Belajar Menjadi Orang Tua untuk Generasi Milenial Melalui Film My Generation

 

Menjadi orang tua, adalah salah satu titik perubahan yang cukup besar dalam hidup saya. Jujur saja saya sempat mengalami rasa kaget, takut, merasa gagal, sedih, bahkan kesal walaupun di sisi lain banyak momen membahagiakan dan seru menjadi orang tua.

frankbeckerde / Pixabay

Orang tua tentu memiliki jaman yang berbeda dengan anaknya. Ketika dulu gap antara saya dan orang tua adalah urusan teknologi, kini saya dan anak akan hidup di jaman yang sama-sama mengenal teknologi dan globalisasi. Mungkin akan ada tantangan lain yang masih belum saya tahu.

Dengan adanya teknologi membuat saya lebih banyak mendapatkan informasi mengenai cara-cara menjadi orang tua yang baik namun teknologi juga memberikan saya gambaran akan adanya ancaman terhadap keluarga seperti narkoba misalnya. Omong-omong menjadi orang tua yang baik, ternyata peran lingkungan di sekitar bisa membentuk bagaimana kita berperilaku terhadap anak. Contoh saja, tak sedikit orang tua yang saling bersaing menunjukkan keahlian anaknya dan berujung kepada menekan anak untuk dapat melakukan hal yang lebih dari anak temannya. Ada juga yang merasa dulu dididik dengan keras dan berhasil, lalu ingin mewariskan gaya didikan itu saat mendidik anaknya.

TheVirtualDenise / Pixabay

Apakah itu salah? Mungkin tidak. Secara teori, menjadi orang tua yang baik itu memang banyak caranya. Tapi secara praktek akan berbeda-beda karena setiap orang memiliki keunikan dan pendekatan terhadap orang lain (anak) pun berbeda-beda.

Ibu saya berpesan, jangan menjadi orang tua yang ditakuti anak-anaknya, tapi jadilah orang tua yang menjadi sahabat anak dan tetap dihormati, bukan ditakuti. Saya pernah membaca sebuah quote dari Ali bin Abi Thalib “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”. Hal ini membuat saya ingin menjadi orang tua yang bisa menjadi sahabat anak sesuai dengan perkembangan yang terjadi di generasi mereka.

Mengenal Kegelisahan Anak Generasi Milenial

jill111 / Pixabay

Di era informasi yang terbuka ini, terkadang saya sering mendapat informasi apapun, termasuk tentang kelakuan anak generasi sekarang. Sebagai orang tua tak jarang saya berdecak sambil berfikir, “ih kok anak jaman sekarang gitu sih” dan berdoa semoga anak saya berperilaku tetap positif. Kalau dipikir-pikir lagi, saya kok kayak yang paling bener aja hidupnya, nge-judge anak jaman sekarang gini gitu. Padahal mungkin jaman dulu waktu seumuran anak-anak remaja saya pernah bertingkah seperti itu juga.

Sampai suatu hari saat iseng di Youtube, saya melihat trailer film My Generation. Iseng saya baca komen-komennya dan banyak tanggapan yang menjudge tentang gaya berpakaian, gaya bicara, atau pendapat yang dikemukakan oleh para pemain film tersebut.


Saya menjadi sebel sendiri, ih, ini orang-orang, belum nonton filmnya kok udah menjudge aja. Saya tersadar, walau pernah juga men-judge terhadap sesuatu, ternyata kalau kita dinilai negatif tanpa tahu kebenarannya kesal juga ya. Siapa sih kita, berani-beraninya memberikan penilaian seperti itu. Kita ini sama-sama manusia loh, yang menilai kita ya Tuhan kita sendiri. Memang sih ada panduan tentang kebaikan dan keburukan, tapi kan ga serta merta kalau kita dinilai buruk langsung masuk neraka. Memangnya kita ga punya nilai baik lain yang bisa membawa kita ke surga. Kebiasaan gitu sih ya, dicap buruk sekali, bawaannya image nya buruk aja untuk seterusnya.

PicsArt_09-25-01.08.01

Dari Trailernya, film My Generation ini mengangkat cerita tentang generasi remaja jaman sekarang yaitu generasi milenial atau disebut juga generasi Z. Terdapat 4 tokoh utama yaitu Orly (Alexandra Kosasie), Suki (Lutesha), Konji (Arya Vasco), dan Zeke (Bryan Langelo) yang bersahabat. Persahabatan keempat anak SMU ini membawa mereka pada kejadian dan petualangan yang memberi pelajaran dalam kehidupan mereka.

 

Secara implisit, sebenarnya keempat remaja ini banyak mempertanyakan sikap dan perilaku orang tua. Sebagai orang tua, saya mendapat reminder tentang realita anak generasi sekarang yang kritis, kreatif, open minded, dan tidak suka dengan sesuatu yang terlalu mengikat. Keempat anak ini juga mempertanyakan perilaku orang tua yang kadang tidak sesuai dengan apa yang diucapkan oleh orang tua sendiri, bahkan cenderung tidak bertoleransi, memberikan label negatif, dan lainnya. Pada dasarnya, anak-anak cenderung mudah diatur jika memang orang tua memberikan teladan yang baik, menjadi sahabat bagi anaknya, tidak menghakimi, tidak membandingkan, dan bertindak sesuai moral yang berlaku dan diajarkan.

IMG_20170922_112202_648

Film karya Upi Avianto (terkenal dengan film Realita Cinta dan Rock & Roll, Radit & Jani, 30 Hari Mencari Cinta, dan My Stupid Boss) ini menjadi pengingat bahwa kita semua adalah manusia, yang sebaiknya berpikiran terbuka dan tidak memandang dunia serba saklek hitam dan putih, surga dan neraka. Karena kita bukanlah Tuhan yang memiliki hak veto atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.

IMG_20170921_223025_193

My Generation memotret kehidupan anak muda generasi milenial yang kompleks dan tentu saja berbeda dengan generasi kita dahulu. Persahabatan yang kerap ditemui saat masa sekolah menjadi salah satu tampilan menarik dari film ini. Melalui keresahan yang sama yang dimiliki oleh setiap karakternya, kita ditawarkan suguhan menarik tentang kondisi nyata generasi sekarang.

Tentunya IFI Sinema dan Upi Avianto selaku sutradara dan penulis skenario telah melakukan riset mendalam untuk menampilkan realita dalam film ini. Sebagai orang tua, saya sangat menunggu film ini karena penasaran dengan kondisi generasi jaman sekarang yang terkadang mendapat label negatif. Film ini saya rasa menjadi pembelajaran dan pengingat, serta bisa memberikan gambaran akan tantangan yang dihadapi oleh orang tua saat ini.
PicsArt_09-19-08.32.26
Oh ya, rencananya, film ini akan hadir di bioskop pada 9 November 2017, jadi, catat tanggal dan luangkan waktu untuk nonton ya.

 

 

 

Produce 101, Acara Apa Sih?

Suatu sore sepulang kerja berniat nonton tv, gonta ganti channel ternyata di tvN lagi ada Produce 101 season 2. Ga penasaran banget sih, cuma ga ada acara lain yang menarik, yaudah deh nonton aja. Udah hampir tengah-tengah Episode 3 tuh, ada perform dari grup, diawali cerita latihan sebelum perform, ada cerita dari personel grup itu, terus ada grup lain yang perform dengan format yang sama, dan berujung pada pengumuman grup mana yang menang battle. Trus ada cowo yang curhat gitu, nangis karena ga jadi center, nangis karena dia ada di grup F yang ga keliatan waktu tampil sebelumnya, dan nangis lainnya. Awalnya sih mikir, ini apaan deh cowo-cowo nangis terus apa sih center kok segitu direbutin banget, dan segala pikiran “ini acara apaan deh!” lainnya.

Eh, besok-besoknya, karena ga ada tontonan lain di jam itu, ya nonton lagi, kali ini episode pengumuman, semacam eliminasi gitu, jadi pengurangan dari 101 orang jadi 60. Oh! Jadi ga 101 orang ini bakal jadi boysband toh, dan berujung kepada PENASARAN apalagi episode berikutnya ada perform yang keren-keren banget.
Produce 101 season 1 & 2
Yak, mulai lagi deh kegirangan saya ke acara TV Korea. Biasanya sih streaming cuma The Return of Superman, Running Man, dan Infinity Challenge, yang walau udah di cable TV tapi selalu pingin terdepan streaming duluan karena kadang sub-nya lebih lengkap dari yang di TV. Jadi, mulailah saya streaming ulang dari episode 1 Produce 101 season 2. Terus udah kelar Season 2 malah lanjut ke Season 1. Penasaran kalo versi cewe gimana. Hahaha.


Dari episode perdana, saya baru tahu kalau ini ajang untuk membentuk satu grup untuk debut yang beranggotakan 11 orang terbaik di kompetisi ini. Jadi dari 101 orang trainee akan diseleksi melalui beberapa babak eliminasi. 101 trainee ini berasal dari bermacam-macam entertainment agency yang ada di Korea Selatan. Debut merupakan salah satu moment penting untuk seorang trainee karena itu artinya mereka sudah masuk di persaingan sebagai artis di Korsel. Ternyata debut itu ga gampang, dari artikel berikut saya baru tahu tahu bisa aja masuk agency terus ga debut. Masuk agency sendiri prosesnya ada audisinya. Oh, itu kali ya makanya banyak ajang-ajang cari bakat juga. Kalaupun sudah debut, harus berusaha supaya tetap terkenal dan ‘menghasilkan’ baik untuk dirinya & groupnya serta untuk agency tentunya. Nah, peserta Produce 101 ini ada yang dari agency besar, ada yang udah debut juga trus ya kurang berhasil gitu, ada yang pernah menang ajang cari bakat trus sekarang ga ikut agency manapun, ada yang baru sebentar jadi trainee, ada yang udah bertahun-tahun jadi trainee, ada yang dari Jepang dan China, beragam background deh.

Ada beberapa tahapan seleksi 101 trainee tersebut.

Test 1 : Test Level Individu.
Jadi semua trainee akan tampil per agency untuk dinilai oleh para trainer dan representative National Producers. National producers itu ya voter di Korea Selatan sana. Ibaratnya ini kan grup idola pilihan nasional. Jadi, para voter di Korsel menjadi produsernya gitu makanya disebut national producers.

Trainee dari masing-masing agency masuk ke ruangan untuk menempati deretan 101 kursi yang telah disusun dengan bentuk segitiga menyerupai piramida. Trainee bebas untuk memilih duduk di mana lalu akan ditampilkan prediksi ranking versi trainee pada saat wawancara dengan tim produksi Produce 101 sebelumnya. Saat masuk studio ini udah macem-macem kelakuan si trainee, ada yang malu-malu nyoba ke kursi no.1 di puncak piramida, terus turun karena ngeri kali ya hahaha. Ada juga yang pede maju ke kursi no. 1. Nah karena bebas milih tempat duduk, kalo ada yang mau di kursi yang sama dia bisa ‘bersaing’ untuk memperebutkan kursi yang sama. Yang jadi rebutan? tentu kursi no. 1 dong.
Level Test

Setelah trainee masuk semua , baru deh para trainer masuk buat ngebagi-bagi para trainee ini ada di kelas mana aja sih. Para trainee dari masing-masing perwakilan kelompok agency dan non agency unjuk bakat di panggung dan dikasih tau hasilnya sama para trainer masing-masing trainee ada di kelas A, B, C, D, atau F. Kenapa E ga ada? ga tau juga deh kenapa.
Perform Produce 101 Season 2

Setelah dibagi kelas, trainee masuk ke asrama dan dibagi kamar per kelas. Setelah itu mereka latihan lagu yang akan jadi tema Produce 101. Setelah beberapa lama latihan per kelas A, B, C, D, dan F, masing-masing trainee akan merekam hasil latihan mereka buat dievaluasi oleh para trainer. Trainer selanjutnya ngebagi report mereka, apakah mereka tetap di kelas yang sama, naik kelas, atau malah turun kelas.

Nantinya, kelas A, B, C, D, dan F ini akan berpengaruh saat mereka tampil untuk lagu tema Produce 101. Kelas A akan dapat porsi tampil paling lama dan paling banyak, sementara kelas F, bisa jadi ga keliatan karena cuma di area sisi panggung bawah. Trainee di kelas A juga punya kesempatan jadi ‘center’ saat tampilsai center adalah hasil voting dari trainee lainnya. Posisi center ini jadi rebutan banget, karena ya memang seringnya disorot kamera.
Perform Produce 101 Season 1

Test 2 : Battle Group

Battle Group

Disediakan beberapa lagu oleh tim produksi. Nantinya trainee akan membentuk grup dengan anggota 5-7 orang. Di season 1, trainee di kelas A rebutan lagu dahulu dan setelahnya membentuk grup dengan memilih trainee lain. Di season 2, yang menjadi Center 101 (Lee Dae Hwi) berhak membentuk grup terlebih dahulu, setelah itu memanggil trainee lain untuk membentuk grup, dan seterusnya. Setelah semua grup terbentuk, perwakilan grup rebutan lagu dan setelah itu memilih lawan.

Battle Group Produce 101 season 2

Jadi, ada suatu event di mana tiap grup akan menampilkan perform. 2 grup menampilkan lagu yang sama (battle) dan ada voting on-scene oleh penonton. Kalau grupnya menang, akan ada tambahan poin yang diperhitungkan dalam perhitungan rangking.
Elimination 1

Setelah battle grup ini selesai, akan diperhitungkan rangking setiap trainee. Di season 1, hanya ada 61 trainee yang berhak lanjut ke tahap berikutnya, sementara di season 2 ada 60 trainee.

Test 3 : Position Evaluation
Position Evaluation : Vocal

Masing-masing trainee boleh memilih posisi yang diinginkan untuk tampilan berikutnya, ada Vocal, Rap, dan Dance. Mereka memilih lagu yang diinginkan. Masing-masing lagu ada kuota personilnya, kalau sudah penuh, ya, terpaksa memilih yang seadanya. Kesempatan memilih mulai dari trainee yang memiliki rangking paling tinggi.
Tim Dance – Vocal – Rap

Mereka pun perform lagi. Yang memiliki nilai paling tinggi di setiap posisi (Vocal, Rap, dan Dance) dari keseluruhan trainee yang tampil akan mendapat keuntungan tambahan poin lagi.
2nd Elimination

Setelah position test, akan ada eliminasi lagi. Kali ini eliminasi menjadi 35 trainee di tahap selanjutnya.

Test 4 : Concept Evaluation

Sebelum eliminasi kedua, para trainee akan dikenalkan oleh lagu yang akan mereka tampilkan pada test berikutnya. Ada 5 lagu baru dengan genre berbeda yang memang diciptakan oleh mereka.

Di season 1, trainee berhak memilih lagu yang mereka inginkan. Tapi kalau kelompok pada lagu yang sama sudah penuh bisa saja mereka ‘diusir’ dari kelompok tersebut. Sementara di season 2, national producers yang voting via online, lagu mana yang cocok untuk trainee idola mereka. Nah, setelah eliminasi, tiap grup per konsep lagu hanya boleh terdiri dari 7 trainee. Jadi kalau ada yang berlebih setelah eliminasi, siap untuk di-kick dan pindah ke grup lainnya.
Concept Evaluation

Pada perform kali ini, national producers cuma boleh memilih satu trainee idolanya. Jadi akan lebih ketat persaingan kali ini. Grup yang paling tinggi hasil votingnya akan dapat poin tambahan dan total poinnya akan didistribusikan ke masing-masing anggota grup.

3rd Elimination

Ini adalah eliminasi sebelum mereka diberikan lagu debut. Pada season 1 disisakan 22 trainee untuk test kelima, sementara di season 2 hanya ada 20 trainee. Hasil poin tambahan saat perform sebelumnya bisa jadi menyelamatkan para trainee yang seharusnya dieliminasi jadi masuk ke trainee yang berhak ikut evaluasi debut.

Test 5 : Debut Evaluation
Nah, ini akan jadi test paling akhir untuk nentuin siapa 11 trainee yang berhak debut menurut national producers. Trainee akan dibagi jadi 2 grup. Di season 1, kedua grup akan menyanyikan 1 lagu yang sama. Sementrara di season 2, ada 2 lagu yang diberikan untuk trainee. Trainee boleh memilih lagu / grup dan posisi yang diinginkan (main vocal, sub vocal, atau rap). Kali ini, trainee dengan rangking paling rendah memilih duluan. Jadi, kalau trainee dengan rangking lebih tinggi pengen posisi itu ya siap-siap ‘di-kick’. Di season 2, akan ada pemilihan center dari tiap lagu dengan voting dari anggota tiap grup.
Final Produce 101

Pada saatnya tibalah mereka perform live. Eh, ternyata ada 1 lagu tambahan lagi. Lagu tambahan ini biasanya yang sedih-sedih haru isinya tentang perpisahan gitu. Di live ini perhitungan voting beda lagi. Dari 1 sms bisa jadi dihitung 7 vote. Tapi harus bener nama trainee, nama agency, dll. Salah, ga diitung!

Akhirnya diumumin deh tuh 11 trainee yang boleh debut jadi satu grup baru yang dikontrak selama 1 tahun. Kalau season 1 namanya I.O.I sementara season 2 namanya WannaOne. I.O.I sudah bubar dan sekarang traineenya balik ke masing-masing agency, sementara WannaOne akan debut di bulan Agustus 2017 ini.
Produce 101 season 2 : Wanna One


Nonton Produce 101 ini sedikit banyak bikin nampar diri sendiri. Saya jadi nanya ke diri saya, kamu tuh mimpinya apa? Ada ga mimpi yang kamu perjuangkan dari kecil sampai sekarang? Mungkin saya itu, punya mimpi, tapi karena ngerasa ga bisa ya langsung nyerah, ganti yang lain, ga bisa, ganti lagi, gitu terus. Harusnya gagal, usaha, gagal, usaha, sampai berhasil.

Pelajaran lain yang saya dapat dari Produce 101 adalah kadang Tuhan memberikan kita jalan yang lebih baik, walau kita ngeyel pinginnya di salah satu jalan yang kita pilih. Contohnya di saat concept test tuh, ada yang di-kick ke grup yang lain, ternyata grup yang nge-kick bukan jadi yang terbaik, malah di grup yang baru bisa dapat poin tambahan dan lolos dari eliminasi.

Walau memang benar adanya kalau di kehidupan ini kadang dibeda-bedain dari kelas atau tingkatan tertentu, jangan menilai orang dengan tingkatan yang lebih rendah itu lebih buruk. Kalau kita berada di tingkatan yang rendah pun jangan patah semangat, kalau kita berada di tingkatan yang tinggi jangan sombong dan jangan lengah. Hidup itu memang ada naik turunnya. Dengan usaha yang gigih, ada loh, trainee di kelas F bisa jadi satu dati 11 trainee yang debut.

Omong-omong, pada dasarnya, emang benar sih, faktor fisik bisa jadi nilai plus kenapa orang memilih seseorang untuk diidolakan, atau dijadikan sesuatu. Ya, nilai tambah lagi kalau selain fisik oke, kemampuan mumpuni. Buat jadi idola yang divote di acara ini, faktor visual itu penting. Bahkan trainee sendiri ngomong, faktor visual (tampang oke gitu) jadi salah satu syarat kalau mau jadi idol. Gak heran sih, ada yang kurang oke tampangnya dikata-katain, ada yang fisiknya agak berlebih disuruh diet.

Oh ya, di Produce 101 ini ada istilah center di grup. Banyak orang yang jadi ‘serakah’ pingin jadi center, tapi pas ga kepilih jadi center langsung males-malesan latihan. Ini ga boleh dalam tim, apapun posisi yang kita dapat harus berusaha memberikan yang terbaik untuk tim.

Nangis karena merasa gagal atau merasa kesusahan? Wajar. Yang penting gimana usaha kita buat bangkit lagi dan menunjukkan kalau kita serius berusaha.

Family is the best supporter we have. Yap, kadang salah satu alasan kita bermimpi juga karena ingin membuktikan ke keluarga kemampuan kita bahkan kalau bisa membahagiakan mereka. Ketika kita merasa down, keluargalah yang ada untuk menyemangati kita. Bener kan ya?

oh ya, lagu-lagu di Produce 101 ini bagus-bagus 🙂

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

http://trivia.id/post/9-langkah-untuk-menjadi-idol-k-pop-terkenal-perjalanan-k-pop-idol-1489574060

https://en.wikipedia.org/wiki/Produce_101_Season_2

Youn’s Kitchen – tvN Show 2017

imageproxy (3)

Producer Director (PD)  Na Young-seok atau lebih dikenal dengan PD Na, bikin TV Show baru di tvN.  Saya termasuk yang suka sama program buatan PD Na ini mulai dari Grandpas Over Flower, Sisters Over Flower, Youth Over Flower, Three Meals A Day, New Journey to The West, dan Newlyweed Diaries. Semuanya ditayangkan di tvN dan ada beberapa sih bisa diakses online streaming. Saya kadang streaming di Kshowonline.

imageproxy (2)

Nah, tahun ini PD Na bikin TV Show seru lainnya dengan judul Youn’s Kitchen. Saya nonton di tvN episode pertama ga dari awal tapi langsung ‘ngeh’ kalau syutingnya di Indonesia. Di beberapa berita disebut syuting di Bali, tapi kalau dari lokasinya sih ada di Gili Trawangan, Lombok. Mungkin disebut Bali karena Bali lebih terkenal ya.

imageproxy

Konsep Youn’s Kitchen adalah 4 orang aktor dan aktris Korea membangun restauran di Gili Trawangan. 4 orang ini adalah

  • Youn Yuh-Jung , pemilik restaurant dan koki utama
  • Shin Goo, pekerja paruh waktu atau waitress di restaurant
  • Lee Seo-jin, direktur utama di restaurant sekaligus bertanggung jawab urusan minuman
  • Jung Yu-mi, asisten koki

Youn Yuh-Jung , Shin Goo, Lee Seo-jin, semuanya pernah bekerja sama dengan PD Na di tv show lainnya. Youn Yuh-Jung tampil di Sisters Over Flower, Shin Goo di Grandpas Over Flower, dan Lee Seo-Jin di Grandpas Over Flower dan Three Meals A Day.

imageproxy (1)

Sukanya dengan reality show buatan PD Na adalah pengambilan gambar yang cantik, dialog yang ringan yang terbangun antara anggota, dan banyak resep atau paling tidak cara memasak ala Korea yang ditampilkan. Interaksi antara kru (khusunya PD Na) dan pemain juga terlihat bagus, kadang dalam beberapa adegan PD Na terlihat makan bersama atau ikut dalam diskusi. Kali ini adanya pesona laut (ya namanya juga saya yang berbau laut pasti doyan) khas Gili Trawangan diambil dengan indah baik lewat drone untuk pengambilan gambar aerial maupun kamera underwater menangkap penyu dan keindahan Gili dengan baik. Sementara proses memasak kadang diambil dengan sedikit slow.

imageproxy (6)

Sampai minggu ini, episode yang telah tayang ada 4 episode. Awalnya mereka membangun set restaurant di tepi pantai, lalu di episode 3 restaurant digusur karena memang ada proyek pemerintah untuk membersihkan area pantai. Akhirnya mereka mendapat area restaurant baru yang dalam 1 malam disulap menjadi luar biasa keren walau sederhana.

Di episode awal, terlihat mereka mencoba mencicipi menu restaurant sekitar sebelum menentukan menu dan harga makanan yang akan dijual. Menu di setiap episode akan meningkat seiring ide mereka juga semakin berkembang, yang awalnya cuma Nasi Bulgogi, Mie Bulgogi, Burger Bulgogi, bertambah ke Dumpling / Dimsum dan Ramen. Minuman pun selain bir, akhirnya ada Juice Mix.

imageproxy (5)

Acara ini emang bukan untuk mengejar profit bagi para pemain yang terlibat (tentu mereka sudah kaya, apalagi Seo-Jin yang memang keluarga Chaebol). Tapi melihat usaha para pemain untuk membuat restaurant, menyajikan makanan ke pelanggan, mengatur keuangan dan strategi dalam berjualan, bisa dibilang seru. Ya, karena di Indonesia ga ada acara tv model ini juga sih.

imageproxy (4)

Seo-jin yang memang lulusan kuliah Management di Amerika sangat wajar rasanya menjadi Direktur Utama, mengatur strategi, dan mencoba memasarkan warungnya. Ada episode saat dia mengenalkan tentang Youn’s Kitchen, tapi bule lain malah yang menawarkan restaurannya di pulau lainnya dengan menu korea juga. Shin-Goo, walau sudah terlihat tua, tapi tetap semangat menjamu tamu dengan bahasa Inggris yang sekilas terlihat kurang lancar. Di Indonesia boro-boro, artis tua kayaknya susah banget bersaing sama yang muda. Youn Yuh-Jung ternyata yang sudah 50 tahun berakting, jago masak juga dan sangat higienis. Yu-mi, muda dan cantik serta semangat dalam membantu memasak dan main di laut lepas.

Kalau mau lihat potongan adegan tv show ini sudah banyak sih di Youtube. Tapi sayangnya, ga ada subtitle. Oh ya, banyak wisatawan di Gili Trawangan yang mampir ke Youn’s Kitchen. Bahkan Lee Seo-jin dan Jung Yu-Mi  digandeng Garuda Indonesia untuk mempromosikan Lombok (selengkapnya di sini).

Sebenarnya bukan kali pertama Indonesia jadi lokasi syuting variety atau reality show Korea. Running Man, Law of the Jungle, One Night Food Trip, pernah juga mampir di Indonesia.

Dari acara ini selain bisa nambah kangen sama Gili Trawangan dan air, ada beberapa pelajaran yang saya dapat tentang manajemen restoran, antara lain:

  • Kalo mau buat restoran seukuran rumahan kecil (kurang lebih 4 – 6 meja) butuh minimal 4 orang (1 koki, 1 asisten koki, 1 kasir dan urusan minum, 1 waitress) dan itupun kalau penuh bisa kewalahan
  • Siapin semua bahan masakan, potong-potong, wadahin, begitu ada pesanan sudah siap jadi ga perlu waktu lama
  • Agar lebih menarik, tampilan resto harus unik dan menampilkan informasi yang jelas seperti menu di depan resto
  • Harus ada kordinasi antara bagian dapur dan pelayanan dengan baik, jadi kalau ada yang pesan menu dan stoknya habis jangan biarkan dia mengharap (kasian kan di-PHP) terus suruh dateng lagi besok #eh
  • Karena sekarang jamannya orang posting di manapun kapanpun, maka buat tampilan makanan, penyajian di piring maupun di meja, suasana resto, jadi ‘photoable’-‘uploadable’-‘socmedable’

Yaaaa siapa tau nanti saya ada rejeki bikin warung ‘Nyun’s Kitchen’ (mohon doanya aja sih), belajar dulu lewat acara ini.

Suka juga sama acara ini atau acara tv Korea lain? Boleh sharing dong di komen sukanya acara apa? Saya selain ini suka Return Of Superman dan Running Man.

Oh ya, foto-foto saya ambil di Forum Soompi yang membahas khusus tentang Youn’s Kichen.

Review Film : Marmut Merah Jambu

ImageKalo gw sebagai orang Indonesia, kapan terakhir nonton film Indonesia di Bioskop, mikirnya pasti bakal lama, seinget gw sih Comic 8. Perkara film Indonesia tayang di bioskop ecek-ecek walau jaringan 21 juga, atau kita harus bayar seharga film luar negeri, mungkin bisa jadi pertimbangan (yaampuuuuuun mental mahasiswa susye banget deh). Faktor lain bisa jadi, emang jarang film Indonesia yang menarik (walaupun banyak yang diangkat dari novel) dan dulu sempet ada film-film horor ecek-ecek lah yang mungkin dibuat gak pake otak.

Belakangan muncul film Indonesia yang diangkat dari buku terkenal atau laris atau bisa dibilang best seller yang pernah dipajang di Gramedia bagian depan, dan yang baru-baru ini tayang adalah Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika, dan disutradarai plus dimainin (bahasa kerennya sih diperanin) Raditya Dika sendiri (bang keren banget lu bang). Ini sih Trailernya.

Sejujurnya gw lupa isi buku Marmut Merah Jambu (tapi kayaknya isinya cerita cinta bang dika jaman SMA), abis udah lama beeeuuuuut bacanya (maklum otak gw kadang cuma skimming skipping jumping jumping), yang jelas di film ini katanya diangkat dari beberapa bab di buku itu.

Cerita dimulai dari Bang Dika yang udah dewasa juga masih grogian urusan mau nyamperin cewe nerima undangan dari gebetan yang mungkin sekarang jadi mantan gebetan. Bang dika datengin rumah si mantan gebetan yang mau nikah (sebut saja dia Ina – memang nama sebenarnya di film itu, kalau disamarkan gw kurang tau juga ya). Eh ternyata yang ada di rumahnya Ina dan menyambut bang Dika (sok ikrib bingits yih gw sama bang dika) adalah Babeh alias Ayah Ina (diperanin Tio Pakusadewo) yang lumayan banyak menyimpan kenangan buruk ke Bang Dika. Singkat cerita, walo ditolak-tolak dan dikasih waktu dikit, Ayah Ina diceritain kisah bang Dika masa SMA.

dan kembalilah kita ke masa lalu………………

Dika jaman SMA punya temen sohib sahabat karib ikrib namanya Bertus, entah asalnya dari mana. Mereka berdua termasuk lakik yang cupu jaman SMA, selayaknya anak cupu yang pengen famous, berbagai cara pun dilakukan, mulai dari dandan ala-ala 80-an akibat kata Babeh Dika itu keren, sampe ujung-ujungnya bikin grup detektif. Di SMA itu juga Dika ngecengin cewe yang menurut dia sih cantik, menurut gw sebagai cewe sih ………. cantikan dia, jauh cantikan dia banget hahaha, namanya Ina. Sayang, sebagai cewe cantik, so pastilah, ngecenginnya cowo keren namanya Michael, yang udah pinter, abas alias anak basket, disayang guru, ganteng, plus rambutnya wangi hasil shampo dari itali.

Kasus pertama Dika dan Bertus selaku detektif ternyata bikin tertarik Cindy buat gabung dan ikutan grup detektif itu, dan jadilah mereka bertiga jadi grup detektif SMA, satu per satu kasus diselesein. Sampe akhirnya ada satu kasus “teror terhadap ibu kepala sekolah”, dimana dika bikin kesimpulan sendiri kalo pelakunya adalah michael, semata-mata biar ngejatuhin michael terus si ina ngecengin dia. Ya lu bayangin deh kalo jadi bertus sama cindy, gimana ga kesel sama dika, dan bubarlah mereka, plus ngamuklah cindy, secara, diem-diem (tapi keliatanlah plus berasalah), kalo cindy ada suka-suka gimana gitu ke Dika.

dan akhirnya kembali ke cerita masa depan………..

lalu dika keinget sama kasus itu sebenernya belum selese, dan dia berniat mecahin dan nyelesein (dibantuin bertus yang udah dewasa juga pastinya).

 

Menurut gw, ya filmnya sih, realita banget lah, jaman sma, ada yang cupu ada yang keren, yang cupu pengen keren, yang keren dapetnya yang keren juga. plus banyak tindakan-tindakan bodoh, yang hampir sama kita lakuin juga jaman sma, pastilah film ini bikin ketawa, bikin terharu (gw sih mewek tapi gak pake banget soalnya nontonnya ramean). Belum lagi, chemistry-chemistry antara dika-bertus,dika gede-bapaknya ina, bapaknya dika-dika-bertus, yang rasanya sih dapet aja gitu. Pemain-pemainnya juga bagus, Christopher Nelwan yang unyu, sama Franda yang jadi Cindy Dewasa, terus ada Kamga Mo jadi Bertus Dewasa, Tio Pakusadewo, Bucek Depp, dan berderet comic macam McDanny, Ge Pamungkas,dll.

 

Menurut gw sih film ini asik buat ditonton rame-rame, apalagi sama temen sekolah. berhubung udah gak tayang, ya kalo ada dvdnya beli deh, kalo ga ada ujung-ujungnya……….(ya kalo bisa jangan download sih-mengikuti anjuran aja). dan soundtrack film ini juga lumayan pas pada jamannya yaitu……SHEILA ON 7!!!! yeeeeah (walau ada yang di cover di akhir) dan The Nelwans juga yang asik. nyanyiin Marmut Merah Jambu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3hati.2dunia.1cinta

telat banget mungkin rasanya nge-review film yg sebenernya udah muncul tahun lalu. ya, maklum, saya gak gitu percaya film indonesia, memang sih sebenernya yg horor aja yg gak usah dipercaya.tapi mau gimana lagi, gk ada temen buat nonton film drama romantis.karna ujungnya gw nangis.

Film ini ngangkat tema cinta dalam perbedaan. Rosyid (Reza Rahardian) berasal dari keluarga arab, islam, soleh, dan kelas menengah. Rosyid diem-diem punya pacar, Delia (laura basuki), kristen taat dan kelas atas. Perbedaan ini menjadi halangan buat keduanya, karna udah pasti, keluarganya nentang satu sama lain. akhirnya rosyid dijodohin sama nabila (arumi bachsin), yang dianggap sama dan tepat untuk rosyid. lalu gimana cinta rosyid sama delia?

cerita cinta macem ini emang bisa dibilang umum terjadi.dan sangat bagus sekali jadinya jika diperankan sama artis-artis yang mumpuni, soalnya pendukung film ini pun ada henidar amroe, ira wibowo, robby tumewu.

film ini bagus, lucu, asik ditonton, gaya bicara, kondisinya pun seakan riil sama kondisi sebenernya.

recommended *walo nonton via donlotan*

Bones vs Castle

Gw pengen nyoba ngebahas dua serial TV yang serupa tapi tak sama, Bones dan Castle.

Persamaan kedua serial ini, adalah genrenya yaitu detektif-action ditambah bumbu romance dan komedi. Secara umum mengenai jalan cerita juga hampir sejenis dimana dua orang patner kerja yang dihadapkan kepada satu kasus pembunuhan.

 

Tokoh utama

Tokoh utama dalam serial ini pun sama satu perempuan super cerdas dan satu laki-laki humoris yang punya anak dan juga punya logika tinggi dalam memecahkan kasusnya.

Perbedaannya adalah Bones yang tokoh utamanya sebenernya bernama Dr. Temperance "Bones" Brennan adalah seorang wanita ahli antropologi forensik, penulis cerita novel misteri yang dihadapkan oleh kasus berupa orang meninggal yang sudah berubah menjadi tulang belulang. Patner Bones adalah Seeley Booth, ayah satu anak, lelaki atletis bekerja di FBI dan salah seorang penembak jitu.

Sementara itu, Richard Edgar "Rick" Castle adalah seorang lelaki satu anak perempuan yang berprofesi sebagai penulis novel misteri dan sering dilibatkan pada kasus yang diterima NYPD. Patnernya adalah Detective Kate Beckett, polisi NYPD sekaligus detektif yang sering menerima kasus pembunuhan dengan mayat yang utuh.

Sekilas’, dilihat dari dua tokohnya dan profesinya serial ini sangat terlihat kemiripannya. Apalagi ditambah status kedua wanitanya belum menikah dan patner lelakinya pun single sehingga Ada bumbu romance yang dicoba ditambahkan tapi sebenarnya itu hanyalah bumbu agar partnership mereka terkesan kuat. Sampai sekarang pun, biarpun mereka tampak ada rasa satu sama lain, mereka selalu berkata itu adalah patner dan hal itulah yang menarik.

 

Cerita

Bones yang bekerja di lab Jeffersonian akan menceritakan bagaimana penyelidikan pencarian pembunuh dari segi ilmiah bersama teman-temannya yg dianggap ‘squint’ oleh Booth. Cerita penyidikan bersama Booth juga tak kalah banyak.tapi cerita Booth dan rekan kantornya sedikit sekali. Porsi Booth dan anaknya atau cerita pribadi Bones porsinya juga minim, tapi kadang dibaas juga satu episode.

Sementara itu, Castle justru banyak menumpang pada kehadiran di kantor Beckett. Justru cerita Beckett dan rekannya lebih menonjol daripada castle sendiri. Cerita Castle justru lebih banyak tentang personalitynya bareng anaknya atau keluarganya. Part ini hampir selalu ada di tiap episode. Dan tentu saja sebagai detektif cerita keduanya tak kalah seru.

 

 

Sampe sekarang, Bones udah season 6 kalo Castle masih season 3. Walau suka dua-duanya tapi buat gw , Bones lebih ada di hati. Ya, mungkin karena ceritanya lebih ilmiah dan menjijikan dan lebih aneh sedikit aja sama  karakter Bones-Booth yang bikin geregetan.

Series Bones

bones

Gara-gara pas pulang ke rumah bosen ama tv lokal dan untung ada tv kabel, akhirnya nonton Fox terus2an.

Alhasil, otak saya kecuci, mata saya kehipnotis sama serial BONES.

Bones alias Tulang. Serial bergenre Crime Drama ini nyeritain tentang agen FBI namanya Seeley Booth yg kerja bareng sama Ahli forensik dari Jeffersonian Dr. Temperance Brennan alias Bones.

Mereka nanganin case orang2 mati. Setiap awal adegan hampir sering diceritain gimana mereka nemu kasus orang mati, dipanggil ke lokasi, liat mayat, identifikasi sesaat. Bagian ini sedikit jijik2 gak jelas sih, tau sendiri kalo liat mayat gimana.

Trus mayat dibawa ke Jeffersonian Medical entah itu pusat laboratorium apa, yg jelas canggih abis, buat diteliti dan diidentifikasi sebab kematian dari tulang. Canggih banget ini lab. Brennan dibantu sama beberapa asisten, di awal ada asisten namanya Zack yg pada season entah berapa nanti masuk penjara (gw tau soalnya yg di tv udah season 4 ato 5 gitu), Hodgins yang cinta banget sama serangga bahkan ahlinya, Angela yg bisa bikin 3D nya tulang jadi bentuk manusia bahkan pake skenario kenapa tulangnya patah ini itu pake koomputer dia yg namanya Angelator, Cam yang belum muncul di season 1, asisten lain berupa mahasiswa magang ada 3 sih mahasiswa magang yg ganti2an. Booth sendiri di kantornya nanti ada psikolog namanya dr.Sweets yg bantuin waktu investigasi.

Serial ini selain nampilin chemistry yg kuat antar pemain, jalan ceritanya juga bagus. konflik2,moment Booth-Brennan yg bikin geregetan, ngebuat nagih ngeliatnya. Overall, suka banget lah sama serial satu ini.