanjut termasuk yang bertanggung jawab di mesin kasir. Sebenarnya sih cukup baik pelayanannya. Saya sempat dipersilahkan memfoto oleh salah seorang pelayan, tapi dimarahi juga karena itu bukan untuk saya eh saya main foto aja. Iya sih salah saya juga. Selain itu, yang bikin ga enak adalah saat kami akhirnya pulang setelah nongkrong kelamaan karena makan dan duduk santai ngobrol, saat pulang, salah seorang pelayang bilang Alhamdulillah. Kayaknya lega banget akhirnya kami beranjak. Hahaha. Maafkan pak kalau kami kelamaan.

New photo by Faridilla Ainun / Google Photos

Senang sih, bisa menikmati es krim tertua di Indonesia dengan cita rasa tradisional. Mungkin lain kali kalau main ke Jakarta akan saya coba lagi. Hehehei.