Bapernya Ibu Muda Akibat Buku Susah Sinyal (Ika Natassa & Ernest Prakasa)

Aku mengenal karya-karya Kak Ika Natassa sekitar tahun 2007, jaman SMA. Lalu berlanjut sampai sekarang. Rasanya, aku cocok dengan tulisan-tulisannya. Fans buku-buku Kak Ika cukup banyak, bahkan sampai ada yang delusional dan jatuh cinta dengan tokoh-tokohnya. Been there. Yap, pernah juga ngerasa delusional, tapi sekarang gak terlalu lagi.

I still love her books until now. Aku pernah ada di barisan orang yang siap Pre Order (PO) berdarah-darah karena saking cepetnya ludes setiap PO buku Kak Ika. Apalagi join di grup readersnya di Line. Info PO buku pun jadi lebih cepet tau dan lebih siap-siap sampai pasang reminder di hp. Cuma, belakangan ini notif twitter dan line grup lagi gak kuperhatiin banget sampai kelewat ada PO Susah Sinyal. Beruntungnya, pas gak sengaja buka line grup, ada yang setelah PO bilang kelebihan, langsung aku kontak, dan alhamdulillah masih dapat 2 dari 1.000 copies of limited and signed edition. Hihi, mungkin orang bakal aneh kali ya, buku yang ada tanda tangannya, edisi pertama dikejar-kejar. Eh, ada bonus CD Soundtracknya juga ding. Sama Stand-Up Comedy Show para pemain film Susah Sinyal.

Susah Sinyal sebenarnya sebuah film yang tayang di bioskop Indonesia pada bulan Desember 2017 lalu. Jujur, sejak nonton Cek Toko Sebelah yang rasanya maknanya dalem, aku ngerasa kudu nonton film Koh Ernest Prakasa lagi yang memang biasanya tayang di akhir tahun seperti Susah Sinyal ini. Trailernya bisa dilihat dulu.

Waktu nonton, aku bawa anak kecil (1,5 tahun). Film Susah Sinyal jadi film kedua yang kutonton dengan mengajak Mahira. Maafkan, ibu-ibu ini udah puasa nonton 1,5 tahun. Kangen tau nonton film di bioskop dan rasanya karena film tentang keluarga, aku jadi ngerasa oke aja bawa anak nonton. Ternyata, salah! Salahnya, jam nonton di jam tidur Mahira, tapi dia gak mau tidur-tidur, berakhir cranky, dan sisa 40 menit menjelang akhir film, kami memilih keluar dari bioskop. Gak puas? Jelas. Tapi mau gimana lagi.

Oke, lanjut ya, udahan dulu curhatnya…

Setelah film habis masa tayang, lihat bahwa akan ada buku yang ditulis Kak Ika & Koh Ernest. Buku ini diadaptasi dari skenario film Susah Sinyal karya Koh Ernest dan istrinya, Kak Meira Anastasia. Kayaknya baru kali ini deh, aku selesai baca buku yang diangkat dari skenario film dan rasanya puas banget karena jadi tau akhir dari film yang gak selesai kutonton. Secara keseluruhan, pasti ada beda antara film dan buku. Explorasi cerita dari buku jadi lebih luas dan itu bikin aku lebih puas karena ada hal-hal yang emang di film sedikit kurang ‘greng’ aja dan terjawab di novel.

***
Jakarta bukan jenis kota yang membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama. Tiga puluh enam tahun hidup di Jakarta sudah cukup untuk membuat Ellen paham bahwa kota ini tidak cocok untuk yang lemah dan gampang menyerah, dan itu membuatnya sukses menjadi pengacara di usia muda.
Ellen selalu punya solusi untuk segalanya, kecuali untuk anaknya sendiri, Kiara, remaja pemberontak yang lebih sering melampiaskan emosi dan kreativitasnya di media sosial. Sebagai single mom, Ellen membesarkan kiata dibantu ibunya, sosok yang bagi Kiara lebih seperti ibu daripada Ellen. Tanpa Ellen sadari, hubungan mereka kian renggang dan selalu terganjal masa lalu yang Ellen simpan rapat-rapat.
Segalanya ada pada waktunya, dan segalanya juga bisa tiada pada waktunya. Dan ketika tiba pada waktunya, kita tidak bisa apa-apa. Hidup mereka langsung berubah saat sebuah tragedi menerjang tanpa diduga, yang menyebabkan Ellen “melarikan diri” ke Sumba dengan Kiara, meninggalkan sementara kasus besar yang sedang dia tangani.
Diadaptasi dari skenario film Susah Sinyal karya Ernest Prakasa dan Meira Anastasia, novel kolaborasi pertama Ika Natassa dan Ernest Prakasa ini akan membawa kita ke dalam perjalanan menemukan diri sendiri, berdamai dengan masa lalu, dan juga menerima kenyataan, sepahit apa pun itu, tanpa kehilangan harapan.

***

Blurb Susah sinyal cukup jelas, bercerita tentang Ellen, seorang single mother dengan profesi pengacara handal namun memiliki masalah dengan anaknya, Kiara. Ellen tidak dekat dengan Kiara, justru Oma Agatha (ibunya Ellen) yang lebih dekat dengan Kiara. Mungkin dalam tulisanku ini akan ada sedikit yang disambung-sambungin (atau nyangkut-nyangkutin) sama filmnya.

Di awal cerita, kita akan dibawa untuk melihat bagaimana dekatnya hubungan Kiara dan Oma. Kiara yang layaknya anak remaja alias kids jaman now, menyenangi dunia sosial media termasuk instagram dan youtube bahkan mampu menghasilkan uang jajan sendiri dari sana. Sementara itu, Ellen tampak terlalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan kadang memilih menginap di kantor daripada di rumah. Oma adalah orang yang selalu mendukung cucu dan anaknya. Kehadiran Oma layaknya sebuah jembatan yang menghubungkan dua ujung yang jauh berbeda dan tak ada kedekatan satu sama lain.

Beberapa flashback memori di masa lalu tentang kehidupan Ellen menjelaskan bagaimana hubungan Ellen dan Kiara yang tak pernah bisa dekat. Hal kecil-kecil seperti ini yang tidak tampak di film membuatku lebih terbayang dan ‘ngena’ akan alasan-alasan mengapa Kiara dan Ellen rasanya dingin satu sama lain.

Ellen sebagai pengacara handal mencoba membuka firma hukumnya sendiri dan akhirnya mendapatkan kasus perceraian seorang artis (Cassandra). Hampir di saat bersamaan pula, Ellen ditinggalkan ibunya untuk selamanya.

Meninggalnya Oma membuat Ellen dan Kiara kehilangan tempat berpegangan. Kiara di sekolah menjadi sedikit bermasalah hingga Ellen dipanggil ke sekolah dan bertemu kepala sekolah Kiara, yang juga guru BPnya dulu, Ibu Roslina. Ibu Roslina lah yang akhinya menyarankan Ellen agar melakukan quality time dengan Kiara karena kini mereka berdua yang harus saling mengisi satu dengan yang lainnya untuk saling menguatkan padahal di awal mereka sama sekali jauh dari status ibu dan anak yang harmonis.

Singkat cerita, akhirnya ibu dan anak ini liburan ke Pulau Sumba atas permintaan Kiara yang ngefans banget sama Andien dan liat foto-foto IG Andien di Pulau Sumba yang kece abis. Mereka menginap di Humba Resorts milik Tante Maya dan ternyata Wi-finya ngadat, sinyal buat hp di pulau itu juga yaampun bikin galau karena GSM (Geser Sedikit Mati). Jadilah Kiara banyak bete karena itu hotel hasil pilihan mamanya tapi juga sedikit ngerasa bersalah karena yang request ke Sumba juga dia sendiri. Ellen pun sama galaunya soalnya kerjaan di Jakarta juga jadinya gak kepegang padahal itu kasus perdana setelah ia bikin law firm sendiri.

Walaupun bete karena urusan sinyal yang susah (dan juga listrik pun susah), Kiara bertemu dengan Abe, pegawai Humba Resorts yang rajin dan bersahabat. Beberapa kejadian membawa Kiara dan Ellen berantem dan dingin lagi satu sama lain, walaupun pada akhirnya saat mereka kembali ke Jakarta dengan damai satu sama lain. Ellen bisa membuat Kiara tertawa dan lebih terbuka. Hubungan mereka pun kembali membaik.

Namun, jangan kira cerita selesai sampai setelah liburan saja. Kiara yang sebelumnya ikut Audisi The Next Voice akhirnya tampil di audisi langsung depan juri idolanya, Andien. Sayangnya, janji Ellen untuk menonton Kiara pun kandas karena jadwal persidangan yang molor dan berakibat marahnya Kiara kepada Ellen sampai kabur dari rumah, menuju……Sumba kembali.

Akhirnya, Sumba pulalah yang menjadi tempat damainnya Kiara dan Ellen setelah Ellen menjelaskan segalanya kepada Kiara.

***

Fiuuuuuuuuuuh….Aku jadi inget beberapa potongan wawancara Koh Ernest saat filmnya akan tayang di bioskop. Susah sinyal di film ini bukan hanya urusan susahnya sinyal di Pulau Sumba seperti yang ada pada trailer, tetapi susahnya hubungan ibu dan anak (Ellen dan Kiara) yang diangkat sebagai inti dari cerita ini.

Karena sudah nonton filmnya (walau gak sampai abis), otomatis aku nyambungin cerita di film sama novel. Beberapa hal yang mengganjal seperti kenapa sih ini Kiara dan Ellen gak dekat, kok bisa Bu Roslina (Kepsek Kiara) bisa manggil Ellen seolah akrab (padahal biasanya yang datang untuk urusan sekolah Oma Agatha), kenapa Ellen bisa semuda itu menikah padahal dia terobsesi menjadi pengacara seperti ayahnya, akhirnya bisa terjawab di buku ini.

Seperti filmnya yang penuh dengan komika, dialog-dialog lucu nan absurb yang muncul dari Ngatno & Saodah (asisten di rumah Ellen), Astrid & Iwan (partner Ellen di kantor), serta Tante Maya, Melki, & Yos (dari Humba Resorts di Sumba) tetap disampaikan di novel ini untuk menetralkan emosi yang terkadang dibawa haru (sebagai ibu) oleh rentetan kisah Ellen & Kiara.

Sebagai seorang ibu, baca cerita di buku ini rasanya tuh….uh, nyesek galau gundah gulana gitu. Nyelesein buku ini semalam waktu anak lagi tidur dan keliatan tenang banget. Tapi begitu bangun pagi, duh mulai deh kepala nyut-nyutan dan hati baperan. Apalagi setiap pagi atau siang, mau berangkat kerja, anak lagi ogah salaman soalnya ngerasa dimarahin kayaknya sih. Gimana bawaan ga marah-marah ya, anak mulai ikut campur waktu aku lagi siap-siap berangkat kerja, mulai ambil lotion lah, ambil botol serum, ambil lip balm dan make-make, duh udah dialihin segala cara cuma berulang terus setiap hari gitu. Harus maklum sih dia di fase terrible two, tapi masih belum nemu cara yang pas buat nanganinnya. Ugh.

Baca Susah Sinyal ini bikin baper. Yaampun, gak pengen banget nanti kalau udah gede hubungan sama anak (kebetulan anak juga perempuan) jauh gini. Dingin satu sama lain. Jadinya tuh deg-degan aja sih sekarang. Kayaknya aku sama Mahira tuh setipe, sama-sama keras kepala kayaknya dan Bojo itulah yang sering jadi penengah. Semua orang punya pertarungan sendiri-sendiri.

Menjadi ibu, memang butuh kesiapan mental, gak cuma fisik, juga kesiapan untuk berkorban bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Banyak pesan moral yang disampaikan melalui cerita Ellen dan Kiara. Buku ini juga mengingatkan saya sebagai ibu yang memiliki tanggung jawab terhadap kebahagiaan anaknya. Oh iya, belakangan sering juga ibu-ibu itu saling nge-judge satu dengan lainnya dan ngerasa paling bener sedunia. Huft, alangkah indahnya kalau kita saling mendukung. Well, yeah, untuk beberapa hal yang masih di luar nalarku (kayak kenapa orang gak vaksin), kadang masih belum bisa kuterima juga sih.

Adegan Ellen yang setelah melahirkan merasa stress lalu butuh pelarian itu banyak kejadian loh. That’s why, aku ngerasa punya komunitas atau teman sefrekuensi yang bisa mahamin kondisi itu penting. Atau ngga, perlu ‘pelarian-pelarian’ kecil buat seorang ibu misalnya kalau aku dengan nge-blog. Dukungan keluarga (misal Oma yang dukung dan bantu Ellen) juga sangat besar efeknya buat kesehatan jiwa ibu-ibu yang mungkin abis lahiran (biasanya anak pertama), itu banyak perasaan campur aduknya, ya lega, kaget, seneng, khawatir ini itu, dll.

Semoga selalu bisa menjadi ibu yang lebih baik setiap harinya untuk anak-anak dan menjadi istri yang lebih baik pula untuk suami.

Oh iya, soundtrack film ini bagus-bagus loh. Didengerin sambil ngebaca bukunya rasanya juga makin nambah mellow.

(Bukan) Belajar Cara Resign Ala Kacung Kampret di Buku Resign

Anjritlah, kampret.

Kata-kata itu keluar dari mulut gue sambil senyam senyum setelah nyelesein buku Resign karya Almira Bastari ini. Eh itu bukan umpatan loh ya. Puas banget rasanya baca buku ini. Seger-seger bahagia kayak abis keramas di salon gitu lah. Secara gue udah lumayan lama ya gak baca buku tipikal Metropop.

Secara judul, buku Resign ini bisa ambigu banget. Mancing generasi millenial yang katanya doyan resign, terbukti waktu gue posting di instastory, ada temen kantor yang emang getol banget wirausaha langsung pengen minjem. Gue bilang aja ini buku fiksi romantic comedy gitu. Perlu dicatat, di sudut kiri atas ada logo Metropop, yang artinya buku ini biasanya punya tema tentang kehidupan masyarakat urban di kota Metropolitan. Sejauh ini yang sering dibaca sih settingnya Jakarta.

Gue tau buku ini pertama di grup readers Ika Natassa dan telat, PO pertama yang katanya berdarah-darah itu udah tutup, ludes seketika. Terus ada temen kantor yang dapet langsung dari penulisnya. Katanya sih, penulisnya ini temen kuliah S2 di Melbourne. Wih, beruntung banget dapet free. Nyari-nyari toko buku online yang jual, akhirnya nemu di Bukubukularis.com dan beli deh.

Sempet nyesel, begitu kelar transaksi di web beberapa hari kemudian buku lain dari penulis yang sama yang judulnya Melbourne (Wedding) Marathon dijual di IG Bukubukularis dan ga bisa ditambahin ke pesanan sebelumnya karena udah dikirim. Kode banget sih disuruh jajan buku lagi, ya kan kalo beli buku online 1 nanggung, 2 kurang, 3 belum cukup, 4 masih pengen nambah, dst.

Oke, lanjut…

Jadi, konon kabarnya Resign ini sempat ditulis di Wattpad dan banyak banget yang ngikutin (terbukti PO nya aja berdarah gitu). Sayangnya gue emang bukan pecinta Wattpad dan bener-bener ga tau sama cerita ini. Katro ya, maafkan. Pernah beberapa kali baca novel yang di cover ada tulisan “Telah dibaca ribuan atau mungkin jutaan kali di Wattpad” ngerasanya sih kurang puas, makanya jadi jarang ngikutin Wattpad lagi. Beruntungnya, novel ‘Resign‘ ini ga ada tulisan macam itu. Mungkin kalau ada gue juga bakal skeptis duluan. Ya maaf lagi deh jadinya gw men-generalisir.

***
Kompetisi sengit terjadi di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Pesertanya adalah para cungpret, alias kacung kampret. Yang mereka incar bukanlah penghargaan pegawai terbaik, jabatan tertinggi, atau bonus terbesar, melainkan memenangkan taruhan untuk segera resign!
Cungpret #1: Alranita
Pegawai termuda yang tertekan akibat perlakukan semena-mena sang bos.
Cungpret #2: Carlo
Pegawai yang baru menikah dan ingin mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi.
Cungpret #3: Karenina
Pegawai senior yang selalu dianggap tidak becus tapi terus-menerus dijejali proyek baru.
Cungpret #4: Andre
Pegawai senior kesayangan sang bos yang berniat resign demi menikmati kehidupan keluarga yang lebih normal dan seimbang.
Sang Bos: Tigran
Pemimpin genius, misterius, dan arogan, tapi dipercaya untuk memimpin timnya sendiri pada usia yang masih cukup muda.
Resign sebenarnya tidak sulit dilakukan. Namun, kalau kamu memiliki bos yang punya radar sangat kuat seperti Tigran, semua usahamu akan terbaca olehnya. Pertanyaannya, siapakah yang memenangkan taruhan?
***

Duh, ah, ehm, baca blurbnya aja udah kesindir gue. Resign sebenarnya tidak sulit dilakukan, iya tapi semua bergantung sama alam semesta juga, termasuk bos. Lagi ikutan daftar perusahaan lain,eh malah disuruh dinas. Lagi ikutan lain lagi, eh malah cuti di luar kota. Mau ikutan yang lain lagi, kepentok umurlah, kepentok status lah, emang ga belajar lah.

Pernah keluar kata-kata dari bos gue, kalo generasi millenial gak cocok sama perusahaan tempat dia kerja, ya silahkan resign. Iya sih, resignnya mah gampang. Setelahnya itu, kalo masih mau kerja dan belum dapat kerjaan baru ya jadinya mah ga gampang juga.

Oke cukup nun, cukupkan dulu curhatanmu sampai di sini.

Balik lagi ya, jadi ya ceritanya 4 cungpret (alias kacung kampret) ini, semacam udah niatan resignlah. Alasannya ya jelas ada di blurb buku itu. Urusan resign yang gak kelar-kelar ini dan bolak balik gak kejadian semacam jadi wacana doang gitu akhirnya dibikin taruhan. Pokoknya yang terakhir resign bakal paling tekor deh.

Berbagai cerita niatan resign dan berakhir gagal maning gagal maning karena semesta yang ga mendukung alias ada aja kejadian ajaib yang bikin acara wawancara gagal lah atau apapun itu diceritakan dengan lancar beserta serangkaian percakapan yang biasa dilakukan di kantor. Plus-plus percakapan di kantor banyak banget, mulai dari urusan keluhan kerjaan, rencana cuti, sampai ghibah-ghibah ringan tentang bos Tigran.

Namanya juga Metropop, gak pernah jauh-jauh dari urusan percintaan. Apalagi Bos Tigran dan Alranita juga single. Udah kebaca sih dari gelagatnya kalau Bos Tigran ini naksir si Rara, cuma ya itu, cerdas banget nih penulisnya bikin ceritanya. Dibuat gremet-gremet kesengsem dulu sama tingkahnya si Tigran. Hahaha, jadi Tigran ini bisa dibilang walaupun nyebelin di kerjaan tapi ya di luaran tuh emang bikin kesengsem manis manis polos pengen diuwel-uwel. Oh my, kenapa lelaki dewasa itu menggoda *lirik Bojo*.

Omongan-omongan di kantor juga rasanya ngalir aja. Seru banget sih rasanya punya temen-temen kantor yang asyik sekaligus kayaknya tim yang saling support kayak geng cungpret ini. Ah, pokoknya seru deh baca ini. Berasa deket banget sama kehidupan nyata para pekerja cungpret. Beneran deh ga nyesel. Ceritanya ngalir aja. Terus ya dibayanginnya gampang aja. Temanya simple, related sama gue yang suka ngaku milenial ini. Resign. Tapi dikemasnya super apik dan kekinian.

Oh ya, yang gue suka lagi, di setiap bab itu ada quote-quote yang bisa ngena banget hahaha. Pas baca tuh bikin senyum-senyum sambil dalem hati…hahaha iya banget sih ini gitu-gitu deh. Setelah puasa sekian lama dari bacaan metropop, Resign rasanya bikin otak dan hati seger lagi dan haus bacaan metropop lainnya.

Ajaibnya Kehidupan Teller di Jungkir Balik Dunia Bankir

Aha, tepat setelah menyelesaikan buku Born to Travel, buku Jungkir Balik Dunia Bankir (JBDB) karya Kak Haryadi Yansyah sampai ke tangan aku. Kadang ngerasa kalau ada buku dengan penulis yang sama harus nyelesein yang dibeli duluan. Nah, kebetulan aku udah PO buku JBDB ini tapi emang gak minta dikirim ke rumah. Alasan pertama, karena buku Born to Travel belum tamat, alasan kedua karena biasanya ada kumpul-kumpul komunitas jadi ada kemungkinan bertemu. Terbukti, walau gak ketemu Kak Yayannya langsung, bukunya tetep nyampe waktu aku ngumpul sama temen-temen Kompasianer Palembang (Kompal) hari Sabtu lalu.

Sempat dibuat kaget sama secarik kertas putih yang isinya tulisan bahwa mungkin aja buku ini ‘not my cup of tea’ alias bukan jenis bacaan yang biasa aku nikmati. Wah, baguslah sudah diingatkan. Aku sempat baca beberapa chapter di wattpad sih, emang bukan tipikal bacaanku yang biasanya metropop atau drama percintaan. But, namanya bentuk support, yuk mari kita mulai membaca.

***
“Bagaimana bisa saya mengambil uangnya, sedangkan uang dari tadi masih di atas meja, Bu?” ujar gue dengan suara tertahan. Gue nggak mau nasabah yang lain menganggap gue tukang ngembat. Sungguh harga diri guw terinjak-injak!
“Ya bisa-bisa kamu deh gimana ngambil uangnya!”
Setop! Habis sudah kesabaran gue.
***
Berpenampilan rapi dengan senyum manis dan pelayanan yang ramah, begitulah teller. Tapi, di balik semua itu, banyak kisah menyebalkan, menyedihkan, menyeramkan, namun juga konyol, lucu, dan menyenangkan yang dialami oleh teller dalam melayani nasabah. Nah, buku ini menyajikan kisah-kisah tersebut dengan renyah dan mengasyikkan.
Membaca buku ini, kamu akan tahu realitas di balik konter teller serta segala suka dukanya. Penasaran? Dijamin! Kisah-kisah di buku ini akan membuatmu tersenyum, ngakak, sekaligus geregetan.
Selamat membaca!

***

Begitulah blurb dari buku ini. Sedikit banyak bikin penasaran tentang kehidupan teller. Buku ini terdiri dari beberapa cerita pendek tentang Kak Yayan yang pernah bekerja sebagai teller bank Independen. Begitu baca semacam lembar peruntukan, saya langsung nebak sih itu Bank Independen aslinya bank apa. Secara ya nasabah di bank itu dengan kode nomer cabang yang mirip sama kode awalan nomer rekening. Apalagi kemudian disebutkan bahwa itu bank pelat merah. Aha, aku tebak, ini bank warna biru sama emas itu.

Perjuangan menjadi pegawai bank dimulai dari sejak Kak Yayan lulus kuliah dan mendaftar walk in interview sampai menjalani serangkaian tes mulai dari wawancara sampai tes kesehatan yang ternyata tes kesehatan buat nyari kerja tuh ya emang gitu.

Gimana sih ? Baca aja bukunya biar tau hehehe.

Aku jadi ingat jaman aku lulus kuliah. Ikutan arus nyari-nyari kerjaan juga. Dateng ke jobfair yang ada Bank Independen dan bank lainnya baik yang pelat merah maupun engga. Bank pelat merah lain malah ada yang lebih parah seleksinya, di awal udah ngeliat fisik kayak tinggi ngga, langsing ga, dandan ga. Ya jelas lah aku tak lulus urusan begitu, kucel, hitam, dandan seadanya, baju lusuh naik motor Dayeuhkolot-Dago juga bodo amat. Kalau Bank Independen sih masih mending emang, masukin berkas, lolos, ikutan wawancara, lolos, terus berhenti karena jadwalnya tabrakan sama tes tempat lainnya.

Lanjut sama cerita Kak Yayan di buku ini, pada akhirnya setelah ia diterima di Bank Independen, ia menjadi teller. Teller itu ya yang biasa melayani nasabah untuk penyetoran atau penarikan gitu . Seringnya ada area tersendiri yang isinya kumpulan teller dan antrian mengular orang-orang yang berdiri gitu pada jam tertentu. Teller sering keliatan berdiri, walau kadang duduk juga kayaknya untuk menyelesaikan transaksi. Di meja teller kadang tampak mesin pinpad, sementara di balik meja ada mesin yang buat ngitung uang segepok itu. Kadang ngeliatnya kasian ya teller ini sering berdiri, beda sama Customer Service (CS) yang kayaknya banyakan duduknya di balik meja. Hehehe.

Jadi teller artinya bakal banyak ketemu dengan nasabah. Hal ini lah yang menjadi inti dari cerita-cerita pendek di buku Jungkir Balik Dunia Bankir. Ya iyalah, wong ada tulisan di bawah judul Curhat Gokil Mantan Teller Bank. Namanya ketemu nasabah, yang bentuknya didominasi orang (ya mana ada juga sapi mau nabung di bank), variabelnya bebas tak tentu, artinya macam-macam segala rupa mulai dari ras, latar belakang, sampai tingkah lakunya. Kalau orang yang ngerasa normal kayak aku, mungkin ngerasanya ke teller kan cuma nyetor sama narik uang aja, malah pengennya ga lama-lama deh di banknya, soalnya juga kebetulan di bank cabang kantor sebelah ga ada mas-mas bening ngapain lama-lama. Gak bakal ada cerita kayaknya.

Kebayang ga sih kerjaan teller itu berat setiap harinya bisa ketemu 200-an nasabah. Ya asumsi setiap hari 5% nya ajaib artinya 10 orang ajaib bisa diceritain, dikalikan dengan 5 hari kerja, dikalikan jumlah minggu kerja, dikali jumlah tahun kerja. Wah, bakal banyak cerita ini.

EH KOK KAU JADI NGITUNG-NGITUNG!

Cerita ketemu nasabah dimulai dari cerita 3 sampai 37 (eh tapi ada sih selipan yang bukan tentang nasabah). Ada aja nasabahnya Kak Yayan ini, mulai dari yang KTP ajaib, nasabah prioritas yang bossy, anak ABG tanggung yang labil, bapak-bapak ganjen, nama orang pada umumnya jenis kelamin perempuan tapi ternyata laki-laki atau sebaliknya, keluarga yang suaminya stress ibunya galau anaknya cemas, nasabah yang namanya susah, nasabah doyan khotbah, mas-mas doyan dempulan bedak tebel, ibu-ibu nyenyes alias wewet cerewet, nasabah yang sok-sokan, nasabah bule, dan banyak lagi.

Intinya ya walau banyak keseruan-keseruan ketemu orang yang ajaib dari atas ke bawah sampai bikin jungkir balik melintir kanan kiri, tapi baca buku ini juga aku jadi ngerasain bahwa apa yang dibilang beberapa orang kalau kerja di bank itu berat ada benernya.

Aku kadang sering denger bahwa kerja di bank itu kadang banyak lemburnya, apalagi di akhir bulan gitu, soalnya ya kebetulan kakakku juga kerja di bank dan sering dapat laporan dari mama kalau ia belum pulang, lagi lembur.

Kerja di bank konon kabarnya dikejar-kejar target, aku ga tau sih ini bagian mananya bank tapi pernah ada kejadian ibu-ibu di kantor anaknya kerja di bank dan cerita kalau sering banget anaknya ini semacam transfer duit ibunya sejumlah sekian puluh juta karena buat nutupin target, ntar dibalikin lagi sih.

Kerja di bank, namanya urusan sama duit, ya harus lebih teliti dan was-was. Namanya duit kadang warnanya mirip-mirip (lagian kenapa warnanya mirip banget kan ya 2.000 sama 20.000 sekarang aja sering siwer ketuker), jadi jangan sampai salah kasih ke nasabah. Belum lagi kalau uang setoran banyak, harus siap hitung walaupun ada mesin juga siap hitung manual pake tangan dan spons yang ada di meja itu. Jangan pake ludah lah, jijik kali. Yang jelas, jadi teller dari pengalaman Kak Yayan, kudu siap nombok kalau ga teliti.

Eh jangan sampai ga ada yang mau jadi teller gara-gara baca kesimpulan ajaibku ini ya.

Selama ini aku tau sih ada yang namanya nasabah prioritas, biasa dilayani berbeda, ruangannya juga katanya ada yang beda gitu. Kirain ada teller khusus prioritas, tapi baca cerita buku ini aku jadi tau kayaknya teller umum bisa aja tau-tau dipanggil untuk melayani nasabah prioritas. Iya juga ya, kalau teller khusus prioritas sementara jumlah nasabah prioritas sehari juga ga banyak, enak amat kerjaan dia lebih dikit.

Kerja di bank, apalagi jadi teller itu, bisa tau saldo nasabah, ya jelas lah ya. Gimana gak tau kan kadang ada yang minta cetak buku. Punya temen atau saudara kerja di bank yang bisa ngelakuin transaksi kayak gini nih berguna banget. Apalagi kalau tau-tau ada dana masuk kayak transferan asuransi, deposito, atau kita transfer ke rekening yang ga ada internet banking, notifikasinya dan males buat cetak buku. Hehehe.

Yang jelas sih, kerja di bank itu Standar Operasi Prosedur (SOP)-nya jelas, banyak, dan beribet. Terus juga harus rapi (ini sih bukan aku banget). Training-trainingnya juga banyak dan sering banget. Makanya, kayak orang keuangan di kantorku (yang sering banget berhubungan dengan orang bank dan asuransi) sering banget ngebandingin apa-apa dengan sistem kerja di bank. Karena ya emang bagus kan, urusan personal itu dijaga banget lah. Memanusiakan nasabah dan biasanya sih memanusiakan karyawan juga. Contohnya aja panggilan bapak dan ibu yang wajib banget. Bahkan kurang dikit aja bisa kena tegur SQO (Service Quality Officer) kayak pengalaman kak Yayan.

Selain cerita tentang nasabah yang beragam wujudnya baik tampak maupun tak tampak (eh yang tak tampak bukan nasabah ding, kawan di kantor alias penghuni gedung kantor). Kak Yayan juga ngasih info-info menarik tentang dunia teller dan perbankan, seperti apa itu pinpad, limit cadangan dana di bank per hari, bahwa ternyata aku kadang kalo transfer online ada suka ngasih berita juga kayaknya ga kebaca deh di mutasi kebacanya di rekening koran, tips untuk menyetorkan uang di bank agar mempermudah teller dan mempercepat waktu kita transaksi juga, Bilyet Giro, dan banyak lagi.

Karena settingnya di Palembang, sempat ada juga percakapan atau istilah dalam bahasa Palembang. Ada juga beberapa cerita yang menyelipkan pesan moral penting. Oh ya, salah satu cerita tentang keluarga yang suaminya agak stress pasca pensiun cukup membekas sih jadi kepikiran pengen cerita tentang lost power syndrome. Terus baru tau ternyata Kak Yayan ini pernah di cabang yang deket kantorku.

Buat kak Yayan, bukunya menghibur banget. Ada yang bikin senyam senyum mesam mesem ngguyu sama tingkah laku nasabahnya. Maafkan, mungkin aku yang masih terlalu serius dan kurang komedi ini jadi gak terlalu ketawa sampai ngakak-ngakak, maksudnya ketawanya biasa aja emang jarang sampe ngakak koprol guling-guling kayang jalan kepiting. Ada juga yang bikin aku kebawa keselnya ngeliat tingkah laku nasabah yang suka sok-sokan. Tapi, balik lagi, karena settingnya di Palembang, aku jadi penasaran sama hal-hal yang disamarkan misalnya PT Siap Tangkap atau Toko Nenek Yungyun itu toko yang mana hehehe. Memang benar, buku ini bukan tipe buku yang biasa aku baca, tapi aku tetap bisa menikmati bahkan untuk beberapa hal (pesan moral) kena banget di hati.

BORN TO TRAVEL, Yuk Jalan-Jalan Lagi…..

Akhirnya!!!!!

Sejujurnya, banyak banget buku yang masih numpuk di rumah belum kubaca. Rajin belinya doang, bacanya entaran. Termasuk buku Born To Travel ini.

Aku beli buku ini karena salah seorang penulisnya Om Nduut alias Kak Yayan a.k.a Kak Haryadi Yansyah teman facebook dan beberapa akun grup Whatsapp komunitas di Palembang. Alasan beli? Tentu karena ingin mendukung teman sendiri yang udah buat tulisan bahkan dalam bentuk buku. Sekaligus aku pengen belajar (ya semoga sih bisa diterapin) cara menulis yang asyik dan ngga ngebosenin.

Beli di sekitar akhir April 2017, sempat dibawa kemana-mana di bulan Mei atau Juni 2017, akhirnya baru ditamatin di Februari 2018. Lama ya? Soalnya kedistraksi buku lain dan entah kenapa sempet ngerasa….sirik sama foto-foto orang jalan-jalan mulu terus mikir…..huhuhu….setelah berkeluarga gini, bisa ga ya menjelajah lagi keliling-keliling yang rada jauhan gitu, selain roadtrip ke kota sekitar atau pulang kampung. Takutnya baca buku ini jadi baper, pengen jalan-jalan tapi tak bisa. Karena baper dan khawatir yang ga jelas dibuat-buat sendiri itu deh akhirnya ngehambat nyelesein buku ini.

Kenapa akhirnya berani buka lagi buku ini? Karena ga mau rugi. Sayang udah dibeli ga dibaca. Terus ngerasa, semua mungkin kok kalau jalan-jalan. Mau cuma ke kota sebelah juga pasti ada hikmahnya. Ada hal yang bisa diceritain. Ah, saya jadi menyesal sendiri, kenapa jaman dulu pergi-pergi doang males banget update blog. Sudahlah ya, gak usah bahas penyesalan. Satu hal yang pasti, AKU GAK MENYESAL BACA BUKU INI!

Born to Travel adalah karya bersama dari beberapa penulis yang hobi traveling. Perjalanannya tak hanya ke negara yang umum aja. Oke, mungkin emang yang muncul di postingan orang yang kuliat seringnya emang yang negara yang umum aja, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Inggris, Jepang, Korea, atau Hongkong. Padahal negara di dunia ini lebih dari 190-an lebih. Born to Travel membawaku untuk mengenal negara lainnya seperti Lithuania, Iran, Afrika Selatan, Maroko, Chile, Ceko, bahkan Uni Emirat Arab. Untuk negara lain yang memang kadang juga sering didatangi seperi Amerika Serikat, India, dan Australia diulas menarik dari sisi lainnya. Tak lupa, cerita dari negeri sendiri pun muncul melalui pengalaman seru di Raja Ampat.

Cerita pertama dimulai dari Amerika Serikat. Negara Adidaya yang katanya menjunjung tinggi kebebasan tersebut memang cukup terkenal ‘selektif’ untuk menerima orang asing. Aku pernah mendengar cerita seorang kawan kantor saat bosnya batal dinas ke Amerika Serikat karena namanya berbau Islam dan visanya kena tolak. Cerita tentang perjalanan ke Amerika mas Arif Rahman sempat ngebuat aku ikut deg-degan karena penasaran bakal sukses ga ya masuk Amerika dengan nama cukup Islam.

Petualangan di Raja Ampat menjadi cerita kedua. Aku teringat memori masa lalu ketika main ke Raja Ampat, sok-sokan camping, dan beberapa teman patah semangat karena batal ke Wayag. Saat itu Wayag ditutup karena sedang ada konflik memang. Aku jadi ingat, anak-anak Raja Ampat yang asyik bermain di satu pulau, bergantungan di salah satu batang pohon melompat dari tepi pantai lalu nyebur ke perairan. Dilewatin hiu di Raja Ampat yang untungnya ga sadar. Kalau sadar pasti ketakutan. Ah, ingin kesana lagi jadinya karena membaca cerita mas Hendra Fu ini.

Selanjutnya, aku dibuat penasaran dengan sejarah dan alam di Cape Town (Afrika Selatan), ingin belajar juga di Lithuania, ingin menjejakkan kaki dan tinggal di jazirah Arab karena membaca tentang Ras Al Khaimah (Uni Emirat Arab), melihat keindahan masjid-masjid dan memaknai 3 lapis sayap Farvahar (apa itu? silahkan baca di buku Born to Travel) di Iran, pengen main pasir ke Fraser Island, deg-degan karena takut tersesat di Maroko, dan mengikuti cerita tentang Pulau Paskah yang jauh dari mana-mana dan banyak jejak pra sejarah penuh misteri.

Omnduut sendiri bercerita tentang pengalamannya ke India. Ia berduet dengan Mas Taufan Gio menulis tentang Kerala dan Varanasi. Yang aku tahu beliau sempat ikut Kerala Blog Express, blog trip tahunan yang diadakan oleh Kerala Tourism. cerita tentang Kerala memberikan informasi lain tentang India. Yang aku tahu, India memiliki Taj Mahal yang menjadi bukti cinta romantis dan sempat didatangi Raisa dan Hamish. Terkadang ada film-film yang menampilkan daerah kumuh di India seperti pada Slumdog Millionaire atau Lion. Tapi dari cerita tentang Kerala, aku belajar ada daerah di India yang bukan seperti menggambarkan India yang kumuh. Bahkan walau dipengaruhi partai komunis, Kerala terbayang sebagai daerah manis.

Selain dibawa melalui cerita perjalanan menarik dari setiap daerah (atau negara), terdapat catatan Top Things to Do yang dirangkum sebagai guide jika sewaktu-waktu kita bisa mengunjungi daerah tersebut. Ada pula quick fact tentang fakta-fakta yang menarik dan unik. Di akhir buku, terdapat foto-foto menarik dari daerah yang diceritakan yang membuat aku ingin mengunjunginya.

Umumnya, traveling akan memberikan kita berbagai pengalaman menarik, mulai sebelum keberangkatan ke tempat tujuan, di tempat tujuan itu sendiri, sampai mungkin saat kepulangan kita. Traveling akan membawa kita berinteraksi dengan orang-orang baru, budaya baru, hal-hal baru. Apa yang jarang kita temui bisa saja terjadi. Riset adalah hal yang penting yang perlu dilakukan sebelum traveling. Even kita sukanya tanpa rencana, misal cuma mau ke India, urusan nanti di sana mau gimana dan ke mana urusan belakang pas udah nyampe, tetep aja harus riset kondisi di sana gimana, budayanya gimana, tingkat kriminalitasnya gimana, apalagi buat yang pengen jalan tapi kondisi dana agak pas-pasan, riset jadi hal yang utama. Daripada duit abis terus ga bisa ngapa-ngapain karena salah langkah kan?

Abis baca buku ini rasanya jadi menggebu-gebu pengen ngecap paspor lagi yang artinya : KUDU NABUNG BOK! Hehe, sebenarnya pengennya mah dapet visa tinggal, bekerja, atau kuliah di mana gitu hahaha. Doakan ya, amin!

Eh tapi, sebenarnya, traveling, mau dalam negeri atau luar negeri tetap saja akan bertemu tantangan baru. Thanks to Born To Travel yang bikin aku jadi semangat buat menjelajah lagi. Entah hanya dalam kota atau luar kota bahkan mungkin luar negeri pada suatu saat nanti (eh pengennya tahun ini 😀 ).

Simple Happiness, Because Happiness Is Homemade

Aslinya sih, beli buku Happiness is Homemade ini lebih duluan daripada buku Mail, A Love Letter. Sudah pengen nulis, tapi entah kenapa ke-skip sama tulisan lainnya. Karena merasa saat buku ini dateng, aku beneran ngerasa happy dan gara-gara buku ini aku juga nemu buku Mail, A Love Letter, rasanya ga adil kalau aku ga cerita tentang buku ini.

Aku lupa juga gimana awal mula aku bisa nge-follow akun instagram @byputy. Tapi rasanya karena aku ngefollow akun instagram yang isinya oke-oke dan kreatif juga kayak @livinglovingnet. Lalu pada suatu ketika aku ngeliat ada buku bekas yang dijual olehnya dan ada totebag dengan gambar dan tulisan yang lucu PIIHMIK alias Persatuan Ibu-Ibu Habis Menyusui Ikut Ketiduran, yang so true…it’s me…aku banget sih! Langsung deh aku kontak dan beli.

 

Aku follow akun ini terus soalnya suka ngeliat doodle-nya, kontennya asyik, dan kadang ada yang berasa aku banget deh sesama ibu-ibu, yang punya anak usia sekitar 1 tahunan atau lebih (toddler dan sepantaran). Aku gak terlalu sering baca blognya sih, yang aku tau, Puty ini dulu engineer terus sekarang beralih jadi working at home mom sekaligus enterpreneur sepertinya. Kadang ia bagi-bagi freebies di blognya. Keren ih dan yah aku iri. Eh. Semoga bisa belajar juga, entah art entah ilmu enterpreneurnya.

Sampai pada suatu ketika, aku ngeliat postingan kalau ia bikin buku, dan ada Pre-Ordernya. Langsung cus deh aku ke toko buku online dan ikutan PO. Kirain bakal ga kebagian tapi ternyata alhamdulillah aku dapet bonusnya berupa postcard. Sempet mantengin ig storiesnya dia lagi ngedoodle post cardnya, sambil mbatin, semoga kebagian. Soalnya ya emang abis bayar ga ada konfirmasi kan kita dapet apa ga si postcard. Kalo tau-tau masuk urutan 151 kan bisa aja.

Jum’at, 19 Januari lalu buku ini datang. Seperti biasa, Jumat, walaupun hari kerja juga rasanya kerja di hari itu tak sama dengan hari lainnya. Entah salah apa si Jumat. Tapi beruntunglah, di Jumat sore, buku Happiness is Homemade datang. Bikin senang dan suntuk kerja hilang. Eh, ketauan deh bacanya pas kerja. Tapi kan emang dari 8 jam kerja ga semuanya optimal, kadang kita perlu break sebentar. Gak perlu ada kitkat sih.

Di cover depan buku ini berwarna putih ini berisi aneka ilustrasi, ada juga sebuah note di pojok kiri, kalau buku ini full color & fully-illustrated book. Di bawah judul, ada deskripsi, a book of Simple Things to Make You Feel Better in This Mad (Digital) World. Sementara itu, di belakang buku tulisannya begini

Happiness Is Homemade is a charmingly illustrated book, especially made to prevent us from stressing over this crowded digital world that often plagues us.
A blogger, illustrator, and doodle artist-Puty Puar-shares her simplest yet deepest thought about life. What is happiness? Where do we find it? She tried to picture it: that happiness isn’t a matter of size-big or small, near or far, alone or together. The book offers a bunch of insporations and some sources of happiness…..Eventually, happiness is indeed inside our heart. And home is wherever our heart is, and happiness is homemade.

Begitu buka lembar demi lembar, secara cepat, langsung beneran, wooooooooooooooow, keren banget sih ini dia bisa ngedoodle bukunya, bikin ilustrasi macem-macem. Belum, saya belum baca satu per satu apa arti bahagia versi kak Puty ini.

Abis itu saya baru mulai pelan-pelan baca bagian What is Happpiness? Di chapter itu, kak Puty cerita tentang kegalauan dia ngerasa definisi bahagia tuh berubah. Liat aja, di sosial media manapun, sering banget kan ada foto-foto liburan temen-temen kita yang kelihatannya bahagiaaaaaaaaa banget. Trus ada juga yang ditambahin hashtag my simple happiness. Foto-fotonya bisa aja tangannya menclok di Menara Eiffel, ikutan miring di Menara Pisa, kelelep di laut mana gitu, dan banyak lagi. Huhuhu, iya sih, dia keliatan bahagia, tapi kok aku ngerasa sedih ya. Sedih soalnya aku ga bisa ngelakuin hal yang sama. Liburan yang kubisa cuma keliling kota, atau pulang kampung. Ada temen-temen sekolah yang juga jalan-jalan ke luar negeri karena emang tugas dari kantor. Sementara aku lagi kejogrok di kantor ngadepin komputer dan kerjaan sambil mulut mencucu dan misuh-misuh. Duh, kusedih dan kuiri. Kusedih dan kuiri ini lama-lama bikin stress sendiri tau. Padahal mungkin, kita sebenarnya udah dikasih nikmat-nikmat lain sama Allah SWT, tapi mata dan hati kita ketutup sama kenikmatan itu dan malah iri sama hal-hal lain yang orang lakuin.

Haaaah, apalagi setelah menikah dan punya anak, entah kenapa perubahan itu cepet banget saya rasain. Ya walau sering juga ngerasa bahagia setelah berkeluarga, tapi kadang ada perasaan sirik sama temen yang belum nikah terus bisa ngelakuin hal-hal yang belum aku lakuin pas sebelum nikah dulu. Dul, makanya manfaatin waktu yang bener di hidup, atulah jangan main-main, ntar nyesel kayak gini. Penyesalan yang kadang datang itu juga jadinya ngebuat aku lupa bersyukur. Mungkin ada kenikmatan-kenikmatan lain yang udah diberikan Allah SWT tapi ga bisa aku rasain.

Oke, lanjut, jadi intinya gini, buatku, lewat buku ini Kak Puty kayak ngasih reminder gitu, bahwa bahagia itu ya ada di dalam hati kita masing-masing. Bahkan di saat kita ngerasa kepala pusing mbundet keruwelruwel kayak rambut mahira yang kadang susah disisir, tetep ada hal yang bisa ngebuat kita bahagia kok. Kita ada di kondisi sekarang, bisa jadi karena pilihan kita sendiri. Trus, mosok kita ga bahagia sama apa yang kita pilih sendiri.

Jadi, ada beberapa hal simple yang membahagiakan yang coba didefinisiin kak Puty di buku ini, kayak ngerasa cukup tidur, wangi kopi di pagi hari, wangi sabun atau sampo yang kita beli online dan ternyata cocok, bisa naik kereta pas kita mikir bakal telat, masih dapat tempat duduk di bis yang biasanya penuh, dapat pujian dari orang, disapa OB di kantor, nemu duit di kantong (apalagi pas lagi bokek), atau nyoba hal-hal yang baru. Semua hal simple itu kadang secara ga sadar bikin kita bahagia, tapi kita lupa, karena kebanyakan ngeliat orang lain, dan akhirnya ngerasa ga bahagia.

What is the other Homemade happiness of your? Ah, aku jadi pengen nyoba ngedefinisiin kebahagiaan simple sehari-hari yang aku rasain tapi aku suka ga sadar trus lupa karena banyak hal yang bikin kesel. My (almost) daily happiness :

  • Ngerasa cukup tidur, pas bangun tidur udah ga ngantuk lagi, pokoknya siap buat mulai ngerjain apa-apa
  • Ngeliat anak tidur pulas banget, plus bangun ga pake nangis pas dia lagi sendirian di kasur
  • Bisa mandiin anak sebelum kerja, dia udah mau gosok gigi sendiri walau yah gitu deh, banyakan ngemut odolnya yang enak.
  • Bisa masak pagi buat anak, dan dia mau makan banyak
  • Gak diklaksonin Bojo walau lelet banget aku siap-siap ke kantor soalnya siap-siapnya nyambi streaming acara tv Korea atau Jepang
  • Nyampe kantor mepet-mepet, clock in pas banget dan gak kena potongan absensi, ngelewat mesin RFID juga lancar soalnya kadang mesinnya suka rese pas awal dipasang.
  • iPod di-shuffle dan ngeluarin lagu yang pas banget buat nemenin naik tangga sampai lantai 4 walau menges-menges pas nyampe meja kerja.
  • Walaupun iPod baterenya udah ngaco banget tapi dia gak pake mati mendadak pas dipake jalan atau kerja.
  • Bisa nahan godaan gak ikutan mesen indomie yang wangi banget pake tambahan bawang goreng
    Tapi makan krupuk makaroni pakai bumbu balado yang dibawa temen seruangan. Hidup micin!
  • Masih dapat baca 1 chapter buku yang dibawa waktu nunggu jemputan Bojo.
  • Nyampe rumah disambut anak pake cengar-cengir manggil ibu dan dia jawab salam, walau baru ngomong salam dan kadang masih kedengeran kayak ngomong ayam
  • Dimasakin nenek masakan rumahan yang enak-enak plus sambel terasi
  • Bisa tidur siang pules abis nyusuin anak. Iya kan aku PIIHMIK.
  • Masih dapet ikutan sholat ashar jamaah sesi pertama di musholla kantor yang sering banget penuh.
  • Mendadak ada paket yang ditaroh di meja kantor.
  • Bisa ngajak anak jalan-jalan sore muterin komplek abis pulang kerja sekalian earthing latihan jalan gak pake sendal di atas aspal yang kadang masih ada batu-batunya berasa.
  • Sempet video call sama ibu dan ponakan dan anak juga mau ikutan ngomong.
  • Anak ikutan makan waktu kita makan sore, dia mau makan sendiri walau berantakan, trus ikutan icip sambel, kepedesan, trus kita minta dia makan nasi biar ga pedes dan akhirnya nasinya abis hahaha.
  • Bisa bacain buku buat anak walaupun banyakan dia skip-skip trus minta ganti buku atau ngajak main walau cuma main bola.
  • Dipijitin betis sama Bojo, mumpung dia mau.
  • Bisa maskeran atau peelingan, dan anak bukannya serem malah ketawa-ketawa.
  • Puas nyiumin anak dan uwel-uwel pipi dia atau nge-prut-in badan dia seolah-olah dia kentut gitu deh.
  • Anak tidur sebelum jam 10 malem dan gak pernah ngajak begadang. Kadang bangun, tapi begitu nyusu dia lanjut tidur, kita juga bisa tidur.
  • Bisa ngelanjut nonton acara tv Korea atau Jepang yang lagi diikutin, atau nonton acara di TV yang lagi bagus.
  • Sempet update blog dan blogwalking.

Wah, ternyata banyak hal sehari-hari yang bisa bikin saya bahagia. Belum lagi hal-hal lain yang kadang gak terduga kita alamin. Eh tapi, kadang walau kegiatan harian yang bikin bahagia itu gak didapat, juga itu ga mengurangi kebahagiaan kok. Dan aku ngerasa banget nih, kalau bahagia itu erat banget sama rasa syukur yang kita rasain.

Selain kita bisa ngelist rasa bahagia kita, di buku ini ada juga beberapa hal yang bisa jadi kalau kita lakuin bakal ngebuat kita bahagia kayak :

  • involve in local or social activity. Ah, semoga next saya bisa gabung di kelas inspirasi walau masih bingung bakal ngomong apa.
  • Creating a reserve bucket list. Jadi bikin bucket list hal-hal yang udah dilakuin gitu.
  • Taking nephew/niece on a day off going to the zoo atau ngajakin siapun main ke mana gitu dan dia ngerasa bahagia.

Ah, bahagia itu menyenangkan kan. Jadinya pengen nularin kebahagiaan lain deh. Jadiiiiiiiiii, walaupun emang hari-hari itu gak selamanya bahagia, apa yang kita lakuin kadang bikin kita suntuk terus marah-marah, jangan sampai kita ga bersyukur atau jadi lupa sama hal-hal yang mungkin sederhana dan bisa bikin kita bahagia.

Thanks Kak Puty buat bukunya. Semoga kita bahagia selalu <3