Saturday with L.tru : Tru Story of Fenita Arie

Tru Story of Fenita Arie

Setiap orang memiliki kisah hijrah masing-masing. Ada beragam cara dari Allah SWT untuk memberikan hidayah kepada umatnya. Tak terkecuali bagi Fenita Arie. Seorang selebriti wanita modis yang jika saya ditanya tahu apa tentang dirinya, akan langsung menjawab tentang program infotainment yang pernah dibawakan selama beberapa tahun belakangan.

1 Januari 2018, awal tahun sekaligus tanggal tepat bagi seorang Fenita Arie memutuskan untuk berhijab. Saya pernah menonton video kisah hijrahnya di Youtube dan kembali haru saat mendengarnya langsung.

Bertempat di 1000 Rasa Restaurant, Hotel Arista Palembang, Mba Fenita Arie bersama suaminya, Mas Arie K Untung hadir dalam acara Tru Story of Fenita Arie pada hari Sabtu, 14 September 2018 lalu. Acara ini dihadiri juga oleh para L.tru Friends sebagai  pengguna setia L.tru. Pada acara tersebut mba Fenita menceritakan kisahnya (tru story) tentang hijrah dan berhijab.

Keraguan terkadang muncul ketika kita mengutarakan keinginan berhijrah. Ketakutan akan rezeki, penerimaan dari lingkungan, dan lain-lain mungkin terlintas di pikiran banyak wanita saat ingin hijrah untuk memakai hijab dan menutup aurat sepenuhnya. Namun, percayalah bahwa selalu ada rezeki yang lebih besar kalau kita berjalan menuju arah yang lebih baik. Walaupun kita mungkin sempat menyesal karena merasa terlambat untuk hijrah, tetaplah bersyukur bahwa kita masih mendapat hidayah. Kini saatnya kita untuk istiqomah dan terus belajar. Itulah yang saya rasakan kembali saat mendengar kisah hijrah mba Fenita Arie.

Keputusan hijrah mba Fenita tentu membuat mas Arie senang. Apalagi, yang saya tahu, beliau sudah lebih dulu hijrah. Ternyata, setelah hijrah memang banyak rezeki yang ditawarkan bagi keluarga ini. Memilih produk yang sesuai dengan prinsip islami pun tetap dilakukan.

Memakai hijab pun tetap bisa menjadikan mba Fenita Arie tampil modis seperti biasanya. Kesan cantik dan trendy langsung terasa saat ia memasuki tempat acara menuju panggung. Sebagai brand ambassador L.tru (él.tru), mba Fenita menjelaskan L.tru berasal dari Bahasa Prancis, elle yang mewakili wanita ang dijabarkan dalam empat kata love, long, live, dan true.

Ia pun merasa cocok dengan konsep yang ditawarkan L.tru serta merasa desain busana yang ditawarkan selalu unik dan berbeda dibanding brand lainnya. Ada potongan yang unik dari setiap tunik, dress, maupun outer yang ditawarkan oleh L.tru.

Selain berkisah tentang kisahnya, mba Fenita dan mas Arie mengajak peserta yang datang untuk bertanya dan bermain kuis. Acara dilanjutkan dengan fashion show produk-produk L.tru dan sesi foto bersama mba Fenita Arie dan mas Arie Untung.

Lebih dekat dengan L.Tru

L.tru (él.tru) merupakan label busana muslim yang dikembangkan oleh Ibu Aju Isni Karim bersama dua sahabat karibnya (Ibu Tia Wigati dan Ibu Dewi Novianty) dalam naungan PT Truwear Asa Link. Ltru berusaha menjadi label modest wear yang hadir untuk para perempuan modern, aktif, ekspresif, percaya diri, praktis dan tetap bersahaja.

Sekitar akhir bulan Agustus lalu, L.tru secara resmi membuka butiknya di Palembang, tepatnya di Palembang Icon Lantai 1 no. 61. Butik L.tru telah berkembang di beberapa kota lain di Indonesia seperti Padang, Medan, Jambi, Pekanbaru, Batam, Banjarmasin, Balikpapan, dan  selalu mendapat sambutan hangat.

‘Koleksi L.tru merupakan inspirator gaya dalam berbusana yang effortless, mudah dipadupadankan demi memenuhi kebutuhan seseorang untuk tampil chic sepanjang hari tanpa kehilangan selera pribadinya. Koleksi L.tru juga cocok untuk para newbie. Saya sendiri merasa nyaman memakai koleksi L.tru” ujar mba Fenita Arie , Brand Ambassador L.tru.

L.tru memang ingin memastikan fashion line yang diusungnya tidak pernah keliru dalam mendukung personal style setiap perempuan. Secara berkesinambungan, sebagai sebuah label busana muslim, L.tru memberi tawaran inspirasi untuk gaya berpakaian yang menjunjung kreativitas untuk terlihat modis dan penuh gaya dalam kaidah berbusana modest; tertutup, longgar, dan tidak menerawang, namun tetap sejalan dengan alur mode masa kini.

Thanks mba @iisnaini17 buat fotonya

Busana L.tru memang sangat nyaman dipakai. Tersedia beberapa pilihan yang bisa disesuaikan untuk tampilan ke kantor, santai, sporty, maupun untuk acara resmi. Saya sendiri senang memakai L.tru karena tetap nyaman dipakai mulai dari dress, outer, inner hijab, sampai hijabnya sendiri. Potongan dress-nya tetap bisa membuat saya terlihat ramping namun siluet tetap tersamarkan. Material dari busana L.tru juga tidak membuat gerah sehingga tetap nyaman dipakai saat berada di luar ruangan. Urusan warna yang paling aku suka, banyak model busana dari L.tru yang warnanya cerah sekaligus kalem. Jadi, untuk dipadukan dengan riasan wajah pun menjadi mudah tone-nya.

Garis permintaan pasar busana muslim dan santun yang semakin meningkat ditanggapi positif oleh L.tru dengan pembukaan butik di berbagai kota. Tentunya, ke depan L.tru ingin dapat merambah ke kota lainnya agar bisa lebih dekat dan menyuguhkan ragam pilihan busana yang timeless, fresh, serta dapat  menyuarakan warna berbeda untuk tampilan lebih modern dari pemakainya.

Untuk info lebih lanjut mengenai L.tru bisa mengakses web resminya : www.ltru.co.id  atau Instagram @ltruofficial dan @ltrustore .

 

L.tru Palembang

Mall Palembang Icon Lantai 1 no.61

Jalan POM IX, Ilir Barat 1

Telp : (0711) 5649351

Whatsapp : 0813-7923-3664

[FMB 9] Diskusi Bersama Menkominfo : Progres & Kesiapan Asian Games 2018

Eh, udah pada tahu belum sih kalau Indonesia bakal ngadain gelaran besar tahun ini?

Pada tahun 2018 ini, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara event Asian Games ke-18. Event olah raga terbesar se-Asia tersebut akan dipusatkan di dua kota yaitu Jakarta dan Palembang. Asian Games 2018 akan dilaksanakan mulai tanggal 18 Agustus 2018 dengan opening ceremony yang dilakukan di Jakarta.

Tak terasa, sudah mendekati penyelanggaraannya. Sampai tanggal 7 Juli 2018, sisa waktu persiapan tinggal 42 hari lagi. Sebagai warga Palembang, saya cukup deg-degan dengan progress dan kesiapan Palembang sebagai salah satu tuan rumah. Palembang sudah memiliki komplek olah raga khusus yaitu Jakabaring Sport City (JSC). Tambahan lainnya adalah pembangunan Light Rail Transit (LRT) dari Bandara Soekarno Hatta menuju JSC untuk memudahkan mobilitas atlet saat datang ke Palembang menuju tempat menginap sekaligus bertanding. Namun tetap saja, saya masih belum tahu pasti bagaimana Pemerintah Daerah Palembang dan Sumatera Selatan untuk melaksanakan Asian Games 2018.

Lalu bagaimana kesiapan Jakarta yang juga menjadi tuan rumah? Bagaimana progress dan kesiapan secara keseluruhan untuk pelaksanaan Asian Games 2018 ini?

Sabtu, 7 Juli 2018 ini saya berkesempatan untuk mengikuti Forum Merdeka Barat (FMB) 9. Forum rutin yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk membahas isu strategis kali ini mampir di kota Palembang dengan topik “Progres dan Kesiapan Asian Games 2018”. Bertempat di Wisma Atlet Jakabaring Sport City Palembang, Bapak Rudiantara selaku Menteri Kominfo RI hadir sebagai narasumber bersama Bapak Alex Noerdin (Gubernur Sumatera Selatan), Bapak Bambang Prihartono (Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek), dan Bapak Panji Choesin (Direktur IT INASGOC).

Pemaparan pertama dilakukan oleh Bapak Alex Noerdin. Beliau mengungkapkan adanya perbedaan utama dalam penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang adalah kemudahan mobilitas untuk para atlet mengingat para atlet akan berkumpul di Wisma Atlet JSC. Saya sempat melihat isi Wisma Atlet dan rasanya cukup nyaman mirip hotel bintang 2 atau 3. Belum lagi adanya fasilitas lain seperti drugstore, cafeteria, dan tentunya main dining hall. Dengan adanya JSC yang menyediakan fasilitas menginap sekaligus venue bertanding bagi para atlet, atlet tidak akan lelah dalam perjalanan venue karena cukup membutuhkan waktu 1-10 menit dengan berjalan kaki. Kalaupun peralatan olah raga yang dibawa cukup banyak, disediakan pula golf car untuk transportasi di dalam Komplek JSC.

Selain Komplek JSC, Pemerintah Daerah Sumatera Selatan juga mengejar pembangunan LRT dan jalan tol yang rencananya akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Juli 2018 mendatang. Sementara itu, pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah telah diselesaikan beberapa waktu lalu. Tentunya, dengan adanya sarana dan prasarana ini, Sumatera Selatan (Palembang khususnya) telah siap menjadi tuan rumah. Apalagi, dengan pengalaman beberapa event olah raga lain yang pernah dilaksanakan di Palembang (seperti PON 2004, SEA GAMES 2011, Islamic Solidarity Games, dll), masyarakat pun siap menyambut dan mendukung pelaksanaan Asian Games 2018 di Palembang.

Bapak Rudiantara menjelaskan tentang kesiapan fasilitas, khususnya terkait teknologi informasi selama Asian Games 2018. Tentunya fasilitas tak hanya saat pertandingan, tetapi juga saat pembukaan dan penutupan event tersebut harus menjadi perhatian. Para operator telekomunikasi dan internet telah menyiapkan jaringan dalam mendukung event ini, apalagi beberapa venue juga terletak tak di pusat kota, seperti venue MTB di Subang, Jawa Barat. Wi-Fi gratis tanpa register akan diberikan saat opening ceremony sehingga public dapat menggunakan secara cepat. Selain itu, di Jakarta akan ada pula uji coba jaringan 5G dan mobil tanpa awak (pengendara). Menjelang penyelenggaraan Asian Games pada bulan depan, finalisasi terhadap fasilitas sedang dilakukan.

Ajakan untuk mendukung pelaksanaan Asian Games serta atlet-atlet Indonesia yang bertanding juga diserukan oleh Menkominfo. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah pembuatan aplikasi Duta Suporter. Mas Enda Nasution dari Suvarna.ID selaku partner Kemkominfo yang juga pembuat aplikasi menjelaskan secara rinci tentang aplikasi Duta Suporter Indonesia sekaligus soft launching aplikasi ini. Aplikasi Duta Suporter Indonesia kini bisa diunduh langsung di PlayStore dan kita bisa segera registrasi. Nantinya, akan ada kuis-kuis setiap hari dan berita terkait Asian Games. Sementara itu, aplikasi ini juga akan menjaring 68 orang yang aktif dan berminat menjadi duta supporter Indonesia dari 34 provinsi. Para duta tersebut berkesempatan menyaksikan opening dan closing ceremony Asian Games 2018 dengan gratis.

Jika Palembang memiliki komplek olah raga, Jakarta sebagai tuan rumah memiliki venue yang cukup beragam dan tidak berada dalam satu lokasi dengan tempat atlet menginap. Hal tersebut tentu menjadi momok tersendiri mengingat kita tentu tahu bagaimana macetnya Jakarta. Sementara itu, standar waktu mobilitas atlet dari tempat menginap ke venue maupun sebaliknya tidak boleh melebihi 30 menit. Bapak Bambang Prihartono hadir sebagai pembicara terkait kebijakan manajemen lalu lintas yang akan diterapkan di Jakarta selama Asian Games 2018.

Kemenhub merilis adanya tiga paket kebijakan lalu lintas selama Asian Games 2018, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Ketiga paket kebijakan tersebut adalah manajemen rekayasa lalu lintas salah satunya melalui aturan ganjil genap di beberapa ruas utama jalan (tak hanya jalan tol), penyediaan angkutan umum untuk masyarakat dan suporter, serta pengaturan angkutan barang. Diharapkan, adanya event ini menjadi momentum untuk memperbaiki lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya. Oh iya, infonya angkutan umum akan digratiskan, semoga ini tak berlaku di Jakarta saja tapi di Palembang juga, syukur-syukur kalau LRT gratis dulu hehehe.

Sebagai penutup pemaparan, Bapak Panji Choesin selaku Direktur IT INASGOC menjelaskan tentang kesiapan infrastruktur TI yang dibangun untuk mendukung Asian Games 2018. Dengan infrastruktur yang canggih, Bapak Panji yakin persiapan dan pelaksanaan event Asian Games 2018 dapat berjalan lancar dan atlet maupun media akan nyaman. Sebuah ajakan dari Bapak Panji adalah untuk mendukung pelaksanaan event ini tanpa batas, apalagi event besar ini tentu menjadikan Indonesia sebagai perhatian dunia.

Dengan mengikuti acara ini, saya menjadi lebih yakin akan kesiapan pemerintah dalam menyambut pelaksanaan Asian Games 2018. Tentunya, doa terbaik untuk para atlet Indonesia dan kita bisa menjadi juara di semua cabang olah raga yang dipertandingkan serta pelaksanaan event ini bisa berjalan lancar.

Kegiatan Forum Merdeka Barat (FMB) 9 lainnya juga dapat dilihat melalui

website : www.fmb9.id

twitter : FMB9ID

instagram : FMB9.ID

facebook : FMB9.ID

youtube :  FMB9IDhttps://photos.app.goo.gl/8oWRUyou19sqo76Z9

Belajar Seru Bareng Mombassador Batch 7 di Acara Temu Bunda 2018 (Day 1)

Hujan deras mulai membasahi kota Palembang sejak pukul 3 pagi. Sejak saat itu pula aku gak bisa tidur lagi. Ceritanya sih, deg-degan karena bakal berangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti acara Temu Bunda Mombassador SGM Eksplor 2018.

Rombongan dari Sumatera Selatan dijadwalkan berangkat menggunakan pesawat Express Air di jam 08.20. Menurutku, ada keuntungannya juga ya di Palembang banyak flight langsung (bahkan ada yang pagi) menuju Yogyakarta. Ninggalin anak pun jadi pas waktunya, sesuai gitu gak nambah hari. Ntar kelamaan diprotes pak suami. *dicubit gemes*

Saat ngecek grup whatsapp Mombass Sumsel, aku lihat cerita Bunda Wensi kalau perjalanan dari Pagar Alamnya bermasalah. Ban mobilnya bocor dan harus nunggu lagi. Khawatir juga rasanya, takut gak sampai bandara tepat pada waktunya.

Pesawat jam 8, artinya harus udah check in paling engga jam 7, biar bisa santai dan jajan Chatime *eh*. Khawatir macet karena hujan dan anak berangkat sekolah, aku mutusin berangkat jam 6 pagi dengan taxi Blue Bird idolaku. Mumpung ada voucher gitu loh. Maklum Acher alias Anak Voucher. Ahahaha.

Baca juga : Bebas Deg-Degan dengan Advanced Booking My Blue Bird

Sebuah pesan di whatsapp grup masuk, dari Bunda Yuni yang mengabarkan kalau ia sudah sampai bandara. Oke, siap, bentar lagi sampai juga. Segera setelah sampai bandara, aku nyamperin Bunda Yuni, kenalan sebentar lalu nitipin koper karena…..kebelet pipis.

Setelah itu, ada Bunda Anggun, kenalan lagi, dan yes kita check in bertiga. Mau check-in Bunda Wensi, tapi belum ada KTP dia. Semua sudah pakai merah-merah, aku tapi masih merah dikit, merah-malu-malu gitu. Malu-maluinnya ntar aja.

Sambil nunggu, aku baca-baca status dan menemukan Bunda Shine Fikri pasang status mencurigakan. Intinya dia mau pergi hari itu. Langsung deh nanya,

“Ikutan mombass juga? Dari mana?”
“Iya, dari Palembang. Mba juga?”

Jadi emang selama ini di Komunitas Blogger Palembang atau Kompasianer Palembang, aku kenalnya nama Shine Fikri dan manggilnya pun mba Shine mba Shine terus. Lupa nama aslinya dan di tiket yang didapat ada nama asli dia. Dicari-cari di FB gak nemu dan ketemulah hari itu.

Ada tanda-tanda delay, akhirnya kami coba mencoba men-check-in-kan Bunda Wensi. Tapi yang ditunggu tak datang juga sampai saatnya boarding. Pesawat Express Air Palembang-Yogya ini terusan dari Bandung, jadi rutenya Bandung-Palembang-Yogyakarta. Entah kenapa mau ke arah timur, tapi transit di barat dulu. Jadi rombongan dari Palembang agak disuruh cepet-cepet pas udah boarding. Karena gak enak hati ninggalin Bunda Wensi, kami semua minta maaf di grup. Beruntung, pihak panitia SGM nantinya tetap mengusahakan Bunda Wensi ikutan acara ini.

 

Yuhuuuuuuu, walau delay, walau muter-muter di atas karena Bandara Adi Sucipto Yogyakarta penuh, akhirnya sampai juga di Yogya lagi. Langsung di kuping berasa ngedengerin lagu Jogja Istimewa-nya Jogja Hip Hop Foundation.

Foto-foto? Ya namanya wanita, tak foto tak puas, tak makan lapar. Kami berfoto juga selagi bisa.

Kelar urusan bagasi, ternyata sudah ada tim dari Mombassador ini yang menjemput. Langsung deh, kami berempat ‘diculik‘. Untungnya yang diculik cuma koper buat dibawa ke hotel. Sementara kaminya sendiri diantarkan menuju Rama Shinta Garden Restaurant yang berada di komplek Candi Prambanan. Oh iya, kalau lihat postingan blogger lain di batch sebelumnya, selalu ada foto-foto mereka (seangkatan gitu) dengan latar Candi Prambanan. Jadi, rencananya di sini kita akan foto angkatan. Selain foto angkatan juga ada foto profil setiap peserta, sayangnya udah tutup juga dan foto profil dilanjut besok.

Registrasi ulang pun dilakukan, kami mendapat 2 buah kaos dan goodie bag yang berisi buku dan pena.

Langsung ganti baju ya mba

Olrait beibeh, langsung ganti baju dan di situ saya kenalan sama Bunda Fenty dari Semarang. Kelar ganti, rombongan dari Jakarta (baik yang via Soetta maupun Halim), Bandung, Batam, Bengkulu, Jambi, Lampung, Semarang, dan banyak lagi ternyata sudah banyak yang menikmati makan siang prasmanan yang menunya wuenaaaak tenaaaan. Kurindu mendoan dan menemukannya kembali. Yang sudah makan siang pun banyak yang memanfaatkan waktu dengan melakukan foto, latar Candi Prambanannya kece gitu.

Kelar makan, aku langsung nyamperin Bunda Ismi, temen di grup whatsapp Birth Club June 2016. Kebanyakan member di grup itu ada di Jabodetabek, jadi aku baru kali ini ketemu sama Bunda Ismi. Biasa mah, ribut di grup WA berfaedah yang tidak berhenti jastip ini. Foto-foto pake HPnya yang ternyata kamera depannya oke banget, berasa jadi anak 15 tahun lagi yang cling alus gitu. Hahaha. Terus lanjut foto sendiri dengan gaya yang gak bisa senyum manis kalem paripurna adiguna. Yaudahlah ya harap maklum, si inun, biasa emang gitu mukanya kalau difoto secara sadar.

Ayoooo, ke lapangan

Sebuah seruan datang dan ramai-ramai rombongan berkaos Temu Bunda bergerak menuju lapangan yang berada di sebelah Resto Rama Shinta. Kami disambut mas-mas muda yang seru dan mba-mba muda yang juga ikutan goyang-goyang mengikuti irama sambil menyemangati para bunda.

Wah mau ngapain ya? Senam massal apa ya? Atau demo masak?

Hoho, ternyata kita mau outbond. Pertama kita akan diminta membuat lingkaran besar yang ternyata besar banget, lha iya wong hampir 200 orang. Terus macem-macem games dimainkan agar kita membentuk kelompok mulai 2 orang sampai 16 orang di akhir. Di saat games tersebut, kita bisa kenalan dengan teman-teman lainnya. Saya sempat kenalan sama Mba Ria Andhika, blogger juga yang selama ini udah follow-followan di IG ada juga temen-temen lainnya yang berasal dari macem-macem daerah.

Udah kelar ngegames, joged sana, pose segala rupa. Kelompok pun dibuat. 1 kelompok terdiri dari 16 orang. Kita diajak bermain untuk mengenal tentang kebutuhan nutrisi anak sekaligus menjalin kerjasama. Permainannya antara lain :

  • Memasukkan bola sesuai warna ke karpet yang berkantong. Jadi bola-bola itu menunjukkan kondisi anak. Kita diminta untuk memasukkan sesuai dengan susu SGM Eksplor yang disarankan. Susah? Iya, karpetnya ada yang bolong, terus bolanya masuk ke yang bolong dan harus diulang. Kerja sama juga diperlukan karena beberapa salah masuk lubang.

  • Roulette Nutrisi Anak. Ada karpet dengan gambar Kecerdasan, Tumbuh Kembang, Pencernaan, dan Daya Tahan Tubuh. Setiap kelompok harus melewati karpet tersebut, tapi dengan syarat bisa menebak tulisan yang di roulette terkait dengan gambar apa. Misal nih, yang di roulette terpilih DHA dan kita memilih Kecerdasan, maka kita berhak maju. Kalau kita nebaknya Pencernaan, ya ga bisa maju. Susah-susah gampang nih, karena banyak dari kami yang kurang familiar dengan yang tertulis di roulette, misal AAE, atau suka kebolak-balik misal Zinc seingetnya buat pencernaan ternyata buat daya tahan tubuh.
  • Sepeda Keseimbangan. Setiap tim harus menyebrangkan sepeda sesuai lintasan. Tapi bukan dengan menaikinya, namun dengan memegang tali yang dikaitkan di sepeda tersebut. Berat banget ini sepeda lipat. Yang dihitung adalah waktu tercepat dan tentu saja, kerja sama itu penting.

  • Permainan terakhir adalah mencari jalan menuju finish namun hanya boleh bergerak maju-mundur-kiri-kanan. Nah, ada batasannya lagi tuh, kita harus memilih kotak dengan indikator yang benar untuk anak alergi susu sapi. Mumet lagi deh. Hahaha. Karena anak gak alergi, ilmuku cetek banget. Syukurnya dapat bantuan dari bunda lainnya.

 

Dari ikutan permainan ini, kerasa banget bahwa kerja sama itu penting dan dapat kenalan baru lagi. Susah pasti nginget 196 orang sekaligus, jadi pelan-pelan mulai mengingan Tim yang ngakunya Macan alias Mama Cantik dan suka ngaum-ngaum. Hehehe. Aku jadi punya ide baru nih buat bikin games seru untuk gathering atau ningkatin kerja sama tim dan mengenal produk di tempat kerja. Oh iya, terakhir kita juga diminta menuliskan harapan di piramida secara berkelompok.

Kelar outbound kita istirahat lagi di Rama Shinta Garden Resto. Mendung menggelayuti daerah Prambanan dan tak lama kemudian hujan mulai datang dengan derasnya. Sambil bersantai, kami mulai dikenalkan dengan program Mombassador SGM. Acara dipandu oleh Mas Novan, seru dan santai pembawaannya. Mas Novan lalu mengenalkan tim dari SGM Eksplor, ada Mba Naomi Jammaro dan mba Talitha Andini Prameswari.

 

Tim SGM Eksplor mulai mengenalkan tentang program Mombassador SGM sebagai komunitas bunda-bunda SGM Eksplor yang terpilih untuk mengikuti pelatihan dan edukasi bersama-sama untuk menjadi Bunda Generasi Maju. Kita juga diberitahu tentang peranan kami sebagai Mombassador SGM, apa yang akan dilakukan selama acara temu bunda, serta hak dan kewajiban, serta adanya lomba-lomba selama acara seperti lomba vlog dan foto. Hasyiiikk. Sayang, karena hari hujan kami gak bisa foto angkatan di hari pertama.

Hujan semakin deras, waktu pun semakin bergerak mendekati sore hari. Kami lalu diarahkan untuk menuju bis untuk segera ke hotel dan bersiap-siap karena malam pertama ini *ceilah malam pertama* akan ada Welcome Dinner bersama. Asyiiik, makan *mode laper terus*. Sayangnya, ternyata proses check in di hotel yang dilakukan panitia belum selesai, jadi kami diarahkan untuk mampir dulu di Pabrik Kaos Jethe Jogja. Di Pabrik Kaos Jethe Jogja, kami bisa melihat proses pembuatan kaos oblong yang dijual di sekitaran Malioboro. Aku hilang fokus sebenernya, karena berujung pengen beli cilok yang di depan pabrik kaos, bukan kaosnya. Hahahaha.

 

Akhirnya, kesempatan belanja pun selesai dan rombongan bis bergerak menuju hotel. Ternyata, hotel tempat kita menginap adalah Hotel Alana Yogyakarta. Huwoooo, hotel bintang 4 yang cukup baru di Yogyakarta. Review Hotel Alana Yogyakarta bisa dibaca di sini.

Aku deg-degan bakal dapat temen sekamar siapa ya? Ternyata…..dapat teman sekamar yang sama-sama dari Palembang, yaitu Bunda Yuni. Hehehe. Bunda Yuni ternyata belum nemu kopernya, sementara koperku udah rapi sampai dengan selamat di kamar. Cek ke kasur, eh, dapat coklat, kartu sambutan dari SGM, dan bunga mawar merah. Urusan bunga dan coklat nih, rasanya bunda lain sama bapernya deh, soalnya jarang dikasih coklat sama suami. Hei, you para suami, SGM aja ngasih kita coklat sama bunga, kok you engga?

Yang penting transferan dan uang jajan lancar ya……

Kelar siap-siap, santai-santai, sholat magrib. Kami bergerak ke area tempat dinner. Sambil santai chit chat dengan teman lain, para bunda dipersilahkan menikmati makan malam dengan santai. Lalu tibalah saatnya…..KULIAH MALAM!

Hah, kuliah malam?

Hehehe, sebenarnya ini kelas edukasi untuk para bunda dengan bahasan Personal Branding. Karena materinya dilakukan malam-malam dan rasanya yang menyampaikan seperti dosen, jadi kubilang ini kuliah malam. Eh, tapi ini kuliahnya santai banget dan materinya asyik.

Kuliah Malam dimulai dengan Ibu Ninda Nindiani, MA, seorang trainer public speaking. Materi yang disampaikan adalah Personal Branding. Personal Branding ini penting banget buat semua orang. Tapi di era sosial media kadang kita sering ‘khilaf’ dan lupa akan adanya etiket dan etika. Ini menjadi reminder buat kita untuk selalu berpikir dan berperilaku positif. Sebuah mantra yang diajak untuk diucapkan bersama-sama oleh Ibu Ninda adalah Perempuan Hebat, Perempuan Bahagia, Bermanfaat, dan Luar Biasa.YES!!!!

Kuliah Malam lanjutan disampaikan oleh Mba Kandiana (Candy Belani), mombassador SGM batch III. Mba Candy menyampaikan materi tentang Bunda yang Baerkarakter Baik dan Dicintai. Mba Candy menjelaskan bagaimana cara Bunda Generasi Maju harus berkarakter baik. Mba Candy ini punya komunitas Omah Parenting di Yogyakarta. Tentunya, untuk membentuk komunitas dan kegiatan seperti ini akan banyak hambatan dan tantangan yang dilalui. Mba Candy pun memberi tips bagaimana cara-cara untuk menghadapinya. Mombassador SGM Eksplor juga memiliki peranan dalam membentuk citra diri positif seperti adanya lingkungan pertemanan yang positif, ilmu yang bermanfaat, memperkaya pengalaman dan nilai diri, serta adanya kepercayaan masyarakat. Jadi bangga dan seneng nih bisa gabung sama Mombassador SGM.

Selesai kuliah malam dari Mba Candy, kami dipersilahkan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Karena jadwal esok hari juga padat. Untuk cerita lainnya tentang acara Temu Bunda 2018 dan Mombassador SGM Eksplor, bisa dibaca di:

  • tentang Mombassador SGM bisa dibaca di sini
    • day 2 acara Temu Bunda 2018 bisa dibaca di sini
      • day 3 acara Temu Bunda 2018 bisa dibaca di sini

Menjadi Mombassador SGM Eksplor, Kok Bisa?

 Let me tell a story

*langsung dikeplak nih, ini trademarknya koh Tian Amrazing* hehehe

Semua berawal dari bergabungnya aku dalam komunitas Blogger Perempuan, Komunitas Emak Blogger, Clozette, dan Wajah Bunda Indonesia. Melalui komunitas ini, aku banyak dapat info-info tentang event menarik, lomba blog, atau kesempatan lain seperti menjadi Mombassador SGM.

<img ” src=”https://scontent.fjkt1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/26231037_2077645402252658_7651918819727441357_n.jpg?oh=f029fc4d4a137ec23c4b8ed38fb2b792&oe=5B3F1FF1″ alt=”” width=”960″ height=”960″ style=”display:none”/>Sumber : FB Bunda Diah AriniSebenarnya aku beberapa kali nyobain daftar. Nothing to lose lah, keterima syukur, engga juga gapapa. Lagian saat daftar sebelum ini umur Mahira belum 1 tahun dan belum konsumsi susu SGM juga. Hehehe. Nah, emang rejeki anak kali ya yang udah minum susu SGM selain tetep nena-nena (menyusu ASI maksudnya) tiap hari. Eh, tau-tau di batch ini keangkut untuk ikutan acara Temu Bunda di Yogyakarta. Hasyiiiiiikkkkk….

Apa itu Mombassador SGM Eksplor?

Mombassador SGM Eksplor adalah komunitas untuk para bunda Indonesia yang dibentuk oleh SGM Eksplor untuk mengapresiasi kontribusi Bunda-Bunda di Facebook Fanpages Aku Anak SGM dan loyalitas tinggi para bunda terhadap SGM Eksplor.

Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengajak bunda-bunda Indonesia menjadi lebih paham dan peduli terhadap nutrisi dan perkembangan anak. Dengan demikian, para bunda dapat mempersiapkan anak-anak menjadi anak generasi maju (mandiri, supel, kreatif) serta  menjadi individu yang berdikari dan bermanfaat untuk bangsa.

Apa saja syarat untuk menjadi Mombassador SGM Eksplor?

Karena tujuannya untuk para bunda, tentu syaratnya adalah seorang bunda. Ya masak namanya mom tapi ayah mau ikutan. Hehehe.

Buat para bunda yang aktif dan concern terhadap isu seputar kesehatan, parenting, perkembangan anak, dan nutrisi serta berdomisili di Indonesia boleh mendaftar menjadi Mombassador SGM Eksplor.

Syarat utama saat pendaftaran antara lain:

  1. Wanita
  2. 23 – 40 tahun
  3. Memiliki anak dengan usia di atas 1 tahun
  4. Berdomisili di Indonesia
  5. Memiliki akun media sosial aktif (Facebook/Twitter/Instagram/Blog)

 

Kalau udah daftar, pasti keterima?

Ya tentu engga dong, aku aja ga keterima beberapa kali. *trus bangga gitu ya gagal hahaha*. Artinya ada seleksinya lagi setelah melakukan pendaftaran.

Oh iya, untuk angkatanku kali ini yang daftar ada 3.560 dan akhirnya yang lolos hanya 196 bunda.

Proses Seleksinya Gimana?

Pertama kita bisa mendaftar melalui form yang biasanya disampaikan melalui FanPages Aku Anak SGM atau juga info dari komunitas seperti Blogger Perempuan, Komunitas Emak Blogger, dan Wajah Bunda Indonesia.

Setelah itu kalau lolos, akan ada seleksi lagi pengisian form kedua. Ini kayak wawancara tertulis deh. Kalau kita lolos tahap pendaftaran, kita akan diminta mengisi form seleksi kedua. Informasi lolos kalau aku sendiri tau dari email karena emang sering buka email.

Terus, kita akan dihubungi via telepon oleh Tim SGM Eksplor. Nah, pastiin no. handphone yang kita isi di form sebelumnya selalu aktif ya. Saat dihubungi via telepon ini, kita ditanya-tanya lagi sedikit. Sebenarnya pas ditelpon ini udah dikabarin lolos sih. Tapi masih ragu, antara iya apa ngga beneran lolos.

Kriteria lolos gimana?

Wanda kalau ini alias WA-NDA-Tau ya saya. Tentu ini rahasia panitia alias hanya panitia, tim SGM, dan Tuhan yang tahu kenapa aku bisa lolos. *Halah*.

Serius, aku aja gak tau lolosnya kenapa. Cuma menurut info yang kudapat sih, panitia akan melihat juga keaktifan pendaftar di akun fanpages SGM.

Prosesnya berapa lama sih?

Proses pendaftaran pertama seingetku di pertengahan bulan Januari 2018. Terus di akhir Januari 2018, ada seleksi kedua. Di bulan Februari, ditelpon untuk wawancara dikit sekaligus dikasih tau kalau lolos untuk ikut acara Temu Bunda di bulan Maret.

Kalau hamil boleh ikutan ga?

Hmmm, dulu sih kayaknya aku pernah daftar pas hamil dan gak lolos. Hahahaha, belum punya anak juga udah ngaku bunda sih dulu. Nekat.

Nah kalau angkatanku kemarin sih, rasanya ada yang bumil juga (tapi juga udah punya anak >1 tahun). Yang jelas, kalau hamil kan kita tau sendiri kondisi badan kita. Jangan maksain kalau memang kiranya gak kuat karena acaranya cukup padat.

 

Oh iya, katanya abis dikabarin lolos masih ragu, kenapa?

Jadi waktu ditelpon oleh nomor yang tak dikenal, nomornya itu masuk ke nomor spam gitu (karena aku pakai aplikasi truecaller buat ngeblok telpon bank yang suka nawarin kredit). Masih ragu, beneran gak nih dari SGM. Terus, merasa apalah aku bloger ecek-ecek bagai rempeyek teri yang dikremes.

Udah itu ditelpon lagi dari nomor berbeda dan lagi-lagi gak keangkat, lalu aku telpon balik, rupanya itu telpon untuk nanyain jadwal tiket berangkat dan pulang untuk acara Temu Bunda di Yogyakarta.

Setelah aku oke-in jadwal, tiket gak juga dikirim. Terus ada temen grup bc june 16 (mba Ismi) yang share dia dapet surat cinta (undangan) gitu dari SGM. Wah makin watir deh.

Nyoba tanya Mba Iis, temen blogger yang ikut batch 6, malah dibilangin

santai aja nun, tiketku juga dikirim malem sebelum berangkat.

Lah, makin was-was nih ijk. Trus mba Iis bilang, cek aja FB Bunda Diah Arini. Bunda Diah ini bundanya mombassador, jadi mulai angkatan 1 sampai sekarang beliau ini yang jadi bundanya.

Puasa gak buka FB beberapa hari, ternyata banyak status temen blogger lain yang isinya tentang siap-siap menuju acaranya Mombassador di Yogya. Cari-cari ternyata ada grup unofficialnya di FB lalu ikutan whatsapp grupnya dan ketemulah Bunda Yuni dari Palembang.

Ternyata tiket dikirim ke dia semua dan dari Sumatera Selatan ada 5 orang. Bunda Anggun dan Bunda Yuni dari Palembang juga. Ada Bunda Wensi dari Pagar Alam. 1 bunda lagi yaitu Nur Aeni belum ditemukan FB-nya.

Pas acara, boleh bawa keluarga?

Hmm, untuk acaranya sendiri dari awal kan judulnya Temu Bunda nih, jadi untuk rangkaian acara hanya para peserta saja yang boleh ikut. Ini pentingnya ijin suami, dari awal mengisi form pun ada baiknya sudah memberitahu dan ijin suami. Karena, selama 3 hari 2 malam (bisa lebih kalau harus berangkat duluan agar gak ketinggalan acara), para bunda akan berpisah dulu sama suami dan anak supaya fokus sama kegiatan ini.

Kalaupun mau bawa keluarga ke Yogyakarta ya silahkan aja. Tapi teteup selama 3 hari 2 malam itu, jadwal kita full banget sama kegiatan yang udah diatur panitia. Bakal susah ketemu deh. Enaknya sih, kalau hari terakhir Jum’at, keluarganya nyusul aja sekalian liburan akhir pekan di Yogyakarta.

Mombassador ini Program Baru kah?

Eits, Mombassador SGM Eksplor sudah dimulai sejak akhir tahun 2014 dengan anggota batch I sebanyak 12 bunda. Lalu batch II di awal tahun 2015 sebanyak 19 bunda, batch III di November 2015 sebanyak 15 bunda, batch IV pada tahun 2016 sebanyak 64 bunda, batch V di bulan Agustus 2017 sebanyak 92 bunda, dan batch VI di bulan November 2017 sebanyak 106 bunda. Kini sudah masuk batch VII dan bukan tidak mungkin akan ada batch selanjutnya.

Coba yang dibilang jadwalnya padat itu ngapain aja?

Me-Time dong! *langsung dikeplak sama yang lain* **jangan ngaku-ngaku seneng, ntar ketauan suamik gak dikasih ijin lagi** ***langsung gak dikasih bos ijin lagi buat ikutan acara di luar kantor*** Becanda….

Singkatnya, di acara Temu Bunda ini, kita bakal dikasih rangkaian kegiatan pelatihan seru dengan berbagai topik, mulai dari kesehatan dan nutrisi anak, tumbuh kembang anak, social media, personal branding, public speaking, serta enterpreneurship.

Semua materi langsung disampaikan oleh orang-orang yang sudah berpengalaman di bidang tersebut. Untuk lebih detailnya bisa baca di postingan berikut ini :

Bertamu ke Kantor Kementerian Sekretariat Negara

Beberapa waktu lalu, saya dihubungi seseorang via WhatsApp, sebuah undangan ke Kantor Kementerian Sekretariat Negara.

Hah? Ngapain ke Kantor SetNeg? Diterima PNS? 
Bukaaan.
Wawancara LPDP? 
Itu sih di kantor kementrian lain rasanya.
Trus ngapain?

Saya diundang sebagai narasumber Focus Group Discussion (FGD). Waduh! Kaget rasanya. Saya deg-degan campur galau gulana sejak hari Minggu itu. Pengen banget bisa ikutan, tapi cuti sudah habis. Sebenarnya menurut saya jawaban yang saya berikan kepada Bu Lasmi sudha mengiyakan, tapi saya ragu dapat ijin kalau undangan hanya via WhatsApp. Saya pun memohon untuk ada undangan resmi berbentuk surat sebagai dasar ijin ke kantor.

Kok bisa diundang?

Beberapa waktu lalu Kementrian Komunikasi & Informasi mengadakan acara SAIK 2017 dan ada kegiatan flashblogging. Alhamdulillah dapat Juara Harapan I, berkah rela cuti demi ikutan acara yang ada workshop bloggingnya juga. Saya pikir semua telah selesai ketika acara berakhir. Ternyata ada kejutan lain yang datang. Sebuah undangan untuk diskusi bersama Tim Komunikasi Presidem (TKP).

Baca juga : Flash Blogging Bersama Kemkominfo : Mari Mendukung Kemajuan Indonesia

Undangan resmi berupa surat yang dikirim via WhatsApp pun telah saya miliki. Dengan malu-malu mau saya menghadap ke atasan untuk ijin tidak masuk kerja, tapi karena undangan instansi pemerintah, saya ingin ijin dispensasi atau apalah sesuai ketentuan perusahaan. Ijin sana sini akhirnya didapat. Saya pun konfirmasi ke perwakilan TKP bahwa saya bisa hadir.

Ada pesan tambahan ternyata dari Bu Lasmi, “buat presentasi ya tentang Presiden Jokowi di Mata Blogger Indonesia”. Waduh, saya bingung lagi. Kalau nulis cerita panjang saya berani, kalau presentasi harus singkat terus juga ngomong, wah deg-degan deh.

Baca juga : Seharian Bolak Balik Palembang &#8211; Jakarta [Behind The Scene : Main Ke Kantor SetNeg]

Singkat cerita, Jum’at pagi saya berangkat ke Jakarta. Teman-teman dari Palembang yaitu Deddy Huang, Molly, dan Putri telah berangkat hari sebelumnya. Faktor ijin cuma sehari dan ga tega ninggal anak jadi pertimbangan saya berangkat paling pagi dan pulang hari itu juga. Sampai di Jakarta, saya mampir ke tempat teman-teman menginap. Istirahat bentar, lalu kami menikmati dulu Es Krim Ragusa sambil menghabiskan waktu menuju jam 13.00.

Kantor Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia berada di Jalan Veteran No. 17 – 18 Jakarta Pusat. Ada kok di Google Maps. Yang perlu dicatat adalah, jika ingin masuk ke Komplek Setneg, kita harus lewat Jalan Majapahit. Katanya, jalan ini memang hanya untuk yang akan masuk ke Komplek Setneg. Kalau asal lewat hati-hati kena tegur Pak Polisi 🙂

 

Kami berempat pun akhirnya menjejakkan kaki pertama kali di Kantor Kementrian Sekretariat Negara. Bu Lasmi yang menghubungi kami via WhatsApp pun menyambut kami dengan senyum. Bu Lasmi ini salah satu yang tergabung dalam Tim Komunikasi Presiden (TKP). Kami diajak menuju sebuah ruangan yang konon adalah ruang kerja Bapak Presiden Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia. Bangga? Jelas. Norak? Pasti. Kesempatan langka ini membuat kami pun saling berfoto bergantian di meja kerja Pak Harto.

Awalnya saya mengira akan bertemu dengan teman-teman dari daerah lainnya. Ternyata, teman-teman dari daerah lain sudah ada sesi sebelum kami dan mungkin kami jadi yang terakhir melakukan FGD setelah sebelumnya Makassar, Padang, Banjarmasin, dan Semarang sudah bergantian diskusi di hari sebelumnya. Ah, sayang sekali pikir saya. Semoga di lain waktu dapat bertemu dan berkenalan langsung dengan blogger dari berbagai daerah sehingga pertemanan tak hanya via blog atau aplikasi chatting saja.

Akhirnya tibalah saat yang ditunggu. Deg-degan parah dari sebelum berangkat ke Jakarta makin menjadi. Pak H. Andoko Darta datang dan menyampaikan permohonan maaf karena Bapak Sukardi Rinakit tak bisa datang dikarenakan ibu beliau sakit. Sebelumnya, ketika acara Flash Blogging di Palembang Pak Andoko juga memberikan materi bersama Pak Sukardi Rinakit.

Acara dimulai dengan perkenalan. Saya gugup parah sejak awal. Perasaan, duh apalah saya ini dibanding teman-teman kiri dan kanan saya memperparah keadaan. Faktor jarang ngomong di depan umum dan jarang presentasi memang jadi nilai minus yang saya rasakan.

Kami bergantian presentasi menyampaikan pandangan kami tentang Presiden Jokowi. Di sini saya menyadari pentingnya image branding. Koh Deddy membawakan materi pengalamannya sebagai Travel Blogger ke Indonesia Timur, Putri menyampaikan cerita tentang perjalanannya mengajar di Parigi Sulawesi Tengah, Molly menyampaikan harapan untuk kaum disabilitas, dan saya……bingung hehehe. Saya menyampaikan pandangan saya sebagai seorang ibu, istri, dan karyawan sebuah perusahaan.

Saya menyampaikan, tentang pandangan negatif yang terarah ke Presiden Jokowi sejak masa Pemilu 2014 lalu dan hal-hal lain yang sering disampaikan orang “Gara-gara Jokowi nih, blablabla…..”. Apakah semua salah Pak Presiden Jokowi? Menurut saya tidak.

  • Adanya hoax yang akhirnya memecah belah Indonesia bisa jadi disebabkan oleh tidak siapnya masyarakat dengan perkembangan teknologi dan kurangnya kesadaran membaca.
  • BPJS yang diprotes ribet dan lainnya, sebenarnya kan aturan SJSN sudah sejak tahun 2003, penerapannya saja baru dan sepertinya sih kaget-kaget semuanya termasuk tempat saya kerja yang harus merubah sistem pemeliharaan kesehatan.
  • E-KTP belum jadi? Ya kita tahu bahwa aturan tentang E-KTP sudah sejak lama dan ternyata ada kasus di baliknya.
  • Beberapa industri (contoh : ritel) mulai gulung tikar. Beberapa pakar bilang ini era disruptif, zaman sudah berubah. Pernah menyangka bahwa orang akan lebih memilih keliling dunia daripada beli rumah? Yang kita pikir kebutuhan pokok sandang, pangan, dan papan, ternyata sekarang ga gitu lagi.
  • Harga BBM sempat naik, bahkan ada yang merasa BBM subsidi hilang. Efeknya, harga BBM di Indonesia sama. Masyarakat di Indonesia Timur bisa merasakan harga BBM yang sama dengan di Jawa. Kalau isu subsidi hilang, mungkin ada pikiran di balik itu yang terkait juga dengan era disruptif, agar perusahaan lebih kreatif dan inovatif untuk bertahan di era seperti ini.

Saya menyampaikan juga, bahwa kalau ditanya pendapat tentang pemerintahan Jokowi gimana sih? Saya jawab jujur, mungkin jawabnya ya B Aja alias Biasa Aja. Belum terlalu kerasa. Tapi kan memang ini jangka panjang, baru setengah jalan dari 5 tahun masa pemerintahan.

Contoh nih, ada pembangunan Tol Trans Sumatra, ya ga mungkin langsung jadi. Dikira ini jaman Roro Jongrang? Tol Palembang-Indralaya saja baru satu seksi, tapi sudah cukup membantu sedikit menghindari macet. Saya jelas berharap segera selesai kalau bisa ada Palembang – Lampung, tapi, ya tahu diri prosesnya akan bertahap dan sambil berdoa juga, semoga cepat selesai.

Saya pribadi, sebagai generasi yang masih mengaku muda merasakan gaya komunikasi Pak Jokowi yang berbeda. Beliau bisa mendekatkan diri dengan rakyat melalui blusukan bahkan datang ke mall atau pasar dengan santai. Belum lagi urusan sosial media, Pak Jokowi bahkan nge-vlog yang terakhir saya tonton cerita beliau tentang satwa di Istana Bogor. Yang saya rasakan dari vlog itu? Ya Pak Jokowi itu sama kayak rakyat kebanyakan, ketika santai, ada kesenangan sendiri dan yang dilakukan pun sederhana. Belum lagi cerita tentang Pak Jokowi yang ditegur Bu Iriana karena kurang rapi, ini juga menjadi hal yang menarik bagi saya. Sebuah bentuk keromantisan dan keinginan seorang istri untuk melihat suaminya tampil sempurna di hadapan publik. Setelah itu dengan santainya beliau becanda lagi menanggapi teguran. Jujur, waktu nonton di berita, saya merasa terharu campur ketawa.

Terkait program kerja dan hal lain yang beliau lakukan di dalam negeri, saya merasakan adanya misi untuk membawa ke Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Ingat kan, di awal terpilihnya Pak Jokowi sebagai presiden, kita kerap mendengar “Revolusi Mental”. Saya coba melihat beberapa hal dari dua sisi. Contoh lagi nih, urusan BBM Premium yang dirasa hilang dan sekarang banyak dijual Pertalite. Ya mungkin ini bagian dari revolusi mental, biar masyarakat ga tergantung dengan subsidi dan pemerintah. Hal lain yang saya rasakan adalah pengenalan Indonesia ke seluruh warganya.

Program Pemerintah sudah diupayakan untuk Indonesia-sentris, artinya untuk seluruh Indonesia, tak hanya Jawa saja yang maju. Pak Jokowi melalui berbagai kesempatan berkunjung ke daerah-daerah dan mengenalkan pakaian adat daerah tertentu, yang mungkin kita sekarang ga tahu itu pakaian apa namanya. Saya juga menyampaikan apresiasi ketika Upacara Kemerdekaan 17 Agustus 2017 lalu para undangan memakai pakaian adat. Coba saya tanya, kapan terakhir kali pakai pakaian adat? Atau kenal tidak dengan pakaian adat daerah lain? Waktu nonton Detik-Detik Proklamasi dari tv rasanya wow, seru banget itu dan para undangan pun niat loh pakaiannya. Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika tuh gitu.

Setelah presentasi, kami diajak sharing tentang daerahnya. Sempat ada pertanyaan dari Pak Ando terkait situasi di Palembang apakah ada perpecahan yang dipengaruhi SARA atau tidak. Koh Deddy pun bahwa selama ini kondisinya cukup aman dan saya sendiri menambahkan, hal yang saya rasakan di Palembang dengan keberagamannya adalah seperti tak ada perbedaan. Coba deh main ke Palembang sekitar Perayaan Imlek atau Cap Go Meh. Tak hanya teman-teman Chinese saja yang merayakan, masyarakat dari berbagai golongan ikut serta main ke Pulau Kemaro.

 

Bu Lasmi menceritakan tentang Tim Komunikasi Presiden (TKP) yang terdiri dari Pak Ari Dwipayana, Pak Sukardi Rinakit, dan Pak Johan Budi SP. Masing-masing punya peran sendiri dan ada tim kecil lainnya. Yang sering terlihat tampil di televisi adalah Pak Johan Budi sebagai Juru Bicara Presiden. Sementara itu, jika pernah mendengar pidato Jokowi yang menurut saya keren (salah satunya saat pembukaan Konferensi Asia Afrika tahun 2015), itu adalah hasil karya dari Pak Sukardi Rinakit.

Setelah bincang santai tapi serius selesai, kami dipersilahkan untuk keliling area Gedung Utama Kementerian Sekretariat Negara dan foto-foto. Pengennya sih main ke Istana Negara, tapi sedang ada perbaikan. Yaaa, berharap lagi boleh kan ya, siapa tau suatu saat nanti diundang masuk Istana Negara 🙂

***

Dari acara ini, apa sih yang saya rasakan?

Kalau perasaan saya sendiri sih campur aduk, bangga, senang, sampai deg-degan. Ternyata, hobi menulis di blog mendapat apresiasi. Ya, mungkin pemerintah sadar akan maraknya hoax erat kaitannya dengan tingkat literasi di Indonesia yang masih rendah. Selain itu, kekhawatiran hoax dipercaya menjadi kebenaran juga menjadi kekhawatiran yang dirasakan. Adolf Hitler pernah menulis di otobiografinya bahwa jika kebohongan diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya dan menganggapnya benar. Bukan tidak mungkin kalau hoax yang sekarang beredar telah dipercaya masyarakat dan dianggap sebuah kebenaran.

Acara ini menjadi sebuah ajakan untuk para blogger menyampaikan konten-konten positif. Harapannya tentu dengan semakin banyak konten positif, konten negatif akan tenggelam. Kami pun dipersilahkan menyampaikan beragam aspirasi atas permasalahan yang kami rasakan dan mencoba memberi solusi atas permasalahan yang dirasakan.

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, saya merasa diajak berpartisipasi untuk membangun negeri. Ya, partisipasi bisa berupa apa saja kan, salah satunya mungkin menyampaikan konten positif dan hal baik yang telah dilakukan pemerintah.